• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Muhkam dan Mutasyabih

Dalam dokumen Ulumul Qur'an : (Ilmu-ilmu Al-Qur'an) (Halaman 131-135)

MUHKAM WA MUTASYABIH

B. Pengertian Muhkam dan Mutasyabih

Kata “muhkam” dan “mutasyabih” adalah bentuk mudzakkar, digunakan untuk mensifati kata-kata yang mudzakkar, Seperti ungkapan al-Qur’an yang muhkam atau yang mutasyabih. Sedang-kan kata “muhkamah” dan “mutasyabihat” adalah bentuk mu’annats untuk mensifati kata yang juga mu’annats, seperti surah dan ayat muhkamah atau mutasyabihat. Al-Qur’an menampilkan kata “muhkam” yang terkait dengannya sebanyak tiga kali dalam bentuknya yang berbeda beda, yaitu: muhkamat, uhkimat, dan muhakkamah. Sementara kata “mutasyabih” dalam berbagai ragam dan bentuknya dikemukakan sebanyak dua belas kali yang terpancar dalam beberapa surah dan ayat al-Qur’an. ‘Ilm Ma’rifah al-Muhkam wa al-Mutasyābih, yaitu ilmu yang menerangkan

tentang ayat-ayat yang dipandang muhkam (jelas) dan ayat-ayat yang dianggap Mutasyābih (tidak jelas).1

Kedua kata tersebut memiliki beragam arti baik secara etimologi maupun terminologi.Secara etimologi kata “muhkam” berasal dari kata “ihkam” yang berarti kekukuhan, kesempurnaan, keseksamaan, dan pencegahan. Semua pengertian ini pada dasarnya kembali kepada satu makna yakni pencegahan.2“Muhkam” dapat berarti sesuatu yang dikukuhkan, jelas, fasih, dan bermaksud mem-bedakan antara informasi yang hak dan yang batil, serta memisah-kan urusan yang lurus dari yang sesat. Itulah sifat yang dimiliki oleh kalam “muhkam” tersebut.

Mutasyābih berasal dari kata tasyabuh, yakni bila salah satu dari dua hal serupa dengan lainnya, yang biasanya dapat membawa kepada kesamaran antara kedua hal itu. “syubhah” ialah keadaan dimana salah satu dari kedua hal tidak dapat dibe-dakan karena adanya kemiripan baik secara konkrit maupun abstrak. Mutasyabih juga kadang-kadang dipadankan dengan muta matsil dalam perkataan dan keindahan. Dengan ungkapan tasyabuh al-kalam dapat di artikan “kesamaan dan kesesuaian dalam perkataan, karena sebagiannya membenarkan sebagian yang lain dalam kesempurnaannya dan sesuai pula dengan makna yang dimaksudkannya.Begitulah ayat al-Qur’an itu disifati oleh ayat yang lain.

Secara terminologi, pengertian muhkam dan mutasyabih terdapat beragam redaksi dan ungkapan yang ditampilkan dikalangan para ulama’ baik mutaqaddimin maupun muta’akhkhirin, antara lain sebagai berikut:

1 Said Agil Husin Al Munawar, Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan

Hakiki,Jakarta:Ciputat Press,2002. hlm 7.LihatjugaAbdul Jalal, Ulumul Qur’an,

Surabaya: DuniaIlmu, 1998, hlm., 239

 Al-Mawardi mengemukakan pendapatnya bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maknanya dapat dipahami akal, seperti bilangan shalat, kekhususan bulan Ramadhan untuk pelaksanaan puasa wajib, sedangkan ayat-ayat mutasyabih sebaliknya.

Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang dapat berdiri sendiri (dalam pemaknaannya), sedangkan ayat-ayat mutasyabih bergantung pada ayat lain.

Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya segera dapat diketahui tanpa penakwilan, sedangkan ayat-ayat mutasyabih memerlukan penakwilan untuk mengetahui maksudnya.

Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang lafal-lafalnya tidak berulang-ulang, sedangkan ayat-ayat mutasyabih sebaliknya.Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang berbicara tentang

kefar-dhuan, ancaman, dan janji, sedangkan ayat-ayat muta syabih berbicara tentang kisah-kisah dan perumpamaan-perumpamaan.  Ibn Abi Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari ‘Ali bin Abi Thalib dari Ibn ‘Abbas yang mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat-ayat yang menghapus (nasikh), berbicara tentang halal-haram, ketentuan-ketentuan (hudud), kefardhuan, serta yang harus di imani dan di amalkan. Adapun ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang menghapus (mansukh),yang berbicara tentang perumpamaan-perumpamaan (amtsal), sum-pah (aqsam), dan yang harus diimani, tetapi tidak harus di amalkan.

 Abdullah bin Hamid mengeluarkan sebuah riwayat dari Adh-Dhadak bin Al-Muzahim (w.105 H) yang mengatakan bahwa ayat muhkam adalah ayat tidak dihapus, sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat-ayat yang dihapus.

 Ibn Abi Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari Muqatil bin Hayyan yang mengatakan bahwa ayat-ayat mutasyabih adalah seperti alif lam mim, alif lam ra’, dan alif lam mim ra’.

 Ibn Abi Hatim mengatakan bahwa ‘Ikrimah (w. 105.). Qatadah bin Du’mah (w. 117 H.), dan yang lainnya mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang harus di imani dan di amalkan, sedangkan ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang harus di imani, tetapi tidak harus di amalkan.3

Ulama golongan ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah mengatakan, muhkam adalah lafal yang diketahui maksudnya, baik karena sudah jelas maknanya maupun karena ditakwilkan. Sedangkan mutasyabih adalah lafal yang maksud dan maknanya hanya diketahui oleh Allah SWT., dan tidak dapat diketahui manusia, seperti saat akan terjadi hari kiamat, maksud dari akan keluarnya jenis binatang melata yang akan berbicara kepada manusia menjelang hari kiamat, makna dari huruf-huruf muqaththa’ah, keluarnya dajjal.4

Mayoritas ulama ahl al-Fiqh mengemukakan, muhkam ialah lafal yang tidak dapat ditakwilkan kecuali hanya satu dari segi makna saja. Mutasyabih ialah lafal yang artinya dapat ditakwilkan kedalam beberapa segi karena masih terdapat kesamaran, seperti masalah surga, dan lain sebagainya.

Ulama kalangan Hanafiyah menandaskan, muhkam ialah lafal yang jelas petunjuknya dan tidak mungkin telah dinasakh. Sedangkan mutasyabih ialah lafal yang sama maksud petun-juknya sehingga tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia atau pun tidak tercantum dalam dalil-dalil nash, sebab ia termasuk hal-hal yang hanya diketahui oleh Allah S.W.T, seperti masalah-masalah ekskatalogi, dan lain lain.

3 Rosihon Anwar, Ulumul Qur’an, Bandung:Pustaka Setia, 2004. hlm 126-127.

Dengan memperhatikan definisi-definisi muhkam-mutasyabih yang ditampilkan oleh para ulama’ di atas maka dapat dikatakan, bahwa muhkam adalah ungkapan yang digunakan oleh al-Qur’an untuk menunjuk ayat yang jelas makna lafalnya, yang diletakkan untuk suatu makna yang kuat dan mudah dipahami. Sementara mutasyabih istilah yang digunakan al-Qur’an untuk menunjuk ayat yang bersifat global dan sukar dipahami, yang membutuhkan takwil dan rincian.5

Dalam dokumen Ulumul Qur'an : (Ilmu-ilmu Al-Qur'an) (Halaman 131-135)