STRATEGI PEMASARAN IKLAN PRODUK di BIOSKOP 21 DAN MINAT CALON KONSUMEN
(Studi Korelasi Pada Mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU)
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata 1 (S1) pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Oleh:
INDRA MICHAEL MANURUNG 120904126
Program Studi:
Hubungan Masyarakat
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2016
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………...……….…... i
LEMBAR PERSETUJUAN ………..………. ii
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ………...………... iii
LEMBAR PENGESAHAN ………...………...…………... iv
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ……..……... v
KATA PENGANTAR …....………..……….. vi
ABSTRAK ………...…………...….... viii
DAFTAR ISI …...………..…..…... xi
BAB I : PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ………..……….…... 1
1.2. Rumusan Masalah ………... 7
1.3. Pembatasan Masalah ………... 7
1.4. Tujuan Penelitian ………...……. 7
1.5. Manfaat Penelitian ……… 8
BAB II : URAIAN TEORITIS 2.1 Kerangka Teori ...……….……… 9
2.1.1 Komunikasi ... 9
2.1.2 Teknologi Komunikasi ………... 11
2.1.3 Komunikasi Pemasaran ... 12
2.1.4 Iklan ... 14
2.1.5 Minat ... 19
2.1.6 Teori AIDDA ... 25
2.2 Kerangka Konsep ... 25
2.3 Model Teoritis ………... 26
2.4 Operasional Komponen ………... 26
2.5 Defenisi Operasional ……… 27
2.6 Hipotesis ……… 29
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian ……….………... 30
3.1.1 Lokasi Penelitian ... 30
3.1.2 Populasi Sample ... 30
3.1.3 Teknik Penarikan Sample ………... 31
3.1.4 Teknik Pengumpulan Data ... 33
3.1.5 Teknik Analisis Data ………... 33
BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelaksanaan Pengumpulan Data ..………... 34
4.2 Proses Pengolahan Data ………... 35
4.3 Analisis Tabel Tunggal ... 36
4.3.1 Karakteristik Responden …... 36
4.3.2 Strategi Pemasaran Iklan Melalui Media Bioskop 21 ………... 40
4.3.3 Minat Membeli Produk ……….... 55
4.4 Analisis Tabel Silang ………... 60
4.5 Hipotesis ……….….. 66
4.6 Pembahasan ……….. 68 BAB V : SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan ………..………... 73 5.2 Saran ...73
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
LEMBAR PERSETUJUAN Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh : Nama : Indra Michael Manurung
Nim : 120904126
Departemen : Ilmu Komunikasi
Judul :STRATEGI PEMASARAN IKLAN PRODUK di BIOSKOP 21 DAN MINAT CALON KONSUMEN (Studi Korelasi Pada Mahasiswa Departemen Ilmu KomunikasiFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU)
Medan, 7 Juni 2017
Dosen Pembimbing Ketua Departemen
Dra. Dewi Kurniawati, Msi Dra. Dewi Kurniawati, Msi
NIP. 196505241989032001 NIP.196505241989032001
Dekan FISIP USU
Dr. Muryanto Amin, M.Si NIP. 197409302005011002
ii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun yang dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika dikemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya
bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Nama : Indra Michael Manurung Nim : 120904126
Departemen : Ilmu Komunikasi Tanda Tangan :
Tanggal : Juni 2017
iii
LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh : Nama : Indra MichaelManurung Nim : 120904126
Departemen : Ilmu Komunikasi
Judul :STRATEGI PEMASARAN IKLAN PRODUK di BIOSKOP
21 DAN MINAT CALON KONSUMEN
(Studi Korelasi Pada Mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU)
Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Majelis Penguji Ketua Penguji :
Penguji :
Penguji utama :
Ditetapkan di : Medan
Tanggal : Juni 2017
iv
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
__________________________________________________________________
Sebagai civitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Indra MichaelManurung NIM : 120904126
Departemen : Ilmu Komunikasi
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : Sumatera Utara
Jenis Karya : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Non-exclusive Royalty-Free Right) atas karya ilmiah saya yang berjudul : STRATEGI PEMASARAN IKLAN PRODUK di BIOSKOP 21 DAN MINAT CALON KONSUMEN (Studi Korelasi) beserta perangkat yang ada (jika diperlukan).
Dengan Hak Bebas Royalti Nonekslusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalihmedia/formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik hak cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di :Universitas Sumatera Utara Pada Tanggal : Juni 2017
Indra Michael Manurung
( ) v
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, yang senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan skripsi ini. Penulisan skripsi yang berjudul “STRATEGI PEMASARAN IKLAN PRODUK di BIOSKOP 21 DAN MINAT CALON KONSUMEN” ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
Peneliti menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini, sangatlah sulit bagi peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini. Peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar dikarenakan dukungan dan bantuan dari pihak-pihak yang terkait. Secara khusus peneliti ingin mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua peneliti,Effendi P. Manurung sebagai sosok bapak yang luar biasa, dan kepada ibunda tercinta Rismawaty. br. Butar-butar yang selalu memberikan dorongan, masukan dan kecerewatan tiada batas kepada peneliti agar sesegera mungkin menyelesaikan skripsi, serta abang kandung saya Ivan F dan kakak kandung saya Ika L yang sangat mendorong dan membantu saya untuk menyelesaikan segala kendala dalam skripsi ini.
Dalam penulisan skiripsi ini, penulis banyak menerima bantuan, bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.Bapak. Dr. Muryanto Amin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
2. IbuDra. Dewi Kurniawati, Msi , selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU yang membantu dan membimbing dalam proses penyelesaian tugas akhir peneliti
3. Ibu, sebagai Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU yang terus memberikan arahan dan penerangan kepada peneliti
4. Seluruh Dosen dan Staf Pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
5. Teman-teman perkuliahan yang senantiasa menjadi tempat berkeluh kesah ketika hampir menyerah
6. Sahabat karib peneliti, tanpa disebutkan satu-satu, kalian salah satu yang terbaik.
7. Yare G. Saragih sebagi teman terbaik yang tidak pernah lelah menjawab dan menerima konsultasi untuk membantu menyelesaikan skripsi hingga berjalan dengan lancar
8. Semua pihak yang juga telah ikut membantu saya dalam menyelesaikan skripsi ini, saya ucapkan banyak terima kasih. Saya menyadari bahwa tulisan ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu dengan segala kerendahan hati saya berharap pembaca dapat memberikan saran dan kritik yang sifatnya membangun untuk perbaikan skripsi ini serta memperdalam pengetahuan dan pengalaman saya. Semoga skripsi ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu
vi
9. Mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU yang telah menjadi keluargapenelitikhususnya GENTONG 2012
Medan, Juni 2017 Peneliti,
Indra Michael Manurung
vii
ABSTRAK
Skripsi ini berjudul STRATEGI PEMASARAN IKLAN PRODUK di BIOSKOP 21 DAN MINAT CALON KONSUMEN (Studi Korelasi Pada Mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU).Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana strategi komunikasi pemasaran iklan produk di bioskop 21dan minat calon konsumen yang merupakan mahasiswa Komunikasi USU. Teori yang dianggap relevan dalam penelitian ini adalah, komunikasi pemasaran, iklan, minat dan AIDDA. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan menggunakan metode korelasional yang berusaha menjelaskan suatu permasalahan atau gejala yang khusus dalam penjelasan antara dua objek. Metode penelitian ini digunakan untuk meneliti bagaimana hubungan antara strategi penjualan melalui media online dan minat beli. Penelitian ini menggunakan metode korelasional meliputi komponen-komponen antara dua variabel yaitu variabel X dan variabel Y. Variabel X dalam penelitian ini adalah Strategi Pemasaran Iklan melalui Media Bioskop dan variabel Y adalah Minat beli mahasiswa Komunikasi USU. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU, Program S-1 angkatan 2012 dan 2013 yang sudah atau sedang mengambil mata kuliah periklanan dan berjumlah 285 orang.Untuk menentukan jumlah sampel digunakan rumus Slovin (1960) dengan presisi 90% atau sig. 0,1 dan tingkat kesalahan yang dikehendaki adalah 10%, diporelah 74 orang. Populasi dikelompokkan berdasarkan strata dan memiliki kriteria tertentu, sehingga digunakan teknik stratified random sampling dan purposive sampling. Teknik pengumpulan data melalui cara, Studi Kepustakaan (Library Research) dan Penelitian Lapangan (Field Research). Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner yang terdiri dari 25 soal. Adapun teknik analisis data menggunakan analisis tabel tunggal,analisis tabel silang dan uji hipotesis dengan menggunakan rumus Spearman (Spearman's Rho Rank _ Order Correlation).
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa tidak terdapat pengaruh antara strategi pemasaran iklan di Bioskop 21 dengan minat beli di kalangan mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (Fisip USU).
Kata Kunci: Strategi pemasaran, Ikan produk melalui Bioskop dan Minat Calon Konsumen
viii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pasar bebas yang berkembang mempengaruhi dunia perdagangan dan menjadikan persaingan promosi yang lebih seru, karena banyaknya jenis produk yang ditawarkan. Berbagai jenis produk yang ditawarkan sangat berhati-hati dalam mengisi dicelah-celah bisnis melalui promosi. Mengatur strategi pemasaran melalui promosi antar produsen agar produknya meningkat dan jangkauan pasar lebih luas merupakan jurus yang harus dilakukan. Persaingan antar produk di pasaran mendorong produsen gencar untuk berpromosi yang dapat menarik perhatian konsumen. Promosi dapat dilakukan melalui berbagai cara, antara lain;
melalui promosi penjualan, publisitas umum, penjualan pribadi, dan periklanan.
Promosi melalui media periklanan sangatlah efisien karena menggunakan biaya rendah dan mempunyai daya bujuk (persuasif) yang kuat. Promosi melalui periklanan sangatlah efektif karena dapat memberikan informasi yang jelas terhadap produk pada segmen tertentu. Iklan mengarahkan konsumen dalam menyuguhkan produk sehingga dapat diyakini untuk memenuhi kebutuhan pembeli.
Strategi komunikasi pemasaran mempunyai peran yang sangat penting bagi perusahaan untuk melakukan pencitraan atas suatu merek tertentu. Selain itu dengan komunikasi pemasaran dapat mengembangkan kesadaran konsumen terhadap produk/jasa yang dihasilkan perusahaan, sehingga konsumen mengenal produk/jasa yang ditawarkan. Dengan begitu dapat merangsang terjadinya penjualan. Komunikasi pemasaran lebih menekankan pada pemenuhan secara langsung produk atau jasa yang diperlukan oleh konsumen. Dengan demikian pemasaran senantiasa berupaya untuk meningkatkan hubungan pertukaran ekonomi antara organisasi dan konsumennya.
Dalam setiap kegiatan pemasaran, elemen yang sangat penting untuk diperhatikan adalah komunikasi. Dengan komunikasi, kegiatan pemasaran akan berlangsung dengan sedemikian rupa dan dapat mencapai segala sesuatu yang
diinginkan, salah satunya adalah proses pembelian. Pada tingkat dasar, komunikasi dapat menginformasikan dan membuat konsumen potensial menyadari atas keberadaan produk yang ditawarkan. Komunikasi dapat berusaha membujuk komsumen saat ini dan konsumen potensial aagar berkeinginan masuk dalah hubungan pertukaran. Komunikasi juga dapat dijadikan sebagi pengingat bagi konsumen mengenai keberadaan produk yang pada masa lalu pernah dilakukan 2 transaksi pertukaran pada produk ini.
Selain itu, peran lain komunikasi dalam pemasaran adalah untuk membedakan produk yang ditawarkan perusahaan dengan perusahaan lainnya.
Pada tingkatan lebih tinggi, peran komunikasi tidak hanya berperan pada mendukung transaksi dengan menginformasikan, membujuk, mengingatkan dan membedakan produk, tetapi juga menawarkan sarana pertukaran itu sendiri.
Seiring dengan perkembangan zaman, kini komunikasi pemasaran lebih dikenal dengan komunikasi pemasaran terpadu, yang artinya suatu konsep perencanaan komunikasi pemasaran yang mengakui nilai tambah dari suatu rencana komprehensif yang mengevaluasi peran strategis dari berbagai disiplin komunikasi misalnya, iklan media cetak-elektronik, respon langsung, promosi penjualan, dan hubungan masyarakat guna memberikan kejelasan, konsistensi serta dampak komunikasi yang maksimal.
Penggunaan strategi pemasaran melalui iklan, secara tidak langsung memberikan banyak manfaat bagi produsen. Peran iklan antara lain dapat membantu produsen untuk mengenalkan produknya kepada konsumen, menginformasikan mengenai kelebihan dan manfaat produk, menarik minat konsumen untuk membeli produk, meningkatkan penjualan produk, membangun citra produk di mata konsumen, dan mengatasi masalah persaingan pasar yang cukup ketat. Namun agar pemasaran produk dengan iklan sukses, sebaiknya komunikator dalam iklan menciptakan iklan yang efektif dan menarik minat konsumen. Untuk menghasilkan iklan yang menarik dan efektif. Perkembangan periklanan di Indonesia tidak pernah lepas dari perkembangan teknologi. Mereka bergerak seiring sejalan. Dimana telah terjadi perkembangan teknologi baru, menciptakan media baru dan akhirnya periklanan beradaptasi untuk menggunakan media baru tersebut sebagai sarana publikasi.
Pada dasarnya iklan telah didefinisikan sebagai sebuah bentuk komunikasi yang dibayar oleh sponsor untuk mempromosikan ide, barang atau jasa. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengajak dan memberikan informasi ( Oxford Dictionary of Business, 2002). Demikian pula Kotler dan Armstrong mendefenisikan iklan sebagai bentuk presentasi nonpersonal yang berbayar untuk mempromosikan ide, barang atau jasa (Kotler and Armstrong, 1994: 487). Seperti yang kita ketahui, bahwa korelasi kedua definisi diatas, iklan merupakan bagian dari strategi pemasaran. Karena iklan merupakan alat komunikasi yang powerfull, dengan iklan perusahaan mampu berkomunikasi dengan pelanggan, berinteraksi dengan pelanggan potensial dan menetapkan posisi perusahaan dengan pesaing.
Sebagai bagian strategi pemasaran yang efektif, iklan dipertimbangkan untuk investasi masa depan pada bisnis dari pada sebagai biaya tambahan.Segala usaha dapat dilakukan untuk meningkatkan atau mempertahankan minat beli dari pelanggan, salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan aktifitas pemasaran dan salah satu cara pemasaran adalah dengan metode iklan.
Periklanan (Advertising) berkembang karena awalnya didukung oleh adanya Revolusi Industri dunia secara menyeluruh. Pengetahuan tulis menulis pada saat itu sangatlah pesat peningkatanya dan daya beli masyarakat juga meningkat sehingga membutuhkan semakin banyak produk. Sementara para produsen berusaha membuat produk yang dapat memuaskan pelanggannya dengan mempersuasi calon pelanggan agar tidak beralih pada pesaingnya. Mike Featherstone (Volume 6 dari Published in association with Theory, Culture &
Society Volume 6 dari Theory, culture & society, 1991) mengatakan era tersebut sebagai “consumer culture” di mana terjadi peningkatan jumlah produk yang ditawarkan untuk memperoleh profit dan menyediakan simbol-simbol status dan kesuksesan. Iklan digunakan untuk menjual prestige seperti halnya produk Periklanan didefinisikan sebagai bentuk komunikasi yang persuasif, dibeli dan dibiayai oleh pengiklan tetapi juga menjadi sumber pemasukan bagi perusahaan media. Ada dua trend dalam beriklan, yaitu: Hard Sell: bila iklan tersebut lebih mengedepankan pesanpesan rasional, tentang alasan pembelian produk, seperti kegunaan, harga, dan lain sebagainya. Soft sell: bila iklan lebih menonjolkan
aspek emosional dalam pesan-pesannya seperti dengan menggunakan tema-tema entertainment. Era ini disebut “the era of creativity” .
Media iklan menjadi salah satu elemen yang penting dalam melakukan pemasaran produk berupa barang maupun jasa. Sebagai salah satu bagian dari bauran promosi(promotion mix), media iklan juga memilki peranan yang cukup besar sebagaimana halnya bentuk promosi lain seperti sales promotion, direct marketing, public relation, personal selling maupun publisity. Media iklan sendiri adalah berbagai sarana komunikasi yang dipakai perusahaan untuk mengantarkan dan menyebar luaskan pesan kepada target pasar yang dituju. Menurut William Wells, John Burne & Sandra Moriarty, Media adalah sarana komunikasi yang membawa pesan-pesan dari pengiklan kepada konsumennya. Jika ditinjau dari sudut pandang proses kegiatan periklanan, media iklan ini juga termasuk dalam aktivitas media planing, yakni sebuah proses menentukan bagaimana menggunakan waktu dan ruang untuk meriah tujuan pemasaran. Agar media iklan bisa berjalan secara efektif ia harus mampu mencapai target audience-nya secara tepat. Ada banyak media iklan yang dapat digunakan untuk mendongkrak promosi penjualan, secara garis besar media iklan dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu iklan media cetak, iklan media elektronik dan iklan media luar ruang.
Sebelum tahun 1970 sarana hiburan rakyat yang bersifat visual masih sangat terbatas atau sederhana. Karena tempat pelaksanaan hiburan tersebut belum difokuskan pada satu tempat bangunan yang khusus. Artinya pelaksanaan hiburan ini masih dilaksanakan di tempat terbuka seperti di lapangan ataupun di tempat- tempat yang lebih luas. Hiburan ini pada masa itu disebut “layar tancap” (bioskop keliling). Layar tancep ini ini bersifat gratis yang memang ditujukan sebagai sarana bagi masyarakat kecil di sebuah daerah. Layar tancap ini telah ada sejak lama tepatnya sebelum zaman kemerdekaan seperti halnya yang dilakukan oleh orang-orang Belanda yang menggelar layar tancap ini di dalam perkebunan- perkebunan mereka saja, layar tancap ini lebih ditujukan bagi para pekerja perkebunan-perkebunan sehingga lebih bersifat tertutup bagi masyarakat umum, kegiatan ini biasanya dilaksanakan tepat pada acara pasar malam. Tidak hanya pada zaman Belanda layar tancap ditayangkan, sejak Jepang masuk ke Indonesia
mereka juga menggunakan layar tancap untuk keperluan propagandanya. Jepang menyelenggarakan pemutaran film yang seperti layar tancap (bioskop keliling).
Untuk keperluan ini sengaja didatangkan ahlinya dari Jepang sebanyak enam orang.
Bioskop memang tempat yang selalu diminati masyarakat, dari anak-anak hingga orang dewasa, sejak jaman dulu hingga sekarang. Bayu Maitra menjelaskannya (hiburan dan wisata, 17 Juli, www.arthazone.com/).
Perkembangan bioskop di Indonesia ditandai dengan munculnya bioskop konvensional. Sementara itu seiring dengan serbuan film Hollywood, muncul jaringan bioskop berlogo 21 yang terasa cukup menyemarakkan bisnis perbioskopan. Sementara bioskopkonvensional kini banyak yang gulung tikar, 21 tetap tegar karena pasokan film-film Hollywood. (http://forum.kafegaul.com/). H Djonny Syafruddin (kompas, 21 september 2006) Ketua Umum Gabungan Perusahaan Bioskop Seluruh Indonesia (BPBSI), saat ini setidaknya hanya 118 bioskop dengan 441 layar di Indonesia yang masih bertahan.
Pada Desember 1943 terdapat lima markas operasi “layar tancep” di berbagai kota : Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Malang.1 Walaupun pemutaran layar tancep itu tidak sampai ke Medan tapi setidaknya kita tahu bahwa layar tancep tidak hanya dipopulerkan oleh Belanda saja. Jenis-jenis film yang ditayangkan merupakan produk luar atau film-film asing. Berbicara mengenai film sebagai salah satu unsur komunikasi massa rupanya telah dimanfaatkan oleh salah seorang tokoh pergerakan bernama Dokter Adnan Kapau Gani (A.K. Gani) yang memulai untuk terjun langsung ke dalam dunia film dan beliau sekaligus bermain sebagai aktor.2 Setelah A.K. Gani terjun di bidang film maka para pembuat film di Kota Medan pada sekitar tahun 1940-an mulai membuat film tapi film-film tersebut hanya ditayangkan di bioskop-bioskop saja. Itulah awal pertama Kota Medan mulai memproduksi film. Film bukanlah cerita sandiwara yang dipotret.
Antara sandiwara dan film mempunyai perbedaan-perbedaan yang prinsip, yaitu pada dialog, sendi cerita dan bahan-bahan visual.3 Dari pengertian diatas saya jadi dapat mengetahui bahwa film dan sandiwara memang berbeda, sandiwara seperti teater yang penayangan secara lansung tanpa editan sama sekali,
jadi sebuah film dan sandiwara sangat berbeda karena dari segi penonton film dan sandiwara lebih banyak yang menonton film dari pada menonton sandiwara. Bisa kita lihat di Kota Medan sendiri tempat pagelaran sandiwara hanya ada di Taman Budaya, masa tahun 1970-an para pemain sandiwara banyak memakai bioskop sebagai tempat pagelaran sandiwara. Di Kota Medan bioskop berkembang pada masa tahun 70-an, seperti Bioskop Deli, Riix Bioskop, Bioskop Capitol, Bioskop Morning, Orion Bioskop, Riu Bioskop, Bioskop Medan, Caty Bioskop, Orange Deli Bioskop dan Olimpia Bioskop.4 Daftar-daftar nama bioskop di atas menjadi sebuah bukti bahwa di tahun 70-an merupakan eksis bagi dunia perbioskopan di Kota Medan.
Dengan banyaknya jumlah bioskop di Kota Medan ini tentunya telah menyedot perhatian masyarakat pada masa itu masih menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama karena itulah mereka hanya menggunakan sepeda untuk datang ke bioskop, apalagi kondisi pelataran gedung 4 Wawancara dengan Muhammad TWH di Kediamannya Jl. Sei Alas no. 6 Medan tanggal 17 September 2007 15 bioskop tidak begitu besar sehingga sepeda yang mereka gunakan dapat di parkir di pelataran bioskop. Di tahun 80-an kondisi bioskop sudah hampir sama kompleksnya dengan kondisi yang ada pada bioskop saat ini, yang membedakannya adalah keberadaan gedung bioskop yang saat ini dikombinasikan dengan keberadaan pusat perbelanjaan seperti mall, sementara bioskop di tahun 80-an berdiri di lahan sendiri dan tidak bergabung dengan bangunan lainnya.
Pada tahun 80-an Bioskop-bioskop di Medan juga membuat iklan tentang penayangan jam tayang dan juga melakukan tayangan perdana bagi film-film baru, tetapi film-film baru mereka tayangkan pada tengah malam pada tahun 1990-an kita lebih mengenalnya dengan kata midnight, harga tiketnya yang dijual juga berbeda karena film baru yang ditayangkan jadi harga tiket jadi lebih mahal.
Dengan diadakannya iklan dan pemutaran perdana membuat masyarakat penasaran dan akhirnya mereka berbondong-bondong datang ke bioskop untuk menyaksikan film-film terbaru tersebut.
Survei dilakukan FFTV IKJ bersama Badan Perfilman Indonesia (BPI) terhadap 1.100 responden pembeli karcis film Indonesia di bioskop 21. Survei itu
dilakukan di sembilan kota, yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Medan, Surabaya, Makassar, Ambon, Malang, dan Banjarmasin. Dari survei ditemukan fakta bahwa 45 persen responden merupakan orang-orang berpendidikan sarjana.
Selain itu, ada 43 persen penonton lain berpendidikan SMA dan Mahasiswa sederajat. Bisa dikatakan, mereka adalah orang-orang yang memutuskan untuk menonton film dengan kesadaran penuh. Karena itu, terjadi proses pemilihan film yang didasari berbagai faktor.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dijelaskan, maka peneliti merumuskan masalah yang akan diteliti lebih lanjut yaitu: “Bagaimana pengaruh iklan di Bioskop 21 sebagai strategi pemasaran terhadap minat membeli produk pada mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU ?”
1.3 Pembatasan Masalah
Untuk menghindari ruang lingkup yang terlalu luas, maka peneliti merasa perlu untuk membatasi masalah yang akan diteliti. Adapun pembatasan masalah adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini bersifat korelasi, yaitu untuk memaparkan atau menguraikan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan dan melihat pengaruh serta perkembangannya.
2. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh iklan produk di Bioskop 21 sebagai strategi pemasaran terhadap minat membeli pada mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU.
3. Objek penelitian ini adalah mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU Program S-1.
1.4. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui strategi pemasaran iklan produk di Bioskop 21
2. Untuk mengetahui minat calon konsumen terhadap produk yang memasang iklan di Bioskop 21
3. Untuk mengetahui pengaruh strategi pemasaran iklan produk di Bioskop 21 dan minat calon konsumen terhadap produk yang memasang iklan di Bioskop 21
1.5. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang kelak diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Secara Akademis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan pengetahuan bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU. Penelitian ini dapat menjadi bahan bacaan dan referensi bagi penelitian serupa di masa yang akan datang.
2. Secara Teoritis, penelitian diharapkan dapat memberi kontribusi pengetahuan di bidang Ilmu Komunikasi yang berkaitan dengan media komunikasi.
3. Secara Praktis, penelitian ini untuk menerapkan ilmu yang diterima peneliti selama menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi sekaligus memberikan masukan kepada siapa saja yang ingin mengetahui tentang media komunikasi.
BAB II
URAIAN TEORITIS
2.1 Kerangka Teori
Kerangka teori adalah bagian dari penelitian, tempat peneliti memberikan penjelasan tentang hal- hal yang berhubungan dengan variabel pokok, sub variable atau pokok masalah yang ada dalam penelitiannya (Arikunto, 2002: 92).
2.1.1 Komunikasi
2.1.1.1 Pengertian Komunikasi
Istilah komunikasi atau dalam bahasa inggris communication berasal dari bahasa iatin: communicatio dan bersumber dari kata communis yang berarti sama.
Sama di sini maksudnya adalah sama makna (Effendy, 2006:9).
Harold D. Lasswell (the structure and function of communication in society, 1966) menyebutkan bahwa cara yang tepat untuk menerangkan suatu tindakan komunikasi ialah menjawab pertanyaan “Siapa yang menyampaikan, apa yang disampaikan, melalui saluran apa, kepada siapa, dan apa pengaruhnya”
Paradigma Lasswell diatas menunjukkan bahwa Komunikasi meliputi lima unsur yaitu:
1. Komunikator (communicator, sender, source) adalah orang yang menyampaikan pesan atau informasi.
2. Pesan (message) adalah pernyataan yang didukung oleh lambang, bahasa, gambar, dan sebagainya.
3. Media (channel, media) adalah sarana atau saluran yang mendukung pesan bila komunikan jauh tempatnya atau banyak jumlahnya, maka diperlukan media sebagai penyampai pesan.
4. Komunikan (communicant, communicate, receiver, recipient) adalah orang yang menerima pesan atau informasi yang disampaikan komunikator.
5. Efek (effect, impact,influence) adalah dampak sebagai pengaruh pesan tersebut.
2.1.1.2 Ciri-ciri Komunikasi
Komunikasi memiliki sifat atau ciri. Adapun sifat atau ciri dari komunikasi, antara lain :
1. Komunikasi Verbal (Verbal Communication) a. Komunikasi Lisan (Oral Communication)
b. Komunikasi Tulisan / Cetak (Written/Printed Communication) 2. Komunikasi Niverbal (Nonverbal Communication)
a. Komunikasi Kial / Isyarat Badaniah (Gestured Communication) b. Komunikasi Gambar (Pictorial Communication)
3. Komunikasi Tatap Muka ( Face to Face Communication)
4. Komunikasi Bermedia (Mediated Communication) (Effendy,1993:33)
2.1.1.3 Fungsi Komunikasi
Adapun fungsi dari kegitan komunikasi, dibagi atas empat fungsi utama (Effendy,1999) yaitu:
1. Menyampaikan imformasi (to inform) 2. Mendidik (to educute)
3. Menghibur (to intertain) 4. Mempengaruhi (to influence)
2.1.1.4 Tujuan Komunikasi
Adapun tujuan komunikasi menurut Onong U. Effendy (1993:55), adalah : 1. Mengubah sikap (to change the attitude)
2. Mengubah pendapat atau opini (to change the opinion) 3. Mengubah perilaku (to change the behaviour)
4. Mengubah masyarakat (to change the society)
2.1.1.5 Tatanan Komunikasi
Tatanan komunikasi adalah proses komunikasi yang ditinjau dari jumlah komunikan, apakah satu orang, sekelompok orang atau sejumlah orang yang bertempat tinggal secara tersebar. Berdasarkan situasi komunikan seperti itu, maka komunikasi dapat diklasifikasikan menjadi bentuk-bentuk sebagai berikut:
1. Komunikasi Pribadi (Personal Communication)
2. Komunikasi Kelompok (Group Communcation) 3. Komunikasi Massa (Mass Communication) 4. Komunikasi Media (Media Communication)
Lain-lain (Effendy,1999).
2.1.2 Teknologi Komunikasi
2.1.2.1 Pengertian Teknologi Komunikasi
Lubis (1997:42), menjelaskan bahwa teknologi komunikasi adalah suatu penerapan ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan komunikasi. Komunikasi adalah upaya untuk menciptakan “Kebersamaan dalam Makna” (Commonness in Meaning). Dengan demikian, teknologi komunikasi merupakan penerapan ilmu pengetahuan guna melancarkan upaya untuk mencapai kebersamaan dalam makna antar orang dalam masyarakat.
2.1.2.2 Karakteristik Teknologi Komunikasi
Bell, 1979 dalam Nasution (1989:11), menyebutkan beberapa wujud sistem komunikasi yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi, yaitu:
1. Jaringan pengolahan data yang kelak memungkinkan orang berbelanja cukup dengan menekan tombol-tombol komputer di rumah masingmasing. Pesanan akan dikirimkan langsung ke rumah pemesan oleh toko tempat berbelanja.
2. Bank informasi dan sistem penelusuran, yang memungkinkan pemakainya menelusuri informasi yang diperlukan serta memperoleh kopi cetakannya dalam sekejap mata.
3. Sistem teleteks yang menyediakan segala informasi mengenai segala rupa kebutuhan. Seperti berita, cuaca, informasi finansial, iklan terklarifikasi, katalog segala macam produk dan sebagainya lewat layar televisi dirumah masing-masing.
4. Sistem faksimil, yang memungkinkan pengiriman dokumen secara elektronik.
5. Jaringan komputer interaktif, yang memungkinkan pihak-pihak berkomunikasi mendiskusikan informasi melalui komputer.
2.1.3 Komunikasi Pemasaran
Terence A. Shimp (2003: 4) mendefinisikan ”Komunikasi pemasaran adalah aspek penting dalam keseluruhan misi pemasaran serta penentu suksesnya pemasaran”. Komunikasi pemasaran juga dapat dipahami dengan menguraikan dua unsur pokoknya, yaitu komunikasi dan pemasaran. Komunikasi adalah proses pemikiran dan pemahaman yang disampaikan antar individu atau antara organisasi dengan individu.
Pemasaran adalah sekumpulan kegiatan dimana perusahaan dan organisasi lainnya mentransfer nilai-nilai (pertukaran) antara mereka dengan pelanggannya.
Komunikasi pemasaran adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh pembeli dan penjual. Selain itu juga merupakan kegiatan yang membantu dalam pengambilan keputusan di bidang pemasaran serta mengarahkan pertukaran agar lebih memuaskan dengan cara menyadarkan semua pihak untuk berbuat lebih baik.
2.1.3.1 Bentuk-Bentuk Komunikasi Pemasaran
Pemasar modern memerlukan lebih dari sekedar mengembangkan produk yang baik, menetapkan harga yang menarik, dan membuatnya dapat terjangkau.
Perusahaan juga harus berkomunikasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan sekarang dan yang akan datang, serta masyarakat umum. Setiap perusahaan mau tidak mau harus terjun sebagai komunikator dan promotor.
Menurut Terence A. Shimp (2003) bentuk-bentuk utama dari komunikasi pemasaran meliputi:
1. Penjualan perorangan (personal selling)
Personal selling adalah bentuk komunikasi pemasaran antar individu dimana tenaga penjual/ wiraniaga menginformasikan, mendidik dan melakukan persuasi kepada calon pembeli untuk membeli produk/ jasa perusahaan. Usaha penjualan ini disederhanakan dengan memberikan diskon perkenalan kepada pengecer dan meyakinkan mereka melalui iklan, pemberian contoh produk secara cuma-cuma dan kupon yang dapat mendongkrak penjualan.
2. Iklan (advertising)
Iklan merupakan komunikasi massa melalui surat kabar, majalah, radio, televisi dan media lain(billboard, internet, dan sebagainya), atau komunikasi langsung yang didesain khusus untuk pelanggan antar bisnis (business-to-business) maupun pemakai akhir.
Kedua bentuk komunikasi ini dibiayai oleh sponsor tertentu (si pengiklan), tetapi dikategorikan sebagai komunikasi massa (non personal) karena perusahaan sponsor tersebut secara simultan berkomunikasi dengan penerima pesan yang beraneka ragam, bukan kepada individu tertentu/
personal atau kelompok kecil. Iklan langsung (direct advertising), biasa disebut pemasaran berdasarkan data base marketing, telah mengalami pertumbuhan pesat akibat efektifitas komunikasi yang terarah serta teknologi komputer yang memungkinkan hal itu terjadi.
3. Promosi penjualan (sales promotional)
Promosi penjualan terdiri dari semua kegiatan pemasaran yang mencoba merangsang terjadinya pembelian dalam waktu yang singkat. Promosi penjualan yang berorientasi perdagangan memberikan berbagai jenis bonus untuk meningkatkan respon dari pedagang besar dan pengecer.
Promosi penjualan berorientasi konsumen menggunakan kupon, kontes/
undian, potongan harga setelah pembelian dan lain-lain.
4. Pemasaran sponsorship (sponsorship marketing)
Pemasaran sponsorship adalah aplikasi dalam mempromosikan perusahaan dan merek mereka dengan mengasosiasikan perusahaan atau salah satu dari merek dengan kegiatan tertentu.
5. Publisitas (publicity)
Publisitas biasanya dilakukan dalam bentuk berita atau komentar editorial mengenai produk atau jasa dari perusahaan. Bentuk-bentuk ini dimuat dalam media cetak atau televisi secara gratis karena perwakilan media menganggap informasi tersebut penting dan layak disampaikan kepada khalayak mereka. Dengan demikian publisitas tidak dibiayai oleh perusahaan yang mendapatkan manfaatnya.
6. Komunikasi ditempat pembelian (point-of-purchase communication)
Komunikasi ditempat pembelian melibatkan peraga, poster, tanda dan berbagai materi lain yang didesain untuk mempengaruhi keputusan untuk membeli ditempat pembelian. Secara ringkas manajer komunikasi pemasaran mempunyai berbagai alat komunikasi yang dapat mereka gunakan.
Pentingnya alat-alat ini dan aplikasinya secara spesifik tergantung kepada situasi yang harus dihadapi suatu perusahaan dalam suatu perusahaan.
2.1.4 Iklan
Iklan adalah segala bentk pesan tentang suatu produk yang disampikan lewat mdia kepada sebagian atau seluruh masyarakat. Sedangkan perklanan adalah keseluruhan proses yang meliputi penyiapan, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan penyampaian iklan.
Menurut Klepper (1986) iklan adalah berasal dari bahasa Latin “ad-vere”
yang berarti mengoperkan pikiran dan gagasan kepada pihak yang lain. Jika pengertian ini kita terima maka sebenarnya iklan tidak ada bedanya dengan pengertian komunikasi satu arah.
Pada dasarnya iklan telah didefinisikan sebagai sebuah bentuk komunikasi yang dibayar oleh sponsor untuk mempromosikan ide, barang atau jasa. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengajak dan memberikan informasi ( Oxford Dictionary of Business, 2002). Demikian pula Kotler dan Armstrong mendefenisikan iklan sebagai bentuk presentasi nonpersonal yang berbayar untuk mempromosikan ide, barang atau jasa (Kotler and Armstrong, 1994: 487). Seperti yang kita ketahui, bahwa korelasi kedua definisi diatas, iklan merupakan bagian dari strategi pemasaran. Karena iklan merupakan alat komunikasi yang powerfull, dengan iklan perusahaan mampu berkomunikasi dengan pelanggan, berinteraksi dengan pelanggan potensial dan menetapkan posisi perusahaan dengan pesaing.
Sebagai bagian strategi pemasaran yang efektif, iklan dipertimbangkan untuk investasi masa depan pada bisnis dari pada sebagai biaya tambahan. Segala usaha dapat dilakukan untuk meningkatkan atau mempertahankan minat beli dari pelanggan, salah satu hal yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan aktifitas pemasaran dan salah satu cara pemasaran adalah dengan metode iklan. Periklanan (Advertising) berkembang karena awalnya didukung oleh adanya Revolusi
Industri dunia secara menyeluruh, pengetahuan tulis menulis pada saat itu sangatlah pesat peningkatanya, dan daya beli masyarakat yang meningkat sehingga membutuhkan semakin banyak produk. Sementara para produsen berusaha membuat produk yang dapat memuaskan pelanggannya dengan mempersuasi calon pelanggan agar tidak beralih pada pesaingnya. Featherstone mengatakan era tersebut sebagai “consumer culture” di mana terjadi peningkatan jumlah produk yang ditawarkan untuk memperoleh profit dan menyediakan simbol-simbol status dan kesuksesan. Iklan digunakan untuk menjual prestige seperti halnya produk.
Periklanan didefinisikan sebagai bentuk komunikasi yang persuasif, dibeli dan dibiayai oleh pengiklan tetapi juga menjadi sumber pemasukan bagi perusahaan media. Ada dua trend dalam beriklan, yaitu: Hard Sell: bila iklan tersebut lebih mengedepankan pesanpesan rasional, tentang alasan pembelian produk, seperti kegunaan, harga, dan lain sebagainya. Soft sell: bila iklan lebih menonjolkan aspek emosional dalam pesan-pesannya seperti dengan menggunakan tema-tema entertainment. Era ini disebut “the era of creativity”.
Perkembangan iklan di Indonesia dimulai sejak pemerintahan Belanda. Sejarah periklanan di Indonesia sama tuanya dengan sejarah press, mengenai istilah iklan sendiri idenya muncul dari Soedardjo Cokrosisworo (tahun 1951). Penyiaran iklan-iklan komersial melalui radio baru dimulai pada tahun 1968 yang disiarkan lewat Radio Republik Indonesia.
Sampai awal tahun 1970-an, pesan-pesan iklan cenderung panjang- panjang dan mendominasi teks iklan secara keseluruhan. Hal ini disebabkan banyak produk yang masih belum dikenal. Barulah diakhir tahun 1970-an presentasi iklan Indonesia mulai berkembang seiring dengan perkembangan media dan teknologi. Naskah atau copy iklan dan juga visualisasi mulai dipikirkan dengan baik. Pada periode ini mulai muncul dan berkembang simbolisasi dan personifikasi mendominasi presentasi iklan di Indonesia. Pengembangan iklan dengan gaya khas Indonesia pun terus dilakukan seiring dengan berkembangnya industri periklanan. Gaya khas iklan Indonesia ini dibangun melalui tiga hal yaitu fisik, karakter dan gaya atau style.
Dalam masyarakat yang lebih sederhana, atau perekonomian yang lebih kecil skalanya, atau populasi yang kecil, hubungan mungkin dapat dilakukan secara pribadi dan langsung. Tetapi dalam masyarakat industri yang besar dan kompleks hubungan pribadi tersebut perlu dilengkapi dan diperkuat dengan jenis komunikasi tidak langsung, antara lain melalui periklanan. Secara sederhana iklan dapat didefinisikan sebagai pesan yang menawarkan produk yang ditujukan kepada masyarakat melalui suatu media. Terdapat banyak media yang bisa digunakan oleh pengiklan. Pemilihan media harus dilakukan secermat-cermatnya agar anggaran untuk penggunaan media dapat ditekan seminimal mungkin untuk memperoleh dampak iklan yang sebesar-besarnya.
Periklanan juga cendrung mencerminkan kemajuan ekonomi suatu masyarakat. Karena itulah, kondisi periklanan termasuk tingkat kecanggihan penyajiannya di negara - negara maju sangat berbeda dengan apa yang kita temui di negara – negara berkembang. Tingkat kemakmuran suatu bangsa juga dicerminkan oleh sejauh mana bangsa yang bersangkutan telah menggunakan fungsi – fungsi iklan (Jefkins, 1994: 1). Berbagai cara dilakukan untuk mengkomunikasikan barang atau jasa yang dipasarkan. Ada yang menggunakan lagu – lagu singkat (jingle), motto atau slogan yang mudah diingat dan dihafalkan oleh konsumen. Selain itu, melalui pendekatan kultural yaitu dengan menggunakan public figure atau tokoh yang dikenal masyarakat sebagai model iklannya. Hal ini dilakukan agar konsumen tertarik terhadap barang atau jasa maupun produk yang diiklankan (Kasali, 1995:9).
Ditinjau dari perspektif komunikasi, iklan dianggap sebagai teknik penyampaian pesan yang efektif dalam penjualan produk. Oleh karenanya dalam perpindahan informasi tentang suatu produk yang diiklankan kepada khalayak tentunya harus mengandung daya tarik sehingga menggugah perasaan khalayak (Liliweri, 2001:23). Berbagai iklan televisi memberikan referensi bagi konsumen seperti iklan Minute Maid Pulpy Orange dan iklan Nutrisari. Iklan televisi mampu mengarahkan penontonnya memberikan respons secara suka rela, dan pada akhirnya ia memiliki andil yang kuat dalam pembentukan lingkungan atau perilaku manusia untuk bersikap hedonis. Iklan merupakan media untuk mengenalkan suatu produk tertentu agar konsumen mengetahui keunggulan dari
produk tersebut. Iklan sekaligus menjadi suatu kebutuhan para pemasang iklan agar produknya laku di pasaran, sehingga ada hubungan saling menguntungkan antara produsen dan konsumen. Saat ini, iklan tidak sekedar alat promosi, tetapi juga menjadi referensi dalam pola hidup yang konsumtif dan dinamis. Iklan ditujukan untuk mempengaruhi perasaan, pengetahuan, makna, kepercayaan, sikap, pendapat, pemikiran dan citra konsumen yang berkaitan dengan suatu produk atau merek. Berdasarkan PPPI (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia) belanja iklan nasional pada tahun 2000 mengalami peningkatan positif dari tahun 1990 yang hanya mencapai Rp 639 miliar menjadi Rp 7,9 triliun. Pada tahun 2001 belanja iklan kembali mengalami peningkatan menjadi Rp 9,717 triliun, hingga naik menjadi Rp 12 triliun pada tahun 2002 (Masli 2004 : 47).
Periklanan yang baik adalah periklanan yang mampu menghasilkan daya tarik.
2.1.4.1 Jenis Iklan
Secara teoritik umumnya iklan terdiri atas dua jenis; pertama iklan standar, dan kedua iklan layanan masyarakat. Yang dimaksud iklan standar adalah iklan yang ditata secara khusus untuk keperluan mengenal barang, jasa playanan untuk konsumen melalui sebuah media. Tujuan iklan standar adalah merangsang motif dan minat para pembeli atau para pemakai. Sedangkan iklan layanan masyarakat adalah iklan yang bersifat non profit, jadi iklan ini tidak mencari keuntungan akibat pemasangannya kepada khalayak.
Bermacam-macamnya tujuan dari sebuah iklan yang dibuat oleh sebuah perusahaan maka berdampak pada berbedanya jenisjenis dari sebuah iklan. Iklan yang sering muncul diberbagai media dan umumnya dibuat oleh perusahaan periklanan adalah sebagai berikut:
A. Iklan Komersial adalah iklan yang bertujuan untuk mendukung kampanye pemasaran suatu produk atau jasa.
Iklan komersial ini sendiri terbagi menjadi beberapa macam, yaitu (Lwin &
Aitchison. 2005):
1. Iklan Strategis, digunakan untuk membangun merek. Hal itu dilakukan dengan mengkomunikasikan nilai merek dan manfaat produk. Perhatian utama dalam jangka panjang adalah memposisikan merek serta membangun pangsa pikiran dan pangsa pasar. Iklan ini mengundang konsumen untuk menikmati hubungan dengan merek serta meyakinkan bahwa merek ini ada bagi para pengguna.
2. Iklan Taktis Memiliki tujuan yang mendesak. Iklan ini dirancang untuk mendorong konsumen agar segera melakukan kontak dengan merek tertentu.
Pada umumnya iklan ini memberikan penawaran khusus jangka pendek yang memacu konsumen memberikan respon pada hari yang sama.
B. Iklan Corporate adalah iklan yang bertujuan membangun citra suatu perusahaan yang pada akhirnya diharapkan juga membangun citra positif produk- produk atau jasa yang diproduksi oleh perusahaan tersebut (Madjadikara, 2004).
Iklan Corporate akan efektif bila didukung oleh fakta yang kuat dan relevan dengan masyarakat, mempunyai nilai berita dan biasanya selalu dikaitkan dengan kegiatan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat. Iklan Corporate merupakan bentuk lain dari iklan strategis ketika sebuah perusahaan melakukan kampanye untuk mengkomunikasikan nilai-nilai korporatnya kepada publik (Lwin
& Aitchison, 2005). Iklan Corporate sering kali berbicara tentang nilai-nilai warisan perusahaan, komitmen perusahaan kepada pengawasan mutu, peluncuran merek dagang atau logo perusahaan yang baru atau mengkomunikasikan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan sekitar.
C. Iklan Layanan Masyarakat - Iklan Layanan Masyarakat merupakan bagian dari kampanye social marketing yang bertujuan menjual gagasan atau ide untuk kepentingan atau pelayanan masyarakat (Madjadikara, 2004). Biasanya pesan Iklan Layanan Masyarakat berupa ajakan, pernyataan atau himbauan kepada masyarakat untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan demi kepentingan umum atau merubah perilaku yang tidak baik supaya menjadi lebih baik, misalnya masalah kebersihan lingkungan, mendorong penghargaan terhadap perbedaan pendapat, keluarga berencana, dan sebagainya (Madjadikara, 2004) Iklan layanan masyarakat juga menyajikan pesan sosial yang bertujuan untuk membangkitkan kepedulian masyarakat terhadap sejumlah masalah yang harus mereka hadapi, yakni kondisi yang dapat mengancam keserasian dan kehidupan mereka secara umum (Kasali, 1992).
Pesan tersebut dengan kata lain bermaksud memberikan gambaran tentang peristiwa dan kejadian yang akan berakibat pada suatu keadaan tertentu, baik yang bersifat positif maupun negatif. Pada awal perkembangannya iklan layanan masyarakat tidak terlalu terikat pada penataan yang ketat, perencanaan pesan yang rumit, pemilihan media yang sesuai, sampai pada penentuan target audiens maupun pemilihan tempat dan waktu yang benar-benar tepat (Liliweri, 1992).
Namun seiring berkembangnya dunia periklanan dan semakin banyaknya perusahaan yang membuat Iklan layanan masyarakat disertai dengan perubahan paradigma dalam menciptakan pesan-pesan sosial maka iklan layanan masyarakat juga harus dibuat secara profesional seperti iklan komersial (Roman, Maas &
Nisenholtz, 2005).
2.1.4.2 Fungsi Periklanan
Iklan sebagai teknik penyampaian pesan dalam bidang bisnis yang sifatnya non personal secara teoritik melaksanakan fungsi-fungsi seperti yang dimuat media massa lainnya (Liliweri, 1997:47)
1. Fungsi Pemasaran 2. Fungsi komunikasi 3. Fungsi pendidikan 4. Fungsi Ekonomi 5. Fungsi Sosial
2.1.5 Minat
2.1.5.1 Pengertian Minat
Minat merupakan suatu kecenderungan untuk tingkah laku yang berorientasi pada objek, kegiatan atau pengalaman tertentu, dan kecenderungan tersebut antara individu yang satu dengan individu yang lain tidak sama intensifnya (Eysenck, dkk., 1972).
Minat diartikan pula sebagai kesadaran seseorang bahwa suatu objek, seseorang, suatu masalah ataupun suatu situasi yang mempunyai sangkut paut dengan dirinya yang dilakukannya dengan sadar serta diikuti rasa senang. Minat adalah sambutan yang sadar, jika tidak demikian maka minat tersebut tidak mempunyai nilai sama sekali. Kesadaran terhadap suatu objek disusul dengan meningkatnya perhatian (Witherington, 1986). Pendapat ini didukung oleh Setiadi (1987) yang menyebutkan bahwa minat merupakan aktivitas psikis manusia yang menyebabkan individu memberikan perhatian kepada suatu objek yang selanjutnya akan diikuti oleh kecenderungan untuk mendekati objek tersebut dengan perasaan senang.
Nugroho (1982) menyatakan bahwa minat adalah rasa lebih suka dan rasa keterkaitan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Pada dasarnya minat adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri, semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minatnya.
Minat juga dipandang sebagai kecenderungan dalam diri individu untuk tertarik pada suatu objek atau menyenangi sesuatu objek. (Suryabrata, 1988).
Minat menurut Fishbein dan Ajzen (1975) merupakan bagian dari sikap yang bisa dibedakan berdasarkan sumber munculnya minat yaitu perilaku (behavior), sasaran (target), situasi dan waktu. Minat bisa muncul secara spontan, wajar, selektif dan tanpa paksaan ketika individu memberikan perhatian (Gie, 1981).
Kartikawati (1995) menyatakan minat merupakan sikap yang membuat individu merasa senang terhadap objek, situasi atau ide – ide tertentu sehingga individu berusaha memperoleh objek yang disenangi dan menarik perhatian. Keinginan untuk memperoleh objek yang menarik perhatian bagi seseorang akan menjadi faktor penentu internal yang benar – benar mendasar dalam mempengaruhi perhatiannya sehingga kekuatan motif individu untuk memusatkan perhatian kepada objek kepuasan bisa diketahui dari minat individu tersebut.
Minat dipandang sebagai pendorong yang menyebabkan seseorang memberikan perhatian terhadap orang, sesuatu, aktivitas – aktivitas tertentu (Killis, 1986). Sementara itu menurut Walgito (1981) minat adalah suatu keadaan dimana seseorang menaruh perhatian pada sesuatu disertai keinginan untuk mengetahui, mempelajari dan membuktikan lebih lanjut.
Sukirin (1986) menyatakan minat adalah kecenderungan dalam diri individu untuk tetarik pada suatu objek. Seseorang yang berminat besar terhadap pekerjaan tertentu maka akan senang mengerjakan pekerjaan itu. Pendapat ini didukung oleh As’ad (1995) yang menyatakan minat merupakan sumber motivasi yang akan mengarahkan tindakan seseorang. Adanya minat pada seseorang memungkinkan ketertiban yang lebih besar dalam suatu kegiatan. Woodword dan Marquis (1957) menyatakan bahwa apabila seseorang menaruh minat pada sesuatu, maka minat tersebut berfungsi sebagai pendorong yang kuat untuk terlibat secara aktif pada objek yang menarik perhatiannya tersebut.
Pendapat yang senada dikemukakan oleh Winkel (1983) yang menyatakan bahwa minat adalah kecenderungan yang agak menetap pada subjek untuk merasa tertarik pada bidang atau tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu. Minat dapat dipahami untuk menunjukkan kekuatan motif yang menyebabkan seseorang memberikan perhatian kepada orang, benda atau aktifitas tertentu.
Minat menggambarkan alasan – alasan mengapa seseorang lebih tertarik kepada benda, orang atau aktivitas tertentu dibandingkan dengan yang lain. Minat juga dapat membantu seseorang untuk memutuskan apakah ia akan melaksanakan aktivitas yang ini atau aktivitas yang lain (Crow dan Crow, 1976).
Slameto (1988) menyatakan bahwa minat adalah suatu rasa lebih suka atau rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara dirinya dengan sesuatu diluar dirinya, semakin kuat atau semakin dekat hubungan itu, maka akan semakin besar minatnya. Minat merupakan pernyataan psikis yang belum dapat diamati secara langsung, yang dapat diamati adalah dinamikanya atau manifestasinya dalam perbuatan atau tingkah laku seseorang. Menurut Tanunihardjo & Santoso (1988), minat akan ditunjukkan oleh tindakan sebagai berikut:
1. Orang tersebut akan berusaha mendapatkan informasi yang lengkap 2. Orang tersebut akan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada 3. Orang tersebut akan berusaha memperhatikan.
Pintrich dan Schunk (1996) membagi defenisi minat menjadi tiga yaitu:
1. Minat pribadi, yaitu minat yang berasal dari pribadi atau karakteristik individu yang relatif stabil. Biasanya minat pribadi diasumsikan langsung ke beberapa aktivitas atau topik.
2. Minat situasi, yaitu minat yang berhubungan dengan kondisi lingkungannya seperti ruangan kelas, komputer dan buku teks yang dapat membangkitkan minat.
3. Minat dalam rumusan psikologi,yaitu perpaduan antara minat pribadi dengan minat situasi.
2.1.5.2 Aspek-aspek Minat
Pintrich dan Schunk (1996) menyebutkan aspek – aspek minat adalah sebagai berikut:
1. Sikap umum terhadap aktivitas (general attitude toward the activity) sikap umum disini maksudnya adalah sikap yang dimiliki oleh individu, yaitu perasaan suka atau tidak suka terhadap aktivitas.
2. Pilihan spesifik untuk menyukai aktivitas (spesific preference for or liking the activity). Individu akan memutuskan pilihannya untuk menyukai aktivitas tersebut.
3. Merasa senang dengan aktivitas (enjoyment of the activity), yaitu perasaan senang individu terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitasnya.
4. Aktivitas tersebut mempunyai arti atau penting bagi individu (personel importance or significance of the activity to the individual) individu merasa bahwa aktivitas yang dilakukannya sangat berarti.
5. Adanya minat intrisik dalam isi aktivitas (instrinsic interest in the content of activity). Dalam aktivitas tersebut terdapat perasaan yang menyenangkan.
6. Berpartisipasi dalam aktivitas (reported choise of or participation in the activity). Individu akan berpartisipasi dalam aktivitas itu karena menyukainya
2.1.5.3 Dinamika Terbentuknya Minat
Minat dibentuk melalui perhatian dan belajar. Apabila seseorang memperhatikan sesuatu hal secara sukarela dan cenderung untuk mengingatnya, maka apa yang diingatnya tersebut merupakan petunjuk dari munculnya minat (Commins dan Fagin, 1954). Minat bersifat pribadi atau berkaitan dengan perbedaan individual dan berkembang sejak awal kanak-kanak (Crow dan Crow, 1963). Lebih lanjut Crow dan Crow menyatakan minat sering dihubungkan dengan sikap dan menjadi dasar prasangka terhadap suatu hal. Sikap minat bukanlah bawaan tetapi muncul dan berubah seiring dengan pengalaman yang diperoleh individu dalam perkembangannya, oleh karena itu dapat dikatakan minat terbentuk melalui proses belajar.
Di Vesta dan Thompson (1970) mengutip pendapat Bandura dan Kupers yang menyatakan bahwa minat terbentuk melalui identifikasi. Prosesnya bermula sejak individu mencari perhatian dari orang yang disukainya seperti orang tua, guru atau yang lainnya dan sebagai konsekuensinya ia berusaha untuk dapat menjadi seperti mereka. Pada tahap peniruan ini sering individu mempelajari inti
peran baru hanya dengan sedikit usaha. Keberhasilan dalam peran tiruan tersebut akan menjadi faktor yang mempengaruhi berkembangnya minat terhadap peran baru yang berbeda dari peran sebelumnya (Super dalam Di Vesta dan Thompson, 1970).
Dalam pengertian sebagai perhatian, minat dapat diamati pada tingkah laku awal seorang anak. Pada masa kanak – kanak, tingkah laku yang muncul lebih banyak disebabkan oleh stimulasi atau rangsangan indera dan selalu mencari rangsangan tersebut dengan cara waspada terhadap sekelilingnya. Kesenangan muncul dari perhatiannya terhadap gerakan – gerakan orang atau objek.
Pada mulanya aktivitas ini bersifat biologis, tetapi kemudian muncul suatu persepsi dan konsep yang merupakan komponen psikologis yang penting. Anak akan belajar menolak aktivitas yang menimbulkan ketidaksenangan dan cenderung untuk mengulang aktivitas yang menimbulkan kecemasan pada anak sehingga akan mempengaruhi perkembangan minatnya terhadap suatu objek atau aktivitas tertentu (Skinner, 1977).
Suryabrata (1981) membedakan minat menjadi dua, yaitu:
1. Minat Instrinsik, yaitu kecenderungan seseorang yang berhubungan dengan aktivitas itu sendiri.
2. Minat ekstrinsik, yaitu kecenderungan seseorang untuk memilih aktivitas berdasarkan pengaruh orang lain atau tujuan harapan orang lain.
Individu dapat dikatakan menaruh minat terhadap suatu objek ditandai dengan:
1. Kecenderungan untuk memikirkan objek yang diminati.
2. Keinginan untuk memperhatikan objek yang diminati.
3. Rasa senang terhadap objek yang diminati.
4. Keinginan untuk mengetahui atau mengikuti objek yang diminati.
2.1.5.4 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Minat
Mappiare (1982) mengemukakan bahwa bentuk minat seseorang dipengaruhi oleh latar belakang lingkungan, tingkat ekonomi, status sosial, dan pengalaman. Minat seseorang dapat berkembang sebagai akibat perubahan fisik dan sosial masyarakat.
Proses terbentuknya minat menurut Wells dan Prensky (1996) berasal dari perpaduan internal dan eksternal. Faktor internal berupa sikap untuk melakukan sesuatu yang terbentuk dari keyakinan bahwa perilaku akan mengarahkan ke tujuan yang diinginkan dan evaluasi terhadap hasil yang dicapai. Faktor eksternal berupa norma subjektif yang terbentuk dari keyakinan bahwa kelompok referensi untuk melakukan atau tidak dan motivsi untuk identifikasi dengan kelompok referensi.
Surachmad (1980) menyatakan minat dipengaruhi oleh jenis kelamin, inteligensi, kesempatan, lingkungan, teman sebaya, kesanggupan dan banyak faktor lainnya. Hadipranata (1989) menyatakan bahwa minat adalah perpaduan antara kebutuhan (individual needs) dan tuntutan masyarakat (social need).
Crow dan Crow (1972) menyatakan bahwa minat dapat merupakan sebab atau akibat dari suatu pengalaman. Oleh karena itu minat berhubungan dengan dorongan, motif – motif dan respon – respon manusia. Selanjutkan Crow dan Crow menyatakan ada 3 faktor yang mempengaruhi minat, yaitu;
1. Faktor dorongan atau keinginan dari dalam (inner urges), yaitu dorongan atau keinginan yang berasal dari dalam diri seseorang terhadap sesuatu akan menimbulkan minat tertentu. Termasuk di dalamnya berkaitan dengan faktor – faktor biologis yaitu faktor – faktor yang berkaitan dengan kebutuhan – kebutuhan fisik yang mendasar.
2. Faktor motif sosial (social motive), yaitu motif yang dikarenakan adanya hasrat yang berhubungan dengan faktor dari diri seseorang sehingga menimbulkan minat tertentu. Faktor ini menimbulkan seseorang menaruh minat terhadap suatu aktifitas agar dapat diterima dan diakui oleh lingkungan termasuk di dalamnya faktor status sosial, harga diri, prestise dan sebagainya.
3. Faktor emosional (emotional motive), yaitu motif yang berkaitan dengan perasaan dan emosi yang berupa dorongan – dorongan, motif – motif, respon – respon emosional dan pengalaman – pengalaman yang diperoleh individu.
Dari pendapat – pendapat yang dikemukakan oleh Engel (1994), Kotler (1994), dan Loudon & Bitta (1993), faktor – faktor yang berpengaruh pada minat
dibagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi pengalaman, kepribadian, sikap dan kepercayaan, serta konsep diri.
Faktor eksternal meliputi budaya, sosial, kelompok referensi dan keluarga. Faktor internal individu berupa pengalaman merupakan hasil dari proses belajar yang akan menambah wawasan individu. Pada saat proses terjadi, individu akan mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan objek. Hasil pemrosesan akan menentukan sikap individu terhadap objek.
2.1.6 Teori AIDDA
Rakhmat (1993,304-305) menyatakan bahwa A-A Procedure atau Attention to Action Procedure, sebenarnya adalah penyederhanaan dari suatu proses disingkat denga AIDDA, lengkapnya adalah sebagai berikut:
1. A Attention (Perhatian) : mahasiswa FISIP USU menyaksikan atau menonton iklan di Bioskop 21.
2. I Interest (Minat) : mahasiswa berminat untuk menonton iklan di Bioskop 21, dengan kata lain tidak mengabaikan iklan tersebut.
3. D Desire (Hasrat) : mahasiswa mempunyai hasrat untuk menerima pesan yang disampaikan dalam iklan di Bioskop 21.
4. D Decision (Keputusan) : mahasiswa mengambil keputusan apakah menerima atau menolak pesan yang disampaikan oleh iklan di Bioskop 21.
5. A Action (Tindakan) : mahasiswa memberikan tindakan atau aksi setelah menonton iklan di Bioskop 21 berupa tanggapan atau aksi.
2.2 Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah tahapan di mana peneliti dapat menggambarkan rancangan dan strategi penelitian yang akan dijalankan. Prof. Dr. H.M Bungin mengartikan konsep sebagai generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu yang dapat dipakai untuk mengambarkan berbagai fenomena yang sama (Bungin, 2009:59). Agar konsep dapat diteliti secara empiris. Maka harus di operasionalkan dengan mengubahkan menjadi variabel. Adapun variabel-variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. l. Variabel Bebas (X)
Variabel bebas adalah variabel yang menjadi timbulnya atau berubahnya variabel terikat sehingga variabel bebas dapat dikatakan sebagai variabel yang mempengaruhi. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Strategi Pemasaran Iklan melalui media Bioskop.
2. Variabel Terikat (Y)
Variabel terikat adalah sejumlah gejala yang muncul dipengaruhi variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Minat Beli mahasiswa FISIP USU.
3. Karakteristik Responden
Dalam penelitian ini karakteristik responden terbagi atas jenis kelamin, usia, departemen, angkatan dan frekuensi menonton bioskop.
2.3 Model Teoritis
2.4 Operasional Komponen
Berdasarkan kerangka teori dan kerangka konsep yang telah diuraikan, maka untuk mempermudah penelitian, perlu dibuat operasional variabel-variabel sebagai berikut:
Tabel 2.1
Variabel Teoritis Operasional Variabel 1. Variabel Bebas (X) Strategi
Pemasaran Iklan melalui
1. Bentuk penyajian iklan produk - Video / visualisasi
Variabel X
Strategi Pemasaran Iklan melalui media bioskop
Variabel Y Minat beli
Karakteristik Responden
Media Bioskop
2. Variabel Terikat (Y) Minat Beli Mahasiswa FISIP USU
- Suara - Durasi 2. Isi pesan
- Informasi melalui video - Kejelasan pesan
- Keunikan bentuk iklan
1. Perhatian 2. Pengertian 3. Hasrat 4. Keputusan 5. Tindakan
Tabel 2.1 (Lanjutan)
Variabel Teoritis Operasional Variabel 3. Karakteristik Responden 1. Jenis kelamin
2. Usia 3. Departemen 4. Angkatan
5. Frekuensi menonton bioskop
2.5 Definisi Operasional
Dalam penelitian ini konsep yang sesuai dan kedudukannya yang setara dalam penelitian terlebih dahulu harus dibuat operasional. Fungsi konsep ini sebagai pengarahan, prosedur, dan empiris (Sugiyono, 2004: 50). Variabel tersebut dapat didefinisikan sebagai berikut:
1. Variabel bebas (Strategi Pemasaran Iklan melalui Media Bioskop) a. Bentuk penyajian penjualan
1) Video/visualisasi adalah gambar bergerak, yang dihasilkan oleh kamera yang merekam suatu obyek atau kejadian atau keadaan pada suatu waktu tertentu dengan konsep.
2) Suara adalah informasi yang diucapkan untuk memperjelas video, misalnya detail produk.
3) Durasi adalah jenjang waktu yang digunakan untuk menampilkan iklan.
b. Isi pesan
1) Video adalah informasi produk yang dikemas unik pada gambar bergerak untuk mendapatkan perhatian konsumen.
2) Kejelasan pesan adalah cara penyampaian informasi produk yang digunakan. Biasanya pesan dikemas sedemikian rupa agar menarik bagi calon pembeli.
3) Keunikan bentuk iklan adalah ukuran daya tarik bentuk video dalam menarik perhatian calon pembeli.
2. Variabel Terikat (Minat Beli Mahasiswa FISIP USU) a. Perhatian
1) Frekuensi melihat video iklan adalah seberapa sering calon pembeli melihat video iklan produk di Bioskop 21.
b. Pengertian
1) Memahami dan mengerti isi iklan adalah pemahaman dan pengertian mahasiswa sebagai calon pembeli dalam melihat bentuk iklan produk di bioskop 21.
c. Hasrat
1) Seberapa besar hasrat untuk menerima pesan yang disampaikan iklan di bioskop 21.
d. Keputusan
1) Keputusan yang diambil apakah menerima atau menolak pesan yang disampaikan oleh iklan di bioskop 21.
e. Tindakan
1) Mahasiswa memberikan tindakan atau aksi setelah menonton iklan di bioskop 21.
3. Karakteristik Responden
a. Jenis kelamin adalah identitas responden.
b. Usia adalah umur responden saat mengisi kuesioner.
c. Departemen adalah dari jurusan responden berasal.
d. Angkatan adalah mahasiswa FISIP USU angkatan 2012-2013
e. Frekuensi menonton Bioskop adalah seberapa sering responden menonton Bioskop dalam sehari.
2.6Hipotesis
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
Ha : Terdapat pengaruh antara Strategi PemasaranIklan Produk melalui Bioskop 21 terhadap minat membeli Mahasiswa FISIP USU
Ho :Tidak terdapat pengaruh antara Strategi Pemasaran Iklan Produk melalui Bioskop 21 terhadap minat membeli Mahasiswa FISIP USU
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Metodologi adalah proses, prinsip dan prosedur yang digunakan untuk mendekati suatu masalah dan mencari jawabannya. Metodologi dengan kata lain adalah suatu pendekatan umum untuk mengkaji topik penelitian. Metode penelitian yang digunakan peneliti adalah jenis penelitian kuantitatif. Riset kuantitatif adalah riset yang menggambarkan atau menjelaskan suatu masalah yang hasilnya dapat di generalisirkan (Kriyantono, 2006:55)
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan menggunakan metode korelasional yang berusaha menjelaskan suatu permasalahan atau gejala yang khusus dalam penjelasan antara dua objek. Metode penelitian ini bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan, dan apabila ada seberapa erat hubungannya dan berarti atau tidaknya hubungan tersebut. Metode penelitian ini digunakan untuk meneliti bagaimana hubungan antara strategi penjualan melalui media online dan minat beli. Penelitian ini menggunakan metode korelasional meliputi komponen-komponen antara dua variabel yaitu variabel X dan variabel Y. Variabel X dalam penelitian ini adalah Strategi Pemasaran Iklan melalui Media Bioskop dan variabel Y adalah Minat beli mahasiswa ilmu komunikasi FISIP USU.
3.1.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Alamat FISIP USU Jalan Dr. A. Sofyan Nomor 1, Kampus USU Padang Bulan Medan KodePos 20155.
3.1.2 Populasi dan Sample
Populasi adalah keseluruhan dari objek penelitian yang dapat berupa manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, gejala-gejala, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki karakteristik tertentu dalam penelitian
(Nawawi, 1995:141). Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik USU, Program S-1 angkatan 2012 dan 2013 yang sudah atau sedang mengambil mata kuliah periklanan. Berikut daftar jumlah mahasiswa yang terhitung aktif:
Tabel 3.1
Stambuk Jumlah
2012 123
2013 162
Jumlah Total 285 (Sumber: http://dirmahasiswa.usu.ac.id)
(diakses tanggal 17 Juli 2016 pukul 23.00 WIB)
Dalam penelitian ini besarnya sampel yang ditentukan menggunakan rumus Slovin (1960) dengan presisi 90% atau sig. 0,1 dan tingkat kesalahan yang dikehendaki adalah 10%, yaitu:
𝑛𝑛 = 𝑁𝑁 𝑁𝑁(𝑑𝑑)2 + 1
𝑛𝑛 = 285
285(0,1)2 + 1 𝑛𝑛 =3,85285 = 74,02 = 74 orang Keterangan:
N = jumlah populasi n = sampel
d2 = presisi (digunakan 90% atau sig 0,1)
3.1.3 Teknik Penarikan Sample
Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah purposive sampling yaitu pengambilan sampel dengan teknik ini disesuaikan dengan tujuan penelitian, di mana sampel yang digunakan sesuai dengan kriteria tertentu yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian. Kriteria sampel dalam dalam penelitian ini adalah mahasiswa departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik angkatan 2012 dan 2013 yang sudah atau sedang mengambil mata kuliah