• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DALAM KONTEKS OTONOMI DAERAH

Dalam dokumen Bahan Ajar Kebijakan Publik (Naskah) (Halaman 173-178)

BAB XIII. KEBIJAKAN PUBLIK DI BIDANG PENDIDIKAN

B. PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DALAM KONTEKS OTONOMI DAERAH

Istilah pembangunan semula diperkenalkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Harry S. Truman pada pidato pelantikannya sebagai Presiden tanggal 20 Januari 1949, dengan menyebut istilah baru kepada dunia, yaitu “kawasan terbelakang” (underdeveloped areas) yang memerlukan pembangunan (development). Pada awalnya istilah ini untuk menyebut kawasan Amerika bagian selatan, namun kemudian berkembang menjadi konsep pembangunan di Asia, Afrika, dan Ame-rika Latin, yang menjadi politik AS sebagai kelanjutan dari program “Marshall Plan” pada tahun 1950an yang berhasil memulihkan Eropa yang hancur karena Perang Dunia Kedua. Bendera “pembangunan” ini dijadikan ideologi gobal bagi negara-negara pengikut maupun simpatisan AS sebagai lawan dari “revolusi” yang ditawarkan Blok Timur di bawah pimpinan Uni Soviet.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendefinisikan pembangunan sebagai sebuah upaya atau proses dinamis tanpa akhir. (Riant Nugroho, 2008:14). Definisi ini kemudian dikembangkan oleh Sudjatmoko, Rektor Universitas PBB, yaitu : “… sebuah proses pembelajaran dari satu kehidupan ke satu kehidupan

169

yang lebih baik…” Pemahaman Sudjatmoko adalah bahwa pembangunan meru- pakan sebuah proses alami, otonom, dan kontekstual. Menurut Sudjatmoko, pembangunan adalah proses belajar yang bertahap, sehingga selalu ada proses kapitalisasi kemajuan pada setiap tahap. Pembangunan dipahami sebagai sebuah proses yang positif dari tahap ke tahap.

Definisi lain tentang pembangunan dikemukakan oleh Sondang P. Siagian (2005:4), sebagai rangkaian usaha mewujudkan pertumbuhan dan perubahan secara terencana dan sadar yang ditempuh oleh suatu negara bangsa menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation building).

Di Indonesia, pembangunan adalah kegiatan yang dirancang dengan sengaja oleh pemerintah dalam rangka kemajuan kehidupan bersama. Dokumen-dokumen perencanaan pembangunan yang dirumuskan sejak era pemerintahan Presiden Sukarno dengan “Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi” (Tubapin), Presiden Suharto dengan “Garis-garis Besar Haluan Negara” (GBHN) dan “Rencana

Pem-bangunan Lima Tahun” (Repelita), Presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati

Sukarnoputri dengan “Rencana Strategis Pembangunan Nasional” (Renstrabang-nas) dan Program Pembangunan Nasional (Prope(Renstrabang-nas), hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan “Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Nasio-nal” (RPJMN), merupakan indikator yang menunjukkan bahwa pembangunan

merupakan sebuah rekayasa sosial (social engineering). 2. Pendidikan.

Pendidikan merupakan sebuah proses yang melekat pada setiap kehidupan bersama dan berjalan sepanjang perjalanan umat manusia. John Dewey menge-mukakan bahwa pendidikan dapat difahami sebagai sebuah upaya konservatif dan progresif dalam bentuk pendidikan sebagai formasi, sebagai rekapitulasi, dan restrospeksi, dan sebagai rekonstruksi. (Riant Nugroho, 2008:19). Menurut Michael Rutz, pendidikan berawal dari fakta bahwa manusia mempunyai keku-rangan, dan pendidikan merupakan jawaban untuk membuat manusia menjadi lengkap. Sementara itu P.J. Hills, memahami pendidikan sebagai proses belajar yang ditujukan untuk membangun manusia dengan pengetahuan dan keteram-

170

pilan.

Demikianlah pemahaman akan pendidikan seperti dikemukakan di atas memberikan arah bahwa pendidikan adalah suatu kegiatan yang melekat pada setiap kehidupan bersama, atau dalam bahasa politik menurut Riant Nugroho (2008:20) disebut sebagai “negara-bangsa”, dalam rangka menjadikan kehidupan bersama itu mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dan mengantisipasi perkembangan kehidupannya. Mengingat peran strategisnya itu, maka pendidik-an perlu dikembpendidik-angkpendidik-an oleh negara. Maka tepatlah pemahampendidik-an mengenai pendidikan sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional : “Pendidikan adalah usaha

sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembe-lajaran agarpeserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecer-dasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.”

Dari uraian tentang pembangunan dan pendidikan tersebut di atas, maka dapat dikatakan untuk menyelenggarakan pembangunan bangsa dan negara adalah melalui pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya. Yang dimaksud dengan seluas-luasnya adalah segala upaya yang dilakukan demi terwujudnya masyarakat modern yang didambakan. Artinya, pendidikan dapat bersifat formal, yang berlangsung di lembaga-lembaga pendidikan mulai dari yang paling dasar hingga pada strata yang paling tinggi, termasuk berbagai jenis pelatihan, dan dapat pula bersifat nonformal yang diselenggarakan di luar “bangku” sekolah.

3. Otonomi Daerah.

Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masya-rakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Daerah otonom adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan ma-

171

syarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Otonomi merupakan produk atau desentralisasi. (UU No. 32/2004).

Desentralisasi pada masa kini perlu dipahami dalam konteks meningkatnya intensitas globalisasi. S. Jun dan Deil S. Wright (1996) secara khusus mengaitkan globalisasi dengan desentralisasi. Menurut mereka, globalisasi menjadikan pelaku-pelaku ekonomi bergerak secara langsung masuk ke daerah-daerah dari suatu negara. Globalisasi mendorong terbukanya potensi lokal yang mendorong setiap daerah menyelenggarakan ekonomi daerah untuk menanggapi perkem-bangan global. (Riant Nugroho, 2008:24). Sementara itu Dennis A. Rondinelli dan Shabbir Cheema (1996) mengemukakan bahwa desentralisasi berkembang bukan saja berkenaan dengan menurunnya efektivitas penyelenggaraan administrasi publik yang tersentralisasi, namun juga disebabkan meningkatnya kompleksitas dan ketidakpastian proses pembangunan. Mereka juga mendefinisikan desen-tralisasi sebagai transfer pengelolaan ke unit-unit yang lebih kecil atau berada di bawahnya. Selanjutnya mereka merumuskan empat bentuk utama atau model desentralisasi, yaitu dekonsentrasi, delegasi, devolusi, dan privatisasi.

Pengertian tersebut di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Dekonsentrasi : Pembagian kewenangan dan tanggung jawab administratif antara departemen (sekarang kementerian) pusat dan pejabatnya di lapangan tanpa adanya penyerahan kewenangan untuk mengambil keputusan atau keleluasaan untuk membuat keputusan;

b. Delegasi : Pelimpahan pengambilan keputusan dan kewenangan manajerial untuk melakukan tugas-tugas khusus kepada suatu organisasi yang tidak secara langsung berada di bawah pengawasan pemerintah pusat;

c. Devolusi : Transfer kewenangan untuk pengambilan keputusan, keuangan, dan manajemen kepada unit otonomi daerah;

d. Privatisasi : Tindakan pemberian kewenangan dari pemerintah kepada badan-badan sukarela, swasta, dan swadaya masyarakat.

Dari empat bentuk/model desentralisasi tersebut di atas, yang diterapkan di Indonesia sesuai dengan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerin-tahan Daerah adalah model devolusi. Model ini memiliki konsekuensi tanggung

172

jawab atas apa saja yang diputuskan termasuk berimplikasi pada keuangan dan manajemen dibebankan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota. Di sinilah kabupaten/kota memiliki kewenangan dan tanggung jawab pada semua urusan kecuali urusan luar negeri, moneter, peradilan, pertahanan, keamanan, dan agama. Dengan demikian urusan pendidikan dan kebudayaan, juga yang lainnya seperti pertanahan, pertanian, tenaga kerja dan transmigrasi, kesehatan, ling-kungan hidup, pekerjaan umum, perhubungan, perdagangan dan industri, kope-rasi, penanaman modal, serta pelayanan dasar lainnya menjadi urusan otonomi daerah.

Devolusi dalam bidang pendidikan menurut Florestal dan Cooper (1997) dalam M. Munadi & Barnawi (2011:24-25) memiliki lima keistimewaan, yaitu : a. Melatih tanggung jawab secara legal dari departemen pusat;

b. Tidak di bawah pengawasan hierarki departemen pusat; c. Dapat melatih kekuasaan yang diberikan oleh hukum; d. Dapat bertindak sesuai dengan wilayah hukumnya;

e. Departemen pusat tidak bertanggung jawab untuk tindakan lembaga lokal. Sementara itu Christopher Pollit, Johnson Birchal, dan Keith Putman (1998) dalam Riant Nugroho (2008:25-26) memahami desentralisasi sebagai sebuah upaya yang bersifat ekonomis, yaitu meminimalisasi biaya dari sumber daya yang ada, untuk meningkatkan hasil atau kinerja. Lebih lanjut dikemukakan bahwa kualitas kinerja ditentukan oleh standar-standar yang dapat diukur dalam takaran profesional dengan standar-standar teknis. Aspek inti dari kinerja desen-tralisasi adalah kualitas, responsivitas, akuntabilitas, dan kontrol.

Demikianlah, maka dapat dirumuskan desentralisasi sebagai pendelegasian manajemen pembangunan dan pelayanan publik dari pemerintah (pusat) kepada daerah-daerah otonom yang diselenggarakan oleh organisasi administrasi publik daerah dalam rangka efisiensi dan efektivitas pencapaian tujuan pemerintah/ negara.

173

Dalam dokumen Bahan Ajar Kebijakan Publik (Naskah) (Halaman 173-178)