86 Franz Magnis-Suseno, SJ
secara positif. Konsili tersebut mengakui bahwa dalam agama-agama lain ada yang “kudus” dan “benar” dan mendesak umat Katolik untuk menghargai nilai-nilai dalam agama-agama itu. Secara khusus, agama Islam dan Yahudi dipuji. Gereja Katolik secara mendadak menyadari secara terbuka sesuatu yang sebenarnya sudah lama menjadi pengalamannya, bahwa di agama-agama luar Kristiani ada unsur-unsur yang baik.
Di Indonesia, “dialog antarumat beragama” tidak dimulai seakan-akan sebagai sesuatu yang resmi dan kaku, melainkan dari keprihatinan bersama beberapa intelektual dan tokoh agama terhadap perkembangan bangsa. Itu pun sebelum Konsili Vatikan II. Antara para politisi Katolik, Protestan, dan Islam sudah sejak sebelum kemerdekaan terbangun hubungan pribadi dan saling menghormati yang baik karena mereka bersatu dalam perjuangan demi pembebasan dari penjajahan Belanda. Kemudian khususnya antara Partai Katolik dan Masyumi (partai Islam terbesar), begitu pula antara PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) telah terbangun hubungan yang baik, di mana yang terakhir bertahan sampai hari ini, antara lain dalam Kelompok Cipayung.
Tetapi selain itu, hubungan antara umat Katolik dan Islam nyaris tidak ada. Masing-masing berjalan sendiri-sendiri, dan pada umumnya mereka saling mencurigai. Namun, sejak 1970-an pelan-pelan terjadi perubahan. Pemerintah Orde Baru pun berjasa karena mengadakan secara teratur pertemuan-pertemuan antara pimpinan umat agama-agama di daerah dalam rangka Muspida. Meskipun pertemuan-pertemuan ini kaku dan mengikuti agenda pemerintah, tetapi sekurang-kurangnya para pemimpin umat mulai mengenal satu sama lain.
Dobrakan paling penting ke arah dialog terjadi di kalangan intelektual. Di tahun 1970-an, sebagian besar kaum intelektual Indonesia—yang semula mendukung Soeharto—tidak lagi terpesona oleh Orde Baru. Pelanggaran hak-hak asasi manusia, korupsi yang berkaitan dengan “Cendana” (jalan letak rumah Soeharto dan keluarganya) dan otoritarianisme pemerintahan mendorong kaum intelektual Indonesia lintas agama untuk memikirkan masa depan bangsa. Di kalangan Katolik, sekelompok kecil romo-romo, termasuk mendiang Rm. Mangunwijaya dan Rm. Danuwinata S.J., prihatin dengan kesenjang an hasil pembangunan. Keadilan sosial kelihatan semakin jauh. Mereka juga menyadari bahwa kalau umat Kristiani sebagai umat minoritas mau aman di Indonesia, dia harus membangun hubungan berdasarkan saling percaya dengan mainstream Islam. Jadi, gereja Katolik harus keluar dari sebuah perspektif yang melawankan “kaum nasionalis” terhadap “kaum Islam” di mana umat-umat minoritas mencari perlidungan dengan mendukung “kaum nasionalis”. Di lain pihak, dari sudut Islam muncul semakin banyak
Pengantar Kata Bersama 87
tokoh intelektual yang sadar bahwa Islam Indonesia harus membuka diri terha dap cita-cita positif modernitas, khususnya pluralisme. Dua tokoh raksasa intelektual Islam Indonesia terbuka itu adalah Nurcholish Madjid dan Abdurrachman Wahid yang memelopori intensifikasi komunikasi dengan kaum intelektual Kristiani.
Yang menarik bahwa justru pada era 1990-an di mana ketegangan antara umat Kristiani dan Islam bertambah—ada kaitan juga dengan kebijakan “balikan” Islami Soeharto—hubungan antara tokoh-tokoh dan pimpinan Katolik dan Islam mainstream bertambah erat. Pertama antara Katolik dan Nadlatul Ulama (NU), tetapi kemudian juga, di zaman kepemimpinan Amien Rais, antara Muhammadiyah dan Katolik. Hubungan ini justru semakin erat waktu perang saudara antara Kristen dan Muslim di Maluku dan Poso. Begitu pula permulaan teror di Indonesia—1999 bom di Istiqlal di Jakarta, lalu bom-bom Natal 2000 (30 bom-bom meledak di antara Batam, Medan, dan Lombok) yang membunuh 17 orang (termasuk seorang anggota Banser NU yang menjaga gereja di Jombang, dan terkena bom waktu dia hendak membawa bom itu ke luar gereja), dan melukai lebih dari 100 orang; teror itu tak pernah diselidiki polisi. Kiranya jelas juga bahwa 30 peledakan bom di suatu wilayah seluas
2.000 km2 dalam waktu 90 menit mengandaikan kemampuan logistik yang jauh
melampaui segenap sel teroris—jadi, hanya bisa dilakukan dengan dukungan dari organisasi yang mempunyai jaringan komando nasional dan pandai menyediakan serta menangani bahan peledak. Peristiwa itu justru mempererat hubungan Katolik (dan Protestan) dengan pelbagai tokoh Muslim, termasuk beberapa tokoh yang umumnya dianggap “keras”.
Sekarang, 13 tahun sesudah Indonesia kembali ke alam demokrasi, dan meskipun intoleransi dalam masyarakat cenderung bertambah serta ada pelbagai golongan garis keras, namun komunikasi dan dialog antara Katolik (dan Protestan) dengan pelbagai kalangan Muslim semakin erat. Kenyataan ini luar biasa dan boleh kita syukuri serta amat penting baik bagi hubungan antara umat beragama di Indonesia pada umumnya, maupun bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia itu sendiri.
Tetapi, di antara pelbagai kekurangan dialog antaragama ini, ada satu yang tidak boleh kita biarkan terus. Dialog itu mengenai hubungan di antara kita, mengenai tantangan-tantangan yang dihadapi kehidupan bangsa, tetapi hampir belum sama sekali mengenai keyakinan iman kita masing-masing. Dialog yang sungguh-sungguh masuk ke dalam teologi nyaris belum ada. Tetapi, di tingkat itu pun dialog perlu. Betul, seperti pernah dikatakan Abdurrachman Wahid, kita tidak dapat berdialog tentang hal-hal akidah. Tentang bahwa umat Kristiani meyakini “Nabi Isa” sebagai pengejawan tahan Allah itu sendiri, dan bahwa Al-Qur’an adalah wahyu Allah terakhir yang
88 Franz Magnis-Suseno, SJ
membatalkan wahyu-wahyu sebelumnya. Kita bisa barangkali, apabila situasi meng izinkannya, melakukan sharing—jadi, saling berbagi makna iman bagi kita sendiri, tetapi kita tidak dapat berdialog. Kita harus mengakui bahwa di situ kita berbeda pendapat dan kita saling menghormati, tetapi tidak mungkin lebih.
Akan tetapi, itu tidak berarti bahwa suatu dialog teologis sungguh-sungguh tidak mungkin. Kita dapat berdialog tentang hakikat dan sikap Allah: apabila Allah adalah cinta, atau belas kasihan, apa implikasinya? Tentang surga dan neraka, tentang apa yang dikehendaki Allah kita perbuat dengan hidup kita. Tentang martabat manusia ciptaan istimewa Allah dan bahwa kita harus saling menghormati dalam keutuhan. Kita bahkan dapat berdialog tentang misi/dakwah.
***
Nah, di sini, Kata Bersama dari 138 teolog dan intelektual Muslim yang dibahas dalam buku ini menjadi amat penting. Yang mereka lakukan, dan yang mereka tawarkan kepada pada pimpinan dan teolog Kristiani, adalah tak kurang sebuah dialog teologis yang mendalam. Fakta saja bahwa 138 tokoh Muslim dari seluruh dunia Islam berhasil diajak menandatangani surat ini dan dengan demikian bersedia menawarkan persahabatan kepada dunia Kristiani merupakan sesuatu yang luar biasa. Mereka mendobrak ke luar dari kerangka-ke rangka lama—yang masih luas ada di kedua belah pihak—di mana Islam dan Kristianitas saling memandang sebagai pesaing. Lebih daripada itu, mereka menyapa para pemimpin dunia Kristiani sebagai saudara. Surat ini memperlihatkan kepercayaan para penulis tersebut ke dalam keterbukaan pada agama Kristiani. Tugas memang raksasa: agar dalam dunia yang tersobek-sobek oleh segala macam konflik itu kaum Muslim dan kaum Kristiani bersama-sama membuka kesempatan bagi perdamaian. Harapan itu bukan bayang-bayang kosong. Makin kaum Muslim dan kaum Kristiani berhasil membangun hubungan positif, dalam saling percaya, di antara mereka, makin besar sumbangan mereka terhadap perdamaian dunia.
Kata Bersama berargumentasi secara teologis. Kerja sama demi
perdamaian di dunia agar kita usahakan di hadapan Allah. Sekaligus para penulis Muslim menerima saudara-saudara Kristiani sebagai orang yang juga beriman di hadapan Allah. Dalam hubungan ini, kita membaca kalimat kalian yang amat berarti: “Kami tidak melawan Anda!”, suatu kalimat yang juga menantang kami kaum Kristiani: bersediakah kami mengatakan bahwa “kami tidak anti-Islam”?