• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab III KETIDAKADILAN GENDER DAN SIKAP PEREMPUAN

4.2 Saran

Novel Bibir Merah adalah sebuah novel yang tidak hanya menggambarkan

tentang kondisi sosial masyarakat tertentu. Namun novel ini juga menggambarkan keadaan kondisi perempuan yang tertindas akibat ketidakadilan gender dan diskriminasi laki-laki. Bahwa kedudukan perempuan dianggap rendah dan bisa dieksploitasi secara seksual. Selain menceritakan kondisi perempuan akibat eksploitasi laki-laki, novel ini juga memberikan gambaran tentang bagaimana relasi antara laki-laki terbentuk dalam sistem sosial masyarakat patriarkhi.

Kajian terhadap novel ini tidak hanya terbatas pada satu pendekatan saja akan tetapi, masih memungkinkan untuk mengkajinya dengan pendekatan yang lain. Misalnya teori psikologi untuk mengkaji dampak kekerasan yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan.

Oleh karena itu, penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penelitian ini. Semua itu terjadi akibat keterbatasan dari penulis sendiri. Sehingga guna perbaikan lebih lanjut penulis menerima segala saran dan kritik. Selain itu penulis juga menyarankan kepada siapa saja yang tertarik dalam penelitian terhadap

karya sastra indonesia terutama novel Bibir Merah masih banyak memungkinkan

Daftar Pustaka

Abdulah, Irwan, 1997. Sangkan Paran Gender. Yogyakarta: Pusat Penelitian Kependudukan UGM

Agustina.2006. ”Citra Wanita dalam Novel Bibir Merah karya Achmad

Munif”.(http://www.google.com) didownload tgl 12 november 2006 Ahmad fausi.2008. Gender resepro dot Info (htpp:// www.google.com)

didownload tgl 6 januari 2009

Azwar.1995. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar

Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Dzuhayatin, Siti Rahini dan Susi Eja Yuarsi. 2002. Kekerasan Terhadap

Perempuan di Ruang Publik. Yogyakarta: Pusat Studi Kependudukan

dan Kebijakan Universitas Gajah Mada.

Fakif, Mansour. 1996. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Harjana,Andre.1981. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia

Husain, Ali. 2005. Membela Perempuan Menakar Feminisme Dengan Nalar

Agama. Al Huda.

Hidayat, Rahmat: 2004. Ilmu yang Seksis. Yogyakarta: Jendela.

La Pona dkk.2002. Menggagas Tempat yang Aman Bagi Perempuan: kasus di

Papua. Yogyakarta: Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan

Universitas Gajah Mada

Mas’ Udi, Masdar F.1997. Perempuan dalam Wacana Keislaman, dalam

Perempuan dan Pemberdayaan. Kumpulan karangan untuk menghormati Ulang Tahun ke-70 Ibu Saparinah Sadli. Jakarta: Kerjasama Program Studi Kajian Wanita Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia, Harian Kompas dan Obor.

Munandar, Soelaeman. 1995. lmu Sosial Dasar. Bandung: Eresko. Munif, Achmad.2004. Bibir Merah.Yogyakarta. Navila

Mukmin,Hidayat.1980. Beberapa Aspek Perjuangan Wanita Indonesia.

Bandung: Binacipta

Nurgiyantoro. Burhan. 1995. Teori Pengajian Fiksi.Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Ratna, Nyoman. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian

Sastra.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sarwono, S.W. 1976. Pengantar Ilmu Psikologi. Jakarta: Penerbit Bulan

Bintang

Sudaryanto.1998. Metode Linguistik: Bagian Kedua Metode dan Aneka

Teknik Pengumpulan Data. Yoggyakarta: Gajah Mada University Press

Sugiarti.2003. Pembangunan dalam Perspektif Gender. Malang: UMM Press.

Sugihastuti, 2002. Kritik Sastra Feminis Teori dan Aplikasinya.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sugihastuti, 2007. Gender dan InferioritasPperempuan Praktik Kritik Sastra

Feminis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Teeuw,A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta:

Lampiran

Sinopsis

Novel Bibir Merah Karya Ahcmad Munif pada dasarnya adalah novel sosial

yang menceritakan kondisi kehidupan masyarakat Desa Kapur. Novel ini merupakan penggambaran realitas hidup masyarakat marginal yang dikemas dengan konflik dan persoalan sosial masyarakat kelas bawah.

Achmad Munif pada dasarnya ingin membawa pembaca mengetahui lebih jauh tentang perjuangan perempuan-perempuan Desa Kapur yang tertindas yang tereksploitasi secara seksual. Novel ini menceritakan tentang perjalanan hidup perempuan Desa Kapur yang bernama Rusminah. Ia adalah gadis desa anak dari seorang buruh tani, ayahnya adalah seorang petani ladang sedangkan ibunya adalah seorang paes manten. Rusminah merupakan anak pertama dari dua bersaudara.

Secara sistem sosial, masyarakat Desa Kapur dipimpin oleh seorang kepala Desa yang bernama Pak Koco. Ia merupakan satu-satunya orang yang berkuasa dan mempunyai kedudukan paling tinggi dalam sistem sosial masyarakat tersebut. Dimata masyarakat, sosok Lurah Koco merupakan sosok pemimpin yang arogan dan suka memaksa. Karena kedudukan dan kekuasaanya itu, ia selalu memperalat

perempuan untuk dijadikan gendaanya. Begitu juga halnya Rusminah, karena

kecantikan dan kepolosanya ia harus menerima perlakuan dan pelecehan dari Pak Koco.

Berawal dari penolakan keinginan Lurah Koco untuk menjadikan Rusminah sebagai istrinya itulah awal peristiwa kekerasan. Mengetahui penolakan Rusminah terhadap tawaran untuk dijadikan istrinya, Lurah Koco pun berinisiatip balas dendam. Kekuasaan Lurah Koco yang otoriter dan selalu memaksa, mengakibatkan Rusminah mengalami kekerasaan dan pelecehan.

Kekerasan dan pelecehan yang dilakukan terhadap dirinya tersebut adalah berupa pemerkosaan. Tidak hanya pemerkosaan, orang tua Rusminah juga dibunuh karena dituduh sebagai dukun santet. Pemerkosaan yang dilakukan Lurah Koco terhadap Rusminah juga dialami oleh Rusmini yang merupakan adik Rusminah. Ia juga diperkosa dan dipukul seperti layaknya binatang.

Akibat dari tindakan pemerkosaan tersebut Rusminah dan Rusmini meninggalkan desa dan pergi ke kota Yogyakarta, hal itu karena mereka takut akan ancaman dari Lurah Koco. Pertama kali ia di Yogyakarta, ia bekerja sebagai pengamen siter selama dua bulan. Karena keadaan ekonomi yang kurang bisa memenui kebutuhan hidup, Rumanti pun terjun dalam dunia prostitusi. Setatusnya sebagai seorang pekerja seks komersiel telah membawa ia mampu mencukupi kebutuhan hidupnya selama tinggal di Yogyakarta.

Hingga sampai suatu ketika ia bertemu dengan Saburosan, lelaki Jepang yang bekerja sebagai seorang diplomat di Jakarta. Kerena perkenalan itu pula Rusminah mendapat tawaran untuk membuka sebuah usaha. Adanya kemauan Rusminah untuk menggubah hidup dan keingginan balas dendam terhadap Lurah Koco, menjadi satu motivasi ia menekuni usaha tersebut.

Keuletan dan motivasi besar untuk balas dendam terhadap Lurah Koco, ternyata menghasilkan buah yang berupa kesuksesan. Berkat bimbingan dan modal yang diberikan Saburosan itulah akhirnya Rusminah mampu mendirikan sebuah perusahaan pertanian. Setatus Rusminah sebagai seorang pengusaha tidak mengubah cita-citanya yang terpendam, yaitu membeli tanah di Desa Kapur. Ambisi Rusminah membeli tanah di desa kelahiranya tersebut, menjadi satu alasan bahwa ia bisa mengembalikan harga diri yang pernah dirampas oleh Lurah Koco dan masyarakat Desa Kapur pada umumnya.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Benedektus Yogi Dwi Hartanto lahir di Yogyakarta 26 tahun silam, tanggal 5 september 1983. Lahir dan dibesarkan di Purwosari Girimulyo Kulon Progo, Yogyakarta. Pendidikan awal di TK Kanisius Pelem Dukuh pada tahun 1989-1990. Sekolah Dasar tahun 1990-1996 di SD Kanisius Pelem Dukuh dan dilanjutkan di SMP Sanjaya Girimulyo. Pendidikan selanjutnya diselesaikan pula selama tiga tahun di SMU Bruderan Purworejo.

Setelah lulus dari SMU melanjutkan kuliah di Universitas Sanata Dharma tahun 2002-2009 jurusan Sastra Indonesia. Selama menjadi mahasiswa Sastra Indonesia di USD pernah aktif di Bengkel Sastra, pernah mengikuti pentas teater dengan judul ”Kapai-Kapai tahun 2005. Tugas akhir menyusun Skripsi dengan judul

Ketidakadilan Gender dalam Novel Bibir Merah Karya Achmad Munif Tinjauan

Dokumen terkait