• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

A. Hasil Belajar

3. Manfaat Hasil Belajar

Pendidikan dan pengajaran dikatakan berhasil apabila perubahan-perubahan yang tampak pada siswa merupakan akibat dari proses belajar mengajar yang dialaaminya yaitu proses yang ditempuhnya melalui progam dan kegiatan yang dirancang dan dilaksanakan oleh guru dalam proses pengajarannya, dalam hal ini berdasarkan hasil belajar siswa, dapat diketahui kemampuan dan perkembangan sekaligus tingkat keberhasilan pendidikan.

Hasil belajar pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku seseorang yang mencakup kemampuan kognitif, efektif dan psikomotor setelah mengikuti suatu proses belajar mengajar (Nana Sudjana dan Ibrahim, 2009:3). Hasil belajar harus menunjukan perubahan keadaan menjadi lebih baik, sehingga bermanfaat untuk :

a. Menambah pengetahuan.

b. Lebih memahami sesuatu yang belum dipahami sebelumnya. c. Lebih mengembangkan ketrampilan.

d. Memiliki pandangan yang baru atas sesuatu hal. e. Lebih menghargai sesuatu daripada sebelumnya.

Dapat disimpulkan bahwa istilah hasil belajar merupakan perubahan dari siswa sehingga terdapat perubahan dari segi pengetahuan, sikap, dan ketrampilan.

4. Sifat- Sifat Individu yang mempunyai Hasil Belajar Berprstasi Tinggi. Sifat yang harus di miliki siswa itu harus mempunyai rasa tanggung jawab yang besar dan hasrat berprestasi yang baik. Menunjukan sifat-sifat sebagaimana yang di kemukakan oleh Sardiman A.M terdapat ciri-ciri motivasi sebagai berikut :

a. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu lama, tidak berhenti sebelum selesai)

b. Ulet mengahadapi kesulitan (tidak lekas putus asa) c. Tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi d. Ingin mendalami bahan/ bidang yang diberikan

e. Selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat putus dengan prestasinya)

f. Menunjukkan minat terhadap macam –macam masalah”orang dewasa” (misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan dan sebainya) g. Rajin belajar penuh semangat, cepat bosan dengan tugas –tugas rutin h. Dapat mempertahankan pendapat – pendapatnya (kalau sudah yakin

akan sesuatu, tidak mudah melepaskan hal yang diyakini tersebut) i. Mengejar tujuan – tujuan jangka panjang (tidak menunda pemuasan

kebutuhan sesaat yang ingin dicaai kemudian).Senang mencari dan memecahkan soal – soal (Sardiman, A.M, 1994:83).

Sedangkan menurut H.J.M. Hermans sifat – sifat tersebut adalah: a. Kecenderungan mengerjakan tugas – tugas belajar yang menantang,

namun tidak berada diatas taraf kemampuannya.

b. Keinginan untuk bekerja dan berusaha sendiri, serta menemukan penyelesaian masalah sendiri tanpa disuapi terus menerus oleh guru. c. Keinginan kuat untuk maju dan mencari taraf keberhasilan yang

sedikit diatas taraf – taraf yang telah tercapai sebelumnya

d. Orientasi pada masa depan, keinginan belajar dipandang sebagai jalan menuju kerealisasi cita – cita

e. Pemilihan teman kerja atas dasar kemampuan teman itu untuk menyelesaikan tugas belajar bersama, bukan atas dasar eaasa simpati atau perasaan senang terhadap teman.

f. Keuletan dalam belajar biarpun mengahadapi rintangan (W.S Winkel 1987:97-98).

Dengan berbagai cara untuk meningkatkan motivasi siswa, tanpa harus melakukan reorganisasi kelas besar –besaran antara lain :

a. Penggunaan pujian verbal

b. Penggunaan test dan nilai secara bijaksana

c. Bangkitkan rasa ingin tahu siswa dan keinginannya untuk mengadakan eksplorasi

d. Merangsang hasrat siswa dengan memberikan jalan kepada siswa sedikit conto hadiah yang akan diterimanya bila ia berusaha untuk belajar.

f. Perkecil daya tarik sistem motivasi yang berlawanan

g. Perkecil konsekuensi – konsekuensi yang tidak menyenangkan dan keterlibatan siswa

h. Pengajar perlu memahami dan mengawasi suasana social di lingkungan sekolah, karena hal itu besar pengaruhnya atas diri siswa.

i. Pengajar perlu memahami kekuasaan antara guru dan siswa, seseorang akan dapat memahami motivasi orang lain bila ia memiliki suatu bentuk kekuasaan sosial (Slameto, 1991:179-182).

Dalam menghadapi kecepatan untuk belajar tidak tetap (steady) yang jauh berbeda dari teman sekelasnya menyebabkan ia menyesuaikan diri pada keadaan kelas, sehingga belajar dengan kebiasaan santai (relax), maka dalam perkembangan potensinya, perlu kebiasaan belajar dengan dorongan motivasi yang besar untuk bereksplorasi, kebiasaan belajar santai kemungkinan akan bisa menghambatnya untuk memperoleh hasil belajar sesuai dengan kemampuannya. Maka semua hal tersebut butuh dorongan motivasi belajar dari pendidikan di sekolah dan pendidikan di keluarganya sendiri, dari dorongan tersebut anak bisa mendapatkan motivasi belajar yang baik.

Dari pendapat tersebut di atas, penulis dapat merumuskan bahwa ciri – ciri atau indikator motivasi berprestasi adalah sebagai berikut :

a. Kecenderungan mengerjakan tugas – tugas PAI yang menantang namun kemampuan tidak berada diatas taraf kemampuan

c. Keinginan kuat untuk maju dan mencari taraf keberhasilan yang sedikit di atas taraf yang telah tercapai sebelumnya

d. Orientasi ke masa depan dan kegiatan belajar mengajar dipandang sebagai jalan menuju realisasi cita – cita

e. Pemilihan teman kerja atas dasar kemampuan bukan karena atas dasar simpati terhadap teman tersebut

f. Keuletan dalam belajar biar pun menghadapi rintangan g. Mematuhi tata tertib dan perintah agama

h. Aktif di masyarakat dalam kegiatan keagamaan

Dalam hal ini untuk menumbuhkan motivasi berprestasi tinggi membutuhkan pendidikan sekolah yang mengarah belajar anak supaya dia memperoleh pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, sikap dan nilai semuanya untuk menunjang pendidikan, belajar dan perkembangan baik orang tua maupun guru adalah pendidika dan menunaikan tugas pedagogis. Namun, jarang orang tua yang merencanakan kegiatan belajar- mengajar seperti yang di sekolah. Supaya aktifitas pedagogis dan didaktik pada guru berhasil, anak mutlak perlu belajar. Biar bagaimanapun usaha profesional guru, kalau anak tidak melibatkan diri dengan belajar secara sungguh- sungguh, hasil yang dituju tidak akan tercapai. Oleh karena itu, tugas pokok guru adalah menjadi pengelola belajar dan dewasa ini di tekankan pula yang disebut cara belajar siswa aktif (W.S Winkel, 1987:21). Dari semua ini kalau di jalankan akan menjadi anak mempunyai motivasi berprestasi yang sangat tinggi untuk meraih apa yang di inginkan oleh siswa.

Dokumen terkait