• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

B. Temuan Penelitian

4. Manajemen diri mahasiswa yang berstatus menikah

Manajemen diri mahasiswa yang berstatus menikah mempunyai mempunyai cara sendiri-sendiri. Hasil penelitian ini lebih banyak menunjukkan pada manajemen waktu masing-masing mahasiswa. Ada yang disiplin dalam mengerjakan tugas dan mengurus rumah tangganya. Akan tetapi ada juga yang sebaliknya. Berikut ini paparan hasil wawancara informan.

a. RF (21 tahun)

RF pandai dalam mengatur waktu untuk keluarga dan kuliahnya. RF sangat disiplin dalam mengerjakan tugas kuliah. Ketika ada tugas kuliah, RF langsung mengerjakan sehingga tugas tidak menumpuk. Seperti yang diungkapkan informan sebagai berikut:

“Kalau ada tugas langsung kerjakan mbak, belajar disiplin, baca buku sambil jualan, waktu sudah punya anak ini belajar di waktu senggang. Kadang ke perpus kalau ada waktu senggang.”

Untuk mengecek keabsahan datanya, peneliti mencari informasi kepada teman dekatnya. Informasi itu dapat disimpulkan bahwa komitmen RF sangat kuat dalam pendidikan dan keluarga. Di buktikan dengan IPKnya luar biasa bagus dan keluarganya bahagia.

b. SZ (22 tahun)

Manejemen diri SZ sangat baik dalam membagi waktunya. SZ mampu menjalankan kedua tugasnya yaitu mengurus keluarga dan kuliahnya dengan baik walaupun suaminya tidak berada di rumah. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan SZ sebagai berikut:

103

“Ya waktunya saya di rumah ya mengurus rumah, waktunya saya kuliah saya kuliah mbak. Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar tidak ada kendala mbak. karena saya tidak jadi satu dengan suami ya sama saja sepert dulu.“

c. WRN (23 tahun)

Berbeda dengan WRN dalam memanajemen diri lebih mementingkan keluarganya terlebih dahulu. Seperti pengakuan WRN sebagai berikut:

“Kalo aku ya yang terpenting melayani suami dulu, kalau pagi hari itu ya nyiapin buat suami dulu setelah itu baru yang lain. Baru bersih-bersih dan persiapan diri sekolah jeng. Kalau aku libur ya bisa bersih-bersihnya setelah suami berangkat.”

Dengan kepentingan keluarga terlebih dahulu, sehingga kadang menjadi lupa dalam kewajibannya kuliah. Pengakuan WRN dalam menyelesaikan tugas sedikit terganggu karena WRN juga bekerja sebagai guru. Berikut ini pernyataan informan:

“Tugas-tugas kuliah ku sedikit terganggu jeng. Kamu tau sendiri kan nak aku kecapean aku langsung drop. Ya kadang mas Eko sok bantu sih, tapi aku yo mesakke to jeng wes podo kesele.”

d. S (22 tahun)

Dalam memanajemen diri, S lebih mengutamakan keluarganya kemudian urusan perkuliahannya. Karena seorang suami adalah imam bagi istrinya, maka S lebih mendahulukannya. Seperti pengakuan S berikut ini:

“Ya pagi saya mengurus rumah dan suami dulu mbak, baru setelah itu saya kuliah. Kalau kuliah pagi ya saya usahakan tetap tepat waktu dan alhamdulillahnya tidak telat mbak. hanya saja kalau pekerjaan rumah belum selesai saya tingal mbak.”

104 e. S (21 tahun)

Lain halnya dengan dengan S dalam memanajemen diri terhadap tanggungjawabnya. S lebih fokus untuk menjalani kuliahnya karena urusan rumah tangga tidak menjadi beban baginya artinya orang tuanya tidak membebankan urusan rumah tangganya kepada S. Berikut ini yang diungkapkan oleh informan:

“Karena mengurus rumah tangga tidak terlalu dibebani jadi saya memfokuskan dengan kuliah saya mbak. Pertama aktif tanya tugas. Menghilangkan waktu main jadi meminimalis waktu. Setelah kuliah selesai langsung pulang ngurus rumah mbak.”

Pandangan peneliti kepada informan S bahwa meskipun S memfokuskan pada perkuliahan, tetapi S belum bersungguh-sungguh dalam menjalankan perkuliahan. Hal ini dibuktikan dengan ungkapan S dalam masalah dirinya setelah menikah yaitu:

“...Jarak rumah dengan kampus yang jauh, apalagi kalau hujan pokoknya mengeluarkan seribu alasan, hehe. Apalagi nak tugas belum selesai jadi mutung...”

f. AL (21 tahun)

Berbeda dengan AL yang memanajemen dirinya masih seperti mahasiswa yang belum menikah karena berada di kos. Sehingga AL bertaggungjawab pada perkuliahannya tidak pada urusan rumahtangganya. Hanya terkadang saja AL berkecimpung mengurus keluargana ketika dia berada dirumah. Seperti yang pernyataan AL sebagai berikut:

“Lah saya disini kos jadi saya tidak seperti istri-istri yang lain yang di rumah dan mengurus keluarga. Saya disini kos sendiri untuk kuliah ya saya biasa seperti orang yang belum nikah untuk belajar

105

kuliah waktunya. Baru setelah saya pulang kerumah ya ngurus keluarga, anak dan bantu orang tua.”

g. SA (21 tahun)

SA adalah seorang ibu dan mahasiswa yang mengatur dirinya masih kurang. Berikut ini pengakuan SA mengenai manajemennya:

“Waktunya kuliah ya kuliah, waktunya rumah ya rumah. Kuliahnya ambil pagi jadi pulangnya gak kesorean. Kalau pagi rumah belum selesai ya tinggal karena mertua juga menyuruh berangkat kuliah. Kalau anak lagi sakit biasa, tinggal kuliah sebentar. Tapi kalau sakit parah ya saya ijin kuliah mbak. tapi saya masih kurang mengaturnya mbak, karena kuliah saya juga menjadi menurun mbak.”

Untuk mengecek keabsahan datanya, peneliti mencari informasi dengan temannya. Informasi ini menyimpulkan bahwa SA mampu memanajemen diri dengan baik karena mampu menjalani kedua tanggungjawab itu dengan seimbang.

h. EM (21 tahun)

Pengakuan EM dalam memanajemen diri sangatlah baik karena ia mampu mampu menggunakan waktunya dengan baik ketika di kampus maupun di rumah. Berikut ini pengakuan informan:

“Kalo udah di kampus sebisa mungkin semuanya diselesaikan di kampus kalo gak bisa selesai ya di lanjut di rumah, tapi nak di rumah ngerjain pekerjaan rumah sama ngurus anak kalau sudah selesai dan bisa di sambi baru di lanjutin tugas kampus.”

Berbeda nada dengan pandangan teman dekatnya yang menyatakan bahwa manajemen diri EM kurang baik. Berikut ini informasi yang peneliti dapatkan dari teman EM:

“Waaah kallo ini subjektif banget mbak...dari yang aku tahu setelah berkeluarga kuliahnya rada hancur, karena saat itu faktor kehamilan dan setelah cuti pun masih mementingkan urusan keluarga.

106

Namun pada paruh kedua atau semester genap mulai mengurus nilai-nilainya yang kurang....Semester kemarin pun juga tidak ada perbaikan terhadap sikap dalam mengikuti perkuliahan.”

i. I (22 tahun)

I sangat baik dalam memanajemen dirinya untuk perkuliahan dan mengurus keluarga. I mampu mengatur waktu dimana dia gunakan untuk mengurus keluarga dan kuliah. Berikut ini pernyataan I kepada peneliti:

“Ya aku pintar-pintar membagi waktu mbak. Kalau anakku belum bangun aku usahakan udah menyelesaikan kerjaan rumah. Kemudian kalau waktunya kuliah ya aku kuliah mbak. Anak sama mbah dulu, selesai kuliah ya pulang ngurus rumah lagi mbak. Jadine gak bisa lama-lama di kampus nak kuliahe hanya sedikit mbak. Kalau ada tugas ya cari buku kerjakan di rumah. Tapi kadang kalau anak lagi rewel ya aku mending ijin kuliah mbak daripada anakku kenapa-napa.”

Untuk mengecek keabsahan datanya, peneliti mencari informasi kepada teman dekatnya. Hasil yang didapatkan menyatakan bahwa I adalah orang yang semangat dalam belajar, karena takut ketinggalan teman-temannya. Awalnya I mengeluh karena keteteran mengurus keluarga barunya. Tapi lama kelamaan dia menyadari kedua tugas itu dan sekarang I mampu mengurus keluarganya dengan baik tanpa keluh kesah. I patut menjadi contoh bagi teman-temannya dalam perkuliahan.

107