• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLITIK DEMOKRATIK DALAM KEBIJAKAN PENDIDIKAN

Dalam dokumen Bahan Ajar Kebijakan Publik (Naskah) (Halaman 178-181)

BAB XIII. KEBIJAKAN PUBLIK DI BIDANG PENDIDIKAN

C. POLITIK DEMOKRATIK DALAM KEBIJAKAN PENDIDIKAN

Pelibatan pemerintah, aktor-aktor di luar pemerintah, dan faktor-faktor di luar ma- nusia dalam kebijakan publik tidak secara otomatis dilakukan, akan tetapi disesuaikan dengan tahapan yang telah dicapai dalam proses demokrasi. Masing-masing tahapan memiliki intensitas yang berbeda dalam pelibatan ketiga komponen tersebut di atas dalam pembuatan kebijakan publik. Makna demokrasi dalam bidang pendidikan pun pengertiannya berbeda. Priyono dan Pranarka (1996:2) membagi demokrasi dalam tiga tahap, yaitu :

1. Tahap Inisial : Dari pemerintah, oleh pemerintah, untuk rakyat. Hal ini menun-jukkan dominasi pemerintah sangat kuat, sementara rakyat hanya dianggap sebatas penerima apa pun yang datang dari pemerintah. Artinya, rakyat tidak perlu diikutsertakan dalam proses apa pun yang berkait dengan diri mereka. 2. Tahap Partisipatoris : Dari pemerintah bersama rakyat, oleh pemerintah

ber-sama rakyat, untuk rakyat. Dalam hal ini sudah terdapat keikutsertaan dari luar pemerintah, yaitu rakyat yang punya kepentingan untuk memperjuangkan nasibnya.

3. Tahap Emansipatif : Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat yang didukung oleh pemerintah bersama rakyat. Dalam hal ini rakyat dilibatkan secara penuh sejak awal perencanaan pembuatan keputusan/kebijakan.

Griffin dan Moorhead (1986:565) ketika membahas operasional organisasi, yaitu sentralisasi dan desentralisasi berkaitan dengan tingkat partisipasi pembuatan keputusan, menggambarkannya dengan tabel sebagai berikut :

Tingkat Partisipasi Pembuatan Keputusan Berkait dengan Tipe Keputusan

Participation in Decision Making Much Little Formalized Decentalization True Decentralization Centralizaion

Sumber : M. Munadi & Barnawi, 2011:22.

Tabel tersebut di atas menunjukkan ada tiga kemungkinan dalam memahami sebuah partisipasi dikaitkan dengan tipe keputusan yang dibuat, yaitu :

1. Partisipasi dalam pengambilan keputusan hanya kalangan terbatas dan jumlah- nya kecil. Maka struktur organisasinya bersifat sentralisasi.

174

2. Jika individu atau kelompok berpartisipasi secara luas dalam pembuatan kepu- tusan, tetapi hanya dalam keputusan terprogram (programmed decisions), disebut desentralisasi formal.

3. Jika yang terjadi individu atau kelompok berpartisipasi secara luas, tetapi dalam pembuatan keputusan tak terprogram (nonprogrammed decisions), disebut desentralisasi nyata (true decentralization).

Desentralisasi pun bisa memiliki dua sifat, yaitu rendah dan tinggi. Greenberg dan Baron (2003:555) menggambarkannya dalam tabel sebagai berikut :

Perbandingan Desentralisasi Rendah dan Tinggi

Low Decentralization High Centralization (Desentralisasi Rendah Sentralisasi Tinggi)

High Decentralization Low Centralization (Desentralisasi Tinggi Sentralisasi Rendah

Menghapuskan tambahan tanggung

jawab yang tidak diinginkan oleh orang yang melakukan pekerjaan-pekerjaan rutin.

Izinkan pembuatan keputusan krusial dibuat oleh individu yang mempunyai “big picture”.

Dapat mengurangi tingkat manajemen,

membuat sebuah organisasi pembelajar.

Menaikkan kesempatan yang sangat besar untuk keputusan yang dibuat oleh orang yang mengakrabi masalah.

Sumber : M. Munadi & Barnawi, 2011:23.

Perbandingan di atas menunjukkan bahwa desentralisasi yang tinggi sangat menghargai keterlibatan semua unsur yang langsung menghadapi masalah. Dengan demikian keputusan yang diambil bersifat bottom-up, dapat memiliki efektivitas keputusan yang sesuai dengan kebutuhan yang ada di bawah.

Desentralisasi karenanya dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dan menciptakan magnet sekolah untuk berusaha menarik kelas menengah berpasi pula di dalamnya. Kebijakan daerah yang dicoba untuk meningkatkan partisi-pasi di antaranya program perbaikan atau proyek-proyek perbaikan sekolah, pelayanan-pelayanan daya ingat pelajar, sekolah kecil, standarisasi, dan evaluasi kurikulum melalui ujian, dsb.

Kondisi tersebut di atas dapat terwujud ketika sebuah kebijakan publik memenuhi prasyarat, yaitu bahwa pembuatan kebijakan harus berproses melalui interaksi kritis di antara para tenaga ahli, politikus, dan keterlibatan masyarakat. Mereka saling mempercakapkan kepentingan umum secara bebas tanpa paksaaan

175

sehingga terselenggara kesejahteraan bagi masyarapat (publik). Hal ini memungkin-kan tumbuhnya potensi sebuah lingkungan dan suasana yang komunikatif demo-kratis dalam masyarakat dengan banyak anggota. (Habermas dalam Hardiman, 1993:127-129).

Berkaitan dengan partisipasi masyarakat, menurut Suci Handayani (2006:18) terdapat dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

1. Partisipasi masyarakat sebagai tujuan. Partisipasi semacam ini akan membe-lenggu, mendistorsi, dan menghilangkan hak warga negara untuk terlibat pro-aktif dalam setiap kebijakan yang diambil. Pamaknaan ini hanya menekankan pada aspek partisipasi formal atas masyarakat.

2. Partisipasi masyarakat sebagai alat. Partisipasi semacam ini mengandung maksud bahwa setiap tindakan partisipasi menjadi sebuah keniscayaan. Pemak-naan ini keterlibatan masyarakat harus proaktif.

Pemaknaan-pemaknaan partisipasi masyarakat mensyaratkan beberapa hal sebagai berikut (Munadi & Barnawi, 2011:29) :

1. Kesadaran penuh kelompok elite atas interaksinya dengan kelompok nonelite. 2. Kelompok nonelite tidak merasa interaksinya dengan kelompok elite sebagai

sebuah bentuk belas kasihan.

3. Interaksi yang ada menjadikan kedua kelompok (elite dan nonelite) berpartisipasi aktif.

4. Partisipasi berawal dari penentuan tujuan bersama dan cara-cara mewujudkan-nya, pelaksanaan, memperoleh hasil (keuntungan), serta penilaian terhadap seluruh kegiatan atau program.

5. Interaksi kedua kelompok menghasilkan keputusan strategis di bidang pendidik-an (formasi kepegawaipendidik-an, pengembpendidik-angpendidik-an profesional staf, pendidik-anggarpendidik-an, tpendidik-anah dpendidik-an bangunan, pengelolaan sumber daya, serta kurikulum).

Adapun bentuk partisipasi masyarakat dalam pendidikan menurut Soebagio Atmodiwirio (2000:74-75) meliputi :

1. Pendirian dan penyelenggaraan satuan pendidikan pada jalur pendidikan sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah pada semua jenis pendidikan kecuali pen- didikan kedinasan, dan pada semua jenjang pendidikan sekolah.

176

2. Pengadaan dan pemberian bantuan tenaga kependidikan untuk melaksanakan atau membantu pengajaran, pembimbingan, dan pelatihan peserta didik.

3. Pengadaan dan pemberian tenaga ahli untuk membantu pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar atau penelitian dan pengembangan.

4. Pengadaan dan penyelenggaraan program pendidikan yang belum diadakan atau diselenggarakan oleh instansi pemerintah untuk menunjang pendidikan nasional. 5. Pengadaan dana dan pemberian bantuan yang berupa wakaf, hibah, sumbangan,

pinjaman, beasiswa dan bentuk lain yang sejenis.

6. Pengadaan dan pemberian bantuan ruangan, gedung dan tanah untuk melak-sanakan kegiatan belajar-mengajar.

7. Pengadaan dan pemberian bantuan buku pelajaran dan peralatan pendidikan untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.

8. Pemberian kesempatan untuk magang atau latihan kerja.

9. Pemberian bantuan manajemen bagi penyelenggaraan satuan pendidikan dan pengembangan pendidikan nasional.

10. Pemberian pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan kebijakan dan penyelenggaraan pengembangan pendidikan.

11. Pemberian bantuan dan kerjasama dalam kegiatan penelitian dan pengem-bangan.

12. Keikutsertaan dalam program pendidikan atau penelitian yang diselenggarakan oleh pemerintah di dalam dan di luar negeri.

Selanjutnya menurut Yuliantara (2004:130), bahwa partisipasi sebagai bentuk demokrasi setidaknya membutuhkan tiga hal utama, yaitu :

1. Kesukarelaan dari masyarakat untuk menggerakkan demokrasi. 2. Keterampilan masyarakat untuk bekerja dengan demokrasi. 3. Arena yang terjamin untuk pelaksanaan demokrasi.

D. KEBIJAKAN PENDIDIKAN

Dalam dokumen Bahan Ajar Kebijakan Publik (Naskah) (Halaman 178-181)