BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
3.1.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Alamat FISIP USU Jalan Dr. A. Sofyan Nomor 1, Kampus USU Padang Bulan Medan KodePos 20155.
3.1.2 Populasi dan Sample
Populasi adalah keseluruhan dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu dalam penelitian
(Nawawi, 1995:141). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU, Program S-1 angkatan 2012 dan 2013 yang sudah atau sedang mengambil mata kuliah periklanan. Berikut daftar jumlah mahasiswa yang terhitung aktif:
Tabel 3.1
Stambuk Jumlah
2012 123
2013 162
Jumlah Total 285 (Sumber: http://dirmahasiswa.usu.ac.id)
(diakses tanggal 17 Juli 2016 pukul 23.00 WIB)
Dalam penelitian ini besarnya sampel yang ditentukan menggunakan rumus Slovin (1960) dengan presisi 90% atau sig. 0,1 dan tingkat kesalahan yang dikehendaki adalah 10%, yaitu:
ππ = ππ ππ(ππ)2 + 1
ππ = 285
285(0,1)2 + 1 ππ =3,85285 = 74,02 = 74 orang Keterangan:
N = jumlah populasi n = sampel
d2 = presisi (digunakan 90% atau sig 0,1)
3.1.3 Teknik Penarikan Sample
Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah purposive sampling yaitu pengambilan sampel dengan teknik ini disesuaikan dengan tujuan penelitian, di mana sampel yang digunakan sesuai dengan kriteria tertentu yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian. Kriteria sampel dalam dalam penelitian ini adalah mahasiswa departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik angkatan 2012 dan 2013 yang sudah atau sedang mengambil mata kuliah
Responden yang memenuhi kriteria purposive sampling akan dibagi sesuai dengan Proporsional Stratified Random Sampling. Dalam teknik ini, populasi dikelompokkan kedalam kelompok atau kategori yang disebut strata. Strata ini bisa berupa usia, jenis kelamin, stambuk dan lain sebagainya. Sampel ini bertujuan untuk membuat sifat homogen dari populasi yang heterogen dikelompokkan kedalam subpopulasi berdasarkan karakteristik tertentu sehingga setiap kelompok (strata) mempunyai anggota sampel yang relatif homogen.
Dalam sampel strata proporsional dari setiap strata diambil sampel yang sebanding dengan besar tiap strata proporsional sampling, memungkinkan untuk memberi peluang lebih kecil untuk tetap dipilih sebagai sampel. Strata dalam penelitian ini dibagi dalam kategori angkatan 2012 dan 2013.
Rumus pengambilan sampelnya adalah:
ππ1 = ππ1 xππ ππ Keterangan:
n1 : Jumlah Sampel di Tiap Strata n : Jumlah Sampel
N1 : Populasi di Tiap Strata N : Populasi
Berdasarkan rumus di atas, maka dapat dihitung sampel yang nantinya akan dipilih dari setiap stambuk yaitu:
Jumlah Sample Tabel 3.2
No Stambuk Populasi Penarikan Sampel Sampel
1 2012 123 123 x 74
285
32
2 2013 162 162 x 74
285
42
Jumlah 74
3.1.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data sehingga dapat menghasilkan data yang valid. Adapun teknik pengumpulan data yang digunkan dalam penelitian ini adalah:
1. Studi Kepustakaan (Library Research)
Studi kepustakaan merupakan suatu teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti dengan menelaah teori-teori, pendapat-pendapat, serta pokok-pokok pikiran yang terdapat dalam media cetak, khususnya buku-buku yang menunjang dan relevan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian (Sarwono, 2010: 34-35).
2. Penelitian Lapangan (Field Research)
Pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melakukan survei ke lokasi penelitian melalui menyebarkan kuesioner, yaitu pengumpulan data dengan menyerahkan sejumlah daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden.
3.1.5 Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan dipresentasikan (Kriyantono, 2010: 167). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis data sebagai berikut:
1. Analisis Tabel Tunggal
Merupakan suatu analisa yang dilakukan dengan membagi-bagikan variabel penelitian ke dalam kategori-kategori yang dilakukan atas dasar frekuensi. Tabel tunggal merupakan langkah awal dalam menganalisa data yang terdiri dari 2 kolom yaitu sejumlah frekuensi dan kolom presentase untuk setiap kategori (Singarimbun, 1995: 266).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pelaksanaan Pengumpulan Data
Peneliti menempuh beberapa tahap penelitian dalam mengumpulkan data, tahapan tersebut sebagai berikut:
1. Penelitian Lapangan
Untuk menghimpun data hasil penelitian, peneliti menggunakan kuesioner.Pertanyaan di dalam kuesioner disusun secara lebih sistematis.Model pertanyaan untuk melihat hubungan antara Strategi Pemasaran Iklan Produk melalui Bioskop 21 terhadap minat membeli Mahasiswa FISIP USU adalahβprotcetive questionerβ.Proctetive questioner adalah suatu model pertanyaan dengan mengajukan pilihan jawaban kepada responden. Sementara itu terdapat 1 pertanyaan terbuka yang berguna untuk memperkaya penelitian mengenaI kritik dan saran mengenai strategi pemasaran iklan produk melalui Bioskop 21 yang nantinya akan dimasukkan kedalam bab 5.
2. Penelitian Kepustakaan
Penelitian kepustakaan yaitu penelitian yang digunakan dengan mengumpulkan data dan literature serta bacaan yang relevan dan mendukung penelitian ini. Dapat juga didapat dari buku-buku, jurnal, majalah dan internet yang berkaitan dengan masalah di dalam penelitian.
Tahapan penelitian lapangan ini adalah:
β Penyebaran kuesioner penelitian pada tanggal 15 sampai 29 November 2016;
β Peneliti mendampingi responden di saat proses pengisian kuesioner, dan memberikan keterangan seperlunya tentang kuesioner. Pada umumnya responden tidak mengalami kesulitan di dalam proses pengisian kuesioner yang berjumlah 23 pertanyaan.
4.2 Proses Pengolahan Data
Setelah kuesioner terkumpul dari responden, maka peneliti melakukan proses pengolahan data dari kuesioner yang telah diisi tersebut. Tahapan pengolahan data tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Penomoran Kuesioner
penomoran kuesioner yaitu memberi nomor kuesioner sebagai pengenal yaitu 01-74
2. Editing
Editing yaitu proses pengeditan jawaban responden untuk memperjelas jawaban yang meragukan dan menghindari hal-hal yang tidak sesuai anjuran pengisian kuesioner.
3. Pengkodean
Pengkodean merupakan proses pemindahan jawaban-jawaban responden ke dalam kotak skor dalam bentuk angka
4. Inventarisasi Variabel
Inventarisasi variable yaitu data mentah dimasukkan ke dalam lembar tabel Fortran Cobol (FC) sehingga memuat seluruh data di dalam kuesioner
5. Tabulasi Data
Tabulasi data yaitu memindahkan variable responden yang sudah melalui pengkodean dan inventarisasi variable ke dalam kerangka tabel.Adapuntabel sebanyak jumlah pertanyaan dari kuesioner.Data disajikan dalam bentuk tabel tunggal dan dirinci melalui kategori, frekuensi dan persentase. Selanjutnya data dianalisis melalui deskripsi teks 6. Pengujian Hipotesis
Tahap pengujian statistik untuk mengetahui apakah data yang ditemukan menolah atau menerima hipotesis penelitian yang diajukan.Untuk mengukur tinggi rendahnya hubungan antarvariabel digunakan skala Guilford.
46
4.3 Analisis Tabel Tunggal
Analisis tabel tunggal merupakan analisis yang dilakukan dengan membagi-bagikan variabel penelitian ke dalam kategori-kategori yang dilakukan atas dasar frekuensi. Berikut analisis tabel tunggal di dalam penelitian ini, yaitu:
4.3.1 Karakteristik Responden
Karakteristik responden adalah gambaran tentang responden dalam penelitian ini. Karakteristik dalam penelitian ini adalah jenis kelamin, usia, angkatan atau stambuk dan frekuensi menonton bioskop
Tabel 4.1
Jenis Kelamin Responden
Jenis kelamin Frekuensi Persentase
Persentase Kumulatif laki-laki
perempuan
50 24
67.6 32.4
67.6 100.0
Total 74 100.0
P. 02/F.C. 03
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yang di dalam penelitian ini adalah laki-laki yaitu sebanyak 50 orang (67.6%), selebihnya adalah perempuan sebanyak 24 orang (32.4%). Dalam penelitian ini dapat dijelaskan bahwa pada saat penyebaran kuesioner berlangsung, mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang sesuai dengan kriteria penelitian ini adalah lebih banyak berjenis kelamin laki-laki bila dibandingkan dengan yang berjenis kelamin Perempuan. Diman terdapat selisih atau rentang yang cukup jauh antara jumlah responden yang berjenis kelamin perempuan dan laki-laki yaitu sebanyak 26 orang. Responden yang berjenis kelamin laki-laki sendiri yaitu lebihd dari setengah persen dari total responden.
Tabel 4.2 Usia Responden
Umur Frekuensi Persentase
Persentase Kumulatif 18-20 tahun
21-22 tahun 23-25 tahun
33 20 21
44.6 27.0 28.4
44.6 71.6 100.0
Total 74 100.0
P. 03/C.F 04
Tabel 4.2 adalah tabel yang menjelaskan mengenai usia mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU yang menjadi responden di dalam penelitian. Di mana peneliti membatasi usia responden ke dalam tiga kategori yaitu: usia 18-20 tahun, 21-22 tahun dan usi 23-25 tahun. Kategori usia tersebut dipilih karena berdasarkan observasi peneliti mahasiswa Fisip USU yang menjadi responden penelitian memang berada pada rentang usia tersebut, ajdi kategosi usia tersebut sangat pas untuk menggambarkan usia responden
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yang terpilih di dalam penelitian ini adalah mereka yang berusia <18-20 tahun yaitu sebanyak 33 orang (44.6%). Berikutnya terdapat sebanyak 21 orang responden (28.4%) yang berusia 23-25 tahun. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat sebanyak 20 orang responden (27.0%) saja yang berusia 21-22 tahun. Berdasarkan tabel juga bisa dilihat hanya terdapat sedikit selisih antara responden yang berusia23-25 tahun dengan 21-22tahun, yaitu sebanyak 1 orang saja. Untuk lebih jelasnya bisa lihat tabel 4.2
Tabel 4.3 Stambuk (Angkatan)
Stambuk (angkatan)
Frekuensi Persentase Persentase Kumulatif
2012 2013
32 42
43.2 56.8
43.2 100.0
Total 74 100.0
P. 04/F.C.05
Stambuk atau angkatan menjadi salah satu indikator di dalam karakteristik responden. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah kuesioner penelitian telah terbagi secara merata sesuai dengan karakter responden yang telah ditentukan pada metodologi penelitian. Hasil penelitian sendiri menunjukkan bahwa terdapat sebanyak 42 orang (56.8%) responden yang bersala dari stambuk atau angkatan 2012, sementara itu sisanya yaitu sebanyak 32 orang (43.2%) adalah mereka yang berasal dari stambuk atau angkatan 2012.
Hasil penelitian menunjukkan jika kuesioner penelitian telah terbagi secara merata dimana dalam metode penelitian untuk penarikan sampel dengan teknik stratifikasi telah ditentukan jika sampel untuk mereka yang berasal dari stambuk atau angkatan 212 adalah sebanyak 32 orang dan untuk stambuk atau angkatan 2013 adalah sebanyak 42 orang, sesuai dengan hasil penelitian diatas.
Tabel 4.4
Frekuensi menonton Bioskop
Frekuensi menonton acara talkshow
Frekuensi Persentase Persentase Kumulatif
1-2 kali seminggu 2-3 kali seminggu 3-4 kali seminggu 4-5 kali seminggu
26
Frekuensi menonton Bioskop menjadi salah satu indikator di dalam karakteristik responden. Hal ini dilakukan untuk melihat apakah responden yang terpilih sering menonton acara Bioskop atau tidak, karena biasanya mereka yang sering terkena terpaan media dalam hal ini Bioskop maka mereka akan lebih mudah untuk dipengaruhi dan menaruh minat terhadap program maupunj iklan yang ditawarkan tersebut, berkaitan dengan penelitian ini khususnya dalam strategi pemasaran melalui Biskop 21.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitu sebanyak 26 orang (35.1%) menyatakan jika mereka menonton di bioskop adalah sebanyak 1-2 kali dalam seminggu, sementara itu terdapat juga sebanyak 19 orang (25.7%) responden yang menonton ke bioskop sebanyak 2-3 kali dalam seminggu.
Berikutnya hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat sebanyak 18 orang responden (24.3%) yang menonton ke bioskop sebanyak 4-5 kali seminggu.
Selanjutnya juga terdapat 11 orang responden (14.9%) yang menyatakan bahwa mereka menonton ke bioskop adalah sebanyak 4-5 kali dalam seminggu.
4.3.2 Strategi Pemasaran Iklan Melalui Media Bioskop 21
Pada bagian ini peneliti akan menjelaskan hasil analisis data tabel tunggal yang diperoleh dari jawaban setiap responden pada tiap-tiap pertanyaan pada kuesioner tentang variabel bebas penelitian, di mana variabel bebasnya adalah strategi pemasaran iklan melalui media Bioskop 21. Variabel operasional yang digunakan untuk mengukur strategi pemasaran iklan melalui media Bioskop 21 meliputi: Pertama, bentuk penyajian penjualanyang berisi beberapa pertanyaan mengenai video atau visualisasi yaitu ganbar bergerak yang disajikan di dalam tayangan iklan, suara atau informasi yang diucapkan untuk memperjelas video, misalnya detail produk, serta durasi atau jenjang waktu yang digunakan untuk menampilkan iklan.
Kedua, yaitu meliputi isi pesan dengan pertanyaanmengenai video atau informasi produk yang dikemas unik pada gambar bergerak untuk mendapatkan perhatian konsumen, kejelasan pesan atau cara penyampaian informasi produk yang digunakan. Biasanya pesan dikemas sedemikian rupa agar menarik bagi calon pembeli, serta keunikan bentuk iklan yaitu ukuran daya tarik bentuk video dalam menarik perhatian calon pembeli.
Kedua karakteriskik tersebut dinilai peneliti sudah sangat tepat untuk melihat bagaimana strategi pemasaran iklan melalui media Bioskop 21, apakah strategi tersebut sudah tepat atau belum dan dapat menarik perhatian atau tidak, menggunakan bahasa yang mudah dimnengerti, memiliki isi pesan yang menarik serta sebagainya. Untuk hasil selengkapnya disajikan pada tabel 4.5 sampai dengan tabel 4.18.
Tabel 4.5
Sering menonton iklan di bioskop 21
Sering menonton iklan di bioskop 21
Frekuensi Persentase Persentase Kumulatif
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitu sebanyak 40 orang (54.1%) menyatakan bahwa mereka sering menonton iklan di Bioskop 21.
Sementara itu terdapat sebanyak 20 orang responden (27.0%) yang menyatakan bahwa mereka sangatsering menonton iklan di Bioskop 21. Selanjutnya juga terdapat sebanyak 14 orang responden saja (18.9%) yang menyatakan bahwa mereka terkadang menonton iklan di Bioskop 21. Hasil data penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada satu orang pun resonden dari total keseluruhan responden yang menyatakan jika merka tidak pernah sering menonton iklan di Bioskop 21.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa mayoritas mahasiswa yang menjadi responden penelitian adalah mereka yang sering terkena terpaan iklan di di Bioskop 21, di mana lebih dari setengah persen responden dari total responden orang menyatakan jika mereka sering menonton iklan di Bioskop 21.
Tabel 4.6
Pemasangan iklan konsumen di bioskop 21 sudah sesuai Pemasangan iklan konsumen di
bioskop 21 sudah sesuai
Frekuensi Persentase
Persentase Kumulatif Tidak sesuai
Kirang sesuai Sesuai
Sangat sesuai
4
Pandangan jonsumen mengenai sesuai atau tidaknya suatu iklan ditampilkan di dalam media tentunya sangat penting untuk dilihta dimana berguna untuk mengukur ketertarikan konsumen itu sendiri, hasil penelitian berikut merupakan tabel yang menjawab pertanyaan mengenai apakahpemasangan iklan konsumen yang ditayangkan di Bioskop 21 sudah sesuai atau belum dimata penonton.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah persen r5esponden dari jumlah total responden yaitu sebanyak 48 orang (64.9%) menyatakan jika pemasangan iklan di Bioskop 21 sudah sesuai. Berikutnyajuga terdapat sebanyak 14 orang reponden (18.9%) menyatakan jika pemasangan iklan di Bioskop 21 sudah sangat sesuai. Sementara itu untuk mereka yang menyatakan jika pemasangan iklan di Bioskop 21 masih kurang sesuai. Selanjutnya hanya terdapat beberapa orang responden saja yaitu sebanyak 4 orang (5,4%) yang menyatakan bahwa pemasangan iklan di Bioskop 21 tidak sesuai. Untuk lebih jelasnya bisa lihat tabel 4.6.
Tabel 4.7
Pemasangan iklan bisnis di bioskop 21 sudah sesuai Pemasangan iklan bisnis di
bioskop 21 sudah sesuai
Frekuensi Persentase Persentase Kumulatif Tidak sesuai
Kirang sesuai Sesuai
Sangat sesuai
5 17 45 7
6.8 23.0 60.8 9.5
6.8 29.7 90.5 100.0
Total 74 100.0
P. 08/F.C. 09
Data penelitian mengenai pemasangan iklan bisnis di Bioskop 21 sudah sesuai atau tidak, menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitu sebanyak 45 orang (60.8%) menyatakan jika pemasangan iklan bisnis di Bioskop 21 sudah sesuai, selanjutnya juga terdapat sebanyak 17 orang responden (23.0%) yang menyatakan jika jika pemasangan iklan bisnis di Bioskop 21 masih kurang sesuai. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa hanya terdapat sebanyak 7 orang responden saja (9.5%) yang menyatakan jika jika pemasangan iklan bisnis di Bioskop 21 sudah sangat sesuai, begitu pula untuk mereka yang menyatakan bahwa pemasangan iklan bisnis di Bioskop 21 tidak sesuai yaitu hanya sebanyak 5 orang (6.8%) responden saja. Iklan bisnis di sini sendiri yaitu merupakan jenis iklan yang berhubungan dengan profit ataupun keuntungan suatu perusahaan seperti iklan produk, dsb.
Tabel 4.8
Pemasangan iklan rekrutmen di bioskop 21 sudah sesuai Pemasangan iklan rekrutmen di
bioskop 21 sudah sesuai
Frekuensi Persentase Persentase Kumulatif
Iklan rekrutmen sendiri adalah iklan yang memuat informasi mengenai rekrutmen atau penerimaan tenaga kerja di perusahaan tertent, di mana berdasarkan observasi peneliti Bioskop 21 tidak hanya menayangkan iklan produk saja tetapi juga iklan lowongan kerja. Oleh karena itu peneliti memasukkan iklan rekrutmen sebagai salah satu karakteristik di dalam variabel pertanyaan penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitu sebanyak 59 orang (79.7%) menyatakan jika pemasangan iklan rekrutmen di Bioskop 21 sudah sesuai, berikutnya juga terdapat sebanyak 9 orang (12.2%) responden yang menyatakan jika pemasangan iklan rekrutmen di Bioskop 21 sudah sangat sesuai.
Selanjutnya data penelitian juga menunjukkan jika terdapat sebanyak 5 orang (6.8%) responden yang menyatakan jika pemasangan iklan rekrutmen di bioskop 21 masih kurang sesuai. Selanjutnay hampir tidak ada responden yang menyatakan jika pemasangan iklan rekrutmen di Bioskop 21 tidak sesuaio, dimana dari jumlah total 72 orang responden hanya 1 (1.4%) diantaranya yang menyatakan jika pemasangan iklan rekrutmen di Bioskop 21 tidak sesuai.
Tabel 4.9
Pemasangan iklan layanan masyarakat di bioskop 21 sudah sesuai Pemasangan iklan layanan
masyarakat di bioskop 21 sudah sesuai
Frekuensi Persentase
Persentase
Hasil penelitian pada tabel 4.9 menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitu sebanyak 46 orang (62.2%) menyatakan bahwa pemasangan iklan layanan masyarakat di Bioskop 21 sudah sesuai, selanjutnya juga terdapat sebanyak 13 ornag responden (17.6%) yang menyatakan bahwa pemasangan iklan layanan masyarakat di Bioskop 21 sudah sangat sesuai. Berikutnya terdapat juga sebanyak 9 orang (12.2%) responden yang menyatakan bahwa pemasangan iklan layanan masyarakat di Bioskop 21 masih kurang sesuai. Sementara itu untuk mereka yang menyatakan bahwa pemasangan iklan layanan masyarakat di Bioskop 21 masih belum sesuai adalah sebanyak 6 orang saja (8.1%)). Iklan layanan masyarakat sendiri merupakan salah satu jenis iklan non profit, yaitu bukan iklan untuk memperoleh keuntungan melainkan memberikan penyuluhan kepada masyarakatbyang berguna bagi kehidupan masyarakat, seperti iklan penghematan listrik, bayar pajak, Keluarga berencana (KB) dan sebagainya.
Tabel 4.10
Durasi iklan di bioskop 21 sudah memadai Durasi iklan di bioskop 21
sudah memadai Frekuensi Persentase Persentase Kumulatif
Suatu iklan hendaknya memperhatikan durasi atau lama penayangannya.
Di mana apabila durasi iklan terlalu pendek maka bisa jadi pesan di dalam iklan tersebut tidak diterima oleh pemirsa, begitu juga sebaliknya jika durasi iklan terlalu panjang maka tentunya akan membuat pemirsa menjadi bosan sehingga tidak mau menonton iklan tersebut. Oleh karena itu durasi suatu iklan benar-bbenar harus diperhatikan oleh pihak pengiklan tersebut. Hasil penelitian berikut menjelaskan mengenai apakah durasi iklan di Bioskop 21 sudah memadai atau belum.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitus ebanyak 36 orang (12.2%) menyatakan jika durasi iklan di Bioskop 21 sudah memadai, berikutnya juga terdapat sebanyak 20 orang (27.%) responden yang menyatakan jika durasi iklan di Bioskop 21 masih tidak memadai. Berikutnya terdapat jumlah responden yang sama besar untuk mereka yang menyatakan bahwa durasi iklan di Bioskop 21 kurang memadai dan sangat memadai, yaitu sebanyak masing masing 9 orang responden (12.2%).
Tabel 4.11
Tampilan iklan yang terdapat di bioskop 21 Tampilan iklan yang terdapat
di bioskop 21
Frekuensi Persentase Persentase Kumulatif
Data penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitu sebanyak 37 orang (50.0%) menyatakan jika tampilan iklan yang terdapat di Bioskop 21 sudah menarik, selanjutnya juga terdapat sebayak 14 orang (18.9%) responden yang menyatakan jika tampilan iklan yang terdapat di Bioskop 21 masih kurnag menarik. Berikutnya hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa terdapats ebanyak 12 orang responden (16.2%) menyatakan jika tampilan iklan yang terdapat di Bioskop 21 tidak menarik, sementara itu juga terdapats ebanyak 11 ornag responden (14.9%) yang menyatakan jika tampilan iklan yang terdapat di Bioskop 21 sangat menarik.
Menarik atau tidaknya tampilan suatu iklan tentunya dipengaruhi oleh berbagai aspek visual di dalam iklan tersebut seperi pemilihan model yang sesuai denga iklan dan juga menarik, latar atau background yang menarik, penggunakan berbagai aspek desai yang menarik untuk di lihat dan juga sebagainya. Selain itu tampilan iklan yang menarik tentunya mampu menarik atensi dari pemirsa yang membuat mereka mau menonton iklan tersebut bahkan nantinya dapat mempengaruhi minta mereka.
Tabel 4.12
Penilaian terhadap iklan yang terdapat dalam layar bioskop 21 Penilaian terhadap iklan yang
terdapat dalam layar bioskop 21
Frekuensi Persentase Persentase Kumulatif
Tabel 4.12 adalah tabel yang menjelaskan mengenai penilaian responden terhadap iklan yang terdapat di dalam layar Bioskop 21, penilaian ini sendiri mencakup dari keseluruhan isi iklan baik dari tampilan, efek suara , dan juga aspek lainnya yang membuat menarik atau tidaknya suatu iklan, baik iklan komersial maupun non komersial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas respoden yaitu sebanyak 53 orang (71.6%) menyatakan jika iklan yang terdapat di dalam layar Bioskop 21 sudah menarik, selanjutnya juga terdapat sebanyak 10 orang (13.5%) responden yang menyatakan jika iklan yang terdapat di dalam layar Bioskop 21 sudah sangat menarik. Data penelitian juga menunjukkan bahwa terdapats ebanyak 7 orang responden (9.5%) yang menyatakan bahwa iklan yang terdapat di dalam layar Bioskop 21 kurang menarik. Sementara itu hanya terdapat beberapa orang responden saja yang menyatakan jika iklan yang terdapat di dalam layar Bioskop 21 tidak menarik, mereka ini yaitu sebanyak 4 orang (5.4%) responden saja dari jumlah tital 74 orang responden.
Tabel 4.13
Penilaian terhadap adanya iklan di bioskop 21 yang mengawali sebelum film diputar
Penilaian terhadap adanya iklan di bioskop 21 yang mengawali sebelum film
diputar
Frekuensi Persentase Persentase Kumulatif
Hasil data di atas menjawab pertanyaan mengenai penilaian terhadap adanya iklan di Bioskop 21 yang mengawali sebelum film diputar, di mana hasil data penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah persen dari jumlah total responden yaitu sebanyak 54 (73.0%) orang menyatakan bahwa iklan di Bioskop 21 yang mengawali sebelum film diputar sudah menarik, berikutnya juga terdapat sebanyak 13 orang responden (17.6%) yang menyatakan bahwa iklan di Bioskop 21 yang mengawali sebelum film diputar sangat menarik.
Selanjutnya hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat sebanyak 5 orang responden (6.8%) yang menyatakan bahwa iklan di Bioskop 21 yang mengawali sebelum film diputar masih kurang menarik. Sementara itu hanya terdapat beberapa orang responden dari jumlah total 74 oreang responden yang menyatakan bahwa iklan di Bioskop 21 yang mengawali sebelum film diputar tidak menarik, mereka ini adalah sebanyak 2 orang (2.7%) responden saja. Untuk lebih jelasnya lihat tabel 4.13.
Tabel 4.14
Menampilkan iklan pada setiap jenis film di layar bioskop 21 sudah tepat Menampilkan iklan pada setiap
jenis film di layar bioskop 21 sudah tepat
Frekuensi Persentase Persentase Kumulatif
Sudah menjadi pengetahuan umum jika pemutaran iklan di Bioskop
Sudah menjadi pengetahuan umum jika pemutaran iklan di Bioskop