• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian …

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat bagi semua pihak, antara lain:

a. Dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan referensi serta memberikan kontribusi konseptual bagi peneliti selanjutnya utamanya dalam memajukan ilmu pengetahuan dibidang akuntansi keuangan.

b. Bagi para pengguna laporan keuangan seperti investor, calon investor, analis pasar modal, serta pengguna laporan keuangan lainnya agar dapat mengukur persistensi laba dengan benar.

c. Memanfaatkan karakteristik data akuntansi sehingga memberikan alternatif untuk meramalkan laba masa depan.

A. Tinjauan Teori

1. Teori Sinyal (signalling theory)

Teori sinyal (signalling theory) pertama kali dikemukakan oleh Spence (1973).

Teori sinyal didasarkan pada asumsi bahwa informasi yang diterima oleh masing-masing pihak tidak sama. Dengan kata lain, teori sinyal berkaitan dengan asimetri informasi. Teori sinyal menunjukkan adanya asimetri informasi antara manajemen perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan informasi. Untuk itu, manajer perlu memberikan informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan melalui penerbitan laporan keuangan.

Teori sinyal mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pengguna laporan keuangan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa saja yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Sinyal dapat berupa promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lain. Manajer memberikan informasi melalui laporan keuangan bahwa mereka menerapkan kebijakan akuntansi konservatisme yang menghasilkan laba yang lebih berkualitas karena prinsip ini mencengah perusahaan melakukan tindakan membesar-besarkan laba dan membantu pengguna laporan keuangan dengan menyajikan laba dan aktiva yang tidak overstate.

Informasi yang diterima oleh investor terlebih dahulu diterjemahkan sebagai sinyal yang baik (good news) atau sinyal yang jelek (bad news). Apabila laba

yang dilaporkan oleh perusahaan meningkat maka informasi tersebut dapat dikategorikan sebagai sinyal baik karena mengindikasikan kondisi perusahaan yang baik. Sebaliknya apabila laba yang dilaporkan menurun maka perusahaan berada dalam kondisi tidak baik sehingga dianggap sebagai sinyal yang jelek.

Hubungan teori dengan penelitian ini adalah Motivasi sinyal memberikan dorongan pada manajemen untuk melakukan kebijakan akrual, yaitu manajemen akan memaparkan laporan laba yang dapat mencerminkan laba sesungguhnya untuk mengarahkan pada persistensi laba berdasarkan dorongan dari motivasi sinyal.

2. Persistensi Laba

Laporan laba berguna bagi pengguna laporan keuangan seperti: Investor, kreditur dan pihak lain. Investor dan kreditur biasanya menggunakan informasi pendapatan saat ini untuk memprediksi pendapatan masa depan. Agar prediksi yang diperoleh tepat, investor membutuhkan laba yang berkualitas untuk menjamin informasi laba tersebut bermanfaat. Kualitas laba adalah penilaian seberapa baik laba perusahaan dapat diulang, dikendalikan, dan dijalankan (Kepramareni et al., 2021). Agar ramalan yang dihasilkan benar, investor membutuhkan pengembalian yang berkualitas tinggi untuk memastikan bahwa informasi laba bermanfaat.

Persistensi kualitas laba ditentukan dari segi kegunaannya dalam pengambilan keputusan, terutama dalam penilaian saham, laba yang berkualitas tinggi adalah laba dengan profitabilitas yang kuat memprediksi pendapatan masa depan (Schipper & Vincent, 2003). Atas dasar tersebut, laba dengan kualitas yang baik adalah laba yang persisten ditandai dengan laba

tersebut mampu memberikan gambaran laba yang berkelanjutan, yaitu keuntungan terus-menerus, tahan lama dan tidak berumur pendek. Kontinuitas pendapatan / persistensi laba di tingkat perusahaan ditentukan berdasarkan keuntungan masing-masing perusahaan selama setahun (Sutisna & Ekawati, 2016).

3. Definisi Rekonsiliasi Fiskal

Kusuma et al., (2019) dalam buku Praktikum Pajak Penghasilan (PPh Badan) menyebutkan bahwa penyesuaian fiskal (Rekonsiliasi fiskal) adalah proses penyesuaian laporan keuangan, khususnya laporan laba rugi yang disusun berdasarkan Pedoman Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dengan peraturan perpajakan.

4. Timbulnya Rekonsiliasi Fiskal

Hal-hal yang menimbulkan perbedaan antara prinsip akuntansi yang berlaku umum dengan UU perpajakan antara lain :

1. Perbedaan konsep penghasilan Contoh :

1) Dividen yang diterima oleh PT. Yayasan, Koperasi, BUMN/BUMD.

2) Sisa cadangan kerugian pihutang bagi bank, leasing, dan asuransi.

2. Perbedaan cara pengukuran penghasilan Contoh :

Penjualan diukur sebesar jumlah yang dibebankan kepada pembeli tidak melihat apakah ada hubungan istimewa atau tidak.

3. Perbedaan konsep biaya

Pengeluaran yang dapat dibebankan sebagai biaya yaitu semua pengorbanan ekonomis dalam rangka memperoleh barang dan jasa. Tidak terbatas hanya biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan saja. Singkatnya, biaya menurut pajak merupakan pengeluaran-pengeluaran yang ada kaitannya langsung dengan perolehan penghasilan.

4. Perbedaan cara pengukuran biaya

Sama dengan cara pengukuran penghasilan, jika ada transaksi yang tidak wajar karena hubungan istimewa maka transaksi tersebut harus dikoreksi.

5. Perbedaan cara pembebanan atau alokasi biaya Contoh :

1) Penyusutan, hanya metode garis lurus dan saldo menurun dengan tarif yang telah ditentukan.

2) Pengakuan kerugian pihutang hanya menggunakan metode langsung.

3) Penilaian persediaan hanya menggunakan metode rata-rata dan FIFO.

6. Adanya penghasilan yang kena pajak penghasilan secara final. Penghasilan yang dikenakan pajak secara final berarti telah diperhitungkan pajak penghasilannya sehingga tidak perlu diperhitungkan lagi dalam menghitung pajak penghasilan di akhir tahun maka harus dikeluarkan dari laporan perhitungan laba (rugi).

5. Klasifikasi Penghasilan dan Biaya (dalam perpajakan) a. Penghasilan

Menurut UU No.36 Tahun 2008 Pasal 4 ayat (1) dijelaskan bahwa yang menjadi objek pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang berasal dari

Indonesia maupun luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk :

a. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali ditentukan dalam Undang-Undang ini;

b. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan; penghargaan;

c. Laba usaha;

d. Keuntungan Karena penjualan atau karena harta masuk

e. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya dan pembayaran tambahan pengembalian pajak;

f. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan pengembalian hutang;

g. Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;

h. Royalti atau imbalan atas penggunaan hak;

i. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan harta;

j. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;

k. Keuntungan jarena pembebasan hutang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah;

l. Keuntungan selisih kurs mata uang asing;

m. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva;

n. Premi asuransi;

o. Iuran yang diterima atau diperboleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri dari wajib pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;

p. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak;

q. Penghasilan dari usaha berbasis syariah;

r. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan; dan

s. Surplus Bank Indonesia

Pada ayat (2) di sebutkan pula jenis penghasilan yang dikenai pajak bersifat final:

a. Penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat hutang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang pribadi;

b. Penghasilan berupa hadiah undian;

c. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh perusahaanmodal ventura;

d. Penghasilan dari tranaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan usaha jasa konstruksi, usaha real estate, dan persewaan tanah dan bangunan dan;

e. Penghasilan tertentu lainnya,

Kemudian pada ayat (3) tertuang bahwa yang dikecualikan dari Objek Pajak adalah :

a. Bantuan atau sumbangan serta harta hibahan

1. Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh

2. Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial

3. termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan peraturan menteri keuangan, sepanjang tidak ada hubungannya dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak bersangkutan;

b. Warisan;

c. Harta termasuk setoran tunai yang diterima aleh badan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (!) huruf b sebagai pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal;

d. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diterima atau diperbolehkan dalam bentuk natura dan/ atau kenikmatan dari wajib pajak atau pemerintah;

e. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi beasiswa;

f. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh dari perusahaan perseroan terbatas sebagai wajib pajak dalam negeri, koperasi, atau badan usaha milik negara, atau badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat :

a. Dividen berasal dari laba yang ditahan; dan

b. Bagi perseroan terbatas, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah25% (dua puluh lima persen) dari modal yang disetor.

g. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja maupun pegawai;

h. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana dimaksud pada huruf g, dalam bidang- bidang tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan;

i. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komenditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif;

j. Dihapus

k. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut:

1. Merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah, atau yang menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; dan

2. Sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek.

l. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan menteri keuangan;

m. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan pengembangan, yang telah terdaftar –pada instansi yang membidanginya, yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih lanjut, yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan berdasarkan peraturan menteri keuangan; dan

n. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial Kepada Wajib Pajak tertentu. Yang ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

b. Beban

Berdasarkan UU No. 36 Tahun 2008 Pasal 6 ayat (1) besarnya penghasilan kena pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan termasuk :

a. Biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha, antara lain:

1. Biaya pembelian bahan;

2. Biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang;

3. Bunga, sewa, dan royalti;

4. Biaya perjalanan;

5. Biaya pengelolahan limbah;

6. Premi asuransi;

7. Biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;

8. Biaya administrasi; dan

9. Pajak kecuali Pajak Penghasilan;

b. Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun sebagaimana dalam pasal 11 dan 11A;

c. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan;

d. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan;

e. Kerugian selisih kurs mata uang asing;

f. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia;

g. Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan;

h. Pihutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih;

i. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana sosial yang ketentuanya diatur dalam dengan Peraturan Pemerintah;

j. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan di Indonesia yang ketentuannya diatur dalam Peraturan Pemerintah;

k. Biaya bangunan infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah;

l. Sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah;

m. Sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah;

5. Pembukuan Sebagai Dasar Perhitungan Pajak

Pembukuan sebagai dasar perhitungan pajak menurut UU No.7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No. 36 Tahun 2008, dalam pasal 16 menyebutkan bahwa salah satu cara untuk menghitung besarnya penghasilan kena pajak adalah Penghasilan bruto dikurangi dengan biaya dan beban seperti yang dimaksud pada pasal 4 ayat (1), pasal 6 dan pasal 9, dan untuk bentuk usaha tetap (BUT) Disebutkan pada pasal 5 ayat (2) dan ayat (3). Pasal tersebut dengan jelas menyatakan bahwa dasar yang dapat digunakan untuk memperoleh penghasilan kena pajak adalah penghasilan bruto dikurangi biaya dan pengeluaran, yang tidak lebih dari pembukuan. Dalam jenis pembukuan ini, informasi terpenting untuk menghitung pajak penghasilan terhutang adalah penghasilan dan pengeluaran. Proses pencocokan antara pendapatan dan beban tercermin dalam laporan perhitungan laba rugi badan usaha.

6. Ketentuan Penghasiln Kena pajak (pasal 9 UU No. 36 Tahun 2008) Dalam ayat (1) ditegaskan bahwa besarnya penghasilan kena pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan;

a. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen termasuk dividen yang dibayarkan perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi;

b. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu, atau anggota;

c. Pembentukan dan penumpukan dana cadangan;

d. Premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan asuransi beasiswa, yang dibayar oleh wajib pajak orang pribadi, kecuali jika dibayar oleh pembeli kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan kena pajak bagi wajib pajak yang bersangkutan;

e. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan;

f. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan;

g. Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 4 ayat 3) huruf a dan huruf b.

h. Pajak penghasilan

i. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi wajib pajak atau orang yang menjadi tanggungannya;

j. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham;

k. Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan undang-undang di bidang perpajakan.

7. Perbedaan Dalam rekonsiliasi Fiskal

Perbedaan dasar penyusunan dalam penghitungan laba menurut komersial dengan menurut fiskal atau perpajakan, menyebabkan perbedaan jumlah antara penghasilan sebelum pajak (laba akuntansi) dengan penghasilan kena pajak (laba fiskal). Penyebab perbedaan antara penghasilan sebelum pajak dengan penghasilan kena pajak dapat dikategorikan menjadi perbedaan permanen (permanent differences) dan perbedaan temporer (temporary differences) (Trisnasari et al., 2017).

1. Beda tetap / Permanen (Permanent Difference)

Perbedaan antara laporan keuangan komersial dengan laporan keuangan fiskal ini juga menyangkut masalah pendapatan atau beban tetapi tidak berhubungan dengan periode tetapi jumlah itulah yang dipersoalkan. Sebagai contoh, pendapatan yang diperoleh dari bunga deposito memang secara akuntansi komersial akan masuk sebagai penghasilan, tetapi aturan perpajakan tidak masuk dalam penghasilan kena pajak yang diterapkan dengan tarif pajak pasal 17 Undang-Undang Pajak Penghasilan karena pengenaan pajak atas bunga deposito bersifat final. Demikian halnya dengan biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam bentuk natura dan kenikmatan.

2. Beda Waktu pengakuan (Time Difference)

Perbedaan terhadap jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan komersial dengan laporan keuangan fiskal dapat terjadi akibat perbedaa waktu pengakuan pendapatan dan beban. Hal ini berakibat adanya penundaan pengakuan. Sebagai contoh, penyusutan aset tetap dengan masa/umur ekonomis 10 tahun, tetapi menurut akuntansi perpajakan hanya terbatas (empat)

tahun karena masuk dalam kelompok 1, sehingga alokasi beban penyusutan dalam kurun waktu yang berbeda pula.

8. Koreksi Fiskal Positif dan Koreksi Fiskal Negatif Penyesuaian fiskal dibedakan menjadi dua :

1. Koreksi Fiskal Positif

Penyesuaian fiskal yang berdampak kepada naik atau bertambahnya laba fiskal disebut koreksi fiskal positif. Secara sederhana, koreksi fiskal positif terhadap penghasilan terjadi apabila penghasilan fiskal lebih besar dibandingkan dengan penghasilan menurut PSAK. Sebaliknya, biaya koreksi positif dapat terjadi apabila biaya fiskal lebih kecil dbandingkan menurut biaya PSAK, yang terdiri dari:

a. Adanya beban yang tidak diakui (non deductible expense) Oleh pajak (beban kecil-laba tinggi-Pajak Tinggi).

b. Penyusutan Komersial lebih besar dari Penyusutan Paiak.

c. Amortisasi Komersial lebih besar dari Amortisasi Pajak d. Penyesuaian Fiskal Positif Lainnya

2. Koreksi Fiskal Negatif

Penyesuaian fiskal yang berdampak pada turun atau berkurangnya laba fiskal disebut koreksi fiskal negatif. Secara sederhana, koreksi fiskal negatif terhadap penghasilan terjadi apabila penghasilan fiskal lebih kecil dibandingkan dengan penghasilan menurut PSAK. Sebaliknya, biaya koreksi positif terjadi apabila biaya fiskal lebih besar dibandingkan biaya menurut PSAK, yang terdiri dari:

1. Penghasilan yang tidak termasuk Objek Pajak (Penghasilan kecil - Laba Kecil - Pajak kecil / Rendah)

2. Penghasilan yang dikenakan PPh Final (pasal 4 Ayat 2 UU PPh) 3. Penyusutan Komersial lebih Kecil dari Penyusutan Pajak

4. Amortisasi Komersial lebih Kecil dari Amortisasi Pajak

5. Penghasilan yang ditangguhkan pengakuannya f. Penyesuaian Fiskal Negatif Lainnya

Gambar 2.1 Hirarki Alur Perbedaan Laba Akuntansi dan Laba Fiskal PSAK

Permanen Temporer

Pajak Laba Fiskal

Undang-Unndang

Akuntansi Laba Komersil

Pasal 4(2), pasal 4(3), pasal 9(1)

Pasal 6(1), pasal 10(6), pasal 11 dan pasal 11 A Perbedaan

Rekonsiliasi

Koreksi Negatif (Laba turun, pajak kecil) Koreksi Positif

(laba naik, pajak besar)

9. Leverage

Perusahaan mempunyai ketergantungan atau keterjeratan dengan hutang, yang dalam istilah bisnis modern disebut leverage. Leverage adalah penggunaan asset dan sumber dana yang memiliki beban (biaya) tetap dengan maksud untuk meningkatkan keuntungan potensial pemegang saham (Prananditya et al., 2021). Leverage terdiri dari dua jenis yaitu operating leverage dan financial leverage. Operation leverage adalah penggunaan asset dengan beban tetap, sedangkan financial leverage adalah penggunaaan dana dengan beban tetap. Seringkali para kreditor dan stockholder tertarik dengan melihat besarnya operating leverage dan financial leverage suatu perusahaan.

Semakin tinggi tingkat hutang yang dimiliki perusahaan maka semakin besar beban bunga hutang yang harus dikeluarkan, yang akan berdampak pada laba yang dihasilkan, disebabkan beban bunga tinggi maka laba perusahaan akan menurun, sebaliknya , jika beban bunga lebih rendah, laba akan meningkat (Rahmawati, 2019). Maka dari itu, perusahaan dengan leverage yang tinggi dapat menyebabkan investor takut untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut, karena investor akan beranggapan bahwa perusahaan akan membayar krediturnya terlebih dahulu, sehingga menghasilkan reaksi pasar yang relatif rendah.

B. Tinjauan Empiris

Sebelum melakukan penelitian lebih jauh, seorang peneliti diharuskan mengemukakan penelitian terdahulu guna membandingkan keakuratan, kebenaran, dan kejelasan suatu penelitian yang berfungsi sebagai pembanding.

Maka dari itu, penulis memaparkan hasil penelitian yang akan dijadikan acuan

untuk di pelajari lebih jauh. Dari judul yang diangkat penulis yaitu “Pengaruh Perbedaan Laba Komersil dan Fiskal, Leverage Terhadap Persistensi laba pada PT. Perkasa Agung Sejati” didapati penelitian terdahulu yaitu :

Tabel 2.1

terhadap

leverage, fee

4. Maleong et al., (2021)

pada

5. Diharjo & Leon, (2020)

Dengan

laba.

Persistensi

10. Suhayati et al., (2021)

laba.

Sedangkan tingkat hutang, arus kas operasi dan

volatilitas penjualan tidak memiliki pengaruh terhadap persistensi laba.

C. Kerangka Pikir

Kerangka pikir adalah struktur teori akuntansi yang didasarkan pada penalaran logis yang menjelaskan kenyataan yang terjadi dan menjelaskan apa yang harus dilakukan apabila ada fakta atau fenomena baru.

Gambar 2.2 Kerangka Pikir

PT. PERKASA AGUNG SEJATI

Laporan Keuangan

Neraca

leverage Perbedaan laba

komersil dan fiskal Laporan laba (rugi)

Analisis

Debt to equity ratio

Kesimpulan

Rasio perbedaan temporer

Rasio perbedaan permanen

Persistensi Laba

Koreksi fiskal positif atau koreksi fiskal

negatif

Berlandaskan kerangka pikir yang diperlihatkan persistensi laba dipengaruhi oleh perbedaan laba komersil dan fiskal serta leverage. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif yaitu perbandingan, atas perubahan, pertumbuhan antara perbedaan laba komersil dan fiskal, leverage, dan persistensi laba pada tahun 2017 sampai dengan 2019 yang pada kesimpulan penelitian ini akan diketahui bagaimana persistensi laba perusahaan apabila diukur menggunakan rasio perbedaan temporer, rasio perbedaan permanen serta rasio leverage khususnya pada PT. Perkasa Agung Sejati.

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif. penelitian kuantitatif diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif / statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotetsis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2019). Dalam penelitian ini, data kuantitatif yang digunakan adalah laporan keuangan PT. Perkasa Agung Sejati.

Penelitian deskriptif dijadikan dasar menganalisis serta menarik kesimpulan guna menganalisis pengaruh perbedaan laba komersil dan fiskal serta leverage

Penelitian deskriptif dijadikan dasar menganalisis serta menarik kesimpulan guna menganalisis pengaruh perbedaan laba komersil dan fiskal serta leverage

Dokumen terkait