IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V. PROSES PERKEMBANGAN KEBERDAYAAN
5.2. Konsultasi dan Placation
5.2.1. Mandiri Secara Intelektual
Dalam suatu perbincangan dengan salah satu informan sumber yaitu Bapak
NI. Beliau membicarakan tentang “ilmu akal, ilmu alam, dan ilmu bumi” yang
didapatnya dari sekolah Taman Siswa duku sewaktu beliau bersekolah. Sampai
saat ini dalam menjalani hidup dan menyelesaikan permasalahan yang muncul
beliau menggunakan “patokan” tersebut. Begitu juga dalam hal budidaya ikan
kerapu ini.
Setelah mendapatkan pengetahuan baru dari pelatihan mengenai budidaya
kerapu, beliau mengembangkan sendiri teknik-teknik baru dalam budidaya kerapu
ini. Misalnya saja dalam memasang jarring keramba yang tidak boleh lebih dari
dua setengah meter ke bawah dari permukaan laut. Seperti yang diungkapkan
Bapak NI:
“saya kasih tau nih mas riau8, ini cuma saya saja yang tahu..kenapa saya dari satu setengah meter turnnya ke dua meter sampai ke dua setengah meter…saya pernah nyilem nih mas yah…nyilem ke bawah itu aer kedaleman tiga meter itu hawanya sudah seperti lebih dari es dinginnya, maka itu ikan mudah kena penyakit…begitu saya timbul (tarik jarring)
ukurannya dua meter sampai dua meter setengah nah itu suhunya sedeng yah kan, ada udara panas ada udara dingin sedikit tapi ga kebanyakan juga dinginnya, jadi ikan tuh lahap makannya…kalau kedalaman kan ikan nih ga hitam warnanya, pucat dia…nih elmu ga saya dapet nih mas dari pelatihan…”
Pengungkapan tersebut menunjukkan bahwa individu nelayan memiliki
kemampuan untuk mengkombinasikan antara ilmu pelatihan dan pengalaman
individu tersebut. Banyak hal dalam pengelolaan budidaya kerapu ini yang tidak
berpatokan terhadap metode yang diajarkan. Mereka (nelayan) mencari alternatif
teknik budidaya berdasarkan apa yang mereka tahu sebelumnya dan apa yang
mereka rasakan. Tuntutan untuk mendapatkan hasil yang besar dengan modal
yang sekecil mungkin pada saat proses pembesaran membuat mereka mencari
alternatif lain yang bisa terapkan sendiri. Harga pakan dan obat yang cukup mahal
membuat mereka menjadi kreatif dalam menemukan teknik-teknik baru.
Contoh lain, dalam pemberian pakan yang mereka lakukan juga tidak
sepenuhnya menggunakan pakan yang dianjurkan seperti pada saat pelatihan.
Misalnya saja mereka hanya membeli pakan dari pabrik sejumlah dua ratus lima
puluh ribu rupiah satu karung untuk satu tahun. Sisa pakan tambahan lainnya
mereka mencari ikan kecil (rucah) dan pada saat tertentu mereka mencampurkan
nasi dengan pakan yang mereka beli. Cara ini dilakukan setelah mereka
mengamati bahwa ikan mereka tetap lahap bahkan lebih lahap makannya jika
makanannya dicampur seperti itu. Hasilnya ikan lebih cepat besar dari perlakuan
normal, artinya bisa lebih cepat panen9.
Pada saat pencucian ikan pun masing-masing anggota mempunyai caranya
sendiri. Seperti yang dilakukan Bapak NI jika mencuci ikannya, beliau hanya
menggunakan Betadine sebagai obat untuk membersihkan jamur dan kotoran dari
ikan-ikannya. Menurut beliau, Betadine bagus untuk manusia jadi bisa juga
digunakan oleh ikan. Memang pada kenyataannya selama ini ikan yang dicuci
dengan Betadine tidak ada masalah dengan jamur dan penyakit seperti kutu air.
Kemudian untuk waktu pencucian, beliau mencuci ikannya dalam seminggu
sebanyak tiga kali untuk yang masih berukuran kecil. Semakin besar ikan,
pencucian hanya dua kali dalam seminggu. Hal ini dilakukan selain uuntuk
menjaga ikan dari jamur dan penyakit juga untuk menjaga kualitas ikan pada saat
panen. Seperti yang diungkapkan berikut:
Informan : “saya aja obat untuk cuci ikan cuma pake Betadine…”
Peneliti : “loh, emang bisa Pak?Betadine kan buat luka manusia?”
Informan : “klo buat manusia aja bisa pasti buat ikan juga bisa, kita kan perumpaman dia nih kan (ikan) juga mahkluk hidup…”
Peneliti : “oh gitu pak..”
Informan : “iya gitu, makanya saya buat obat sama cuci pake Betadine, ampuh trus murah..”
Walaupun sebenarnya peneliti tidak memahami kenapa Betadine juga bisa
dibuat sebagai obat untuk mencuci ikan dan mengobati ikan yang luka jika dilihat
dari kandungan kimia yang terdapat dalam Betadine. Yang dipahami oleh
informan adalah Betadine sebagai obat antiseptik dan bisa menyembuhkan luka.
Maka hal tersebut juga berlaku jika diterapkan pada ikan dan makhluk hidup
lainnya secara umum. Memang selama ini belum ada permasalahan dengan
penerapan Betadine sebagai obat cuci dan luka untuk ikan.
Dalam penentuan letak keramba, ada seorang anggota, Bapak FN, yang
dengan sehat. Ketika saya tanya mengapa beliau membangun keramba disitu,
alasannya adalah karena daerah itu merupakan aliran arus laut. Jadi tidak masalah
dekat pantai, yang penting arus laut mengalir sehingga kemungkinan untuk
terkena jamur dan kutu air mengecil. Seperti yang diungkapkan berikut:
“coba liat keramba saya paling darat itu tuh, paling deket kesini kan (pantai/daratan)…tapi kenapa ikan-ikan saya sehat-sehat?lah orang disitu aliran arus, kita kan yang penting arus ngalir jadi ikan bisa cepet gede trus karena aer ngalir jadi kutu aer sama jamur kaga gampang nempel. Itu ga ada yang tau tuh yo, saya aja yang nyadar klo disitu aliran aer. Ngapain jauh-jauh ke tengah laut, sayang solar, orang disitu ada aliran kok”
Ungkapan diatas sekali lagi membuktikan bahwa masing-masing anggota
mempunyai teknik sendiri yang mereka kembangkan. Walaupun pada awalnya
mereka mendapatkan semua ilmu dari pelatihan-pelatihan tetapi teknik-teknik
yang sesuai dengan keadaan dan lingkungan mereka kembangkan sendiri.
Hasilnya menjadi lebih efektif dan efisien.