• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

B. Putusan Dalam Tindak Pidana

2. Macam-Macam Putusan Dalam KUHAP

Pasal 1 angka 11 KUHAP menyatakan banwa :

“Putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dan segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini”.

Ketentuan Pasal 1 angka 11 KUHAP diatas, Putusan Pengadilan Negeri yang dijatuhkan terhadap suatu perkara pidana bisa terbentuk sebagai berikut:

1) Putusan pemidanaan

Putusan pemidanaan diatur dalam Pasal 193 ayat (1) KUHAP. Pemidanaan berarti terdakwa dijatuhi hukuman pidana sesuai dengan ancaman yang dikemukakan dalam pasal pidana yang didakwakan kepada terdakwa.28

Pasal 193 ayat (1) KUHAP:

“Jika pengadilan berpendapat bahwa terdakwa bersalah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya, maka pengadilan menjatuhkan pidana”

Berdasarkan Pasal 193 ayat (1) KUHAP, penjatuhan putusan pemidanaan terhadap terdakwa didasarkan pada penilaian pengadilan. Jika pengadilan berpendapat dan menilai terdakwa terbukti bersalah melakukan perbuatan yang didakwakan kepadanya, pengadilan menjatuhkan hukuman pidana terhadap terdakwa. Atau dengan kata lain bahwa apabila menurut pendapat dan penilaian pengadilan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan kesalahan tindak pidana yang didakwakan kepadanya sesuai dengan sistem pembuktian dan asas batas minimum pembuktian yang telah ditentukan dalam Pasal 183 KUHAP.

Menurut M. Yahya Harahap,29 Putusan yang menjatuhkan hukuman pemidanaan kepada seseorang terdakwa tidak lain daripada putusan yang berisi perintah untuk menghukum terdakwa sesuai dengan ancaman pidana yang sisebut dalam pasal yang didakwakan.

28

M. Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan Penerapan KUHAP Pemeriksaan

Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali Edisi Kedua, Sinar Grafika,

Jakarta, 2002, hlm. 354.

29

Hakim dalam menjatuhkan berat ringannya hukuman pidana yang dijatuhkan kepada teerdakwa adalah bebas, artinya memberikan kebebasan kepada hakim untuk menjatuhkan pidana antara hukuman minimum dan maksimum sesuai dengan pasal pidana yang didakwakan. Namun, titik tolak hakim dalam menjatuhkan pidana harus didasarkan kepada ancaman pidana yang disebutkan dalam pasal pidana yang didakwakan dan seberapa besar kesalahan terdakwa dalam perbuatan tindak pidana yang dilakukannya.

Hakim dalam hal menjatuhkan putusan pemidanaan, dapat menentukan salah satu dari macam-macam hukuman yang tercantum dalam Pasal 10 KUHP yaitu salah satu dari hukuman pokok dalam Pasal 10 KUHP yakni:

Pidana terdiri atas: a. Pidana pokok 1. Pidana mati; 2. Pidana penjara; 3. Pidana kurungan; 4. Pidana denda; 5. Pidana tutupan. b. Pidana tambahan

1. Pencabutan hak-hak tertentu; 2. Perampasan barang-barang tertentu; 3. Pengumuman putusan hakim.

Hakim dalam menjatuhkan putusan juga harus melihat status terdakwa dalam tahanan atau tidak, hal ini sesuai dengan ketentuan Pasal 193 ayat (2) KUHAP yang menyatakan bahwa:

a. Pengadilan dalam menjatuhkan putusan, jika terdakwa tidak ditahan, dapat memerintahkan supaya terdakwa tersebut ditahan, apabila dipenuhi ketentuan Pasal 21 KUHAP terdapat alasan cukup untuk itu. b. Dalam hal terdakwa ditahan, pengadilan dalam menjatuhkan

putusannya, dapat menetapkan terdakwa tetap ada dalam tahanan atau membebaskannya, apabila terdapat alasan cukup untuk itu.

2) Putusan yang membebaskan terdakwa

Putusan pembebasan atau sering juga disebut putusan bebas diatur dalam Pasal 191 ayat (1) KUHAP yang menyatakan bahwa:

“Jika pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan di sidang, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan, maka terdakwa diputus bebas”. Penjelasan Pasal 191 ayat (1) KUHAP yang dimaksud dengan “perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan” adalah tidak cukup terbukti menurut penilaian hakim atas dasar pembuktian dengan menggunakan alat bukti menurut ketentuan hukum acara pidana. Berdasarkan ketentuan Pasal 183 KUHAP, agar cukup membuktikan kesalahan seorang terdakwa, harus dibuktikan dengan sekurang-kurangnya dua alat buti yang sah.

Pasal 183 KUHAP menyatakan bahwa:

“Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya”.

Berdasarkan dengan Pasal 183 KUHAP diatas, pembentuk undang-undang mencantumkan macam-macam alat bukti yang sah sebagaimana tercantum pada Pasal 184 ayat (1) KUHAP, yang menyatakan bahwa:

Alat bukti yang sah ialah: a. Keterangan saksi; b. Keterangan ahli; c. Surat;

e. Keterangan terdakwa; 3) Putusan lepas dari segala tuntutan

Putusan lepas dari segala tuntutan diatur dalam Pasal 191 ayat (2) KUHAP yang menyatakan:

“Jika pengadilan berpendapat bahwa perbuatan yang didakwakan képada terdakwa terbukti, tetapi perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana, maka terdakwa diputus lepas dari segala tuntutan hukum”.

M. Yahya Harahap,30 berpendapat banwa Putusan lepas dari segala tuntutan, terdakwa bukan dibebaskan dari ancaman pidana tetapi dilepaskan dari penuntutan.

Terdakwa yang diputus lepas dari segala tuntutan hukum harus segera dibebaskan dari tahanan, sesuai dengan Pasal 191 ayat (3) KUHAP yang menyatakan:

“Dalam hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), terdakwa yang ada dalam status tahanan diperintahkan untuk dibebaskan seketika itu juga kecuali karena ada alasan lain yang sah terdakwa perlu ditahan” Terdakwa yang diputus lepas dari segala tuntutan hukum harus segera dibebaskan dari tahanan, kecuali ada alasan lain. perintah untuk membebaskan terdakwa dari tahanan dilakukan oleh jaksa setelah putusan diucapkan dan laporan tertulis mengenai perintah tersebut dilampiri surat penglepasan yang diserahkan kepada Ketua Pengadilan selambat-lambatnya dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam.31 30 Ibid., hlm. 352. 31 Ibid., hlm. 353-354.

4) Putusan Bebas

Putusan bebas diatur dalam Pasal 191 ayat (1) KUHAP yang merumuskan bahwa:

“Jika pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan di sidang, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan, maka terdakwa diputus bebas”. M. Yahya Harahap,32 berpendapat mengenai putusan bebas bahwa: “Putusan bebas, berarti terdakwa dijatuhi putusan bebas atau dinyatakan bebas dari tuntutan hukum (vrijspraak)”.

Vrijspraak adalah salah satu dari beberapa putusan hakim yang berisi pembebasan terdakwa dari segala tuduhan, manakala perbuatan terdakwa dianggap tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.33 Jadi putusan hakim yang mengandung suatu pembebasan terdakwa karena peristiwa-peristika yang disebutkan dalam surat dakwaan, setelah diadakan perubahan atau penambahan selama persidanagan, bila ada sebagian atau seluruh dinyatakan oleh hakim yang memeriksa dan mengadili perkara yang bersangkutan dianggap tidak terbukti.34

Penjelasan Pasal 191 ayat (1) KUHAP yang dimaksud dengan “perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan” adalah tidak cukup terbukti menurut penilaian hakim atas dasar pembuktian dengan menggunakan alat bukti menurut ketentuan hukum acara pidana. Berdasarkan ketentuan Pasal 183 KUHAP, agar cukup membuktikan kesalahan seseorang terdakwa harus dibuktikan dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah.

32

Ibid., hlm. 347.

33

Djoko Prakoso, Kedudukan Justisiabel dalam KUHAP, Ghalia Indonesi, Jakarta, 1986, hlm. 270.

34

Putusan bebas ditinjau dari asas pembuktian Pasal 183 KUHAP merumuskan sebagai berikut:35

“Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang, kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya”

Menurut Martiman Prodjohamidjojo,36 Pasal 183 KUHAP mengandung; 1. Sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah

2. Dasar-dasar alat bukti yang sah itu keyakinan hakim, yakni bahwa : a. Tidak terjadi;

b. Terdakwa telah bersalah.

Berdasarkan ketentuan Pasal 183 KUHAP, terkandung dua asas mengenai pembuktian yaitu:

1) Asas minimum pembuktian yaitu asas bahwa untuk membuktikan kesalahan terdakwa harus dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah;

2) Asas pembuktian menurut Undang-Undang secara negatif yang mengajarkan suatu prinsip hukum pembuktian bahwa disamping kesalahan terdakwa cukup terbukti harus pula diikuti keyakinan hakim akan kebenaran kesalahan terdakwa;

Ditinjau dari asas pembuktian Pasal 183 KUHAP, pembentuk undang-undang telah menentukan macam alat bukti secara limitatif sebagaimana tercantum pada Pasal 184 ayat (1) KUHAP. Jadi agar dapat menjadi alat bukti yang sempurna yang dapat menjatuhkan suatu hukuman harus ada kesesuaian

35

Andi Hamzah, Op. Cit., hlm. 254.

36

Martiman Prodjohamidjojo, Sistem pembuktian dan Alat-Alat bukti, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1983, hlm. 12.

antara alat bukti dengan alat bukti yang lain sehingga mampu menciptakan keyakinan hakim terhadap kesalahan terdakwa atas tindak pidana yang didakwakan kepadanya.

Penjelasan putusan bebas selain diatur dalam Pasal 191 KUHAP, juga dapat diperluas dengan syarat-syarat putusan pembebasan atau pelepasan dari segala tuntutan hukum yang diatur dalam KUHP. Didalam KUHP, Buku Kesatu Bab III terdapat beberapa pasal yang menghapuskan pemidanaan terhadap seorang terdakwa.

Jika pada diri seseorang terdakwa terdapat hal-hal atau keadaan yang ditentukan dalam pasal-pasal KUHP yang bersangkutan, hal-hal atau keadaan itu merupakan alasan yang membebaskan terdakwa dari pemidanaan,37 antara lain Pasal 44 KUHP, Pasal 45 KUHP, Pasal 48 KUHP, Pasal 49 KUHP dan Pasal 50 KUHP.

Terdakwa yang diputus bebas harus segera dibebaskan dari tahanan sesuai Pasal 191 ayat (3) yang menyatakan bahwa:

“Dalam hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), terdakwa yang ada dalam status tahanan diperintahkan untuk dibebaskan seketika itu juga kecuali karena ada alasan lain yang sah terdakwa perlu ditahan”. Majelis hakim dalam amar putusannya menyebutkan “memerintahkan terdakwa dibebaskan dari tahanan”. Hal ini telah sesuai dengan Pasal 191 ayat (3) KUHAP.

Perintah untuk membebaskan terdakwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 191 ayat (3) KUHAP segera dilaksanakan oleh Jaksa setelah putusan

37

diucapkan. Laporan tertulis mengenai pelaksanaan perintah tersebut yang dilampiri surat pelepasan disampaikan kepada ketua pengadilan yang bersangkutan selambat-lambatnya dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam (Pasal 192 ayat (1) dan (2) KUHAP).

Berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 2001 tentang Pembuatan Ringkasan Putusan Terhadap Perkara Pidana yang Terdakwannya Diputus Bebas atau Dilepas Dari Segala Tuntutan, menyatakan bahwa:

“Terhadap perkara pidana yang terdakwanya ditahan dan diputus dengan amar putusan yang menyatakan terdakwa dibebaskan dari segala dakwaan (vrijspraak) atau dilepas dari segala tuntutan (ontslag van alle rechtsvervolging) dengan perintah agar terdakwa segera dikeluarkan dari tahanan pada saat putusan diucapkan didepan sidang terbuka untuk umum harus sudah ada setidak-tidaknya ringkasan putusan (extract vonis) atau setidak-tidaknya segera setelah putusan tersebut diucapkan agar segera dibuat ringkasan putusan (extrack vonis) guna dapat segera dieksekusi oleh Jaksa dalam kedudukannya selaku eksekutor dari putusan Hakim”.

Putusan hakim yang menjatuhkan putusan bebas tidak dapat dimintakan upaya hukum biasa, dalam hal ini yaitu upaya hukum banding dan kasasi. Hal ini sesuai dengan Pasal 67 KUHAP dan Pasal 244 KUHAP.

Pasal 67 KUHAP:

“Terdakwa atau Penuntut Umum berhak untuk minta banding terhadap putusan pengadilan tingkat pertama kecuali terhadap putusan bebas, lepas dari segala tuntutan hukum yang menyangkut masalah kurang tepatnya penerapan hakim dan putusan pengadilan dalam acara cepat”. Pasal 244 KUHAP:

“Terhadap putusan perkara pidana yang diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan lain selain daripada Mahkamah Agung, terdakwa atau penuntut umum dapat mengajukan pemeriksaan kasasi kepada Mahkamah Agung kecuali terhadap putusan bebas”.

Berdasarkan ketentuan kedua pasal diatas, dapat diketahui bahwa untuk putusan bebas tidak dapat dimintakan upaya hukum banding maupun kasasi sebagai upaya hukum biasa.

Djoko prakoso,38 berpendapat:

“Mengenai putusan bebas/Vrijspraak tidak dapat diajukan permohonan kasasi, hal ini diatur secara tegas dalam undang-undang (Pasal 244 KUHAP), tetapi pasal ini dapat diterobos dengan Keputusan Menteri Kehakiman RI: M 14-P.W, 07, 03 Tahun 1983 tentang Pedoman Pelaksanaan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang terdapat dalam Pasal 19 yang menyatakan: “Terhadap putusan bebas tidak dapat dimintakan banding tetapi demi situasi dan kondisi, demi hukum, keadilan dan kebenaran, terhadap putusan bebas dapat dimintakan kasasi”.

Pendapat diatas sesuai dengan ketentuan Pasal 259 ayat (1) KUHAP yang menyatkan bahwa:

“Demi kepentingan hukum terhadap semua putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dari pengadilan lain selain daripada Mahkamah Agung, dapat diajukan satu kali permohonan kasasi oleh Jaksa Agung”.

Kasasi adalah suatu alat hukum yang merupakan wewenang dari Mahkamah Agung untuk memeriksa kembali putusan-putusan dari pengadilan-pengadilan terdahlu, dan ini merupakan peradilan terakhir. Tujuan dari kasasi ialah untuk menciptakan kesatuan peneraan hukum dengan jalan membatalkan putusan yang bertentangan dengan undang-undang atau keliru dalam penerapan hukum.

38

M. Yahya Harahap berpendapat,39 ada beberapa tujuan utama upaya hukum kasasi yaitu:

1. Koreksi terhadap kesalahan putusan pengadilan bawahan. Salah satu tujuan kasasi adalah memperbaiki dan meluruskan kesalahan penerapan hukum, agar hukum bener-benar diterapkan sebagaimana mestinya serta apakan cara mengadili perkara benar-benar dilakukan menurut ketentuan undang-undang.

2. Menciptakan dan membentuk hukum baru. Selain tindakan koreksi yang dilakukan oleh Mahamah Agung dalam peradilan kasasi, adakalanya tindakan koreksi itu sekaligus menciptakan hukum baru dalam bentuk yurisprudensi.

3. Pengawasan terciptanya keseragaman penerapan hukum, tujuan lain dari pemeriksaan kasasi, adalah mewujudkan kesadaran “keseragaman” penerapan hukum atau unified legal frame work dan unified legal opinion. Dengan adanya putusan kasasi yang menciptakan yurisprudensi, akan mengarahkan keseragaman pandangan dan titik tolak penerapan hukum, serta dengan adanya upaya hukum kasasi, dapat terhindar kesewenangan dan penyalahgunaan jabatan oleh para hakim yang tergoda dalam memanfaatkan kebebasan kedudukan yang dimilikinya.

Kasasi demi kepentingan hukum adalah upaya hukum luar biasa.40 Hal ini dikarenakan kasasi demi kepentingan hukum diajukan terhadap putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan hanya terbatas pada putusan Pengadilan Negeri dan Putusan Pengadilan Tinggi.

M. Yahya Harahap,41 berpendapat bahwa:

“Pada hakikatnya kasasi demi kepentingan hukum tidak berbeda tujuannya dengan permohonan kasasi biasa, sama-sama bertujuan untuk memperbaiki kesalahan penerapan hukum, keteledoran cara pelaksanaan peradilan menurut ketentuan undang-undang, serta mencegah terjadinya tindakan pengadilan yang melampaui batas wewenangnya. Bertitik tolak dari tujuan koreksi ini, alasan kasasi demi kepentingan hukum pun sama dan sejajar dengan kasasi biasa seperti yang telah dirinci dalam Pasal 252 ayat (1). Akan tetapi, kalau bertitik tolak dari perkataan demi kepentingan hukum, berarti tidak hanya terbatas kepada kesalahan yang disebut Pasal 253 ayat (1). Bahkan meliputi segala segi yang menyangkut

39

M. Yahya Harahap, Op. Cit., hlm. 539-542.

40

Ibid., hlm. 608.

41

kepentingan hukum. Baik yang menyangkut pemidanaan, barang bukti, biaya perkara, penilaian pembuktian, dan sebagainya.

Penjabat yang berwenang mengajukan kasasi demi kepentingan hukum diatur dalam Pasal 259 ayat (1) KUHAP yang menyatakan bahwa:

“Demi kepentingan hukum terhadap semua putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetep dari pengadilan lain selain daripada Mahkamah Agung, dapat diajukan satu kali permohonan kasasi oleh Jaksa Agung”

Berdasarkan ketentuan Pasal 259 ayat (2) KUHAP, putusan kasasi demi kepentingan hukum tidak boleh merugikan terdakwa. Selain itu kasasi demi kepentingan hukum hanya dapat diajukan satu kali saja.

Dokumen terkait