1. Keragaan penduduk suatu wilayah; umur, jenis kelamin, kepadatan penduduk, heterogenitas dan keragaman etnis.
2. Keterampilan/skill yang dimiliki. 3. Ketersediaan Tenaga Kerja.
Sumberdaya Kelembagaan (Social & Institutional Assets)
Meliputi kelembagaan yang terdapat dalam sebuah komunitas yang dapat dimanfaatkan dan didayagunakan dalam memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah komunal. Kelembagaan tersebut dapat berupa lembaga formal bentukan pemerintah (atas) maupun juga kelembagaan asli bentukan dari masyarakat (bawah).
Sumberdaya Alam (Natural Resources)
Sumberdaya alam dalam perspektif ekologi menurut Dharmawan (2006:63) dapat pula dikategorikan sebagai common-property resource atau sumberdaya milik umum. Sumberdaya milik umum ini adalah sumberdaya dimana pemanfaatan secara eksklusif sulit dilakukan dan ketika dimanfaatkan bersama menimbulkan pengurangan.
Sedangkan Shiva dalam (Sach:1992) mengemukakan bahwa Resource asal katanya mengimplikasikan kehidupan. Akar katanya berasal dari bahasa latin “Surgere” yang mengesankan sebuah mata air yang terus menerus muncul di permukaan tanah. Konsep tersebut menekankan pada kekuatan alam untuk melakukan regenerasi dengan sendirinya serta menekankan pada kreativitasnya yang tak terhingga.
Sumber Daya Kapital
Sumber daya kapital merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan ketersediaan sarana dan prasarana dalam suatu daerah yang dibuat oleh manusia untuk mendukung aktivitas ekonomi. Indikator sumber daya kapital meliputi, adanya ketersediaan modal dan investasi, ketersediaan tempat usaha atau pasar, ketersediaan transportasi, akses untuk memperoleh air bersih, air minum dan sanitasi yang sehat, keersediaan sarana penerangan (listrik), dan ketersediaan sarana informasin(TV, radio, dan surat kabar). Selain itu seperti gedung banguna,
mesin dan pabrik juga merupakan sumber daya kapital yang dapat digunakan untuk aktivitas ekonomi.
Komunitas
Wilkinson (1970) memahami komunitas sebagai “kumpulan orang-orang yang hidup di suatu tempat (lokalitas), dimana mereka mampu membangun sebuah konfigurasi sosial-budaya dan secara bersama-sama menyusun aktivitas-aktivitas kolektif (collective action).”
Warren dalam Fear & Schwarzweller (1985), secara sosiologis mendefinisikan komunitas sebagai “kombinasi dari lokalitas (kawasan) dan unit-unit sosial (manusia dan kelembagaan sosial) yang membentuk keteraturan, di mana setiap unit sosial menjalankan fungsi-fungsi sosialnya secara konsisten sehingga tersusun sebuah tatanan sosial yang tertata tertib.”
Ciri-ciri suatu komunitas adalah mempunyai rasa solidaritas yang tinggi, di mana satu sama lain saling berinteraksi secara intensif dan mempunyai ikatan emosional yang kuat serta berada dalam wilayah teritorial yang jelas.
Kapital sosial (modal sosial) dan Jaringan Sosial
Kapital Sosial (modal sosial)
Kajian pemberdayaan masyarakat tidak terlepas dari analisis yang menggunakan perspektif kapital sosial/modal sosial. Kapital sosial merupakan suatu sistem yang didefinisikan mengacu kepada atau hasil dari organisasi sosial dan ekonomi. Menurut Colleta dan Cullen dalam Nasdian dan Dharmawan (2006) kapital sosial merupakan suatu sistem yang memiliki empat tipe yang terdiri dari : 1) Tipe Ikatan Solidaritas (Bounded solidarity); modal sosial akan
menciptakan mekanisme kohesi kelompok dalam situasi yang akan membuat kelompok rugi atau terancam.
2) Tipe pertukaran timbal-balik (Reciprocity Transaction); sebuah pranata yang melahirkan pertukaran antar pelaku.
3) Tipe Nilai Luhur (Value Introjection); gagasan dan nilai, moral yang luhur dan komitmen melalui hubungan-hubungan yang bersifat mengikat atau kontraktual, serta menyampaikan tujuan-tujuan individu.
4) Kepercayaan adalah terciptanya suatu iklim dialog yang dialogis, bukan hanya dari satu arah saja. Sehingga ketika terjadi benturan dalam suatu komunitas, maka aspek trust akan sangat menentukan dalam menemukan alternatif pemecahan masalah.
Adapun empat dimensi modal sosial menurut Colleta (2006) terdiri dari :
1) Integrasi (integration), merupakan hubungan-hubungan kekerabatan yang saling memperkuat hubungan antar individu dalam komunitas
2) Pertalian (Linkage) yaitu ikatan dengan komunitas lain diluar komunitas asal, berupa jejaring (network), dan asosiasi-asosiasi yang bersifat kewarganegaraan (civil associations) yang menembus perbedaan kekerabataan, etnik dan agama.
3) Integritas organisasi (organizational integrity) yaitu keefektifan dan kemampuan institusi negara untuk menjalankan fungsinya, termasuk menciptakan kepastian hukum dan menegakkan peraturan.
4) Sinergi (synergy) yaitu relasi antara pemimpin dan institusi pemerintahan dengan komunitas (state community relaitons).
World Bank (2001) mengemukakan bahwa modal sosial mengacu pada kelembagaan, hubungan dan norma yang terbentuk, kualitas dan kuantitas interaksi sosial dalam masyarakat. Peningkatannya menunjukkan bahwa kohesi sosial memberikan kritikal kepada masyarakat tentang kehidupan ekonomi yang layak dan pembangunan yang berkelanjutan. Modal sosial tidak hanya merupakan jumlah dari institusi tetapi merupakan perekat yang menghubungkan masyarakat.
Keberadaan kelembagaan lokal dalam sebuah komunitas selain modal sosial juga tidak terlepas dari adanya jaringan sosial. Kelembagaan lokal dapat didayagunakan dalam memenuhi kebutuhan hidup masyarakat melalui jaringan-jaringan sosial yang terbentuk di dalamnya. Lembaga lokal dalam hal ini adalah lembaga yang muncul asli dari bawah/dari dalam komunitas dan dapat pula lembaga yang sudah melembaga (internalized) dalam masyarakat.
Perspektif kapital sosial memiliki unsur-unsur strategis yang terkait dengan pengembangan kelembagaan seperti bonding, bridging, dan creating, dalam gagasan peningkatan peran kelembagaan pemuda di Kelurahan Cibabat Kecamatan Cimahi Utara Kota Cimahi dapat terlihat dari uraian telaah sebagai berikut ;
Pertama, Strategi Bonding (melekatkan) : sebuah strategi yang menguatkan dan melekatkan hubungan kelembagaan di dalam lingkup komunitas. Dalam strategi bonding ini yang ditekankan adalah bagaimana interaksi kelembagaan dalam komunitas dapat saling terkait dan melekat sehingga terbentuk sebuah kesinergisan.
Kedua, Strategi Bridging (menjembatani) : strategi dimana terciptanya hubungan antar kelembagaan pemuda dengan komunitas dan kelembagaan lainnya. Dengan membangun dan mengembangkan jejaring dan kelembagaan yang berbasis komunitas sebagai suatu modal sosial yang menjalin hubungan kelembagaan. Ketiga, Strategi Creating (menciptakan) : yaitu sebuah strategi mempertautkan pengembangan kelembagaan dengan pelayanan publik dan finansial.
Jaringan sosial
Jaringan sosial menurut Calhoun et.al (1994) yang dikutip Sumarti (2003) didefinisikan sebagai suatu jejaring hubungan di antara sekumpulan orang yang saling terkait bersama, langsung atau tidak langsung, melalui beragam komunikasi dan transaksi diantara mereka. Sedangkan menurut Suparlan (1982), jarinngan sosial merupakan pengelompokan orang yang terdiri atas sejumlah orang (minimal 3 orang) yang masing-masing memiliki identitas tersendiri dan dihubungkan melalui hubungan sosial yang ada, dan melalui hubungan sosial tersebut dapat dikelompokkan sebagai satu kesatuan sosial yang berbeda dengan yang lain. Lebih lanjut Sumarti (2003) mengemukakan karakteristik suatu jaringan sosial mencakup tiga komponen pokok :
1. Simpul-simpul (nodes) jaringan, yaitu sekumpulan orang, obyek atau peristiwa yang berperan sebagai simpul.
2. Ikatan (keterhubungan), yang menghubungkan satu simpul dengan simpul lain, biasanya digambarkan dengan garis yang merupakan suatu jalur; dan
3. Arus, yaitu sesuatu yang mengalir dari suatu simpil ke simpul lainnya, biasa digambarkan dengan anak panah.
Komponen-komponen tersebut bekerja berdasarkan prinsip-prinsip tertentu yaitu : 1. Memiliki pola tertentu;
2. Sekumpulan simpul-simpul yang ada bisa digolongkan dalam satu kesatuan yang berbeda dengan golongan lainnya;
3. Ikatan bersifat relatif permanen; dan
4. Ada aturan main (hak dan kewajiban) yang berlangsung antara simpul-simpul tersebut.
Jaringan sosial dapat dianalisis pada aspek-aspek sebagai berikut : 1. Keragaman tipe
2. Keragaman bentuk ikatan menurut kekuatannya. 3. Keragaman bentuk ikatan menurut tingkat simetrinya 4. Keragaman jaringan menurut ukurannya.
Menurut Portes (1998:3) dalam Nasdian dan Utomo (2004) menyatakan bahwa; jaringan sosial bukanlah sesuatu yang alamiah melainkan harus dikonstruksikan melalui penentuan strategi yang berorientasi pada hubungan-hubungan kelembagaan dalam kelompok. Hubungan kelembagaan ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya yang dapat dipercaya menghasilkan sumber daya lain. Melalui kesertaan dalam suatu jaringan sosial atau struktur sosial sosial lainnya. Orang dapat menjamin perolehan manfaat dari interaksi tersebut. Menurut Prijono dalam Prijono dan Pranaka (1996:116-117), terdapat dua jenis jaringan yakni (1) fungsional, yang mementingkan partisipasi, relevansi dan pragmatisme dan (2) institusional, yang mementingkan keanggotaan, koordinasi dan formalitas. Dengan demikian jaringan kerja merupakan perwujudan dari tindakan berorganisasi.
Pemenuhan ekonomi keluarga dan Peran ekonomi kelembagaan pemuda
Pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga adalah upaya memenuhi kebutuhan masyarakat dalam mencapai dan meningkatkan kualitas hidup ekonomi masyarakat. Hal ini dapat dicapai dengan cara adanya upaya peningkatan di sektor produksi, distribusi dan konsumsi, yang dengan adanya peningkatan di ketiga sektor tersebut bertujuan untuk meningkatkan pendapatan keluarga; mengurangi pengangguran dan membuka peluang untuk berusaha lebih produktif.
Dalam kerangka ilmu ekonomi, faktor penggerak bagi adanya aktivitas ekonomi adalah adanya kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia, adalah tujuan sekaligus motivasi dari kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi. Pemenuhan kebutuhan, dengan menghadapi keterbatasan dari ketersediaan barang pemenuh kebutuhan yang pada gilirannya menyebabkan timbulnya pilihan-pilihan keputusan, adalah identik dengan ekonomi itu sendiri (Lipsey, 1990: 6). Pemenuhan kebutuhan ekonomi ditentukan oleh tingkat produksi dari barang dan
jasa. Dalam hal ini, kemampuan setiap masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya selalu dibatasi oleh sumber-sumber ekonomi yang menjadi penentu realisasi dari pemenuhan kebutuhan ekonomi. Sumber-sumber ekonomi ini disebut juga sebagai faktor-faktor produksi, dan jumlahnya senantiasa terbatas, yang mengakibatkan dinamika dalam kegiatan ekonomi.
Faktor-faktor produksi itu adalah:
1. Sumber daya alam, seperti bahan mentah, bahan baku, air, udara, bahan tambang dan sebagainya.
2. Sumber daya manusia yang berupa tenaga kerja manusia, yang berupa kemampuan fisik, mental, ketrampilan dan keahlian.
3. Sumber daya kapital, atau barang-barang modal. Termasuk di dalamnya prasarana, mesin, dan barang-barang yang menjadi penentu proses produksi.
Banyak ahli ekonomi menambahkan bahwa ketersediaan faktor-faktor produksi tersebut tidak menjamin timbulnya kegiatan ekonomi. Harus ada pihak-pihak yang memiliki inisiatif untuk mengorganisir ketiga faktor ekonomi tersebut sehingga kegiatan produksi, konsumsi dan distribusi dapat dilaksanakan. Ini biasanya digolongkan menjadi sumber ekonomi atau faktor produksi ke empat, yaitu:
4. Kewirausahaan (entrepreneurship).Dalam sistem ekonomi apa pun, pihak yang mengambil inisiatif usaha ini harus ada. Tanpa keberadaan faktor produksi ke empat ini, faktor-faktor lainnya tidak dapat dikelola untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Ini bahkan dapat disebut sebagai salah satu faktor yang paling penting, karena tanpa kehadiran faktor kewirausahaan, maka kegiatan produksi tidak dapat bergerak dengan sendirinya sekalipun ketiga faktor lainnya berlimpah (Budiono, 1991:5).
Dalam basis pemahaman ilmu ekonomi ini, maka dapat disimpulkan bahwa pemenuhan ekonomi keluarga ditentukan oleh keberadaan faktor-faktor produksi tersebut. Kekayaan sumber daya alam, jumlah tenaga kerja yang memadai, barang modal yang tersedia dan adanya para wirausahawan yang berkualitas, merupakan faktor-faktor yang menjadi syarat perlu. Dan perkembangan kewirausahaan sebagai faktor produksi ke empat dapat dipandang sebagai variabel yang paling menentukan dalam konteks peningkatan pemenuhan ekonomi keluarga. Ini mengingat bahwa sejumlah faktor produksi berupa sumber
daya alam ada yang merupakan variabel tetap dan relatif independen, sedangkan sumber daya manusia dan barang modal merupakan variabel yang memiliki dependensi dengan faktor produksi berupa kewirausahaan.
Artinya, peningkatan atau penurunan kuantitas dan kualitas faktor produksi berupa sumber daya manusia dan barang modal ditentukan oleh sejauh mana tingkat produksi digerakkan oleh kewirausahaan. Dengan demikian, peningkatan pemenuhan ekonomi keluarga merupakan fungsi langsung dari peningkatan kuantitas dan kualitas para entrepreneur.
Pada konteks ini, pemenuhan kebutuhan yang menemui restriksi berupa kelangkaan dari faktor-faktor produksi, menggerakkan tiga macam kegiatan ekonomi, yaitu kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi.
Peran Produksi dalam kegiatan Ekonomi.
Kemampuan setiap masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya selalu dibatasi oleh sumber-sumber ekonomi yang menjadi penentu realisasi dari pemenuhan kebutuhan ekonomi yang disebut juga sebagai faktor-faktor produksi, dengan jumlah yang terbatas. Ini berupa Sumber daya alam, Sumber daya manusia, Sumber daya kapital, atau barang-barang modal, serta Kewirausahaan (entrepreneurship).
Dari pembahasan ini, dapat dipahami bahwa peran ekonomi-produksi adalah peningkatan peran kelembagaan pemuda dalam memupuk faktor-faktor produksi tersebut. Kekayaan sumber daya alam, jumlah tenaga kerja yang memadai, barang modal yang tersedia dan adanya para wirausahawan yang berkualitas, merupakan faktor-faktor yang menjadi syarat. Dan perkembangan kewirausahaan sebagai faktor produksi ke empat dapat dipandang sebagai variabel yang paling menentukan, dan merupakan peran ekonomi-produksi yang paling krusial. Dengan demikian, peningkatan pemenuhan ekonomi keluarga merupakan fungsi langsung dari peningkatan kuantitas dan kualitas para entrepreneur.
Peran Konsumsi dalam Kegiatan Ekonomi
Yang dimaksud sebagai konsumsi adalah kegiatan menggunakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan (Lipsey, 1990: 5). Barang dan jasa tersebut dihasilkan oleh proses produksi (yang juga disebut sebagai komoditas). Kegiatan
konsumsi dan produksi menghasilkan gaya tarik menarik yang akhirnya membentuk mekanisme harga, dimana harga terbentuk berdasarkan gaya tarik konsumen yang menguat atau menurun. Gaya tarik yang menguat, artinya konsumen membutuhkan komoditas dalam jumlah yang lebih menyebabkan naiknya harga, dan sebaliknya, melemahnya gaya tarik konsumen, dalam arti turunnya permintaan konsumen akan menyebabkan penurunan harga.
Penggunaan barang-barang modal dalam proses produksi akan menaikkan produktifitas, dan semakin banyak barang-barang modal yang dipergunakan, maka semakin tinggi produktifitas dari peran produksi. Barang-barang modal di dalam masyarakat akan semakin banyak bila masyarakat tidak mengkonsumsikan seluruh pendapatan yang diperolehnya untuk kegiatan konsumtif, melainkan dialokasikan bagi penambahan stok barang-barang modal. Inilah yang merupakan peran ekonomi-konsumsi dari kelembagaaan pemuda. Peran ekonomi-konsumsi adalah peran yang memungkinkan adanya peningkatan alokasi pendapatan ke arah akumulasi barang-barang modal. Dalam hal ini yang disebut sebagai pendapatan bukanlah semata-mata berwujud finansial, tapi juga berupa faktor-faktor produktif yang didapat dari berputarnya roda organisasi, seperti halnya fasilitas-fasilitas yang didapat dari berbagai pihak.
Peran Distribusi dalam Kegiatan Ekonomi
Gaya tarik menarik antara kegiatan produksi dan kegiatan konsumsi ditentukan oleh berjalannya suatu mekanisme yang disebut kegiatan distribusi. Kegiatan ini mengarahkan agar komoditas yang dihasilkan oleh kegiatan produksi secara wajar dapat dinikmati oleh kegiatan konsumsi sesuai dengan pendapatan. Jadi kegiatan distribusi secara makro erat kaitannya dengan mekanisme harga.
Peran ekonomi-distribusi dalam hal ini dapat disimpulkan sebagai peran dalam memperlancar distribusi berbagai komoditas hasil kegiatan produksi, dengan menguasai serba-serbi pasar sebagai tempat bertemunya kegiatan produksi dan kegiatan konsumsi.
Dalam konteks ini, kelembagaan pemuda dapat meningkatkan perannya sebagai penengah atau mediator dalam perjumpaan antara produsen dan konsumen. Artinya, mereka dapat mengambil posisi baik sebagai wakil dari pihak
konsumen, dan sekaligus sebagai wakil dari pihak produsen, serta berperan serta dalam distribusi berbagai komoditas ekonomi yang dibutuhkan masyarakat.
Kerangka Pemikiran
Peningkatan peran kelembagaan pemuda dalam mengatasi masalah ekonomi keluarga di Kelurahan Cibabat Kecamatan Cimahi Utara, tidak terlepas dari pengaruh berbagai variabel. Variabel-variabel tersebut diantaranya adalah;
1. Keragaan lembaga-lembaga pemuda (bentukan dari atas dan dari bawah), yang meliputi :
a. Akses masyarakat terhadap lembaga b. Jenis kegiatan ekonomi yang dilakukan. c. Pengembangan kelembagaan.
d. Kepemimpinan e. Keanggotaan
f. Masalah yang dihadapi g. Prestasi yang pernah dimiliki
2. Pengaruh dari atas/pemerintah yang kuat, sebagai faktor penghambat yang meliputi :
a. Jejaring dari atas b. Program yang top down c. Posisi formal di pemerintahan
d. Kebermanfaatan bagi pengembangan masyarakat. e. Sebagai alat pemerintah
3. Adapun yang merupakan faktor pendukung adalah potensi sumberdaya komunitas, yang terdiri dari :
1. Modal manusia (Keragaan penduduk suatu wilayah; umur, jenis kelamin, kepadatan penduduk, heterogenitas dan keragaman etnis,ketenagakerjaan & keterampilan/skill yang dimiliki.
2. Modal sosial (adanya ikatan solidaritas,adanya pertukaran timbal-balik,adanya nilai-nilai luhur,adanya trust/kepercayaan)
3. Sumber-sumber jaringan sosial (Pemerintah,Swasta, Stakeholders) ; simpul-simpul (nodes) jaringan, ikatan (keterhubungan), dan arus.
4. Sumber daya Kapital (Sarana & prasarana ekonomi), modal, pasar/tempat usaha, transportasi, ketersediaan fasilitas energi listrik,sarana-sarana informasi, sarana air bersih, dan sanitasi yang sehat.
Ketiga variabel tersebut bertujuan untuk melihat sejauhmana berpengaruh pada variabel yang menjadi tujuan, yaitu 4) peranan ekonomi kelembagaan pemuda, yang merupakan manifestasi dari peningkatan faktor produksi berupa faktor kewirausahaan.
Pada akhirnya, dengan mencoba menganalisa dan memetakan variabel-variabel tersebut dalam sebuah kerangka pemikiran sederhana, diharapkan akan dapat memudahkan dalam mencari strategi dan program peningkatan peran kelembagaan pemuda dalam produksi, distribusi dan konsumsi. Sehingga dapat menjadi salah satu alternatif dalam mengatasi masalah ekonomi keluarga di Kelurahan Cibabat Kecamatan Cimahi Utara. Skema kerangka pemikiran tersebut dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini :