• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Kondisi Mikro Usahatani Wortel di Kab Karanganyar

1. Luas Lahan

a. Tenaga kerja luar 129.37 56.59 b, Tenaga kerja keluarga 99.25 43.41 Jumlah Tenaga Kerja 228.62 100.00

3. Pupuk Organik /kandang (Kg) 7,344.31 10,000 4. Pupuk Anorganik Pupuk Urea (Kg) 176.42 53.33 225 Pupuk Za (Kg) 42.06 12.71 Pupuk TSP (Kg) 81.97 24.78 615 Pupuk SP 36 (Kg) 10.85 3.28 Pupuk KCL (Kg) 19.50 5.89 Jumlah Pupuk 330.80 100.00 5. Pestisida (Liter) 3.08 6. Benih (Kg) 20.42 7. Pupuk daun (Liter) 0.01 8. Ponska (Kg) 4.90 9. Kapur pertanian (Kg) 4.24 Sumber : Analisis Data Primer

Tabel 5.2 menunjukkan bahwa rata-rata luas lahan yang ditanami wortel sebesar 0,25 Ha, ini berarti bahwa sebagian besar petani sampel hanya mempunyai lahan yang sempit sehingga bisa dikategorikan sebagai petani gurem. Kepemilikan lahan yang sempit ini menyebabkan pengelolaan lahan kurang efisien. Distribusi luas lahan yang dimiliki petani sampel dapat dilihat pada tabel 5.2a berikut ini :

Tabel 5.2a Distribusi Luas Lahan Petani Wortel di Kabupaten Karanganyar.

No Luas Lahan (Ha) Frekuensi %

1. < 0,25 60 60 2. 0,25 - 0,50 35 35 3. > 0,50 5 5

Jumlah 100 100

Tabel 5.2a menunjukkan bahwa jumlah petani sampel yang memiliki luas lahan kurang dari 0,25 Ha paling banyak yaitu sebesar 60 persen, sedangkan yang memiliki luas lahan lebih dari 0,5 Ha hanya 5 persen. Jumlah petani sampel yang memiliki luas lahan antara 0,25 – 0,50 Ha sebanyak 35 orang atau 35 persen dari jumlah petani sampel.

Jumlah Penggunaan tenaga kerja dalam satu hektar adalah 228,62 HKSP yang terdiri dari tenaga kerja dari dalam keluarga dan dari luar keluarga. Penggunaan tenaga kerja luar keluarga (56,59 %) lebih besar jika dibandingkan penggunaan tenaga kerja dari dalam keluarga. Distribusi penggunaan tenaga kerja yang dimiliki petani sampel dapat dilihat pada tabel 5.2b berikut ini :

Tabel 5.2b Distribusi Pengunaan Tenaga Kerja per Hektar pada Usahatani Wortel di Kabupaten Karanganyar.

No Banyaknya Tenaga Kerja (HKP) Frekuensi % 1. < 223 46 46 2. 223 - 370 24 24 3. > 370 30 30 Jumlah 100 100

Sumber : Analisis Data Primer

Tabel 5.2a menunjukkan bahwa jumlah petani sampel yang terbanyak mengunakan tenaga kerja kurang dari 223 HKP yaitu sebanyak 46, sedangkan yang paling sedikit adalah petani sampel yang menggunakan tenaga kerja sebesar 223 – 370 HKP yaitu sebanyak 24 orang sampel. Jumlah petani sampel yang menggunakan tenaga kerja lebih dari 370 HKP sebanyak 30 sampel.

Pupuk yang digunakan oleh petani sampel meliputi pupuk organik yaitu pupuk kandang dan pupuk anorganik yang terdiri dari pupuk urea, ZA, TSP/ SP 36, dan KCL. Penggunaan pupuk kandang oleh petani sampel hanya 7.344,31

kg/ha lebih kecil dari rekomendasi yang dianjurkan oleh dinas pertanian Kabupaten Karanganyar. Distribusi Penggunaan Pupuk Organik (Pupuk Kandang) pada Usahatani Wortel di Kabupaten Karanganyar dapat dilihat pada tabel 5.2c berikut ini :

Tabel 5.2c Distribusi Penggunaan Pupuk Organik (Pupuk Kandang) pada Usahatani Wortel di Kabupaten Karanganyar.

No Banyaknya Pupuk Kandang (Kg) Frekuensi % 1. < 10000 61 61 2. 10000-30000 33 33 3. > 30000 6 6 Jumlah 100 100

Sumber : Analisis Data Primer

Tabel 5.2c menunjukkan bahwa sebagian besar petani sampel (61%) menggunakan pupuk kandang kurang dari 10.000 kg /ha, jumlah petani sampel yang menggunakan puuk kandang lebih dari 30.000 kg/ha hanya 6 orang sendangkan yang menggunakan pupuk kandang antara 10.000-30.000 kg/ha sebanyak 33 orang.

Selain menggunakan pupuk organik (pupuk kandang) untuk meningkatkan kesuburan tanah, petani sampel di Kabupaten Karanganyar ini juga menggunakan pupuk anorganik yang berupa pupuk urea, ZA, TSP/SP 36 dan KCL. Pupuk urea dan ZA merupakan pupuk yang menyediakan unsur nitrogen untuk pertumbuhan daun, pupuk TSP/SP 36 sebagai pupuk yang menyediakan unsur phospat untuk pertumbuhan bunga dan biji, dan pupuk KCL yang menyediakan unsur kalium yang diperlukan tanaman untuk pembentukan umbi. Pupuk yang paling banyak digunakan dalam usahatani wortel di Kabupaten Karanganyar ini adalah pupuk urea sebesar 176,42 kg/ha (53,33%), sedangkan

yang paling sedikit adalah pupuk SP 36 yang hanya 10,85 kg/ha atau 3,28 % dari jumlah pupuk anorganik. Penggunaan pupuk urea dan TSP tersebut juga dibawah rekomendasi dari dinas pertanian. Distribusi Penggunaan Pupuk Anorganik pada Usahatani Wortel di Kabupaten Karanganyar dapat dilihat pada tabel 5.2d di bawah ini :

Tabel 5.2d Distribusi Penggunaan Pupuk Anorganik pada Usahatani Wortel di Kabupaten Karanganyar.

No. Banyaknya Penggunaan Pupuk (Kg) Frekuensi Persentase (%) 1. Pupuk Urea < 100 16 16 100 - 245 51 51 > 245 33 33 Jumlah 100 100 2. Pupuk TSP < 100 54 54 100 - 400 41 41 > 400 5 5 Jumlah 100 100 3. Pupuk KCL < 50 76 76 50 - 150 21 21 > 150 3 3 Jumlah 100 100

Sumber : Analisis Data Primer

Tabel 5.2d menunjukkan bahwa sebagian besar petani sampel menggunakan pupuk urea sebanyak 100 - 245 kg/ Ha (51%), pupuk TSP sebanyak kurang dari 100 kg/ha (54%) dan pupuk KCL sebanyak kurang dari 50 kg/ha. Pupuk urea merupakan pupuk yang paling besar penggunaannya dalam usahatani wortel dibandingkan dengan penggunaan puuk TSP maupun KCL.

Salah satu masalah yang dihadapi petani wortel di Kabupaten Karanganyar adalah adanya serangan hama dan penyakit pada tanaman, untuk

sebesar 3,08 liter/Ha. Distribusi Penggunaan Pestisida pada Usahatani Wortel di Kabupaten Karanganyar dapat dilihat pada tabel 5.2e di bawah ini :

Tabel 5.2e Distribusi Penggunaan Pestisida pada Usahatani Wortel di Kabupaten Karanganyar. No Banyaknya Pestisida (Liter) Frekuensi % 1. < 5 59 59 2. 5 - 6 12 12 3. > 6 29 29 Jumlah 100 100

Sumber : Analisis Data Primer

Tabel 5.2e menunjukkan bahwa sebagian besar petani wortel (59%) di Kabupaten Karanganyar hanya menggunakan pestisida kurang dari 5 liter/ha. Hanya 12 orang yang menggunakan petisida sebanyak 5-6 liter/ha. Jumlah petani sampel yang menggunakan pestisida lebih dari 6 liter juga relatif banyak yaitu sebanyak 29 orang.

Petani wortel di Kabupaten Karanganyar belum bisa memproduksi sendiri benih yang berkualitas, sehingga mereka harus membelinya dari pedagang benih yang ada di Tawangmangu. Benih yang digunakan petani sampel berupa umbi setengah tua. Umbi ini dipotong sepertiganya kemudian ditanam ke dalam tanah. Mereka tidak menggunakan benih yang masih berbentuk biji karena dari pengalaman mereka daya kecambah benih yang berhasil tumbuh jumlahnya hanya sedikit dan itupun memerlukan waktu yang lebih lama. Benih yang digunakan petani sampel rata-rata sebesar 20,42 kg. Distribusi penggunaan benih pada usahatani wortel di Kabupaten Karanganyar dapat dilihat pada tabel 5.2f di bawah ini :

Tabel 5.2f Distribusi Penggunaan Benih pada Usahatani Wortel di Kabupaten Karanganyar.

No Banyaknya Benih(Kg) Frekuensi %

1. < 28 72 72 2. 28 - 82 24 24 3. > 82 4 4

Jumlah 100 100

Sumber : Analisis Data Primer

Tabel 5.2f menunjukkan bahwa 72 % petani sampel mengunakan benih yang berupa umbi sebanyak kurang dari 28 kg/ha, sementara yang mengunakan benih sebanyak 28 – 82 kg/ha ada 24 orang. Jumlah petani sampel yang mengunakan benih lebih dari 82 kg hanya 4 orang.

Selain menggunakan faktor produksi berupa lahan, tenga kerja, pupuk, pestisida dan benih, beberapa petani ada yang menggunakan kapur pertanian untuk menetralisir derajat keasaman tanah, mereka menggunakan kapur pertanian rata-rata sebesar 4,24 kg/Ha. Beberapa petani ada yang menggunakan pupuk daun dan ponska untuk meningkatkan produksi wortelnya.

D. Analisis Pendapatan Usahatani Wortel

1. Biaya Usahatani Wortel

Biaya usahatani yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah biaya yang benar-benar dikeluarkan oleh petani yang meliputi biaya pemakaian tenaga kerja luar keluarga, pembelian pupuk, benih, pestisida dan sarana produksi lainnya serta biaya pembayaran irigasi, biaya selamatan, pembayaran pajak dan biaya pengangkutan hasil panen dalam satu kali musim tanam. Semua biaya ini dinyatakan dalam satuan rupiah yang besarnya berdasarkan pada harga saat transaksi berlangsung. Rata-rata biaya usahatani yang

dikeluarkan petani sampel pada usahatani wortel pada musim tanam Oktober- Desember 2007 dapat dilihat pada tabel 5.3

Tabel 5.3 Biaya Usahatani Wortel per Hektar pada Musim Tanam Oktober- Desember 2007 di Kabupaten Karanganyar

No Uraian Fisik Harga/Unit Biaya (Rp) %

1. Tenaga kerja luar(HKSP) 129.37 17102.02 2,212,488.10 46.47 2. Pupuk organik/kandang(Kg) 7,344.31 110.95 814851.08 17.12 3. Pupuk Anorganik : Pupuk Urea (Kg) 176.42 1,810.22 319,359.45 6.71 Pupuk Za (Kg) 42.06 1,638.63 68,920.85 1.45 Pupuk TSP (Kg) 81.97 1,988.59 163,004.90 3.42 Pupuk SP 36 (Kg) 10.85 2,034.34 22,072.62 0.46 Pupuk KCL (Kg) 19.50 2,230.38 43,492.45 0.91 Jumlah pupuk anorganik 330.80 9,702.17 616,850.27 12.95 4. Pestisida (Liter) 3.08 77,471.03 238,610.77 5.01 5 Benih (Kg) 20.42 25,734.06 525,489.60 11.04 6. Pupuk daun 0.01 51,000.00 510.00 0.01 7. Ponska (Kg) 4.90 1,998.35 9,791.92 0.21 8. Kapur pertanian (Kg) 4.24 6,042.97 25,622.20 0.54 9. Irigasi 23,561.81 0.49 10. Selamatan 168,774.65 3.55 11. Pajak Tanah 48,062.03 1.01 12 Biaya Angkut 76,091.39 1.60 Jumlah 4,760,703.82 100

Sumber data : Analisis Data Primer

Tabel 5.3 menunjukkan bahwa rata-rata biaya usahatani yang dikeluarkan petani sampel dalam mengusahakan wortel sebesar Rp 4,760,703.82 per hektar. Biaya usahatani ini terdiri dari tenaga kerja luar keluarga, pupuk kandang, pupuk anorganik, pestisida, benih, kapur pertanian, irigasi, selamatan, pajak tanah, biaya angkut dan lain sebagainya. Biaya terbesar yang dikeluarkan oleh petani wortel adalah biaya untuk tenaga kerja sebesar Rp 2,212,488.10 per hektar. Hal ini dikarenakan dalam usahatani wortel dibutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak karena wortel peka terhadap hama dan penyakit sehingga membutuhkan perawatan dan pemeliharaan yang intensif selain itu besarnya biaya tenaga kerja

tersebut disebabkan oleh tingginya upah buruh tani yaitu Rp 17.102,02/HKSP. Tingginya nilai upah ini disebabkan semakin sulitnya mendapat tenaga kerja yang mau bekerja di pertanian khususnya di usahatani wortel.

2. Produksi dan Pendapatan Usahatani Wortel

Produksi merupakan jumlah wortel dalam bentuk umbi segar yang dihasilkan selama musim tanam Oktober-Desember 2007 yang dinyatakan dalam satuan kilogram. Penerimaan usahatani wortel merupakan perkalian antara produksi wortel dengan harga jual dan dinyatakan dalam rupiah. Produksi rata- rata petani sampel sebesar 13,182.37 Kg/Ha dengan harga Rp. 926,77 rupiah/Kg sehingga diperoleh penerimaan sebesar Rp. 12,217,054.26 rupiah setiap hektar.

Pendapatan usahatani merupakan selisih dari penerimaan wortel dan biaya usahatani wortel usahatani wortel dalam satu kali musim tanam. Rata-rata pendapatan dari usahatani wortel di Kabupaten Karanganyar pada musim tanam Oktober-Desember 2007 dapat dilihat pada tabel 5.4 berikut :

Tabel 5.4 Rata-rata Pendapatan Usahatani Wortel di Kabupaten Karanganyar pada musim tanam Oktober-Desember 2007

No. Uraian Per Hektar

1. Penerimaan Rp. 12,217,054.26 2. Biaya Rp. 4,760,703.81 3. Pendapatan Rp. 7,456,350.45

R/C ratio 2,75 Sumber Data : Analisis Data Primer

Tabel 5.4 menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan dari usahatani wortel oleh petani sampel adalah sebesar Rp 7,456,350.45 per hektar. Apabila dilihat dari biaya yang dikeluarkan dan penerimaan yang diperoleh, dapat diketahui bahwa usahatani ini menguntungkan karena penerimaaannya lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan dengan nilai R/C ratio 2,75.

E. Analisis Regresi Fungsi Produksi Cobb -Douglass

Macam faktor-faktor produksi perlu diketahui oleh petani untuk menghasilkan suatu produk, maka dibutuhkan pengetahuan hubungan antara faktor-faktor produksi dan hasil produksi. Hubungan fisik antara penggunaan faktor-faktor produksi dengan produksi ini sering disebut dengan fungsi produksi . Fungsi produksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah fungsi produksi Cobb-Douglass. Dalam perhitungan, fungsi produksi Cobb-Douglass dapat diubah dalam bentuk regresi linier berganda dengan cara ditransformasikan dalam bentuk logaritma. Analisis dengan program Eviews 3.1 menunjukkan hasil sebagai berikut :

Y = 2,428 X10,152 X20,282 X30,112 X40,144 X50,160 X60,177

Ditransformasikan dalam bentuk logaritma menjadi :

Log Y = log 2,428 + 0,152 logX1 + 0,282 logX2 + 0,112 logX3 + 0,144 logX4+

0,160 logX5 + 0,177logX6

Keterangan :

Y = produksi wortel (Kg) X1 = luas lahan (Ha)

X2 = jumlah tenaga kerja (HKP)

X3 = jumlah pupuk organik/kandang (Kg)

X4 = jumlah pupuk anorganik (Kg)

X5 = jumlah pestisida (Liter)

Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar proporsi dari faktor-faktor produksi berpengaruh terhadap hasil produksi. Hasil analisis dengan program Eviews 3.1 menunjukkan nilai koefisien determinasi sebesar 0,602. Hal ini berarti bahwa 60,2 % variasi hasil produksi wortel dipengaruhi oleh faktor-faktor produksi yang dimasukkan dalam model, sedangkan sisanya yang 39,8 % dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model.

Pengaruh penggunaan faktor-faktor produksi secara bersama-sama terhadap jumlah produksi wortel yang dihasilkan dapat diketahui dengan mengggunakan uji F, dari hasil analisis diperoleh nilai F sebesar 26,00117 dengan probabilitas sebesar 0,000000. Nilai probabilitas yang lebih kecil dari alfa (0,05) menunjukkan hasil yang signifikan artinya variabel bebas yang digunakan dalam model secara bersama-sama berpengaruh terhadap produksi wortel di Kabupaten Karanganyar.

Pengaruh masing-masing faktor produksi terhadap hasil produksi dapat diketahui dengan menggunakan uji t. Hasil Uji t dengan program eviews 3.1 dapat dilihat pada tabel 5.5 dibawah ini :

Tabel 5.5 Hasil Uji t Usahatani Wortel di Kabupaten Karangnyar. No Variabel Koefisien Regresi T hitung Probabilitas 1. Luas Lahan 0.151979 2.307213 0.0233 2. Tenaga Kerja 0.282857 3.465589 0.0008 3. Pupuk Organik 0.112052 3.687479 0.0004 4. Pupuk Anorganik 0.144378 2.184191 0.0315 5. Pestisida 0.160455 3.188963 0.0019 6. Benih 0.176608 3.091083 0.0026 Sumber : Analisis Data Primer

Tabel 5.5 menunjukkan bahwa nilai-nilai probabilitas dari variabel bebas yang meliputi luas lahan, tenaga kerja, pupuk organik (pupuk kandang), pupuk anorganik, pestisida dan benih lebih kecil dari alfa (0,05) pada tingkat kepercayaan 95 %, yang berarti bahwa secara individu variabel bebas yang terdapat dalam model berpengaruh nyata terhadap hasil produksi.

F. Metode Pengujian

1. Pengujian Normalitas Data

Salah satu metode yang sering digunakan untuk pengujian normalitas data adalah uji Jarque Bera (Uji J.B tes). Dalam model regresi tidak semua variabel harus diuji kenormalannya, cukup diwakili residualnya saja. Dalam Uji J.B tes jika residual nilai J.B hitung lebih kecil dari J.B tabel atau jika

probabilitas residual lebih besar dari α (0,05) maka dianggap semua variabel

yang ada dalam model dinyatakan normal. Variabel dikatakan berdistribusi normal jika skewness = 0 dan kurtosis = 3, dianggap mendekati normal jika nilai skewness dan kurtosisnya berada dalam toleransi 1.Hasil analisis program Eviews dapat dilihat pada tabel 5.6 berikut ini

Tabel 5.6 Uji Normalitas Data dengan Uji Jarqua-Bera Produksi Luas Lahan Tenaga Kerja Pupuk Organik Pupuk Anorganik

Pestisida Benih RESID Mean 3.396400 -0.757800 1.653700 2.836100 1.773800 -0.279500 0.493400 -2.23E-15 Median 3.400000 -0.700000 1.650000 2.970000 1.865000 -0.300000 0.480000 -0.017693 Maximum 4.300000 0.300000 2.290000 4.320000 2.650000 0.480000 1.540000 0.531715 Minimum 2.650000 -1.700000 0.990000 0.600000 0.700000 -1.300000 -0.360000 -0.478722 Std. Dev. 0.310615 0.366084 0.290077 0.703008 0.369594 0.398716 0.403721 0.189827 Skewness 0.110403 -0.194096 0.054392 -0.612684 -0.620205 -0.338657 0.451874 0.272149 Kurtosis 2.980751 3.113254 2.471049 3.242661 3.806115 2.402244 2.889077 3.257362 Jarque-Bera 0.204691 0.681330 1.215097 6.501718 9.118482 3.400280 3.454438 1.510399 Probability 0.902718 0.711297 0.544684 0.038741 0.010470 0.182658 0.177778 0.469917 Observation 100 100 100 100 100 100 100 100

Sumber : analisis data primer

Hasil analisis dengan program eviews menunjukkan bahwa nilai

probabilitas residual (0.469917) lebih besar dari α (0,05) sehingga dapat

disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.

2.Uji Multikolinearitas

Salah satu cara untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas adalah dengan metode Klein, yaitu dengan mencari koefisien korelasi dari variabel bebas dengan matrix correlation kemudian koefisien korelasi yang diperoleh dikuadratkan. Nilai kuadrat dari koefisien korelasi ( r2) dibandingkan dengan nilai Adjust R2, jika nilai r2< Adjust R2maka tidak terjadi multikolinearitas. Sebaliknya jika nilai r2 > Adjust R2 maka terjadi multikolinearitas. Hasil analisis matrik koefisien korelasi dapat dilihat pada tabel 5.7 berikut ini.

Tabel 5.7 Analisis Matrik koefisien korelasi Produksi Luas Lahan Tenaga Kerja Pupuk Organik Pupuk Anorganik Pestisida Benih Produksi 1.000000 0.508002 0.593571 0.473218 0.551621 0.243080 0.496153 Luas Lahan 0.508002 1.000000 0.393566 0.138660 0.492647 0.029348 0.431633 Tenaga Kerja 0.593571 0.393566 1.000000 0.366023 0.424991 0.065153 0.347065 Pupuk Organik 0.473218 0.138660 0.366023 1.000000 0.251654 0.062847 0.182601 P. Anorganik 0.551621 0.492647 0.424991 0.251654 1.000000 0.110214 0.404291 Pestisida 0.243080 0.029348 0.065153 0.062847 0.110214 1.000000 -0.088107 Benih 0.496153 0.431633 0.347065 0.182601 0.404291 -0.088107 1.000000

Sumber : Analisis Data Primer

Uji Klein menggunakan nilai kuadrat dari koefisien korelasi untuk dibandingkan dengan nilai Adjust R2, oleh karena itu perlu dicari nilai kuadrat dari koefisien korelasi tiap variabel bebasnya. Hasil perhitungan nilai kuadrat dari koefisien korelasi tiap variabel bebas dapat dilihat pada tabel 5.8 di bawah ini

Tabel 5.8 Nilai Kuadrat Koefisien Korelasi Variabel Bebas

Produksi Luas Lahan Tenaga Kerja Pupuk Organik Pupuk Anorganik Pestisida Benih Produksi 1.0000 0.2581 0.3523 0.2239 0.3043 0.0591 0.2462 Luas Lahan 0.2581 1.0000 0.1549 0.0192 0.2427 0.0009 0.1863 Tenaga Kerja 0.3523 0.1549 1.0000 0.1340 0.1806 0.0042 0.1205 Pupuk Organik 0.2239 0.0192 0.1340 1.0000 0.0633 0.0039 0.0333 P. Anorganik 0.3043 0.2427 0.1806 0.0633 1.0000 0.0121 0.1635 Pestisida 0.0591 0.0009 0.0042 0.0039 0.0121 1.0000 0.0078 Benih 0.2462 0.1863 0.1205 0.0333 0.1635 0.0078 1.0000

Sumber : Analisis Data Primer

Hasil analisis matrik koefisien korelasi yang dikuadratkan menunjukkan bahwa nilai-nilai kuadrat dari koefisien korelasi antar variabel bebas lebih kecil dari nilai adjust R2 (0.602421) sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinearitas.

3. Uji Heteroskedastisitas

Pendeteksian adanya heteroskedastisitas ini dilakukan dengan Uji Park dengan melakukan regresi OLS terhadap model dan mendapatkan residual ei

Penarikan kesimpulan dilakukan dengan melakukan uji t terhadap koefisien regresi yang dihasilkan dengan melihat probabilitasnya, jika probabilitas > α (0,05) maka tidak ada masalah heteroskedastisitas dan sebaliknya. Hasil regresi residual kuadrat terhadap variabel bebas dapat dilihat pada tabel 5.9 di bawah ini.

Tabel 5.9 Hasil Regresi Residual Kuadrat terhadap Variabel Bebas

No. Variabel Coefficient Std. Error t-Statistic Prob. 1. Konstata -2.400018 2.166120 -1.107980 0.2707 2. Luas Lahan 0.907837 0.791875 1.146440 0.2546 3. Tenaga Kerja -1.242935 0.981183 -1.266773 0.2084 4. Pupuk Organik 0.129603 0.365299 0.354786 0.7236 5. P. Anorganik 0.384646 0.794641 0.484050 0.6295 6. Pestisida 0.799677 0.604872 1.322060 0.1894 7. Benih -0.987024 0.686845 -1.437041 0.1541 Sumber : Analisis Data Primer

Hasil analisis regresi residual kuadrat dan variabel bebas dengan program eviews menunjukkan probabilitas setiap variabel bebas lebih besar

dari α 5 % (semua tidak signifikan) sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi heteroskedastisitas.

G. Skala Usaha

Kondisi skala usaha pada penelitian ini dapat diketahui dari besaran elastisitasnya (b1,b2, ..., bn) yaitu lebih besar dari satu, lebih kecil dari satu, sama

dengan satu, atau lebih besar dari satu. Ada tiga kemungkinan alternatifnya, yaitu: a. Decreasing return to scale, bila (b1 + b2+ … + bn) < 1. Berarti bahwa proporsi

penambahan faktor produksi melebihi proporsi penambahan produksi.

b. Constant return to scale, bila (b1 + b2+ … + bn) = 1. Berarti bahwa proporsi

penambahan faktor produksi akan proporsional dengan penambahan produksi yang diperoleh.

c. Increasing return to scale, bila (b1 + b2+ … + bn) > 1. Berarti bahwa proporsi

penambahan faktor produksi akan menghasilkan tambahan produksi yang proporsinya lebih besar.

Hasil perhitungan elastisitas (koefisien regresi) dari masing-masing faktor produksi dapat dilihat pada tabel 5.10berikut ini.

Tabel 5.10 Nilai Elastisitas Faktor-Faktor Produksi Usahatani Wortel

No Faktor Produksi Elastisitas /Koefisien Regresi 1 Luas Lahan (X1) 0.151979 2 Tenaga Kerja (X2) 0.282857 3 Pupuk Organik(X3) 0.112052 4 Pupuk Anorganik(X4) 0.144378 5 Pestisida (X5) 0.160455 6 Benih (X6) 0.176608 Skala usaha 1.028329

Sumber : Analisis Data Primer

Hasil perhitungan pada tabel 5.10 menunjukkan bahwa skala usaha pada usahatani di Kabupaten Karanganyar sebesar 1,028 (lebih besar dari satu), ini berarti bahwa proporsi penambahan faktor produksi akan menghasilkan tambahan produksi yang proporsinya lebih besar atau sering disebut dengan ”Increasing return to scale” . Hal ini berarti apabila semua faktor produksi ditambah satu persen secara bersama-sama, menyebabkan kenaikan produksi wortel sebesar 1,028, dengan demikian petani masih dapat memperbesar pendapatannya dengan menambah semua faktor produksi. yang digunakan.

H. Analisis Efisiensi Ekonomi Penggunaan Faktor-Faktor P roduksi

Dalam suatu usaha termasuk usahatani terdapat satu hal penting yang harus mendapat perhatian dari petani yaitu masalah efisiensi. Penerapan efisiensi dalam penggunaan alokasi input sangat penting guna menghasilkan output yang

optimal. Dalam penelitian ini untuk mengetahui efisiensi usahatani wortel di Kabupaten Karanganyar digunakan pendekatan efisiensi harga. Usahatani telah mencapai efisiensi ekonomi jika perbandingan antara nilai produk marginal (NPMxi) dan harga faktor produksi (Px) yang bersangkutan sama dengan 1. Hasil

perhitungan rasio NPMxi dan Px dapat dilihat pada tabel 5.11 di bawah ini.

Tabel 5.11 Perhitungan Efisiensi Ekonomi Usahatani Wortel

Faktor Produksi Rata- rata Input Koefisien Regresi (bi) Harga Input (Pxi) PMxi (Produk Marginal) NPMxi (Nilai Produk Marginal) NPMxi/ Pxi Luas Lahan (X1) 0.2451 0.151979 2,156,887.19 8,173.99 7,575,421.01 3.51 Tenaga Kerja (X2) 228.62 0.282857 17,102.02 16.31 15,115.47 0.88 Pupuk organik/Kandang(X3) 7,344.31 0.112052 110.95 0.20 186.40 1.68 Pupuk anorganik(X4) 330.80 0.144378 1,864.70 5.75 5,332.09 2.86 Pestisida (X5) 3.08 0.160455 77,471.03 686.89 636,590.20 8.22 Benih (X6) 20.42 0.176608 25,734.06 114.00 105,648.14 4.11 Produksi (Y) 13,182.37

Harga Wortel (Py) 926.77

Sumber : Analisis Data Primer Keterangan :

PMxi = (Koef isien regresi X Produksi) / Input rata-rata NPMxi = PMxi X Py

Hasil perhitungan rasio NPMxi dan Px pada masing-masing faktor

produksi di tabel 5.11 di atas tidak ada yang sama dengan satu, hal ini menunjukkan bahwa penggunaan faktor-faktor produksi pada usahatani wortel di Kabupaten Karanganyar belum mencapai efisiensi. Nilai optimum setiap faktor produksi dapat dihitung. Hasil perhitungan nilai optimumnya dapat dilihat pada tabel 5.12 berikut ini :

Tabel 5.12 Nilai Optimum Faktor Produksi Usahatani Wortel di Kabupaten Karanganyar Faktor Produksi Nilai Optimum Koefisien Regresi (bi) Harga Input (Pxi) PMxi (Produk Marginal) NPMxi (Nilai Produk Marginal) NPMxi/ Pxi Luas Lahan (X1) 0.8608 0.151979 2,156,887.19 2,327.31 2,156,887.19 1.00 Tenaga Kerja (X2) 202.06 0.282857 17,102.02 18.45 17,102.02 1.00 Pupuk Organik/Kandang(X3) 12,338.40 0.112052 110.95 0.12 110.95 1.00 Pupuk anorganik(X4) 945.93 0.144378 1,864.70 2.01 1,864.70 1.00 Pestisida (X5) 25.30 0.160455 77,471.03 83.61 77,487.25 1.00 Benih (X6) 83.85 0.176608 25,734.06 27.76 25,730.55 1.00 Produksi (Y) 13,182.37

Harga Wortel (Py) 926.77

Sumber : Analisis Data Primer

Efisiensi dapat tercapai saat petani menggunakan faktor produksi yang meliputi luas lahan sebesar 0,8606 Ha, tenaga kerja sebesar 202,06 HKP, pupuk organik/kandang sebesar 12.338,4 kg, pupuk anorganik sebesar 945,93 kg, pestisida sebesar 25,30 liter dan benih sebesar 83,85 kg.

VI. PEMBAHASAN

Penelitian Analisis Efisiensi Ekonomi Usahatani Wortel di Kabupaten Karanganyar ini akan membahas mengenai kondisi makro usahatani wortel di Kabupaten Karanganyar secara umum dan kondisi mikro usahatani wortel di Kabupaten Karanganyar yang meliputi faktor-faktor yang mempengaruhi produksi wortel, skala usaha dan efisiensi penggunaan faktor-faktor produksinya.

A. Kondisi Makro Usahatani Wortel di Kabupaten Karanganyar

Kabupaten Karanganyar merupakan daerah penghasil wortel terbesar di Jawa Tengah. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Jawa Tengah pada tahun 2005, produksi wortel di Kabupaten Karanganyar mencapai 85.567 Kw. Hal ini disebabkan Kabupaten Karanganyar mempunyai kondisi agroklimatologis yang sesuai untuk pertumbuhan wortel sehingga wortel dapat dibudidayakan dengan baik.

Wortel digolongkan sebagai tanaman semusim yaitu hanya dapat berproduksi satu kali dan kemudian mati. Tanaman wortel berumur pendek yaitu berkisar antara 70 - 120 hari. Tanaman wortel di Kabupaten Karanganyar ini bisaaya dipanen setelah berumur 90 hari karena jika penen dilakukan terlalu muda maka umbi yang dihasilkan masih kecil-kecil dan jika dipanen terlalu tua umbi yang dihasilkan sudah mulai berkayu dan rasanya pahit sehingga tidak disukai konsumen.

Biaya usahatani dipengaruhi oleh topografi, struktur tanah, jenis dan varietas komoditi yang diusahakan, tehnik budidaya serta tingkat tehnologi yang

digunakan. Petani dalam usahatani wortel mengeluarkan biaya untuk memproduksi wortel. Biaya yang benar-benar dikeluarkan oleh petani yang meliputi biaya pemakaian tenaga kerja luar keluarga, pembelian pupuk, benih, pestisida, ponska, kapur pertanian, pupuk daun, biaya pembayaran irigasi, biaya selamatan, pembayaran pajak dan biaya pengangkutan hasil panen. Biaya terbesar yang dikeluarkan petani wortel adalah biaya pemakaian tenaga kerja luar keluarga karena anggota keluarga yang aktif dalam usahatani wortel hanya sedikit ( rata-rata 3 ). Pada usahatani wortel di Kabupaten Karanganyar ini penggunaan tenaga kerja luar keluarga (56,59 %) lebih tinggi daripada penggunaan tenaga kerja keluarga (43,41 %). Penelitian Suratiyah (2003) menyatakan bahwa curahan tenaga kerja luar keluarga lebih besar daripada curahan tenaga kerja keluarga untuk usahatani padi sawah (56,91 %), usahatani cabe merah (51,20 %) dan bawang merah (59,48 %). Hal ini disebabkan karena anggota keluarga petani lebih senang untuk bekerja di pabrik daripada bekerja di lahan mereka sendiri padahal wortel merupakan tanaman yang memerlukan banyak tenaga kerja dari proses pengolahan tanah sampai panen terutama saat penyiangan yaitu kegiatan membersihkan rumput-rumput liar/gulma disekitar tanaman yang sangat mengganggu pertumbuhan tanaman wortel karena akan mengakibatkan turunnya produksi wortel akibat kompetisi dalam perolehan zat hara dari tanah, CO2 dan

sinar matahari. Biaya terbesar yang kedua adalah biaya penggunaan pupuk kandang karena pupuk kandang merupakan pupuk dasar yang ditaburkan pada waktu pengolahan tanah sehingga dalam usahatani memerlukan jumlah yang banyak, selain itu pupuk kandang dapat memberi pengaruh baik terhadap struktur

Dokumen terkait