• Tidak ada hasil yang ditemukan

Macam-Macam Munasabah

Dalam dokumen Ulumul Qur'an : (Ilmu-ilmu Al-Qur'an) (Halaman 80-92)

MUNASABAH AL-QUR’AN

D. Macam-Macam Munasabah

Munasabah atau persesuaian atau persambungan atau kaitan bagian al-Qur’an yang satu dengan yang lain itu bisa bermacam-macam, jika dilihat dari berbagai seginya.

a. Macam-macam sifat munasabah

Jika ditinjau dari sifat munasabah atau keadaan persesuaian dan persambungannya, maka munasabah itu ada dua macam, yaitu :

1) Persesuaian yang nyata (dzāhirul irtibath) atau persesuaian yang tampak jelas, yaitu yang persambungan atau per-se suaian antar bagian al-Qur’an yang satu dengan yang lainnya tampak jelas dan kuat, karena kaitan kalimat yang satu dengan yang lainnya erat sekali, sehingga yang satu tidak bisa menjadi kalimat yang sempurna, jika dipisahkan dengan kalimat yang lain. Maka deretan beberapa ayat yang menerangkan sesuatu materi itu kadang-kadang ayat yang satu berupa penguat, penafsir, penyambung, penjelas, pengecualian atau pembatas dari ayat yang lain. Contoh persambungan antar ayat 1 surah al-Isrā :

Artinya : “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepada mereka sebagian tanda-tanda kebesaran kami. Sesungguhnya Dia maha mendengar lagi maha melihat”.

Ayat tersebut menerangkan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan di dalam ayat 2 surat al-Isra Allah berfirman :

Ayat ini menjelaskan diturunkannya kitab Taurad kepada Nabi Musa a.s. Persesuaian antar keduanya ialah tampak jelas diutusnya kedua orang nabi/rasul tersebut.

2) Persambungan yang tidak jelas (khafiyul irthibath) atau samarnya persesuaian antara bagian al-Qur’an dengan yang lain, sehingga tidak nampak adanya pertalian untuk keduanya, bahkan seolah-olah masing-masing berdiri sendiri, baik karena ayat satu itu di athafkan kepada yang lain, atau karena yang satu bertentangan dengan yang lain. Sebagai contoh antara ayat 189 surat al-Baqarah dengan ayat 190 surat al-Baqarah. Ayat 189 pada surat al-Baqarah berbunyi :

Artinya : “Maka bertanya kepadamu tentang bulan sabit.

Katakanlah bulan tsabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi) ibadah haji”.

Ayat tersebut menerangkan bulan tsabit atau tanggal-tanggal untuk tanda-tanda waktu dan untuk jadwal ibadah haji sedang ayat 190 surat al-Baqarah berbunyi:

Artinya : “Dan perangilah dijalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) jalanganlah kalian melam-paui batas.”

Ayat tersebut menerangkan perintah menyerang kepada orang-orang yang menyerang umat Islam. Sepintas, antara kedua ayat tersebut seperti tidak ada hubungannya atau hubungannya samar. Padahal sebenarnya ada hubungnan antara keduanya, yaitu ayat 189 al-Baqarah mengenai soal waktu untuk haji, sedang ayat 190 perintah perang. Sebe-narnya waktu haji umat Islam dilarang berperang, tetapi jika ia diserang lebih dahulu, maka serangan-serangan musuh itu harus dibalas, walaupun pada musim haji.

b. Macam-macam materi munasabah

Ditinjau dari segi materinya, maka munasabah itu ada dua macam, sebagai berikut :

1) Diathafkan ayat yang satu kepada ayat yang lain seperti munasabah antar ayat 103 surat Ali Imran :

Artinya : Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali

(agama) Allah dan janganlah kalian bercerai berai.”

dengan ayat 102 surat Ali Imran :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

Faidah dari munasabah dengan athaf ini ialah untuk menjadikan dua ayat tersebut sebagai dua hal yang sama

(An-Nadzīrani). Ayat 102 surat Ali Imran menyuruh bertakwa dan ayat 103 Ali Imran menyuruh berpegang teguh kepada agama Allah, ada hal yang sama.

2. Tidak diathafkan ayat yang satu kepada yang lain seperti munasabah antar ayat 11 surah Ali Imran :

Artinya : «Keadaan mereka) adlah sebagai keadaan kaum firaun dan orangorang yang sebelumnya, mereka mendustakan ayat-ayat kami.».

dengan ayat 10 surat Ali Imran :

Artinya : «Sesungguhnya orang-orang kapir, harta benda dan anak-anak mereka sedikit pun tidak dapat menolak (siksa) Allah dar mereka. Dan Mereka itulah bahan bakar api neraka.»

Dalam munasabah ini, tampak hubungan yang kuat antara ayat yang kedua (ayat 11 Ali Imran) dengan ayat sebe-lumnya (ayat 10 Ali Imran), sehingga ayat 11 itu dianggap sebagai bagian kelanjutan dari ayat 10.

3) Digabung dua hal yang sama, seperti persambungan antara ayat 5 surat al-Anfāl :

Artinya : « Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesunguhnya sebagian dari orang-orng yang beriman itu tdak menyukainya.»

dengan ayat 4 surat al-Anfāl:

Artinya : «Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian disisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.»

Kedua ayat ini sama-sama menerangkan tentang kebenaran. Ayat 5 surat al-Anfāl itu menerangkan kebenaran bahwa Nabi diperintahkan hijrah dan ayat 4 surat Al-Anfāl tersebut menerangkan kebenaran status mereka sebagai kaum muslimin.

4) Dikumpulkan dua hal yang kontradiktif (al-Mutashaddatu). Seperti dikumpulkan ayat 95 surah al-›Araf :

Artinya : «Kemudian kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta ereka bertambah banyak, dan mereka berkata: Sesunguhnya nenek moyang kami pun telah merasakan penderitaan dan kesenangan.» dengan ayat 94 surat al-’Araf :

Artinya : Kami tidaklah mengutus seseorang Nabipun kepada suatu negeri , (lalu penduduknya mendustakan nabi itu) melainkan kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.».

Ayat 94 surat al-A›rāf tersebut menerangkan ditim-pakannya kesempitan dan penderitaan kepada penduduk, tetapi ayat 95 menjelaskan kesusahan dan kesempitan itu diganti dengan kesenangan.

5) Dipindahkan satu pembicaraan ayat 55 surat Shād

Artinya : «Beginilah (keadaan mereka). Sesungguhnya bagi orang-orang yang durhaka, benar-benar (disediakan) tempat kembali yang buruk.»

Dialihkan pembicaraan kepada nasib orang-orang yang durhaka yang benar-benar akan kembali ke tempat yang buruk, dan pembicaraan ayat 54 surah Shād yang mem bi-carakan rejeki dari para ahli surga:

Artinya : «Sesungguhnya ini adalah benar-benar rezeki dari kami yang tiada habis-habisnya.»

b). Munasabah antar surah, yaitu munasabah atau persambungan antar surah yang satu dengan surah yang lain.

Munasabah kedua ini ada beberapa bentuk, sebagai berikut : 1) Munasabah antar dua surah dalam soal materinya, yaitu

lain. Contoh, seperti surah kedua al-Baqarah sama dengan isi surah yang pertama al-Fatihah. Keduanya sama-sama mene rangkan tiga hal kandungan al-Qur›an, yaitu masalah akidah, ibadah, muamalah, kisah dan janji serta ancaman. Dalam surat al-Fatihah semua itu diterangkan secara ringkas, sedang dalam surat al-Baqarah dijelaskan dan dirinci secara panjang lebar.

2) Persesuaian antara permulaan surah dengan penutupnya surah sebelumnya. Sebab, semua pembukaan surah itu erat kaitannya dengan akhiran dari surah sebelumnya, sekalipun sudah dipisah dengan basmalah. Contohnya seperti awal dari surah al-An’ām ayat 1 yang berbunyi :

Artinya : Segala puji bagi Alah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menjadikan gelap dan terang.”

Awalan surah al-An’ām tersebut sesuai dengan akhiran surah al-Māidah 120 yang berbunyi :

Artinya : «Kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada didalamnya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.»

Dan seperti antara awalan surah al-Hadīd ayat 1 yang berbunyi sebagai berikut :

Artinya : Bertasbih kepada Allah semua yang berada di langit dan dibumi.

Awalan surah al-Hadīd ayat 1 tersebut sesuai dengan akhiran surah al-Wāqi’ah ayat 96 :

Artinya : «Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nma Tuhanmu Yang Maha Besar.»

Dan seperti awalan surah al-Quraisy :

Artinya : «Karena kebiasaan orang-orang Quraisy.»

Awalan surah al-Quraisy tersebut sesuai dengan surah al-Fīl :

Artinya : “lalu Dia menjadikan mereka seperti daun daun yang

dimakan ulat.”

3). Persesuaian antara pembukaan dan akhiran sesuatu surah. Sebab semua ayat dari sesuatu surah dari awal sampai akhir itu selalau bersambung dan bersesuaian. Contohnya, seperti persesuaian antara awal surah al- Baqarah :

Artinya : «Alif, Lam, Mim. Kitab (Alqur›an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.» Awal surah al-Baqarah tersebut sesuai dengan akhiran al-Baqarah 286 yang selalu memerintahkan supaya berdo’a agar tidak disiksa Allah, bila lupa atau bersalah :

Artinya : «Beri maaflah kami, ampunilah kami, dn rahmatilah kami, Engkau penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum-kaum kafir.»

Dan seperti persesuaian antara awal surah Al-Mukminun : yang menjanjikan orang yang beriman itu akan berbahagia, dengan akhiran surah tersebut :

yang menegaskan bahwa orang-orang yang tidak beriman itu tidak akan berbahagia. 13

Rasihan Anwar, (1999). dalam bukunya Mutiara Ilmu-Ilmu Al-Qur’an menyebutkan bahwa di dalam al-Qur’an sekurang-kurangnya terdapat 8 macam munasabah, yaitu: a) Munasabah antara satu surat dengan surat sebelumnya

Menurut pendapat Al-Suyuthi bahwa munasabah antar satu surat dengan surat sebelumnya memiliki fungsi menerangkan ungkapan pada surat sebelumnya dan memiliki fungsi menerangkan ungkapan pada surat sebelumnya sebagai contoh al-Qur’an surat al-Baqarah (152), yang berbunyi:

Artinya: “ karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat (pula) padamu, dan bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah kamu mengingkari (ni’mat) Ku.

b) Munasabah antara nama surat dengan tujuan turunnya Setiap surat mempunyai tema pembicaraan yang me nonjol, dan itu tercermin pada namanya masing seperti surat al-Baqarah, surat Yusuf, surat an-Naml dan surat al-Jin. Tujuan dari surat al-Baqarah adalah ten tang keesaan dan kekuasaan Allah. Surat an-Naml menonjolkan cerita tentang semut dan surat al-Jin tentang jin.

c). Munasabah antar kalimat dalam suatu ayat.

Kadang munasabah jenis ini tampak dan mudah untuk dikenali, tapi kadang sebaliknya. Kadang muna-sabah jenis ini tampak dan mudah untuk dikenali, tapi ka dang sebaliknya. Yang pertama biasanya ditan dai dengan adanya huruf. Dalam hal ini kita ha rus mem-per hatikan dan munasabah antar keduanya dapat dilihat dari bentuk al-Tadhadat (perlawanan) seperti ungkapan rah mat dengan azab dan janji sebagai contohnya dilihat pada surat al-Hadīd ayat 4:

”Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam diatas Arsy, Dia mengetahui apa yang masuk ke bumi dan turun dari langit dan apa yang naik kepadaNya. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan. ( QS. al-Hadīd : 4 )

Antara kata yaliju (masuk) dan yakhruju (keluar) serta katayanjilu (turun) dan ya’ruju (naik) terdapat korelasi

perlawanan. Contoh lainnya adalah kata al-Adzab dan ar-Rahman dan janji baik setelah ancaman.14

d) Munasabah antar ayat yang letaknya berdampingan Munasabah antar ayat menggunakan pola tafsir apa bila makna satu ayat atau bagian ayat tertentu ditaf-sirkan oleh ayat atau bagian ayat disampingnya. Seba-gian contoh kata muttaqin pada surat al-Baqarah ayat 2, ditafsirkan maknanya oleh ayat ketiga.

Munasabah antar ayat menggunakan pola satu ayat atau bagian ayat mempertegas arti ayat yang terletak disampingnya. Contohnya ungkapan ashshirath al-mustaqim pada surat al-Fatihah ayat 6 dipertegas oleh ungkapan shirathalladzina… ….

e) Munasabah antara suatu kelompok ayat dengan

kelompok ayat di sampingnya.

Dalam surat al-Baqarah ayat 1 s/d ayat 20, umpamanya Allah memulai penjelasanNya tentang kebenaran dan fungsi al-Qur’an bagi orang-orang yang bertaqwa.

f) Munasabah antar fashilah ( pemisah ) dan isi ayat Jenis munasabah ini mengandung tujuan tertentu. Diantaranya adalah menguatkan (tamkin) makna yang terkandung dalam suatu ayat contohnya dalam surat al-Ahzāb [33] ayat 25,:

14 Rosihan Anwar, Mutiara Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Bandung: Pustaka Setia, 1999. hlm., 92

Artinya : “Dan Allah menghalau orang-orang yang kapir itu yang keadan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Dalam ayat ini Allah menghindarkan orang-orang mukmin dalam peperangan, bukan menganggapnya lemah, melainkan karena Allah maha kuat dan maha perkasa. Jadi, adanya fashilah diantara kedua penggalan ayat dimaksudkan agar pemahaman terhadap ayat tersebut manjadi lurus dan sempurna.

g) Munasabah antar awal surat dengan akhir surat yang sama

Contoh munasabah ini terdapat dalam surat al-Qashash yang diawali dengan penjelasan perjuangan Nabi Musa ketika berhadapan dengan kekejaman Fir’aun atas perintah dan pertolongan Allah, Nabi Musa ber hasil keluar dari Mesir setelah mengalami berbagai tekanan. Dalam awal surat ini juga menjelaskan bahwa Nabi Musa tidak akan menolong orang yang kafir. Pada akhir surat, Allah menyampaikan kabar gembira kepada Nabi Muhammad yang menghadapi tekanan dari kaumnya dan janji Allah atas kemenangannya..

h) Munasabah antara penutup suatu surat dengan awal surat berikutnya.

Jika memperhatikan setiap pembukaan surat, kita akan menjumpai munasabah dengan akhir surat sebe-lum nya, sekalipun tidak mudah untuk mencarinya, con tohnya pada permulaan surat al-Hadīd ayat dimulai dengan tasbih.

Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ayat ini bermunasabah dengan akhir surat sebe-lumnya, al-Wāqiah ayat 96 yang memerintahkan ber-tasbih.

Maka bertasbihlah dengan nama Tuhanmu yang maha Agung

Dalam dokumen Ulumul Qur'an : (Ilmu-ilmu Al-Qur'an) (Halaman 80-92)