HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.3. Lokasi dan Keadaan Geografis
Kabupaten Toba Samosir memiliki luas 2.021,8 KM², dengan ketinggian 300 s/d 1.500 dpl. Secara geografis Kabupaten Toba Samosir berada pada 2°03’ - 2° 40’ Lintang Utara dan 98°56’ - 99°40’ Bujur Timur dan terletak di wilayah dataran tinggi pegunungan Bukit Barisan serta berada dibagian tengah Provinsi Sumatera Utara. Di sebelah utara berbatasan dengan Kab. Simalungun, di sebelah Timur berbatasan dengan Kab. Asahan dan Labuhan Batu, sebelah selatan berbatasan dengan Kab. Tapanuli Utara dan sebelah barat berbatasan dengan Kab. Samosir.
Topografi wilayah Kabupaten Toba Samosir sangat bervariasi yaitu sangat curam ± 42,35 %, curam ± 16, 78 %, agak curam ±7,97 % dan datar sampai dengan landai sebesar ± 32,9 %. Sementara struktur tanahnya labil dan berada pada wilayah gempa tektonik dan vulkanik.
4.1.4. Iklim
Sesuai dengan letaknya yang berada di garis khatulistiwa, Kabupaten Toba Samosir tergolong ke dalam daerah yang beriklim tropis basah dengan suhu berkisar antara 17ºC -29ºC dan rata-rata kelembaban udara 85,04 %.
Rata-rata curah hujan yang terjadi di Kabupaten Toba Samosir per bulan Tahun 2007 berdasarkan data pada 3 stasiun pengamatan sebesar 155 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 14 hari. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan April dengan 260 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 6 hari. Sedangkan pada bulan Pebruari curah hujan yang turun sangat rendah sekitar 85 mm dengan jumlah hari
hujan 4 hari. Berdasarkan stasiun pengamatan Kecamatan Habinsaran merupakan daerah dengan curah hujan tertinggi, yaitu 200 mm.
4.1.5. Kependudukan
Jumlah penduduk Kabupaten Toba Samosir pada tahun 2007 adalah 171.375 jiwa, dengan jumlah rumah tangga (RT) 37.581 RT. Dengan luas wilayah daratan 2.021,8 KM², maka tingkat kepadatan penduduk di Kabupaten Toba Samosir Tahun 2007 adalah 85 jiwa/KM². Tabel 4.1. menjelaskan luas wilayah, jumlah rumah tangga, penduduk, dan kepadatan penduduk menurut kecamatan di Kabupaten Toba Samosir pada Tahun 2007.
Tabel 4.1. Luas wilayah, Jumlah Rumah Tangga, Jumlah Penduduk, dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Toba Samosir Tahun 2007 No Kecamatan Luas Wilayah (KM²) Jumlah Rumah Tangga Jumlah Penduduk (Jiwa) Kepadatan Penduduk (jiwa/KM²) 1 Balige 91,05 8.008 43.334 475,9 2 Tampahan 24,45 1.062 5.448 222,8 3 Laguboti 73,90 4.032 17.201 232,8 4 Habinsaran 417,84 3.228 14.189 34,0 5 Bor-bor 167,51 1.772 7.643 45,6 6 Nassau 335,50 1.506 6.188 18,4 7 Silaen 62,90 2.537 10.754 171,0 8 Sigumpar 25,20 1.635 6.690 265,5 9 Porsea 87,10 4.552 19.709 226,3 10 P. P. Meranti 386,95 1.678 8.021 20,7 11 S. Narumonda 22,20 1.400 5.706 257,0 12 Lumban Julu 145,40 2.693 11.293 77,7 13 Uluan 109,00 1.939 8.363 76,7 14 Ajibata 72,80 1.539 6.836 93,9 15 Parmaksian *) 16 Bonatua Lunasi **) Jumlah 2.021,80 37.581 171.375 84,8
Sumber: Toba Samosir Dalam Angka Tahun 2008 Ket: *) = masih bergabung dengan kecamatan Porsea
Kecamatan Balige yang merupakan ibukota kabupaten, pusat perdagangan dan pusat pemerintahan adalah kecamatan dengan tingkat kepadatan yang tertinggi, yaitu sebesar 476 jima/KM², kemudian kecamatan Nassau merupakan kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk terkecil, yaitu hanya 18 jiwa/KM². Kecamatan Nassau juga kecamatan paling jauh dari ibukota kabupaten.
Bila dilihat dari komposisi penduduk menurut umur, ternyata struktur penduduk Kabupaten Toba Samosir masih tergolong struktur umur muda. Ini ditunjukkan dari persentase penduduk umur muda (dibawah 15 tahun) sebesar 35,93 %, sementara penduduk yang berumur 65 tahun ke atas sebesar 5,72 %.
Besarnya jumlah penduduk usia muda ini mengakibatkan beban tanggungan penduduk usia produktif juga semakin besar. Secara kasar angka ini dapat digunakan sebagai indikator kemajuan ekonomi dari suatu daerah. Rasio ini menunjukkan perbandingan jumlah penduduk berusia dibawah 15 tahun dan diatas 65 tahun yang dianggap tidak produktif secara ekonomi. Makin tinggi ratio beban tanggungan berarti semakin kecil jumlah penduduk produktif dan semakin banyak sumber daya yang harus dibagikan kepada kelompok yang tidak produktif.
Beban tanggungan anak (yang merupakan perbandingan jumlah penduduk berusia di bawah 15 tahun dengan jumlah penduduk berusia 15 s/d 64 tahun) di Kabupaten Toba Samosir pada Tahun 2007 sebesar 61,57 % dan beban tanggungan usia lanjut 9,8 %. Hal ini berarti bahwa setiap 100 orang penduduk usia produktif menanggung sekitar 61,57 orang anak dan 9,8 orang usia lanjut. Dengan kata lain bahwa beban tanggungan di Kabupaten Toba Samosir masih cukup besar yaitu
mencapai 71,37. Jumlah penduduk menurut kelompok umur dan jenis kelamin di Kabupaten Toba Samosir Tahun 2007 akan dijelaskan oleh Tabel 4.2. di bawah.
Tabel 4.2. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kabupaten Toba Samosir Tahun 2007
Kelompok Umur (Tahun) Laki-Laki (Jiwa) Perempuan (Jiwa) Laki-laki + Perempuan (Jiwa) 0 – 4 9.015 8.758 17.773 5 – 9 10.063 10.261 20.324 10 – 14 11.584 11.894 23.478 15 – 19 12.277 11.303 23.580 20 – 24 6.227 4.431 10.658 25 – 29 5.222 3.945 9.167 30 – 34 4.047 4.666 8.713 35 – 39 3.836 4.648 8.484 40 – 44 4.512 4.831 9.343 45 – 49 3.912 5.117 9.029 50 – 54 4.512 4.874 9.386 55 – 59 2.805 3.102 5.907 60 – 64 2.526 3.206 5.732 65 + 3.954 5.847 9.801 Jumlah 84.492 86.883 171.375
Sumber: Toba Samosir Dalam Angka Tahun 2008
Jumlah penduduk perempuan di Kabupaten Toba Samosir lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk laki-laki. Pada tahun 2007 jumlah penduduk Kabupaten Toba Samosir yang berjenis kelamin perempuan berjumlah 86.883 jiwa dan penduduk laki-laki berjumlah 84.492 jiwa, dengan demikian angka sex ratio penduduk Kabupaten Toba Samosir sebesar 97,42 %. Kecamatan Nassau merupakan satu-satunya kecamatan yang memiliki jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuannya. Tabel 4.3 dibalik menjelaskan jumlah penduduk menurut kecamatan dan jenis kelamin Tahun 2007.
Tabel 4.3. Jumlah Penduduk Menurut Kecamatan dan Jenis Kelamin Tahun 2007
Jumlah Penduduk (jiwa)
No Kecamatan
Laki-laki Perempuan Jumlah
Ratio jenis Kelamin 1 Balige 21.276 22.058 43.334 96,45 2 Tampahan 2.722 2.726 5.448 99,85 3 Laguboti 8.403 8.798 17.201 95,51 4 Habinsaran 7.077 7.112 14.189 99,51 5 Bor-bor 3.794 3.849 7.643 98,57 6 Nassau 3.112 3.076 6.188 101,17 7 Silaen 5.281 5.473 10.754 96,49 8 Sigumpar 3.274 3.416 6.690 95,84 9 Porsea 9.656 10.053 19.709 96,05 10 P. P. Meranti 3.957 4.064 8.021 97,37 11 S. Narumonda 2.834 2.872 5.706 98,68 12 Lumban Julu 5.607 5.686 11.293 98,61 13 Uluan 4.126 4.237 8.363 97,38 14 Ajibata 3.373 3.463 6.836 97,40 15 Parmaksian *) 16 Bonatua Lunasi **) Jumlah 84.492 86.883 171.375 97,25
Sumber: Toba Samosir Dalam Angka Tahun 2008 Ket: *) = masih bergabung dengan kecamatan Porsea
**) = masih bergabung dengan kecamatan Lumban Julu dan Porsea
4.1.6. Pendidikan
Pendidikan mempunyai peranan penting bagi suatu bangsa dan merupakan sarana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Dengan SDM yang ada baik dari segi kualitas maupun kuantitas yang tinggi diharapkan menjadi motor penggerak dan pelaksana pembangunan di Kabupaten Toba Samosir. Secara umum, keadaan pendidikan penduduk dapat diketahui dari beberapa indikator seperti angka partisipasi sekolah, tingkat pendidikan, dan angka melek huruf.
Pada tahun 2006, persentase penduduk usia 10 tahun ke atas menurut status sekolah, menunjukkan bahwa 68,68 % penduduk Kabupaten Toba Samosir tidak bersekolah lagi. Penduduk yang masih bersekolah sekitar 30,45 % (30,83 % penduduk laki-laki dan 30,32 % untuk penduduk perempuan), sedangkan penduduk yang tidak bersekolah/belum pernah bersekolah masih ada sekitar 0,87 % (0,34 % untuk laki-laki dan 1,19 % untuk penduduk perempuan. Dari gambaran tersebut terlihat bahwa keterlibatan penduduk laki-laki dalam dunia pendidikan lebih dominan dibandingkan penduduk perempuan. Tabel 4.4 berikut menggambarkan persentase penduduk usia 10 tahun ke atas menurut tingkat pendidikan dan jenis kelamin Tahun 2006.
Tabel 4.4. Persentase Penduduk Usia 10 Tahun ke atas Menurut Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin Tahun 2006
Persentase
No Status Pendidikan
Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Tidak/belum pernah sekolah 0,34 1,19 0,87 2 Masih Sekolah
- SD 10,81 10,85 10,82
- SMTP 11,41 12,18 11,73
- SMTA 8,08 7,11 7,54
- Diploma/Sarjana 0,53 0,18 0,36
3 Tidak Bersekolah lagi 68,83 68,49 68,68
Jumlah 100,00 100,00 100,00
Sumber: Analisis IPM Toba Samosir 2006
Rendahnya tingkat pendidikan dapat dirasakan sebagai penghambat dalam pembangunan. Dengan demikian tingkat pendidikan sangat diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk. Keadaan seperti ini sesuai dengan hakikat pendidikan itu sendiri, yakni merupakan usaha sadar untuk pengembangan
kepribadian dan kemampuan didalam dan di luar sekolah yang berlangsung seumur hidup. Persentase penduduk usia 10 tahun ke atas menurut pendidikan tertinggi yang ditamatkan dan jenis kelamin Tahun 2006 dijelaskan dalam Tabel 4.5 dibalik.
Tabel 4.5. Persentase Penduduk Usia 10 Tahun ke atas Menurut
Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan dan Jenis Kelamin
Tahun 2006
Persentase
No Pendidikan Tertinggi
yang ditamatkan Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Tidak/belum pernah sekolah 0,34 1,19 0,87
2 Tidak/belum tamat SD 14,58 16,42 15,98
3 Pendidikan tertinggi yang ditamatkan
- SD 19,69 23,02 21,53 - SMTP 26,34 24,02 25,15 - SMTA 34,23 31,91 32,36 - Diploma I/II 1,45 1,54 1,49 - Diploma III 1,90 0,61 1,24 - Diploma IV/Sarjana 1,47 1,29 1,38
3 Tidak Bersekolah lagi 68,83 68,49 68,68
Jumlah 100,00 100,00 100,00
Sumber: Analisis IPM Toba Samosir 2006
Keadaan tingkat pendidikan yang ditamatkan di Kabupaten Toba Samosir mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yang pada umumnya di tingkat SD sampai dengan tingkat Diploma III. Hasil Susenas 2006 menunjukkan persentase penduduk usia 10 tahun ke atas yang berhasil menamatkan pendidikan SD sampai dengan Perguruan Tinggi sebesar 83,15 %, dan selebihnya sekitar 16,85 % adalah mereka yang berpendidikan SD. Dari penduduk yang telah menamatkan pendidikan minimal SD tersebut, hanya sekitar 4,11 % yang tamat diploma/sarjana dan 57,51 % tamat pendidikan menengah.
Ukuran yang sangat mendasar dari inidikator pendidikan, secara makro adalah kemampuan baca dan tulis (melek huruf) penduduk berusia 15 tahun ke atas, yaitu kemampuan untuk membaca dan menulis huruf latin dan lainnya. Pada tahun 2006 angka melek huruf di Kabupaten Toba Samosir adalah 97,90 %, lebih tinggi bila dibandingkan dengan Propinsi Sumatera Utara yaitu 97,00 %.
Indikator pendidikan lainnya yang merupakan kebalikan dari melek huruf adalah buta huruf. Tingkat buta huruf penduduk perempuan lebih tinggi dibanding penduduk laki-laki yaitu masing-masing 3,24 % dan 0,86 %. Tingginya tingkat buta huruf disuatu daerah biasanya disebabkan oleh tingginya tingkat buta huruf pada kelompok umur tua, karena penduduk jaman dahulu masih banyak yang belum memiliki pendidikan/tidak bersekolah. Tingkat buta huruf di Kabupaten Toba Samosir tertinggi terdapat pada kelompok umur 65 tahun ke atas dan terendah pada kelompok umur 19 – 49 tahun.
4.1.7. Ketenagakerjaan
Penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) digolongkan sebagai: (i) angkatan kerja, bila mereka bekerja atau mencari pekerjaan dan secara ekonomis berpotensi menghasilkan output atau pendapatan, dan (ii) bukan angkatan kerja bila mereka bersekolah, mengurus rumah tangga dan lainnya. Semakin tinggi tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) berarti semakin besar keterlibatan penduduk usia 15 – 64 tahun, dalam pasar kerja.
Persentase penduduk usia kerja di Kabupaten Toba Samosir yang bekerja adalah 64,37 %, dimana laki-laki sebesar 68,15 persen dan perempuan sebesar 61,37 %. Sedangkan penduduk usia kerja yang mencari kerja sebanyak 7,69 %. Tabel 4.6 dibalik menjelaskan persentase penduduk usia 15 tahun ke atas menurut kegiatan utama selama seminggu yang lalu dan jenis kelamin Tahun 2006.
Tabel 4.6. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke atas Menurut Kegiatan Utama Selama Seminggu Yang Lalu dan Jenis Kelamin Tahun 2006
Persentase
No Kegiatan Utama
Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Angkatan kerja
- Bekerja 68,15 61,37 64,19
- Mencari kerja 8,94 5,91 7,69
2 Bukan angkatan kerja
- Sekolah 15,92 13,58 14,93
- Mengurus rumah tangga 1,91 14,59 8,38
- Lainnya 5,08 4,55 4,81
3 Jumlah 100,00 100,00 100,00
4 TPAK 77,09 67,28 71,88
5 Tingkat pengangguran terbuka 11,59 8,78 10,69 Sumber: Analisis IPM Toba Samosir 2006
TPAK Toba Samosir berdasarkan hasil Susenas 2006 adalah sebesar 71,88 %. TPAK laki-laki lebih tinggi dari TPAK perempuan, hal ini berarti bahwa penduduk laki-laki lebih besar terlibat dalam pasar kerja. Tingkat pengangguran terbuka penduduk laki-laki sebanyak 11,59 % dan penduduk perempuan sebesar 8,78 % sehingga tingkat pengangguran terbuka secara umum sebesar 10,69 %.
Struktur lapangan pekerjaan di Kabupaten Toba Samosir menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan lapangan pekerjaan yang paling menonjol yaitu 71,87 %. Tingginya persentase pekerja pada sektor pertanian karena wilayah ini mempunyai
potensi yang cukup besar dalam bidang pertanian dan didukung areal yang cukup luas.
Pendidikan penduduk yang bekerja masih sangat rendah. Pekerja yang menamatkan SD sebanyak 14,95 %, SMTP 29,29 %, SMTA 44,27 % dan diploma/sarjana sebesar 6,25 %. Sementara pekerja yang tidak/belum pernah sekolah mencapai 0,34 %, dan yang tidak/belum tamat SD sebesar 4,90 %. Yang paling dominan adalah pekerja dengan pendidikan SMTA mencapai 44,27 %. Pekerja dengan pendidikan yang ditamatkan lebih dari SMTA hanya 6,25 %. Kondisi ini sangat dimungkinkan mengingat lapangan usaha utama di daerah Toba Samsori adalah pertanian, serta penduduk yang berpendidikan tinggi lebih banyak pergi keluar daerah untuk ikut terlibat langsung dalam pasar kerja, dan bersaing merebut pekerjaan untuk memperoleh penghidupan yang lebih layak.
4.1.8. Perekonomian
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan ukuran kinerja makro kegiatan ekonomi di suatu wilayah. PDRB suatu wilayah menggambarkan struktur ekonomi daerah, peranan sektor-sektor ekonomi dan pergeserennya yang didasarkan pada PDRB atas dasar harga berlaku. Disamping itu PDRB menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi baik secara total maupun per sektor dengan membandingkan PDRB tahun berjalan terhadap tahun sebelumnya dengan menggunakan atas dasar harga konstan tahun 2000.
PDRB Kabupaten Toba Samosir atas dasar harga berlaku tahun 2007 sebesar 2.415.648,78 juta rupiah. Berdasarkan atas dasar harga konstan tahun 2000, PDRB Kabupaten Toba Samosir tahun 2007 sebesar 1.505.132,89 juta rupiah, atau mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 5,77 % dibanding tahun sebelumnya. Sektor industri merupakan sektor yang memberi peranan atau kontribusi terbesar terhadap PDRB tahun 2007, yaitu 41,09 %.
Tabel 4.7. PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 (juta rupiah)
Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Kostan 2000 No Lapangan Usaha 2005 2006 2007 2005 2006 2007 1 Pertanian 608.038,43 641.201,75 694.881,97 520.615,14 536.306,42 565.559,19 2 Pertambangan dan penggalian 6.102,54 7.179,64 8.564,64 3.555,82 3.914,35 4.313,42 3 Industri 714.913,13 838.721,27 992.632,97 455.907,63 489.013,44 518.716,93
4 Listrik, Gas dan Air Minum
20.669,61 22.909,85 25.432,26 12.914,94 13.455,57 14.266,96
5 Bangunan 97.885,95 114.483,04 136.679,74 51.091,59 54.779,64 58.716,72
6 Perdagangan, Hotel & Restoran
174.198,88 203.180,00 236.113,85 122.581,25 130.275,43 139.401,48 7 Pengangkutan dan Kominukasi 63.181,83 70.124,57 76.387,01 45.657,75 48.762,43 51.649,15 8 Keuangan, Asuransi, persewaan dan Jasa Perusahaan 59.619,02 64.629,48 72.550,22 40.048,41 41.999,14 43.675,24 9 Jasa kemasya-rakatan, sosial dan perorangan 151.161,14 158.679,88 172.406,13 100.737,25 104.545,25 108.833,80
Sumber: Toba Samosir Dalam Angka 2008
Salah satu dari empat pilar pembangunan Kabupaten Toba Samosir adalah terciptanya “Pertanian Yang Maju”. Hal ini menunjukkan kemauan yang kuat dari pemerintah daerah dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Pertanian menjadi sektor andalan bagi Kabupaten Toba Samosir dalam menggerakkan perekonomian
daerah. Tahun 2006 sektor ini memberi kontribusi terbesar terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Toba Samosir atas dasar harga konstan yaitu sebesar 37,68 %.
Pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Toba Samosir pada tahun 2007 mencapai 5,77 %. Sektor industri memberikan kontribusi paling besar terhadap PDRB Atas Dasar Harga Berlaku sebesar 41,09 %, sedangkan kontribusinya terhadap PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000 menempat posisi kedua setelah sektor pertanian, yaitu 34,46 %, lebih tinggi dibanding tahun 2006 yaitu 34,36 %. Sektor pertanian yang merupakan salah satu dari empat pilar pembangunan di daerah ini hanya mampu menempati posisi kedua dalam memberikan kontribusi ke PDRB Atas Dasar Harga Berlaku, yaitu 28,76 %, sedangkan Atas Dasar Harga Konstan menempati posisi pertama yaitu sebesar 37,57 %.
Sektor pertambangan dan penggalian mempunyai peranan terkecil terhadap perekonomian di Kabupaten Toba Samosir. Hal ini ditujukan dengan rendahnya kontribusi sektor ini terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Toba Samosir, yaitu masing-masing sebesar 0,35 % untuk PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan 0,29 % untuk PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2000. Sektor dengan sumbangan terkecil kedua adalah sektor listrik, gas dan air minum. Sumbangan sektor ini masing-masing 1,05 % untuk PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan 0,95 % untuk PDRB Atas Dasar Konstan 2000.
Pertumbuhan PDRB (pertumbuhan ekonomi) yang cukup tinggi belum tentu mencerminkan peningkatan kesejahteraan rakyat, karena hal ini sangat tergantung pada perkembangan jumlah penduduk. Walaupun pertumbuhan ekonomi mengalami
peningkatan yang cukup signifikan tetapi jika pertumbuhan penduduk tidak dapat ditekan maka pertumbuhan ekonomi tidak dapat meningkatkan PDRB perkapita masyarakat. Sedangkan bila terjadi pertumbuhan ekonomi yang negatif akan menunjukkan terjadinya penurunan kesejahteraan rakyat.
PDRB dikaitkan dengan jumlah penduduk menggambarkan tingkat pendapatan per kapita suatu suatu wilayah. PDRB per kapita Kabupaten Toba Samosir Atas Dasar Harga Berlaku tahun 2007 sebesar 14.095.690 rupiah dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 sebesar 8.782.690 rupiah.
Tabel 4.8. PDRB per kapita Kabupaten Toba Samosir Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun 2005 – 2007
No T a h u n Atas Dasar Harga
Berlaku (Rp)
Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Rp)
1 2005 11.947.360,00 8.527.450,00
2 2006 12.311.680,00 8.410.200,00
3 2007 14.095.690,00 8.782.690,00
Sumber: Toba Samosir Dalam Angka 2008
4.2. Deskripsi PT Toba Pulp Lestari (PT. TPL, Tbk)
PT Inti Indorayon Utama Tbk (PT IIU) adalah sebuah industri di bidang produksi pulp untuk bahan baku kertas dan serat viscose rayon untuk bahan baku tekstil. Pengoperasian PT IIU berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia/Ketua BPPT dengan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor SK/681/M/BPP/XI/1986 dan Nomor Kep-43/MNKLH/11/1986 tanggal 13 November
1986. Status PT IIU pada awalnya adalah Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan selanjutnya berubah berdasarkan Surat Keputusan Menteri Invenstasi/Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal Republik Indonesia Nomor 07/V/1990 tanggal 11 Mei 1990 menjadi Penanaman Modal Asing (PMA), serta sahamnya telah dijual di Bursa Saham Jakarta (BEJ) dan Surabaya (BES) serta di Bursa New York Stock Exhange (NYSE) Amerika Serikat tahun 1995.
PT Inti Indorayon Utama berganti nama menjadi PT Toba Pulp Lestari Tbk (PT. TPL Tbk) berdasarkan Surat dari Departemen Kehakiman Nomor C-0651HT.01.04.TH.2001 tanggal 23 Agustus 2001. Perubahan nama ini telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.351/Menhut-II/2004 tanggal 28 September 2004. Semula PT. IIU Tbk memproduksi pulp dan rayon, akan tetapi seiring dengan perubahan namanya menjadi PT TPL Tbk, hanya memproduksi pulp.
Sejak resmi didirikan, sebagaimana diberitakan harian Kompas, Minggu 8 Juni 2003, pengoperasian PT Inti Indorayon Utama (IIU) telah mengalami banyak kemelut dan aksi demo dari berbagai pihak. Keadaan ini berwujud dengan dihentikannya operasi PT IIU untuk sementara pada akhir tahun 1998. Perubahan nama menjadi PT TPL Tbk menyandang paradigma baru yaitu:
a. Kerjasama bisnis dengan masyarakat;
b. Dana satu persen dari nilai penjualan setiap tahun untuk masyarakat disalurkan melalui yayasan;
d. Teknologi pabrik yang ramah lingkungan;
e. Sumber daya alam dikelola berkesinambungan dan berwawasan lingkungan, seperti menebang pohon yang ditanam saja dan menyediakan sebagian HTI (32 %) untuk konservasi.
Tujuan pembangunan Hutan Tanaman Industri PT TPL Tbk adalah untuk memproduksi kayu sebagai bahan baku pulp guna memasok indsutri pulp PT TPL Tbk. Artinya pembangunan hutan tanaman industri ini pada dasarnya terintegrasi dengan unit industri yang telah didirikan pada tahun 1988 di Desa Sosor Ladang Kecamatan Parmaksian Kabupaten Toba Samosir. Kapasitas produksi pulp sebesar 200.000 ton per tahun. Lahan yang diperuntukkan untuk kegiatan pabrik seluas 188 ha dengan perincian penggunaan seperti dijelaskan pada Tabel 4.9.
Tabel 4.9. Penggunaan Lahan PT TPL Tbk untuk Kegiatan Pabrik
No Penggunaan Lahan Areal terbuka
(Ha)
Areal tertutup (Ha)
Jumlah (Ha)
1 Pabrik dan kantor 26,5 8,5 35
2 Perumahan 21 4 25 3 Pembibitan 9 1 10 4 IPAL 5 3 8 5 Jalan/Olah raga 66,5 3,5 70 6 Penghijauan 40 - 40 Jumlah 168 20 188 Sumber: PT TPL Tbk tahun 2008
Jenis yang dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman industri PT TPL Tbk adalah Eucalyptus spp. Dasar pemilihan jenis ini adalah karena dapat tumbuh baik pada lahan yang ada dan mempunyai produktifitas per satuan luas yang tinggi, serta mempunyai daur pendek. Selain itu, industri pulp yang menampung hasil kayu dari hutan tanaman yang dikembangkan menghendaki jenis tersebut.
Pada awalnya kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan ini baik di pabrik maupun pada kegiatan Hutan Tanaman Industri, manajemen PT TPL Tbk dipimpin dan dijalankan tenaga ahli asing (expatriate) mulai tingkat manajerial sampai pengawas (supervisor), hal ini disebabkan teknologi industri pulp dan rayon masih tergolong baru. Selanjutnya para tenaga expatriate melakukan transfer teknologi dan alih manajemen, untuk kegiatan tersebut PT TPL Tbk merekrut ratusan tenaga diploma/sarjana dan ribuan tenaga kerja lokal yang dilatih untuk operasional pabrik dan HTI.
PT. TPL Tbk, mendapat areal Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) seluas ± 269.060 Ha berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.493/Kpts-II/1992 tanggal 1 Juni 1992 tentang Pemberian Ijin Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri. Namun, dari luasan tersebut hanya 189.975 Ha yang efektif karena sisanya yaitu 79.085 overlap dengan ijin pengusahaan hutan yang lain. Secara administrasi, areal konsensi PT TPL Tbk tersebut tersebar di 9 (sembilan) kabupaten yaitu Kabupaten Toba Samosir seluas 12.481 Ha, Simalungun 22.533 Ha, Tapanuli Utara 39.811 Ha, Humbang Hasundutan 58.873 Ha, Samosir 26.752 Ha, Dairi 20.749 Ha, Pakpak Barat 10.878 Ha, Tapanuli Tengah 3.752 Ha dan Kabupaten Tapanuli
Selatan 38.745 Ha. Peruntukan dari seluruh areal konsensi tersebut adalah sebagai berikut:
a. Hutan tanaman industri, dengan jenis tanaman Eucalyptus spp, Akasia Mangium, Pinus sp seluas 74.065 Ha (25 %).
b. Konservasi, areal yang dipertahankan untuk fungsi lindung seluas 99.956 Ha (37,2%)
c. Kampung dan perladangan masyarakat, merupakan areal di luar kawasan hutan negara seluas 81.792 Ha (30,4%) yang meliputi kawasan enclave , perkampungan, perladangan dan sebagian besar merupakan areal tanah kosong/alang-alang yang tidak produktif.
d. Sarana/prasarana, areal yang diperuntukkan sebagai tapak base camp dan pembukaan jeringan jalan seluas 5.274 Ha (2,2%).
e. Areal tanaman kehidupan/unggulan, areal ini berbatasan langsung dengan lahan masyarakat dan ditanami jenis tanaman kehidupan (menghasilkan buah) dan jenis unggulan setempat, areal ini menjadi tanda batas dengan lahan masyarakat.
Areal konsensi PT TPL Tbk tersebut dibagi menjadi 5 (lima) sektor. Wilayah masing-masing sektor melewati batas administrasi kabupaten (lintas kabupaten). Data fisik lapangan dari masing-masing sektor dijelaskan oleh Tabel 4.10 berikut.
Tabel 4.10. Data fisik lapangan areal konsensi PT TPL Tbk masing-masing sektor No Sektor Luas (Ha) Wilayah admi-
nistrasi (Kab.) Letak Geografis
Ketinggian Dpl (M)
1 Aek Nauli 22.533 Simalungun 02°40’00”- 02°50’00” LU
98°50’00” - 99°10’00” BT
250 – 1.700
2 Habinsaran 24.080 Tobasa, Taput 02°07’00”- 02°21’00” LU 99°05’00” - 99°18’00” BT
900-1.700
3 Aek Raja 46.179 Taput, Tap-teng,
Humbahas
01°54’00”- 02°15’00” LU 98°42’00” - 98°58’00” BT
700 – 1.700
4 Tele 103.037 Dairi, Samosir,
Pakpak Barat, Humbahas 02°15’00”- 02°50’00” LU 98°20’00” - 98°50’00” BT 1.300 – 1.900 5 Padang Sidempuan 28.568 Tapsel 01°15’00”- 02°15’00” LU 99°13’00” - 99°33’00” BT 900 – 1.850 Jumlah 224.397 - - - Sumber: PT TPL Tbk tahun 2008
Sarana dan prasarana yang digunakan dalam mendukung pembangunan HTI Pola PIR sebagai mana dijelaskan dalam Tabel 4.11 berikut:
Tabel 4.11. Sarana dan prasarana HTI Pola PIR PT TPL Tbk
No Jenis Satuan Jumlah Keterangan
1 Buldozer Unit 1 Rental
2 Excavator Loader Unit 1
3 Chain saw Unit 18
4 Skidder Unit 4
5 Farm Tractor Unit 4
6 Loging Truk Unit 20
7 Dump Truk Unit 1
8 Crane Unit 1
9 Water tank Unit 4
10 Clinometer Unit 5
11 Theodolit Unit 3
12 Pita meter Unit 5
13 GPS, Kompas Unit 4
14 Knapsack Spayer Unit 80 Milik Plasma/kontraktor
15 Pompa Air Robin Unit 4
16 Pacul Unit 6
17 Safety Fire Unit 1
18 Truck Colt Diesel Unit 9 Rental
19 Hiline Puck Up Unit 4 Rental
20 Taft Rocky Unit 3
21 Honda win Unit 14
22 Double cabin Unit 2
23 Perumahan pimpinan Unit 1 24 Perumahan karyawan Unit 1
25 Kantor Unit 1
26 Gudang Unit 1
27 Bengkel Unit 1
28 Instalasi Listrik Unit 1
29 Sekolah Unit 1
30 Poliklinik Unit 1
31 Koperasi Unit 1
32 Mesjid Unit 1
33 Gereja Unit 1
34 Fasilitas Olahraga Unit 1 Sumber: PT TPL Tbk tahun 2008
4.3. Hasil Analisis dan Pembahasan 4.3.1. Karakteristik Responden
Karakteristik responden berdasarkan kelompok umur yang diambil dari sampel sebanyak 87 (delapan puluh tujuh) orang tersebut sangat bervariasi. Responden yang berumur 20 s/d 30 tahun sebanyak 8 (delapan) orang atau 9,20%. Umur 31 s/d 40 tahun sebanyak 19 (sembilan belas) orang atau sebesar 21,84%, umur 41 s/d 50 tahun