BAB XIII. KEBIJAKAN PUBLIK DI BIDANG PENDIDIKAN
A. MAKNA KEBIJAKAN PUBLIK DI BIDANG PENDIDIKAN
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, menurut Winarno (2005:17), kebijakan publik adalah kebijakan yang dikembangkan oleh lembaga-lembaga dan pejabat-pejabat pemerintah, yang dipengaruhi oleh aktor-aktor dan faktor-faktor bukan pemerintah. Dari pengertian ini, maka :
1. Kebijakan tidak semata-mata didominasi oleh kepentingan pemerintah. 2. Aktor-aktor di luar pemerintah harus diperhatikan aspirasinya.
3. Faktor-faktor yang berpengaruh harus dikaji sebelumnya.
Ketiga hal tersebut perlu ditekankan mengingat ketika sektor di luar negara/ pemerintah tidak dilibatkan sejak awal, akan menjadikan kebijakan mengalami kontra produktif. Artinya, kebijakan tidak akan memiliki pengaruh apa pun di semua sektor. Demikianlah halnya dengan pendidikan yang peran dan tanggung jawabnya bukan hanya terletak pada pemerintah, tetapi juga masyarakat, dan dunia usaha (swasta).
Pengertian yang berbeda dikemukakan oleh Dye (1981:2) yang mendefinisikan kebijakan publik sebagai whatever government choose to do or not to do. Maksudnya adalah pilihan tindakan apa pun yang dilakukan atau tidak ingin dilakukan oleh pemerintah. Penekanan pendapat ini bahwa kebijakan tidak hanya rumusan di atas kertas saja, tetapi pilihan tindakan yang akan diambil oleh peme-rintah, baik dilakukan maupun tidak dilakukan tanpa dipengaruhi oleh pihak nonpemerintah.
Dua pengertian di atas bertolak belakang karena yang pertama sangat memper-hatikan pihak di luar pemerintah, sedangkan yang kedua sangat mengabaikan sektor di luar pemerintah, seperti masyarakat yang secara langsung mendapat dampak langsung dari kebijakan. Namun pendapat kedua menggarisbawahi ten-tang “memilih dan tidak memilih tindakan” harus dipahami dalam kerangka seperti
166
digambarkan dalam matrik/tabel di bawah ini.
Kebijakan Dilihat dari Kegiatan dan Kemampuan Masyarakat
Kegiatan Strategis Kegiatan Tidak/Kurang
Strategis
Masyarakat mampu melaksanakan
I
Pemerintah dengan Masyarakat
II
Masyarakat
Masyarakat tidak mampu melaksa-nakan
III
Pemerintah
IV
Pemerintah (dibiarkan)
Sumber : Muh. Munadi & Barnawi, 2011:18.
Menurut Riant Nugroho (2003:54), dilihat dari empat kuadran tersebut di atas, kebijakan pendidikan termasuk dalam kuadran I sehingga diperlukan partisipasi aktif sektor di luar pemerintah. Pendidikan sebenarnya bisa dilaksanakan oleh masyarakat, tetapi pemerintah menganggap bahwa pendidikan merupakan kegiat-an strategis bagi perkembkegiat-angkegiat-an sebuah negara karena penentu kualitas sebuah bangsa terletak pada tingkat pendidikan yang dicapai penduduknya. Karenanya pemerintah tidak bisa lepas tangan. Keterlibatan pemerintah dan masyarakat meliputi perencanaan, pembuatan, implementasi, monitoring, dan evaluasi kebi-jakannya.
Demikianlah, maka kebijakan publik di bidang pendidikan dapat didefinisikan sebagai keputusan yang diambil bersama antara pemerintah dengan aktor di luar pemerintah dan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi untuk dilaksanakan atau tidak dilaksanakan pada bidang pendidikan bagi seluruh warga masyarakat. Kebijakan publik di bidang pendidikan ini meliputi anggaran, kuri-kulum, rekrutmen tenaga kependidikan, pengembangan profesional staf, tanah dan bangunan, pengelolaan sumber-sumber daya, dan kebijakan lain yang bersentuhan langsung maupun tidak langsung atas pendidikan.
Kebijakan publik di bidang pendidikan dalam pembuatannya melalui tahapan yang panjang yang menurut Dunn (2003) dibagi menjadi lima tahapan, yaitu penyusunan agenda, formulasi kebijakan, adopsi kebijakan, implementasi kebijakan, dan penilaian kebijakan. Kelima tahapan ini harus memperhatikan tiga hal pokok, yaitu pemerintah, aktor-aktor di luar pemerintah (kelompok kepentingan dan ke-
167
lompok penekan), serta faktor-faktor selain manusia yang akan maupun telah mempengaruhi kebijakan.
Sementara itu kebijakan pendidikan menurut Devine (2007) memiliki empat dimensi pokok, yaitu dimensi normatif, struktural, konstituentif, dan teknis.
Dimensi normatif terdiri atas nilai, standar, dan filsafat, yang memaksa masyarakat
untuk melakukan peningkatan dan perubahan melalui kebijakan pendidikan yang ada. Dimensi ini memerlukan dukungan dimensi struktural yang berkaitan dengan ukuran pemerintah (sentralisasi, desentralisasi, atau bentuk lain), dan struktur orga-nisasi, metode, dan prosedur yang menegaskan dan mendukung kebijakan bidang pendidikan. Dimensi konstituentif terdiri dari individu, kelompok kepentingan (stakeholders), dan penerima yang menggunakan kekuatan untuk mempengaruhi prose pembuatan kebijakan, Sementara dimensi teknis menggabungkan pengem-bangan, praktek, implementasi, dan penilaian dari pembuatan kebijakan publik.
Dalam pada itu untuk menyusun agenda kebijakan, pertanyaan besarnya, di mana posisi pendidikan? Bagiamana memposisikan kembali pendidikan, dan apa yang dapat dilakukan oleh pendidikan? Jawabannya antara lain dapat diidentifi-kasikan kelompok besar isu strategis yang masing-masing isu dimaksud mengan-dung dimensi-dimensi ekonomi, politik, sosial-budaya, dan hukum. {Fasli Jalal dan Dedi Supriadi (ed), 2001:15-16}. Isu-isu dimaksud adalah :
1. Lemahnya kemampuan masyarakat dalam bidang pendidikan, termasuk dalam hal finansial, sosial, kultural, dan legal, serta kamauan politik yang cukup untuk memprioritaskan pendidikan.
2. Lemahnya kemampuan sistem pendidikan nasional, dalam arti belum memiliki kemampuan cukup untuk memberikan layanan terbaik bagi masyarakat. Struk-tur dari sistem yang baru belum jelas, budaya pendukungnya lebih belum jelas, inkonsistensi dalam peraturan perundang-undangan masih mungkin terjadi. Secara ekonomis pun masih banyak yang belum baik, pemorosan dan inefisiensi masih banyak ditemui.
3. Desentralisasi sudah dilaksanakan, namun dalam urusan pendidikan belum mencapai tingkat kesiapan yang memadai. Identifikasi dan pemilahan urusan daerah dari urusan pusat belum mantap, seperti misalnya penyerahan urusan
168
pendidikan dasar dan menengah kepada kabupaten/kota, sehingga menjadi ajang politisasi Kepala Daerah, juga perlunya penataan sistem organisasi, manajemen, pengembangan sumber daya manusia, sumber daya finansial, dsb. 4. Relevansi pendidikan dengan perkembangan sosial budaya masyarakat,
pereko-nomian, struktur ketenagakerjaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan tekno-logi, serta tatanan politik masyarakat yang demokratis, masih membutuhkan pemikiran yang mendasar.
5. Akutabilitas pendidikan, sehingga dituntut pertanggungjawaban/pertanggung-gugatan tugasnya sesuai dengan visi dan misinya kepada masyarakat yang ikut memiliki dan diharuskan oleh pendidikan. Adalah kewajiban pemerintah untuk menyediakan layanan pendidikan bermutu sesuai dengan sumber daya yang tersedia dan dipercayakan kepadanya.
B. PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DALAM KONTEKS OTONOMI DAERAH