• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI SEMANTIK, MAKNA, SINONIM,

2.2 Makna

Makna adalah bagian yang tidak terpisahkan dari semantik dan selalumelekat dari apa saja yang kita tuturkan. Dalam kamus linguistik (Kridalaksana, 2001:132),pengertian makna dijabarkan menjadi :

1. Maksud pembicara

2. Pengaruh penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia

3. Hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidaksepadanan antara bahasa atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya

4. Cara menggunakan lambang-lambang bahasa

Makna dalam suatu bahasa akan membentuk pola tersendiri yang disebut tautan makna. Hal ini menunjukkan bahwa kata sebagai tanda bahasa yang tersusun dari bentuk dan makna. Tautan bentuk dan makna dalam kata itu membentuk pola relasi makna. Pembelajar biasanya sering mengalami kesalahan terhadap pola-pola makna dalam mempelajari bahasa.

Wujud pola-pola makna dapat berupa antonim, hiponim, homonim, akronim, sinonim, dan polisemi.

Semantik sebagai salah satu sub disiplin linguistik yang membahastentang bagaimana makna yang terdapat dalam sebuah proses pemaknaan baikpada pihak si pembicara maupun si pendengar dalam sebuah pembicaraan.Dalam perannya untuk membahas tentang makna, beberapa pakarlinguistik telah berusaha untuk menjabarkan jenis-jenis makna sesuai denganpandangannya masing-masing. Leech dalam Chaer (1994 : 290), membedakanmakna kedalam 7 tipe, diantaranya:

1. Makna Konseptual

Disebut juga sebagai makna denotatif atau makna kognitif.Dalampengertian luas tipe makna ini dianggap sebagai faktor sentral dalam komunikasibahasa, hal ini disebabkan karena makna konseptual mempunyai susunan yangamat kompleks dan rumit.

2. Makna Konotatif

Makna konotatif merupakan nilai komunikatif dari satu ungkapanmenurut apa yang diacu, melebihi di atas isinya yang murni konseptual.

3. Makna Refleksi

Makna Refleksi adalah makna yang timbul dalam hal makna konseptualganda, apabila suatu pengertian kata membentuk sebagian dari respon kitaterhadap pengertian lain.

4. Makna Kolokatif

Makna Kolokatif merupakan makna yang terdiri atas asosiasi-asosiasiyang diperoleh suatu kata, yang disebabkan oleh makna kata-kata yangcenderung mucul didalam lingkungannya.

5. Makna Afektif

Merupakan makna yang mencerminkan perasaan pribadi penutur,termasuk sikapnya terhadap pendengar, atau sikapnya terhadap sesuatu yangdikatakannya.

6. Makna Stilistik

Merupakan makna sebuah kata yang menunjukkan lingkungan sosialpenggunanya.Makna ini terbentuk dari pandangan terhadap aspek komunikasiyang berhubungan dengan situasi terjadinya ucapan.Makna reflektif, kolokatif, afektif dan stilistik:

kesemuanya itu lebihmerupakan makna konotatif daripada makna konseptual, semua jenis maknatersebut memiliki karakter terbuka, tanpa batas dan memungkinkan dilakukannyaanalisis menurut skala atau jarak dan bukannya suatu analisis yang diskret.Semua tipe makna ini dapat disatukan kedalam satu kategori besar, yaitu maknaasosiatif.

7. Makna Tematik

Merupakan makna yang dikomunikasikan menurut penutur atau penulismenata pesannya, dalam arti menurut urutan, fokus dan penekanan.

Sedangkan Chaer (1994: 289), mengemukakan beberapa jenis makna, diantaranya:

1. Makna Leksikal

Merupakan makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpakonteks apapun.

Bisa juga dikatakan bahwa makna leksikal ini adalah maknayang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indera kita, ataumakna yang apa adanya. Oleh karena itulah,

barangkali banyak orangmengatakan bahwa makna leksikal ini adalah makna yang ada didalam kamus.

2. Makna Gramatikal

Makna yang baru muncul jika terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi,reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi. Misalnya, dalam proses afiksasi prefiks“ber-” dengan “baju”

melahirkan makna gramatikal “mengenakan baju”.

3. Makna Kontekstual

Makna sebuah leksem atau kata yang berada dalam suatu konteks.Misalnya dalam kalimat:

a) Adik jatuh dari sepeda. (Dalam hal ini, kata “jatuh” berarti jatuh dari ataske bawah.) b) Dia jatuh dalam ujian yang lalu. (Dalam hal ini, kata “jatuh” berartimengalami

kegagalan.)

4. Makna Referensial

Makna referensial adalah makna pada leksem yang didasarkan padareferensi atau acuannya.Kata-kata yang bermakna referensial memiliki acuandalam dunia nyata, misalnya pada kata ayam, merah, dan sebagainya.

5. Makna Non Referensial

Makna non referensial adalah makna yang tidak mempunyai acuan ataureferensi.Seperti kata dan, karena, supaya, adalah tidak termasuk kata-kata yangtidak bermakna referensial, karena tidak mempunyai referens.

6. Makna Denotatif

Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Jadi, sebenarnya makna denotatif ini samadengan makna leksikal.

7. Makna Konotatif

Makna konotatif merupakan makna lain yang ditambahkan pada maknadenotatif yang ada pada sebuah leksem.

8. Makna Kata

Makna kata adalah makna yang lebih jelas yang dimiliki oleh suatu katajika kata tersebut sudah berada didalam konteks kalimatnya atau kontekssituasinya.

9. Makna Istilah

Merupakan makna yang pasti, yang jelas, yang tidak meragukan,meskipun tanpa konteks kalimat.Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa istilahitu bebas konteks, sedangkan kata tidak bebas konteks.Namun perlu diingatbahwa sebuah istilah ini hanya digunakan pada bidang-bidang keilmuan ataukegiatan tertentu.

10. Makna Konseptual

Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksemterlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Makna konseptual pada dasarnya samadengan makna leksikal atau makna yang sebenarnya.

11. Makna Asosiatif

Merupakan makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata yang berkaitandengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada diluarbahasa.Misalnya kata “merah”

berasosiasi dengan keberanian, kata “hitam”berasosiasi dengan kejahatan.

12. Makna Idiomatikal

Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” darimakna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal.

13. Makna Peribahasa

Makna peribahasa merupakan makna yang masih bisa ditelusuri ataudilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya “asosiasi” antara makna aslidengan makna peribahasa.

14. Makna Kias

Makna kiasan digunakan sebagai oposisi dari arti sebenarnya.Semuabentuk bahasa (baik kata, frase, atau kalimat) yang tidak merujuk pada artisebenarnya (arti leksikal, arti konseptual, atau arti denotatif) disebut mempunyaiarti kiasan.Misalnya pada kata puteri malamyang bermakna bulan dan raja siangyang bermakna matahari.

Sedangkan Sutedi (2003:106), mengemukakan beberapa jenis makna dalam bahasa Jepang, diantaranya adalah:

1. Makna Leksikal

Makna leksikal dalam bahasa Jepang disebut juga dengan jishoteki-imi /辞書的意味atau goiteki-imi /語彙的意味.Makna leksikal adalah makna katayang sesungguhnya sesuai dengan referensinya sebagai hasil pengamatan inderadan terlepas dari unsur gramatikalnya, atau bisa juga dikatakan sebagai maknaasli suatu kata.

2. Makna Gramatikal

Makna gramatikal dalam bahasa Jepang disebut bunpouteki-imi /文法的意味, yaitu makna yang muncul akibat proses gramatikalnya. Dalam bahasaJepang, joshi

「助詞」(partikel) dan jodoushi /助動詞(kopula) tidakmemiliki makna leksikal namun memiliki makna gramatikal, sebab baru jelasmaknanya jika digunakan dalam sebuah kalimat.

3. Makna Denotatif

Makna denotatif dalam bahasa Jepang disebut meijiteki-imi (明示的意味)atau gaien (外延).Makna denotatif adalah makna yang berkaitan dengan dunialuar bahasa seperti suatu objek atau gagasan dan bisa dijelaskan dengan analisis komponen makna.

4. Makna Konotatif

Dalam bahasa Jepang disebut anjiteki-imi (暗示的意味) atau naihou (内包), yaitu makna yang ditimbulkan karena perasaan atau pikiran pembicara danlawan bicaranya.

5. Makna Dasar

Makna dasar disebut dengan kihongi (基本義), makna dasar merupakanmakna asli yang dimiliki oleh suatu kata.Makna asli yang dimaksud adalahmakna bahasa yang digunakan pada masa sekarang ini.

6. Makna Perluasan

Makna perluasan disebut tengi (転義) yakni merupakan makna yangmuncul sebagai hasil perluasan dari makna dasar, diantaranya adalah akibatpenggunaan secara kiasan (majas).

Dokumen terkait