• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS BIAYA TRANSAKSI PADA INDUSTRI HOTEL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS BIAYA TRANSAKSI PADA INDUSTRI HOTEL"

Copied!
132
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS BIAYA TRANSAKSI PADA INDUSTRI HOTEL

(Studi Pada Industri Hotel di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Program Studi Ekonomi

Oleh:

Vilia Fransiska Kojongian NIM: 172314042

PROGRAM STUDI EKONOMI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

ANALISIS BIAYA TRANSAKSI PADA INDUSTRI HOTEL

(Studi Pada Industri Hotel di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Program Studi Ekonomi

Oleh:

Vilia Fransiska Kojongian NIM: 172314042

PROGRAM STUDI EKONOMI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)

SKRIPSI

ANALISIS BIAYA TRANSAKSI PADA INDUSTRI HOTEL

(Studi Pada Industri Hotel di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara)

Oleh:

Vilia Fransiska Kojongian

Pe

Florentinus Nugro Hardianto, S.E., M.Sc. Tanggal: 30 November 2021

(4)

Yogyakarta, 25 Februari 2022

(5)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya menyatakan bahwa skripsi dengan judul:

ANALISIS BIAYA TRANSAKSI PADA INDUSTRI HOTEL (Studi Pada Industri Hotel di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara)

Yang dimajukan untuk diuji pada tanggal 24 Januari 2022 adalah hasil karya saya.

Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan dari orang lain yang saya ambil dengan cara menyalin, atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat atau simbol yang menunjukkan gagasan atau pendapat atau pemikiran dari penulis lain yang saya akui seolah-olah sebagai tulisan saya sendiri dan atau tidak terdapat bagian atau keseluruhan tulisan yang saya salin, tiru, atau yang saya ambil dari tulisan orang lain tanpa memberikan pengakuan pada penulis aslinya.

Apabila saya melakukan hal tersebut di atas, baik sengaja maupun tidak sengaja, dengan ini saya menyatakan menarik skripsi saya yang saya ajukan sebagai hasil tulisan saya sendiri ini. Bila kemudian terbukti bahwa saya ternyata melakukan tindakan menyalin atau meniru tulisan orang lain seolah-olah hasil pemikiran saya sendiri, berarti gelar dan ijazah yang telah diberikan oleh universitas batal saya terima.

Yogyakarta, 25 Februari 2022 Yang membuat pernyataan,

(6)

Yogyakarta, 25 Februari 2022 Yang membuat pernyataan.

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Vilia Fransiska Kojongian NIM : 172314042

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

ANALISIS BIAYA TRANSAKSI PADA INDUSTRI HOTEL (Studi Pada Industri Hotel di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara)

Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan, dalam bentuk media lain, mengolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lainnya untuk kepentingan akademis tanpa perlu memberikan royalty kepada saya selama tatp mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

(7)

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

“Ad Maiora Natus Sum”

“Aku Dilahirkan Untuk Melakukan Hal-Hal yang Lebih Besar”

-St. Aloysius Gonzaga

Skripsi ini saya persembahkan untuk:

Paman saya tercinta yang selalu bertanya kapan selesai skripsi, Alm. RP. Yohanes Melky Tore, MSC yang meninggal pada 21 September 2021. Semoga beristirahat dalam damai

dan berbahagia bersama Para Kudus di surga.

(8)

KATA PENGANTAR

Ad Maiorem Dei Gloriam, puji dan syukur serta terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasih karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul ANALISIS BIAYA TRANSAKSI PADA INDUSTRI HOTEL (STUDI PADA INDUSTRI HOTEL DI KOTA TOMOHON, PROVINSI SULAWESI UTARA). Pada kesempatan ini, penulis juga ingin berterimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan bagi penulis dalam pembuatan skripsi ini:

1. Bapak Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. selaku Rektor Universitas Sanata Dharma Yogyakrta.

2. Bapak Tiberius Handono Eko Prabowo, M.B.A., Ph.D. selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Bapak Laurentius Bambang Harnoto, M.Si. selaku Ketua Program Studi Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

4. Bapak Florentinus Nugro Hardianto, M.Sc. selaku dosen pembimbing skripsi yang telah membimbing dan memberikan banyak arahan kepada penulis dalam pengerjaan skripsi ini dari awal sampai akhir penulisan.

5. Ibu Dra.Yuliana Rini Hardanti, M.Si. selaku dosen pendamping akademik bagi penulis.

6. Keluarga tercinta, Papi, Mami, dan Kakak yang senantiasa memberikan kasih sayang, doa, motivasi, serta dukungan baik secara moral dan finansial. Terimakasih atas semuanya itu sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

7. Claudio Untu yang setia menemani penulis selama mengerjakan skripsi, human diary yang selalu mendengarkan keluh kesah penulis, dan sebagai support system yang memberikan dukungan serta saran kepada penulis selama proses pengerjaan skripsi.

8. Geng Wisuda Bareng, Beben, Amel, Jovita, Wina, Dinda yang tetap setia berjuang bersama dan memberikan dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini.

(9)

9. Beto yang selalu bersedia menjadi pendengar yang baik dan memberikan semangat bagi penulis.

10. Teman-teman Program Studi Ekonomi angakatan 2017 yang tidak bisa disebutkan satu persatu, yang telah memberikan dukungan dan masukan bagi penulis.

11. Hotel Lanosa, Hotel Jhoanie, Hotel Wise, dan Hotel Highland yang telah bersedia menjadi tempat bagi penulis untuk melakukan penelitian.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Masih banyak keterbatasan dalam penyusunan skripsi ini baik dari segi penulisan maupun penyajian data.

Maka dari itu, penulis sangat berharap adanya kritik maupun saran yang membangun dari para pembaca. Besar harapan penulis agar skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan dampak positif bagi semua pihak. Terima kasih.

Yogyakarta, 25 Februari 2022 Penulis,

Vilia Fransiska Kojongian

(10)

ABSTRAK

ANALISIS BIAYA TRANSAKSI PADA INDUSTRI HOTEL (Studi Pada Industri Hotel di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara)

Vilia Fransiska Kojongian Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta 2022

Biaya transaksi merupakan bagian dari kajian ilmu ekonomi kelembagaan yang muncul pada berbagai aktivitas transaksi ekonomi, termasuk salah satunya pada aktivitas bisnis industri hotel. Kedinamisan kondisi, keterbatasan, serta kecenderungan manusia untuk membuat kesalahan mendorong eksistensi biaya transaksi yang mendorong inefektivitas dan inefisiensi lembaga. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis biaya transaksi dan komponen-komponennya, serta faktor-faktor yang yang mempengaruhi keberhasilan operasional industri hotel.

Penelitian dilakukan pada 4 industri hotel di Kota Tomohon dengan menggunakan metode penelitian analisis deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan narasumber terpilih, yaitu pemilik dan manajer industri hotel. Analisis data penelitian melewati sejumlah tahap berikut: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Berdasarkan hasil analisis data, penulis menemukan bahwa terdapat 3 jenis biaya transaksi pada industri hotel di Kota Tomohon, yaitu biaya transaksi pasar, biaya transaksi manajerial, dan biaya transaksi politik. Pada masing-masing jenis biaya transaksi tersebut, terdapat sejumlah komponen-komponen yang membentuk biaya transaksi, yaitu biaya administrasi, biaya layanan konsultasi teknis, biaya jaminan dan asuransi, biaya kelayakan bisnis, biaya fasilitas, biaya makan dan minum, biaya transportasi, biaya iklan dan promosi, biaya pihak ketiga, biaya negosiasi, biaya pemantauan dan pengawasan, biaya pengajuan kasus, dan biaya hukum. Penulis juga menemukan bahwa terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi keberhasilan operasional industri hotel di Kota Tomohon dan terdiri dari faktor pendukung dan faktor penghambat. Adapun faktor pendukung terdiri dari faktor keunggulan industri hotel (pelayanan hotel, fasilitas hotel, penentuan target pasar, serta penempatan bangunan hotel) dan faktor peluang bisnis (perkembangan destinasi wisata, Tomohon International Flower Festival, dan penemuan lokasi strategis untuk bisnis hotel).

Sementara itu, faktor penghambat terdiri dari faktor kelemahan industri hotel (aspek manajerial, pelayanan hotel, dan fasilitas yang kurang mendukung), ancaman akan persaingan bisnis dan kriminalitas yang terjadi di dalam hotel. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan, pemahaman, serta kebijakan bagi industri hotel dalam mengelola biaya, khususnya biaya transaksi, agar dapat menciptakan industri bisnis yang berjalan dengan efektif dan efisien.

Kata kunci: biaya transaksi, industri hotel, komponen biaya transaksi, determinan biaya transaksi, keberhasilan operasional

(11)

ABSTRACT

TRANSACTION COST ANALYSIS IN THE HOTEL INDUSTRY (Study on the Hotel Industry in Tomohon City, North Sulawesi Province)

Vilia Fransiska Kojongian Sanata Dharma University

Yogyakarta 2022

Transaction cost is a part of the study of institutional economics that appears in various economic transaction activities, including in the hotel industry business activities.

The human dynamics of conditions, limitations, and the tendency to make mistakes drive the existence of transaction costs that lead to organizational ineffectiveness and inefficiency.

This study aims to identify the types of transaction costs and their components, as well as the factors that influence the operational success of the hotel industry.

The research is conducted on 4 hotel industries in Tomohon City using qualitative descriptive analysis research methods. The data is obtained from direct interviews with selected informants, namely the owners and managers of the hotel industry. Analysis of the data follows some stages: data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions.

Based on the results of data analysis, the author finds that there are 3 types of transaction costs in the hotel industry in Tomohon City, namely market transaction costs, managerial transaction costs, and political transaction costs. In each of these types of transaction costs, there are a number of components that make up transaction costs, namely administrative fees, technical consulting service fees, guarantee and insurance fees, business feasibility fees, facility fees, food and drink costs, transportation costs, advertising and promotion costs, third-party fees, negotiation fees, monitoring and supervision fees, case filing fees, and legal fees. The author also finds that there are a number of factors that influence the success of the hotel industry operations in Tomohon City. They consist of supporting factors and inhibiting factors. The supporting factors consist of the advantages of the hotel industry factors (hotel services, hotel facilities, the determination of target market and the placement of hotel buildings) and business opportunities factors (development of tourist destinations, Tomohon International Flower Festival, and finding strategic locations for the hotel business). Meanwhile, the inhibiting factors consist of the weakness of the hotel industry factors (managerial aspects, hotel services, and facilities that are less supportive), the threat of business competition and crime that occurs in the hotel. The results of this study are expected to provide knowledge, understanding, and policies for the hotel industry in managing costs, especially transaction costs, in order to create a business industry that runs effectively and efficiently.

Keywords: transaction costs, hotel industry, components of transaction costs, determinants of transaction costs, operational success

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN... iii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI ... iv

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK... ix

ABSTRACT ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Batasan Masalah ... 5

D. Tujuan Penelitian ... 6

E. Manfaat Penelitian ... 6

(13)

F. Sistematika Penulisan ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A. Tinjauan Teori... 8

1. Industri Hotel ... 8

2. Biaya Transaksi ... 9

3. Jenis Biaya Transaksi ... 11

4. Hubungan Biaya Transaksi dan Bisnis Pariwisata ... 13

5. Biaya Transaksi dalam Industri Hotel... 13

B. Hasil Penelitian Terdahulu ... 15

C. Kerangka Teoritis Hubungan Industri Hotel dan Biaya Transaksi ... 23

BAB III METODE PENELITIAN ... 25

A. Jenis Penelitian ... 25

B. Lokasi Penelitian... 26

C. Populasi dan Sampel ... 26

1. Populasi ... 26

2. Sampel... 26

D. Metode Pengumpulan Data ... 27

1. Observasi... 27

2. Wawancara ... 28

3. Dokumentasi ... 28

E. Teknik Analisis Data ... 28

1. Analisis Sebelum di Lapangan ... 29

(14)

2. Analisis Selama di Lapangan Model Miles dan Huberman ... 29

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 32

A. Perkembangan Industri Hotel Secara Umum... 32

B. Perkembangan Terkini Industri Hotel di Tomohon ... 34

C. Biaya Transaksi pada Industri Hotel di Kota Tomohon ... 35

D. Jenis-Jenis Biaya Transaksi dalam Industri Hotel di Tomohon... 36

D. Managerial Transaction Cost dalam Industri Hotel di Tomohon ... 37

E. Market Transaction Cost dalam Industri Hotel di Tomohon ... 41

F. Political Transaction Cost dalam Industri Hotel di Tomohon ... 45

G. Operasional Industri Hotel di Tomohon ... 46

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 50

A. Kesimpulan ... 50

B. Saran ... 51

DAFTAR PUSTAKA ... 53

LAMPIRAN ... 56

(15)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. 1 Jumlah Wisatawan Mancanegara dan Domestik di Kota Tomohon Tahun 2014-

2018 ... 3 Tabel 1. 2 Jumlah Industri Hotel di Kota Tomohon Tahun 2016-2017 ... 4 Tabel 2. 1 Penelitian Terdahulu ... 15

(16)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2. 1 Kerangka Teoritis Hubungan Industri Hotel dan Biaya Transaksi ... 23

Gambar 4. 1 Jenis-Jenis Biaya Transaksi Pada Indsutri Hotel di Tomohon ... 36

Gambar 4. 2 Managerial Transaction Cost Pada Industry Hotel di Tomohon... 41

Gambar 4. 3 Market Transaction Cost Pada Industri Hotel di Tomohon ... 45

Gambar 4. 4 Political Transaction Cost Pada Industri Hotel di Tomohon ... 46

Gambar 4. 5 Operasional Industri Hotel di Tomohon ... 49

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Format Wawancara ... 56

Lampiran 2. Data Profil Narasumber... 62

Lampiran 3. Daftar Wawancara ... 63

Lampiran 4. Kategorisasi Data Wawancara ... 91

(18)

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi yang menjadi sumber devisa terbesar negara selain dari sektor-sektor ekonomi lainnya (Hendriyati, 2019). Menurut Garcia, dkk (2015) dalam 10 tahun terakhir, sebagian besar organisasi internasional berpendapat bahwa pariwisata dapat dipahami sebagai alat untuk pembangunan ekonomi di dunia. Selain itu, banyak kontribusi dari beberapa literatur ekonomi mengakui akan potensi pariwisata ini.

Industri pariwisata juga telah menunjukan pertumbuhan berkelanjutan yang baik dalam pendapatan maupun jumlah wisatawan. Dalam pasar internasional, pariwisata internasional merupakan bagian utama dari ekonomi global dan juga menjadi sektor jasa terbesar dalam perdagangan internasional (Lew, 2011).

Menurut World Travel and Tourism Council (WTTC) dalam Du, dkk (2014), pada tahun 2013, total kontribusi pariwisata terhadap ekonomi global naik menjadi 9,5% dari PDB global di tahun itu (7 triliun US$). Tidak hanya melampaui ekonomi secara luas, tetapi juga tumbuh lebih cepat daripada sektor penting lainnya seperti layanan keuangan dan bisnis, transportasi dan manufaktur. Secara total, hampir 266 juta pekerjaan didukung oleh sektor pariwisata pada tahun 2013 dari 11 jenis pekerjaan di dunia. Permintaan yang berkelanjutan untuk sektor pariwisata, bersama dengan kemampuannya untuk menghasilkan tingkat pekerjaan yang tinggi terus membuktikan bahwa pentingnya sektor ini sebagai alat untuk pembangunan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Selain itu, kegiatan wisata menghasilkan manfaat ekonomi yang signifikan baik bagi negara tuan rumah maupun negara asal wisatawan. Terutama di negara berkembang, salah satu motivasi utama suatu negara untuk mempromosikan dirinya sebagai tujuan wisata adalah peningkatan ekonomi melalui

(19)

penerimaan devisa, kontribusi terhadap pendapatan pemerintah, dan penciptaan lapangan kerja serta peluang bisnis.

Seiring berjalannya waktu, peluang untuk bisnis pariwisata di Indonesia semakin berkembang. Berdasarkan pernyataan di atas, pemerintah Indonesia telah menetapkan 10 destinasi pariwisata untuk menjadi prioritas pembangunan sejak 2016 (Cholik, 2017).

Pengembangan kawasan pariwisata ini ditargetkan dapat mendongkrak devisa negara dari sektor pariwisata hingga 20 miliar US$ dalam lima tahun ke depan. Hal ini tentu berpengaruh pada jumlah wisatawan di Indonesia. Jumlah wisatawan baik yang berasal dari nusantara maupun internasional, jumlahnya semakin meningkat. Hal ini juga diimbangi dengan penyediaan fasilitas akomodasi. Salah satu peluang bisnis yang sedang marak saat ini adalah usaha jasa penginapan atau industri perhotelan yang bisa ditemui hampir di setiap kota di Indonesia. Maka dari itu tidak mengherankan jika perkembangan bisnis industri perhotelan bertumbuh dengan pesat di Indonesia, mulai dari hotel non-budget, non-bintang, hingga hotel berbintang lima.

Namun, perkembangan sektor pariwisata ini secara langsung memberikan dampak pada perkembangan industri hotel. Hal ini ditandai dengan adanya persaingan bisnis antar industri ini. Adanya persaingan bisnis ini tentu memberikan masalah pada pertumbuhan dan perkembangan industri hotel. Dalam hal ini, masalah yang dihadapi tersebut terkait dengan keterbatasan sumber daya dan kemampuan yang diperlukan untuk menjalankan aktivitas manajerial, penjualan, reservasi, promosi, periklanan hotel secara efektif, serta kegiatan outsourcing yang dilakukan oleh industri hotel. Maka dari itu, industri hotel secara tidak langsung dituntut untuk melakukan restrukturisasi.

Fenomena ketatnya persaingan industri hotel terjadi di salah satu Kota di daerah Sulawesi Utara yaitu Kota Tomohon. Kota Tomohon sebagai salah satu kota di Sulawesi Utara yang terkenal dengan berbagai destinasi wisatanya menjadi daerah berdirinya

(20)

beberapa industri perhotelan. Berkembanganya beberapa destinasi wisata di daerah ini membuat banyak turis domestik maupun mancanegara berwisata di daerah ini. Hal ini lah yang menjadi alasan bagi masyarakat di daerah ini untuk mendirikan beberapa usaha jasa penginapan. Dengan kata lain, perkembangan pariwasata secara langsung berpengaruh pada meningkatnya angka pembangunan usaha jasa penginapan. Menurut data statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tomohon, di dua tahun terakhir, yakni pada tahun 2018, jumlah wisatawan mancanegara dan domestik mencapai 552.001 pengunjung (Badan Pusat Statistik, 2019). Berikut adalah data dari jumlah wisatawan mancanegara dan domestik di Kota Tomohon dari tahun 2014-2018.

Tabel 1. 1 Jumlah Wisatawan Mancanegara dan Domestik di Kota Tomohon Tahun 2014-2018

Tahun/

Year

Wisatawan/ Visitors

Jumlah/

Total Mancanegara/ International Domestik/ Domestic

2014 14.023 132.102 146.125

2015 14.734 192.322 207.056

2016 26.441 244.593 271.034

2017 89.736 455.679 545.415

2018 90. 907 461.094 552.001

Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa jumlah wisatawan yang mengunjungi Kota Tomohon di setiap tahunnya mengalami peningkatan. Sementara, untuk usaha jasa penginapan yang ada di Kota Tomohon, berdasarkan data statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tomohon, per tahun 2017 berjumlah 25 hotel (Badan Pusat Statistik, 2019). Untuk tahun 2018 ke atas, belum tersedia data yang menunjukan jumlah usaha jasa penginapan di Kota Tomohon, sementara di tahun 2020 banyak usaha jasa penginapan baru di kota ini yang di-expose oleh masyarakat, seperti Grand Master Tomohon dan Hotel Villa Emitta Tomohon yang baru resmi dibuka pada sekitar akhir tahun 2019.

(21)

Berikut adalah data dari jumlah industri hotel yang ada di Kota Tomohon per Kecamatan dari tahun 2016 dan 2017 menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tomohon.

Tabel 1. 2 Jumlah Industri Hotel di Kota Tomohon Tahun 2016-2017

Kecamatan/ Subdistrict

Hotel/ Hotels Kamar/ Rooms Tempat Tidur/ Beds 2016 2017 2016 2017 2016 2017

1. Tomohon Selatan 10 8 89 54 126 74

2. Tomohon Tengah 3 2 33 10 84 19

3. Tomohon Timur 2 2 61 44 102 66

4. Tomohon Barat - - - -

5. Tomohon Utara 14 13 207 78 336 98

Tomohon 29 25 390 186 648 257

Berdasarkan data tersebut, usaha jasa penginapan di Kota Tomohon mengalami penurunan yang sangat drastis dari tahun 2016 ke tahun 2017. Fenomena penurunan jumlah industri hotel tersebut disebabkan oleh banyaknya industri hotel yang kalah bersaing dan konsistensi para pengusaha di industri properti ini untuk terus mengelola hotelnya. Dalam hal ini untuk menerapkan restrukturisasi diperlukan ketekunan, etos kerja yang baik, serta kreatifitas agar mampu menghadapi persaingan bisnis. Terlepas dari itu, dalam aktivitas pengembangan industri hotel ada beberapa proses yang harus dilalui oleh pelaku usaha termasuk proses untuk mencari informasi, komunikasi, negosiasi, sistem kontrak, kualitas produk, dan lain sebagainya sehingga membuat biaya operasional pada industri hotel menjadi semakin besar. Peristiwa ini lah yang menyebabkan timbulnya biaya transaksi pada industri hotel.

Keberadaan biaya transaksi dalam aktivitas ekonomi (bisnis) sangat penting untuk dibahas dan disadari eksistensinya. Hal ini karena, menurut Furubotn dan Richter (2008) dalam aktivitas tersebut terdapat pembuatan, penggunaan, dan perubahan yang mesti menggunakan waktu dan sumber daya. Namun, kedinamisan kondisi, keterbatasan manusia

(22)

serta kecenderungannya untuk membuat kesalahan mengakibatkan munculnya biaya transaksi pada peralihan proses dalam aktivitas transaksi ekonomi tersebut. Oleh sebab itu, kondisi transaksi dalam sebuah bisnis tidak akan selalu dalam keadaan ceteris paribus atau dapat dikatakan biaya transaksinya akan selalu ada. Sebagai salah satu industri yang terlibat dalam aktivitas transaksi ekonomi, bisnis industri hotel juga tidak lepas dari adanya biaya transaksi. Hal ini karena industri hotel menggunakan waktu dan sumber daya manusia untuk mengelola bisnisnya. Dalam hal ini, tujuan bisnis dalam industri hotel adalah mencapai occupancy rate yang maksimal. Menurut Sulastiyono (2008) bahwa usaha hotel yang berhasil terlihat dari tingkat hunian kamarnya. Esensial dari occupancy rate tersebut pada akhirnya mendorong industri hotel untuk mengelola strategi pemasarannya secara efektif dan efisien. Maka dari itu, analisis biaya transaksi dalam industri hotel perlu dilakukan agar diketahui sejauh mana industri hotel mengeluarkan biaya di luar biaya produksinya, sehingga dapat dilakukan analisis selanjutnya untuk pengelolaan strategi pemasaran secara efisien pada industri hotel.

B. Rumusan Masalah

1. Apa sajakah jenis biaya transaksi yang terbentuk pada industri hotel di Tomohon?

2. Apa sajakah komponen-komponen biaya transaksi yang termasuk dalam masing- masing jenis biaya transaksi pada indsutri hotel di Tomohon?

3. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi keberhasilan operasional industri hotel di Tomohon?

C. Batasan Masalah

Penelitian ini berfokus pada jenis-jenis biaya transaksi yang terbentuk pada industri perhotelan.

(23)

D. Tujuan Penelitian

Tujuan diadakannya penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk menganalisis jenis-jenis biaya transaksi yang terbentuk pada industri hotel di Tomohon.

2. Untuk mengidentifikasi komponen-komponen biaya transaksi yang termasuk dalam masing-masing jenis biaya transaksi pada industri hotel di Tomohon.

3. Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan operasional industri hotel di Tomohon.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini mencakup manfaat teoritis, manfaat empiris, dan manfaat praktis.

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan dapat menyumbangkan informasi dan pandangan tentang biaya transaksi dalam industri hotel.

2. Manfaat Empiris

Secara empiris, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah dan melengkapi penelitian-penelitian lain yang sejenis serta dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi penelitian selanjutnya khususnya terkait biaya transaksi dalam industri hotel.

3. Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat bagi pihak-pihak dalam industri hotel khususnya yang berkaitan dengan biaya transaksi.

Selain itu, penelitian ini juga diharapkan mampu menjadi bahan tinjauan untuk kebijakan industri hotel berdasarkan temuan dari penelitian ini.

(24)

F. Sistematika Penulisan

Penelitian tentang biaya transaksi pada industri hotel ini terbagi dalam 5 bab, yaitu:

BAB I: PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penelitian.

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

Bab ini menguraikan sejumlah literatur terkait penelitian yang dilakukan, tinjauan studi empiris, dan model konspetual mengenai hubungan biaya transaksi dan industri hotel.

BAB III: METODE PENELITIAN

Bab ini memaparkan jenis penelitian, lokasi penelitian, populasi dan sampel penelitian, metode pengumpulan data, serta teknik analisis data.

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini menjelaskan tentang hasil penelitian dan pembahasan dari data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan di beberapa industri hotel di Tomohon.

BAB V: PENUTUP

Bab ini menguraikan kesimpulan dan saran dari hasil analisis yang telah dijelaskan pada bagian-bagian sebelumnya.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori

1. Industri Hotel

Industri perhotelan merupakan salah satu mata rantai dalam jaringan industri pariwisata (Suwithi & Boham, 2013). Sebagai mata rantai dalam jaringan industri pariwisata, industri perhotelan termasuk dalam salah satu bidang usaha yang masuk dalam kelompok hospitality industry (Suwithi & Boham, 2013). Industri perhotelan termasuk dalam industri jasa yang menawarkan jasa pelayanan kamar, penyedia makanan dan minuman serta jasa lainnya bagi masyarakat umum yang dikelola secara komersil (Wiyasha, 2007). Dalam hal ini, industri perhotelan hadir sebagai penunjang kegiatan pariwisata sebagai akomodasi bagi para wisatawan. Selain itu, industri perhotelan juga menjadi sarana pendukung utama yang menunjang bisnis di bidang pariwisata (Maylisa, 2013).

Sebagai salah satu hospitality industry yang dikelola secara komersil, industri perhotelan memiliki tujuan bisnis. Tujuan bisnisnya dalam hal ini adalah menciptakan keuntungan melalui penciptaan dan pemeliharaan kepuasan pelanggan (Kotler, Bowen, & Makens, 2006). Seiring berjalannya waktu, saat ini industri perhotelan bersifat multifungsi. Hal ini karena hotel bukan lagi hanya sekedar sebagai tempat menginap atau beristirahat bagi para tamu, tapi juga mempunyai banyak fungsi, antara lain sebagai tujuan pertemuan pejabat- pejabat penting antar negara, tempat konferensi, seminar, lokakarya, ajang festival seni dan budaya serta kegiatan lain semacam itu yang tentunya memerlukan sarana dan prasarana yang semakin lengkap (Suwithi & Boham, 2013).

(26)

2. Biaya Transaksi

Ronald Coase adalah seorang ekonom yang pertama kali memperkenalkan tentang konsep biaya transaksi. Konsep ini diperkenalkan pada tahun 1937 melalui artikelnya dengan judul “The Nature of the Firm”. Dalam hal ini Coase menjelaskan bahwa biaya transaksi adalah biaya penerapan mekanisme harga. Dalam artian, biaya mengadakan transaksi dengan mode pertukaran pada sistem pasar terbuka. Biaya transaksi terbentuk atas unsur dua asumsi perilaku, yaitu rasionalitas terbatas (bounded rationality) dan perilaku oportunistik (opportunistic). Menurut Williamson (1979), konsep biaya transaksi didefinisikan sebagai biaya untuk menjalankan sistem ekonomi (the cost of running the economic system) dan biaya untuk menyesuaikan terhadap perubahan (cost to a change in circumstances). Kemudian, North (1991) juga mengatakan bahwa biaya transaksi merupakan biaya untuk menspesifikasi dan memaksakan (enforcing) kontrak yang mendasari pertukaran sehingga dengan sendirinya mencakup semua biaya organisasi politik dan ekonomi yang memungkinkan kegiatan ekonomi mengutip laba dari perdagangan (pertukaran). Selanjutnya, menurut Kirchner dan Picot (1987) menjelaskan bahwa biaya transaksi dapat didefinisikan sebagai biaya-biaya untuk melakukan pencarian informasi, biaya negosiasi dan keputusan kontrak, biaya pengawasan dan monitoring, serta biaya adaptasi.

Di samping itu, teori ini juga memiliki makna lainnya. Perkembangan teori biaya transaksi oleh para ahli kemudian dijadikan sebagai unit analisis. Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Dalam hal ini, menurut Kusuma (2019), transaksi terjadi bila barang dan jasa ditransfer dari satu divisi ke divisi lain yang berbeda teknologi. Dari aktivitas transaksi tersebut, kemudian melibatkan konflik (conflict), aktivitas yang saling menguntungkan (mutual activities), dan ketertiban (order). Adapun 2 unsur terjadinya biaya transaksi, yaitu:

(27)

1) Rasionalitas terbatas (bounded rationality)

Rasionalitas terbatas adalah salah satu sumber terjadinya biaya transaksi. Menurut Kusuma (2019), rasionalitas terbatas (bounded rationality) merujuk kepada tingkat dan batas kesanggupan individu untuk menerima, menyimpan, mencari kembali, dan memproses informasi tanpa kesalahan. Menurut Dietrich (1994), konsep rasionalitas terbatas didasarkan pada dua prinsip, yaitu: (i) individu, atau kelompok individu, memiliki batasan yang tak terelakkan pada kemampuan mereka untuk memproses atau menggunakan informasi yang tersedia. Kapasitas komputasi yang terbatas ini ada karena kesulitas dalam memahami dam memanipulasi data indera yang terlibat dalam situasi apa pun kecuali hal yang sepele.

Singkatnya, kompleksitas akan informasi ada; (ii) sama-sama tidak masuk akal untuk menyarankan bahwa semua kemungkinan keadaaan dunia dan semua hubungan sebab- akibat yang relevan dapat diidentifikasi, setelah itu, probabilitas dapat dihitung, mungkin berdasarkan kejadian sebelumnya. Hal ini menyiratkan bahwa para pelaku ekonomi tidak terhidarkan pada ketidaklengkapan informasi, yaitu adanya ketidakpastian informasi.

2) Perilaku oportunistis (opportunistic behaviours)

Menurut Kusuma (2019) perilaku oportunistis adalah upaya untuk mendapatkan keuntungan melalui praktik yang tidak jujur dalam kegiatan transaksi. Selanjutnya, Williamson (1979) menegaskan bahwa, kondisi ini terjadi ketika manusia memanfaatkan ketidaksempurnaan atau ketidaklengkapan informasi demi keuntungan dirinya sendiri.

Menurut Williamson (1981) pengembalian yang dikaitkan dengan keuntungan produktif (misalnya, lokasi yang unik atau keterampilan yang berbeda) tidak dianggap sebagai oportunistis. Hal ini memerlukan representasi yang strategis untuk mendapatkan oportunisme.

(28)

3. Jenis Biaya Transaksi

Jenis biaya transaksi dibagi atas dua hal, yaitu menurut kedudukannya dan waktunya.

Berdasarkan kedudukannya, biaya transaksi dalam hal ini dibagi menjadi tiga menurut Furobotn dan Ritcher (2000), yakni biaya transaksi pasar (market transaction cost), biaya transaksi manajerial (managerial transaction cost), dan biaya transaksi politik (political transaction cost). Ditegaskan bahwa biaya yang muncul dari kegiatan dalam transaksi pasar (market transaction cost), biaya dalam menjalankan koordinasi dan perintah maupun aktivitas operasional dalam unit usaha (managerial cost), serta biaya untuk mengakomodasi dan menyesuaikan diri dengan kerangka politik kelembaagaan (political transaction cost) adalah bagian dari jenis-jenis dalam biaya transaksi. Furobotn dan Ritcher (2000) dalam Kusuma (2019) menjelaskan secara lebih detail mengenai pengelompokkan dari jenis-jenis biaya transaksi tersebut sebagai berikut:

1) Biaya transaksi pasar (market transaction cost)

Biaya transaksi pasar (market transaction cost) secara lebih spesifik dijelaskan sebagai biaya untuk menyiapkan kontrak. Dalam arti sempit jenis biaya transaksi ini juga dapat dijelaskan sebagai biaya untuk pencarian (searching) dan informasi. Kemudian, biaya untuk mengeksekusi kontrak, dalam hal ini termasuk biaya untuk negosiasi dan pengambilan keputusan, masuk dalam jenis biaya transaksi ini. Selain itu, biaya pengawasan (monitoring) dan pemaksaan kewajiban yang tertuang dalam kontrak (enforcing the contractual obligations) juga termasuk dalam jenis biaya transaksi pasar.

2) Biaya transaksi manajerial (managerial transaction cost)

Biaya transaksi manajerial adalah seluruh biaya yang termasuk dalam biaya penyusunan (setting up), biaya pemeliharaan, atau perubahan desain organisasi dan biaya untuk menjalankan organisasi.

(29)

3) Biaya transaksi politik (political transaction cost)

Biaya yang termasuk ke dalam jenis biaya transaksi ini adalah biaya penawaran barang publik yang dijalankan melalui tindakan kolektif, dan juga dapat dianggap sebagai perumpamaan dari biaya transaksi manajeral dalam konteks publik. Secara khusus biaya transaksi ini juga meliputi beberapa biaya. Pertama, biaya untuk penyusunan, pemeliharaan, dan perubahan organisasi politik formal dan informasl. Kedua, biaya untuk menjalankan motif politik itu sendiri.

Berdasarkan waktu, jenis biaya transaksi dibagi atas dua menurut Yustika (2008), yakni biaya transaksi ex-ante dan biaya transaksi ex-post. Biaya ex-ante adalah biaya yang di dalamnya termasuk biaya penyusunan kontrak, biaya negosiasi, dan biaya pengamanan kesepakatan berupa jaminan. Dapat dikatakan bahwa biaya ex-ante adalah biaya transaksi yang muncul sebelum adanya kontrak. Biaya ex-ante juga sewaktu-waktu dapat mengalami perubahan. Hal ini dapat terjadi karena adanya informasi yang asimetris. Sedangkan, biaya transaksi ex-post adalah biaya-biaya yang meliputi biaya kegagalan adaptasi (maladaption) yang terjadi ketika transaksi menyimpang dari persyaratan; biaya tawar-menawar/negosiasi yang terjadi jika upaya bilateral dilakukan untuk memperbaiki/mengoreksi penyimpangan;

biaya perancangan dan pengelolaan kegiatan yang terkait dengan struktur tata kelola pemerintah (seringkali bukan pengadilan) yang menjadi tujuan sengketa; dan biaya pengikatan untuk menjamin komitmen yang telah dilakukan. Dapat dikatakan bahwa biaya ex-post adalah biaya transaksi yang muncul setelah adanya kontrak, dan untuk memperbaiki kontrak yang telah terjadi penyimpangan. Biaya ex-post ini juga dapat mengalami perubahan. Faktor yang menyebabkan perubahan pada biaya ex-post adalah distribusi keuntungan yang tidak sesuai dengan kesepakatan pada kontrak di awal.

(30)

4. Hubungan Biaya Transaksi dan Bisnis Pariwisata

Sebuah bisnis dalam industri pariwisata didasarkan pada rantai pasokannya yang disebut sebagai tourism supply chain (TSC). Terdapat empat bagian utama dalam TSC yang terdiri dari tiga bagian utama wajib, dan satu bagian opsional. Tiga bagian utama tersebut, yaitu pemasok tingkat pertama (akomodasi dan transportasi), pemasok tingkat dua (makanan dan minuman, dan pelanggan. Sementara untuk bagian opsional adalah perantara, atau agen perjalanan dan operator tur. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa dalam satu rantai pasokan dari TSC terdapat kombinasi antara akomodasi, transportasi, serta makanan dan minuman (Piboonrungroj & Disney, 2015). Coase (1937) menjelaskan bahwa dalam sebuah mitra bisnis terdapat biaya komunikasi dan pemeriksaan kualitas (bagi perusahaan yang melakukan outsourcing). Dalam hal ini, industri hotel termasuk dalam bagian utama wajib pada TSC, yakni sebagai bagian dari jenis akomodasi. Maka dari itu, dalam menjalankan mitra bisnis sebagai akomodasi terdapat biaya transaksi, termasuk untuk biaya komunikasi dan lain sebagainya.

5. Biaya Transaksi dalam Industri Hotel

Hotel memiliki sifat operasi yang dapat mempengaruhi industri hotel itu sendiri untuk melakukan outsourcing pada berbagai kegiatan di dalam hotel, seperti housekeeping, laundry, keamanan (securtiy), pelatihan, persewaan mobil, informasi teknologi, dan pemeliharaan (Lamminmak, 2011) Dalam hal ini, berdasarkan pendekatan teori ekonomi biaya transaksi, outsourcing dikategorikan sebagai sebuah perjanjian kontrak (Lacity &

Willcocks, 1998). Oleh sebab itu, terdapat tiga karakteristik utama yang mencirikan transaksi dalam kegiatan outsourcing pada industri hotel. Spesifisitas aset (asset specificity), ketidakpastian (uncerntainty), dan frekuensi (frequency) adalah tiga karakteristik utama yang mencirikan transaksi (Zhang, Ma, & Qu, 2017).

(31)

1) Spesifisitas aset (Asset specifity)

Spesifisitas aset mengacu pada tingkat penyesuaian yang terkait dengan transaksi.

Spesifisitas aset yang tinggi menunjukan biaya yang diinvestasikan dalam fasilitas fisik, modal sumber daya manusia, pengetahuan khusus, atau situs memiliki sedikit atau bahkan tidak ada nilai di luar transaksi (Zhang, Ma, & Qu, 2017). Dengan meningkatnya derajat kekhususan aset, potensi perilaku oportunistik juga meningkat. Hal ini menyebabkan investasi sejenis itu menciptakan kuasi-sewa yang mengarah pada masalah kontrak (Klein, Crawford, & Alchian, 1978).

2) Ketidakpastian (Uncerntainty)

Ketidakpastian mengacu pada risiko yang terlibat dalam transaksi yang dapat terjadi sebelum dan setelah perjanjian kontraktual (Zhang, Ma, & Qu, 2017). Ketidakpastian dibagi menjadi dua, yaitu ketidakpastian jangka pendek dan ketidakpastian jangka panjang.

Ketidakpastian jangka pendek meliputi pemrosesan sehari-hari, pesanan yang dihapus, kegagalan alat. Sedangkan ketidakpastian jangka panjang adalah yang diekspresikan oleh harga komoditas yang bergejolak, perubahan permintaan atau perubahan produktivitas (Gupta & Maranas, 2003).

3) Frekuensi (frequency)

Frekensi transaksi adalah seberapa sering terjadinya transaksi (Murray, 2001). Frekuensi dalam atribut biaya transaksi berkaitan dengan pengulangan dan volume transaksi yang sama (Lamminmak, 2011). Frekuensi dalam hal ini terjadi pada kedua karakteristik utama transaksi. Ketika spesifisitas aset dan ketidakpastian relatif sering terjadi (frequency), maka transaksi akan dialihkan pada sistem pasar (Zhang, Ma, & Qu, 2017). Lebih jelasnya, semakin besar tingkat transaksi (transaksi yang besar dan berulang), semakin besar kemungkinan transaksi akan dikelola secara internal karena produksi ekonomi yang dapat diperoleh (Lamminmak, 2011).

(32)

B. Hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian ini tentu saja tidak lepas dari berbagai tinjauan pusataka atau penelitian sebelumnya. Hal ini meliputi identifikasi dan analisis dari beberapa dokumen yang berisi informasi yang berhubungan dengan permsalahan penelitian yang dilakukan oleh penulis.

Beberapa penelitian ini tentu sangat membantu penulis dengan memberikan referensi dalam menyelesaikan penelitian ini. Maka dari itu, dalam penelitian ini terdapat berbagai kesamaan dan perbedaannya. Biaya transaksi merupakan variabel utama dalam penelitian ini yang juga menjadi kesamaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Selain itu, persamaan antara penelitian ini dengan sebagian besar penelitian sebelumnya adalah sama- sama melakukan penelitian pada industri hotel.

Terdapat juga perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya.

Perbedaannya adalah, jika pada penelitian Riadi, dkk (2020), subjek penelitiannya adalah pelabuhan Jambi. Selain itu, perbedaannya juga terletak pada sejumlah alat analisis yang digunakan oleh setiap penelitian, seperti pada penelitian Promsivapallop dkk, Altin dkk, Stumpf dan Swanger, Pedrini dan Bernardi, Rodriguez dan Diaz, Ma dan Qu, Lamminmaki, dan Riadi. Berikut ini adalah penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya yang berkaitan dengan permasalahan penelitian:

Tabel 2. 1 Penelitian Terdahulu

No Nama Penulis dan Tahun

Variabel Penelitian

Alat Analisis Data

Hasil Penelitian

1. Pornpisanu Promsivapallop, Peter Jones,

• Biaya transaksi

• Outsourcing

• Hotel

Cross- sectional menggunakan survei pos

Menguji pengaruh biaya transaksi dan faktor-faktor outsourcing hotel.

Hasilnya menunjukkan

(33)

Angela Roper (2015)

bahwa ada beberapa dukungan untuk biaya transaksi dan dukungan campuran untuk faktor biaya transaksi nontradisional.

2. Glauco De Vita, Arafet Tekaya (2015)

• Biaya transaksi

• Outsourcing

Metode kualitatif post- positivistme

Menerapkan biaya transaksi untuk memeriksa potensi masalah kontrak dari outsourcing hotel dengan menyajikan tiga kasus yaitu The Good, The Bad dan The Ugly. Hasilnya The Good berakhir dengan baik, The Bad mengalami masalah tetapi masih menjalin kerjasama dengan lainnya, dan The Ugly berakhir dengan pemutusan kontrak.

3. Mehmet Altin, Muzaffer Uysal, Zvi Schwartz (2017)

• Biaya transaksi

• Outsourcing

Hierarchical multiple regression

Menguji biaya transaksi secara empiris, bahwa dalam lingkungan yang kompleks, seperti

(34)

manajemen pendapatan , kemampuan perusahaan untuk memoderasi dampak spesifisitas aset pada kecenderungan manajer untuk melakukan outsourcing dengan menggunakan 4 hipotesis pengujian. Hasilnya hipotesis satu menyatakan system manajemen pendapatan cenderung mencari outsourcing.

Kedua, persepsi ketidakpastian mengenai teknologi dan lingkungan manajemen pendapatan cenderung meningkatkan niat manajemen untuk mengalihkan risiko dengan outsourcing ke pihak ketiga. Ketiga dan keempat menyatakan bahwa ketika hotel tidak memiliki kemampuan

(35)

untuk menangani sistem manajemen pendapatan mereka, manajemen kemungkinan akan mengalihdayakan fungsi manajemen pendapatan, dan selanjutnya, dampak yang diharapkan dari persepsi spesifisitas pada niat untuk melakukan outsourcing juga berkurang karena kurangnya kemampuan.

4. T.S. Stumpf, Nancy Swanger (2017)

• Biaya transaksi

• Hotel

Metode grounded theory

menyelidiki bagaimana mengembangkan usaha hotel yang layak di mana biaya transaksi berhubungan dengan hambatan pada pariwisata dan pengembangan bisnis.

Hasil menunjukan bahwa dengan menggunakan metode grounded theory biaya transaksi dalam usaha tersebut dapat

(36)

dihemat dengan cara mengakui, menilai, memanfaatkan, dan memelihara bisnis hotel yang layak.

5. Matteo Pedrini dan Chiara de Bernardi (2019)

• Biaya transaksi

• Afiliasi

Metode Regresi

Analisis biaya transaksi hanya dapat menjelaskan sebagian faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan hotel untuk memilih sistem hierarki atau berdasarkan tata kelola pasar. Ukuran hotel dan lokasi strategis (perkotaan) meningkatkan kemungkinan hotel untuk berafiliasi. Para pemimpin hotel skala internasional memilih model hierarki.

Sedangkan pemilik properti hotel memilih tata kelola pasar.

6. Tomas F. Espino Rodriguez dan

• Biaya transaksi

• Outsourcing

Metode korelasi

Biaya transaksi muncul pada hubungan antara pemasok layanan dan

(37)

Manuel Rodriguez Diaz (2017)

• Marketing dan sales

• sektor hotel

industri hotel. Hal ini mengakibatkan terjadi korelasi negatif antara kinerja relasional dan peningkatan outsourcing.

Dalam artian, industri hotel yang ingin meningkatkan

outsourcing memiliki kinerja relasional yang buruk.

7. Yan Zhang, Emily (Jiantao) Ma, dan Hailin Qu (2017)

• Biaya transaksi

• Hotel outsourcing

Metode korelasi (cross- sectional)

Pengaruh dari biaya dan tingkat spesialisasi pemasok secara signifikan mempengaruhi efisiensi keseluruhan penyedia outsourcing dan kinerja

layanan secara

keseluruhan. Pada akhirnya berkontribusi pada komitmen jangka panjang indutri hotel dalam outsourcing.

(38)

8. Dawne Lamminmaki (2007)

• Biaya transaksi

• Hotel outsourcing

Metode triangulasi

Biaya transaksi secara langsung mempengaruhi outsourcing dalam industri perhotelan.

Outsourcing dipengaruhi oleh tiga karakteristik dalam biaya transaksi, yakni frekuensi, ketidakpsatian, dan spesifisitas aset. Adanya biaya transaksi mendukung keputusan industri hotel untuk melakukan outsourcing housekeeping. Namun agak sulit untuk outsourcing makanan dan minuman (F&B), outsourcing kebersihan area publik dan kamar.

Hal ini didasari oleh karakteristik

ketidakpastian perilaku.

(39)

9. Pairach Piboonrungroj dan Stephen M.

Disney (2015)

• Biaya transaksi

• Manajemen hotel

Metode studi kasus

kualitatif

Terdapat berbagai jenis biaya transaksi dalam rantai pasokan pariwisata.

Biaya tersebut adalah biaya untuk pencarian pemasok yang sesuai dan biaya pemeriksaan kualitas produk.

10. Septa Riadi, Eva Anggraini, dan Yudi Wahyudin (2020)

• Biaya transaksi

• Kinerja layanan pelabuhan

Metode analisis biaya transaksi

Hasil analisis menyatakan bahwa biaya transaksi masih merupakan komponen tertinggi dengan rasio 0,78 untuk kapal domestic dan 0,69 untuk kapa lasing.

Tingginya biaya transasksi ini telah mengakibatkan turunnya kunjungan kapal di pelabuhan Jambi dengan signifikan.

(40)

C. Kerangka Teoritis Hubungan Industri Hotel dan Biaya Transaksi

Gambar 2. 1 Kerangka Teoritis Hubungan Industri Hotel dan Biaya Transaksi

Perkembangan sektor pariwisata memberikan dampak positif pada berkembangnya industri hotel sebagai fasilitas akomodasi. Namun, adanya perkembangan industri yang dikelola secara komersil ini memberikan peluang munculnya persaingan bisnis. Hal ini membuat para pengelola indsutri ini untuk melakukan restrukturisasi agar tidak terdisrupsi oleh lingkungan inovasi bisnis yang dilakukan oleh setiap industri hotel lainnya. Dalam proses restrukturisasi tersebut, industry hotel harus mengeluarkan beberapa biaya sehingga biaya operasionalnya menjadi besar. Maka dari itu, analisis biaya transaksi sangat perlu dilakukan untuk melihat apakah bisnis industri hotel berjalan dengan efisien atau tidak. Hal ini juga dilakukan agar industri hotel dapat bertahan di tengah gejolak persaingan bisnis.

Opportunistic behaviours dan bounded rationality sebagai unsur-unsur munculnya biaya

(41)

transaksi dalam hal ini diperlukan untuk mengidentifikasi jenis-jenis biaya transaksi. Maka, ditemukan berbagai jenis-jenis biaya transaksi yang diidentifikasi berdasarkan kedudukannya, yaitu managerial transaction cost, market transaction cost, dan political transaction cost. Jenis-jenis biaya transaksi tersebut diperlukan untuk mengidentifikasi komponen-komponen biaya transaksi dalam industri hotel. Selain itu, identifikasi komponen-komponen biaya transaksi pada akhirnya diperlukan untuk mengidentifikasi fakto-faktor yang mempengaruhi keberhasilan operasional industri hotel.

(42)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Menurut Riduwan (2002) penelitian ialah suatu cara ilmiah untuk memecahkan suatu masalah dan untuk menembus batas-batas ketidaktahuan manusia. Mengumpulkan serta memproses fakta-fakta yang ada adalah sebuah kegiatan dalam penelitian. Fakta-fakta tersebut kemudian dapat dikomunikasikan oleh peneliti dan hasil-hasilnya dapat digunakan untuk kepentingan tertentu.

Deskriptif kualitatif adalah metode yang digunakan penullis dalam penelitian ini.

Metode ini digunakan karena mampu menjelaskan objek penelitian yang didasarkan oleh fakta yang ada di lapangan. Selain itu, pendekatan kualitatif juga dapat memandu peneliti terkait bagaimana sistematika penelitian dilakukan dan dianalisis sehingga bisa mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan sesuai dengan masalah yang akan diteliti.

Dalam hal ini, yaitu terkait jenis biaya transaksi dalam industri hotel, khususnya pada beberapa industri hotel di Kota Tomohon.

Penelitian ini juga menggunakan data primer dan data sekunder untuk digunakan dalam melengkapi informasi yang dibutuhkan. Menurut Hasan (2002), data primer adalah data yang diperoleh atatu dikumpulkan langsung dari lapangan oleh peneliti. Untuk itu, data primer dalam hal ini adalah sumber data yang diperoleh langsung dari aktivitas industri hotel. Oleh sebab itu, untuk memperoleh data primer tersebut, penulis melakukan wawancara dengan pihak industri hotel. Sedangkan, data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti dari sumber-sumber yang sudah ada sebelumnya (Hasan, 2002). Untuk itu, dalam hal ini data sekunder adalah sumber data yang diambil dari beberapa literatur, buku-buku, serta jurnal-jurnal penelitian sebelumnya yang relevan dengan topik penelitian ini.

(43)

B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian menjadi sasaran penting bagi penulis untuk mempermudah proses penelitian. Nasution (2003:43) menjelaskan bahwa lokasi penelitian menunjuk pada pengertiannya secara sosial yang dicirikan oleh tiga unsur, yaitu pelaku, tempat, dan kegiatan yang dapay diobservasi. Untuk itu, dalam penelitian ini penulis menentukan lokasi yang sesuai dengan topik penelitian, yaitu di 4 industri hotel di Kota Tomohon. Pertama, Hotel Lanosa Tomohon yang beralamat di Jalan Raya Tomohon-Kawangkoan, Kelurahan Lansot, Kecamatan Tomohon Selatan. Kedua, Hotel Jhoanie yang beralamat di Jalan Lingkar Timur, Kelurahan Kakaskasen Tiga, Kecamatan Tomohon Utara. Ketiga, Hotel Highland yang beralamat di Jalan Kimereng Kali, Kelurahan Kinilow, Kecamatan Tomohon Utara.

Keempat, Hotel Wise yang beralamat di Jalan Tinaras, Kelurahan Kamasi, Kecamatan Tomohon Tengah.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2015), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam hal ini, yang menjadi populasi adalah industri hotel yang di Kota Tomohon .

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2015). Dari populasi di atas, maka peneliti melakukan pengambilan sampel dengan teknik Convience Sampling. Menurut Alkassim dan Tran (2016) Convenience sampling (Haphazard sampling/accidental sampling) adalah jenis sampel non- prbabilitas atau sampel yang diambil secara tidak random, di mana target dalam populasinya sesuai dengan kriteria penelitian dan praktis untuk dilakukan. Dalam hal ini yang dikatakan

(44)

sesuai dengan kriteria penelitian dan praktis untuk dilakukan, seperti aksesibilitas yang mudah, kedekatan geografis, bersedia untuk berpartisipasi dalam mencapai tujuan penelitian. Oleh sebab itu, sampel yang terpilih adalah pemilik hotel atau manajer hotel yang diperkirakan memiliki banyak informasi mengenai jenis-jenis biaya transaksi dalam masing- masing industri hotelnya.

D. Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah paling strategis dalam penelitian. Hal ini karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Dalam proses pengumpulan data, peneliti menggunakan metode atau teknik pengumpulan data dengan cara sebagai berikut:

1. Observasi

Menurut Kartono (dalam Mulyadi, dkk 2019) observasi diartikan sebagai studi yang disengaja dan secara sistematis mengenai fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan menggunakan pengamatan dan pencatatan. Patton (dalam Poerwandi, 1998) yang dikutip oleh Mulyadi, dkk; menegaskan bahwa observasi merupakan metode pengumpulan data yang esensial dalam penelitian, terutama penelitian dengan pendekatan kualitatif. Dalam hal ini, observasi yang dilakukan oleh peniliti adalah pengamatan langsung terhadap objek yang akan diteliti. Peneliti mengamati dan mencari segala sesuatu yang dibutuhkan dalam proses penelitian. Observasi dalam penelitian ini bersifat terbuka. Artinya, diketahui oleh subjek yang diteliti dan mendapatkan izin penelitian untuk mengobservasi berbagai kegiatan yang menjadi fokus penelitian.

Teknik observasi juga dilakukan oleh penulis dengan cara mengamati secara langsung seluruh kegiatan yang ada di industri hotel termasuk aktivitas pelayan dan para tamu, serta mencatat beberapa hal penting yang ada di lapangan.

(45)

2. Wawancara

Wawancara adalah pertemuan antara dua orang atau lebih unutk bertukar informasi melalui proses tanya jawab. Proses ini dapa terjadi secara lisan maupun tertulis. Teknik wawancara digunakan untuk memperkuat data dan fakta yang diperoleh dari hasil observasi lapangan. Dalam hal ini, peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam secara terstruktur. Wawancara terstruktur adalah teknik wawancara yang dilakukan dengan membuat pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lemgkap untuk mengumpulkan datanya. Terkait dengan itu, teknik wawancara ini akan dilakukan kepada pihak imdustri hotel, yakni pemilik atau manajer hotel.

3. Dokumentasi

Menurut Emzir (2012), metode dokumentasi adalah salah satu alat untuk mendapatkan data-data dari sumber penelitian, berupa dokumen ataupun catatn-catatan lainnya.

Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang lalu berbentuk tulisan, gambar atau karya- karya momentum dari seseorang. Dokumentasi yang menjadi bahan penelitian ini ialah gambar atau foto, data narasumber, serta catatan-catatan di lapangan untuk melengkapi informasi.

E. Teknik Analisis Data

Pada umumnya, teknik analisis data dilakukan setelah peneliti selesai mengumpulkan data yang diperlukan. Sugiyono (2011) menjelaskan bahwa analisis data adalah bagian dari berbagai proses, yakni proses mengumpulkan data, menyusun data dari hasil wawancara secara sistematis, catatan lapangan, dan lain sebagainya, agar dengan mudah dipahami dan hasil yang ditemui bisa diinformasikan kepada orang lain.

Dalam penelitian ini, teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, di mana penulis mendeskripsikan hasil wawancara dari informan. Jenis penelitian ini secara detail menjelaskan keadaan yang sebenarnya, sesuai fakta tanpa ada rekayasa pada variabel.

(46)

Adapun beberapa tahap yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam hal ini, pihak yang memiliki peranan penting dalam memberikan informasi sesuai fakta di lapangan adalah narasumber. Oleh sebab itu, untuk memberikan kemudahan bagi penulis dalam melaksanakan analisis data maka penulis menggunakan 2 cara, yaitu:

1. Analisis Sebelum di Lapangan

Sebelum terjun langsung ke lapangan untuk observasi, penulis melakukan analisis data informasi pada penelitian-penelitian terdahulu yang relevan dengan topik analisis sekarang ini. Hal ini dilakukan agar penulis dapat menentukan fokus penelitian yang mengacu pada analisis data sekunder tersebut. Namun, proses analisis data sekunder ini hanya bersifat sementara, setelah itu penulis langsung melakukan analisis di lapangan.

Proses analisis data ini dilakukan secara terus-menerus hingga penulis mendapat jawaban dari penelitian ini. Hal ini dilakukan agar penulis dengan mudah dapat mengkaji dan mencari informasi terkait jenis-jenis biaya transaksi di industri hotel.

2. Analisis Selama di Lapangan Model Miles dan Huberman

Miles dsn Huberman dalam Sugiyono (2011) menjelaskan bahwa kegiatan dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan prosesnya berlangsung secara terus- menerus sampai tuntas, hingga datanya jenuh. Akan tetapi, untuk ukuran kejenuhan data, Miles dan Huberman tidak menemukan informasi maupun data baru untuk itu menjelaskan itu. Maka dari itu, Miles dan Huberman menjelaskan model analisisnya dalam tiga tahap sebagai berikut:

1) Tahap Reduksi Data

Reduksi data adalah proses memilih, meringkas, dan memusatkan perhatian pada hal-hal yang berperan penting dan relevan dengan penelitian. Hal ini dilakukan karena banyaknya data yang dikumpulkan dari lapangan. Oleh sebab itu, tahap ini sangat membantu penulis

(47)

dalam menguasai data yang telah diperoleh dari lapangan, baik itu data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, ataupun dokumentasi. Lebih dari itu, proses reduksi data berperan penting dalam sebuah penelitian untuk dapat mengklasifikasikan, mengasah, dan mengoordinasikan data dengan baik sehingga pada akhirnya dapat membuat proses kesimpulan dengan baik.

Dalam hal ini, bagian-bagian yang direduksi oleh penulis merupakan hasil dari proses observasi, wawancara, dan kumpulan catatan dokumentasi yang relevan dengan kegiatan ekonomi dalam industri hotel serta identifikasi jenis-jenis biaya transaksinya.

2) Tahap Penyajian Data

Dalam tahap ini, Miles dan Huberman menjelaskan bahwa informasi informasi yang dikumpulkan pada akhirnya akan ditarik kesimpulannya dan dilakukan tindakan. Mereka juga menegaskan bahwa dalam sebuah analisis kualitatif, penyajian data merupakan hal yang utama. Penyajian data ini dilakukan dalam berbagai bentuk seperti bagan, grafik, matrik flowchart, hubungan antar kategori, dan sebagainya.

Dalam penelitian ini, penulis berusaha melakukan penyusunan data yang saling berhubungan, sehingga membentuk informasi yang dapat menghasilkan kesimpulan yang bermakna. Dalam proses penyajian data, penulis menjelaskan dengan umum hasil penelitian yang dilakukan, mulai dari penentuan lokasi penelitian yakni industri hotel Tomohon yang terlukiskan lewat aktivitas ekonomi industri hotel dan kenyataannya, hingga berbagai pelayanan yang mendorong kemajuan dan keberadaan industri hotel.

3) Tahap Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi

Pada tahap ini proses yang dilakukan adalah penulis menarik kesimpula dan melakukan verifikasi data. Tahap ini merupakan proses terakhir dari analisis data model Miles dan Huberman, di mana penulis membuat kesimpulan dengan memberikan jawabat atas masalah yang telah dirumuskan di awal penelitian. Tetapi, kesimpulan yang dilakukan ini masih

(48)

bersifat sementara. Hal ini karena kesimpulan tersebut akan mengalami perkembangan sampai didapatkan bukti-buktinya. Proses untuk mendapatkan bukti-bukti tersebut inilah yang disebut dengan verifikasi data. Kesimpulan yang dibuat oleh penulis akan dikatakan kredibel apabila kesimpulan tersebut sesuai dengan situasi yang ada di lapangan. Selain itu, bukti-bukti yang kuat juga menjadi dasar untuk membuat kesimpulan yang kredibel. Maka dari itu, pada penelitian kualitatif sangat diharapkan apabila menghasilkan kesimpulan yang dapat dijadikan sebagai temuan baru dan belum pernah ada sebelumnya.

Dengan ini, proses analisis data yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data menjadi serangkaian dalam membuat analisis data pada penelitian. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa masalah-masalah yang telah dirumuskan dalam penelitian ini dapat dijawab dengan menerapkan model analisis penelitian Miles dan Huberman. Model analisis ini juga dapat dengan mudah diterapkan oleh penulis apabila dilakukan secara terstruktur. Proses yang dilakukan secara terstruktur dapat membantu penulis untuk mendapatkan kesimpulan dengan mudah. Apabila penelitian telah dilakukan verifikasi, maka penelitian ini tentu dapat dipertanggungjawabkan.

(49)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Perkembangan Industri Hotel Secara Umum

Perubahan siginifikan dari bisnis pariwisata berdampak pada berkembangnya industri perhotelan. Perubahan yang ditandai dengan meningkatnya jumlah wisatawan membuat industri perhotelan semakin berkembang baik dari segi fisik maupun pelayanannya. Jenis usaha akomodasi yang termasuk dalam salah satu aspek pariwisata ini sangat dibutuhkan dalam menunjang pengembangan suatu daerah wisata. Maka dari itu tersedianya fasilitas penginapan dalam bentuk hotel. Hotel sendiri dapat dimaknai sebagai bentuk akomodasi yang dikelola secara komersial dan dikelola secara profesional.

Industri perhotelan di Indonesia telah berkembang sejak zaman penjajahan Belanda.

Perkembangan industri perhotelan di Indonesia ini pada mulanya terjadi karena Indonesia menjadi wilayah sebagai tempat persinggahan bagi para pedagang dari Belanda. Para pedagang yang mengunjungi wilayah Indonesia sering tinggal dan menetap di rumah-rumah penduduk. Para pedagang akan tetap menetap dengan penduduk setempat, walaupun hanya disediakan hidangan seadanya. Namun, dengan keadaan seperti itu, para pedagang tetap menyukainya. Bentuk usaha jasa akomodasi, termasuk perhotelan berkembang di Indonesia mulai abad ke-19. Pada saat itu, telah banyak didirikan hotel-hotel di beberapa kota besar yang lokasinya berdekatan dengan pelabuhan. Pendirian hotel yang dilakukan dekat dengan pelabuhan ini tidak lain sebagai tempat persinggahan bagi para pedagang dari Belanda.

Dewasa ini, industri perhotelan di Indonesia semakin berkembang pesat. Secara umum, pengertian hotel didefinisikan sebagai sebuah bangunan yang memiliki banyak kamar, kemudian disewakan bagi orang untuk tempat menginap, juga menjadi tempat makan bagi orang yang sedang dalam perjalanan. Perkembangan industri hotel saat ini telah sampai pada hadirnya beberapa klasifikasi hotel atau yang sering dikenal dengan hotel berbintang. Ada

(50)

hotel berbintang 1 hingga hotel berbintang 5. Untuk jenis hotel berbintang 1, maka jenis bangunan yang dimiliki setidaknya terdapat 15 kamar dengan masing-masing luasnya minimal 20 meter persegi. Untuk hotel bintang 2 dan seterusnya, tentu memiliki jenis bangunan yang lebih besar dan luas dibandingkan hotel bintang 1. Selain itu juga fasilitas yang disediakan lebih lengkap. Industri perhotelan menawarkan berbagai fasilitasnya.

Dalam industri perhotelan, terdapat dua jenis fasilitas yang ditawarkan. Pertama, yaitu fasilitas hotel sebagai bagian intergal. Dalam hal ini, fasilitas hotel sebagai bagian intergal adalah fasilitas yang diperjual oleh jasa pelayanan hotel itu sendiri, yang terdiri dari kamar tidur, serta makanan dan minuman. Kedua, yaitu fasilitas hotel sebagai pelayanan penunjang lainnya. Dalam hal ini terdapat beberapa fasilitas dalam hotel yang dikategorikan sebagai pelayanan penunjang lainnya, yaitu tempat-tempat rekreasi seperti playground (taman bermain), kebun binatang, dsb. Kemudian ada fasilitas olahraga yang menyediakan tempat seperti gym dan spa. Lalu, ada fasilitas laundry yang disediakan bagi tamu yang ingin mencuci pakaian. Selanjutnya ada kolam renang dan restoran.

Secara lebih rinci dapat dikatakan bahwa hotel merupakan jasa pelayanan yang sangat terintegrasi antar bagian-bagian pengelolaannya dan menyediakan berbagai fasilitas yang dapat digunakan oleh tamu dalam kurun waktu 24 jam. Dalam industri perhotelan, terdapat juga beberapa bagian yang disebut sebagai departemen-departemen. Pertama, yaitu bagian front office department yang terdapat beberapa bagian, yaitu concierge section, reception section, reservation section, telephone operator, dan information section. Kedua, yaitu housekeeping department yang terbagi atas public area, room service, linen and laundry, store section, dan maintance section. Selain kedua departemen tersebut, ada juga departemen lainnya, yaitu food & beverage department yang bertugas dalam menyediakan produk layanan makanan dan minuman, accounting departmen yang mengatur finansial perhotelan, marketing department, human resource & developemnet (HRD), dan security department.

Referensi

Dokumen terkait

dihadapi oleh pelaku usaha industri kecil mebel di Kelurahan Joyotakan. Untuk mengetahui apa saja langkah yang harus dilakukan oleh

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis: (1) apakah waktu standar pengerjaan aktivitas di room division Hotel Grand Zuri Duri sudah sesuai

Adapun judul skripsi ini adalah “Analisis Biaya Volume Laba Berbasis Aktivitas Untuk Melakukan Perencanaan Laba Pada Penjualan Kamar (Studi Kasus Hotel Batik Yogyakarta II)”..

Dalam suatu pengembangan inovasi produk berbasis teknologi digital akan ada tantangan yang perlu dihadapi oleh para pelaku di industri, termasuk para pengembang

Industri rumah tangga yang memiliki suatu produk baik barang ataupun jasa yang menggunakan merek namun merek tersebut tidak didaftarkan, maka pelaku usaha

Pengabdian Kepada Masyarakat Dan Dakwah Pemula (Pkmd Pemula) yang dilakukan dengan kegiatan Pengembangan Sistem Dan Teknologi Pada Pelaku Usaha Industri Kripik

Hasil positif dalam Pengembangan Model Proses Bisnis Industri Kreatif kain tenun memberikan dampak bagi pelaku industri di Kalimantan Barat untuk mengadopsi cloud