BAB III METODE PENELITIAN
G. Teknik Penjaminan Keabsahan
Dalam penelitian untuk menjamin keabsahan data dari penelitian penulis melakukan member check. Member check adalah proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data.
Tujuan member check adalah untuk mengetahui seberapa jauh data yang diperoleh sesuai dengan apa yang diberikan oleh pemberi data.
Apabila data yang ditemukan disepakati oleh para pemberi data berarti data tersebut valid, sehingga semakin dipercaya, tetapi apabila data yang ditemukan peneliti dengan berbagai penafsirannya tidak disepakati oleh pemberi data, maka peneliti melakukan diskusi dengan pemberi data dan apabila perbedaannya tajam, maka peneliti harus merubah temuannya, dan harus menyesuaikan dengan apa yang
diberikan oleh pemberi data. Jadi, tujuan member check adalah agar informasi yang diperoleh dan akan digunakan dalam penulisan laporan sesuai dengan apa yang dimaksud sumber data atau informan.
(Sugiyono, 2014, hal. 442)
Dalam penelitian ini untuk menjamin keabsahan data, penulis kembali untuk wawancara dengan sumber data sebelumnya yaitu direktur BPR-LPN Padang Magek. Data yang diberikan kemudian melakukan proses pengecekan kembali wawancara dengan karyawan PT. BPR LPN agar data yang diperoleh tidak berubah.
66 BAB IV
HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum BPR Nagari Padang Magek
1. Sejarah Berdirinya BPR-LPN
Bank Perkreditan Rakyat Lumbung Pitih Nagari Padang Magek selanjutnya disebut BPR LPN Padang Magek dulunya adalah Lembaga Simpan Pinjam yang didirikan oleh tokoh-tokoh masyarakat Padang Magek. Berdasarkan keputusan Gubernur Kepala Daerah TK I Sumatera Barat No.362/GSB-1977 tanggal 15 Oktober 1977 sama Peraturan Daerah Propinsi Daerah TK I Sumatera Barat No.1 tahun 1982 tentang Lumbung Pitih Nagari, maka berdirilah Lembaga Simpan Pinjam di Nagari Padang Magek yang bernama Lumbung Pitih Nagari (LPN) Padang Magek.
Kemudian Perda tahun 1988 berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.1064/KMK.00/1988 tanggal 27 Oktober 1988 (Pakto 1988) sama Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.279/KMK.01/1989 tanggal 25 Maret 1989 tentang pendirian dari usaha Bank Perkreditan Rakyat. Lembaga dana dan kredit pedesaan diberi status sebagai Bank Perkreditan Rakyat termasuk Lumbung Pitih Nagari di Sumatera Barat.
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan diatas, Lumbung Pitih Nagari Padang Magek melalui surat No.08/LPN-P/PM/1990 tanggal 31 Januari 1990 mengajukan permohonan pengukuhan izin usaha Lumbung Pitih Nagari menjadi Bank Perkreditan Rakyat yang diperkuat oleh surat Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Barat.
a) No. 143/222/Pemdes-1990 tanggal 9 Maret 1990 b) No. 143/287/Pemdes-1990 tanggal 4 Agustus 1990 c) No. 581/2158/Perek-1990 tanggal 20 September 1990 d) No. 143/2606/Pemdes-1990 tanggal 8 Oktober 1990
Mengenai penerusan permohonan Pengukuhan Izin Usaha Lumbung Pitih Nagari sebagai Bank Perkreditan Rakyat.
Pada tanggal 25 Oktober 1990 Lumbung Pitih Nagari Padang Magek berubah menjadi Bank Perkreditan Rakyat Lumbung Pitih Nagari berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. Kep-449/KM.13/1990 tentang Pemberian Izin Usaha sebagai Bank Perkreditan Rakyat Lumbung Pitih Nagari (BPR LPN) Padang Magek, maka berjalan operasional Bank sampai saat sekarang dan berdasarkan Keputusan Departemen Kehakiman Republik Indonesia Direktorat Jendral Hukum dan Perundang-Undangan No. C2 12.D11HT.01.01.TH.97 menjadi Perusahaan Terbatas, maka menjadi PT. BPR LPN Padang Magek.
2. Visi dan Misi a. Visi
Visinya adalah menjadikan Bank Perkreditan Rakyat yang mampu menjalankan fungsinya dalam memberikan layanan perbankan kepada masyarakat dengan baik, dengan menggunakan prinsip kehatian-hatian dan mengutamakan kepuasan nasabah serta selalu menjunjung tinggi kepercayaan yang telah diberikan masyarakat.
b. Misi:
1) Menjalankan aktivitas BPR yang unggul dengan mengutamakan pelayanan kepada usaha mikro, kecil dan menengah untuk menunjang peningkatan ekonomi rakyat kecil.
2) Memberikan pelayanan prima kepada nasabah.
3) Mengembangkan sumber daya manusia profesional.
4) Memberikan keuntungan yang maksimal bagi segenap stakeholder.
3. Struktur Organisasi PT. BPR LPN Padang Magek Gambar 3. 1
Struktur Organisasi
B. Pembahasan
Berdasarkan data yang penulis dapatkan, melalui wawancara dengan pihak Direktur yaitu H.Suhaili Anwar,SE. Aturan disiplin kerja dan Faktor yang mempengaruhi disiplin kerja pada PT. BPR-LPN Padang Magek adalah:
1. Aturan Disiplin Kerja pada PT. BPR-LPN Padang Magek
a) Hari kerja Senin sampai dengan Jumat dengan jam masuk kerja08.00 WIB, istirahat kerja jam 12.00-13.00 WIB, dan pulang kerja jam 17.00 WIB dengan mesin absen sesuai dengan aturan ketenagakerjaan yang sama halnya dengan perusahaan lain.
b) Semua karyawan berpakaian seperti seragam wajib Senin dengan Kamis, selain hari itu bebas.
c) Karyawan yang melanggar aturan seperti keterlambatan masuk kerja dan ketidakhadiran, karyawan diberi sanksi dikurangi absennya dan dikurangi uang makan. Namun dampak sanksi dan pengaruhnya bagi karyawan pada PT. BPR-LPN Padang magek karena setiap keterlambatan pendapatannya atau gaji yang diterima akan berkurang.
d) Pengambilan cuti bagi karyawan yang sudah bekerja lebih 1 tahun selama 2 minggu.
e) Aturan disiplin kerja pada PT. BPR-LPN Padang Magek hanya secara lisan, permasalahannya belum ada aturan disiplin kerja secara tertulis.
2. Faktor yang Mempengaruhi Disiplin Kerja Pada PT. BPR-LPN Padang Magek.
Berdasarkan teori menurut Malayu Hasibuan mengenai faktor yang mempengaruhi disiplin kerja, maka penulis mengacu pada tujuh teori tersebut yang diantaranya:
a. Tujuan dan kemampuan
Tujuan dan kemampuan ikut mempengaruhi tingkat kedisiplinan pegawai. Tujuan yang akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara
ideal, serta cukup menantang bagi kemampuan pegawai. Hal ini berarti bahwa tujuan (pekerjaan) yang dibebankan kepada pegawai harus sesuai dengan kemampuan pegawai bersangkutan, agar dia bekerja dengan sungguh-sungguh dan disiplin dalam mengerjakannya.
(Sinambela, 2017, hal. 357)
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti bahwa karyawan pada PT. BPR-LPN Padang Magek bekerja sesuai dengan bidang dan kemampuannya masing-masing, tetapi kedisiplinannya kurang efektif, dilihat dari ketidakhadiran karyawan dan masih ada karyawan yang terlambat untuk datang tepat waktu.
b. Teladan pemimpin
Teladan pemimpin sangat berperan dalam menentukan kedisiplinan karyawan karena pimpinan dijadikan teladan dan panutan oleh para bawahannya atau para karyawan, dengan teladan pimpinan yang baik, kedisiplinan karyawan pun akan ikut baik tetapi jika teladan pimpinan kurang baik (kurang disiplin), karyawan pun akan kurang disiplin atau tidak disiplin. (Suroyo, 2016, hal. 7)
Bedasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti adalah Dari segi keteladanan waktu seperti pimpinan datang lebih awal atau tepat waktu dibandingkan karyawan. Dari sikap inilah pimpinan mencontohkan sikap disiplin waktu terhadap karyawan. Meskipun pimpinan terkadang terlambat masuk, tetapi dengan alasan tertentu.
Sedangkan wawancara dengan karyawan mengatakan bahwa karyawan lebih awal datang atau tepat waktu dibandingkan pimpinan.
Dari segi inilah kurangnya kedisiplinan yang baik pada PT. BPR-LPN Padang Magek.
c. Balas jasa
Balas jasa (gaji) ikut mempengaruhi kedisiplinan pegawai karena balas jasa akan memberikan kepuasan dan kecintaan pegawai terhadap perusahaan. Apabila kecintaan pegawai semakin baik terhadap pekerjaan, kedisiplinan mereka akan semakin baik pula. Balas jasa
berperan penting untuk menciptakan kedisiplinan pegawai. Artinya semakin besar balas jasa maka semakin baik pula kedisiplinan pegawai. Sebaliknya, apabila balas jasa kecil maka kedisiplinan pegawai menjadi rendah. Pegawai sulit untuk berdisiplin baik selama kebutuhan-kebutuhan primernya tidak terpenuhi dengan baik.
(Sinambela, 2017, hal. 357)
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti bahwa saat ini belum ada penghargaan (reward) atau tunjangan gaji yang diberikan kepada karyawan yang disiplinnya baik, sehingga belum terciptakanya kedisiplinan yang baik pada karyawan PT. BPR-LPN Padang Magek.
d. Keadilan
Keadilan ikut mendorong terwujudnya kedisiplinan pegawai karena ego dan sifat manusia yang selalu merasa dirinya penting, dan diperlakukan sama dengan manusia lainnya. Keadilan yang dijadikan dasar kebijaksanaan dalam pemberian balas jasa (pengakuan) atau hukuman, akan merangsang terciptanya kedisiplinan pegawai yang baik. Seorang manajer yang cakap dalam memimpin selalu berusaha bersikap adil terhadap semua bawahannya. Dengan keadilan yang baik, akan menciptakan kedisiplinan yang baik pula. Jadi, keadilan harus diterapkan dengan baik pada setiap perusahaan agar kedisiplinan pegawai perusahaan baik pula. (Sinambela, 2017, hal. 357)
Berdasakan hasil wawancara yang dilakukan peneliti bahwa pimpinan PT. BPR-LPN Padang Magek belum adanya penghargaan dan tunjangan gaji bagi karyawan yang disiplinnya baik, melainkan karyawan yang disiplin dan tidak disiplin gaji yang diterima sama.
e. Pengawasan
Tindakan nyata dan paling efektif dalan mewujudkan kedisiplinan pegawai perusahaan. Dengan pengawasan berarti atasan harus aktif dan langsung mengawasi perilaku, moral, sikap, semangat kerja dan prestasi kerja bawahannya. Hal ini berarti atasan harus selalu hadir di
tempat kerja untuk mengawasi dan memberikan petunjuk jika ada bawahannya yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Kepengawasan lebih efektif dalam meransang kedisiplinan dan moral kerja pegawai. Pegawai merasa mendapat perhatian, bimbingan, petunjuk, pengarahan, dan pengawasan dari atasannya.(Sinambela, 2017, hal. 357)
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti bahwa pihak direktur selalu melakukan pengawasan terhadap kinerja karyawan, seperti melakukan pengecekan ulang laporan keuangan yang diberikan karyawan pada setiap harinya dan laporan tersebut dibukukan langsung setiap sorenya.Direktur juga memantau karyawan yang melanggar aturan seperti keterlambatan masuk kerja dan ketidakhadiran karyawan maka diberi sanksi dikurangi absennya dan dikurangi uang makan
f. Ketegasan
Ketegasan pimpinan dalam melakukan tindakan akan mempengaruhi kedisiplinan pegawai perusahaan. Pimpinan harus berani dan tegas bertindak untuk menghukum setiap pegawai yang indisipliner sesuai dengan sanksi hukuman yang telah ditetapkan.
Pimpinan yang berani menindak tegas dalam menerapkan hukuman bagi pegawai yang indisipliner akan disegani dan diakui kepemimpinannya oleh bawahannya. Dengan demikian, pimpinan akan memelihara kedisiplinan pegawai perusahaan.(Sinambela, 2017, hal. 358)
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti bahwa pimpinan melakukan teguran bagi karyawan yang melanggar aturan yang telah ditetapkan, seperti keterlambatan dan ketidakhadiran maka akan diberi teguran secara lisan dan bila terulang kembali maka akan diberikan surat peringatan.
g. Hubungan Kemanusiaan
Hubungan kemanusiaan yang harmonis diantara sesama pegawai ikut menciptakan kedisiplinan yang baik pada suatu perusahaan.
Hubungan-hubungan baik bersifat vertikal dan horizontal. Seorang manajer harus berusaha menciptakan suasana kemanusiaan yang serasi serta memikat baik secara vertikal maupun horizontal. Dengan terciptanya human relationship yang serasi akan mewujudkan lingkungan dan suasana kerja yang nyaman. (Sinambela, 2017, hal.
358)
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti bahwa terjalinnya hubungan yang harmonis antara atasan dengan bawahan dan sesama karyawan, maka dapat menciptakan kedisiplinan yang baik sehinggatercapainya tujuan perusahaan.
Berdasarkan tujuh faktor yang mempengaruhi disiplin kerja pada PT. BPR-LPN Padang Magek, yang paling berpengaruh adalah balas jasa dan keadilan yang mana sampai saat ini belum ada penghargaan (reward) dan tunjangan gaji bagi karyawan yang disiplinnya baik, sehingga tidak memotivasi karyawan untuk disiplin dalam bekerja pada PT. BPR-LPN Padang Magek.
Dalam meningkatkan kedisiplinan karyawan adalah seharusnya ada tambahan gaji bagi karyawan yang disiplinnya baik, agar karyawa termotivasi dalam kedisiplinan. Namun adanya faktor pada disiplin kerja yaitu beberapa faktor yang mempengaruhi disiplin kerja pada PT. BPR-LPN Padang Magek, yang paling berpengaruh adalah balas jasa dan keadilan yang mana sampai saat ini belum ada penghargaan (reward) dan tunjangan gaji bagi karyawan yang disiplinnya baik, sehingga tidak memotivasi karyawan untuk disiplin dalam bekerja padaPT. BPR-LPN Padang Magek. Sedangkan Sanksi hukum dan ketegasan yang ditetapkan pada PT. BPR-LPN Padang Magek masih biasa, dilihat dari masih banyak karyawan yang melanggar aturan seperti absensi yang mana sanksi yang ditetapkan adalah dikurangi absensinya dan juga dikurangi uang makannya. Karena dilihat dari sanksi yang ditetapkan perusahaan masih
ringan, oleh sebab itu banyak karyawan yang melanggar aturan yang mana telah ditetapkan oleh perusahaan itu sendiri, sehingga tidak menimbulkan efek jera terhadap karyawan yang melanggar.
Dampak perusahaan terhadap disiplin dapat berpengaruh pada besar gaji yang diberikan, adanya aturan yang tertulis yang mana aturan tersebut di pasang di tempat-tempat tertentu untuk mengingatkan pada karyawan akan peraturan yang telah diterapkan, adanya sanksi yang nyata, peran atasan yang mana atasan harus tegas dan selalu memberikan motivasi kepada karyawan agar karyawan bekerja dengan baik. Penelitian ini membahas tentang manajemen disiplin kerja karyawan pada PT. BPR LPN Padang Magek, dimana seluruh karyawan PT. BPR LPN Padang Magek berjumlah 15 orang yang dijadikan sebagai objek yang diteliti.
Adapun teknik yang dilakukan dalam penelitian ini berupa wawancara terbuka. Untuk mendapatkan data yang sesuai dengan penelitian ini, maka penulis melakukan wawancara dengan direktur dan karyawan 07 Agustus 2019 dan 08 Agustus 2019 dengan daftar wawancara yang terlampir.
Manajemen dalam sebuah perusahaan akan dapat memperbaiki kinerja perusahaan jika memiliki disiplin kerja yang baik untuk membantu perusahaan dalam mencapai hasil yang maksimum dari usaha yang dijalankan PT. BPR-LPN Padang Magek.
75 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan pada bab sebelumnya terkait dengan penelitian pada PT. BPR-LPN Padang Magek dalam manajemen disiplin kerja karyawan dapat diambil kesimpulan bahwa
1. Aturan disiplin kerja pada PT. BPR-LPN Padang Magek:
a. Hari kerja Senin sampai dengan Jumat dengan jam masuk kerja08.00 WIB, istirahat kerja jam 12.00-13.00 WIB, dan pulang kerja jam 17.00 WIB dengan mesin absen sesuai dengan aturan ketenagakerjaan yang sama halnya dengan perusahaan lain.
b. Semua karyawan berpakaian seperti seragam wajib Senin dengan Kamis, selain hari itu bebas.
c. Karyawan yang melanggar aturan seperti keterlambatan masuk kerja dan ketidakhadiran, karyawan diberi sanksi dikurangi absennya dan dikurangi uang makan. Namun dampak sanksi dan pengaruhnya bagi karyawan pada PT. BPR-LPN Padang magek karena setiap keterlambatan pendapatannya atau gaji yang diterima akan berkurang.
d. Pengambilan cuti bagi karyawan yang sudah bekerja lebih 1 tahun selama 2 minggu.
e. Aturan disiplin kerja pada PT. BPR-LPN Padang Magek hanya secara lisan, permasalahannya belum ada aturan disiplin kerja secara tertulis.
Jadi, Karyawan yang melanggar aturan disiplin seperti keterlambatan masuk kerja dan ketidakhadiran, karyawan diberikan sanksi dikurangi absennya dan dikurangi uang makan. Namun dampak sanksi dan pengaruhnya bagi karyawan pada PT. BPR-LPN Padang Magek karena
setiap keterlambatan pendapatannya atau gaji yang diterima akan berkurang.
2. Faktor yang mempengaruhi disiplin kerja pada PT. BPR-LPN Padang Magek
a. Tujuan dan Kemampuan
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti bahwa karyawan pada PT. BPR-LPN Padang Magek bekerja sesuai dengan bidang dan kemampuannya masing-masing, tetapi kedisiplinannya kurang efektif, dilihat dari ketidakhadiran karyawan dan masih ada karyawan yang terlambat untuk datang tepat waktu.
b. Teladan pemimpin
Bedasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti adalah Dari segi keteladanan waktu seperti pimpinan datang lebih awal atau tepat waktu dibandingkan karyawan. Dari sikap inilah pimpinan mencontohkan sikap disiplin waktu terhadap karyawan. Meskipun pimpinan terkadang terlambat msuk, tetapi dengan alasan tertentu.
Sedangkan wawancara dengan karyawan mengatakan bahwa karyawan lebih awal datang atau tepat waktu dibandingkan pimpinan.
Dari segi inilah kurangnya kedisiplinan yang baik pada PT. BPR-LPN Padang Magek.
c. Balas jasa
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti bahwa saat ini belum ada penghargaan (reward) atau tunjangan gaji yang diberikan kepada karyawan yang disiplinnya baik, sehingga belum terciptakanya kedisiplinan yang baik pada karyawan PT. BPR-LPN Padang Magek.
d. Keadilan
Berdasakan hasil wawancara yang dilakukan peneliti bahwa pimpinan PT. BPR-LPN Padang Magek belum adanya pengharagaan dan tunjangan gaji bagi karyawan yang disiplinnya baik, melainkan karyawan yang disiplin dan tidak disiplin gaji yang diterima sama.
e. Pengawasan
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti bahwa pihak direktur selalu melakukan pengawasan terhadap kinerja karyawan, seperti melakukan pengecekan ulang laporan keuangan yang diberikan karyawan pada setiap harinya dan laporan tersebut dibukukan langsung setiap sorenya.Direktur juga memantau karyawan yang melanggar aturan seperti keterlambatan masuk kerja dan ketidakhadiran karyawan maka diberi sanksi dikurangi absennya dan dikurangi uang makan
f. Ketegasan
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti bahwa pimpinan melakukan teguran bagi karyawan yang melanggar aturan yang telah ditetapkan, seperti keterlambatan dan ketidakhadiran maka akan diberi teguran secara lisan dan bila terulang kembali maka akan diberikan surat peringatan.
g. Hubungan Kemanusiaan
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti bahwa terjalinnya hubungan yang harmonis antara atasan dengan bawahan dan sesama karyawan, maka dapat menciptakan kedisiplinan yang baik sehinggatercapainya tujuan perusahaan.
Berdasarkan tujuh faktor yang mempengaruhi disiplin kerja pada PT. BPR-LPN Padang Magek, yang paling berpengaruh adalah balas jasa dan keadilan yang mana sampai saat ini belum ada penghargaan (reward) dan tunjangan gaji bagi karyawan yang disiplinnya baik, sehingga tidak memotivasi karyawan untuk disiplin dalam bekerja pada PT. BPR-LPN Padang Magek.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian tentang manajemen disiplin kerja pada PT. BPR-LPN Padang Magek, maka penulis dapat memberikan saran yaitu:
1. Bagi PT. BPR LPN Padang Magek
a. Pemimpin perusahaan seharusnya melakukan peraturan secara konsisten dan tertulis kepada karyawan yang tidak mematuhi peraturan sesuai yang telah diterapkan bersama secara tertulis.
b. Karyawan yang melanggar aturan seperti keterlambatan masuk kerja dan ketidakhadiran, karyawan diberi sanksi dikurangi absennya dan dikurangi uang makan. Namun dampak sanksi dan pengaruhnya bagi karyawan pada PT. BPR-LPN Padang magek karena setiap keterlambatan pendapatannya atau gaji yang diterima akan berkurang.
c. PT. BPR-LPN Padang Magek sebaiknya dapat memperbaiki disiplin kerja yang kurang baik untuk selanjutnya, seperti keterlambatan masuk kerja dan ketidakhadiran kerja karyawan.
d. Memberikan kompensasi atau tunjangan gaji pada karyawan yang disiplinnya baik, agar karyawan termotivasi untuk bekerja pada PT.
BPR-LPN Padang Magek.
2. Bagi penulis selanjutnya
Diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian dengan menggunakan atau menambah beberapa manajemen disiplin kerjayang belum dimasukkan dalam penelitian. Selain itu, peneliti selanjutnya juga dapat melakukan penelitian untuk melihat seberapa baik manajemen disiplin kerja agar tidak ada karyawan yang melanggar aturan yang telah diterapkan oleh perusahaan.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Astutik, M. (2016). Pengaruh Disiplin Kerja dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pegawai Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Jombang . Jurnal Bisnis, Manajemen dan Perbankan , Vol. 2, No.2
Helmi, A. F. (1996). Disiplin Kerja. Buletin Psikologi, Tahun 4, Nomor 2 , 34.
IAIN Batusangkar. (2017). Pedoman Penulisan Skripsi. Batusangkar: STAIN Batusangkar Press.
Mangkunegara, A. P. (2016). Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mohammad Iman Tindow, D. (2014). Disiplin Kerja, Motivasi Dan Kompensasi Pengaruhnya Terhadap Kinerja Karyawan . Jurnal EMBA Vol. 2. No. 2 Juni Pasrizal, H. (2015). Pengantar Manajemen. Yogyakarta: STAIN Batusangkar
Press.
Prihantoro, A. (2012). Peningkatan Kinerja Sumber Daya Manusia Melalui Motivasi, Disiplin, Lingkungan Kerja dan Komitmen. Unimus , Vol. 8, No.2.
Wawancara PT. BPR LPN Padang Magek
Rahcmawati, I. K. (2008). Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: CV.
ANDI OFFSET.
Setiawan, A. (2013). Pengaruh Disiplin Kerja Dan Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan . Jurnal Ilmu Manajamen/ Volume 1 No. 4 Juli .
Sinambela, L. P. (2017). Manajemen Sumber Daya Manusia . Jakarta: Bumi Aksara.
Sopian, I. (2018). Disiplin Kerja Pegawai Dalam Meningkatkan Produktivitas Kerja Pegawai. Jurnal Irpan Sopian.
Sugiyono. (2014). Metodologi Penelitian Kuantitaf, Kualitatif, dan Kombinasi (Mixed Method). Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. (2010). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Sulaefi. (2017). Pengaruh Pelatihan dan Pengembangan Terhadap Disiplin Kerja dan Kinerja Karyawan. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, vol, 5, No.
1 .
Suroyo. (2016). Kedisiplinan Yang Berdampak Pada Produktivitas Kerja Karyawan. Jurnal Parameter .
Telmanier, L. M. (2018). Pengaruh Budaya Organisasi Dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Karyawan . Ilmu Manajemen Volume 6 Nomor 1 , 3.