• Tidak ada hasil yang ditemukan

LUTHFI HILMAN SYAH 107084003289

Dalam dokumen Investasi Dan Pasar Modal Syariah (Halaman 176-183)

SUKUK DI INDONESIA

LUTHFI HILMAN SYAH 107084003289

BAB I

PENDAHULUAN

Sukuk telah berkembang pesat di pasar keuangan dunia saat ini, tidak terkecuali di Indonesia. Sukuk (Bahasa Arab: كوكص, jamak of كص Sakk, "instrumen legal, amal, cek") adalah istilah dalam bahasa Arab yang digunakan untuk obligasi yang berdasarkan prinsip syariah. Sukuk dapat pula diartikan dengan Efek Syariah berupa sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian penyertaan yang tidak terpisahkan atau tidak terbagi atas:

1. kepemilikan aset berwujud tertentu;

2. nilai manfaat dan jasa atas aset proyek tertentu atau aktivitas investasi tertentu; atau

3. kepemilikan atas aset proyek tertentu atau aktivitas investasi tertentu. Pasar keuangan di Indonesia baru saja mencatat sejarah baru. Pada Mei 2008 lalu, Pemerintah telah mengundangkan Undang-undang No. 19/2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau UU Sukuk Negara (sovereign sukuk). Meski terlambat, kita patut memberikan apresiasi tinggi atas upaya pemerintah dan DPR yang berhasil menghasilkan UU

Investasi dan Pasar Modal Syariah Tiga Dimensi | A. Pengertian, Sejarah, Dasar Hukum dan Tujuan Berdirinya

139

Sukuk Negara ini. Dikatakan terlambat, karena perkembangan sukuk di Indonesia, sesungguhnya sudah dimulai oleh swasta, meskipun pangsanya masih kecil.

Melalui makalah ini, penulis mencoba menerangkan mengenai sukuk di Indonesia. Dalam makalah ini, dijelaskan mengenai pengertian sukuk, macam-macam sukuk di Indonesia, serta kelebihan/kekurangan sukuk di Indonesia yang berlandaskan ekonomi Islam. Dengan landasan tersebut, sukuk sebagai suatu amal yang hasilnya dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam kerangka IBADAH kepada Allah SWT, karena dengan ekonomi Islam yang menarik banyak perhatian saat ini dengan pertimbangan tidak hanya memperkaya beberapa individu, tapi memberikan kesejahteraan kepada rakyat melalui program welfare state yang bernilai IBADAH.

BAB II PEMBAHASAN

Saat ini penerbitan sukuk sudah menjadi perbincangan para ekonom Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan sukuk? Pengertian sukuk menurut fatwa No. 32/DSN-MUI/IX/2002 yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia adalah suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan emiten kepada pemegang obligasi syariah yang mewajibkan emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang obligasi syariah berupa bagi hasil margin/fee, serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo. Sedangkan

Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institutions

(AAOIFI) berpendapat lain mengenai arti sukuk. Menurut organisasi tersebut, sukuk adalah sebagai sertifikat dari suatu nilai yang direpresentasikan setelah penutupan pendaftaran, bukti terima nilai sertifikat dan menggunakannya sesuai rencana, sama halnya dengan bagian dan kepemilikan atas aset yang tangible, barang, atau jasa, atau modal dari suatu

proyek tertentu atau modal dari suatu aktivitas inventasi tertentu. Sedangkan, menurut Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan No. KEP-130/BL/2006 Tahun 2006 Peraturan No. IX.A.13, sukuk adalah efek syariah berupa sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian penyertaan yang tidak terpisahkan atau tidak terbagi atas: kepemilikan aset berwujud tertentu, nilai manfaat dan jasa atas aset proyek tertentu atau aktivitas investasi tertentu, dan kepemilikan atas aset proyek tertentu atau aktivitas investasi tertentu.

Dalam pegaplikasiannya, praktek sukuk berlandaskan pada akad-akad (underlying transaction) yang sesuai dengan prinsip syariah seperti

mudarabah (bagi hasil), musyarakah (kerjasama), ijarah (sewa) dan

lain-lain. Syarat sebuah obligasi disebut syariah adalah sebagai berikut :

1. Akad yang dapat digunakan dalam penerbitan obligasi syariah antara lain:

a. Mudharabah (Muqaradhah)/ Qiradh (trust financing/trust investment). Adalah perjanjian kerjasama usaha antara dua pihak, dengan pihak pertama sebagai penyedia modal, dan pihak lainnya sebagai pengelola.

b. Musyarakah (partnership, project financing participation).

Adalah pembiayaan berdasarkan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu.

c. Murabahah (deferred paymen sale).

Merupakan sukuk yang diterbitkan dengan prinsip jual beli, penerbit sertifikat adalah penjual, sedangkan investornya adalah pembeli. Penerbitan sukuk ini hanya dapat dilakukan pada primary market dan tidak dapat diperjual belikan pada secondary market, karena sertifikat ini menunjukan kepemilikan pembiayaan.

Investasi dan Pasar Modal Syariah Tiga Dimensi | A. Pengertian, Sejarah, Dasar Hukum dan Tujuan Berdirinya

141

d. Salam (in-front payment sale).

Adalah penjualan suatu komodity yang telah ditentukan kualitas dan kuantitasnya yang akan diberikan kepada pembeli pada waktu yang telah ditentukan di masa depan pada harga sekarang.

e. Istishna (purchase by order or manufacture).

Adalah suatu kontrak yang digunakan untuk menjual barang manufaktur dengan usaha yang dilakukan penjual dalam menyediakan barang tersebut dari material, deskripsi dan harga tertentu.

f. Ijarah (operational lease).

Adalah sebuah kontrak yang didasarkan pada adanya pihak yang membeli dan menyewa peralatan yang dibutuhkan klien dengan uang sewa tertentu.

2. Jenis usaha yang dilakukan Emiten (Mudharib) tidak boleh bertentangan dengan syariah, yaitu :

a. Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang;

b. Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi), termasuk perbankan dan asuransi konvensional;

c. Usaha yang memproduksi, mendistribusi, serta memperdagangkan makanan dan minuman yang haram;

d. Usaha yang memproduksi, mendistribusi, dan/atau menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat.

3. Pendapatan (hasil) investasi yang dibagikan Emiten (Mudharib) kepada pemegang Obligasi Syariah Mudha-rabah (Shahibul Mal) harus bersih dari unsur non halal;

4. Pendapatan (hasil) yang diperoleh pemegang Obligasi Syariah sesuai akad yang digunakan;

5. Pemindahan kepemilikan obligasi syariah mengikuti akad-akad yang digunakan.

6. Pengawasan aspek syariah dilakukan oleh Dewan Pengawas Syariah atau Tim Ahli Syariah yang ditunjuk oleh Dewan Syariah Nasional MUI, sejak proses emisi Obligasi Syariah Ijarah dimulai.

7. Kepemilikan Obligasi Syariah Ijarah dapat dialihkan kepada pihak lain, selama disepakati dalam akad.

Potensi Bagi Indonesia

Perkembangan sukuk di Indonesia sesungguhnya bermula karena adanya inisiatif dari swasta. Dukungan yang kurang dari pemerintah dan regulator terhadap perkembangan sukuk ini, menyebabkan posisi Indonesia dalam pasar keuangan syariah global tidak mendapatkan tempat yang semestinya. Hingga saat ini, baru terdapat sekitar 20 sukuk yang diakui sebagai emiten syariah oleh Bapepam.

Pemerintah telah menerbitkan sukuk (Surat Berharga Syariah Negara/SBSN) senilai Rp 13,994 triliun sepanjang kuartal I-2010. Sementara, total penyaluran sukuk yang sudah disalurkan pemerintah mulai Agustus 2008 hingga Maret 2010 mencapai Rp 35,195 triliun. Sementara kendala sampai saat ini adalah RUU SBSN belum dijadikan UU. Pembahasan RUU diyakini akan berjalan alot. Salah satunya menyangkut pembentukan special purpose vehicle (SPV) yang kelak akan mengelola asset baik fisik maupun hak pemanfaatannya yang dijadikan jaminan penerbitan sukuk. Padahal, tanpa SPV, katanya, sukuk bisa dianggap barang haram. Dengan diberlakukannya UU Sukuk Negara, diperkirakan perkembangan pasar sukuk di Indonesia bakal lebih semarak dibandingkan sebelumnya. Terlebih lagi, minat investor terhadap sukuk ini sangat besar, sebagaimana ditunjukan dari perkembangan sukuk global saat ini. Tahun ini pemerintah memang memfokuskan diri untuk pengembangan pasar sukuk domestik. Jika penerbitan perdana ini sukses, diperkirakan akan semakin menarik investor asing, khususnya dari Timur Tengah, untuk masuk ke pasar keuangan syariah di Indonesia. Di antara solusi mendesak yang sangat dibutuhkan untuk mengembangkan sukuk dan bursa syariah Indonesia adalah dengan disahkannya RUU SBSN Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) menjadi undang-undang. UU tersebut diharapkan dapat memberi landasan hukum yang lebih kuat bagi penerbitan sukuk, terutama sukuk negara. Dalam banyak studi dan riset, faktor regulasi ini menjadi variabel yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan pembangunan pasar modal, termasuk pasar modal syariah. Ada banyak manfaat yang akan diraih oleh bangsa ini jika RUU tersebut dapat segera disahkan. Dari sudut pandang investor, undang-undang tersebut akan memberikan jaminan kepastian hukum yang lebih besar. Selanjutnya, dukungan regulasi dan kebijakan yang tepat dan terencana akan menjamin efektivitas penerapan

Investasi dan Pasar Modal Syariah Tiga Dimensi | A. Pengertian, Sejarah, Dasar Hukum dan Tujuan Berdirinya

143

good corporate governance sekaligus peningkatan daya saing, sebagaimana

yang telah dibuktikan oleh Bernard S Black (2001) dalam risetnya terhadap bursa Korea Selatan. Dari riset itu dia merekomendasikan sejumlah reformasi kebijakan strategis yang perlu dilakukan pemerintah Korsel dalam meningkatkan iklim investasi dan menciptakan pasar modal yang lebih kompetitif.

Keuntungan lainnya, keberadaan undang-undang tersebut diyakini dapat mendorong pengembangan (inovasi) produk sukuk. Inovasi ini merupakan sesuatu yang sangat penting dan dapat menjadi mesin pertumbuhan (engine of growth) bagi industri keuangan syariah. Ayub dan Kawish (2007) dalam studi mereka tentang Bursa Syariah Malaysia, menyimpulkan bahwa inovasi produk yang dihasilkan dari dukungan regulasi dan kebijakan yang sangat kuat, adalah faktor utama yang menjadikan bursa syariah Malaysia menarik bagi arus investasi. Sehingga tidaklah mengherankan jika pada tahun 2006 lalu, volume penerbitan sukuk di Malaysia telah melebihi separuh dari total volume penerbitan obligasi secara keseluruhan. Dari 116 obligasi yang diterbitkan, 64 di antaranya adalah dalam bentuk sukuk.

Bagi perekonomian secara keseluruhan, UU SBSN tersebut nantinya diharapkan dapat memainkan peran yang lebih besar dalam menciptakan lapangan pekerjaan, sehingga mampu mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan.

BAB III KESIMPULAN

Dalam pegaplikasiannya, praktek sukuk berlandaskan pada akad-akad (underlying transaction) yang sesuai dengan prinsip syariah seperti

lain-lain. Syarat sebuah obligasi disebut syariah adalah sebagai berikut :Akad yang dapat digunakan dalam penerbitan obligasi syariah antara lain: Mudharabah (Muqaradhah)/ Qiradh (trust financing/trust investment), Musyarakah (partnership, project financing participation), Murabahah (deferred paymen sale), Salam (in-front payment sale), Istishna (purchase by order or manufacture), Ijarah (operational lease). Jenis usaha yang dilakukan Emiten (Mudharib) tidak boleh bertentangan dengan syariah, yaitu : Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang; Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi), termasuk perbankan dan asuransi konvensional; Usaha yang memproduksi, mendistribusi, serta memperdagangkan makanan dan minuman yang haram; dan usaha yang memproduksi, mendistribusi, dan/atau menyediakan barang-barang ataupun jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat. Pendapatan (hasil) investasi yang dibagikan Emiten (Mudharib) kepada pemegang Obligasi Syariah Mudha-rabah (Shahibul Mal) harus bersih dari unsur non halal; Pendapatan (hasil) yang diperoleh pemegang Obligasi Syariah sesuai akad yang digunakan; Pemindahan kepemilikan obligasi syariah mengikuti akad-akad yang digunakan. Pengawasan aspek syariah dilakukan oleh Dewan Pengawas Syariah atau Tim Ahli Syariah yang ditunjuk oleh Dewan Syariah Nasional MUI, sejak proses emisi Obligasi Syariah Ijarah dimulai. Kepemilikan Obligasi Syariah Ijarah dapat dialihkan kepada pihak lain, selama disepakati dalam akad.

Investasi dan Pasar Modal Syariah Tiga Dimensi | A. Pengertian, Sejarah, Dasar Hukum dan Tujuan Berdirinya

145

Dalam dokumen Investasi Dan Pasar Modal Syariah (Halaman 176-183)