• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab II RELASI GENDER DALAM NOVEL BIBIR MERAH

2.4 Lurah Koco dengan Perempuan-Perempuan Desa Kapur. 35

Pada dasarnya hubungan sosial dalam masyarakat Desa Kapur dibentuk dalam beberapa dusun. Tiap dusun dalam pemerintahan Desa Kapur terdapat kepala dusun dan dipimpin oleh kepala desa sebagai tingkat paling atas dalam sistem pemerintahan. Lurah Koco sebagai satu-satunya orang berkuasa dalam masyarakat Desa Kapur, memiliki kekuasaan dan kedudukan paling tinggi dalam sistem sosial tersebut.

Keadaan masyarakat desa yang miskin dan termarginal, membentuk masyarakat sangat patuh dan tunduk terhadap keputusan Lurah Koco. Karena kekuasaan dan kedudukan Lurah Koco itu pula, ia selalu memaksa para perempuan desa untuk melayani kebutuhan seksnya. Begitu juga halnya yang dialami Yu Sumi. Hal itu terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

(17)” wes to nduk, turuti saja keinginan Pak Lurah. Kita ini kawulonya

Pak Lurah. sebagai kawula kita memang tidak punya hak untuk

menolak. sebab kalau kamu tetap keras kepala, malapetaka akan menimpa kita.”

” Aku emoh, Mbok. Enak saja semua perempuan harus menuruti nafsu bejatnya (hlm. 37)”.

Berdasarkan kutipan (17) di atas terlihat adanya sikap Yu Sumi yang memandang bahwa kehormatan dan harga diri merupakan suatu yang berharga. Meski pun demikian, tidak semua para perempuan menganggap bahwa kehormatan dan harga diri itu sangat penting. Karena kebodohan dan kemiskinan itu pulalah

banyak para perempuan mau dijadikan gendaan Lurah Koco, hal itu semata-mata

mereka lakukan karena faktor ekonomi. Hal itu terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

(18)” Atase meng tukang siter saja berani menolak Pak Lurah. Apa tidak kebangeten itu (hlm. 36)”.

Sementara bagi Yu Sumi, harga diri dan kehormatan merupakan suatu yang sangat berarti. Kedudukan dan setatus sosial yang rendah, bukanlah dijadikan alasan bahwa kehormatan bisa ditukar dengan materi. Karena sikap itu, ia mau mengorbankan dirinya untuk melindungi harga diri dan kehormatan yang ia miliki. Hal itu terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

(19)” ...Tapi berbeda dengan perempuan lainya, ia berani menolak Lurah Koco, bahkan ia pernah memukul lelaki itu dengan tangkai cangkul ketika Lurah Koco mau memperkosanya. Sejak peristiwa itu Yu Sumi selalu menyelipkan pisau di pinggangnya. itulah yang membuat Lurah Koco tidak berkutik. Setiap kali ia berusaha mendekati Sumi, gadis itu mengacungkan belati (hlm. 37)”.

Konsep harga diri dan kehormatan bagi Yu Sumi sangatlah berbeda dengan konsep yang dimiliki perempuan pada umumnya. Ia menganggap bahwa perempuan

yang menjual kehormatanya, sama saja memandang dirinya sendiri sebagai barang. Hal itu terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

(20)” ...Kehormatan kok dijual. meskipun saya hanya tukang siter, saya tidak lenjeh, geleman. perempuan kalo sudah mau menjual kehormatanya, memandang dirinya sendiri seperti barang. Namanya barang, kalau pemakainya sudah bosan ya dibuang. Diri sendiri kok dihargai murah. Kalo perempuan sudah menganggap dirinya murah, perempuan melayani laki-laki dasarnya harus suka sama suka (hlm. 147)”.

Sikap sakit hati para perempuan desa terhadap sosok Lurah Koco sangatlah dirasakan. Begitu juga halnya yang dirasakan oleh Mbok Karto, orang tua Yu Sumi. Kekecewaan tersebut berawal ketika Lurah Koco mengusir Yu Sumi dari Desa Kapur, sebagai alasan bahwa Yu Sumi tidak mau melayani nafsu seks Lurah Koco. Di mata Mbok Karto ia beranggapan bahwa kekuasaan dan kedudukan Lurah Koco tidaklah bisa menyamai kekuasaan Tuhan. Falsafah Jawa yang ia miliki tersebut sangat jelas. Hal itu terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

(21)” ...Kalo Lorah Koco mau mengusir saya , usir! Lurah Koco, Carik Dargo dan sampeyan dan lain-lain itu tinggal thek prel,

seperti dahan kering yang jatuh ditiup angin. orang kok mau menyamai Gusti Allah, sing gawe urip. Pak bayan sampeyan itu

menungsa seperti saya ini. Sampeyan tidak wenang menentukan

nasib orang lain. Nanti gusti Allah marah kepada sampeyan. Bisa saja saya menerima perlakuan sampeyan. Tapi Gusti Allah tidak terima. Karena Gusti Allah yang menciptakan saya. Gusti Allah

tidak terima kalo ciptaanya teraniaya oleh orang lain (hlm. 156)”. Berbeda dengan halnya yang dilakukan oleh Yu Ginah. Karena kemiskinan dan beban ekonomi, ia mau menyerahkan tubuhnya kepada Lurah Koco. Himpitan ekonomi dan setatus sosial yang miskin telah memaksa ia menyerahkan tubuhnya untuk ditukar dengan materi. Hal itu terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

(22)” Yu Ginah tertawa genit. Di cubitnya lengan Pak Lurah, kemudian dijatuhkan Tubuhnya dalam pelukan lelaki itu (hlm. 35)”.

Bagi Yu Ginah, sikapnya terhadap Lurah Koco semata-mata bukanlah sebuah penghargaan terhadap dirinya, melainkan hanyalah sebuah cara agar ia bisa memerasnya. Meskipun demikian, karena keadaan ekonomi pulalah ia mau menyerahkan dirinya untuk ditukar dengan materi. Tidak Hanya itu saja, karena beban ekonomi pula Yu Ginah menjual Surti anak perawan satu-satunya kepada Lurah Koco. Hal itu terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

(23)” Yu Ginah tersenyum manja ketika Lurah Koco memasuki warung. ....”mana Surti Yu?”

” Oh, sekarang maunya Surti, to? sudah bosan dengan yang tua? ” Ya tidak begitu Yu. apa tidak boleh saya tanya anakmu?” ” Boleh Pak Lurah. lebih dari tanya pun boleh.”

” Jadi yang tua tidak marah, to. kalo saya mencari yang muda?” ” Yang muda masih segar. yaaaaaaa asalkan...”

” Asalkan apa?”

” Kelapa muda lebih mahal dari kelapa tua, Pak Lurah

” Edan kamu Yu. Saya tahu maksud kamu. Tapi jangan khawatir Yu saya suka kedua-duanya ( hlm. 34)”.

Kebejatan dan rusaknya moral Lurah Koco terhadap para perempuan desa seolah di tiru oleh aparat desa lainya. Seperti halnya Bayan Sardi. Karena kekuasaan sebagai seorang bayan, ia juga kerap memaksa para perempuan desa untuk melayani kebutuhan seksnya. Hal itu terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

(24)”Ndak usah takut Munah. mula-mula memang begitu. Takut, khawatir, tidak sampe hati. Itu karena kamu belum mencobanya. sekali kamu mencoba akan ketagihan, dan setiap malam kamu akan menunggu aku mengetuk pintu (hlm. 75)”.

(25)” Munah duduk di pinggir tempat tidur dekat Bayan Sardi, serta merta Bayan Sardi memeluknya. Munah mencoba memberontak,

tetapi Bayan Sardi tahu pembrontakan itu lemah sekali, lelaki itu terlau berpengalaman menghadapi penolakan yang hanya setengah hati seperti itu. Penolakan basa-basi biar tidak dikatakan perempuan gatal. Namun justru penolakan setengah-setengah itu membangkitkan kelelakian Bayan Sardi. Maka dipeluknya dengan erat perempuan itu, dan seperti dugaannya Munah tidak berontak lagi. Ia justru mengglendotkan tubuhnya pada lelaki yang sebenarnya yang pantas menjadi ayahnya itu...dan kejadianya begitu cepat. dan ketika sadar ia terbaring di sisi Bayan Sardi dengan pakaian tidak semestinya dan rambut awut-awutan. Tubuhnya penat setelah merasakan kepuasan yang luar biasa (hlm. 76-77)”.

Keadaan ekonomi yang miskin ditambah dengan kepergian suaminya ke Jakarta itulah satu alasan menggapa Munah mau menyerahkan tubuhnya kepada Bayan Sardi. Hal itu terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

(26)”kasihan kang marto, Pak ”

” Apa kamu kira Marto juga tidak melakukan hal seperti ini? lelaki Munah, lelaki. Mungkin Si Marto malahan sudah punya perempuan lain, punya gendaan atau istri lagi...

Munah berhenti menangis. Memang untuk apa menangis? toh ia sudah melayani Bayan Sardi dengan perasaan tidak terlalu terpaksa. dan ketika Bayan Sardi pamitan, Munah mengantarkan sampai di pintu belakang (hlm.77)”.

Kondisi dan keadaan masyarakat yang marginal dan di tambah dengan sistem patriarkhi menjadi faktor mempengaruhinya keadaan Desa Kapur sangat terbelakang. Hal itu pula yang mendorong adanya dominasi, pelecehan dan kekarasan terhadap perempuan Desa Kapur. Meskipun demikian, adanya perlawanan dan pemberontakan terhadap sistem patriarkhi sangat terlihat dalam sikap para perempuan yang menolak penindasan yang dilakukan oleh Lurah Koco dan aparatnya.

2.5 Saburosan dengan Rusminah

Pada dasarnya relasi hubungan antara tokoh Saburosan dengan Rusminah

terjalin melalui profesi Rusminah sebagai seorang pekerja seks komersal (PSK).

Keadaan dan posisi ia sebagai seorang pelacur merupakan akibat dan dampak sosial dari kekuasaan Lurah Koco. Sikap ia yang termarginalkan dalam masyarakat, membawa ia berambisi ingin mengembalikan harga diri yang pernah dirampas oleh Lurah Koco dengan jalan menjadi perempuan sukses.

Luka batin dan motivasi balas dendam itulah satu alasan Rusminah terjun dalam dunia prostitusi. Pekerja seks komersiel (PSK) bagi Rusminah merupakan satu

lebel yang harus ia terima dari profesi yang ia jalani. Baginya profesi tersebut

merupakan jalan pintas dari sebuah pelarian sakit hati dari semua laki-laki yang pernah menyakitnya. Himpitan ekonomi dan motivasi balas dendam terhadap Lurah Koco itulah yang menjadi konflik batin bagi rusminah yang sangat sulit untuk disembuhkan.

Pengalaman dan kenyataan pahit sebagai perempuan panggilan bagi Rusminah adalah sebuah resiko, meskipun demikian harapan untuk menjadi perempuan baik itu pun datang. Berawal dari perkenalanya dengan laki-laki Jepang bernama Saburosan itulah kehidupan rumanti berubah.

Saburosan adalah sosok laki-laki yang berasal dari Jepang, ia adalah anak dari seorang tentara Jepang. Ayahnya bernama Tetsu Sosan sedangkan ibunya adalah

seorang jughun ianfu asal Semarang yang bernama Bu Sayem. Latar belakang masa

sebagai seorang PSK. Tidak seperti halnya perempuan-perempuan lain pada waktu itu, Bu Sayem mendapatkan perlakuan istimewa dari Tetsu sosan. Hal itu terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

(27)” Tetapi berbeda dengan perempuan-perempuan lain yang harus melayani serdadu-serdadu itu, Sayem hanya melayani Tetsuo san. Setiap malam ia harus main siter dan melantunkan tembang (hlm. 201)”.

Bagi Saburosan sosok Rusminah adalah pribadi yang mirip ibunya. Hal itu terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

(28)” Yu Rus tidak jelek. Yu Rus mirip ibu saya. Ibu saya juga cantik lho.”

” Seperti saya ?”

” Ibu saya orang Jawa Yu, dari Semarang”(hlm. 198)”.

Kehadiran Saburosan dalam kehidupan Rusminah merupakan awal perubahan sikap akan pribadi Rusminah sebagai seorang pekerja seks komersiel (PSK). Tidak seperti halnya laki-laki lain yang menganggap bahwa tubuh Rusminah adalah barang yang bisa dihargai dengan uang, Saburosan justru menganggap bahwa sosok Rusminah adalah gambaran Ibunya. Karena sikapnya tersebut ia tidak

memperlakukan Rusminah sebagai seorang PSK. Hal itu terlihat dalam kutipan

sebagai berikut.

(29)” Di dalam kamar itu Saburosan hanya mencium kedua pipinya (hlm, 199)”.

Hubungan batin Saburusan dengan ibunya sebagai keturunan orang jawa dijadikan alasan mengapa ia tidak mau tidur dengan Rusminah. Hal inilah yang

mendorong Saburosan sangat menghormati Rusminah. Hal itu terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

(30)” Sebagai laki-laki saya ini sama dengan lelaki lain. Tapi pantang bagi saya tidur dengan perempuan Jawa. Setiap ada keinginan untuk itu, wajah ibu saya selalu membayang (hlm. 203)”.

Karena sikap itu pulalah ia mempunyai prinsip bahwa ia tidak akan menikah dengan perempuan jawa. Hal itu terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

(31)” Tidak mungkin Yu Rus, tidak mungkin. Memang saya belum punya istri. Tetapi kalo saya mencari istri tidak mungkin saya memilih wanita Jawa (hlm. 205)“.

Melihat dan mengetahui sikap Saburosan yang ramah dan bisa menghargai profesinya tersebut, terjalin hubungan istimewa antara Saburosan dengan Rusminah. Hal inilah yang melahirkan hubungan mereka semakin dekat. Hal itu terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

(32)“ Lama-lama hubungan mereka seperti ibu dan anak atau kakak dan adik sekalipun usia mereka sebenarnya hampir sama (hlm. 204)“. Merasa terjalin hubungan mereka sebagai seorang kakak dan adik, Saburosan pun berinisiatif mengubah dan mengajak Rusminah untuk menjalani hidupnya sebagai perempuan baik-baik. Hal itu terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

(33)“ Putuskan berhenti sekarang Yu. Yu Rus masih muda. Begini Yu

saya punya usul bagaimana kalo sampeyan mulai hidup baru

dengan mendirikan usaha (hlm. 204)“.

Adanya pandangan dan sikap diri Rusminah yang tidak mampu, menjadikan satu alasan Rusminah sulit untuk kembali menjadi perempuan baik-baik. Karena

relasi hubungna itu pulalah ia harus menerima dan membuka perasaanya terhadap laki-laki. Hal itu terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

(34)“ Saya ini orang bodoh Saburosan.“

Jangan khawatir Yu, kan ada saya. Selama saya di Indonesia saya akan sering-sering ke Yogya.“

”apakah saya bisa ?“

” Mesti bisa. Yu Rus sebenarnya tidak bodoh. Orang yang tidak sekolah belum tentu bodoh (hlm. 205)“.

Melalui relasi dengan Saburosan, Rusminah hadir sebagai tokoh yang mempunyai karakter dan kepribadian berbeda. Semua itu tercipta karena adanya jalinan kerjasama yang membawa pada perubahan dirinya. Ada pun bagi Rusminah kehadiran Saburosan merupakan kekuatan yang mampu menumbuhkan rasa percaya diri. Sosok perubahan diri Rusminah dari perempuan lemah menjadi perempuan sukses, merupakan bukti kongkret bahwa balas dendam dan ambisi merupakan motivasi yang mampu mengubah segalanya.

Selain itu hadirnya Saburosan dalam diri Rusminah juga membuktikan adanya peran gender bahwa laki-laki diposisikan sebagai kunci permasalahan. Sumber permasalahan yang dihadapi Rusminah berakar dari laki dan diakhiri oleh laki-laki. Bagaimana pun juga Semua itu membawa pada anggapan adanya sikap ketergantungan perempuan terhadap laki-laki.

Lebih lanjut relasi gender di atas dipandang sebagai hubungan laki-laki dan perempuan yang saling memberikan peran terhadap masing-masing dan mempengarui sikap diantara keduanya. Selain itu adanya pandangan bahwa kedudukan dan peran laki-laki yang dominan memberikan pemahaman bahwa pada

dasarnya laki-laki adalah objek yang mampu memberikan solusi dalam setiap konflik yang dialami oleh perempuan.

Dalam kaitan relasi gender antara Saburosan dan Rusminah, terdapat unsur ketimpangan sosial antara pihak laki-laki dan pihak perempuan dalam penyelesaian konflik. Rusminah, diposisikan sebagai kaum marginal sedangkan Saburosan mempunyai peran dominan yang berperan sebagai simbol kekuasaan positip. Konsep

inilah yang mengubah pandangan Rusminah sebagai pekerja seks komersial (PSK)

mau mengubah jalan hidupanya atas kuasa Saburosan.

Sementara pandangan dan konsep hidup tradisional bagi Rusminah, bukan menjadi alasan ia bersikap secara tradisional pula. Adanya keinginan besar untuk mengubah hidup menjadi perempuan sukses, menjadi alasan ia mau menerima tawaran Saburosan untuk membuka usaha sendiri. Sementara itu adanya dorongan dari luar dan kemauan untuk mengubah hidup, mendorong ia meninggalkan profesinya sebagai seorang pekerja seks komersial (PSK). Hal itu terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

(35)“ Usaha kecil-kecilan yang didirikan Rusminah (Rumanti) dengan bimbingan Saburo-san terus berkembang. Akhirnya ia bisa mendirikan perusahaan perkebunan yang besar (hlm, 205)“. Berdasarkan kutipan (35) di atas menunjukan, kesuksesan yang diraih Rusminah merupakan hasil campur tangan laki-laki dalam hal ini Saburosan. Peran Saburosan dalam menggembalikan identitas dirinya dari perempuan marginal menjadi perempuan sukses, tidak lain karena latar belakang ibunya sebagai keturunan orang jawa.

Sosok Rusminah sebagai pribadi yang tegar, ingin membuktikan dan menunjukan kepada masyarakat Desa kapur, bahwa ia mampu mengembalikan harga diri yang pernah dirampas oleh Lurah Koco dan masyarakat pada umumnya. Selain itu, karena adanya hubungan relasi gender diatara keduanya, telah membawa perubahan dalam diri Rusminah. Kesabaran dan keuletan Rusminah dalam mengolah usahanya membawa ia menduduki sebagai kepala perusahan. Karena setatus dan kedudukan itu pula, ia berharap mampu mengembalikan harga diri yang pernah dirampas oleh Lurah Koco

Bukti perlawanan akan dominasi dan kekuasaan Lurah Koco itu ia buktikan dengan cara ia mampu membeli tanah di Desa Kapur. Hal itu terlihat dalam kutipan sebagai berikut.

(36)“ Kalo kalian memang tidak bisa membebaskan tanah itu, saya sendiri akan turun tangan. Tapi inggat, besok pagi kalian sudah harus hengkang dari kantor ini. Jangan khawatir anda-anda tidak pergi dengan cuma-cuma (Hlm,3)“.

Kekuasaan Rusminah sebagai pemimpin perusahaan merupakan bukti kemenangan ia melawan ketertindasan dan kebobrokan sistem sosial yang ada dimasyarakat. Bahwa perlawanan ia sebagai perempuan lemah, terlihat dari usaha ia mampu mematahkan dominasi dan kekuasaan tunggal yang ada di dalam masyarakat Desa Kapur tersebut.

Perlawanan akan dominasi laki-laki itulah gambaran tokoh Rusminah. Ia harus berjuang dan melawan penindasan yang dilakukan oleh sistem yang berlaku, baik itu oleh Lurah Koco maupun masyarakat Desa Kapur. Karena sikap yang ia

miliki itu, ia bisa mengembalikan harga diri yang pernah dirampas oleh Lurah Koco. Bagi Rusminah sistem patriarkhi tersebut telah merampas semua hak yang ia miliki. Karena sistem patriarkhi itu pula ia ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa tidak selamanya perempuan lemah dijadikan kurban oleh sistem yang berlaku.

Ketidakadilan gender dan diskriminasi terhadap perempuan merupakan bentuk dari akibat sistem patriarkhi, bahwa karena sistem tersebut Rusminah termotivasi untuk mengembalikan hak yang dirampas oleh laki-laki dalam hal ini Lurah Koco dan masyarakat Desa Kapur pada umumnya. Bagi Rusminah, penguasaan dan pengembalian hak yang dirampas laki-laki dalam ruang publik merupakan sesuatu yang harus dihargai, dan bukan dianggap sebagai sesuatu luar biasa dan mengancam kedudukan atau posisi laki-laki.

Meskipun demikian, kekuasaan dan dominasi laki-laki atau sistem patriarkhi yang ada dimasyarakat, kerap disahkan oleh sistem sosial yang ada. Hal itu memaksa kekuasaan laki-laki merujuk pada kekerasan terhadap perempuan. Sikap kekuasaan yang berujung pada kekerasan perempuan tersebut pada dasarnya digunakan laki-laki untuk mengontrol dan menundukkan perempuan. Selain itu, kekerasan juga dianggap sebagai alat untuk mengontrol perempuan. Dalam kaitannya dengan sikap Rusminah di atas, terdapat gambaran sikap perlawanan yang dipicu dari penindasan laki-laki terhadap perempuan. Sementara sistem patriarkhi juga telah membentuk laki-laki sebagai peran dominan dalam masyarakat.

Pada kenyataanya bahwa komitmen Rusminah sebagai perempuan tertindas didasari adanya usaha mengubah hidupnya menjadi perempuan yang lebih baik.

Selain itu, adanya usaha pembebasan dari tekanan laki-laki, dijadikan pola pembrontakan Rusminah melawan sistem patriarkhi. Adanya sikap dan hubungan antar tokoh di atas, terlihat adanya perlawanan yang disebabkan persosalan gender. Bahwa pada dasarnya sikap laki-laki yang dominan telah mengesampingkan fungsi dan peran gender yang membuat dan mengakibatkan peran dan kekudukan perempuan tersingkir.

Dokumen terkait