BAB II LANDASAN TEORI
B. Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligences)
4. Macam – macam pengetahuan dalam multiple intellegences
a. Kecerdasan Linguistik
Menurut Gardner (Suparno, 2004: 26) menjelaskan kecerdasan
linguistik sebagai kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata –
kata secara efektif baik secara lisan maupun secara tertulis seperti dimiliki
parapencipta puisi, editor, jurnalis, sastrawan maupun para pemain
sandiwara. Menurut Saraswati (2008: 15) indikator itu adalah senang
bermain dengan kata – kata, suka mendengarkan cerita, menikmati puisi, Suka membaca buku, majalah dan surat kabar, suka bermain teka – teki silang, suka mata pelajaran bahasa Inggris, sejarah dan ilmu sosial,
menyelesaikan masalah dengan berbicara, menjelaskan solusi mengajukan
pertanyaan, menangkap informasi dengan mendengarkan, mudah mengingat
kata-kata. Selain indikator penentu kecerdasan linguistik di atas, Amstrong
(2002: 25) mengungkapkan beberapa indikator lain: Suka menulis kreatif di
rumah, mengarang kisahkhayal atau menuturkan lelucon, sangat hafal nama,
tempat tinggal dan hal – hal kecil, suka membaca buku diwaktu senggang, mengeja kata dengan tepat dan mudah, menyukai pantun lucu dan
permainan kata, suka mengisi teka - teki silang, suka mendengarkan kata –
kata lisan, menyukai kosa kata yang luas, unggul dalam pelajaran yang
melibatkan membaca atau menulis. Dari kedua tokoh di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa indikator kecerdasan linguistik adalah: Percaya diri
dalam mengekspresikan diri secara lisan maupun tulisan, suka bermain teka
mengajukan pertanyaan, suka membaca buku di waktu senggang, mengeja
kata dengan tepat dan mudah.
b. Kecerdasan Matematis – logis
Menurut Gardner (Suparno, 2004: 29) kecerdasan matematis logis
adalah kemampuan yang lebih berkaitan dengan bilangan dan logika secara
efektif seperti yang dipunyai oleh seorang ahli matematika programer dan
orang – orang yang mempunyai kelebihan dalam mengolah angka. Untuk menentukan kecerdasan matematis logis Saraswati (2008: 16)
mengemukakan ada beberapa indikator untuk mengukur kecerdasan
matematis logis: Senang bekerja dengan angka dan dapat melakukan
penghitungan dengan mencongak, tertarik dengan kemajuan teknologi dan
suka melakukan percobaan, mudah dalam melakukan perencanaan
keuangan, suka menyiapkan jadwal secara terperinci, senang bermain
puzzle, catur dan permainan lain yang membutuhkan berpikir logis,
menyukai pelajaran matematika atau fisika, melakukan sesuatu selangkah
demi selangkah dalam memecahkan masalah, suka menemukan pola dan
hubungan antar suatu objek atau angka, menggolongkan, mengelompokan,
menghitung untuk mendapat menemukan hubungan antara suatu hal dengan
hal lainya. Amstrong (2002: 26–27) mengemukakan indikator pengukur kecerdasan matematis logis adalah: menghitung masalah matematika
dengan tepat, ahli dalam bermain catur, dapat menjelaskan masalah secara
logis, suka memainkan teka – teki logika, mudah memahami sebab akibat, menikmati pelajaran matematika, mudah memahami sebab akibat. Dari
matematis logis adalah, senang bekerja dengan angka dan dapat melakukan
penghitungan dengan mencongak, mudah dalam melakukan perencanaan
keuangan, suka menyiapkan jadwal secara terperinci, senang bermain
puzzle, catur dan permainan lain yang membutuhkan berpikir logis, dapat
menjelaskan masalah secara logis.
c. Kecerdasan ruang visual – Spasial
Menurut Gardner (Suparno, 2004: 31) kecerdasan ruang visual spasial
adalah kemampuan untuk menangkap dunia ruang visual secara tepat seperti
yang dipunyai para pemburu, arsitek, dan orang – orang yang ahli dalam hal dekorasi. Untuk menentukan kecerdasan visual spasial Saraswati (2008: 16)
mengungkapkan indikator itu antara lain rapi dan teratur, berbicara dengan
cepat, teliti dan detail, perencanaan dan pengaturan jangka panjang yang baik,
pengeja yang baik dan dapat melihat kata. Amstrong (2002: 26–27) mengemukakan indikator pengukur kecerdasan visual spasial sebagai berikut:
menonjol dalam kelas seni di sekolah, memberikan gambar visual yang jelas
ketika sedang memikirkan sesuatu, mudah membaca peta, grafik, dan
diagram, senang melihat film, slide, atau foto, sering melamun,
mencorat-coret dikertas atau tembok, lebih banyak memahami lewat gambar dari pada
lewat kata-kata..
d. Kecerdasan ritmik – musik
Gardner (Suparno, 2004: 36) menjelaskan bahwa inteligensi musikal
adalah kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan dan menikmati
bentuk – bentuk musikal dan suara. Untuk menentukan kecerdasan musikal Saraswati (2008: 16) menggunakan indikator berikut: dapat memainkan alat
musik, dapat menyanyi dengan tinggi rendahnya nada, dapat mengingat
semua irama hanya dengan mendengarkan beberapakali, sering
mendengarkan musik dimana saja, dapat membedakan suara berbagai alat
musik, dapat membedakan suara berbagai alat musik, sering mengingat lagu –
lagu iklan, sering bersiul atau mengeluarkan suara mengikuti irama lagu.
Amstrong (2002: 26–27) mengemukakan indikator pengukur kecerdasan musikal sebagai berikut: suka memainkan alat musik di rumah atau di
sekolah, ingat lagu melodi, berpartisipasi di kelas musik, lebih bisa belajar
dengan ingatan musik, mengoleksi CD atau kaset, suka bernyanyi untuk diri
sendiri atau orang lain, dapat mengikuti irama musik.
e. Inteligensi Eksistensial
Kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan-persolan terdalam
eksistensi atau keberadaan manusia. Orang tidak puas tidak hanya menerima
keadaannya secara otomatis, tetapi mencoba menyadarinya dan mencari
jawaban yang terdalam (Suparno, 2004: 44).
f. Kecerdasan Kinestetik
Menurut Gardner (Suparno, 2004: 34) kecerdasan knestetik badani
adalah kemampuan untuk menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk
mengekspresikan gagasan dan perasaan seperti yang ada pada aktor, penari,
pemahat, dan seorang ahli bedah. Indikator kecerdasan kinestetik badani
sangat beragam, seperti yang dijelaskan oleh Saraswati (2008: 15): gemar
berolahraga atau melakukan kegiatan fisik, dapat melakukan sesuatu seorang
diri, senang memikirkan sesuatu sambil berjalan, perlu memegang atau
menyukai permainan yang melibatkan fisik, suka mempelajari sesuatu dan
mempraktekan. Pendapat dari tokoh lain adalah dari Armstrong (2002: 25)
yang menyatakan indikator kecerdasan kinestetik sebagai berikut: berprestasi
dalam olahraga, bergerak – gerak ketika sedang duduk, sering terlibat dalam kegiatan fisik seperti bersepeda, berenang dll, perlu menyentuh sesuatu yang
ingin dipelajari, pandai menirukan gerakan orang lain, suka membongkar
benda dan menyusunya kembali. Berdasarkan pendapat kedua tokoh di atas
dapat disimpulkan bahwa indikator daari kecerdasan kinestetik adalah:
berprestasi dalam olahraga, dapat melakukan sesuatu seorang diri, senang
memikirkan sesuatu sambil berjalan, suka membongkar benda dan
menyusunya kembali.
g. Kecerdasan Interpersonal
Menurut Gardner (Suparno, 2004: 39) kecerdasan interpersonal adalah
kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, intensi,
motivasi, watak, temperamen orang lain. Kepekaan akan ekspresi wajah,
suara, isyarat dari orang lain juga termasuk dalam intelegensi ini . Kecerdasan
interpersonal juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berlangsung
antar dua pribadi, mencirikan proses-proses yang timbul sebagai suatu hasil
dari interaksi individu dengan individu lainnya. Kecerdasan interpersonal
menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka terhadap perasaan orang
lain. Mereka cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain
h. Kecerdasan intrapersonal
Menurut Gardner (Suparno, 2004: 41) kecerdasan intrapersonal adalah
kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan
kemampuan untuk bertindak secara adaptatif berdasarkan pengenalan diri itu.
Untuk menentukan kecerdasan intra personal, berikut adalah indikator
menurut Saraswati (2008: 15): memiliki buku harian untuk mencatat hal
pribadi, sering menyendiri untuk memikirkan hal – hal penting, mempunyai hobi dan kesenangan yang bersifat pribadi, suka memancing atau melakukan
suatu hal sendiri, mengetahui kelemahan dan kekurangan sendiri, bekerja
untuk diri sendiri. Sedengkan indikator menurut Amstrong (2002: 25)
adalah: memiliki kemauan yang kuat, belajar dari kesalahan masa lalu,
dengan tepat mengekspresikan perasaanya, terlibat dalam proyek atau hobi
yang dikerjakannya sendiri
i. Kecerdasan Naturalis 1) Pengertian
Menurut Gardner (Suparno, 2004: 42) kecerdasan naturalis adalah
kemampuan seseorang untuk dapat mengerti flora dan fauna dengan baik,
dapat membuat destingsi konsekuensial lain dalam alam natural,
kemampuan untuk memahami dan menikmati alam, dan menggunakan
kemampuan itu secara produktif dalam berburu, bertani, dan
mengembangkan pengetahuan akan alam.
Berdasarkan pengertian kecerdasan naturalis, kecerdasan naturalis
dapat digunakan sebagai suatu pendekatan pembelajaran. Peneliti akan
modul bimbingan belajar. Peneliti menggunakan kecerdasan naturalis
sebagai pembuatan modul untuk kelas IIIA SDN Percobaan 3 Pakem
karena sekolah tersebut sebagai sekolah dengan rintisan sekolah
bgerbasis lingkungan hidup.
2) Karakteristik
Berikut ini adalah indikator kecerdasan naturalis yang ditulis
(Saraswati, 2008: 15): memelihara atau menyukai hewan, tertarik
memiliki pengetahuan tentang tubuh dan kesehatan tubuh, mengetahui
jalur setapak dan hewan di setapak, suka berimajinasi sebagai petani,
dapat membaca arah cuaca. Pendapat lain mengatakan, Armstrong
(2002:25): akrab dengan hewan peliharaan, peka terhadap bentuk –
bentuk alam, suka berkebun atau berada di dekat kebun, suka mencari
serangga, daun dan hal – hal yang berhubungan dengan alam untuk dibawa pulang, suka belajar tentang topik – topik alam dan lingkungan, peka terhadap bentuk – bentuk alam. Berdasarkan pendapat kedua tokoh dapat disimpulkan bahwa indikator kecerdasan naturalis adalah: suka
mencari serarangga, daun dan hal – hal yang berhubungan dengan alam untuk dibawa pulang, suka belajar tentang topik – topik alam dan lingkungan, peka terhadap bentuk – bentuk alam, memelihara atau menyukai hewan, tertarik memiliki pengetahuan tentang tubuh dan
kesehatan tubuh
3) Cara mengembangkan
Siswa dapat diajak menikmati alam terbuka dan mengamatinya. Pembelajaran dapat dilakukan di luar kelas. Guru dapat menyediakan buku-buku dan CD yang berkaitan dengan seluk beluk hewan dan
tumbuhan, serta dilengkapi dengan gambar-gambar yang bagus dan menarik. Pembelajaran ini dapat membuat peserta didik mengenali flora dan fauna. Siswa juga memperoleh materi yang tepat terkait cara berpikir naturalis, seperti menyiram bunga, menanam tanaman, dan mengamati pertumbuhannya. Kegiatan tersebut berfungsi untuk melatih peserta didik agar peka terhadap lingkungan. Siswa diajarkan tentang permainan yang berkaitan dengan unsur-unsur alam, sepeti membandingkan berbagai bentuk bunga, buah, ataupun daun. Menebak suara binatang tertentu juga dapat dijadikan alternatif.
4) Strategi pengajaran untuk kecerdasan naturalis
Pada umumnya kegiatan belajar mengajar dilakukan di dalam
ruangan. Bagi siswa yang memiliki kecerdasan naturalis lebih efektif
menggunakan cara belajar yang melalui alam atau pengamatan pada
lingkungan sekitar. Ada dua solusi untuk melakukan kegiatan belajar
berbasis kecerdasan naturalis. Pertama perlu meningkatan kesempatan
bagi siswa untuk belajar di lingkungan alam ataupun di luar kelas.
Kedua, perlu menghadirkan alam dan dunianya kedalm lingkungan kelas
atau sekolah.
Ada beberapa strategi yang dapat digunakan untuk
mengaplikasikan kedua solusi di atas. Strategi itu adalah, jalan – jalan dilingkungan terbuka. Dalam melakukan kegiatan jalan – jalan siswa diminta untuk mengamati apa yang ada di sekitarnya yang berkaitan
dengan pelajaran yang sedang dipelajarinya. Ada beberapa matapelajaran
matematika adalah contoh mata pelajaran yang dapat dilakukan dengan
jalan- jalan.
Melihat keluar jendela juga merupakan suatu gambaran klasik
bagaimana pelajaran yang dilakukan di dalam kelas sedang
diintegrasikan dengan keadaan alam sekitar sekolah. Untuk
menghilangkan kejenuhan siswa di dalam kelas, guru perlu memberikan
contoh kongkret kejadian atau benda yang ada diluar kelas (Hamzah:
156). Hal ini juga mampu meningkatkan minat siswa pada pelajaran
karena siswa belajar berdasarkan hal – hal yang mereka kenali. Strategi yang terahir adalah ekostudi, hal ini menyampaikan pentingnya memiliki
sikap cinta pada lingkungan sekitar. Strategi ini berarti, apapun yang kita
ajarkan kita mesti mempertimbangkan relevansinya terhadap ekologi.