BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
2. Pertimbangan Hukum Hakim sehingga Menjatuhkan Putusan Bebas pada Perkara Nomor 90/Pid.B/2011/PN.Manado
Putusan bebas atau disebut Vrijspraak juga diatur dalam Pasal 191 ayat (1) KUHAP yang merumuskan bahwa:
“Jika pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan di sidang, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan, maka terdakwa dakwa diputus bebas”.
M. Yahya Harahap,87 berpendapat mengenai putusan bebas bahwa Putusan bebas, berarti terdakwa dijatuhi putusan bebas atau dinyatakan bebas dari tuntutan hukum (vrijspraak)”.
Vrijspraak adalah salah satu dari beberapa putusan hakim yang berisi pembebasan terdakwa dari segala tuduhan, manakala perbuatan terdakwa dianggap tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.88 Jadi putusan hakim yang mengandung suatu pembebasan terdakwa karena peristiwa-peristiwa yang disebutkan dalam surat dakwaan, setelah diadakan perubahan atau penambahan selama persidanagan, bila ada sebagian atau seluruh dinyatakan oleh hakim yang memeriksa dan mengadili perkara yang bersangkutan dianggap tidak terbukti.89
Inti dari putusan bebas adalah terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah telah melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya. Putusan perkara Nomor 90/Pid.B/2011/PN.Manado, terdakwa
87
M Yahya Harahap, Op. Cit., hlm. 347.
88
Djoko Prakoso, Op. Cit., hlm. 270.
89
didakwa dengan dakwaan yang disusun secara Kumulasi yang dibarengi dengan dakwaan alternatif atau subsidair yaitu :
Kesatu:
Primair: Pasal 359 KUHP Jis. Pasal 361 KUHP jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP;
Subsidair: Pasal 359 KUHP jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP; Atau,
Kedua:
Primair: Pasal 76 Undang-Undang RI No.29 Tahun 2004 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP;
Atau, Ketiga:
Primair: Pasal 263 ayat (1)KUHP jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Subsidair: Pasal 263 ayat (2)KUHP jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP;
Perbuatan dengan mana karena salahnya sehingga menyebabkan orang lain meninggal dunia oleh pembentuk undang-undang diatur di dalam Buku II Bab XXI Pasal 359, 360, dan 361 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang rumusannya di dalam bahasa Belanda berbunyi sebagai berikut:
“Hij aan wiens schuld de dood van een ander te wijten is, wordt gestraft met gevangenisstraf van ten hoogste een jaar of hechteins van ten hoogste negen maanden”90
yang artinya:
“Barangsiapa karena salahnya menyebabkan meninggalnya orang lain, dipidana dengan pidana penjara selamalamanya satu tahun atau pidana kurungan selama-lamanya sembilan bulan”
Dengan Undang-Undang No. 1 tahun 1960 tentang Perubahan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, Lembaran Negara Tahun 1960 No. 1, ancaman-ancaman pidana yang ditentukan dalam Pasal 359 KUHP diatas itu telah diperberat,91 sehingga rumusan yang ada saat ini sebagaimana diatur di dalam Pasal 359 KUHP adalah berbunyi sebagai berikut:
“Barangsiapa karena salahnya menyebabkan meninggalnya orang lain, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun atau pidana kurungan selama-lamanya satu tahun”
Dari rumusan Pasal 359 KUHP tersebut di peroleh sejumlah unsur-unsur yang dapat kita bagi menjadi :92
1. Unsur-unsur Subjektif pada Pasal 359 KUHP tersebut, yaitu “karena kesalahannya”.
2. Unsur-unsur Objektif pada Pasal 359 KUHP tersebut, yaitu “menyebabkan orang mati”
Unsur “barang siapa” adalah orang atau manusia selaku subjek hukum yang mampu bertanggung jawab atas perbuatannya, dalam hal ini adalah terdakwa manusia yang normal yang tidak menderita kelainan jiwa sehingga mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya apabila dikaitkan dengan sehingga mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya apabila dikaitkan dengan fakta-fakta yang terdapat dalam persidangan. Terdakwa dalam hal ini
91
P.A.F. Lamintang, Op, Cit, hlm 176.
92
H.A.K Moch Anwar, Hukum Pidana Bagian Khusus, Alumni, Bandung, 1986, hlm 109.
adalah dr. Dewa Ayu (Terdakwa I), dr. Hendry Simanjuntak (Terdakwa II) dan dr. Hendy Siagian (Terdakwa III). Oleh karena itu unsur “barang siapa” telah terpenuhi.
Unsur “karena salahnya”,unsur ini merupakan unsur subjektif yang melekat pada sikap batin terdakwa dalam melakukan perbuatannya. Undang-undang sendiri tidak memberikan penjelasannya tentang apa yang dimaksud dengan schuld atau culpa tersebut. Memorie Van Toelichting hanya menjelaskan sedikit tentang arti dari culpa yang mengatakan bahwa “schuld is de zuivere tegenstelling van opzet aan de eene kant, van toeval aan de andere zijde” yang artinya schuld (culpa) itu di satu pihak merupakan kebalikan yang murni dari opzet dan di lain pihak ia merupakan kebalikan dari kebetulan.93
“Van Hammel dalam pendapatnya yang dikutip oleh Lamintang,94
menyebutkan bahwa schuld sebenarnya terdiri dari 2 (dua) unsur, masing-masing yaitu “het gemis aan de nodige voor zienigheid” atau kurangnya perhatian terhadap kemungkinan yang dapat timbul, dan “het gemis aan de nodige voorzichtigheid” atau tidak adanya kehati-hatian yang diperlukan.”
Schuld atau kesalahan atau kelalaian atau kulpa menurut ilmu pengetahuan mempunyai 2 (dua) syarat:95
1. Perbuatan yang dilakukan merupakan perbuatan kurang hati-hati atau kurang waspada.
2. Pelaku harus dapat membayangkan timbulnya akibat karena perbuatan yang dilakukannya dengan kurang hati-hati itu.
93
P.A.F Lamintang, Op,Cit., hlm 178
94 Ibid
95
Penentuan kesalahan ini ditentukan bahwa meskipun pelaku dapat membayangkan akibat yang mungkin terjadi kaarena perbuatannya itu, ia tidak melakukan tindakan-tindakan atau usaha-usaha untuk mencegah timbulnya akibat. Apabila pelaku berhati-hati atau waspada ia akan melakukan tindakan-tindakan terlebih dahulu guna mencegah timbulnya suatu akibat itu yang sebelumnya telah dibayangkan.96
Tindak Pidana karena salahnya menyebabkan matinya orang lain sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 359 KUHP merupakan suatu culpoos misdrijf atau suatu kejahatan yang harus dilakukan “tidak dengan sengaja”. Arrest Hoge Raad tanggal 14 Nopember 1921 menyebutkan:
“Mededaderschap aan een culpoos misdrijf is ook aanwezig, wenner de door ieder der daders geplegde handelingen of verzuimen, tezamen, en in onderling verband, het door de wet niet gewilde gevold hebben teweggebracht. Rechtstreekse of bewuste samenwerking is hievoor niet vareist”
Yang artinya : “turut melakukan suatu culpoos misdrijf itu dapat terjadi jika tindakan-tindakan atau kelalaian-kelalaian dari tiap-tiap peserta secara bersama-sama dan secara timbal balik telah menyebabkan timbulnya akibat yang tidak dikehendaki oleh undang-undang. Untuk adanya mededaderschap ini tidak disyaratkan adanya kerjasama yang sifatnya langsung atau disadari”.97
“Lamintang98
menyebutkan bahwa kata mededaderschap diterjemhkan dengan kata “turut melakukan”. Bentuk delneming atau keturutsertaan kedua yang diatur dalam Pasal 55 ayat (1) angka 1 KUHP itu ialah medeplegen atau turut melakukan. Karena dalam bentuk keturutsertaan ini seorang pelaku dan seorang atau beberapa orang yang turut melakukan tindak pidana yang dilakukan oleh pelakunya, maka bentuk keturutsertaan ini juga disebut mededaderschap.”
96 ibid
97
H.R. 14 November 1921, N.J. 1992 hal 179, W. 10842 dalam P.A.F. Lamintang,
Op, Cit, hlm 188.
Apabila beberapa orang secara bersama-sama telah melakukan tindak pidana, maka tiap-tiap peserta dalam tindak pidana yang bersangkutan harus dipandang sebagai mededader dari peserta atau dari peserta-peserta yang lain di dalam tindak pidana.99
Unsur karena kesalahannya dapat dilihat pada kasus dr. Dewa Ayu dkk ini, dalam mana secara bersama-sama ketiganya yakni dr. Dewa Ayu Sasiary Prawani, dr. Hendy Siagian, dan dr. Hendri Simanjuntak yang mana masing-masing dr. Dewa Ayu bertugas sebagai operator yang melakukan operasi, kemudia dr. Hendy Siagian dan dr. Hendri Simanjuntak masing-masing sebagai asisten operator I dan II.
Dokter Dewa Ayu sebagai operator merupakan dader atau pembuat tindak pidana. Adapun dr. Hendy Siagian dan dr. Hendri Simanjuntak keduanya sebagai asisten operator maka perbuatan keduanya dikualifisir sebagai mededader atau turut melakukan sebagaimana dimaksud dalam bentuk delneming atau keturutsertaan kedua yang diatur dalam Pasal 55 ayat (1) angka 1 KUHP.
Para terdakwa secara bersama-sama melakukan operasi cito secsio sessaria terhadap korban Siska Makatei, dan sebelum dilakukannya operasi tidak dilakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan jantung, foto rontgen dada dan lain-lain sedangkan tekanan darah pada saat sebelum korban dianestesi/ dilakukan pembiusan, sedikit tinggi yaitu menunjukkan angka 160/70 (seratus enam puluh per tujuh puluh) dan pemeriksaan jantung terhadap korban
99
P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana, Penerbit Sinar Baru, Bandung, 1984 hlm 588
dilaksanakan setelah pelaksanaan operasi selesai dilakukan kemudian pemeriksaan jantung tersebut dilakukan setelah dr. Dewa Ayu (Terdakwa I) melaporkan kepada saksi Najoan Nan Waraouw sebagai Konsultan Jaga Bagian Kebidanan dan Penyakit Kandungan bahwa nadi korban 180 (seratus delapan puluh) x per menit dan saat itu saksi Najoan Nan Waraouw menanyakan kepada dr. Dewa Ayu (Terdakwa I) jika telah dilakukan pemeriksaan jantung/ EKG (Elektri Kardio Graf atau Rekam Jantung) terhadap diri korban, selanjutnya dijawab oleh dr. Dewa Ayu (Terdakwa I) tentang hasil pemeriksaan adalah Ventrikel Tachy Kardi (denyut jantung sangat cepat) dan saksi Najoan Nan Waraouw mengatakan bahwa denyut nadi 180 (seratus delapan puluh) x per menit bukan Ventrikel Tachy Kardi (denyut jantung sangat cepat) tetapi Fibrilasi (kelainan irama jantung).
Unsur “menyebabkan matinya orang” adalah melihat pada unsur objektif yang merupakan akibat dari perbuatan yang mana karena kurang hati-hati atau kurang waspada. Matinya telah terjadi karena perbuatan yang dilakukan secara kurang hati-hati dan kematian tersebut tidak dikehendaki.
Pokok permasalahan dalam perkara ini adalah pertama para terdakwa dianggap lalai karena tidak memberitahukan akan adanya resiko yang dihadapi ketika dilakukannya operasi cito secsio sesaria terhadap korban maupun keluarga korban.
Berdasarkan keterangan saksi-saksi dan alat bukti yang diajukan dalam persidangan bahwa menurut keterangan saksi-saksi dari keluarga korban yaitu Julian Mahengkang dan Anselmus Makatey masing-masing menyatakan
menerima surat permohonan persetujuan operasi terhadap korban Siska Makatey dari Terdakwa III, namun memang tidak diberikan penjelasan mengenai resiko dilakukannya operasi. Para saksi juga mengetahui adanya tanda tangan Siska Makatey dalam surat persetujuan operasi tersebut.
Saksi yang dihadirkan dari pihak dokter yaitu dr. Helmi, Anita Lengkong, dan dr. Hermanus J. Lalenoh, Sp. An., menyebutkan penjelasan oleh Terdakwa III tentang resiko dilakukannya operasi telah disampaikan pada keluarga korban dan langkah dilakukannya operasi terhadap korban juga telah sesuai prosedur dan melalui pertimbangan tim medis.
Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi dan dihubungkan dengan keterangan Terdakwa I, Terdakwa II dan Terdakwa III sebagaimana yang telah diuraikan diatas, menurut Majelis Hakim adalah bersesuaian satu dengan yang lainnya tentang hal bahwa para Terdakwa sebelum melakukan operasi Cito Secsio Sesaria terhadap korban (Siska Makatey) ada menyampaikan kepada pihak keluarga tentang kemungkinan-kemungkinan terburuk termasuk kematian yang dapat terjadi terhadap diri korban jika operasi Cito Secsio Sesaria tersebut dilakukan terhadap diri korban walaupun hal tersebut dibantah oleh keluarga korbaan. namun berdasarkan alat bukti yaitu surat persetujuan operasi tertanggal 10 April 2010, masing-masing Julien Mahengkeng (ibu korban) dan Anselmus Makatey (ayah korban) telah menyatakan surat persetujuan operasi tertanggal 10 April 2010 tersebut adalah benar.
Berdasarkan uraian diatas, menurut Majelis Hakim pernyataan Julien Mahengkeng (ibu korban) dan Anselmus Makatey (ayah korban) yang mengatakan para Terdakwa dalam melaksanakan operasi Cito Secsio Sesaria terhadap korban (Siska Makatey) tidak menjelaskan tentang resiko operasi tidak cukup beralasan. Bahwa menurut Majelis Hakim adanya penjelasan sangat erat kaitannya dengan persetujuan untuk dilaksanakannya operasi.
Hal tersebut dapat dilihat dalam ketentuan pasal 45 ayat (1), (2), (3), (4) Undang-Undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran bahwa:
(1) Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien harus mendapat persetujuan ;
(2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat penjelasan secara lengkap ;
(3) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sekurang-kuranganya mencakup
a. Diagnosis dan tata cara tindakan medis ; b. Tujuan tindakan medis yang dilakukan ; c. Alternatif tindakan lain dan risikonya ;
d. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi dan e. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan ;
(4) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan baik secara tertulis maupun lisan ;
Selain hal tidak diberitahukannya resiko operasi, para terdakwa juga dianggap lalai karena tidak melakukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan jantung, foto rontgen dada dan pemeriksaan penunjang lainnya sebelum dilakukannya operasi terhadap korban Siska Makatey.
Berdasarkan keterangan saksi yaitu Prof. dr. Najoan Nan Waraouw, dan setelah mendengarkan keterangan ahli dr. Erwin Gidion Kristanto, S.H.,S.PF, dr. Johanis F. Mallo, S.H.,S.Pt,.DFM bahwa operasi ada 2 (dua) jenis yaitu operasi terencana dan operasi segera (Cito). Adapun bedanya antara operasi terencana
dan operasi segera (Cito) adalah dari sisi kepentingan, operasi terencana itu apakah benar harus dilakukan, dan harus ada persetujuan pasien atau keluarganya sedangkan operasi cito sifatnya segera untuk menyelamatkan jiwa dan tidak harus ada persetujuan. Selain itu, pada operasi Cito (Darurat) tidak harus dilakukan pemeriksaan pendukung.
Berdasarkan uraian-uraian diatas, yakni berdasar pada keterangan saksi yaitu saksi Prof.dr. Najoan Nan Waraouw, serta keterangan ahli dr. Erwin Gidion Kristanto, S.H.,S.PF, dan dr. Johanis F. Mallo,S.H.,S.Pt,DFM Majelis Hakim berpendapat bahwa dalam operasi cito secsio sesaria (darurat) tidak diperlukan pemeriksaan penunjang terhadap pasien in casu korban (Siska Makatey) sehingga dengan demikian pula menurut Majelis Hakim perbuatan para Terdakwa sebagai dokter yang dalam melaksanakan operasi cito secsio sesaria terhadap diri korban (Siska Makatey) yang tidak melakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan jantung, foto rontgen dada dan pemeriksaan penunjang lainnya bukanlah merupakan suatu kelalaian.
Dakwaan kelalaian yang ketiga adalah bahwa para terdakwa dianggap lalai dalam menangani korban pada saat masih hidup dan saat pelaksanaan operasi sehingga terhadap diri korban terjadi kembali udara yang masuk kedalam bilik kanan jantung yang menghambat darah masuk keparu-paru sehingga terjadi kegagalan fungsi paru dan selanjutnya mengakibatkan kegagalan fungsi jantung dan berujung pada meninggalnya korban (Siska Makatey).
Berdasarkan Surat Keterangan dari Rumah Sakit Umum Prof. Dr. R. D. Kandou Manado No. 61 / VER / IKF / FK / K / VI / 2010, tanggal 26 April 2010 Visum Et Repertum atas nama Julia F. Makatey yang ditanda tangani oleh dr. Johanis F. Mallo, S.H.,S.Pt. DFM., bahwa operasi cito secsio sesaria yang dilakukan terhadap diri korban yang dilakukan oleh dr. Dewa Ayu (Terdakwa I), dr. Hendry Simanjuntak (Terdakwa II) dan dr. Hendy Siagian (Terdakwa III) mengakibatkan korban meninggal dunia karena terjadi emboli udara yang masuk ke dalam bilik kanan jantung yang menghambat darah masuk ke paru-paru sehingga terjadi kegagalan fungsi paru dan selanjutnya mengakibatkan kegagalan fungsi jantung pada diri korban.
Berdasarkan uraian diatas, para terdakwa dianggap lalai karena tidak menjalankan tugasnya sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) maupun Peraturan perundangan yang berlaku.
Berdasarkan Pasal 1 angka 10 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.512/MenKes/PER/IV/2007 tentang izin praktek dalam melaksanakan praktek kedokteran menyebutkan:
“Standard prosedur operasional adalah suatu perangkat instruksi/langkah-langkah yang dilakukan untuk menyelesaikan suatu proses kerja rutin tertentu, dimana standard prosedur operasional memberikan langkah yang benar dan terbaik berdasarkan consensus bersama untuk melaksanakan berbagai kegiatan dan fungsi pelayanan yang dibuat oleh sarana pelayanan kesehatan berdasarkan standard profesi.”
Joseph H. King Jr.100 sebagaimana dikutip oleh Soerjono Soekanto dan Herkutanto menyebutkan:
“Mengenai standar perawatan atau standar profesional tidaklah mudah menentukannya. Oleh karena itu, dalam penentuan tolak ukurnya itu diajukan beberapa permasalahan terlebih dahulu. Setelah masalah-masalah itu terjawab barulah dapat dilakukan identifikasi terhadap standarisasi perawatan atau standar profesional tersebut.”
Berdasarkan keterangan ahli dr. Johanis F. Mallo, S.H.,S.Pt.DFM., dipersidangan mengatakan penyebab korban (Siska Makatey) meninggal dunia adalah karena masuknya udara dalam bilik kanan jantung yang menghambat udara masuk paru-paru dan terjadi kegagalan fungsi paru dan selanjutnya mengakibatkan kegagalan fungsi jantung, yang mana udara masuk kedalam bilik kanan jantung korban sebelum operasi dilakukan karena terjadi pelebaran pembuluh darah yang disebabkan oleh reaksi tubuh. Kematian korban tidak ada hubungannya dengan tindakan operasi yang dilakukan oleh para terdakwa.
Berdasarkan keterangan saksi Prof. dr. Najoan Nan Waraouw di persidangan mengatakan bahwatindakan operasi yang dilakukan para Terdakwa sudah sesuai prosedur dan ternyata anak dari korban selamat dan kematian korban (Siska Makatey) diluar jangkauan.
Melihat alat-alat bukti dalam persidangan yakni Putusan dari lembaga kedokteran yang berwenang menilai apakah tindakan dokter dalam menjalankan tugasnya telah sesuai dengan prosedur atau melanggar standar operasional prosedur yakni Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK), setelah membaca dan mempelajari Hasil Sidang Majelis Kehormatan Etika Kedokteran
100
Soerjono Soekanto dan Herkutanto, Pengantar Hukum Kesehatan, Bandung, Remadja Karya, 1987, hlm 159.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Sulawesi Utara No. 006/IDIWIL /SULUT /MKEKII/ 2011 tanggal 24 Pebruari 2011 yang ditanda tangani oleh Prof. Dr. R. L. Lefrandt, S.PJP-(K) sebagai ketua, Prof. Dr. Max Mantik, S.PA(K) sebagai sekertaris dan juga mempertimbangkan Visum Et Repertum atas nama Julia F. Makatey tertanggal 26 April 2010 yang ditanda tangani oleh dr. Johanis F. Mallo, S.H.,S.Pt.,DFM.
Berdasarkan uraian-uraian keterangan saksi, keterangan ahli sebagaimana dikemukakan diatas Majelis Hakim tidak melihat adanya bukti-bukti yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum maupun oleh para Terdakwa/ Penasehat Hukumnya, untuk dapat dijadikan ukuran bahwa para Terdakwa didalam menangani operasi cito sectio ceseria tidak sesuai dengan SOP sehingga menyebabkan kematian korban (Siska Makatey) dan hal tersebut dikuatkan pula oleh hasil sidang Majelis Kehormatan Etik Kedokteran IDI Wilayah Sulawesi Utara No.006/IDI-WIL/SULUT/MKEK/II/2011 tanggal 24 Februari 2011.
Berdasarkan uraian-uraian diatas, maka majelis hakim berkesimpulan bahwa dakwaan para terdakwa telah melakukan kelalaian dalam menjalankan tugasnya sebagai profesi medik, sehingga mengakibatkan meninggalnya pasien (Siska Makatey) adalah tidak terbukti menurut hukum. Dengan demikian maka para terdakwa harus dibebaskan dari dakwaan kesatu primair yang mana unsur melawan hukumnya adalah karena kelalaian dalam menjalankan tugasnya sehingga menimbulkan kematian pada orang lain. hal itu sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 359 KUHP Jis Pasal 361 KUHP, Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.
Dakwaan kesatu primer yang didakwakan kepada para terdakwa yaitu melanggar Pasal 359 KUHP Jis Pasal 361 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP merupakan pasal pemberatan dari pasal yang didakwakan dalam dakwaan kesatu subsider yaitu melanggar Pasal 359 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP, karena kelalaian yang menyebabkan kematian pada orang lain itu dijalankan dalam melaksanakan profesinya. Maka dengan dibebaskannya para Terdakwa dari dakwaan kesatu primer yaitu melanggar Pasal 359 KUHP Jis Pasal 361 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP, maka para terdakwa haruslah juga dibebaskan dari dakwaan kesatu subsider yaitu melanggar Pasal 359 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.
Dakwaan kesatu telah gugur, maka akan dipertimbangkan dakwaan alternatif yang kedua yakni perbuatan para terdakwa sebagaimana diatur dan diancam dengan pidana dalam Pasal 76 Undang-Undang R.I No. 29 Tahun 2004 tentang Prakter Kedokteran Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Adapun Pasal 76 Undang-Undang R.I No. 29 Tahun 2004 tentang Prakter Kedokteran berbunyi sebagai berikut :
“Setiap dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja melakukan praktek kedokteran tanpa memiliki surat izin praktek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah)” Berdasarkan dakwaan kedua tersebut, dan didengarkan keterangan saksi-saksi dalam persidangan yaiut dr. Hermanus J. Lalenoh, Sp.An., Prof. dr. Najoan Nan Waraouw, yang mana menyatakan bahwa para Terdakwa sebenarnya adalah peserta didik Program Pendidikan Dokter Spesialis di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi tetapi bertindak sebagai tenaga
medis karena sudah memiliki Surat Tanda Registrasi (STR). Dalam hal ini, peserta pendidikan program dokter spesialis para Terdakwa tidak wajib memiliki surat ijin praktek karena sudah memiliki Surat Tanda Registrasi dokter dan sudah bisa melakukan tindakan kedokteran. Namun demikian seorang dokter tetap wajib memiliki sirat ujun praktek walaupun sudah mendapatkan STR.
Peserta pendidikan program dokter spesialis para Terdakwa tidak wajib memiliki surat ijin praktek karena sudah memiliki Surat Tanda Registrasi dokter dan sudah bisa melakukan tindakan kedokteran. Proses pengajuan perijinan dokter PPDS adalah Surat Tanda Registrasi diajukan oleh Dekan Fakultas Kedokteran kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Manado untuk diterbikan ijin praktek secara kolektif, yang menjadi dasar Dekan Fakultas Kedokteran mengajukan permohonan ijin kolektif untuk dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis adalah Peraturan Menteri Kesehatan No.512 tahun 2007. Terdakwa I sudah mengurus Surat Ijin Praktek pada tahun 2010 sebagai dokter umum. Ketua Program Study Kebidanan dan kandungan di Universitas Sam Ratulangi adalah Prof. dr. Najoan Nan Waraouw sendiri dan para Terdakwa belum diusulkan untuk mendapatkan Surat Ijin Praktek (SIP) oleh Dekan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Manado.
Berdasarkan keterangan ahli yang dihadirkan dalam persidangan dr. Johanis F. Mallo, S.H.,S.Pt.DFM., menyatakan berkaitan dengan persoalan SIP adalah bahwa untuk dokter PPDS Surat Ijin Prakteknya dilakukan oleh Dekan Fakultas Kedokteran dengan membuat usulan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Dinas Kesehatan menerbitkan Surat Ijin Praktek secara
kolektif. Jika Dekan Fakultas Kedokteran tidak mengusulkan Ijin Praktek dokter PPDS kepada Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota itu merupakan suatu kelalaian. Namun jika ada 10 (sepuluh) dokter PPDS oleh Dekan Fakultas Kedokteran tidak melaporkan kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota para dokter PPDS tersebut tidak berkewajiban mengurusnya.
Berdasarkan keterangan para saksi dan keterngan ahli diatas maka tindakan para terdakwa menjalankan tugas praktek kedokteran walaupun belum memiliki Surat Ijin Praktek bukanlah sebuah pelanggaran Prosedural karena para terdakwa adalah peserta didik dalam Program Pendidikan Dokter Spesiaalis