PEMBAHASAN MANAJEMEN
MANAJEMEN RISIKO PERUSAHAAN
Perusahaan berusaha untuk mengembangkan segala metode dan sistem yang memungkinkan Perusahaan dapat melakukan tindakan preventif dan meminimalkan risiko-risiko yang dapat menggangu kelancaran operasional perusahaan. Prosesnya meliputi : identifikasi, pengenalan, analisa, penanganan dan pengawasan terhadap seluruh proses kinerja Perusahaan.
Perusahaan mengantisipasi segala kemungkinan terjadinya insiden, kecelakaan atau masalah lain yang dapat menggangu aktifitas perusahaan, menyebabkan kehilangan langsung maupun tidak langsung terhadap jalannya bisnis perusahaan, karyawan, keluarga atau orang lain yang memiliki hubungan dengan perusahaan seperti : a. Sumber daya manusia: kecelakaan
kerja, hilangnya privacy;
b. Kerusakan aset kantor: kecelakaan kerja, bencana alam;
c. Masalah finansial; d. Kehilangan kepercayaan;
e. Pelanggaran hukum atau peraturan lainnya;
f. Pelanggaran etika bisnis seperti tuntutan hukum atas suatu pelayanan hotel.
Perusahaan menjaga kesinambungan bisnisnya dengan menerapkan
manajemen risiko yang ketat. Beberapa telaah terkait risiko yang dilakukan meliputi:
a. Risiko Keamanan
Perseroan sebagai perusahaan yang bergerakkhususnya di industri penyediaan jasa pariwisata dan perhotelan, maka faktor risiko keamanan merupakan faktor yang penting untuk diperhatikan oleh Perseroan karena faktor ini merupakan faktor utama yang menjadi fokus perhatian dari wisatawan dalam melakukan kunjungan wisata. Oleh karena itu, Perseroan telah melakukan langkah-langkah untuk mengelola risiko tersebut yaitu antara lain :
• Perseroan mempunyai rencana untuk melakukan diversifikasi portfolio proyek secara bertahap di beberapa kota besar di Indonesia yang berada di luar wilayah Bali. Dengan demikian, diharapkan Perseroan dapat mengurangi risiko penurunan pendapatan sebagai dampak dari aksi terorisme.
• Perseroan bersama-sama dengan pemerintah daerah berusaha untuk menciptakan kondisi keamanan yang kondusif seperti melakukan pendataan terhadap semua karyawan yang bekerja di hotel,
meminta informasi selengkap-lengkapnya atas tamu yang menginap di hotel termasuk paspor, KTP (Kartu Tanda Penduduk) atau pengenal identitas lainnya, melakukan pemeriksaan secara berkala dengan Kepolisian Sektor setempat, dan menerapkan sistem keamanan sesuai dengan prosedur Kepolisian Sektor setempat. b. Risiko Perekonomian Dunia Kondisi dinamika dari perkembangan ekonomi dunia, baik secara langsung maupun tidak langsung akan memberikan pengaruh kepada kinerja Perseroan.
Berdasarkan data internal Perseroan, profil dari seluruh tamu pengunjung hotel Perseroan merupakan wisatawan mancanegara yang berasal dari Eropa, Amerika, Australia, dan Asia.
Kondisi penyelesaian krisis di Eropa akan berpengaruh pada keseluruhan perkembangan ekonomi dunia saat ini. Jika perkembangan keadaan
ekonomi seperti halnya perubahan tingkat suku bunga, inflasi, rating, menjadi memburuk khususnya pada negaranegara asal wisatawan mancanegara maka hal ini akan
berpengaruh negatif terhadap wisatawan tersebut dan juga akhirnya akan mempengaruhi jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia, yang khususnya dalam hal ini wisatawan yang
akan berkunjung ke Jawa Tengah dan Bali.
Apabila ketidakjelasan perkembangan ekonomi dunia ini berlangsung dalam jangka panjang dan terjadi penurunan terhadap wisatawan mancanegara ke Indonesia, maka hal ini akan berpengaruh pada pendapatan dan kinerja Perseroan.
c. Risiko Wabah Penyakit Jumlah wisatawan yang datang ke Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Selain itu, domisili negara asal dari wisatawan mancanegara tersebut
juga semakin beragam. Kesehatan dari wisatawan mancanegara yang berkunjung tidak dapat senantiasa diidentifikasi dan tidak bisa juga melarang wisatawan yang memiliki tingkat kesehatan yang kurang optimum untuk datang berkunjung ke Indonesia. Kondisi dari wisatawan yang tidak sehat dapat menularkan pada orang yang lain sehingga dapat menimbulkan wabah penyakit selain ada faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya wabah penyakit. Kondisi kesehatan masyarakat dan kemungkinan terjadinya wabah penyakit selalu diawasi dan dikendalikan oleh
Pemerintah. Jika terjadi wabah penyakit menular yang terjadi di Indonesia, maka hal ini dapat membuat negara asal dari wisatawan mancanegara mengeluarkan Travel
Warning untuk melarang warga negaranya mengunjungi Indonesia sehingga hal ini dapat mempengaruhi tingkat kedatangan wisatawan mancanegara ke Indonesia, khususnya Jawa Tengah dan Bali dimana hotel-hotel Perseroan berada, yang akhirnya dapat menurunkan pendapatan dan profitabilitas Perseroan.
d. Risiko Persaingan Usaha Industri pariwisata dan perhotelan termasuk industry yang menarik karena memiliki prospektif yang secara berkelanjutan dan berkembang. Kesuksesan dari suatu pengembangan hotel di suatu wilayah wisata akan dapat segera diketahui oleh publik
dengan mudah melalui berbagai indikator seperti semakin ramainya tingkat hunian hingga banyaknya media transportasi yang tersedia di sekitar hotel tersebut dan hal ini akan memberikan kesempatan dan dorongan bagi masyarakat yang lain untuk masuk ke dalam industry ini untuk menjadi pesaing. Perseroan sebagai sebuah entitas bisnis memahami bahwa persaingan merupakan bagian tidak terpisahkan dari kegiatan usaha. Persaingan usaha jasa perhotelan dapat timbul antara lain dalam hal lokasi, fasilitas, pelayanan maupun harga. Tidak hanya di Bali dan Jawa Tengah, tapi juga di berbagai tempat wisata di Indonesia, jumlah hotel dan villa mengalami pertumbuhan yang signifikan seiring dengan pertumbuhan industri pariwisata, sehingga menyebabkan terciptanya persaingan usaha. Sangat dimungkinkan bahwa di lokasi sekitar hotel-hotel Perseroan akan terdapat adanya kompetisi yang ketat terhadap harga yang akan ditawarkan kepada para calon wisatawan. Hal ini dapat berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung dapat menurunkan pendapatan dan profitabilitas Perseroan. e. Risiko Terminasi Kerjasama dengan Jaringan Hotel Internasional Perseroan bekerjasama dengan jaringan hotel internasional, yang merupakan operator hotel ternama di dunia dalam hal pengoperasian hotelnya yaitu antara
lain Starwood, Anantara, dan Best Western.
Perseroan mendapatkan manfaat positif melalui kerjasama dengan jaringan-jaringan hotel ternama tersebut diantaranya adalah Perseroan dapat menggunakan brand yang telah dikenal luas di dunia sebagai salah satu sarana pemasaran untuk dapat menarik wisatawan menginap di hotel Perseroan.
Melalui kerjasama tersebut hotel-hotel Perseroan menerapkan standarisasi pelayanan dan sistem-sistem yang diterapkan untuk mendukung kegiatan operasional hotel-hotel Perseoran dengan tujuan untuk memberikan pelayanan prima kepada wisatawan.
PT SARASWATI GRIYA LESTARI TBK LAPORAN TAHUNAN 2015
42 TATA KELOLA PERUSAHAAN Perjanjian kerjasama tersebut memuat syarat dan ketentuan yang dapat menyebabkan pengakhiran kerjasama lebih awal sebelum tanggal yang ditetapkan. Apabila terjadi terminasi atau pemutusan kerjasama dengan jaringan hotel internasional, hal ini dapat mempengaruhi kegiatan operasional di hotel-hotel Perseroan dan dapat menurunkan kinerja keuangan Perseroan. f. Risiko Kondisi Politik di Indonesia Indonesia merupakan negara demokrasi dimana setiap warganya memiliki hak untuk dapat memberikan suaranya. Pada perkembangannya seringkali pihak yang ingin memberikan suara dan pendapatnya melakukan demonstrasi (unjuk rasa) yang kemudian diikuti dengan huru-hara ataupun sikap anarkis seperti melakukan perusakan terhadap properti publik maupun milik pribadi masyarakat. Risiko yang dimaksud adalah hal yang terkait dengan kondisi stabilitas politik Indonesia, dimana terkadang diwarnai ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi politik di Indonesia dan ditunjukkan melalui aksi demonstrasi khususnya yang dilakukan secara negatif yang sering terjadi di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia lainnya. Tidak semua pihak dapat memahami kondisi ini terlebih lagi negara asal wisatawan mancanegara yang tidak memiliki informasi yang lengkap, yang kemudian
ditambah oleh liputan-liputan media nasional maupun internasional atas kejadian-kejadian tersebut seringkali memberikan gambaran seakan-akan kondisi Indonesia sebagai tempat yang tidak aman, pada akhirnya keseluruhan hal ini terkadang membuat calon wisatawan banyak yang menunda atau membatalkan rencana perjalanan wisata mereka ke Indonesia.
Berkurangnya minat wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia, khususnya Jawa Tengah dan Bali, saat dimana terdapat isu tidak kondusifnya politik, dapat menurunkan pendapatan usaha dan kinerja Perseroan.
g. Risiko Lingkungan
Perseroan selalu mengusahakan untuk dapat mencerminkan kebudayaan lokal ke dalam setiap desain arsitektur hotelnya termasuk mengintegrasikan kearifan budaya lokal dalam setiap aktivitas di hotel Perseroan. Lokasi hotel Perseroan di Magelang, Ubud, Uluwatu dan Seminyak, merupakan suatu daerah yang masih sarat hubungannya dengan desa dan masyarakat sekeliling yang masih menjunjung tinggi nilai dan budaya setempat. Oleh karena itu, dalam rangka untuk menghidupkan budaya di dalam hotelnya, Perseroan mempekerjakan karyawan lokal di sekitar hotel. Hal ini secara tidak langsung sebagai bentuk tanggung jawab Perseroan kepada masyarakat sekitar.
Apabila harmoni kerjasama yang telah terjalin dengan baik ini terganggu, maka hal ini dapat menimbulkan gangguan-gangguan lokal seperti penutupan jalan menuju lokasi, perusakan unit, yang dapat menurunkan reputasi, kinerja operasional dan pendapatan usaha Perseroan.
h. Risiko Kebijakan Pemerintah Risiko ini timbul dari perubahan kebijakan Pemerintah baik di tingkat pusat maupun di daerah, khususnya yang berkaitan secara langsung dengan industri pariwisata dan perhotelan secara keseluruhan maupun pariwisata dan perhotelan di Jawa Tengah dan Bali. Kebijakan terkait dengan industri pariwisata secara keseluruhan seperti kebijakan mengenai perolehan visa turis ke Indonesia, tarif maskapai penerbangan, dan fokus pengembangan daerah pariwisata lainnya dapat mempengaruhi hotel Perseroan. Sebagai contoh, apabila terjadi perubahan kebijakan bahwa perolehan visa turis ke Indonesia dipersulit dan tarif penerbangan ke Indonesia dinaikkan secara material maka hal tersebut akan menurunkan minat wisatawan khususnya wisatawan mancanegara datang ke Indonesia. Hal ini juga akan berdampak pada destinasi wisatawan mancanegara saat ini seperti Bali, Jawa Tengah, dan daerah lainnya. Perubahan kebijakan pemerintah yang secara langsung
maupun tidak langsung tidak mendukung industri pariwisata dan perhotelan dapat mengurangi jumlah wisatawan ke Indonesia khususnya Jawa Tengah dan Bali yang pada akhirnya dapat berdampak menurunkan pendapatan usaha dan kinerja Perseroan.
i. Risiko Kebakaran dan Bencana Alam Posisi Indonesia dikepung oleh tiga lempeng tektonik dunia yakni Lempeng Indo-Australian, Eurasia dan Lempeng Pasifik yang apabila bertemu dapat menghasilkan tumpukan energi yang memiliki ambang batas tertentu. Selain itu, Indonesia juga berada pada Pacific Ring Of Fire yang merupakan jalur rangkaian gunung api aktif di dunia yang setiap saat dapat meletus dan mengakibatkan datangnya bencana alam dan kebakaran. Indonesia terletak di daerah yang rawan terhadap letusan gunung berapi, gempa bumi dan tsunami. Pada tahun 2004 terjadi tsunami di daerah Aceh dan juga berdampak di daerah sekitarnya. Pada tahun 2006 terjadi gempa yang relatif besar di Yogyakarta, disusul gempa di Sumatera Barat pada tahun tahun 2009, dan sampai saat ini juga masih sering terjadi gempa bumi dengan skala-skala yang berbeda di beberapa daerah di Indonesia.
Kejadian-kejadian tersebut diatas jika terjadi di daerah Jawa Tengah dan Bali maka dapat menyebabkan kerusakan bangunan dan infrastruktur yang material dan juga korban jiwa khususnya pada hotel-hotel Perseroan dan lingkungan sekitar. Risiko yang timbul adalah kebakaran pada salah
satu atau sebagian besar dari hotel yang dimiliki oleh Perseroan. Pada saat terjadi kebakaran, hal ini dapat merusak struktur bangunan tersebut sehingga unit yang mengalami kebakaran tidak dapat beroperasi secara normal dan diperlukan perbaikan.
Dampak dari kejadian alam ini dapat menurunkan minat wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia dan termasuk destinasi ke Jawa Tengah dan Bali dan pada akhirnya berpengaruh pada hotel-hotel milik Perseroan. Apabila terjadi kejadian kebakaran atau bencana alam yang terjadi secara terus menerus maka dapat menurunkan pendapatan usaha Perseroan, prospek usaha dan kinerja Perseroan secara keseluruhan. Selain itu, kondisi negara lain yang dalam musibah bencana alam juga dapat menurunkan tingkat wisatawan dari negara terkena bencana alam untuk berkunjung ke Indonesia ataupun negara pariwisata lainnya.
j. Risiko Nilai Tukar
Risiko nilai tukar adalah suatu bentuk risiko yang muncul menjadi beban Perseroan karena perubahan nilai tukar suatu mata uang terhadap mata uang yang lain. Sebagian dari fasilitas pinjaman yang diperoleh Perseroan adalah dalam bentuk mata uang asing yang rentan terhadap risiko perubahan kurs, walaupun sebagian dari pendapatan usaha Perseroan adalah dalam bentuk US Dollar. Perseroan tidak memiliki perjanjian lindung nilai untuk membatasi kerugian dari fluktuasi nilai tukar mata uang asing, sehingga apabila terjadi apresiasi signifikan nilai US Dollar atau mata uang asing lainnya terhadap
PT SARASWATI GRIYA LESTARI TBK LAPORAN TAHUNAN 2015
44
Rupiah yang merugikan Perseroan maka hal tersebut akan dapat menurunkan laba bersih Perseroan.
k. Risiko Ketidakmampuan Perseroan Menyelesaikan Rencana Pengembangan di Masa Depan Perseroan berkeinginan untuk terus berkembang di masa yang akan datang dimana Perseroan memiliki strategi untuk selalu mengidentifikasi lokasi strategis untuk mengembangkan pengembangan hotelnya. Terdapat beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi rencana pengembangan hotel oleh Perseroan diantaranya seperti perolehan perijinan yang diperlukan, pembangunan oleh kontraktor pihak ketiga, dan ekspektasi minat jaringan hotel internasional dan wisatawan. Jika ada perubahan yang berdampak negatif dari masing-masing faktor tersebut maka Perseroan tidak dapat memberikan jaminan bahwa Perseroan dapat secara berkesinambungan melakukan pengembangan usaha di masa mendatang, dan hal ini dapat menimbulkan dampak yang negatif terhadap kegiatan usaha, operasional dan kinerja keuangan Perseroan. l. Risiko Kendala Pendanaan dan Keterlambatan Penyelesaian Proyek Pada saat ini masih terdapat 2 hotel milik Perseroan yang masih dalam proses pembangunan yaitu Westin Ubud dan Sarasvati–A Luxury Collection Seminyak, dimana Westin Ubud sudah mencapai kemajuan hingga 93% yang direncanakan mulai pra-operasional pada Oktober 2016 dan Sarasvati–A Luxury Collection Seminyak sudah mencapai kemajuan hingga 50% yang
direncanakan mulai praoperasional pada Juni 2017.
Pembangunan setiap hotel yang dilakukan oleh Perseroan merupakan proyek jangka panjang dimulai dari perolehan lahan, studi kelayakan, perijinan dan legalitas, persiapan pembangunan, pembangunan konstruksi, hingga fase penyelesaian. Fase pembangunan hotel baru Perseroan akan dilakukan jika seluruh tahapan studi kelayakan telah dilakukan dan Perseroan memiliki dana untuk melakukan pembangunan konstruksi baik melalui modal sendiri ataupun hutang kepada bank ataupun kepada lembaga keuangan lainnya. Ketersediaan dana pembangunan dari awal sangat penting karena Perseroan membutuhkan pendanaan awal dimulai pada saat fase perolehan lahan. Perbankan biasanya mulai memberikan pendanaan jika Perseroan telah menguasai lahan dan siap untuk melakukan fase konstruksi. Oleh karena itu, ketersediaan pendanaan dari awal hingga penyelesaian
pembangunan merupakan hal yang penting, dan jika ada keterlambatan pendanaan dapat menyebabkan keterlambatan penyelesaian proyek
yang pada akhirnya dapat menyebabkan Perseroan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan momentum pertumbuhan pendapatan.
m. Risiko Kondisi dan Peraturan Pasar Modal Indonesia
Kondisi Pasar Modal Indonesia secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi harga saham Perseroan. Pasar Modal Indonesia jika dibanding dengan pasar modal negara maju, memiliki tingkat likuiditas maupun kapitalisasi pasar yang lebih rendah serta lebih berfluktuasi terhadap segala bentuk informasi.
n. Risiko Fluktuasi Harga Saham Harga saham setelah Penawaran Umum dapat berfluktuasi dan dapat diperdagangkan pada harga yang cukup rendah di bawah Harga Penawaran, yang tergantung pada berbagai faktor seperti: perbedaan realisasi kinerja keuangan dan operasional actual dengan yang diharapkan oleh para pembeli, pemodal dan analis; perubahan rekomendasi atau persepsi analis terhadap Perseroan atau Indonesia; perubahan pada kondisi ekonomi, politik atau kondisi pasar di Indonesia; keterlibatan Perseroan dalam
perkara litigasi; perubahan harga-harga saham perusahaan-perusahaan asing (terutama di Asia) dan di negaranegara berkembang, dan faktor-faktor lainnya. Kegiatan manajemen risiko Perseroan dikomunikasikan dengan memanfaatkan media sosialisasi dan pelatihan
karyawan sementara diskusi juga dilakukan untuk membahas dampak dari tiap kontrol dan memastikan jumlah kontrol yang diperlukan untuk menjaga stabilitas kinerja Laporan Keuangan Perusahaan.
PT SARASWATI GRIYA LESTARI TBK LAPORAN TAHUNAN 2015 46