• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

a. Dapat menambah ilmu pengetahuan secara praktis sebagai hasil dari pengamatan secara langsung serta dapat memahami penerapan disiplin ilmu yang diperoleh selama studi di perguruan tinggi khususnya dibidang ekonomi dan akuntansi.

b. Sebagai bahan perbandingan untuk mengembangkan teori penelitian pada umumnya, serta teori dan konsep analisis kinerja keuangan pemerintah desa.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi pemerintah, hasil penelitian ini diharapkan sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi pemerintah desa dalam pengambilan keputusan, terutama dalam hal penentuan kebijakan

serta penentuan arah yang strategis untuk menilai kinerja keuangan pemerintah desa dalam anggaran pendapatan dan belanja desa dimasa yang akan datang.

b. Bagi Masyarakat, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang berguna kepada masyarakat tentang pendapatan dan belanja desa sebagai bentuk akuntabilitas pengelolaan dana masyarakat oleh pemerintah desa.

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kinerja Keuangan

1. Pengertian Kinerja Keuangan

Kinerja (performance) yaitu gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi dan misi organisasi yang tertuang dalam rencana strategis organisasi. Pengukuran kinerja (performance measurement) yaitu proses penilaian kemajuan pekerjaan terhadap tujuan yang telah ditentukan sebelumnya, termasuk informasi atas efisiensi penggunaan sumber daya dalam menghasilkan barang dan jasa (seberapa baik barang dan jasa diberikan kepada pelanggan dan seberapa jauh pelanggan merasa puas), hasil kegiatan yang diinginkan, dan efektivitas tindakan dalam mencapai tujuan (Mahsun dalam Rantebalik, 2016).

Kinerja keuangan merupakan tingkat pencapaian dari suatu hasil kerja dibagian keuangan yang meliputi penerimaan dan belanja desa dengan menggunakan indikator keuangan yang telah ditetapkan melalui suatu kebijakan atau ketentuan yang berlaku selama satu periode anggaran (Nurlan Darise dalam Gramini, et. al, 2017).

Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan adalah gambaran kondisi keuangan pada periode tertentu yang diukur dengan beberapa indikator yang disusun berdasarkan basis akrual. Kemudian kaitannya dengan pemerintah desa yaitu bahwa Kinerja keuangan pemerintah desa merupakan hasil dari kegiatan atau

program yang akan atau telah dicapai sehubung dengan penggunaan anggaran desa dengan kualitas dan kuantitas yang terukur. kemampuan kinerja desa dapat diukur dengan menilai efisiensi atas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

Kinerja Keuangan Pemerintah adalah salah satu ukuran atau capaian yang dihasilkan dari kegiatan atau program sehubungan dengan anggaran yang ada. Melalui kinerja ini kita juga dapat melihat bagaimana kemampuan kinerja pemerintah didalam melaksanakan atau menjalankan tugasnya.

2. Tujuan Pengukuran Kinerja Keuangan

pengukuran kinerja keuangan terdiri dari beberapa tujuan yaitu:

a. Untuk membantu memperbaiki kinerja pemerintah dan ukuran kinerja ini membantu pemerintah untuk lebih fokus pada tujuan serta sasaran program unit kerja yang pada hakekatnya akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

b. Untuk mengalokasikan sumber daya dan pembuatan keputusan.

c. Untuk mewujudkan pertanggungjawaban serta memperbaiki komunikasi kelembagaan.

Berdasarkan tujuan pengukuran kinerja keuangan diatas dapat dilihat bahwa pengukuran kinerja keuangan sangat penting dalam menilai efisiensi dan efektivitas pengelolaan keuangan dan pendayagunaan aset yang dimiliki oleh desa. Pengukuran kinerja keuangan juga mampu mengetahui kekuatan dan kelemahan kinerja

9

keuangan suatu instansi, serta mengevaluasi kinerja keuangan dan menetapkan tujuan untuk kinerja dimasa mendatang.

3. Manfaat Pengukuran Kinerja Keuangan

Manfaat dilakukannya pengukuran kinerja keuangan terdiri dari lima bagian yaitu:

a. Pengukura Kinerja Keuangan dalam Pengambilan Keputusan Seringkali keputusan yang diambil organisasi dilakukan dalam keterbatasan data dan berbagai pertimbangan politik serta tekanan dari pihak-pihak yang berkepentingan. Proses pengembangan pengukuran kinerja keuangan ini akan memungkinkan organisasi untuk menentukan misi dan menetapkan tujuan pencapaian hasil tertentu, serta dapat juga dipilih metode pengukuran kinerja keuangan untuk melihat kesuksesan program yang ada.

b. Pengukuran Kinerja Keuangan Meningkatkan Akuntabilitas Internal Adanya pengukuran kinerja keuangan secara otomatis akan tercipta akuntabilitas diseluruh lini atau garis organisasi, dari lini terbawah sampai teratas. Lini teratas pun kemudian akan bertanggungjawab kepada pihak legislatif. Oleh sebab itu disarankan pemakaian sistem pengukuran standar berdasarkan objek (by objectives) untuk mengukur hasil (outputs) dan manfaat (outcomes).

c. Pengukuran Kinerja Keuangan Meningkatkan Akuntabilitas Publik Pelaporan evaluasi kinerja keuangan organisasi kepada masyarakat disarankan, karena publikasi laporan ini sangat penting dalam keberhasilan sistem pengukuran kinerja keuangan yang baik.

d. Pengukuran Kinerja Kuangan, Perencanaan dan Pentapan Tujuan Proses perencanaan strategi dan tujuan akan kurang baik tanpa adanya kemampuan untuk mengukur kinerja keuanagan dan kemampuan suatu program. kesuksesan suatu program juga tidak akan pernah dinilai objektif apabila pengukuran kinerja keuangannya kurang tepat atau kurang efisien.

e. Pengukuran Kinerja Keuangan untuk Sumber Daya yang Efektif Berdasarkan manfaat pengukuran kinerja keuangan pemerintah desa diatas, terlihat bahwa pengukuran Kinerja Keuangan sangat berguna dalam meningkatkan mutu pengambilan keputusan pemerintah, meningkatkan perencanaan strategi, penetapan tujuan, serta meningkatkan suatu entitas untuk menentukan sumber daya secara efektif.

B. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes)

Anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes) merupakan suatu proses rencana keuangan tahunan pemerintah desa yang telah dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan badan permusyawaratan daerah yang ditetapkan dengan peraturan desa yang meliputi pendapatan, belanja, dan pembiayaan. adanya anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes) pelaksanaan keperintahan desa akan memiliki rencana yang strategis dan terukur berdasarkan anggaran

11

yang sudah ada dan yang akan digunakan. Dengan melalui APBDes kebijakan desa dilaksanakan dalam berbagai program atau kegiatan karena anggarannya sudah ditentukan. Kegiatan pemerintah desa seperti pembangunan, perlindungan, dan pelayanan kepada masyarakat dalam tahun berjalan, anggarannya sudah dirancang, dan pelaksanaannya sudah dapat dipastikan (Puspawardani, 2017).

Anggaran pemerintah merupakan dokumen formal hasil kesepakatan antara eksekutif dan legislatif tentang belanja yang ditetapkan untuk melaksanakan kegiatan pemerintah dan pendapatan yang diharapkan untuk menutupi keperluan belanja tersebut atau pembiayaan yang diperlukan bila diperkirakan akan terjadi defisit atau surplus. Anggaran dapat diartikan sebagai pengelolaan aktifitas belanja pemerintah serta memberikan cara atas pemerolehan pendapatan dan pembiayaan bagi pemerintah dalam periode tahunan. Kemungkinan besar anggaran disiapkan dalam waktu kurang lebih dari satu tahun (Nurlan Darise dalam Gramini, et. al, 2017).

Anggaran merupakan suatu instrumen penting didalam manajemen karena merupakan bagian dari fungsi manajemen. didunia bisnis maupun organisasi sektor publik, anggaran merupakan bagian dari aktivitas penting yang dilakukan secara rutin. bahkan di akuntansi pemerintahan dibuat pencatatan anggaran, mengingat anggaran adalah bagian penting dalam aktivitas pemerintahan (Mardiasmo dalam Kusumadewi, 2016).

Penganggaran merupakan suatu proses penyusunan rencana keuangan, pendapatan, dan pembiayaan, kemudian mengalokasikan dana ke masing-masing kegiatan sesuai dengan fungsi dan sasaran yang hendak

dicapai. Masing-masing kegiatan tersebut kemudian dikelompokkan kedalam program berdasarkan tugas dan tanggungjawab dari satuan kerja tertentu.

Pelaksanaan APBDes akan dipertanggungjawabkan setiap akhir tahun anggaran oleh kepala desa kepada masyarakat melalui badan permusyawaratan desa (BPD) dalam bentuk perhitungan APBDes.

Perhitungan atau penjumlaha APBDes ini ditetapkan dengan peraturan desa yang telah ditetapkan selambat-lambatnya 3 bulan sebelum berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan. pengawasan atas ketertiban dan kelancara pelaksanaan APBDes dilakukan oleh BPD (Soeharjo, 2017).

1. Anggaran Pendapatan Desa

Pendapatan desa adalah semua penerimaan kas desa yang menambah ekuitas pada periode tahun anggaran yang bersangkutan dan menjadi hak pemerintah desa yang tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah desa.

a. Pendapatan asli desa (PADesa), Pendapatan asli desa dipungut oleh pemerintahan desa berdasarkan peraturan daerah.

b. Pendapatan alokasi dana desa (ADD) c. Pendapatan bagi hasil pajak

d. Pendapatan bagian dari retribusi

e. Pendapatan alokasi dana desa dari APBN

f. Pendapatan dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten atau kota

g. Pendapatan bantuan dari pemerintah

h. Pendapatan bantuan dari APBD provinsi dan APBD kabupaten atau kota

13

i. Hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga 2. Anggaran Belanja Desa

Belanja desa adalah semua pengeluaran dari rekening kas umum desa yang mengurangi saldo anggaran lebih dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah desa (Siregar, 2015:31).

a. Belanja langsung

1) Belanja kesejahteraan kepala desa dan perangkat desa 2) Belanja bantuan sosial

3) Belanja subsidi 4) Belanja tunjangan

5) Belanja pegawai atau penghasilan tetap 6) Belanja tak terduga

7) Belanja bantuan keuangan b. Belanja langsung

1) Belanja barang dan jasa 2) Belanja modal

3) Belanja pegawai C. Analisis Kinerja Keuangan Desa

Analisis kinerja keuangan desa dapat dilihat dari realisasi pendapatan dan anggaran. Apabila realisasi melebihi anggaran yang telah dibuat maka kinerja pemerintah dinilai baik. Berdasarkan realisasi anggaran, maka dapat dilakukan analisis kinerja keuangan desa dengan menggunaka analisis rasio keuangan:

a. Rasio Kemandirian Keuangan Desa

Rasio kemandirian keuangan desa merupakan kemampuan desa dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat. Kemandirian keuangan desa dapat dilihat pada besar kecilnya pendapatan asli desa (PADes) dibandingkan dengan pendapatan desa yang berasal dari sumber lainnya seperti dana bagi hasil, bagian dana perimbangan pusat dan daerah, bantuan keuangan pemerintah provinsi/kabupaten/desa, hibah, serta sumbangan dari pihak ketiga. Rasio kemandirian desa ditunjukkan dari besar kecilnya rasio kemandirian serta rasio ketergantungan desa terhadap sumber dana eksternal (dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dan desa). Semakin tinggi rasio keuangan desa, maka tingkat ketergantungan terhadap pihak eksternal (terutama pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dan desa) semakin rendah dan sebaliknya.

Rasio ini juga menggambarkan tingkat partisipasi suatu masyarakat dalam pembangunan desa. Dengan semakin tingginya rasio ini maka semakin tinggi pula partisipasi masyarakat dalam berswadaya dan berpartisipasi yang merupakan komponen utama pendapatan asli desa (PADes). Semakin tinggi tingkat masyarakat yang berswadaya serta berpartisipasi ini menggambarkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat sangat baik (Sumarna, 2017).

Berikut rumus untuk menghitung rasio kemandirian desa:

Untuk menilai tinggi rendahnya rasio kemandirian pemerintah desa bonto tengnga dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

15

Tabel 1

Tingkat Kemandirian atau Kemampuan Keuangan Desa Kemampuan Keuangan Kemandirian (%)

Rendah sekali 0-25%

Rendah 25%-50%

Sedang 50%-75%

Tinggi 75%-100%

(Sumber: Sumarna, 2017) b. Rasio Efektivitas

Rasio ini menggambarkan kemampuan pemerintah desa dalam merealisasikan pendapatan asli desa (PADes) yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil desa. Pemerintah desa dikatakan mampu menjalankan tugasnya apabila rasio yang dicapai minimal 1 sampai 100% akan tetapi semakin tinggi rasio ini maka itu menunjukkan bahwa kemampuan desa semakin baik (Sumarna, 2017).

Berikut rumus untuk menghitung rasio efektivitas:

Untuk menilai tingkat efektivitas keuangan pemerintah desa bonto tengnga dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2

Kriteria Efektivitas Keuangan Desa

Kriteria Efiktivitas Persentase Efektivitas (%)

Sangat efektif 100%

Efektif 90%-100%

Cukup efektif 80%-90%

Kurang efektif 60%-80%

Tidak efektif 60%

(Sumber: Sumarna, 2017) c. Rasio Efisiensi

Rasio ini menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan dalam memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima. Pemerintah desa dikatan efisien apabila rasio yang dicapai kurang dari 1 atau dibawah 100%, maka semakin kecil rasio efisiensi ini maka berarti kinerja pemerintah desa semakin baik. Kemudian pemerintah desa sangat perlu menghitung secara detail besarnya biaya yang dikeluarkan untuk merealisasikan semua pendapatan yang diterima. sehingga dapat diketahui cara memungut pendapatan yang efisien atau yang tidak efisien.

Hal ini harus atau perlu dilakukan, walaupun pemerintah desa sudah berhasil merealisasikan penerimaan pendapatan yang sesuai dengan target yang ditetapkan. Namun biaya untuk memperoleh pendapatan lebih besar dari pencapaian pendapatan dan itu menjadi sia-sia (Sumarna, 2017).

17

Berikut rumus untuk menghitung rasio efesiensi:

Untuk menilai tingkat efisiensi keuangan pemerintah desa bonto tengnga dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3

Kriteria Efisiensi Keuangan Desa

Kriteria Efisiensi Persentase Efisiensi (%)

Tidak efisien 100% keatas

Kurang efisien 90%-100%

Cukup efisien 80%-90%

Efisien 60%-80%

Sangat efisien Kurang dari 60%

(Sumber: Sumarna, 2017) D. Penelitian Terdahulu

Tabel 4

Bahwa penerapan sistem akuntabilitas pengelolaan alokasi dana desa (ADD) di wilayah kecamatan umbulsari sudah berdasarkan pada prinsip tanggungjawab yang sudah sesuai dengan ketentuan yang sudah ada. Dengan demikian, perlu dilakukan penyempurnaan secara berkelanjutan dengan tetap menyesuaikan situasi dan kondisi serta perkembangan peraturan perundang-undangan.

No Peneliti Judul Metode Hasil pemerintah desa dalam penyusunan anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes) di desa long nah kecamatan muara anclong kabupaten kutai timur sudah pendapatan dan belanja desa (APBDes) tahun 2015 di desa argorejo dan desa argodadi kecamatan sedayu kabupaten bantul secara bertahap mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan,

penatausahaan sampai pada tahap pelaporan dan pertanggungjawaban APBDes telah sesuai dengan Permendagri No.

113 Tahun 2014, namun dari sisi administrasi masih diperlukan adanya pembinaan lanjutan, karena belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan serta masih ada keterlambatan pada pelaporan akhir.

19 sudah dapat terkelola dengan baik. Hambatan dalam pengelolaan APBDes yaitu seperti dana yang turun dari pemerintah sehingga perangkat desa kesulitan

dalam proses

penyusunan APBDes sehingga penggunaan anggaran yang tidak sesuai dengan alokasi yang telah ditentukan sebelunya kareana adanya kebijakan yang berubah-ubah sehingga muncul upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi dan Pencatatan serta pelaporan yang dilakukan di desa kopandakan 1 sudah baik terlebih di tahun 2016 karena

semuanya telah

menggunakan aplikasi sistem keuangan desa dan sudah sesuai dengan petunjuk pelaksanaan bimbingan dan konsultasi pengelolaan keuangan desa dan Pemendagri No. 113 Tahun 2014.

Perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang yaitu, penelitian terdahulu lebih berfokus pada analisis pelaksanaan, pengelolaan, dan penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).

Sedangkan penelitian sekarang lebih berfokus pada analisis kinerja keuangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).

E. Kerangka Pikir

Kerangka pikir merupakan sintesa dari serangkaian taori yang tertuang dalam tinjauan pustaka, yang pada dasarnya merupakan gambaran sistematis dari kinerja teori dalam memberikan solusi atau alternatif dari serangkaian masalah yang ditetapkan. Secara skematis alur kerangka penelitian terdapat dalam gambar kerangka penelitian adalah sebagai berikut:

Gambar 1 Bagan Kerangka Pikir

Laporan Realisasi Desa Bonto Tengnga

Analisis Kinerja Keuangan

Analisis Rasio Keuangan Desa:

1. Rasio kemandirian desa 2. Rasio efektivitas

3. Rasio efisiensi

(Sumber: Sumarna, 2017)

Hasil Analisis Kinerja Keuangan Pemerintah Desa Bonto Tengnga

Pemerintah Desa Bonto Tengnga

21 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis adalah penelitian deskriptif kuantitatif, dimana penelitian deskriptif merupakan jenis penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan dan menyiapkan data serta menganalisis data, hingga mendapatakan gambaran yang sesuai atau yang jelas mengenai masalah yang diteliti. Sedangkan penelitian kuantitatif yaitu data yang didapatakan atau yang diperoleh dari laporan-laporan yang berhubungan dengan penelitian.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada Kantor Desa Bonto Tengnga dengan mengambil data dari bagian pengelolaan keuangan di Jalan Pendidikan, Dusun Maccini, Kelurahan/Desa Bonto Tengnga, Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten/Kota Sinjai, Provonsi Sulawesi Selatan, Kode Pos 92662.

2. Waktu Penelitian

Waktu yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mulai dari pengajuan judul hingga memperoleh data yang dibutuhkan maka waktu yang direncanakan kurang lebih 2 bulan yaitu mulai dari bulan April sampai dengan bulan Mei 2019.

Tabel 5 Jadwal Penelitian

No. Jenis Penelitian April Mei

I II III IV I II III IV 1. Pengajuan Judul 2. Penyusunan

Proposal

3.

Konsultasi

Bimbingan

4. Seminar Proposal 5. Pengurusan Surat

Izin Penelitian

C. Definisi Operasional

Kinerja keuangan adalah gambaran kondisi keuangan pada periode tertentu yang diukur dengan beberapa indikator kemudian disusun berdasarkan basis akrual.

Kinerja Keuangan Pemerintah adalah salah satu ukuran atau capaian yang dihasilkan dari kegiatan atau program sehubungan dengan anggaran yang ada. Melalui kinerja ini kita juga dapat melihat bagaimana kemampuan kinerja pemerintah didalam melaksanakan atau menjalankan tugasnya.

Anggaran pendapatan dan belanja desa (APBDes) merupakan suatu proses rencana keuangan tahunan pemerintah desa yang telah dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan badan permusyawaratan daerah yang ditetapkan dengan peraturan desa yang meliputi pendapatan, belanja, dan pembiayaan.

31

23

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Menurut sugiyono (2014:119) populasi adalah wilayah generalisasi yang terjadi atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini yaitu laporan realisasi APBDes desa bonto tengnga kabupaten sinjai.

2. Sampel

Menurut sugiyono (2014:120) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Sampel dalam penelitian ini yaitu laporan realisasi APBDes desa bonto tengnga kabupaten sinjai selama 3 tahun yaitu dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2018.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Observasi merupakan teknik pengumpulan data, dimana peneliti melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan.

2. Wawancara adalah pengumpulan data dengan cara menggunakan pertanyaan lisan kepada subyek penelitian. Hal in dilakukan untuk mendapatkan gambaran dari permasalahan yang biasanya terjadi karena sebab-sebab khusus yang tidak dapat disajikan.

3. Dokumentasi yaitu metode yang dilakukan untuk mencari atau mengumpulkan data sekunder agar mendapatkan data yang

mendukung dalam penelitian ini, misal catatan atau laporan keuangan, laporan realisasi, dan sebagainya.

F. Sumber Data

1. Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung oleh peneliti yang masih memerlukan pengelolaan lebih lanjut untuk dikembangkan dengan pemahaman sendiri. Data primer dalam penelitian ini yaitu gambaran umum Desa Bonto Tengnga.

2. Data sekunder yaitu sumber data penelitian yang diperoleh peneliti secara tidak langsung melalui media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak lain). Data sekunder umumnya berupa catatan laporan keuangan atau laporan histori yang telah tersusun dalam arsip (data dokumentasi) yang dipublikasikan dan yang tidak dipublikasikan. Data sekunder dalam penelitian ini yaitu Laporan Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) di Desa Bonto Tengnga.

G. Teknik Analisis Data

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif kuantitatif, dimana metode ini berfungsi untuk mengumpulkan, menginterprestasikan, dan mengolah data yang diperoleh serta memberikan penjelasan yang lengkap. berikut analisis yang digunakan dalam penelitian ini:

1. Rasio Kemandirian Keuangan Desa

Rasio kemandirian keuangan desa merupakan kemampuan desa dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat. Kemandirian keuangan desa dilihat pada besar kecilnya pendapatan asli desa (PADes) dibandingkan

25

dengan pendapatan desa yang berasal dari sumber lainnya seperti dana bagi hasil, bagian dana perimbangan pusat dan daerah, bantuan keuangan pemerintah/provinsi/kabupaten/desa, hibah, serta sumbangan dari pihak ketiga. Rasio kemandirian desa ditunjukkan dari besar kecilnya rasio kemandirian serta rasio ketergantungan desa terhadap sumbaer dana eksternal (dari pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota). Semakin tinggi rasio keuangan desa, maka tingkat ketergantungan terhadaap pihak eksternal (terutama pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dan desa) semakin rendah dan sebaliknya (Sumarna, 2017).

Berikut rumus untuk menghitung raso kemandirian desa:

2. Rasio Efektivitas

Rasio ini menggambarkan kemampuan pemerintah desa dalam merealisasikan pendapatan asli desa (PADes) yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan berdasarkan potensi riil desa. Pemerintah desa dikatakan mampu menjalankan tugasnya apabila rasio yang dicapai minimal 1 sampai 100% akan tetapi semakin tinggi rasio ini maka itu menunjukkan bahwa kemampuan desa semakin baik (Sumarna, 2017).

Berikut rumus untuk menghitung rasio efektivitas:

3. Rasio Efisiensi

Rasio ini menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan dalam memperoleh pendapatan dengan realisasi pendapatan yang diterima. Pemerintah desa dikatan efisien apabila rasio yang dicapai kurang dari 1 atau dibawah 100%, maka semakin kecil rasio efisiensi maka berarti kinerja pemerintah desa semakin baik.

Kemudian pemerintah desa sangat perlu menghitung secara detail besarnya biaya yang dikeluarkan untuk merealisasikan semua pendapatan yang diterima. sehingga dapat diketahui cara memungut pendapatan yang efisien atau yang tidak efisien (Sumarna, 2017).

Berikut rumus untuk menghitung rasio efisiensi:

27 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian 1. Data Umum

a. Sejarah Desa

Bonto tengnga merupakan desa dari hasil pemekaran desa batu belerang pada tahun 2002 berdasarkan inisiatif BPD bersama tokoh masyarakat yaitu dengan bukti dibentuknya desa persiapan pada bulan april tahun 2002 yang diberi nama desa bonto tengnga dan resmi menjadi desa definitif pada bulan juni 2003, untuk pemberian nama bonto tengnga sendiri, menurut cerita tokoh masyarakat nama tersebut berasal dari salah satu kampung yang yang berada di dusun tajjuru yang dikenal dengan “kampung tengnga”, akhirnya pada saat dibentuknya desa semua masyarakat sepakat dengan nama desa bonto tengnga.

Setelah terbentuknya desa bonto tengnga sebagai desa persiapan pada tahun 2002, kemudian pada awal berdirinya desa bonto tengnga dipimpin oleh seorang kepala untuk pertama kalinya yaitu oleh bapak Syafaruddin sampai dengan tahun 2016, kemudian kepemimpinan selanjutnya digantikan oleh pabak Kaswan Mahmud sampai saat ini, sementara struktur pemerintahan desa bonto tengnga dalam menata pemerintahannhya dengan membagi 4 (empat) dusun yaitu: dusun Maccini, dusun Pattiroang, dusun Tajjuru, dan dusun Balantieng.

b. Kondisi Demokrafi

Desa bonto tengnga adalah salah satu desa di kecamatan sinjai borong yang mempunyai luas wilayah 693,84 Ha, jumlah penduduk desa bonto tengnga sebanyak 1714 jiwa yang terdiri dari 853 laki-laki dan 881 perempuan dengan jumlah kepala keluarga

Desa bonto tengnga adalah salah satu desa di kecamatan sinjai borong yang mempunyai luas wilayah 693,84 Ha, jumlah penduduk desa bonto tengnga sebanyak 1714 jiwa yang terdiri dari 853 laki-laki dan 881 perempuan dengan jumlah kepala keluarga

Dokumen terkait