• Tidak ada hasil yang ditemukan

DALAM MENGATASI EKONOMI KELUARGA

1. Perumusan Tujuan

Perumusan Tujuan pencapaian Program dan penetapan Strategi sangat diperlukan untuk mendeterminasi Program dan Strategi yang akan dirancang bersama. Dengan merumuskan apa yang menjadi Tujuan yang ingin dicapai, maka diharapkan penyusunan rancangan Program dan Strategi dapat lebih memiliki arah yang jelas dan terukur.

Sebagai tujuan umum, “Optimalisasi peran kelembagaan pemuda dalam meningkatkan taraf ekonomi di Kelurahan Cibabat melalui pengembangan jejaring sosial”, menjadi rumusan yang dipilih. Tujuan umum ini mengandung arti bahwa Optimalisasi peran kelembagaan pemuda di Kelurahan Cibabat diarahkan pada peningkatan taraf ekonomi keluarga yang sungguh-sungguh dapat dirasakan semua pihak. Dan itu dilakukan dengan

pengembangan jejaring sosial, yang pada gilirannya akan menciptakan suatu wahana yang cukup memungkinkan bagi para pelaku ekonomi, masyarakat pada umumnya dan para pemuda pada khususnya, untuk mengembangkan ketrampilan dan kemampuan manajerial, menemukan akses permodalan, mengembangkan pasar, jaringan bisnis.

Bila dicermati lebih lanjut, tujuan yang dirumuskan bersama ini memperlihatkan keinginan adanya pergeseran peran yang selama ini telah dijalani bertahun-tahun oleh lembaga pemuda tersebut. Keinginan semacam ini mengemuka disebabkan kenyataan aktual yang mesti dihadapi para pemuda yang mesti berhadapan dengan ketidakpastian di bidang ekonomi, baik mereka yang masih mengenyam pendidikan atau pun belum memperoleh pekerjaan, mau pun mereka yang merasa bahwa taraf ekonomi yang kini telah dicapai masih jauh dari memadai. Namun, mesti diingat, kendala yang akan menghadang adalah perbenturan keinginan yang aktual ini dengan para beneficiary yang telah menjamin keberlangsungan organisasi selama ini. Ini dapat dimaklumi, karena selama ini sumber keuangan lembaga-lembaga pemuda tersebut bukanlah swadana, melainkan bersandar pada sumbangan dari para beneficiary yang memiliki orientasi, kepentingan dan agendanya sendiri. Menyadari itu semua, tujuan umum tersebut juga memunculkan sejumlah tujuan yang lebih spesifik.

a. Meningkatkan daya tawar (bargaining power) dari lembaga-lembaga pemuda.

Disebabkan keberadaannya yang selama ini disokong oleh institusi-institusi mapan, dan tidak memiliki track record yang fenomenal, maka kesan “anak bawang” sulit dihindari. Ini tentunya menghadang tercapainya trust dari para pihak yang seharusnya menjadi pendukung dan mengurangi kemampuan kelembagaan pemuda untuk mengaktualisasikan ide-ide yang lebih segar. Karena itu, memang sudah seharusnya para anggota organisasi dapat menemukan format baru yang memungkinkan terbangunnya soliditas antar kelembagaan pemuda sehingga ide-ide baru, inovasi, dan kreatifitas dapat mengalun tanpa dihadang sekat-sekat organisasional, dan transfer pengetahuan serta

ketrampilan dapat dilakukan demi pengayaan sumber daya yang memperkokoh daya tawar lembaga-lembaga pemuda.

b. Melahirkan wirausahawan dalam kerangka pengembangan jejaring melalui pemanfaatan modal sosial.

Peningkatan jumlah wirausahawan di suatu wilayah, baik wirausahawan sosial mau pun bisnis secara otomatis akan meningkatkan taraf ekonomi. Jenis kepakaran yang secara unik berupa kesanggupan untuk meresponi peluang maupun tantangan berangkat dari kekuatan mau pun kelemahan, berani mengambil keputusan dan melakukan terobosan sekaligus menanggungkan resiko dari aktivitas yang dilakukan, merupakan salah satu jalan keluar untuk mengembangkan serta memanfaatkan modal sosial dan mengembangkan jejaring sosial (Bornstein, 2006). Karena itu, kerangka pengembangan jejaring sosial menjadi titik acuan, sehingga dapat menghindarkan pergeseran tujuan menjadi semata-mata mengejar keuntungan ekonomi dan meninggalkan muatan sosialnya.

Melalui pemanfaatan modal sosial sebagai faktor pendukung dalam perkembangan kelembagaan pemuda, diharapkan hal ini dapat lebih memaksimalkan jejaring yang telah ada selama ini, sehingga melahirkan para wirausahawan muda yang handal dan tangguh serta berwawasan.

Tidak dipungkiri bahwa berbagai training yang bertema “Pelatihan Kewirausahaan” merupakan jenis pelatihan yang telah jamak dilakukan di berbagai kelembagaan pemuda, tak terkecuali kelembagaan pemuda di Kelurahan Cibabat, namun hasil yang diharapkan belum tercapai. Diharapkan, berbagai rencana program yang dikemukakan di atas dapat mengkonstruk format yang lebih baik dalam upaya melahirkan jenis kepakaran yang jelas-jelas dibutuhkan dalam peningkatan taraf ekonomi masyarakat ini.

2. Perumusan Rencana Program

Bertolak dari rumusan berbagai masalah, penyebab, dampak, serta kebutuhan dan potensi, juga pemecahan masalah, seperti yang tercantum pada

matriks 3, maka perlu adanya suatu perumusan rencana program yang merupakan kelanjutan dari solusi masalah.

Berdasarkan tujuan pencapaian yang telah dirumuskan, rancangan program dalam kerangka optimalisasi peran kelembagaan pemuda menemukan arah yang lebih determinatif. Sejumlah ide bermunculan, mulai dari yang berkesan terlampau dangkal, hingga yang amat kreatif. Namun, itu semua perlu dikonstruk lebih lanjut, dengan mempertimbangkan masalah yang dihadapi dan telah dirumuskan, tujuan dan berbagai konteks dalam peningkatan peran ekonomi kelembagaan pemuda. Ini mengingat rencana program yang disusun seharusnya bersifat aplikatif, namun tetap mempertimbangkan konseptual yang mendalam. Sejumlah rencana program yang dapat dikonstruk berdasarkan hasil FGD, dan berbagai ide yang terhimpun antara lain :

a. Program Optimalisasi Peran Kelembagaan Pemuda dalam Peningkatan Ekonomi dengan Pendirian Laboratorium Bisnis.

Secara kongkrit, program ini adalah pembentukan Laboratorium Bisnis bagi berbagai kelembagaan pemuda di Kelurahan Cibabat. Laboratorium Bisnis ini akan merefleksikan seluruh atmosfir dunia usaha yang aktual, sehingga format yang dipilih adalah sebuah Unit Usaha yang Berbadan Hukum. Dengan pertimbangan modal awal yang terbatas, Unit Usaha ini akan memilih format Persekutuan Komanditer (CV.).

Badan Hukum berbentuk koperasi sengaja tidak menjadi alternatif pilihan, karena dipandang kurang dapat merefleksikan serta mewadahi realitas dunia bisnis. Koperasi dipandang kurang memiliki daya untuk mendidik para pemuda ini, karena bias yang terlanjur berkembang di masyarakat umum bahwa koperasi adalah unit usaha yang terlampau dilindungi dan diberi banyak fasilitas, padahal, justru unit ini mestilah menjadi wahana didik di mana para pemuda diperkenalkan dengan berbagai bentuk persaingan, intrik, beragam skema bisnis, skema perjanjian dan berbagai realitas bisnis yang niscaya ditemui dalam menjalankan suatu bisnis yang sehat.

Program ini dapat dikatakan merupakan perwujudan dari strategi creating dalam teori pengembangan kapasitas kelembagaan pada perspektif kapital sosial. Unit yang dibentuk ini diharapkan menjadi suatu inkubator bagi lahirnya para wirausahawan muda di daerah ini. Dengan memilih format Badan Hukum yang sama dengan realitas bisnis, diharapkan entitas ini dapat mengenyam berbagai pengalaman dari dinamika jejaring dunia bisnis yang sangat keras. Dari format ini, para pemuda dapat belajar tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kewirausahaan:

1) Membangun bisnis dari nol.

Jejaring sosial di Kelurahan Cibabat diharapkan membantu, bukan dalam bentuk fasilitas. Justru mereka membutuhkan suatu pengalaman nyata tentang bagaimana terjun dan berkecimpung di realitas nyata. Para pihak terkait lebih diharapkan memberikan bimbingan dan wawasan, dan memberikan peluang yang cukup bagi unit ini untuk menemukan kompetensi inti yang dapat dikembangkan sehingga dapat membangun daya saing.

2) Membangun dan menjalin relasi.

Para pihak yang terlibat dapat membuka akses awal dari jejaring yang belum terakses. Berangkat dari sini, para pemuda akan dapat mempelajari berbagai konvensi yang berlaku dalam pergaulan bisnis dan mengambil manfaat.

3) Mempelajari aktifitas marketing.

Unit Bisnis ini akan mencari kesempatan untuk terjun dalam kompetisi merebut proyek di Pemerintahan Daerah, dan mempelajari berbagai manuver yang perlu dikuasai. Dan pengalaman yang didapat dari upaya semacam ini akan meningkatkan ketrampilan dalam memperoleh proyek dari institusi dan sektor swasta yang memilik persyaratan lebih ketat.

4) Mencari akses permodalan.

Alasan klasik kurangnya modal dalam memulai usaha adalah refleksi dari belum terbangunnya jiwa kewirausahaan yang baik. Justru dari kebutuhan permodalan, kreatifitas dituntut untuk berkembang dan

menjajagi berbagai akses modal, baik lembaga finansial perbankan, nonbank, mau pun personal. Disini akan didapat keterampilan yang amat berharga untuk mengakses berbagai lembaga keuangan, dan memahami teknik perbankan dan manajemen finansial.

5) Mempelajari berbagai skema perjanjian bisnis dan administrasi.

Dengan terjun langsung, Unit Bisnis ini akan menuntut para aktivis mengakrabi berbagai skema perjanjian bisnis. Dalam hal ini pun, mereka dapat memperoleh pemahaman yang berharga tentang administrasi bisnis.

6) Mengenal berbagai intrik dan manuver bisnis.

Realitas bisnis yang penuh dengan intrik dan manipulasi yang terkadang terlihat rumit serta terkesan kotor bagi para pemuda yang rata-rata masih memelihara idealisme dan menjunjung tinggi kejujuran, tentulah akan membuat para aktivis muda yang mengikuti kegiatan ini cukup mengagetkan. Namun, pengetahuan mengenai banyak sisi kelam dunia bisnis secara praktis justru akan membuka wawasan dan memberikan mereka kesempatan untuk mencari ide-ide kreatif yang berguna untuk membangun tatanan baru dunia usaha yang sesuai dengan idealisme yang mereka pelihara.

Inti dari semua itu adalah membangun dan memanfaatkan modal sosial serta jejaring sosial yang eksis di Kelurahan Cibabat, melalui pengembangan kelembagaan. Meski pun dalam konteks bisnis, namun ketrampilan yang dibangun tentunya juga akan membangun ketrampilan kewirausahaan sosial pula. Ini mengingat sosial entrepreneurship dan business entrepreneurship adalah jenis kepakaran yang dapat dikategorikan identik, dan hanya berbeda bila dilihat dari aras etik yang melandasinya ( Bornstein, 2006).

Secara pragmatis, program ini memiliki daya tawar yang kuat bila diperhadapkan dengan pihak Pemerintah Daerah. Karena, bila program ini berhasil diimplementasikan, lembaga pemuda akan memiliki kemungkinan untuk memiliki kesanggupan berswadaya dan swadana. Dengan demikian, pemerintah akan beroleh keuntungan, apalagi bila pihak Pemerintah Daerah mengkonfersikan dana pembinaan pemuda kepada pemberian

kesempatan bagi unit usaha ini untuk terjun dalam pengelolaan proyek-proyek di Kantor Pemerintahan Daerah. Fasilitas semacam ini sangat cocok untuk menjadi batu loncatan pertama bagi Unit Bisnis yang masih prematur untuk memperoleh pengalaman yang sangat berguna dalam pengelolaan usaha. Dengan demikian, resiko kegagalan dalam pengelolaan proyek tersebut, atau bahkan keuntungan yang dapat diperolehnya merupakan hasil perhitungan konversi dari anggaran pembinaan kelembagaan pemuda yang cukup besar.

b. Program Pembentukan Forum Bersama Kelembagaan Pemuda.

Forum ini dirancang untuk mengelola aspirasi berbagai lembaga kepemudaan di Kelurahan Cibabat, yang diharapkan dapat mewadahi berbagai aktifitas yang menjurus pada persiapan dan pematangan konsep. Ini merupakan perwujudan dari strategi bridging dalam teori pengembangan kapasitas kelembagaan pada perspektif Kapital Sosial.

Program ini sangat mungkin akan mengalami hambatan, karena sekat-sekat struktural yang telah mapan akan mewarnai setiap dialog. Namun, krusialitas permasalahan ekonomi sangat mungkin untuk menghadirkan atmosfir yang memungkinkan hadirnya kesadaran akan adanya kepentingan bersama, dan arti penting pembentukan forum.

Kehadiran pihak netral yang berfungsi sebagai pendamping dalam forum ini pun dirasakan perlu. Pendamping ini disamping harus dapat diterima oleh semua pihak, ia pun mesti memiliki kompetensi yang cukup untuk memberikan masukan-masukan dalam konteks manajerial, dan wawasan bisnis. Jadi, dalam hal ini pihak swasta dianggap pendamping yang cocok.

Forum ini akan mencari format konseptual, struktural dan implementasi dari Laboratorium Bisnis yang dibangun. Berbagai hal yang menjadi urgensinya antara lain merumuskan masalah kepemilikan dari saham, yang berujung pada proporsi pembagian tanggung jawab, resiko, maupun hasil keuntungan, memecahkan masalah struktur organisasi, merumuskan aturan main dan menyusun anggaran dasar, serta

merumuskan kerangka pelaksanaan program dan penanggung jawab atau pelaksana program.

3. Perumusan Strategi

Perumusan strategi program dilakukan dengan menimbang segenap masalah dan potensi yang telah berhasil dicermati sebelumnya. Menemukan strategi tunggal yang paling tepat di awal langkah bukanlah menjadi tujuan, melainkan mencari berbagai strategi alternatif sebagai kerangka acuan untuk mengkonstruk berbagai langkah taktis yang mungkin.

a. Menciptakan ruang dialog yang lebih luas

Berbagai pihak yang berkepentingan mestilah memiliki suatu ruang dialog yang memungkinkan berbagai pertukaran ide secara lebih kondusif. Ini diperlukan untuk mereduksi ego sektoral antar lembaga, dan juga menemukan isu-isu yang dapat menjadi titik berangkat yang ideal bagi semua pihak.

Ruang dialog yang lebih memungkinkan pertukaran ide lebih mengalir lancar justru mesti dimulai dalam format yang jauh dari kesan formal, sesuai dengan jiwa para pemuda yang kurang merasa nyaman dengan formalitas.

Berangkat dari terciptanya ikatan awal nonformal antar lembaga semacam ini, barulah diselenggarakan pertemuan formal yang lebih terancang dan terstruktur.

Dialog mesti dilakukan bukan hanya oleh para pengurus dari lembaga-lembaga tersebut, melainkan juga dengan melibatkan para pemuda di Kelurahan Cibabat sebagai konstituen dari lembaga-lembaga tersebut. Dengan demikian, dialog ini bukan hanya membuka kemungkinan pertukaran ide antar lembaga, namun sekaligus sebagai upaya mensosialisasikan revitalisasi dan reaktualisasi dari kelembagaan pemuda di mata para konstituennya, yakni para pemuda yang bahkan mungkin sudah tidak peduli lagi dengan eksistensi lembaga-lembaga tersebut.

Pergerakan yang dinamis ini niscaya akan tercium dan terekam oleh jejaring yang ada, dan menuntut respon positif yang nyata dari pihak-pihak terkait. Dan ini berkaitan dengan strategi ke dua.

b. Perumusan Konsep implementatif yang visioner, terinci, dan aktual, secara partisipatif

Permodalan dan kemampuan manajerial akan menjadi salah satu batu sandungan pertama yang akan menghadang ide-ide peningkatan kegiatan ekonomi. Namun, sesungguhnya para aktivis lembaga pemuda memiliki hal-hal yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan peluang, sekaligus menutupi kekurangan yang mengemuka. Para anggota organisasi ini jelas-jelas memiliki kemampuan berorganisasi yang sudah cukup teruji, serta kemampuan menganalisis kenyataan sosial, berdialog dan bertukar pikiran yang cukup memadai. Bila dioptimalisasi, tentu ini merupakan modal yang cukup untuk melahirkan konsep-konsep implementatif yang visioner, terinci, dan aktual, dan sesuai dengan kenyataan objektif.

Lahirnya konsep yang matang tentu saja akan merupakan suatu prestasi tersendiri yang dapat mempertinggi daya tawar dan menggerakkan para pihak yang berkepentingan. Jadi, pada dasarnya, optimalisasi dilakukan justru dengan mewujudkan strategi bonding dalam pengembangan kelembagaan, dengan optimalisasi kemampuan dan modal yang bersifat inisial. Dan perumusan konsep dengan melalui proses yang partisipatif di antara lembaga pemuda ini niscaya akan memperkuat kohesifitas antar lembaga tersebut, sekaligus semakin mempertinggi bargaining power dari konsep yang berhasil dirumuskan tatkala diajukan kepada pihak-pihak terkait. Karena, kemenyatuan semacam ini merupakan barang langka yang sangat berharga di mata berbagai elemen jejaring sosial di perkotaan yang dewasa ini cenderung disintegratif.

c.

paya pendekatan terhadap pihak terkait

Pemerintah Daerah Kota Cimahi merupakan pihak yang dianggap paling strategis untuk lebih digamit. Ini mengingat karena Kelurahan Cibabat merupakan tempat berdirinya Kantor Pemda Cimahi. Lagi pula, semenjak awal Pemerintah Daerah telah memiliki kepentingan tersendiri yang membangun koneksitas yang bercorak birokratis yang kental. Ini merupakan sebuah peluang, sekaligus tantangan.

Pemda Cimahi diharapkan dapat memposisikan diri bukan sebagai pembina secara birokratis dan direktif belaka, melainkan juga mencoba peran lain yang lebih luwes dan dialektis. Dengan jalinan yang lebih erat, dan tawaran konseptual yang menarik, tentunya akan memungkinkan pihak Pemerintah Daerah untuk membuka diri terhadap berbagai kemungkinan baru yang lebih menguntungkan semua pihak dan menjadikannya semacam proyek percontohan bagi Kelurahan lainnya dalam mempertinggi pertumbuhan ekonomi dan masalah tenaga kerja di wilayahya. Untuk lebih mempermudah melihat susunan program dan strategi di atas, maka dapat dilihat dari matriks 3 (halaman 158) Program dan Strategi Peningkatan Peran Kelembagaan Pemuda dalam Mengatasi Masalah Ekonomi di Keluarga.