ANALISIS NUANSA MAKNA VERBA NARAU DAN BENKYOU SURU PADA KALIMAT BAHASA JEPANG DALAM KOMIK TORISETSUNA KATEKYO LESSON
1 DAN ASAHI SHINBUN DIGITAL
TORISETSUNA KATEKYO RESSUN 1 MANGA TO ASAHI SHINBUN DIJITARU NI OKERU NIHONGO NO NARAU TO BENKYOU SURU NO BIMYONA IMI BUNSEKI
SKRIPSI
Skripsi Ini Diajukan Kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Ujian Sarjana
Dalam Bidang Ilmu Sastra Jepang
Oleh:
HANIFATUL ADAWIYAH SIREGAR
140708005
PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
ANALISIS NUANSA MAKNA VERBA NARAU DAN BENKYOU SURU PADA KALIMAT BAHASA JEPANG DALAM KOMIK TORISETSUNA KATEKYO LESSON
1 DAN ASAHI SHINBUN DIGITAL
TORISETSUNA KATEKYO RESSUN 1 MANGA TO ASAHI SHINBUN DIJITARU NI OKERU NIHONGO NO NARAU TO BENKYOU SURU NO BIMYONA IMI BUNSEKI
SKRIPSI
Skripsi Ini Diajukan Kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Ujian Sarjana
Dalam Bidang Ilmu Sastra Jepang
Disetujui Oleh:
Pembimbing 1,
Rani Arfianty, S.S, M.Phil Nip. 19761110 200501 2002
PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
Disetujui Oleh : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan
` Medan, Juli 2018
Program Studi Sastra Jepang Ketua,
Prof. Hamzon Situmorang, Ms, PH.D Nip. 19580704 198412 1 001
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi rabbil‟alamiin puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, atas rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Tak lupa juga sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Skripsi ini berjudul “Analisis Nuansa Makna Verba Narau Dan Benkyou Suru Pada Kalimat Bahasa Jepang Dalam Komik Torisetsuna Katekyo Lesson 1 Dan Asahi Shinbun Digital”.Penyusunan skripsi ini ditujukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk meraih gelar sarjana pada Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis telah berusaha semaksimal mungkin dengan kemampuan dan pengetahuan yang penulis miliki. Penulis juga mendapat bimbingan,do‟a dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih dengan tulus kepada:
1. Bapak Dr. Budi Agustono, M.S, selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Hamzon Situmorang, M.S, Ph.D, selaku Ketua Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara sekaligus Penasihat Akademik yang telah membantu dalam akademik penulis.
3. Ibu Rani Arfianty, S.S, M.Phil, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan waktunya untuk memberikan arahan dan masukan dalam membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
4. Ibu Dr. Diah Syafitri Handayani, M.Litt, selaku dosen pembimbing awal yang telah membimbing penulis hingga dapat menyelesaikan BAB 1 pada skripsi ini.
5. Seluruh dosen pengajar Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya yang telah memberikan ilmu dan bimbingan kepada penulis selama menjadi mahasiswa.
6. Seluruh staf pegawai Program Studi Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya yang telah memberikan bantuan kepada penulis selama menjadi mahasiswa.
7. Keluarga tersayang yang do‟a dan kasihnya tidak pernah berhenti untuk mendo‟akan dan menyayangi penulis. Terima kasih kepada Ayahanda Darwin Siregar, Ibunda Nurija Harahap. Tak lupa juga untuk Abang saya Khoirul Aswar Siregar, S.T.P kakak saya Habibah Tussaniah Siregar, Abang saya yang kembar Arham Syaukani, S.Pd.I dan Irham Syaukani, S.P. karena atas do‟a, kasih sayang, motivasi dan dukungan yang berharga serta dukungan moril maupun materil kepada penulis yang tak pernah putus sehingga adinda dapat menyelesaikan studi sampai ke bangku S1 Sarjana.
8. Para sahabat saya dalam grup “DUBIDUBIDAM” , Deli Listiani, Ruth Asdalena Sitorus, Nur Azizah Harahap dan Hasni Delaila yang menjadi teman seperjuangan penulis selama di Sastra Jepang. Terima kasih telah berbagi cerita dan pengalaman yang berharga serta kenangan yang tidak mungkin untuk dilupakan.
9. Teman-teman seperjuagan KKN-PPM USU 2017 LABURA 3 Desa Pasang lela, Dara Dwi Syarfina, Ria Silalahi, Aida Fitri Ningsih, Hasni Delaila, Khairiyani Asri Hsb, Amalia Shabrina, Fadilah Hanum, Esya Mahabbah Ningtyas, Anggun Harahap, Angel Sinaga, Desman Kennedy S, Wawan Najuar, Andre Reza, Try Septian MS dan Taufik Hidayat. Bersama mereka penulis banyak dapatkan pengalaman dan hal yang berharga. Berbagi cerita dengan sahabat baru yang dipertemukan hanya beberapa bulan saja.
10. Ketiga sahabat saya teman bertukar pikiran, berbagi cerita dsb, Nur Jannah Rangkuti, Vivi Alvinda Siregar dan Sakinah Muliana Hsb.
11. Teman-teman sesama mahasiswa Program Studi Sastra Jepang stambuk 2014 yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu namanya.
Skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu diharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun. Semoga skripsi ini dapat berguna bagi para pembaca.
Medan, Juli 2018
HANIFATUL ADAWIYAH SIREGAR NIM: 140708005
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI... iv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan ... 6
1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori ... 6
1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8
1.6 Metode Penelitian ... 9
BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI SEMANTIK, MAKNA, SINONIM, VERBA NARAU DAN BENKYOU SURU 2.1 Semantik ... 11
2.2 Makna ... 11
2.3 Sinonim ... 17
2.4 Konsep Verba Bahasa Jepang ... 20
2.4.1 Konsep Nuansa Makna Verba Narau ... 21
2.4.2 Konsep Nuansa makna verba benkyou suru ... 25
BAB III ANALISIS NUANSA MAK NA VERBA NARAU DAN BENKYOU SURU DALAM KOMIK TORISETSUNA KATEKYO LESSON 1 DAN ASAHI SHINBUN DIGITAL
3.1 Verba Narau ... 31 3.2 Verba Benkyou Suru ... 42
3.3 Persamaan dan Perbedaan Nuansa Makna Verba Narau dan Benkyou suru ... 53 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan... 55 4.2 Saran ... 56 DAFTAR PUSTAKA ... 57 ABSTRAK
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Linguistik adalah ilmu yang membahas tentang bahasa. Secara umum, linguistik adalah ilmu bahasa yang digunakan sebagai dasar dalam mempelajari bahasa. Hal ini senada dengan Kridalaksana ( 2001:128), menyatakan bahwa Ilmu yang mempelajari tentang bahasa serta pengkajian bahasa secara ilmiah adalah linguistik. Sedangkan menurut Sutedi (2003:5), bahasa adalah kunci pokok bagi kehidupan manusia, karena dengan bahasa manusia dapat berinteraksi dan memahami maksud atau tujuan satu sama lain. Bahasa memegang peranan penting sebagai alat komunikasi dalam kehidupan manusia, ketika kita menyampaikan ide, pikiran, hasrat, dan keinginan kepada seseorang baik secara lisan maupun tertulis, orang tersebut bisa menangkap apa yang kita maksud, tidak lain karena ia memahami makna yang dituangkan melalui bahasa tersebut.
Keraf (1980:16), menyatakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi antaraanggota masyarakat berupa lambang bunyi, suara, yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kemudian, menurut Chaer (2004:12), bahasa memiliki beberapa sifat atau ciri lainnya, diantaranya adalah bahasa bersifat manasuka (arbitrer), artinya bahwa hubungan antara bahasa dengan yang dilambangkannya tidak bersifat wajib, bisa berubah-ubah, dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut mengkonsepi makna). Sebagai alat komunikasi dan alat interaksi yang hanya dimiliki oleh manusia, bahasa dapat dikaji secara internal dan secara eksternal.
Kajian secara internal adalah pengkajian yang hanya dilakukan terhadap struktur intern bahasa tersebut, seperti struktur fonologis, struktur morfologis, struktur sintaksis, dan struktur semantik. Sedangkan kajian eksternal adalah kajian yang dilakukan terhadap hal-hal atau
faktor-faktor yang berada di luar bahasa yang berkaitan dengan pemakaian bahasa itu oleh para penuturnya di dalam kelompok sosial kemasyarakatan, misalnya sosiolinguistik, psikolinguistik, antropolinguistik, neurolinguistik. Setiap bahasa memiliki variasi tersendiri.
Kita dapat berkomunikasi menggunakan bahasa asing bukan karena bahasa itu bervariasi.
Salah satu contohnya adalah bahasa Jepang. Bahasa Jepang termasuk bahasa yang sulit untuk dipelajari. Hal ini disebabkan adanya karakteristik tersendiri yang terkandung dalam kosa kata bahasa Jepang, yang menyebabkan kesulitan dalam memahami makna kosa kata dalam kalimat bahasa Jepang.
Sutedi (2003:111), meyebutkan semantik 意味論(imiron)merupakan salah satu cabang linguistik yang mengkaji tentang arti dan makna kata. Kridalaksana (2001:193), mengemukakan dua pengertian tentang semantik : (1) semantik merupakan bagian dari struktur bahasa yang berhubungan dengan makna dari ungkapan dan juga makna suatu wacana; (2) semantik adalah sistem dan penyelidikan makna dan arti dalam suatu bahasa pada umumnya. Menurut Verhaar (1981:9), semantik (inggris: semantics) berarti teori makna atau teori arti, yakni cabang sistematik bahasa yang menyelidiki makna atau arti., Semantik adalah studi tentang makna. Sedangkan menurut Lehrer, semantik merupakan bidang kajian yang sangat luas, karena turut menyinggung aspek-aspek struktur dan fungsi bahasa sehingga dapat dihubungkan dengan psikologi, filsafat dan antropologi.
Kesamaan makna atau kesinoniman 類義語 (ruigigo) adalah objek kajian semantik yang membahas hubungan antara dua buah kata atau lebih yang mempunyai salah satu imitokucho (sifat dari kata) yang sama sehingga dapat disebut sinonim. Namun dapat berbeda imitokuchou karena tidak ada sinonim yang sama persis tetapi terdapat perbedaan walaupun perbedaannya kecil sehingga hal tersebut dapat dianalisis di dalam sinonim.
Salah satu contoh didalam bahasa Jepang adalah verba 習う(narau) dan勉強する(benkyou suru) yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti belajar. Tetapi, walaupun di dalam bahasa Indonesia keduanya mempunyai makna yang sama, keduanya mempunyai sistem aturan yang berbeda did dalam kalimat bahasa Jepang. Kata yang bersinonim banyak ditemukan di dalam bahasa Jepang. Kesamaan makna diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, seperti narau dan benkyou suru ini. Hal ini menjadi salah satu penyebab sulitnya mempelajari bahasa Jepang. Menurut pengamatan penulis, walaupun verba 習う(narau) dan勉強する(benkyou suru) sering muncul dalam buku-buku pelajaran, komik, dll. Masih banyak pembelajar khususnya pemula yang merasa kesulitan untuk membedakannya dikarenakan kurangnya pemahaman mengenai ini
Berikut adalah contoh verba narau dan benkyou suru dalam kalimat bahasa Jepang.
1) ワンさんに中国語を習いました。
Wansan ni chuugokugo wo naraimashita.
Saya belajar bahasa China dari Wan.
(Minna no Nihongo I, 1998:60) 2) 私はきのう勉強しました。
Watashi wa kinou benkyoushimashita.
Saya kemarin belajar.
(Minna no Nihongo, 1998:30)
Berdasarkan contoh diatas dapat dilihat penerjemahan kata naraimashta dan benkyoushimashita kedalam bahasa Indonesia menjadi “belajar”. Meskipun mempunyai terjemahan yang sama yaitu belajar. Namun, fungsi verba narau dan benkyou suru dalam kalimat 1) dan 2) di atas adalah berbeda. Kata naraimashita (belajar) dalam kalimat 1)berfungsi untuk menunjukkan bahwa subjek belajar bahasa China melalui seorang guru,
yaitu saudara Wan.Sedangkan,Kata benkyou shimashita (belajar)pada kalimat 2)menggambarkan bahwa subjek belajar untuk mendapatkan ilmu pengetahuan melalui usahanya sendiri dengan membaca buku dan lainnya.
Oleh karena beragamnya kata dalam bahasa Jepang yang dapat digunakan untuk menjelaskan kata “belajar” dalam Bahasa Indonesia, hal ini menyebabkan pembelajar bahasa Jepang mengalami kesulitan untukmemahami konsep aturannya di dalam kalimat.
Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk menganalisis verba narau.Sebagai sumber data, peneliti akan digunakanasahi shinbun digital terbitan antara dari tahun 2017 bulan 11 sampai tahun 2018 bulan 4. Di dalam asahi shinbun digital tersebut ada berupa wacana, artikel dan lainnya. Tetapi, penulis meneliti verba narau pada bagian artikel di setiap kalimat ataupun paragraf yang ada mengandung makna narau.Sedangkan sumber data yang digunakan untuk menganalisis verba benkyou suru penulis menggunakan komik torisetsuna katekyo lesson 1. Komik ini bercerita tentang karakter belajar seorang siswa. Dimana ada Ihara senpai yang mengajarkan pelajaran sekolah kepada kohainya karena permintaan dari Haru Yoshi. Haru Yoshi adalah salah satu kohai yang belajar pada Ihara. Dia bermaksud belajar dengan sungguh-sungguh agar mendapatkan nilai yang bagus, karena sebentar lagi ada ulangan. Komik ini dipilih sebagai sumber data disebabkan oleh adanya kalimat yang mengandung verba benkyou suru dalam percakapan.
Berdasarkan pemaparan diatas, maka judul dari skripsi ini adalah “Analisis Nuansa Makna Verba Narau dan Benkyou Suru pada Kalimat Bahasa Jepang dalam komik Torisetsuna Katekyo Lesson 1 danAsahi Shinbun Digital”.
1.2 Rumusan Masalah
Di dalam tatabahasa Jepang memiliki banyak persamaan dalam kata atau dikenal dengan istilah ruigigo (類義語). Dalam penelitian ini, penulis mencoba menganalisis mengenai fungsi dan makna dari verba narau dan benkyou suru yang sama-sama memiliki arti “belajar”, bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tetapi, seyogiyanya kedua verba ini mempunyai makna berbeda di dalam bahasa Jepang.Adanya perbedaan ini cenderung menyulitkan pembelajar bahasa Jepang untuk menguasai verba narau dan benkyou suru dengan tepat.
Berdasarkan hal tersebut, yang menjadi rumusan masalah dari skripsi ini adalah:
1. Bagaimana nuansa makna verba narau dan benkyou suru pada kalimat bahasa Jepang?
2. Bagaimana persamaan dan perbedaan nuansa makna verba narau dan benkyou suru pada Komik “Torisetsuna Katekyo Lesson 1”dan Asahi Shinbun Digital.
1.3 Ruang Lingkup Pembahasan
Agar pembahasan masalah dalam penulisan skripsi tidak meluas dan lebih terarah, penulis membatasi ruang lingkup pembahasan hanya pada makna verba narau dan benkyou suru yang terkandung adalahkalimat bahasa Jepang. Sebagai pendukung, menggunakan komik “Torisetsuna Katekyo Lesson 1” disebabkan oleh adanya kalimat yang mengandung verba benkyou suru di dalam percakapan yang terdapat dalam komik tersebut. Sedangkan Asahi Shinbun Digital dijadikan sebgai sumber kedua, dikarenakan adanya verba narau dalam artikel tersebut di dalam kalimat atau paragraf. Pada BAB II akan dikemukakan tinjauan umum tentang Semantik, Relasi makna, Sinonim, Verba, Makna Verba narau dan benkyou suru. BAB III mengupas tentang analisis mengenai makna verba narau dan benkyou suru dalam komik Torisetsuna Katekyo Lesson 1 danAsahi Shinbun Digital. Bab IV akan memaparkan kesimpulan dan saran.
1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori
1.4.1 Tinjauan Pustaka
Beberapa penelitian terdahulu mengenai analisis makna dalam kalimat bahasa Jepang yang dijadikan referensi oleh penulis dalam penelitian ini, yaitu: Nurul (2016) dengan judul ;
“Analisis Makna Verba Tsuku, Toochaku Suru dan Todoku Dalam Kalimat Bahasa Jepang”.
(http://eprints.undip.ac.id/49996/1/skripsi_penuh_Nurul_Rukman_Wati,diakses 25 februari 2018). Nurul (2016) menggunakan metode yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian Nurul (2016) menjelaskan verba tsuku lebih sering digunakan untuk menyatakan sampainya orang maupun kendaraan yang tidak terjadwal atau nuansanya tidak formal. Verba toochaku suru sering digunakan untuk menyatakan sampainya kendaraan disuatu tempat atau lokasi yang sudah terjadwal kedatangannya. Verba todoku sering digunakan untuk menyatakan sampainya suatu barang, gejala fisik, anggota tubuh, perasaan atau peringatan ke tempat tujuan.
Berikutnya, Astri Yuliastuti (2011), dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Makna Verba Ukeru Dalam Kalimat Bahasa Jepang”, menyimpulkan bahwa makna yang dimiliki verba ukeru ada 10 macam, yaitu menerima sebagai makna dasar. Sedangkan makna perluasannya adalah mendengar, menangkap, menampung,menjalani/mengikuti,mengalami, terkena, meneruskan/menggantikan, terkenal dan menghadap. Perluasan makna verba ukeru terjadi karena adanya pengaruh dari majam metafora dan mentomini.
Melalui penelitian ini, penulis membahas mengenai makna verba narau dan benkyou suru dalam kalimat bahasa Jepang yang terdapat dalam komik Torisetsuna Katekyo Lesson 1danAsahi Shinbun Digital.
1.4.2 Kerangka Teori
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teori semantik yang diperkenalkan oleh Sutedi. Menurut Sutedi (2004:103), semantik adalah salah satu cabang linguistik (genggogaku) yang mengkaji tentang makna. Sedangkan menurut Koizumi dalam buku Kihon Doushi Yahoo Jiten (1989:2), semantik (imiron) adalah mengungkapkan makna dari sebuah kata. Penulis juga mengaitkannya dengan relasi makna yang menyatakan kesamaan makna (sinonim). Chaer (1994:297), sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan satuan yang lainnya. Menurut Ogden dan Richards (dalam Parera: 2004), menyebutkan teori makna yang termasuk dalam kajian semantik secara umum dapat dibedakan atas:
1. Teori Referensial / korespondensi 2. Teori Kontekstual
3. Teori Mentalisme/konseptual 4. Teori Formalitas
Teori makna yang digunakan dalam skripsi ini adalah teori kontekstual. Parera (2004:47), mengatakan teori kontekstual adalah mengisyaratkan bahwa sebuah kata/simbol ujaran tidak mempunyai makna jika ia lepas dari konteks. Chaer (http://colinawati.blog.uns.ac.id/2015/05/10/12/, diakses 24 februari 2018) menyatakan bahwa makna kontekstual makna leksem atau kata yang berada di dalam konteks. Makna konteks juga dapat berkenaan dengan situasinya yakni tempat, waktu, lingkungan, penggunaan leksem tersebut.
1.5Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.5.1 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
A. Untuk mengetahui nuansa makna verba narau dan benkyou suru pada kalimat bahasa Jepang.
B. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan nuansa makna verba narau dan benkyousuru pada komik “Torisetsuna Katekyo Lesson1” dan Asahi Shinbun Digital.
1.5.2 Manfaat Penelitian
1. Sebagai masukan bagi pembelajar bahasa Jepang dalam memahami makna verbanaraudan benkyou suru.
2. Sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya terkait sinonim dalam bahasa Jepang.
1.6Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif analisis yang berupa penjelasan atau pemaparan. Menurut Punaji Setyosari (http://ahmadrapi01.blogspot.co.id/2016/09/pengertian-deskriptif-menurut-para-ahli.html, diakses 24 November 2017), penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan suatu keadaan, peristiwa, objek apakah orang, atau segala sesuatu yang terkait dengan variabel-variebel yang bisa dijelaskan baik dengan angka- angka maupun kata-kata.
Dalam buku Pengantar Metodologi Ilmiah (Surachmad, 1988:5), menerangkan metode penelitian deskriptif lebih merupakan istilah umum yang mencakup berbagai teknik deskriptif. Diantaranya ialah penyelidikan yang menuturkan, menganalisa dan
mengklasifikasikan. Pelaksanaan metode deskriptif tidak terbatas hanya sampai pengumpulan dan penyusunan data, tetapi meliputi analisa dan interpretasi tentang arti data.
Data penunjang dalam penelitian ini diperoleh melalui penelitian pustaka (library research) yaitu mencari dan mengumpulkan data-data yang relevan dengan penelitian ini melalui sumber pustaka berupa buku-buku maupun internet.
Sumber data yang di gunakandalam penelitian ini adalah Komik Torisetsuna Katekyo dan yang di dalamnya berisi kalimat-kalimat bahasa Jepang yang mengandung verba narau dan benkyou suru. Langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah:
1. Mengumpulkan referensi terkait judul penulisan.
2. Mencari dan mengelompokkan kalimat dengan verba narau dan benkyou suru yang terdapat dalam komik Torisetsuna Katekyo Lesson 1dan Asahi Shinbun Digital
3. Menganalisis verba narau dan benkyou suru dalam kalimat berdasarkan maknanya masing-masing.
4. Membuat kesimpulan dan,
5. Menyusunnya dalam bentuk laporan
BAB II
TINJAUAN UMUM MENGENAI SEMANTIK, MAKNA, SINONIM, VERBA NARAU DAN BENKYOU SURU
2.1 Semantik
Semantik merupakan bidang linguistik yang mempelajari makna tanda bahasa.
Contohnya, sebuah kata, buku, terdiri atas unsur lambang bunyi yaitu [b-uk-u] dan konsep atau citra mental benda-benda (objek) yang dinamakan buku. Makna kata buku adalah konsep tentang buku yang tersimpan dalam otak kita dan dilambangkan dengan kata buku. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa semantik mengkaji makna tanda bahasa, yaitu kaitan antara konsep dan tanda bahasa yang melambangkannya (Setiawati, 2005:114-121).
Kemudian Chomsky (dalam Chaer,2007:285), menyatakan semantik merupakan salah satu komponen dari tata bahasa, dan makna kalimat sangat ditentukan oleh komponen semantik ini.
2.2 Makna
Makna adalah bagian yang tidak terpisahkan dari semantik dan selalumelekat dari apa saja yang kita tuturkan. Dalam kamus linguistik (Kridalaksana, 2001:132),pengertian makna dijabarkan menjadi :
1. Maksud pembicara
2. Pengaruh penerapan bahasa dalam pemakaian persepsi atau perilaku manusia atau kelompok manusia
3. Hubungan dalam arti kesepadanan atau ketidaksepadanan antara bahasa atau antara ujaran dan semua hal yang ditunjukkannya
4. Cara menggunakan lambang-lambang bahasa
Makna dalam suatu bahasa akan membentuk pola tersendiri yang disebut tautan makna. Hal ini menunjukkan bahwa kata sebagai tanda bahasa yang tersusun dari bentuk dan makna. Tautan bentuk dan makna dalam kata itu membentuk pola relasi makna. Pembelajar biasanya sering mengalami kesalahan terhadap pola-pola makna dalam mempelajari bahasa.
Wujud pola-pola makna dapat berupa antonim, hiponim, homonim, akronim, sinonim, dan polisemi.
Semantik sebagai salah satu sub disiplin linguistik yang membahastentang bagaimana makna yang terdapat dalam sebuah proses pemaknaan baikpada pihak si pembicara maupun si pendengar dalam sebuah pembicaraan.Dalam perannya untuk membahas tentang makna, beberapa pakarlinguistik telah berusaha untuk menjabarkan jenis-jenis makna sesuai denganpandangannya masing-masing. Leech dalam Chaer (1994 : 290), membedakanmakna kedalam 7 tipe, diantaranya:
1. Makna Konseptual
Disebut juga sebagai makna denotatif atau makna kognitif.Dalampengertian luas tipe makna ini dianggap sebagai faktor sentral dalam komunikasibahasa, hal ini disebabkan karena makna konseptual mempunyai susunan yangamat kompleks dan rumit.
2. Makna Konotatif
Makna konotatif merupakan nilai komunikatif dari satu ungkapanmenurut apa yang diacu, melebihi di atas isinya yang murni konseptual.
3. Makna Refleksi
Makna Refleksi adalah makna yang timbul dalam hal makna konseptualganda, apabila suatu pengertian kata membentuk sebagian dari respon kitaterhadap pengertian lain.
4. Makna Kolokatif
Makna Kolokatif merupakan makna yang terdiri atas asosiasi-asosiasiyang diperoleh suatu kata, yang disebabkan oleh makna kata-kata yangcenderung mucul didalam lingkungannya.
5. Makna Afektif
Merupakan makna yang mencerminkan perasaan pribadi penutur,termasuk sikapnya terhadap pendengar, atau sikapnya terhadap sesuatu yangdikatakannya.
6. Makna Stilistik
Merupakan makna sebuah kata yang menunjukkan lingkungan sosialpenggunanya.Makna ini terbentuk dari pandangan terhadap aspek komunikasiyang berhubungan dengan situasi terjadinya ucapan.Makna reflektif, kolokatif, afektif dan stilistik:
kesemuanya itu lebihmerupakan makna konotatif daripada makna konseptual, semua jenis maknatersebut memiliki karakter terbuka, tanpa batas dan memungkinkan dilakukannyaanalisis menurut skala atau jarak dan bukannya suatu analisis yang diskret.Semua tipe makna ini dapat disatukan kedalam satu kategori besar, yaitu maknaasosiatif.
7. Makna Tematik
Merupakan makna yang dikomunikasikan menurut penutur atau penulismenata pesannya, dalam arti menurut urutan, fokus dan penekanan.
Sedangkan Chaer (1994: 289), mengemukakan beberapa jenis makna, diantaranya:
1. Makna Leksikal
Merupakan makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpakonteks apapun.
Bisa juga dikatakan bahwa makna leksikal ini adalah maknayang sebenarnya, makna yang sesuai dengan hasil observasi indera kita, ataumakna yang apa adanya. Oleh karena itulah,
barangkali banyak orangmengatakan bahwa makna leksikal ini adalah makna yang ada didalam kamus.
2. Makna Gramatikal
Makna yang baru muncul jika terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi,reduplikasi, komposisi, atau kalimatisasi. Misalnya, dalam proses afiksasi prefiks“ber-” dengan “baju”
melahirkan makna gramatikal “mengenakan baju”.
3. Makna Kontekstual
Makna sebuah leksem atau kata yang berada dalam suatu konteks.Misalnya dalam kalimat:
a) Adik jatuh dari sepeda. (Dalam hal ini, kata “jatuh” berarti jatuh dari ataske bawah.) b) Dia jatuh dalam ujian yang lalu. (Dalam hal ini, kata “jatuh” berartimengalami
kegagalan.)
4. Makna Referensial
Makna referensial adalah makna pada leksem yang didasarkan padareferensi atau acuannya.Kata-kata yang bermakna referensial memiliki acuandalam dunia nyata, misalnya pada kata ayam, merah, dan sebagainya.
5. Makna Non Referensial
Makna non referensial adalah makna yang tidak mempunyai acuan ataureferensi.Seperti kata dan, karena, supaya, adalah tidak termasuk kata-kata yangtidak bermakna referensial, karena tidak mempunyai referens.
6. Makna Denotatif
Makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau makna sebenarnya yang dimiliki oleh sebuah leksem. Jadi, sebenarnya makna denotatif ini samadengan makna leksikal.
7. Makna Konotatif
Makna konotatif merupakan makna lain yang ditambahkan pada maknadenotatif yang ada pada sebuah leksem.
8. Makna Kata
Makna kata adalah makna yang lebih jelas yang dimiliki oleh suatu katajika kata tersebut sudah berada didalam konteks kalimatnya atau kontekssituasinya.
9. Makna Istilah
Merupakan makna yang pasti, yang jelas, yang tidak meragukan,meskipun tanpa konteks kalimat.Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa istilahitu bebas konteks, sedangkan kata tidak bebas konteks.Namun perlu diingatbahwa sebuah istilah ini hanya digunakan pada bidang-bidang keilmuan ataukegiatan tertentu.
10. Makna Konseptual
Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksemterlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Makna konseptual pada dasarnya samadengan makna leksikal atau makna yang sebenarnya.
11. Makna Asosiatif
Merupakan makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata yang berkaitandengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada diluarbahasa.Misalnya kata “merah”
berasosiasi dengan keberanian, kata “hitam”berasosiasi dengan kejahatan.
12. Makna Idiomatikal
Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” darimakna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal.
13. Makna Peribahasa
Makna peribahasa merupakan makna yang masih bisa ditelusuri ataudilacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya “asosiasi” antara makna aslidengan makna peribahasa.
14. Makna Kias
Makna kiasan digunakan sebagai oposisi dari arti sebenarnya.Semuabentuk bahasa (baik kata, frase, atau kalimat) yang tidak merujuk pada artisebenarnya (arti leksikal, arti konseptual, atau arti denotatif) disebut mempunyaiarti kiasan.Misalnya pada kata puteri malamyang bermakna bulan dan raja siangyang bermakna matahari.
Sedangkan Sutedi (2003:106), mengemukakan beberapa jenis makna dalam bahasa Jepang, diantaranya adalah:
1. Makna Leksikal
Makna leksikal dalam bahasa Jepang disebut juga dengan jishoteki-imi /辞書的意味atau goiteki-imi /語彙的意味.Makna leksikal adalah makna katayang sesungguhnya sesuai dengan referensinya sebagai hasil pengamatan inderadan terlepas dari unsur gramatikalnya, atau bisa juga dikatakan sebagai maknaasli suatu kata.
2. Makna Gramatikal
Makna gramatikal dalam bahasa Jepang disebut bunpouteki-imi /文法的意味, yaitu makna yang muncul akibat proses gramatikalnya. Dalam bahasaJepang, joshi
「助詞」(partikel) dan jodoushi /助動詞(kopula) tidakmemiliki makna leksikal namun memiliki makna gramatikal, sebab baru jelasmaknanya jika digunakan dalam sebuah kalimat.
3. Makna Denotatif
Makna denotatif dalam bahasa Jepang disebut meijiteki-imi (明示的意味)atau gaien (外延).Makna denotatif adalah makna yang berkaitan dengan dunialuar bahasa seperti suatu objek atau gagasan dan bisa dijelaskan dengan analisis komponen makna.
4. Makna Konotatif
Dalam bahasa Jepang disebut anjiteki-imi (暗示的意味) atau naihou (内包), yaitu makna yang ditimbulkan karena perasaan atau pikiran pembicara danlawan bicaranya.
5. Makna Dasar
Makna dasar disebut dengan kihongi (基本義), makna dasar merupakanmakna asli yang dimiliki oleh suatu kata.Makna asli yang dimaksud adalahmakna bahasa yang digunakan pada masa sekarang ini.
6. Makna Perluasan
Makna perluasan disebut tengi (転義) yakni merupakan makna yangmuncul sebagai hasil perluasan dari makna dasar, diantaranya adalah akibatpenggunaan secara kiasan (majas).
2.3Sinonim
Sinonim adalah relasi makna antar kata (frasa atau kalimat) yang maknanya sama atau mirip. Ada beberapa hal yang menyebabkan munculnya kata-kata yang bersinonim, seperti kata-kata yang berasal dari bahasa daerah, bahasa nasional dan bahasa asing. Sebagai contoh kukul(bahasa Jawa) bersinonim dengan jerawat (bahasa Indonesia) ; kata-kata yang berasal dari bahasa sehari-hari. Sinonimi dapat muncul antar kata (frasa atau kalimat) yang berbeda ragam bahasanya, seperti bini (ragam bahasa percakapan tak resmi) dengan istri (ragam resmi). Kata-kata yang mendapat nilai rasa juga dapat bersinonimi, seperti partai gurem (perasaan negatif) dengan partai kecil (perasaan netral).
Istilah sinonim berasal dari bahasa Yunani syn dengan dan onama „nama‟. Sinonim berwujud kata-kata yang maknanya sama atau mirip dengan bahasa lain. Sudaryat (2008:37), sinonim merupakan kata-kata yang bermakna pusat (denotasi) sama tetapi berbeda nilai, rasa, nuansa, atau konotasinya. Sedangkan menuut Sudjianto (2007:114), ruigigo adalah beberapa kata yang memiliki bunyi ucapan yang berbeda namun memiliki makna yang sangat mirip.
Hubungan antara kata yang sama makna dengan kata lain yang menyamainya disebut kesinoniman (sinonim). Kesinoniman dapat diukur dengan dua kriteria, yakni:
1. Kata-kata bersinonim itu memiliki makna yang mirip dan saling bertukar dalam semua konteks yang disebut sinonim total.
2. Kata-kata bersinonim itu memiliki identitas makna konseptual dan makna asosiatif yang sama disebut sinonim sempurna.
Berdasarkan dua kriteria di atas Sudaryat (2008:37), membagi sinonim menjadi tiga jenis, antara lain sebagai berikut:
a. Sinonim total-sempurna: memiliki identitas makna konseptual dan asosiatif yang sama dan saling bertukar dalam semua konteks. Sinonim ini jarang ada sehingga dipakai alasan untuk menolak adanya sinonim.
b. Sinonim sempurna tantotal: memiliki identitas makna konseptual dan asosiatif yang sama tetapi tidak dapat saling bertukar dalam semua konteks. Misalnya, penimbunan dan spekulasi.
c. Sinonim total tansempurna: tidak memiliki identitas yang sama tetapi saling mengganti dalam setiap konteks. Misalnya, kata bantuan dan pertolongan.
Chaer (2007:297), relasi sinonim bersifat dua arah. Maksudnya, betul bersinonim dengan kata benar, maka kata benar itu pun bersinonim dengan kata betul. Dua buah kata yang bersinonim maknanya tidak akan persis sama. Ketidaksamaan itu terjadi karena berbagai faktor, antara lain:
a. Faktor waktu, contohnya kata hulubalang bersinonim dengan kata komandan. Namun, kata hulubalang memiliki pengertian klasik sedangkan kata komandan tidak memilikipengertian klasik.
b. Faktor tempat atau wilayah, contohnya kata saya dan beta adalah dua buah kata yang bersinonim. Namun, kata saya dapat digunakan di mana saja, sedangkan kata beta hanya cocok untuk wilayah indonesia bagian timur.
c. Faktor keformalan, contohnya kata uang dan duit adalah dua buah kata yang bersinonim.
Namun, kata uang digunakan dalam ragam formal dan tak formal, sedangkan kata duit hanya cocok untuk ragam tak formal.
d. Faktor bidang kegiatan, contohnya kata matahari dan surya. Kata matahari bisa digunakan dalam kegiatan apa saja atau dapat digunakan secara umum, sedangkan kata surya hanya cocok digunakan pada ragam khusus, terutama ragam sastra.
e. Faktor nuansa makna, contohnya kata-kata melihat, melirik, menonton, meninjau, dan mengintip adalah sejumlah kata yang bersinonim. Tetapiantara yang satu dengan yang lainnya tidak selalu dapat dipertukarkan,karena masing-masing memiliki nuansa makna yang tidak sama.
Contoh yang termasuk ruigigo misalnya untuk menunjukkan orang yang memiliki pekerjaan mengajar dipakai kata kyooin, kyooshi, atau kyookan selain kata sensei. Untuk kata yang berarti kamus dalam bahasa Jepang biasa dipakai kata jisho dan jiten. Untuk menyatakan waktu yang akan datang biasa dipakai kata shoorai dan mirai.
2.4Konsep Verba Bahasa Jepang
Verba atau dalam bahasa Jepang disebut doushi, verba bahasa Jepang berbedadengan verba bahasa Indonesia, perlu diperhatikan bahwa verba bahasa Jepangmengalami perubahan bentuk tergantung situasi dan kondisi dalam sebuah kalimat,verba adalah kata yang memberi keterangan tentang aktifitas subjek, keberadaan ataukeadaan, mengalami perubahan, dapat berdiri sendiri dan menduduki jabatan predikatdalam suatu kalimat. . Nomura dalam Sudjianto dan Dahidi (2004:149), mengemukakan bahwa dooshi (verba) adalah salah satu kelas kata dalam bahasa Jepang, sama dengan adjektiva-i dan adjektiva- na menjadi salah satu jenis yoogen.
Menurut Sutedi (2003:47), bahasa Jepang memiliki bermacam-macam dooshi, diantaranya yaitu godan dooshi, ichidan dooshi, dan henkaku dooshi. Shimizu dalam Sudjianto dan Dahidi (2004:150), mengelompokkan beberapa jenis-jenis dooshi, yaitu jidooshi, tadooshi, dan shodooshi. Selain itu, Takanao dalam Sudjianto dan Dahidi (2004:150), juga mengelompokkan beberapa jenis dooshi, diantaranya fukugoo dooshi, haseigo toshite no dooshi, dan hojodooshi. . Menurut Terada dalam Sudjianto dan Dahidi (2004:150-151), hojodooshi adalah kata kerja yang menjadi bunsetsu tambahan.
Verba dalam bahasa Jepang digolongkan menjadi tiga kelompokberdasarkan pada bentuk konjungsinya, yaitu kelompok I (五段動詞/godan-doushi),kelompok II (一段動詞/ichidan-doushi) dan kelompok III (変格動詞/henkakudoushi). Verba dalam bahasa Jepang dibagi menjadi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Jidoushi (自動詞• verba intransitif)
Verba ini merupakan verba yang tidak di sertai dengan objek penderita. Pengertian dilihat dari huruf kanjinya yang bermakna,”kata yang bergeraksendiri‟.
2. Tadoushi (他動詞• verba transitif)
Verba yang memiliki objek penderita. Pengertian dilihat dari huruf kanjinyayang bermakna namun ,”kata yang digerakan yang lain‟. Jadi ada gerakan darisubjek.
3. Shodoushi 所動詞
Oleh karena merupakan kelompok doushi yang memasukan pertimbanganpembicara, maka tidak dapat diubah kedalam bentuk pasif dan kausatif. Selainitu, tidak memiliki bentuk perintah dan ungkapan kamauan (ishi hyougen).Diantara verba-verba yang termasuk kelompok ini, kelompok doushi yangmemiliki makna potensial seperti ikeru dan kikeru disebut 可能動詞(kanoudoushi) /verba potensial.
2.4.1 Konsep Nuansa Makna Verba Narau
Di dalam buku Gaikokuji No Tame No Kihongo Yurei Jiten (Morita, 1962:754-755), menyebutkan makna dari verba narau adalah:
1. 知識や技術をおぼえる。おそわる。
Chishiki ya gijutsu wo oboeru. Osowaru.
Belajar pengetahuan dan keterampilan dari seseorang dengan caramenghafal.
Contohnya,
a) 学校では毎日五時間ずく日本語を習っています。
Gakkou dewa mainichi go jikan zuku nihongo wo naratteimasu.
Setiap hari belajar bahasa Jepang selama 5 jam di sekolah.
b) 来週から自転車で学校に通って自転車の運転を習うつもりです。
Raishuu kara jitensha de gakkou ni kayotte jitensha no unten wonarautsumoridesu.
Mulai minggu depan saya bermaksud belajar menggunakan sepeda untukpulang pergi ke sekolah.
c) あの先生にピアノを習えばもっと上手になるでしょう。
Ano sensei ni piano wo naraeba motto jouzu ni narudesho.
Menjadi pintar bermain piano kalau diajar oleh guru itu.
d) 私たちは英語をスミス先生に習っています。
Watashitachi wa eigo wo sumisu sensei ni naratteimasu.
Kami belajar bahasa Inggris dari pak Smith.
2. 勉強する。Benkyou Suru. Belajar
a) きのうは35ページまで習いましたね。きょうはその先をやりましょう。
Kinou wa 35 peeji made naraimashitane. Kyou wa sono saki woyarimashou.
Kemarin belajar sampai halaman 35, kan. Sekarang, mari kita selesaikanlanjutannya.
Berdasarkan contoh-contoh kalimat diatas, yang menggunakan verba narau dapat diketahui bahwa verba narau mempunyai arti mengingat belajar suatu hal dengan adanya seorang guru/pengajar. Dan juga menunjukkan aktifitas belajar secara sistematis dan adanya proses pengulangan.
Kemudian,di dalam Kokugo Jiten (Matsumura, 2010:1077), makna narau adalah:
“教えられたとおりに繰り返し練習して知識や技術を身に付ける。稽古する。
”
“Oshierareta toorini kurikaeshirenshuushite chishiki ya gijutsu wo mini tsukeru.Keikosuru.”
“Belajar adalah proses pengulangan yang berhubungan dengan pengetahuan danketerampilan.”
Dalam Kamus Pemakaian Bahasa Jepang Dasar (Nomoto, 1988), naraumempunyai dua makna yaitu,
1. Mempelajari sesuatu keahlian atau pengetahuan yang sistematis denganbimbingan seseorang atau guru. Contohnya,
a) ピアノを小さいころから習った。
Piano wo chiisai koro kara naratta.
Belajar bermain piano sejak kecil.
b) 大学で英語とフランス語を習った。
Daigaku de eigo to furansugo wo naratta.
Telah belajar bahasa Inggris dan Perancis di Universitas.
2. Meniru sebagai teladan. Digunakan pada situasi formal.Contohnya:
a) 前例に習って処置する。
Zenrei ni narrate shochisuru.
Membereskan sesuatu menurut contoh terdahulu.
Berdasarkan contoh kalimat di atas, terlihat juga bahwa kalimat yang mengandung verba narau terdapat unsur adanya pengajar,yang menunjukkan tindakan belajar tersebut adalah tindakan langsung. Hal ini jugaberdasarkan teori (Izuhara 1998:625), yaitu,
”「習う」は直接行為に使われ、「先生に(から.について)習っている」と いった形で学校授けられる知識や、けいこ事などを身につけることを表す。”
“Narau wa chokusetsu koui ni tsukaware, “sensei ni (kara.ni tsuite) naratteiru”to itta katachi de gakkou sazukerareru chishiki ya, keiko koto nado wo mi ni tsukerukoto wo arawasu.”
“(Narau digunakan pada tindakan langsung, mencerminkan hal yangpembelajaran pengetahuan yang diberikan di sekolah, keterampilan, dan sebagainyayang bermakna
“belajar” (dari-berdasarkan) guru). “
Dan juga dapat diketahui daribeberapa contoh di atas bahwa kata narau adalah kegiatan mempelajari sesuatu atauhal yang berhubungan dengan keterampilan dan dilakukan untuk menjadi mahir.Dan narau termasuk dalam kata kerja golongan I (五段動詞godan- doushi)karena kelompok ini mengalami perubahan dalam lima deretan bunyi bahasa Jepang.Dan termasuk kalimat transitif (tadooshi) yang di tandai dengan partikel wo sebelumkata kerja dan membutuhkan objek.
Sedangkan teori makna verba narau menurut Kyousuke (1993: 342), narau ( 習う / belajar) adalah
“:繰り返し経験することによって身につける。体験する。体得する。”
“Kurikaeshi keikensurukotoni yotte mi ni tsukeru. Taikensuru. Taitokusuru.’’
“Memperoleh sesuatu dari pengalaman yang terjadi secara berulang-ulang.
Mengalami sesuatu. Menguasai sesuatu dari pengalaman.”
Menurut Masayoshi Hirose (1994:168),narau adalah:
“ものごとの技術ややり方を、先生や専門の大あるいは、そのことをよく知っ ている人に教えてもらうことです。ある程度の期間をかけるという感じがあります
。”
“Monogotono gijyutsuya yarikatawo, senseiya senmonno hito aruiwa, sonokotowo yokushitteiru hitoni oshiete moraukotodesu. Aruteidono kikanwo kakerutoiu kanjiga arimasu .”
“Untuk mempelajari suatu skill/keterampilan, teknik atau metode melakukan sesuatu dari seorang guru atau ahli. Itu disarankan secara tidak langsung bahwa waktu tertentu diperlukan.”
Contohnya:
a) 私は子供のころバレエを習っていました。
Watashiwa kodomono koro bareewo naratteimashita.
Saya belajar ballet sejak kecil.
b) 私は習ったことはないけれど、ギターが弾ける。
Watashiwa naratta kotowa naikeredo, gitaaga hikeru.
Saya karena pernah belajar, bisa bermain gitar.
c) 私は最近スペイン語を習い始めました。
Watashiwa saikin supeingowo narai hajimemashita.
Saya akhir-akhir ini memulai belajar bahasa Spanyol.
d) 料理なんて習わなくても、慣れればじょうずになりますよ・
Ryourinante narawanakutemo, narereba joozuni narimasuyo.
Walaupun tidak belajar, jika pandai menjadi bisa.
2.4.2 Konsep Nuansa makna verba benkyou suru
Dalam Kihongo Yuurei Jiten (Morita,1962), benkyousuru / 勉強するberasal dari kata benkyou yang berarti pelajaran, ilmu atau studi.Benkyousuru termasuk ke dalam dooshi yang bermakna belajar. Dalambuku tersebut makna benkyou suru adalah:
1. 一生懸命に何か習ったり学問をしたりすること。
Isshokenmei ni nanika narattari, gakumon wo shitarisurukoto.
Mempelajari suatu pelajaran dengan sungguh-sungguh.
Contohnya,
a) 大学で医学の勉強をするつもりです
Daigaku de igaku no benkyou wo suru tsumoridesu.
Bermaksud mempelajari ilmu kedokteran di Universitas.
b) あの人は頭はいいが勉強は嫌いだ
Anohito wa atama wa iiga, benkyou wa kiraida.
Orang itu pintar, tapi tidak suka belajar.
c) 夜7時から10時までが私の勉強の時間です。
Yoru, 7 ji kara 10 ji made ga, watashi no benkyou no jikandesu.
Waktu belajar saya dari jam 7 sampai jam 10 malam.
d) ピアノを勉強にヨオロッパへ行く。
Piano wo benkyou ni yooroppa he iku.
Pergi ke Eropa untuk mempelajari piano.
e) 毎晩遅くまで勉強する。
Maiban, osokumade benkyousuru.
Setiap malam, belajar sampai larut.
f) 勉強した過ぎて頭が痛くなった。
Benkyoushitasugite, atama ga itakunatta.
Karena terlalu banyak belajar, kepala menjadi pusing.
g) ちょっとも勉強すればきっと上手になります。
Chottomo benkyousureba, kitto jouzu ni narimasu.
Belajar sedikit pun, pasti menjadi pintar.
h) 今度の見学は勉強になった。
Kondo no kengaku wa benkyou ni natta.
Karya wisata bulan lalu menjadi pelajaran bagi saya.
i) 品物を安く売ること。
Shinamono wo yasuku urukoto.
Menjual barang dengan harga murah. Contohnya, j) 勉強して250円にしておきます。
Benkyoushite, 250 en ni shiteokimasu.
Menurunkan harga menjadi 250 yen.
k) あの店はなかなか勉強しますね。
Ano mise wa nakanaka benkyoushimasune.
Toko itu murah betul ya.
l) お宅ももっと勉強しなさい。
Otaku mo motto benkyoushinasai.
Andapun juga harus menjual dengan harga murah.
Berdasarkan contoh-contoh kalimat yang menggunakan verba benkyou suru di atas, dapat diketahui verba benkyou suru menunjukkan makna „belajar‟ secara luas, yaitu belajar tanpa adanya guru, juga belajar dengan diri sendiri.
Kemudian, dalam kokugo jiten (Matsumura,2010), benkyousurumempunyai makna yaitu, 1. 知識や技能を学ぶこと将来に役立つ経験や試練。
Chisiki ya ginou wo manabukoto. Shourai ni yakudatsukeikenya shiren.
Mempelajari ilmu pengetahuan dan keterampilan untukmenambah pengalaman yang berguna untuk masa depan.Contohnya,
a) 君にとってはいい勉強だ。
Kare nitotte wa, ii benkyouda.
Ini adalah pelajaran yang baik untukmu.
b) 商品などを安く売ること。
Shouhinnado wo yasuku urukoto.
Menjual barang dengan harga murah. Contohnya, c) 端数は勉強します。
Hasuu wa benkyoushimasu.
Menjual murah secara satuan.
Sedangkan di dalam Kamus Pemakaian Bahasa Jepang Dasar(Nomoto,1988), benkyousuru mempunyai makna yaitu,
1. Pelajaran, belajar. Mempelajari atau memeriksa suatu hal danmenguasainya. Kadang kadang dipakai pula waktumempelajari isi pelajaran di sekolah. Contohnya,
a) 夕べ2時間勉強した。
Yuube 2 jikan benkyoushita.
Tadi malam belajar selama 2 jam.
b) まだ理科の勉強が足ない。
Mada rika no benkyou ga tarinai.
Pelajaran ilmu alam saja masih belum cukup.
c) 半年間日本語は勉強する。
Hantoshikan nihongo wo benkyousuru.
Belajar bahasa Jepang selama setengah tahun.
d) 彼は勉強がよくできる。
Kare wa benkyou ga yokudekiru.
Dia pandai sekali.
e) 契約する前に相手の会社のことを勉強しておきたい。
Keiyakusuru mae ni aite no kaisha no koto wobenkyoushite okitai.
Ingin mempelajari dulu perusahaan lawan sebelummelaksanakan kontrak.
2. Pelajaran, pengalaman yang berguna yang menjadi petunjukuntuk masa depan.
Contohnya,
a) つらい仕事だがいい勉強になる。
Tsurai shigoto daga, ii benkyou ni naru.
Ini pekerjaan yang berat, tapi akan menjadi pelajaranyang baik.
Menurut Kyousuke (1993:683), benkyou suru (勉強する/belajar):
“努力して困難に立ち向かうこと。熱心に物事を行うこと。励むこと。”
“Douryokushite konnan ni tachimukau koto. Nesshin ni monogoto o okonau koto.
Hagemu.“
“Menghadapi kesulitan dengan sekuat tenaga. Melakukan sesuatu dengan ketekunan.
Bekerja keras.”
Menurut Masayoshi Hirose (1994:170), makna benkyou suru adalah:
“学問や知識などを身につけるため努力することです。どちらかというと技術 よりも学問的なことに多く使います(例1,2,3,4)。例5は、ためになる経験をした、
という意味です。”
“Gakumon ya chishiki nado wo mi ni tsukeru tame doryouku suru koto desu.
Dochiraka toiuto gijyutsuyorimo gakumontekina koto ni ooku tsukaimasu (rei 1,2,3,). Rei 5 wa, tameni naru keiken woshita, toiuimi desu.”
“Untuk mendapatkan pembelajaran, pengetauan dll. Secara umun digunakan untuk mempelajari ilmu pengetahuan dan teknikatau keterampilan (contoh 1, 2, 3,4). Contoh 5 artinya memperoleh sesuatu dari pengalaman.”
Contohnya :
a) 私は1日に3時間勉強する。
Watashi wa ichinichini sanjikan benkyou suru.
Saya belajar 3 jam setiap hari.
b) 私の弟は勉強するのが大嫌いです。
Watashino otootowa benkyou surunoga daikiraidesu.
Adik saya tidak suka belajar.
c) 試験が近いんだから、もっと勉強しなさい。
Shikenga chikaindara, motto benkyou shinasai.
Karena ujian dekat, jadi belajar.
d) 兄は今、大学で医学を勉強している。
Aniwa ima, daigakude igaku wo benkyou shiteiru.
Abang sekarang, sedang belajar ilmu pengetahuan tentang obat di Universitas.
e) その失敗は、彼女にとっていい勉強になった。
Sono shippaiwa, kanojoni totte ii benkyouni natta.
Gagal itu, menjadikan dia belajar lebih baik.
BAB III
ANALISIS NUANSA MAKNA VERBA NARAU DAN BENKYOU SURUDALAM KOMIK TORISETSUNA KATEKYO LESSON 1 DANASAHI SHINBUN DIGITAL
Bab ini merupakan analisis nuansa makna verba narau dan benkyou suru yang terdapat didalam komik “Torisetsuna Katekyo Lesson 1”dan Asahi Shinbun Digital, yang nantinya diuraikan berdasarkan maknanya didalam kalimat.
Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis penulis verba narau dan verba benkyou suru yang terdapat di dalam komik “Torisetsuna Katekyo Lesson 1”dan Asahi Shinbun Digital, adalah tabel berikut.
Tabel. 1 : Kalimat-kalimat yang mempunyai verba narau dan benkyou suru
Verba Narau Verba Benkyou Suru
a)makna mempelajari sesuatu keterampilan atau pengetahuan dengan bimbingan seseorang
3 kalimat a) mempelajariatau memeriksa suatu hal dan menguasainya, kadang-kadang dipakai pula waktu mempelajari isi pelajaran di sekolah.
4 kalimat
b) melakukan sesuatu dengan adanya contoh terdahulu atau belajar dengan meniru sebagai teladan.
3Kalimat b) pelajaran, mempelajari yang berguna untuk masa depan.
2 Kalimat
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa kalimat yang terdapat verba narau dengan makna a) makna mempelajari sesuatu keterampilan atau pengetahuan dengan bimbingan seseorangada 3 kalimat. Sedangkan b) makna melakukan sesuatu dengan adanya contoh terdahulu atau belajar dengan meniru sebagai teladanada 3 kalimat.
Sedangkan kalimat yang memiliki verba benkyou suru dengan makna a)makna mempelajari atau memeriksa suatu hal dan menguasainya, kadang-kadangdipakai pula waktu mempelajari isi pelajaran di sekolahada 4 kalimat. Sedangkan b) makna pelajaran, mempelajari yang berguna untuk masa depan ada 2 kalimat.
Pada sub berikut dipaparkan mengenai analisis yang mempunyai verba narau dan verba benkyou suru yang terdapat dalam komik “Torisetsuna KatekyoLesson 1” dan “Asahi Shinbun Digital”.
3.1 Verba Narau
3.1.1 Verba narau dengan nuansa makna mempelajari sesuatu keterampilan atau pengetahuan dengan bimbingan seseorang
(1)
「越前がに」のメス「セイコガニ」の食べ方を習う授業が10日、県内の中学校で 始まった。ふるさとの味を覚えてもらおうと、県と県漁業協同組合連語会などが企 画。県内80枚の3年生約7500人分のセイコガニが各校へ提供される予定で、職員 や教員らが食べ方を教える。
(Asahi Shinbun
Digital2017年11月11日3時0分https://www.asahi.com/sp/articles/ASKCB3H0P KCBPGJB006.html?iref=sp_ss_date, diakses 8 Mei 2018)
`Echizen gani' no mesu `seikogani' no tabekata o narau jugyō ga 10-nichi, ken'nai no chūgakkō de hajimatta. Furusato no aji o oboete moraou to, ken to ken gyogyō kyōdō kumiai rengo-kai nado ga kikaku. Ken'nai 80-mai no 3-nensei yaku 7500 ninbun no seikogani ga kakkō e teikyō sa reru yotei de, shokuin ya kyōin-ra ga tabe-kata o oshieru.
Arti:
Sebuah pelajaran yang mempelajari cara memakan "Seikogani" dari "Echizengani " dimulai di sekolah menengah pertama di prefektur pada tanggal 10. Masyarakat asosiasi koperasi perikanan prefektur dan prefektur dan lain-lain berencana untuk mengingat selera rumah.
Sekitar 7500 siswa kelas tiga di prefektur akan diberikan ke setiap sekolah, dan staf dan guru akan mengajari mereka cara makan.
Analisis:
Kalimat (1) di atasmenggambarkan cara memakan seikogani dan echizengani.
Masyarakat asosiasi koperasi perikanan dan prefektur lainnya berencana untuk mengingat selera makanan rumah. Disini siswa kelas 3 sekitar 7500 di prefektur akan diutus kesetiap sekolah untuk mempelajari cara makan seikogani dan echizengani, yang diajarkan oleh para staf dan guru. Seikogani adalah makanan Jepang (kepiting salju yang membawa telurnya) dan echizengani adalah makanan laut dari Fukui pada musim dingin yang mempunyai tanda kuning pada penjepit panjang.
Pada cuplikan kalimat (1) diatas, verba narau diterjemahkan menjadi belajar. Narau pada kalimat (1) di atas, mempunyai nuansa makna mempelajari suatu hal yaitu pengetahuan, keterampilan beserta teknik cara memakan seikogani dan echizengani dengan tujuan untuk mengingat selera makanan rumah. Disini ada pengajar atau ahli didalamnya dalam mengajarkan cara memakan seikogani dan echizengani tersebut, yaitu staf dan guru.
Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Nomoto (1998), yang menyebutkan bahwa makna verba narau adalah mempelajari sesuatu keahlian atau pengetahuan yang sistematis
dengan bimbingan seseorang. Dalam hal ini mereka para siswa di prefektur akan di utus ke setiap sekolah untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang dibimbing oleh staf dan guru.
(2)
魚津市立経由小で15日、長さ20メートルののり巻きを作る授業「収穫際」があ った。社会科で農業について習う5年生29人が、総合学習のー環として学校近く 田んぼで育てたコツヒカりでのり巻きを作った。
(Asahi Shinbun Digital2017年11月16日3時0分
https://www.asahi.com/sp/articles/ASKCH4DS7KCHPUZB00L.html?iref=sp_ss_date, diakses 8 Mei 2018)
Uodzu shiritsu keiyu-shō de 15-nichi, naga-sa 20 mētoru no nori-maki o tsukuru jugyō
`shūkaku-giwa' ga atta. Shakai-ka de nōgyō ni tsuite narau 5-nensei 2 -ri ga, sōgō gakushū no wa to shite gakkō chikaku tanbo de sodateta kotsuhikaride nori-maki o tsukutta.
Arti:
Ada pelajaran 'panen' kelas yang membuat gulungan lem sepanjang 20 meter, pada tanggal 15 melalui kota kecil Uozu. Siswa kelas 5ada 29 yang belajar tentang pertanian dalam studi sosial membuat gulung gulung dengan Kotsuhikari ditanam di sawah dekat sekolah sebagai siklus belajar yang komprehensif.
Analisis :
Kalimat (2) di atasmenggambarkan siswa kelas 5 terdapat 29 orang belajar tentang pertanian dalam studi sosial dengan membuat gulung-gulung bersama Kotsuhikari ditanam di
sawah dekat sekolah sebagai siklus belajar yang komprehensif. Disini, para siswa akan belajar tentang pelajaran „panen‟ membuat gulungan lem sepanjang 20 meter.
Verba narau pada kalimat di atasditerjemahkan menjadi belajar. Narau pada kalimat (2) di atas, mempunyai nuansa makna pelajar belajar dengan adanya bimbingan dari seseorang yaitu, Kotsuhikari. Mereka juga belajar di sekolah dan langsung melakukannya di sekolah dan ditanam di sawah.Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Nomoto (1998),yang menyebutkan bahwa makna verba narau adalah mempelajari sesuatu keahlian atau pengetahuan yang sistematis dengan bimbingan seseorang.
(3)
クラシックバレエを習う松田さんは、大きなみぶりで会場を広く使って聞く人にア ピール。「ハイレベルだったので優勝はうれしい」と顔をほころばせた。将来は国 連で働きたいという松田さん。「自分がグローバルリーダーになって、貧困や紛争 から人々を救いたい」と目を輝かせた。(森本類)
(Asahi Shinbun
Digital2017年12月10日3時0分https://www.asahi.com/sp/articles/ASKD93R1K KD9TOLB002.html?iref=sp_ss_date, diakses 8 Mei 2018)
Kurashikkubaree o narau Matsuda-san wa, ōkina mi-buri de kaijō o hiroku tsukatte kiku hito ni apīru. `Haireberudattanode yūshō wa ureshī' to kao o hokorobaseta. Shōrai wa Kokuren de hatarakitai to iu Matsuda-san. `Jibun ga gurōbarurīdā ni natte, hinkon ya funsō kara hitobito o sukuitai' to me o kagayaka seta. (Morimoto-rui)
Arti:
Mr. Matsuda yang belajar balet klasik, melakukan pertunjukan dihadapan pendengar denganmenggunakan lokasi secara luas dan besar. "Saya senang karena saya berada di level
yang tinggi," katanya. Mr. Matsuda ingin bekerja di PBB di masa depan. "Saya ingin menjadi pemimpin global, saya ingin menyelamatkan orang-orang dari kemiskinan dan konflik," saya mencerahkan mata. (Morimoto)
Analisis :
Kalimat (3) di atas menggambarkanMr. Matsuda yang mempelajari balet melakukan pertunjukan dari seseorang yang menggunakan lokasi dengan luas dalam waktu yang besar.
Dia juga mengatakan dia senang karena berada di level tinggi. Mr.Matsuda ingin bekerja di PBB di masa depan dan menjadi pemimpin global serta ingin menyelamatkan orang-orang dari kemiskinan dan konflik. Dalam artikel tersebut Morimoto menjelaskan bahwa Mr.Matsuda belajar balet klasik dari orang lain. Disini Morimoto mengatakan Matsuda belajar balet dari seseorang. Belajar balet memerlukan waktu yang cukup panjang agar mahir dalam melakukannya, karena itu diperlukan teknik untuk melakukannya dari seseorang yang sudah ahli dibidang tersebut. Dalam mempelajarinya diperlukan proses pengulangan untuk melakukannya.
Verba narau pada kalimat (3) di atas diterjemahkan menjadi belajar. Narau pada kalimat (3) di atas, mempunyai nuansa makna mempelajari suatu teknik atau keterampilan dalam waktu tertentu dari seorang ahli. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nomoto (1998), yang menyebutkan bahwa makna verba narau adalah mempelajari sesuatu keahlian atau pengetahuan yang sistematis dengan bimbingan seseorang.
3.1.2 Verba narau dengan nuansa makna melakukan sesuatu dengan adanya contoh terdahulu atau belajar dengan meniru sebagai teladan.
(4)
佐賀城本丸歴史館の外御書院で17日、茶会があり、佐賀市内でお茶や箏(こと)
を習う就学前から高校生までの子ども約100人が日項の練習の成果を披露した。
来場者はかしこまった面持ちで和菓子や抹茶を運ぶ子どもたちの姿に顔をほころば せつつ、厳かな雰囲気を楽しんだ。
(Asahi Shinbun
Digital2017年12月18日3時0分http://www.asahi.com/sp/articles/ASKDK4D1L KDKTTHB001.html?iref=sp_ss_date , diakses 8 Mei 2018)
Saga Shiromoto Maru rekishi-kan no sotogoshoin de 17-nichi, chakai ga ari, Saga shinai de ocha ya sō (koto) o narau shūgakumae kara kōkōsei made no kodomo yaku 100-ri ga Ni~Tsu kō no renshū no seika o hirō shita. Raijō-sha wa kashikomatta omomochi de wagashi ya matcha o hakobu kodomo-tachi no sugata ni kao o hokorobasetsutsu, ogosokana fun'iki o tanoshinda.
Arti:
Kastil Saga sekitar 100 anak-anak dari siswa pra-sekolah hingga SMA yang belajarteh dan koto di kota Saga pada 17 Juli menunjukkan hasil latihan hari itu. Pengunjung menikmati suasana yang keras sembari tetap memperhatikan penampilan manisan Jepang dan upacara minum teh yang membawa Matcha dengan tampilan sombong.
Analisis :
Kalimat (4) di atas menggambarkan tentangkondisi diKastil Saga dimana sekitar 100 anak-anak pra-sekolah hingga SMA belajar teh dankoto pada 17 juli di kota Saga dan menunjukkan hasil latihan mereka pada hari itu. Dan pengunjungpun menikmati manisan Jepang dan upacara minum teh. Dalam hal ini anak-anak hingga SMA sedang belajar upacara minum teh yang di pertunjukkan langsung kepada pengunjung dengan membawa
Matcha serta adanya penampilan manisan Jepang. Matcha adalah bubuk teh hijau, dan ada dalam bentuk permen, es krim kue, dan lain sebagainya. Anak-anak hingga SMA dapat mempelajari upacara minum teh dan penampilan manisan Jepang tersebut secara langsung dengan mengingatnya dan memperoleh pengetahuan dari latihan yang sudah dipertunjukkan.
Mereka juga dituntut agar mengingat apa yang sudah dipelajari, baik dari segi pengetahuan ataupun teknik melakukannya.
Narau pada kalimat (4) di atas diterjemahkan menjadi belajar yang mempunyai nuansa makna mempelajari pengetahuan, teknik atau keterampilan secara langsung dengan cara mengingat sebagai teladan.Hal ini sesuai dengan pernyataan Nomoto (1998), yang menyebutkan bahwa makna verba narau adalah mempelajari pengetahuan dan meniru sebagai teladan atau mempelajari dari contoh terdahulu.
(5)
こうしたことは医学部の講義で習うのですが、尿を作る臓器がなんでこんな血圧に かかわるホルモンをつくるのか、常々不思議に思っていました。血圧を調節するホ ルモンのレニンはわからないでもありません。腎臓が尿をつくるときに本内のナト リウムや水分を調節することで血圧に作用するからです。でも、造血作用を持つエ リスロポエチンって、何か腎臓に関係あるの?血をつくるのは骨髄の仕事だろ?
(Asahi Shinbun Digital2018年4月16日6時0分
http://www.asahi.com/sp/articles/SDI201804126797.html?iref=sp_ss_date, diakses 8 Mei 2018)
Kōshita koto wa igakubu no kōgi de narau nodesuga, nyō o tsukuru zōki ga nande kon'na ketsuatsu ni kakawaru horumon o tsukuru no ka, tsunedzune fushigi ni omotte imashita.
Ketsuatsu o chōsetsu suru horumon no renin wa wakaranaide mo arimasen. Jinzō ga nyō o tsukuru toki ni hon-nai no natoriumu ya suibun o chōsetsu suru koto de ketsuatsu ni sayō surukaradesu. Demo, zōketsu sayō o motsu erisuropoechin tte, nanika jinzō ni kankei aru no?
Chi o tsukuru no wa kotsuzui no shigotodaro?
Arti:
Hal-hal ini dipelajari oleh kuliah departemen medis, saya selalu bertanya-tanya mengapa organ membuat urin membuat hormon yang berhubungan dengan tekanan darah seperti itu.
Saya tidak tahu Renin dari hormon yang mengatur tekanan darah. Itu karena itu mempengaruhi tekanan darah dengan mengatur natrium dan kelembapan dalam buku ketika ginjal membuat urin. Tapi, apakah eritropoietin hematopoietik terkait dengan sesuatu tentang ginjal? Bukankah itu kerja sumsum tulang untuk membuat darah?
Analisis :
Kalimat (5) di atas menggambarkan tentanghal-hal yang berhubungan dengan tekanan darah dipelajari di mata kuliah departemen medis atau tentang kesehatan. Ini adalah sebuah artikel oleh Shakai Kenji yang selalu bertanya-tanya mengapa organ membuat urin, terus urin membuat hormon dan berhubungan dengan tekanan darah. Dan dia juga mengatakan tidak tahu Renin dari hormon yang mengatur tekanan darah. Karena di dalam buku renin dari hormon mengatur natrium dan kelembapan, ketika ginjal membuat urin. Dan dia bertanya lagi apakah eritropoietin hematopoietik terkait dengan sesuatu tentang ginjal?
Bukankah itu kerja sumsum tulang untuk membuat darah?
Shakai Kenji terus bertanya mengapa itu bisa berpengaruh. Dan dia ingin belajar tentang kesehatan dan ingin membahas lebih lanjut mengenai urin, hormon, renin, ginjal yang selalu berhubungan dengan tekanan darah. Dia juga ingin belajar langsung dari ahlinya atau para pakar agar mengetahui lebih dalam lagi dan dia juga membaca buku tentang
tekanan darah. Tetapi Shakai Kenji masih penasaran mengapa selalu berhubungan dengan tekanan darah, sementara yang dia ketahui itu adalah kerja sumsum tulang belakang untuk mmbuat darah.. Verba narau diterjemahkan menjadi belajar.
Narau pada kalimat (5) di atas diterjemahkan menjadi „belajar‟ yang mempunyai nuansa maknamempelajari sesuatu ilmu pengetahuan dengan mempelajarinya sebagai teladan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nomoto (1998), yang menyebutkan bahwa makna verba narau adalah meniru sebagai teladan atau mempelajari dari contoh terdahulu.
(6)
この日訪れた2年生は、担当教員や実技の指導をする技術職員から、羊上向きにす る方法やバリカンのあて方などを習った。江草なな子さん(19)は兄が同じ学科 の卒業生で、以前阿蘇で学生たちが動物能世話をしていた話を聞いていたという。
「ここで実習がまたできる日を待っていました。動物を扱うのは大変なことだとい うのを実感しますが、やっぱり楽しい」と話した。
(Asahi Shinbun Digital2018年4月27日3時0分
http://www.asahi.com/sp/articles/ASL4V5Q1QL4VTLVB00F.html?iref=sp_ss_date, diakses 8 Mei 2018)
Kono hi otozureta 2-nensei wa, tantō kyōin ya jitsugi no shidō o suru gijutsu shokuin kara, hitsuji uwamuki ni suru hōhō ya barikan no ate-kata nado o naratta. Egusa Nanako-san (19) wa ani ga onaji gakka no sotsugyōsei de, izen Aso de gakusei-tachi ga dōbutsu nō sewa o shite ita hanashi o kiite ita to iu. `Koko de jisshū ga mata dekiru hi o matte imashita. Dōbutsu o atsukau no wa taihen'na kotoda to iu no o jikkan shimasuga, yappari tanoshī' to hanashita.
Arti: