BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
yang disebut dengan verifikasi data. Kesimpulan yang dibuat oleh penulis akan dikatakan kredibel apabila kesimpulan tersebut sesuai dengan situasi yang ada di lapangan. Selain itu, bukti-bukti yang kuat juga menjadi dasar untuk membuat kesimpulan yang kredibel. Maka dari itu, pada penelitian kualitatif sangat diharapkan apabila menghasilkan kesimpulan yang dapat dijadikan sebagai temuan baru dan belum pernah ada sebelumnya.
Dengan ini, proses analisis data yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data menjadi serangkaian dalam membuat analisis data pada penelitian. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa masalah-masalah yang telah dirumuskan dalam penelitian ini dapat dijawab dengan menerapkan model analisis penelitian Miles dan Huberman. Model analisis ini juga dapat dengan mudah diterapkan oleh penulis apabila dilakukan secara terstruktur. Proses yang dilakukan secara terstruktur dapat membantu penulis untuk mendapatkan kesimpulan dengan mudah. Apabila penelitian telah dilakukan verifikasi, maka penelitian ini tentu dapat dipertanggungjawabkan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Perkembangan Industri Hotel Secara Umum
Perubahan siginifikan dari bisnis pariwisata berdampak pada berkembangnya industri perhotelan. Perubahan yang ditandai dengan meningkatnya jumlah wisatawan membuat industri perhotelan semakin berkembang baik dari segi fisik maupun pelayanannya. Jenis usaha akomodasi yang termasuk dalam salah satu aspek pariwisata ini sangat dibutuhkan dalam menunjang pengembangan suatu daerah wisata. Maka dari itu tersedianya fasilitas penginapan dalam bentuk hotel. Hotel sendiri dapat dimaknai sebagai bentuk akomodasi yang dikelola secara komersial dan dikelola secara profesional.
Industri perhotelan di Indonesia telah berkembang sejak zaman penjajahan Belanda.
Perkembangan industri perhotelan di Indonesia ini pada mulanya terjadi karena Indonesia menjadi wilayah sebagai tempat persinggahan bagi para pedagang dari Belanda. Para pedagang yang mengunjungi wilayah Indonesia sering tinggal dan menetap di rumah-rumah penduduk. Para pedagang akan tetap menetap dengan penduduk setempat, walaupun hanya disediakan hidangan seadanya. Namun, dengan keadaan seperti itu, para pedagang tetap menyukainya. Bentuk usaha jasa akomodasi, termasuk perhotelan berkembang di Indonesia mulai abad ke-19. Pada saat itu, telah banyak didirikan hotel-hotel di beberapa kota besar yang lokasinya berdekatan dengan pelabuhan. Pendirian hotel yang dilakukan dekat dengan pelabuhan ini tidak lain sebagai tempat persinggahan bagi para pedagang dari Belanda.
Dewasa ini, industri perhotelan di Indonesia semakin berkembang pesat. Secara umum, pengertian hotel didefinisikan sebagai sebuah bangunan yang memiliki banyak kamar, kemudian disewakan bagi orang untuk tempat menginap, juga menjadi tempat makan bagi orang yang sedang dalam perjalanan. Perkembangan industri hotel saat ini telah sampai pada hadirnya beberapa klasifikasi hotel atau yang sering dikenal dengan hotel berbintang. Ada
hotel berbintang 1 hingga hotel berbintang 5. Untuk jenis hotel berbintang 1, maka jenis bangunan yang dimiliki setidaknya terdapat 15 kamar dengan masing-masing luasnya minimal 20 meter persegi. Untuk hotel bintang 2 dan seterusnya, tentu memiliki jenis bangunan yang lebih besar dan luas dibandingkan hotel bintang 1. Selain itu juga fasilitas yang disediakan lebih lengkap. Industri perhotelan menawarkan berbagai fasilitasnya.
Dalam industri perhotelan, terdapat dua jenis fasilitas yang ditawarkan. Pertama, yaitu fasilitas hotel sebagai bagian intergal. Dalam hal ini, fasilitas hotel sebagai bagian intergal adalah fasilitas yang diperjual oleh jasa pelayanan hotel itu sendiri, yang terdiri dari kamar tidur, serta makanan dan minuman. Kedua, yaitu fasilitas hotel sebagai pelayanan penunjang lainnya. Dalam hal ini terdapat beberapa fasilitas dalam hotel yang dikategorikan sebagai pelayanan penunjang lainnya, yaitu tempat-tempat rekreasi seperti playground (taman bermain), kebun binatang, dsb. Kemudian ada fasilitas olahraga yang menyediakan tempat seperti gym dan spa. Lalu, ada fasilitas laundry yang disediakan bagi tamu yang ingin mencuci pakaian. Selanjutnya ada kolam renang dan restoran.
Secara lebih rinci dapat dikatakan bahwa hotel merupakan jasa pelayanan yang sangat terintegrasi antar bagian-bagian pengelolaannya dan menyediakan berbagai fasilitas yang dapat digunakan oleh tamu dalam kurun waktu 24 jam. Dalam industri perhotelan, terdapat juga beberapa bagian yang disebut sebagai departemen-departemen. Pertama, yaitu bagian front office department yang terdapat beberapa bagian, yaitu concierge section, reception section, reservation section, telephone operator, dan information section. Kedua, yaitu housekeeping department yang terbagi atas public area, room service, linen and laundry, store section, dan maintance section. Selain kedua departemen tersebut, ada juga departemen lainnya, yaitu food & beverage department yang bertugas dalam menyediakan produk layanan makanan dan minuman, accounting departmen yang mengatur finansial perhotelan, marketing department, human resource & developemnet (HRD), dan security department.
B. Perkembangan Terkini Industri Hotel di Tomohon
Di samping indsutri hotel yang berkembang semakin pesat, masih ada beberapa industri hotel yang mengalami penurunan, dilihat dari segi aktivitas bisnisnya. Fenomena ini dialami oleh beberapa industri hotel di Tomohon. Sebagian besar industri hotel ini sedang mengalami penurunan. Hal ini ditandai dengan menurunnya aktivitas ekonomi hotel yang diakibatkan oleh faktor ekstern. Faktor ekstern tersebut yakni pandemi Covid-19 yang secara umum bukan hanya melanda bisnis indsutri hotel, tetapi juga seluruh aspek kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat dunia. Kemunculan pandemi Covid-19 ini secara langsung mempengaruhi aktivitas ekonomi industri hotel, khususnya dalam penjualan kamar. Selain itu, target pasar dari industri hotel juga mempengaruhi penjualan kamar saat pandemi Covid- 19 ini. Informasi dari Pak Maikel:
Yah untuk perkembangannya, saat ini lagi menurun. Karena pasar kami tamu asing, dan sekarang lagi pandemi, jadi penjualan kamar lagi turun.
Cuma untuk setiap hari ada tamu yang nginap, biasanya tamu lokal, apalagi kalo weekend bisa full kamarnya. Tamu asing ada, tapi biasanya mereka itu yang sudah lama tinggal Tomohon untuk beberapa urusan tertentu.
Namun, lebih dari itu masih ada industri hotel yang tetap bisa menjalankan bisnisnya di tengah pandemi ini. Hal ini didorong oleh keinginan masyarakat untuk melakukan refreshing setelah PSBB (pembatasan sosial berskala besar) yang dilakukan oleh pemerintah. Kegiatan refreshing oleh masyarakat yang melibatkan eksistensi dari industri hotel adalah melakukan staycation dan menikmati berbagai fasilitas hotel. Informasi dari Jason:
Perkembangan hotel saat ini tuh lagi membaik. Malah di bulan Juli-Agustus tahun lalu yang setelah PSBB tuh banyak yang menginap. Kayaknya waktu itu orang-orang pada pengen refreshing terus juga banyak destinasi wisata di Tomohon yang dibangun jadi orang-orang banyak kesini, terutama hari sabtu pasti kamar hotel full. Intinya sekarang ini rate occupancy-nya lagi naik. Justru pas Covid naik dibandingkan sebelum Covid hahaa (tertawa).
C. Biaya Transaksi pada Industri Hotel di Kota Tomohon
Beberapa penelitian sebelumnya menggunakan teori biaya transaksi sebagai alat untuk menganalisis keputusan industri hotel dalam menjalankan bisnisnya. Namun, pada penelitian ini, konsep biaya transaksi diterapkan sebagai sumber masalah bagi industri hotel dalam menjalankan bisnisnya. Pandangan biaya transaksi sebagai masalah dalam indsutri hotel didasari oleh unsur-unsur biaya transaksi, yaitu bounded rationality dan opportunistic behaviour. Hal ini menjadi tolak ukur analisis biaya transaksi dalam industri hotel karena dalam menjalankan bisnisnya, industri hotel, khususnya yang ada di Kota Tomohon menggunakan alokasi waktu dan sumber daya manusia. Maka dari itu, biaya transaksi dalam industri hotel menjadi suatu hal yang krusial.
Pada penelitian ini terdapat berbagai komponen biaya transaksi yang secara spesifik diteliti berdasarkan kondisi dari masing-masing indsutri hotel di Kota Tomohon.
Berdasarkan pendapat Coase (1937) mengenai biaya transaksi, komponen biaya transaksi ini muncul karena industri hotel menjalankan bisnis dengan menerapkan transaksi metode pertukaran dengan pemasok bisnis industri pariwisata (tourism supply chain). Menurut Kirchner dan Picot (1987) bahwa biaya transaksi meliputi biaya pencarian informasi, biaya negosiasi dan keputusan kontrak, biaya pengawasan dan monitoring, serta biaya adaptasi.
Namun, berdasarkan temuan di lapangan bahwa dalam menjalankan bisnisnya biaya transaksi pada industri hotel meliputi biaya administrasi, biaya layanan konsultasi bisnis, biaya materai, biaya jaminan, biaya asuransi, biaya kelayakan bisnis, biaya transportasi, biaya makan dan minum, biaya fasilitas, biaya iklan dan promosi, biaya pihak ketiga, biaya negosiasi, biaya pemantauan dan pengawasan, biaya pengajuan kasus, serta biaya hukum/notaris. Pada akhirnya, komponen-komponen biaya transaksi tersebut dikategorikan ke dalam masing-masing jenis biaya transaksi yang teridentifikasi dalam industri hotel di Kota Tomohon
D. Jenis-Jenis Biaya Transaksi dalam Industri Hotel di Tomohon
Biaya transaksi pada penelitian ini adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam seluruh aktivitas bisnis oleh indsutri hotel di Kota Tomohon. Dalam hal ini, biaya transaksi tersebut dikategorikan ke dalam tiga jenis, yaitu biaya transaksi manajerial, biaya transaksi pasar, dan biaya transaksi politik. Biaya transaksi manajerial (managerial transaction cost) adalah seluruh biaya yang dikeluarkan oleh industri hotel berkaitan dengan bagaimana hotel menyusun dan menjalankan bisnisnya. Kemudian, biaya transaksi pasar (market transaction cost) merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan oleh industri hotel berkaitan dengan hubungan yang dibentuk industri hotel dengan pihak-pihak yang bersangkutan. Terakhir, biaya transaksi politik (political transaction cost) yaitu seluruh biaya yang dikeluarkan oleh industri hotel berkaitan dengan aktivitas bisnis hotel yang memerlukan jasa publik (hukum).
Berdasarkan hasil penelitian, identifikasi jenis-jenis biaya transaksi dalam industri hotel di Tomohon tersebut, dapat dilihat dalam gambar 4.1. Biaya-biaya transaksi yang teridentifikasi ini menggambarkan banyaknya biaya yang dikeluarkan oleh industri hotel dalam menjalankan bisnisnya. Dalam hal ini, berdasarkan konsep dari teori biaya transaksi, apabila biaya transaksi sangat besar maka akan berpengaruh pada berkurangnya laba industri hotel tersebut. Selain itu, kinerja industri hotel juga akan dinilai tidak efisien. Maka dari itu, biaya transaksi harus dikelola dengan baik, agar setiap periodenya menjadi tidak meningkat.
D. Managerial Transaction Cost dalam Industri Hotel di Tomohon
Managerial transaction cost atau biaya transaksi manajerial merupakan salah satu jenis biaya transaksi yang terdapat pada indsutri hotel. Dalam hal ini, jenis biaya transaksi manajerial muncul dalam aktivitas industri hotel pada saat perusahaan akan menyusun, memulai dan mengelola bisnisnya. Dengan adanya biaya transaksi ini, aktivitas industri hotel menjadi agak terganggu. Pasalnya, komponen-komponen biaya transaksi dalam jenis biaya transaksi ini menciptakan birokrasi yang sulit sehingga menambah biaya transaksi lainnya.
Informasi dari Pak Maikel:
Keluarnya izin itu tuh lama. Jadi agak sulit juga kita untuk menjalankan bisnis kan kalo izinnya belum ada, seperti itu. Ditambah waktunya juga, jadinya wasting time karena harus tunggu izin itu dulu baru kita bisa beroperasi.
Komponen-komponen biaya transaksi dalam jenis biaya transaksi manajerial pada industri hotel di Tomohon dapat dilihat pada gambar 4.2. Gambar tersebut memperlihatkan bahwa terdapat berbagai komponen biaya transaksi dalam jenis biaya transaksi ini.
Komponen-komponen biaya transaksi tersebut, dijelasan sebagai berikut:
1. Biaya Administrasi
Biaya administrasi adalah biaya bagi setiap industri hotel yang akan memulai bisnisnya. Dalam hal ini, pemilik industri hotel akan dibebankan biaya administrasi untuk memenuhi persyaratan formal berupa fotokopi identitas pemilik (KTP), bukti pajak, surat tanah, dsb. Ditambah biaya materai pada setiap dokumen penting tersebut. Tepatnya, seluruh biaya administrasi dan biaya materai yang dikeluarkan oleh industri hotel ini adalah untuk mengurus izin usaha yang kemudian akan dijalankan oleh pemilik hotel. Namun, lebih dari itu, meskipun komponen biaya transaksi ini menciptakan birokrasi yang sulit, akan tetapi masih memberikan makna positif. Berdasarkan temuan di lapangan, seluruh biaya administrasi ini dilengkapi oleh para pemilik hotel tanpa ada kecurangan ataupun manipulasi
2. Biaya Jaminan dan Asuransi
Bagi setiap karyawan tetap yang bekerja di hotel, selaku tenaga kerja memerlukan jaminan dan asuransi dari industri hotel. Hal ini bertujuan untuk mengurangi terjadinya risiko di kemudian hari, seperti kecelakaan kerja dan lain sebagainya. Dalam hal ini, industri hotel bekerjasama dengan perusahaan yang menyediakan jasa jaminan sosial untuk karyawan dan perusahaan asuransi. Sebagian besar industri hotel di Tomohon bekerjasama dengan perusahaan jaminan sosial, yakni badan penyelenggara jaminan sosial (BPJS). Untuk perusahaan asuransi, industri hotel di Tomohon bekerjasama dengan perusahaan Allianz.
Akan tetapi, tidak semua industri hotel memberikan asuransi bagi karyawannya.
Berdasarkan data yang dikumpulkan, hanya ada satu industri hotel yang memberikan asuransi bagi karyawannya. Informasi dari Pak Maikel (Hotel Highland):
Biaya jaminan ada. Biasanya untuk karyawan biaya jaminannya itu untuk jaminan kesehatan. Nah kalo dari kami itu disediakan jaminan kesehatan dari BPJS. Jadi nanti jaminan kesehatan mereka ditanggung oleh hotel, gitu.
Kalo asuransi juga ada. Jadi hotel kami juga memberikan asuransi jiwa bagi karyawan. Nah untuk asuransi jiwa ini kami ambil dari perusahan Allianz, seperti itu.
3. Biaya Layanan Konsultasi Teknis
Sebagai industri yang bergerak di bidang jasa dan pelayanan, selayaknya untuk terus meningkatkan produk layanannya bagi para pelanggan. Hal ini mendorong industri hotel di Tomohon untuk melakukan konsultasi terkait layanan teknis bagi industri hotel. Maka, berdasarkan temuan di lapangan, terdapat industri hotel di Tomohon yang mengeluarkan biaya untuk layanan konsultasi teknis. Dalam hal ini, terdapat industri hotel yang mengeluarkan biaya untuk layanan konsultasi teknis, tetapi ada juga yang tidak. Untuk industri hotel yang mengeluarkan biaya layanan konsultasi teknis, biasanya bekerjasama dengan sesama industri hotel untuk kegiatan bagi para karyawan hotel. Kegiatan yang dilakukan berupa training untuk mengembangkan skill para pelayan kamar maupun restoran.
Untuk hotel yang tidak mengeluarkan biaya untuk layanan konsultasi teknis, berdasarkan informasi dari David (Hotel Lanosa) bahwa, industri hotel yang dikembangkannya tidak memerlukan layanan konsultasi karena seluruh aktivitas bisnis dalam hotel dikelola oleh keluarga. Lebih dari itu, anggota keluarga yang menjalankan bisnis hotel tersebut sudah berpengalaman dalam bidang perhotelan, serta banyak yang mengambil studi untuk manajemen perhotelan.
4. Biaya Kelayakan Bisnis
Sebagai bisnis yang menawarkan jasa pelayanan bagi orang lain, selaku tamu di hotel berhak untuk memberikan saran terkait pelayanan yang diterima. Maka dari itu, sebagian besar industri hotel di Tomohon mengeluarkan biaya untuk kelayakan bisnis. Berdasarkan temuan di lapangan, terdapat industri hotel yang mengeluarkan biaya untuk menampung seluruh masukan ataupun saran dari para tamu. Biaya tersebut dikeluarkan hotel untuk menyewa aplikasi, seperti Trip Advisor. Hal ini dilakukan agar hotel dapat memperbaiki juga mempertahankan pelayanannya untuk menjadi lebih layak dan lebih baik. Selain itu, selama pandemi Covid 19 berlangsung, seluruh hotel di Tomohon berusaha untuk mempertahankan bisnisnya agar tidak mengalami stagnansi. Hal ini dilakukan oleh industri hotel di Tomohon dengan menerbitkan sertifikat laik hygiene sanitasi hotel. Terkait dengan itu, industri hotel mengeluarkan biaya-biaya untuk membuat tempat cuci tangan, membeli hand sanitizer, membeli disinfektan, dan membeli masker untuk karyawan. Informasi dari Jason (Hotel Jhoanie):
Untuk biaya-biayanya itu ada biaya untuk membuat wastafel di depat pintu masuk hotel, terus juga handsanitizer, masker untuk karyawan, juga untuk kebersihan ruangan dan sekitarnya kami membeli disinfektan.
5. Biaya Fasilitas
Sebagai industri yang menawarkan jasa pelayanan dan fasilitas, industri hotel harus terus berinovasi agar mampu membuat para tamu merasa puas dengan fasilitas yang
ditawarkan oleh hotel. Dalam hal ini industri hotel di Tomohon mengeluarkan biaya untuk setiap fasilitas maupun sarana prasarana yang dibutuhkan para. Kebanyakan industri hotel di Tomohon mengeluarkan biaya fasilitas untuk kegiatan dan acara tertentu. Berdasarkan informasi dari Pak Maikel (Hotel Highland) bahwa hotel Highland sering terlibat dalam kegiatan pemerintah Kota Tomohon yang membuat hotel mengeluarkan biaya fasilitas.
Kegiatan tersebut, yakni pada saat Tomohon international flower festival (TIFF), di mana hotel ikut ambil bagian dalam membuat stand pada pameran budaya dalam acara tersebut.
Maka dari itu, hotel mengeluarkan biaya untuk membangun stand tersebut. Selain itu, beberapa hotel lainnya mengeluarkan biaya untuk acara, seperti acara nikah atau ulang tahun yang diadakan di hotel tersebut. Dalam hal ini berdasarkan informasi David (Hotel Lanosa) biaya yang dikeluarkan, yaitu untuk mencari vendor yang dapat mengurus seluruh acara sesuai keinginan tamu pemesan. Sedangkan informasi dari Jason (Hotel Jhoanie) biaya-yang dikeluarkan itu, yakni catering. Hal ini dilakukan oleh hotel Jhoanie karena terkadang karyawan hotel tidak mampu menyediakan makanan untuk acara acara besar seperti pernikahan dan ulang tahun, maka dari itu mereka menyewa jasa catering.
6. Biaya Makan dan Minum
Biaya makan dan minum merupakan biaya informal yang dikeluarkan oleh industri hotel. Sebagai industri bisnis dalam bidang jasa industri hotel memprioritas pelayanannya dalam segi apapun. Dalam hal ini, industri hotel di Tomohon mengeluarkan biaya makanan dan minuman bagi para tamu (klien) bisnis hotel, juga bagi para karyawan. Untuk setiap kunjungan tamu bisnis ke hotel, maka para tamu akan diberikan pelayanan berupa makan dan minum dari hotel tersebut. Selain itu, industri hotel di Tomonon juga memberikan makan dan minum bagi karyawannya. Berdasarkan informasi dari Bu Sari (Hotel Wise) biaya makan dan minum diberikan kepada karyawan berdasarkan waktu shift masing-masing
karyawan tersebut. Setiap shiftnya, masing-masing karyawan mendapat jatah sekali makan dan minum.
7. Biaya Transportasi
Secara umum, industri hotel di Tomohon mengeluarkan biaya untuk transportasi.
Biaya transportasi dalam hal ini digunakan sebagai penunjang setiap kebutuhan di dalam hotel. Selain itu, biaya transportasi juga digunakan untuk kegiatan tertentu. Berdasarkan informasi dari Bu Sari (Hotel Wise), biaya transportasi keluar apabila ada keperluan hotel yang harus dipenuhi, seperti membeli barang-barang yang akan dipake di hotel. Hal ini tentu membutuhkan kendaraan (transportasi) untuk bisa membeli barang-barang tersebut. Selain itu, ada juga biaya transportasi yang dikeluarkan oleh hotel untuk acara tertentu. Seperti yang dijelaskan oleh Pak Maikel (Hotel Highland), bahwa setiap acara TIFF di Tomohon, Hotel Highland juga berpartisipasi dalam kegiatan parade kendaraan hias yang menggambarkan ciri khas hotel. Maka dari itu, Hotel Highland mengeluarkan biaya untuk kendaraan hias tersebut.
Gambar 4. 2 Managerial Transaction Cost Pada Industry Hotel di Tomohon
E. Market Transaction Cost dalam Industri Hotel di Tomohon
Market transaction cost atau biaya transaksi pasar adalah salah satu jenis biaya transaksi pada industri hotel di Tomohon. Biaya transaksi ini muncul pada hubungan antara
ini muncul pada hubungan antara industri hotel dengan pihak lain yang terkait. Pihak-pihak lain tersebut adalah perusahaan outsourcing, perusahaan online/offline travel agent (OTA), perusahaan bisnis lainnya, dan juga karyawan.
Komponen-komponen biaya transaksi dalam jenis biaya transaksi pasar ini, dapat dilihat pada gambar 4.3. Pada gambar tersebut ditujukkan bahwa terdapat berbagai komponen biaya transaksi dalam jenis biaya transaksi ini. Komponen-komponen biaya transaksi tersebut, dijelaskan sebagai berikut:
1. Biaya Iklan dan Promosi
Sebagai industri bisnis yang menjual jasa dan pelayanan, industri hotel menerapkan berbagai strategi marketing, termasuk mengiklankan atau mempromosikan produk yang dijualnya. Industri hotel di Tomohon bekerjasama dengan beberapa perusahaan yang mengiklankan dan mempromosikan produk-produk hotel. Produk-produk hotel tersebut, yakni kamar hotel, fasilitas kolam renang, restoran, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, produk-produk yang diiklankan dan dipromosikan tersebut, dipasarkan secara offline mapunun online. Untuk pemasaran secara offline, industri hotel di Tomohon bekerja sama dengan berbagai perusahaan travel agent, juga memasang atribut iklan di jalan. Berdasarkan informasi dari Pak Maikel (Hotel Highland), bahwa untuk iklan dan promosi secara offline hotel bekerjasama dengan perusahaan Safari tours and travel dan Tari tours and travel.
Selain itu, berdasarkan informasi dari Bu Sari (Hotel Wise), hotel memasarkan produknya lewat banner yang di pasang di jalan. Sedangkan, untuk pemasaran secara online, indsutri hotel di Tomohon pada umumnya bekerjasama dengan perusahaan online travel agent (OTA) dan media sosial. Untuk pemasaran lewat OTA, hotel bekerjasama dengan berbagai perusahaan. Berdasarkan informasi dari Jason (Hotel Jhoanie), perusahaan OTA yang memasang iklan dan promosi produk hotelnya yaitu Traveloka, Pegi-pegi.com, dan Agoda.
Sedangkan untuk pemasaran lewat media sosial, pada umumnya industri hotel di Tomohon
memanfaatkan media sosial Instagram dan Facebook, dengan membayarkan ads (iklan) di media sosial tersebut. Selain itu, ada juga hotel yang berupaya untuk membuat pemasaran lewat website hotelnya sendiri.
2. Biaya Pihak Ketiga
Biaya pihak ketiga dalam hal ini diartikan sebagai biaya yang dikeluarkan oleh industri hotel untuk urusan antara hotel dengan pihak lain yang membutuhkan bantuan dari pihak ketiga. Berdasarkan informasi yang ditemui di lapangan, biaya pihak ketiga dikeluarkan oleh industri hotel apabila berurusan dengan pihak pemerintah, khsusunya untuk urusan perizinan. Dalam hal ini, pihak ketiga yang dimaksud, seperti pejabat pembuat akta tanah
Biaya pihak ketiga dalam hal ini diartikan sebagai biaya yang dikeluarkan oleh industri hotel untuk urusan antara hotel dengan pihak lain yang membutuhkan bantuan dari pihak ketiga. Berdasarkan informasi yang ditemui di lapangan, biaya pihak ketiga dikeluarkan oleh industri hotel apabila berurusan dengan pihak pemerintah, khsusunya untuk urusan perizinan. Dalam hal ini, pihak ketiga yang dimaksud, seperti pejabat pembuat akta tanah