Masalah keuangan merupakan masalah yang cukup mendasar di sekolah. Karena seluruh komponen pendidikan di sekolah erat kaitannya dengan komponen keuangan sekolah. Meskipun tidak sepenuhnya, masalah keuangan akan berpengaruh secara langsung terhadap kualitas sekolah, terutama berkaitan dengan sarana, prasarana dan sumber belajar. Banyak sekolah- sekolah yang tidak dapat melakukan kegiatan belajar-mengajar secara optimal, hanya karena masalah keuangan, baik untuk menggaji guru maupun untuk mengadakan sarana dan prasarana pembelajaran. Dalam kaitan ini, meskipun tuntutan reformasi adalah pendidikan yang murah dan berkualitas, namun pendidikan yang berkualitas senantiasa memerlukan dana yang cukup banyak.
Sejalan dengan kebijakan otonomi daerah, yang menyerahkan masalah pendidikan ke daerah dan sekolah masing-masing, maka masalah keuangan pun menjadi kewenangan yang diberikan secara langsung dalam pengelolaanya kepada sekolah. Dalam hal ini, kepala sekolah memiliki tanggung jawab penuh terhadap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pertanggung jawaban keuangan sekolah. Masalah keuangan sekolah juga dipengaruhi oleh masalah ekonomi dan politik yang sedang berkembang di masyarakat, demikian halnya masalah evaluasi keuangan sekolah tidak terlepas dari masalah politik. Agara keuangan sekolah dapat menunjang kegiatan pendidikan dan proses belajar-mengajar di sekolah, maka perlu dialakukan berbagai upaya untuk meningkatkan keuangan sekolah tersebut. Untuk menjadi kepala sekolah profesional dituntut kemampuan mengelola keuangan sekolah, baik melakukan perencanaan, pelaksanaan , evaluasi dan pertanggungjawabannya. Di samping itu kepala sekolah juga harus memahami konteks politik, dan ekonomi serta implikasinya terhadap keuangan sekolah.
Manajemen keuangan sekolah merupakan bagian dari kegiatan pembiayaan pendidikan, yang secara keseluruhan menuntut kemampuan sekolah untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi dan mempertanggungjawabkannya secara efektif dan transparan. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah, manajemen keuangan merupakan potensi yang sangat menentukan dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kajian manajemen pendidikan.
Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan, manajemen keuangan sekolah perlu dilakukan untuk menunjang penyediaan sarana dan prasarana dalam rangka mengefektifkan kegiatan belajar-mengajar, dan meningkatkan prestasi belajar peserta didik.
A. Konteks Politik dan Ekonomi Keuangan Sekolah
Politik memegang peranan penting yang harus senantiasa diperhatikan dalam proses keuangan. Sehubungan dengan itu, terdapat beberapa tema yang relevan berkaitan dengan konteks politik dan ekonomi keuangan sekolah, antara lain bahwa sekolah dipandanag memiliki pengaruh secara politik dan ekonomis terhadap masyarakat. Berkaitan dengan pembahasan tentang konteks politik dan ekonomi keuangan sekolah, terdapat sedikitnya tiga pertanyaan yang harus didiskusikan:
1. Berapa besar uang yang harus dialokasikan utnuk pendidikan?
2. Bagaimanakah seharusnya masyarakat mendistribusikan pajak dan keuntungan pendidikan di antara para pesaerta didik?
3. Bagaimanakah seharusnya mengorganisasikan dan mengatur sumber-sumber keuangan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan?
Ketiga pertanyaan tersebut dikelompokkan ke dalam dua pembahasan utama, uang
dan pendidikan berdasarkan sudut pandang ekonomi, dan bisnis, serta keputusan politik
dan keuangan sekolah.
1. Uang dan Pendidikan
Dana (uang) memainkan peran dalam pendidikan dalam tiga area; pertama, ekonomi pendidikan dalam kaitannya dengan pengeluaran masyarakat secara keseluruhan;
kedua, keuangan sekolah dalam kaitannya dengan kebijakan sekolah untuk mnerjemahkan
uang terhadap layanan kepada peserta didik; dan ketiga, pajak administrasi bisnis sekolah yang harus diorganisir secara langsung berkaitan dengan tujuan kebijakan.
Hubungannya dengan ekonomi, penjelasan yang sporadic dikemukakan oleh para ekonom hanya pengaruh pendidikan terhadap ekonomi Negara masih relative kecil, dan pola penentuan jangka panjang mengenai pemikiran keuangan lebih ditekankan pada pandangan bahwa kesejahteraan berhubungan dengan materi dan fisik. Dalam hal ini, pendidikan tidak dipandang sebagai sebuah sumber kesejahteraan atau modal, dan penelitian ekonomi menekankan perpajakan merupakan bagian dari pemerintahan seperti halnya pendidikan.
Konsep human capital ( modal sumber daya manusia) menyatakan bahwa manusia memiliki beberapa keahlian, kebiasaan dan pengetahuan mereaka jual kepada para pekerja dalam bentuk upah pekerja, yang diharapkan dapat menyediakan sebuah alur pendapatan pada kehidupa mereka. Lebih lanjut human capital dapat dianalogikan pada beberapa modal
fisik, karena keduanya digunakan bersamaan untuk menghasilkan sebuah aliran pendapatan pada beberapa tahun.
Para ekonom telah tertarik pada pengaruh investasi dalam modal manusia atau human capital sebagai perbedaan investasi dari sebuah modal fisik. Salah satu tekniknya adalah memikul semua biaya yang berhubungan dengan pendidikan termasuk pelatihan pekerjaan, dan membandingkan hal tersebut dengan pendapatan sepanjang hidup. Dalam bidang pendidikan, masalah biaya selanjutnya akan menjadi keuntungan, sehingga tipe studi ini disebut analisis keuntungan biaya pendidikan.
Modal adalah semua yang bias digunakan untuk menghasilkan sebuah aliran di masa depan dan kesejahteraanyang bias berupa fisik atau manusia. Berkaitan dengan human capital, dikemukakan bahwa kesejahteraan menghasilkan investasi pada manusia terutama pada pendidikan formal dan pelatihan kerja. Berkaitan dengan modal fisik, dikemukakan bahwa kesejahteraan dapat menghasilkan benda; contohnya bangunan dan peralatan.
Terdapat beberapa perbedaan antara modal fisik dan modal manusia. Pertama, perbandingan dan perpisahan antara modal fisik dan modal manusia untuk kepentingan analisa. Kedua, modal fisik bergantung pada kapasitas untuk transfer. Ketiga, pada modal manusia, pendidikan mengharap keuntungan sosial dan tidak diukur berdasarkan statistic pendapatan tradisional; dan terakhir banyaknya masalah metodologi, asumsi, kompromi yang dilibatkan dalam perhitungan modal manusia.
Keuangan sekolah berhubungan dengan distribusi keuntungan pendidikan dan beban pada kelompok populasi yang beragam. Keuntungan ditentukan secara tradisional dalam bentuk dollar yang digunakan atau jasa yang diantarkan pada peserta didik. Sebagai sebuah studi formal keuangan sekolah mendahului ekonomi pendidikan dengan cepat. Era kemunduran dapat diatributkan pada pergantian dasar berikut dalam keuangan negara: (1) pertumbuhan yang lebih rendah dalam ekonomi secara keseluruhan (2) saham hilang dalam pendapatan pribadi dikurangi pengeluaran pemerintah, (3) saham yang lebih kecil dalam pengeluaran pemerintah dialokasikan pada pendidikan.
Ekonomi berhubungan dengan alokasi dan keuangan dengan distribusi sedangkan administrasi bisnis berkaitan dengan fungsi manajemen, yang memiliki fungsi utama pada semua tingkat manajemen pengeluaran. Seperti halnya semua aktivitas manajemen; pengeluaran manajemen terdiri dari tiga fase; yaitu perencanaan, implementasi dan evaluasi. Perbedaan ketiga fase tersebut adalah ketika uang dilibatkan pada perubahan yang ada, perencanaan keuangan disebut penganggaran, implementasi melibatkan auditing. Pada anggaran zero (nol) semua administrator program akan menyiapkan beberapa anggaran dengan beberapa perbedaan, dan tingkat alternative pendanaan.
Dalam kaitannya dengan uang dan pendidikan, pegawai administrasi sekolah memiliki tugas dan harus bertanggung jawab dalam hal-hal sebagai berikut.
1. Perencanan anggaran dan financial
2. Pengaturan pemasokan
3. Perancanaan dan peningkatan fasilitas sekolah
4. Hubungan dengan masyarakat
5. Pengaturan pegawai
6. Penataran
7. Pelaksanaan apa yang telah direncanakan
8. Transportasi
9. Layanan makanan
10. Keuangan, dan laporan
11. Manajemen kantor
2. Keputusan Politik dan Keuangan Sekolah
Keputusan politik dan keuangan sekolah berkaitan dengan besarnya uang yang harus dikeluarkan untuk pendidikan, yang harus diputuskan dan dijadikan aturan dalam suatu negara dan sektor masyarakat. Di samping itu, keputusan politik dan keuangan sekolah juga berkaitan dengan orang yang akan membayar dana atau biaya pendidikan, ini juga harus dipertimbangkan dan dijadikan keputusan sebagai sebuah aturan. Dalam keputusan politik dan keuangan sekolah juga perlu dipertimbangkan masalah-masalah organisasi politik yang berkaitan dengan keuangan sekolah.
Keputusan politik dan keuangan sekolah yang dilakukan oleh pemerintah ditandai oleh sentralisasi (hanya ada satu perintah yang harus dipatuhi), kompulsi (pajak harus dibayar), dan hanya ada satu keputusan dalam memecahkan masalah. Sedangkan keputusan politik dan keuangan sekolah yang dilakukan oleh pribadi atau dalam sector pribadi sangat jelas, bahwa pembeli harus menginginkan apa yang akan dibeli sesuai dengan harga jual dari apa-apa yang diinginkan.