• Tidak ada hasil yang ditemukan

6.2 Analisis Dampak Lingkungan Kegiatan Pertambangan PT ANTAM

6.2.6 Manfaat Keberadaan Pantai Buatan Dari Limbah Slag

Kegiatan pengolahan nikel menjadi ferronikel menghasilkan limbah batuan tailing (slag). Limbah slag ini kemudian dimanfaatkan oleh UBPN Sultra untuk membangun sebuah objek wisata berupa pantai buatan yang dihasilkan dari

60

campuran timbunan slag dan tanah. Pantai buatan ini mulai dibangun pada tahun 2004 dan dibuka untuk umum pada tahun 2006 dengan diberi nama Pantai Harapan. Objek Wisata Pantai Harapan berada di Kompleks PT. ANTAM (Persero) Tbk.UBPN Sultra. Secara administratif, objek wisata ini termasuk dalam wilayah Desa Pomalaa, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara. Lokasi objek wisata ini berdekatan dengan pelabuhan milik PT. ANTAM (Persero) Tbk. dan pelabuhan milik perusahaan tambang swasta lain.

Objek wisata yang berbeda dari wisata pantai lainnya yang berada di Kabupaten Kolaka ini sengaja dibangun oleh PT. ANTAM (Persero) Tbk. UBPN Sultra sebagai sarana rekreasi bagi masyarakat. Objek Wisata Pantai Harapan dibangun pada area pesisir pantai di dekat kompleks perumahan karyawan yang awalnya tidak dimanfaatkan untuk kegiatan apapun. Masyarakat sekitar UBPN Sultra sebelum dibangunnya Pantai Harapan tidak dapat menikmati keindahan alam dengan mudah karena tertutup oleh perumahan karyawan dan tidak adanya akses jalan menuju pinggir pantai.

Luas kawasan objek wisata Pantai Harapan adalah seluas 2 hektar dengan jalan masuk sepanjang 1 kilometer yang menjorok ke laut. Daya tarik utama dari objek wisata ini berupa kolam pemandian air laut yang terdiri dari dua kolam pemandian anak dan satu kolam pemandian dewasa. Kolam pemandian anak memiliki kedalaman sampai satu meter dan kolam pemandian dewasa memiliki kedalaman sampai lima meter. Selain kolam-kolam pemandian tersebut, Pantai Harapan memiliki daya tarik pemandangan alam berupa matahari tenggelam yang dapat dilihat diujung barat Pantai Harapan. Keunikan yang tidak dimiliki pantai lain adalah hamparan limbah slag yang menjadi salah satu material penimbun sehingga terbentuklah Pantai Harapan.

Disepanjang jalan masuk menuju Pantai Harapan, UBPN Sultra menanam pohon bakau sebagai pemecah ombak dan mencegah abrasi pantai. Ditengah pepohonan bakau tersebut, dibangun jembatan kayu berwarna-warni yang bisa digunakan pengunjung untuk berjalan mengelilingi pepohonan bakau. Pada kawasan wisata ini juga terdapat fasilitas penunjang seperti dua toilet dan tiga kamar mandi, satu ruang ganti pakaian, tribun yang berada disamping kolam pemandian dewasa, satu pondokan, dan satu pendopo besar lengkap dengan

61 perangkat suara. Pihak pengelola pun selalu menjaga keamanan dan kebersihan lokasi wisata dengan baik, yaitu menyediakan petugas patroli dan tempat sampah yang memadai sehingga pengunjung selalu merasa aman serta kebersihan kawasan wisata tetap terjaga.

UBPN Sultra tidak menetapkan tarif masuk bagi pengunjung dikarenakan tujuan awal pembangunan Pantai Harapan adalah untuk kepentingan masyarakat dan sebagai sarana mendekatkan diri antara perusahaan dengan masyarakat. Akses menuju objek wisata Pantai Harapan ini dapat dikatakan sangat mudah karena tidak ada hambatan lain seperti jalan rusak atau perbaikan jalan, semua jenis kendaraan bisa masuk sampai lahan parkir yang terletak di area kolam pemandian air laut. Akses yang mudah tersebut diduga berpengaruh terhadap keinginan masyarakat untuk berekreasi di objek wisata ini.

Rincian hasil penelitian terhadap pengunjung objek wisata Pantai Harapan ditampilkan pada Lampiran 10. Berdasarkan penelitian ini, dapat dilihat bahwa seluruh responden pengunjung berasal dari Kabupaten Kolaka. Sebagian besar responden pengunjung berasal dari Kecamatan Pomalaa, lokasi objek wisata ini berada, yaitu sebesar 80% dari total 40 responden (32 orang), dikarenakan akses yang mudah dan jarak yang dekat menuju objek wisata Pantai Harapan. Responden pengunjung lain berasal dari Kecamatan Baula, Kecamatan Wundulako, dan Kecamatan Mowewe.

Jarak dari tiap desa menuju objek wisata ini beragam. Sebagian besar responden menempuh jarak kurang dari sama dengan satu kilometer, yaitu sebanyak 35%. Responden ini sebagian besar berasal dari Desa Pomalaa dan Desa Kumoro yang merupakan wilayah kompleks perumahan karyawan UBPN Sultra. Jarak yang ditempuh pengunjung untuk menuju lokasi mempengaruhi waktu tempuh yang dihabiskan pengunjung. Responden yang membutuhkan waktu tempuh selama kurang dari sama dengan 5 menit untuk menuju lokasi sebesar 37.5% dari total 40 responden. Hal ini diduga dipengaruhi oleh jarak yang dekat dan juga jalan yang bebas hambatan, seperti kemacetan ataupun jalan rusak. Responden pengunjung Pantai Harapan sebagian besar berkunjung sebanyak 1 sampai 8 kali pada tahun dilakukannya penelitian karena jarak objek wisata yang dekat dan mudah ditempuh. Responden yang mengunjungi Pantai Harapan

62

sebanyak 1 sampai 8 kali dalam setahun sebesar 52.5% dari 40 responden (21 orang). Bahkan 35% responden (14 orang) berkunjung ke Pantai Harapan lebih dari 25 kali dalam setahun. Rata-rata kunjungan dari tiap pengunjung selama satu tahun adalah 27 kali kunjungan.

Keberadaan Objek Wisata ini juga menarik para pedagang makanan untuk berjualan di kawasan ini. Berdasarkan penelitian, hanya ada 3 pedagang dengan jenis dagangan masing-masing yang setiap hari berdagang di Pantai Harapan, yaitu pedagang bakso tusuk, pedagang jagung rebus, dan pedagang siomay. Responden pengunjung yang mengeluarkan biaya konsumsi di lokasi objek wisata sebesar 37.5% dari total 40 responden (15 orang). Biaya konsumsi di lokasi dari responden ini menjadi penerimaan bagi pedagang lokal. Dari hasil penelitian didapatkan biaya konsumsi responden di lokasi wisata sebesar Rp 260 000 dalam satu waktu penelitian. Biaya konsumsi di lokasi ini kemudian dibagi dengan jumlah responden yang mengeluarkan biaya konsumsi, yaitu 15 orang, sehingga didapatkan jumlah pengeluaran konsumsi di lokasi rata-rata sebesar Rp 17 333.33 bagi satu pengunjung per kunjungan. Asumsi penerimaan pedagang dari satu pengunjung dalam setahun dapat dilihat pada Tabel 35.

Tabel 35 Penerimaan pedagang lokal

Uraian Jumlah

Biaya konsumsi responden di lokasi (Rp) 260 000

Responden yang mengeluarkan biaya konsumsi di lokasi (Orang) 15

Rata-rata biaya konsumsi di lokasi (Rp) 17 333.33

Rata-rata frekuensi kunjungan per tahun (Kali) 27

Rata-rata penerimaan pedagang dari satu pengunjung dalam setahun (Rp) 472 767 Sumber: Data primer diolah (2014)

Biaya konsumsi pengunjung di lokasi wisata termasuk ke dalam biaya perjalanan yang dikeluarkan pengunjung objek wisata Pantai Harapan. Biaya perjalanan adalah semua biaya yang dikeluarkan selama melakukan rekreasi ke objek wisata, yang terdiri dari biaya transportasi dan biaya konsumsi,baik biaya konsumsi di lokasi maupun biaya konsumsi yang dibawa dari rumah. Pengunjung objek wisata Pantai Harapan tidak dipungut biaya lain oleh pihak pengelola untuk menggunakan fasilitas yang telah disediakan, kecuali untuk penggunaan fasilitas pendopo besar yang lengkap dengan perangkat suara dan dapat digunakan untuk

63 karaoke. Untuk dapat menggunakan pendopo ini pengunjung dikenakan tarif sewa selama satu hari yaitu sebesar Rp 250 000.

Biaya rekreasi yang dikeluarkan responden, mencakup biaya transportasi, biaya konsumsi di lokasi dan biaya konsumsi yang dibawa dari rumah, berkisar antara Rp 4 500 sampai Rp 59 500 per orang dengan rata-rata Rp 22 763 per orang per kunjungan. Kelompok terbesar adalah responden yang mengeluarkan besar biaya perjalanan antara lebih dari Rp 25 500 sampai dengan Rp 36 000 yaitu sebesar 35% dari jumlah responden.

Dengan fasilitas yang cukup memadai, terdapat kolam pemandian untuk dewasa dan anak-anak serta tribun dan pendopo untuk santai dan menikmati pemandangan alam, Pantai Harapan ramai dikunjungi oleh rombongan keluarga yang mempunyai anak kecil dan kelompok orang yang menghabiskan waktu bersantai di Pantai Harapan. Responden datang paling banyak datang dengan rombongan kelompok teman sebanyak 57.5%.

Responden yang datang bersama rombongan sebagian besar datang bersama teman dan keluarga, seperti yang terlihat pada Tabel 38. Jumlah pengunjung dalam satu rombongan beragam, sebagian besar berkunjung dengan jumlah rombongan sebanyak 1-4 orang, yaitu sebesar 47.5% dari total 40 responden. Pada umumnya kegiatan rekreasi di tempat wisata akan lebih menyenangkan bila dilakukan bersama dengan orang lain, baik teman maupun keluarga. Proporsi jumlah rombongan pengunjung objek wisata Pantai Harapan dapat dilihat pada Tabel 41.

Pengunjung harus menggunakan kendaraan pribadi untuk mencapai lokasi objek wisata, karena tidak tersedianya kendaraan umum menuju Pantai Harapan. Jenis kendaraan yang digunakan pengunjung objek wisata Pantai Harapan sangat berhubungan dengan jumlah rombongan. Sebagian besar pengunjung datang dengan rombongan yang menggunakan kendaraan pribadi berupa motor roda dua yaitu sebesar 65%. Jenis kendaraan bermotor roda dua banyak dijadikan pilihan alat transportasi bagi pengunjung karena lokasi yang dekat dan jalan yang tidak terlalu lebar, dan sebagian besar responden belum memiliki kendaraan pribadi berupa mobil.

64

Objek wisata Pantai Harapan memiliki daya tarik wisata berupa kolam pemandian air laut pemandangan alam berupa matahari terbenam serta pengalaman yang unik saat mengunjunginya karena pantai ini dibangun menggunakan limbah slag. Tujuan kunjungan responden sebagian besar adalah untuk bersantai menikmati suasana dan pemandangan yaitu sebesar 42.5%. Selain akhir pekan, objek wisata Pantai Harapan semakin ramai oleh pengunjung saat sore hari untuk menikmati pemandangan alam.

Lokasi objek wisata yang mudah dijangkau dan dekat, serta tidak dikenakan biaya masuk membuat pengunjung dari kawasan sekitar berwisata di Pantai Harapan. Responden pengunjung objek wisata Pantai Harapan ini sebanyak 52.5% telah mengetahui keberadaan objek wisata ini sejak 6 sampai 8 tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pengunjung telah mengetahui keberadaan objek wisata Pantai Harapan sejak dibangun pada 8 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 2004.

Keberadaan objek wisata Pantai Harapan memberikan alternatif baru bagi masyarakat yang ingin berekreasi, baik sendiri maupun bersama kelompok, dengan akses yang mudah dicapai dan juga fasilitas yang cukup memadai. Pemandangan matahari terbenam yang indah dan hamparan tanaman bakau di sepanjang jalan memberikan keindahan alam di Pantai Harapan. Keberadaan objek wisata ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi pedagang yang menjual makanan bagi pengunjung di lokasi.

Objek wisata Pantai Harapan dapat dikembangkan menjadi wisata alternatif yang dapat menarik lebih banyak wisatawan dari cakupan daerah yang lebih luas. Pengelolaan Pantai Harapan yang saat ini dipegang oleh PT. ANTAM (Persero) Tbk., dapat dikembangkan dengan melibatkan masyarakat maupun organisasi masyarakat seperti karang taruna untuk berpartisipasi mengelola objek wisata tersebut. Peran serta masyarakat dalam mengelola Pantai Harapan akan meningkatkan kepedulian masyarakat akan keberadaan objek wisata ini dan dapat lebih mendekatkan masyarakat dengan perusahaan, sebagaimana tujuan awal pembangunan Pantai Harapan.

Masyarakat dan UBPN Sultra dapat bekerja sama membuat sistem tiket masuk yang kemudian dapat digunakan untuk tujuan pengembangan objek wisata.

65 Harga tiket dapat disesuaikan dengan objek wisata lain yang berada di Kabupaten Kolaka. Peningkatan jasa dan pelayanan bagi pengunjung Pantai Harapan dapat dilakukan dengan cara pengadaan tempat penyewaan pelampung atau ban, pengadaan tempat untuk menjual makanan dan minuman untuk konsumsi pengunjung, serta pengadaan penjaga parkir agar pengunjung merasa lebih aman meninggalkan kendaraannya saat berwisata. Kerja sama yang baik antara UBPN Sultra dengan masyarakat untuk pengelolaan objek wisata Pantai Harapan dapat kemudian menjadikan objek wisata ini tujuan wisata yang lebih menarik.

66

VII SIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait