BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Penyajian Data (Hasil Penelitian)
1. Laba Komersil PT. Perkasa Agung Sejati
Persistensi laba merupakan laba (sebelum rekonsiliasi fiskal) yang diharapkan di masa depan dan di proyeksikan dengan laba tahun berjalan. Adapun laba komersil PT. Perkasa Agung Sejati 3 tahun dalam rentan waktu 2017 – 2019, yaitu :
Table 4.1 Data Laba Komersil PT. Perkasa Agung Sejati (dalam jutaan)
Tahun Laba Komersil / Akuntansi
2017 Rp. 6.944.378.657,60
2018 Rp. 5.366.927.166,67
2019 Rp. 6.415.816.971,74
Gambar 4.2 Grafik Laba Komersil PT. Perkasa Agung Sejati
Sumber : Laporan Keuangan PT. Perkasa Agung Sejati
Berdasarkan tabel 4.1 Laba yang di dapatkan PT. Perkasa Agung Sejati dalam rentan periode 2017 sampai dengan 2019 berada pada
1.000,00 2.000,00 3.000,00 4.000,00 5.000,00 6.000,00 7.000,00
2017 2018
2019
Millions
Penghasilan Pertahun
kisaan 18 M – 20 M. Berdasarkan tabel tersebut dilihat dari tahun 2017 sampai dengan 2019 laba diatas termasuk laba yang tidak persisten atau mengalami penurunan sebesar 1.5 M dibanding tahun sebelumnya.
Semakin persisten laba maka semakin tinggi harapan peningkatan laba di masa mendatang.
2. Beda Waktu Temporer
Perbedaan temporer adalah perbedaan pengakuan atas pendapatan dan biaya menurut SAK dengan Ketentuan Perpajakan yang dikarenakan perbedaan waktu (Heri Prasetyo & Rafitaningsih, 2015).
Perbedaan waktu positif terjadi karena adanya pengakuan beban untuk akuntansi lebih lambat dari pengakuan beban untuk pajak atau pengakuan penghasilan untuk tujuan pajak lebih lambat dari pengakuan penghasilan untuk tujuan akuntansi. Perbedaan waktu negatif terjadi jika ketentuan perpajakan mengakui beban lebih lambat dari pengakuan beban akuntansi komersial atau akuntansi penghasilan mengakui penghasilan lebih lambat dari pengakuan penghasilan menurut ketentuan pajak. Untuk tujuan pelaporan keuangan, pendapatan diakui ketika diperoleh dan biaya diakui pada saat terjadinya (accrual basic). Menurut Persada & Martani (2010) perbedaan emporer sebagai indikator perbedaan laba komersil dan fiskal yang didapat dari laporan keuangan bagian rekonsiliasi fiskal dan dibagi dengan total aktiva.
Perbedaan Temporer = Total Perbedaan Temporer : Total Aset Tabel 4.2 Perbedaan waktu temporer laporan keuangan PT. Perkasa
Agung Sejati
Tahun Akun Nilai Nominal Total Aktiva Indikator
Sumber : Laporan Keuangan PT. Perkasa Agung Sejati Berdasarkan tabel 4.2 dapat diuraikan data sebagai berikut :
a. Pada tahun 2017 jumlah perbedaan temporer yaitu sebesar Rp. 13,9 juta, hal ini berarti jumlah perbedaan laba yang diakui berdasarkan aturan perpajakan untuk perbedaan yang timbul karena adanya perbedaan waktu pengakuan atas pendapatan dan biaya adalah sebesar Rp. 13,9 juta sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaan laba komersil dan fiskal untuk perbedaan temporer menambah laba fiskal yang berarti laba yang dikenakan pajak pun jumlahnya bertambah dari laba akuntansi dan nilai indokator perbedaan temporer adalah 0,000105.
b. Pada tahun 2018 jumlah perbedaan temporer yaitu sebesar Rp. 23,5 juta, hal ini berarti jumlah perbedaan laba yang diakui berdasarkan aturan perpajakan untuk perbedaan yang timbul karena adanya perbedaan waktu pengakuan atas pendapatan dan biaya adalah sebesar Rp. 23,5 juta sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaan laba komersil dan fiskal untuk perbedaan temporer menambah laba fiskal yang berarti laba yang dikenakan pajak un
jumlahnya bertambah dari laba akuntansi dan nilai indikator perbedaan temporer adalah 0,000204.
c. Pada tahun 2019 jumlah perbedaan temporer yaitu sebesar Rp. 50,8 juta, hal ini berarti jumlah perbedaan laba yang diakui berdasarkan aturan perpajakan untuk perbedaan yang timbul karena adanya perbedaan waktu pengakuan atas pendapatan dan biaya adalah sebesar Rp. 50,8 juta sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa perbedaan laba komersil dan fiskal untuk perbedaan temporer menambah laba fiskal yang berarti laba yang dikenakan pajak un jumlahnya bertambah dari laba akuntansi dan nilai indokator perbedaan temporer adalah 0,000318.
3. Beda Waktu Permanen
Perbedaan permanen adalah perbedaan yang terjadi karena peraturan perpajakan menghitung laba fiskal berbeda dengan perhitungan menurut standar akuntansi keuangan tanpa ada koreksi dikemudian hari. Misalnya, pedapatan jasa giro yang diakui sebagai pendapatan dalam laba akuntansi tetapi tidak diakui dalam laba fiskal. Menurut (Persada &
Martani, 2010) perbedaan permanen sebagai indikator book-tax differences didapat dari laporan keuangan pada bagian rekonsiliasi fiskal dan dibagi dengan total aktiva.
Perbedaan permanen = Jumlah perbedaan permanen : Total aktiva
Tabel 4.3 Perbedaan waktu permanen laporan keuangan PT. Perkasa Agung Sejati
Tahun Akun Nilai Nominal Total Aktiva Indikator
2017
Pendapatan jasa giro (33,158,781)
132,979,206,268 -0.000396 Pendapatan lain-lain (30,000,000)
Biaya perjalanan dinas 10,500,000
Total (52,658,781)
2018
Pendapatan jasa giro (55,739,017)
115,138,471,652 -0.000590 Pendapatan lain-lain (25,000,000)
Biaya perjalanan dinas 12,750,500
Total (67,988,517)
2019
Pendapatan jasa giro (38,705,899)
159,881,922,103 -0.000414 Pendapatan lain-lain (33,000,000)
Biaya perjalanan dinas 5,465,874
Total (66,240,025)
Sumber : Laporan Keuangan PT. Perkasa Agung Sejati
Berdasarkan tabel 4.3 dapat dijelaskan data berupa :
a. Pada tahun 2017 Jumlah perbedaan permanen adalah sebesar Rp. 52,6 juta hal ini berarti jumlah perbedaan Laba yang diakui berdasarkan Peraturan Perpajakan untuk perbedaan yang timbul karena adanya perbedaan pengakuan atas pendapatan dan biaya secara permanen tanpa adanya koreksi dikemudian hari adalah sebesar Rp. 52,6 juta sehingga dapat disimpulkan bahwa selisih laba akuntansi dan laba fiskal untuk selisih permanen mengurangi laba fiskal yang berarti laba yang di kenakan pajak pun jumlahya berkurang dari laba akuntansi dan nilai indikator perbedaan permanen adalah -0,000396.
b. Pada tahun 2018 Jumlah perbedaan permanen adalah sebesar Rp. 67,9 juta hal ini berarti jumlah perbedaan Laba yang diakui berdasarkan peraturan perpajakan untuk perbedaan yang timbul karena adanya perbedaan pengakuan atas pendapatan dan biaya secara permanen tanpa adanya
koreksi dikemudian hari adalah sebesar Rp. 67,9 juta sehingga dapat disimpulkan bahwa selisih laba Akuntansi dan laba Fiskal untuk selisih permanen mengurangi laba fiskal yang berarti laba yang di kenakan pajak pun jumlahya berkurang dari laba akuntansi dan nilai indikator perbedaan permanen adalah -0,000590.
c. Pada tahun 2019 Jumlah perbedaan permanen adalah sebesar Rp. 66,2 juta hal ini berarti jumlah perbedaan Laba yang diakui berdasarkan peraturan perpajakan untuk perbedaan yang timbul karena adanya perbedaan pengakuan atas pendapatan dan biaya secara permanen tanpa adanya koreksi dikemudian hari adalah sebesar Rp. 66,2 juta sehingga dapat disimpulkan bahwa selisih laba Akuntansi dan laba Fiskal untuk selisih permanen mengurangi laba fiskal yang berarti laba yang di kenakan pajak pun jumlahya berkurang dari laba akuntansi dan nilai indikator perbedaan permanen adalah -0,000414.
4. Rekonsiliasi Fiskal
Rekonsiliasi (koreksi) Fiskal adalah proses penyesuaian laporan keuangan, khususnya laporan laba rugi yang disusun berdasarkan Pedoman Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dengan peraturan perpajakan (Kusuma et al., 2019). Perbedaan-perbedaan antara akuntansi dan fiskal tersebut dapat dikelompokkan menjadi beda tetap / permanen (permanen differences) dan beda waktu / sementara (timing differences).
Tabel 4.4 Rekonsiliasi Fiskal
Periode Laba Komersil Beda Temporer Beda Permanen Laba Fiskal 2017 6,944,378,657 13,994,112 (52,658,781) 6,905,713,988 2018 5,366,927,166 23,534,460 (67,988,517) 5,322,473,109 2019 6,415,816,971 50,876,953 (66,240,025) 6,400,453,899
Sumber : Laporan Keuangan PT. Perkasa Agung Sejati
5. Leverage
Leverage merupakan kemampuan untuk mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan hutang. Leverage menjadi lebih besar ketika banyak pula hutang jangka panjang yang ada di dalam perusahaan tersebut.
Perhitungan leverage dapat menggunakan Debt to Equity Ratio.
DER : Total hutang : Total Ekuitas Tabel 4.5 Leverage
Periode Laporan Keuangan
Total Hutang Total Aktiva Leverage
2017 63,904,997,648 132,979,206,268 0.5
2018 42,872,400,775 115,138,471,652 0.4
2019 125,633,509,155 159,881,922,103 0.8
Sumber : Laporan Keuangan PT. Perkasa Agung Sejati
6. Persistensi Laba
Persistensi laba adalah laba (sebelum rekonsiliasi fiskal) yang diharapkan di masa depan dan diproyeksikan dengan laba tahun berjalan. Adapun rumus yang dipakai dalam mengukur persistensi laba adalah mengacu pada penelitian sebelumnya yang dilakukan (Putri et al., 2017).
(Laba sebelum pajak t – laba sebelum pajak t-1) : total Aktiva.
Tabel 4.6 Persistensi Laba
Tahun Laba Sebelum Pajak
Laba Sebelum
Pajak Tahun Total Aktiva Indikator Sebelumnya
2017 6,944,378,657 5,607,540,490 132,979,206,268 0.010053 2018 5,366,927,166 6,944,378,657 115,138,471,652 (0.013700) 2019 6,415,816,971 5,366,927,166 159,881,922,103 0.006560
Sumber : Laporan Keuangan PT. Perkasa Agung Sejati
Semakin tinggi (mendekati angka 1) koefisiennya menunjukkan persistensi laba yang dihasilkan tinggi, sebaliknya jika nilai koefisiennya mendekati nol, persistensi labanya rendah atau laba transitorinya tinggi. Jika nilai koefisiennya bernilai negatif, pengertiannya terbalik, yaitu nilai koefisien yang lebih tinggi menunjukkan kurang persisten, dan nilai koefisien yang lebih rendah menunjukkan lebih persisten. Penelitian persistensi laba dengan menggunakan model ini telah dilakukan oleh Fanani, (2010).
Berdasarkan tabel 4.6 indikator persistensi laba nilai yang ditemukan setelah mengurangkan laba tahun berjalan dengan laba tahun sebelumnya dan dibagi dengan total asset maka nilai indikator persistensi laba dari tahun 2017 sampai dengan 2019 adalah –0.013700 sampai 0.010053, Pada tahun 2017 nilai indikator persistensi laba sebesar 0.010053 menunjukkan persistensi laba yang dihasilkan tinggi, pada tahun 2018 nilai indikator persistensi laba sebesar -0.013700 menunjukkan persitensi laba rendah, dan pada tahun 2019 nilai indikator persistensi laba adalah 0.006560 menunjukkan persistensi laba lebih rendah dibanding tahun 2017.