• Tidak ada hasil yang ditemukan

DALAM MENGATASI EKONOMI KELUARGA

3. Perumusan Strategi

Perumusan strategi dilakukan dengan menimbang segenap masalah dan potensi yang telah berhasil dicermati sebelumnya. Menemukan strategi tunggal yang paling tepat di awal langkah bukanlah menjadi tujuan, melainkan mencari berbagai strategi alternatif sebagai kerangka acuan untuk mengkonstruk berbagai langkah taktis yang mungkin.

a. Menciptakan ruang dialog yang lebih luas

Berbagai pihak yang berkepentingan mestilah memiliki suatu ruang dialog yang memungkinkan berbagai pertukaran ide secara lebih kondusif. Ini diperlukan untuk mereduksi ego sektoral antar lembaga, dan juga menemukan isu-isu yang dapat menjadi titik berangkat yang ideal bagi semua pihak.

Ruang dialog yang lebih memungkinkan pertukaran ide lebih mengalir lancar justru mesti dimulai dalam format yang jauh dari kesan formal, sesuai dengan jiwa para pemuda yang kurang merasa nyaman dengan formalitas.

Berangkat dari terciptanya ikatan awal nonformal antar lembaga semacam ini, barulah diselenggarakan pertemuan formal yang lebih terancang dan terstruktur.

Dialog mesti dilakukan bukan hanya oleh para pengurus dari lembaga-lembaga tersebut, melainkan juga dengan melibatkan para pemuda di Kelurahan Cibabat sebagai konstituen dari lembaga-lembaga tersebut. Dengan demikian, dialog ini bukan hanya membuka kemungkinan pertukaran ide antar lembaga, namun sekaligus sebagai upaya mensosialisasikan revitalisasi dan reaktualisasi dari kelembagaan pemuda di mata para konstituennya, yakni para pemuda yang bahkan mungkin sudah tidak peduli lagi dengan eksistensi lembaga-lembaga tersebut.

Pergerakan yang dinamis ini niscaya akan tercium dan terekam oleh jejaring yang ada, dan menuntut respon positif yang nyata dari pihak-pihak terkait. Dan ini berkaitan dengan strategi ke dua.

b. Perumusan Konsep implementatif yang visioner, terinci, dan aktual, secara partisipatif

Permodalan dan kemampuan manajerial akan menjadi salah satu batu sandungan pertama yang akan menghadang ide-ide peningkatan kegiatan ekonomi. Namun, sesungguhnya para aktivis lembaga pemuda memiliki hal-hal yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan peluang, sekaligus menutupi kekurangan yang mengemuka. Para anggota organisasi ini jelas-jelas memiliki kemampuan berorganisasi yang sudah cukup teruji, serta kemampuan menganalisis kenyataan sosial, berdialog dan bertukar pikiran yang cukup memadai. Bila dioptimalisasi, tentu ini merupakan modal yang cukup untuk melahirkan konsep-konsep implementatif yang visioner, terinci, dan aktual, dan sesuai dengan kenyataan objektif.

Lahirnya konsep yang matang tentu saja akan merupakan suatu prestasi tersendiri yang dapat mempertinggi daya tawar dan menggerakkan para pihak yang berkepentingan. Jadi, pada dasarnya, optimalisasi dilakukan justru dengan mewujudkan strategi bonding dalam pengembangan kelembagaan, dengan optimalisasi kemampuan dan modal yang bersifat inisial. Dan perumusan konsep dengan melalui proses yang partisipatif di antara lembaga pemuda ini niscaya akan memperkuat kohesifitas antar lembaga tersebut, sekaligus semakin mempertinggi bargaining power dari konsep yang berhasil dirumuskan tatkala diajukan kepada pihak-pihak

terkait. Karena, kemenyatuan semacam ini merupakan barang langka yang sangat berharga di mata berbagai elemen jejaring sosial di perkotaan yang dewasa ini cenderung disintegratif.

c.

paya pendekatan terhadap pihak terkait

Pemerintah Daerah Kota Cimahi merupakan pihak yang dianggap paling strategis untuk lebih digamit. Ini mengingat karena Kelurahan Cibabat merupakan tempat berdirinya Kantor Pemda Cimahi. Lagi pula, semenjak awal Pemerintah Daerah telah memiliki kepentingan tersendiri yang membangun koneksitas yang bercorak birokratis yang kental. Ini merupakan sebuah peluang, sekaligus tantangan.

Pemda Cimahi diharapkan dapat memposisikan diri bukan sebagai pembina secara birokratis dan direktif belaka, melainkan juga mencoba peran lain yang lebih luwes dan dialektis. Dengan jalinan yang lebih erat, dan tawaran konseptual yang menarik, tentunya akan memungkinkan pihak Pemerintah Daerah untuk membuka diri terhadap berbagai kemungkinan baru yang lebih menguntungkan semua pihak dan menjadikannya semacam proyek percontohan bagi Kelurahan lainnya dalam mempertinggi pertumbuhan ekonomi dan masalah tenaga kerja di wilayahya. Untuk lebih mempermudah melihat susunan program dan strategi di atas, maka dapat dilihat dari tabel 12 Program dan Strategi Peningkatan Peran Kelembagaan Pemuda dalam Mengatasi Masalah Ekonomi di Keluarga.

Upaya peningkatan peran kelembagaan pemuda dapat ditindaklanjuti melalui penyusunan rancangan progam dan strategi, yang berangkat dari peran ekonomi kelembagaan pemuda saat ini. Rancangan program dan strategi yang dapat meningkatkan peran kelembagaan pemuda dalam mengatasi masalah ekonomi di keluarga, dapat dirancang dengan melihat masalah, kebutuhan serta potensi yang ada. Permasalahan yang dihadapi oleh kelembagaan pemuda seperti yang telah diidentifikasi dalam bab sebelumnya (Bab 6 dan 7), memerlukan suatu pemecahan yang terstruktur, sistematis dan terarah.

Rancangan program dan strategi dilakukan dengan teknik FGD yang melibatkan beberapa perwakilan dari 7 (tujuh) kasus organisasi dan kelompok pemuda. FGD berlangsung dengan lancar tanpa banyak keterlibatan pengkaji. Posisi pengkaji hanya sebatas memediasi dan menjawab pertanyaan jika ada hal yang kurang dimengerti oleh peserta. Berikut hasil dari FGD dalam memetakan dan mengidentifikasikan masalah, potensi dan alternatif pemecahan masalah untuk peningkatan peran kelembagaan pemuda dalam mengatasi masalah ekonomi keluarga, yang berujung pada penyusunan program dan strategi.

Berbagai masalah, penyebab, dampak, kebutuhan, potensi dan pemecahan masalah tersebut merupakan hasil dari beberapa pertemuan dan diskusi dengan para pengurus dan anggota dari kelembagaan pemuda. Berbagai masalah yang terkait dengan peningkatan peran ekonomi kelembagaan pemuda tersebut antara lain :

1. Kekuasaan dan program-program yang cenderung masih bersifat top down, sehingga memunculkan ketidakyakinan/underestimed baik dari pihak pemerintah maupun swasta (data bab 6 dan 7).

2. Posisi formal di pemerintahan yang dimiliki oleh salah satu kelembagaan pemuda, sehingga muncul kendala berupa keterbatasan akses dan jaringan dalam hal permodalan dan pemasaran hasil-hasil produksi (data bab 6 dan 7). 3. Masih minimnya kebermanfaatan program bagi pengembangan masyarakat,

terutama bagi pengembangan kelembagaan pemuda dalam meningkatkan peran ekonominya.

4. Belum adanya koordinasi antara dinas-dinas terkait dalam memberikan program pemberdayaan kelompok UEP pemuda pada tingkat Kota Cimahi apalagi di Kelurahan Cibabat.

5. Kurangnya keberanian dan daya terobos kelembagaan pemuda untuk mencari lahan perbaikan ekonomi

6. Kurangnya daya tawar kelembagaan pemuda terhadap pemerintah mau pun swasta, dan elemen masyarakat lainnya, baik dalam hal program mau pun entitas kelembagaan itu sendiri.

7. Peran ekonomi kelembagaan pemuda yang belum optimal dan juga 8. Pemanfaatan jejaring yang belum optimal.

Berdasarkan Permasalahan yang dihadapi oleh kelembagaan pemuda berdasarkan tujuh kasus kelembagaan pemuda di Kelurahan Cibabat memperlihatkan bahwa terdapat sinergisitas yang rendah serta inkonsistensi, baik antara pihak pemerintah, swasta, dan stakeholders dalam menggarap potensi yang dimiliki oleh kelembagaan pemuda.

Dengan demikian yang dibutuhkan adalah suatu usulan kebijakan agar program–program yang diluncurkan kelak dapat benar-benar terwujud dari hasil sebuah pengkajian matang yang holistis namun aplicated dan sustainable. Sehingga secara perencanaan anggaranpun akan relatif lebih terkonstruk dan meminimalisir penghamburan dana belanja negara/daerah. Telaah dari uraian masalah, potensi, dan pemecahan masalah dapat lebih mudah dilihat pada halaman 158 matriks 3.

Program Partisipatif tentang Peningkatan Peran Kelembagaan Pemuda dalam Mengatasi Masalah Ekonomi di Keluarga

Sebelumnya, banyak program yang dilansir oleh pemerintah yang sulit untuk berlanjut dikarenakan berubahnya komitmen sejumlah unsur masyarakat (data Bab 6), sehingga terdapat kesulitan untuk memperoleh dukungan yang konsisten terhadap keberlanjutan program. Padahal, program-program pengembangan kelembagaan, apalagi yang bersifat berkelanjutan membutuhkan skala waktu pelaksanaan yang panjang, bukan sekadar dalam hitungan tahun. Tak mengherankan bila keberhasilan program kelembagaan yang berkelanjutan biasanya sering tidak menemukan komitmen yang cukup dalam pelaksanaannya, mengingat perbenturan orientasi kepentingan dari berbagai pihak (data Bab 6).

Berdasarkan analisis masalah, identifikasi dampak dan potensi di Kelurahan Cibabat seperti yang dipaparkan pada tabel 11 (halaman 156), maka dapat disusun Program Peningkatan Peran Kelembagaan Pemuda dalam mengatasi masalah ekonomi keluarga berdasarkan hasil FGD.

Kegiatan yang akan dilakukan dalam program dan strategi peningkatan peran kelembagaan pemuda dalam mengatasi ekonomi di keluarga di Kelurahan Cibabat, yaitu :

Penyusunan Rancangan Program