• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen BERLIAN INDRA PUTRI K (Halaman 22-0)

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

a. Bagi akademis/lembaga pendidikan

Hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi bagi akademis/lembaga pendidikan tentang pentingnya penerapan model mind mapping (peta pikiran) dalam mendukung proses pembelajaran khususnya pelaksanaan pembelajaran IPS.

b. Bagi peneliti selanjutnya

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya, yaitu penelitian yang berhubungan dengan model Mind mapping (peta pikran) sebagai bahan kajian untuk meningkatkan hasil belajar murid khususnya pada mata pelajaran IPS.

2. Manfaat Praktis a. Bagi penulis

Menambah pengetahuan penulis tentang model mind mapping (peta pikiran) sebagai salah satu model yang inovatif dalam pembelajaran.

b. Bagi Murid

1) Murid dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengingat, berkonsentrasi, dan membuat catatan yang efektif.

2) Murid dapat mengembangkan kreativitas dan imajinasinya dalam pembelajaran IPS.

3) Murid dapat termotivasi agar aktif dalam proses pembelajaran.

4) Murid dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

c. Bagi Guru

1) Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan untuk meningkatkan proses pembelajaran dengan menambah variasi model.

2) Menjadi bahan acuan dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang sesuai.

d. Bagi Sekolah

1) Memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah serta kondusifnya iklim pendidikan di sekolah, khususnya

pembelajaran IPS dan umumnya seluruh mata pelajaran yang ada di sekolah.

2) Memberikan masukan dalam mengefektifkan pembinaan dan pengelolaan proses belajar mengajar dalam pelaksanaan pendidikan.

9 BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A. Kajian Pustaka 1. Hasil Belajar a. Pengertian Belajar

Untuk mengerti apa yang dimaksud dengan hasil belajar, maka terlebih dahulu dikemukakan apa yang dimaksud belajar, sehingga pengertian hasil belajar lebih mudah dipahami. Belajar adalah istilah kunci yang paling penting dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan usaha pendidikan.

Karena demikian pentingnya arti belajar, maka berbagai usaha pun diarahkan pada tercapainya pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia itu.

Belajar merujuk pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek yang menerima pelajaran (murid). Belajar bukan hanya kegiatan megumpulkan dan menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi atau materi pelajaran. Belajar merupakan proses perubahan, dimana perubahan tersebut merupakan hasil dari pengalaman. Seperti yang dikemukakan oleh Purwanto (2002: 85) mengemukakan belajar adalah “ Suatu perubahan dalam tingkah laku, di mana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang buruk”.

Belajar merupakan salah satu masalah yang selalu dibicarakan oleh para ahli pendidik dan ahli psikologi, dan apabila ditelusuri lebih jauh tentang belajar terdapat berbagai konsekuensi yang terkandung di dalamnya. Agar dapat memudahkan dalam menganalisa secara tepat dan mengkaji pemahaman tentang ruang lingkup yang dimaksud belajar, maka terlebih dahulu dikemukakan pendapat dari para ahli sebagai berikut.

Winkel, WS (1991: 15) mengemukakan bahwa:

“Belajar pada manusia merupakan suatu proses psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif subyek dengan lingkungan dan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan, nilai sifat yang bersifat konstan/menetap. Perubahan-perubahan itu dapat berupa sesuatu yang baru, yang segera nampak dalam perilaku nyata atau yang masih tinggal tersembunyi”

Sejalan dengan itu Gagne, dalam Purwanto (2004: 84) mengemukakan bahwa “belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi murid sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”

Morgan dalam Purwanto (2004: 84) berpandangan “belajar adalah perubahan yang relatif menetap dalam tigkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman”. Oleh karena itu, belajar bukan hanya sebatas mengingat tetapi belajar adalah sebuah proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang.

Berdasarkan pendapat yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru sebagai pengalaman individu itu

sendiri. Perubahan yang terjadi setelah seseorang melakukan kegiatan belajar dapat berupa keterampilan, sikap, pengertian ataupun pengetahuan. Belajar merupakan peristiwa yang terjadi secara sadar dan disengaja, artinya seseorang yang terlibat dalam peristiwa belajar pada akhirnya menyadari bahwa ia mempelajari sesuatu, sehingga terjadi perubahan pada dirinya sebagai akibat dari kegiatan yang disadari dan sengaja dilakukannya tersebut.

b. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran, penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan murid dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar.

Kamus Besar Bahasa Indonesia Depdikbud (2001: 789) dirumuskan bahwa “hasil belajar adalah hasil pelajaran yang diperoleh dari kegiatan belajar di sekolah atau di perguruan tinggi yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian”. Sejalan dengan itu, Syah Muhibbin (2003:

150) mengemukakan bahwa “hasil belajar adalah hasil pengungkapan belajar yang meliputi ranah cipta (kognitif), ranah rasa (afektif), dan rana karya (psikomotorik)”.

Djamarah (2002: 19) mengemukakan bahwa “Hasil belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki murid setelah ia menerima pengalaman belajarnya, dimana hasil belajar ditentukan melalui pengukuran dan penilaian.

Dengan demikian hasil belajar dapat dilihat dari hasil yang dicapai murid, baik hasil belajar (nilai), peningkatan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah perubahan tingkah laku atau kedewasaannya. Jadi proses belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh murid dalam mencapai tujuan pembelajaran, sedangkan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimilki murid setelah ia menerima pengalaman belajarnya.

c. Ciri-Ciri Belajar

Menurut Hilgard dan Gordon (Hamalik, 2008: 20) Pada hakikatnya belajar merupakan “perubahan tingkah laku si subjek dalam situasi tertentu berkat pengalamanya yang berulang-ulang, dan perubahan tingkah laku tersebut tak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan-kecenderungan respon bawaan, kematangan, misalnya keletihan dan sebagainya”. Dengan pengertian tersebut, Hamalik (2008:20) menyebutkan bahwa belajar memiliki ciri-ciri atau karakteristik, antara lain:

1) Belajar berbeda dengan kematangan

Pertumbuhan adalah saingan utama sebagai pengubah tingkah laku. Bila serangkaian tingkah laku matang melalui secara wajar tanpa adanya pengaruh dari latihan, maka dikatakan bahwa perkembangan itu adalah berkat kematangan dan bukan karena belajar.

2) Belajar dibedakan dari perubahan pisik dan mental

Perubahan tingkah laku juga dapat terjadi, disebabkan oleh terjadinya perubahan pada fisik dan mental karena melakukan suatu perubahan berulangkali yang mengakibatkan badan menjadi letih/lelah.

3) Ciri belajar yang hasilnya relatif menetap

Hasil belajar dalam bentuk perubahan tingkah laku. Belajar berlangsung dalam bentuk latihan dan pengalaman. Tingkah laku yang dihasilkan bersifat menetap dan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.

Dengan ini belajar dapat dikatakan apabila adanya perubahan pada diri individu berkat adanya latihan dan pengalaman. Tetapi belajar juga harus dibedakan dengan kematangan, perubahan pisik dan mental. Hasil belajar berupa tingkah laku sifatnya relatif tetap sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Hasil belajar yang dicapai murid merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam diri (faktor internal) maupun yang berasal dari luar diri siswa (faktor eksternal). Pengenalan terhadap faktor-faktor tersebut penting sekali artinya dalam membantu murid mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya.

Sudjana Nana (1989: 111) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu:

1) Faktor Internal (dari dalam individu yang belajar). Faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar ini lebih ditekankan pada faktor dari dalam individu yang belajar. Adapun faktor yang mempengaruhi kegiatan tersebut adalah faktor psikologis, antara lain yaitu : motivasi, perhatian, pengamatan, tanggapan dan lain sebagainya.

2) Faktor Eksternal (dari luar individu yang belajar). Pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan belajar yang kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan faktor dari luar murid.

Adapun faktor yang mempengaruhi adalah mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan, dan pembentukan sikap.

Sedangkan Syah Muhibbin (2005: 144) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar murid dapat dibedakan menjadi tiga macam, yakni:

1) Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani murid;

2) faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar murid;

3) faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar murid yang meliputi strategi dan metode yang digunakan murid untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran.

Di samping itu, Purwanto (2004: 107) merincikan faktor lain yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar sebagai berikut:

Gambar.2.1. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar

Faktor

Berdasarkan pendapat tersebut, maka pada garis besarnya terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar murid yaitu:

1) Faktor dari diri murid

Berbagai faktor yang bersumber dari diri murid yang mempengaruhi hasil belajarnya yaitu:

a) Faktor fisiologi

Kondisi kesehatan tubuh merupakan faktor yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar itu sendiri, seperti mengalami gangguan kesehatan tubuh. Oleh karena itu, kondisi fisiologi perlu mendapat perhatian demi kesuksesan belajar murid.

b) Faktor psikologis

Faktor psikologis adalah segala faktor yang merupakan aspek psikologis yang berperan dalam melakukan kegiatan belajar. Faktor-faktor tersebut seperti, intelegensi, bakat, dan motivasi.

2) Faktor dari luar diri murid

Faktor dari luar diri murid yang dapat mempengaruhi prestasi belajarnya, seperti faktor yang berasal dari keluarga, faktor sekolah dan faktor dari lingkungan masyarakat. Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi hasil belajar murid.

2. Penerapan Model Mind Mapping (Peta Pikiran) a. Pengertian Model Pembelajaran

Model pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dapat juga diartikan suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Jadi, sebenarnya model pembelajaran memiliki arti yang sama dengan pendekatan, strategi atau metode pembelajaran. Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai macam model pembelajaran, dari yang sederhana sampai model yang agak kompleks dan rumit karena memerlukan banyak alat bantu dalam penerapannya.

Menurut Joyce dalam Trianto (2009: 22) model pembelajaran adalah

“suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain”.

Menurut Soekamto dalam Trianto (2007: 5) model pembelajaran adalah

“kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar”.

Ada beberapa ciri-ciri model pembelajaran secara khusus diantaranya adalah :

1). Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya.

2). Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana murid belajar.

3). Tingkah laku mengajar yang diperlukanagar model tersebut dapat dilaksanakandengan berhasil.

4). Lingkungan belajar yang duperlukanagar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Pemilihan model dalam pembelajaran erat hubunganya dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan sebelumnya. Model yang dipilih harus membantu murid untuk mencapai hasil belajar yang efektif dan efisien. Dalam praktiknya guru tidak hanya menggunakan satu model mengajar saja, karena sebetulnya tidak ada model mengajar yang paling baik atau paling tepat digunakan sendiri.

Model pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tidak terbatas jumlahnya.

Pada prinsipnya penggunaan model pangajaran berkaitan erat dengan penguasaan guru terhadap metode yang digunakan dan materi yang disampaikan. Di dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, seorang guru harus mampu menerapkan model pengajaran yang dapat membangkitkan daya tarik dan minat peserta didik untuk mengikuti pelajaran dengan baik. Sedangkan diantara beberapa model yang ada, penulis memilih salah satu dari beberapa model yaitu model Mind mapping, dengan pertimbangan agar murid tidak merasa bosan, jenuh tertekan dan bersifat negatif terhadap materi yang sedang dipelajari.

b. Pengertian Mind Mapping (Peta Pikiran)

Mind mapping (peta pikiran) adalah sebuah model yang dikembangkan oleh Tony Buzan pada tahun 1970-an. Model ini dikenal juga dengan radiant thinking (pancaran pinkiran). Model Mind mapping (peta pikiran) mengarahkan

agar kita dapat menuangkan, mencatat pikiran kita secara kreatif, efektif, kemudian dipetakan secara menarik, mudah, dan berdaya guna, sehingga dengan demikian kita dapat memberi pandangan menyeluruh pada pokok masalah atau area yang luas. Mind mapping (peta pikiran) memungkinkan kita merencanakan rute atau membuat pilihan-pilihan hingga kita dapat mengetahui kemana kita akan pergi dan di mana kita berada, mengumpulkan sejumlah besar data di satu tempat, mendorong pemecahan masalah dengan membiarkan kita melihat jalan-jalan terobosan kreatif baru menyenangkan untuk dilihat, dibaca, dicerna dan diingat.

Mind mapping (peta pikiran) merupakan teknik memetakan konsep atau teknik mencatat informasi yang disesuaikan dengan cara otak memproses informasi yang memfungsikan otak kanan dan otak kiri secara sinergis (bersamaan dan saling melengkapi) sehingga informasi lebih banyak dan lebih mudah diingat. Otak tidak menyimpan informasi dengan pola dan asosiasi seperti pohon dengan cabang dan rantingnya. Untuk mengingat kembali dengan cepat apa yang telah kita pelajari sebaiknya meniru cara kerja otak dalam bentuk peta pikiran. Dengan demikian, “proses menyajikan dan menangkap isi pelajaran dalam peta-peta konsep mendekati operasi alamiah dalam berpikir” (Sugiyanto, 2007: 41).

Menurut Wycoff (2003: 64) Mind Mapping (peta pikiran) merupakan

“salah satu keterampilan paling efektif dalam proses berpikir kreatif. Pemetaan pikiran mirip dengan outlining tetapi lebih menarik secara visual dan melibatkan kedua belahan otak”.

Windura (2008: 16) mengungkapkan bahwa “Mind mapping (peta pikiran) adalah suatu teknis grafis yang memungkinkan kita untuk mengeksplorasi seluruh kemampuan otak kita untuk keperluan berpikir dan belajar”.

Uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Mind mapping (peta pikiran) adalah sebuah metode mencatat tinggi yang tidak monoton karena mind mapping (peta pikran) memadukan fungsi kerja otak secara bersamaan dan saling berkaian satu sama lain, sehingga akan terjadi keseimbangan kerja kedua belahan otak. Selain itu, mind mapping (peta pikiran) mendorong kreativitas murid untuk dapat memunculkan ide-ide yang cemerlang, menemukan solusi yang inspiratif untuk menyelesaikan masalah atau menemukan cara baru untuk memotivasi diri dan orang lain, karena mind mapping merupakan pancaran pikiran langsung dari murid.

c. Tujuan dan Manfaat Mind Mapping (Peta Pikiran) 1) Tujuan mind mapping (peta pikiran)

Mind mapping (peta pikiran) bertujuan membuat materi pelajaran terpola secara visual dan grafis yang akhirnya dapat membantu merekam, memperkuat, dan mengingat kembali informasi yang telah dipelajari.

2) Manfaat mind mapping (peta pikiran)

Mind mapping (peta pikiran) merupakan teknik visualisasi verbal ke dalam gambar. Mind mapping (peta pikiran) sangat bermanfaat untuk memahami materi, terutama materi yang diberikan secara verbal

Ada banyak sekali manfaat yang didapatkan dengan mencatat menggunakan mind mapping (peta pikiran). (1) mind mapping (peta pikiran)

mampu meningkatkan kapasitas pemahaman karena telah ditata dan dikelompokkan sedemikan rupa dan secara mental hal ini juga membuat seseorang lebih terorganisir dan runtut dalam memahami sebuah persoalan. (2) mind mapping (peta pikiran) juga meningkatkan kemampuan seseorang dalam berimajinasi, mengingat, berkonsentrasi, membuat catatan, meningkatkan minat sekaligus mampu menyelesaikan persoalan. (3) mind mapping (peta pikiran) merangsang sisi kreatif seseorang lewat penggunaan garis lengkung, warna dan gambar. Ini membuat sebuah catatan menjadi karya seni yang indah. Secara mental akan memudahkan kita untuk mengingatnya. (4) mind mapping (peta pikiran) dapat membantu seseorang membuat catatan yang menarik dalam waktu singkat. Selain itu, catatan ini mampu membuka pemahaman dan sisi kreatif dengan merangsang munculnya ide-ide dan insight baru, bahkan pada saat membuat catatan itu sendiri. Mind mapping (peta pikiran) dapat pula menjelaskan sebuah tujuan, rencana, ide, maupun pemikiran secara jelas dan terstruktur.

d. Kelebihan dan Kekurangan Mind Mapping (Peta Pikiran)

Terdapat banyak kelebihan dan kelemehan dari model mind mapping (peta pikiran) karena model mind mapping (peta pikiran) melibatkan kedua sisi otak yaitu menggunakan gambar, warna, dan imajinasi (wilayah otak kanan) bersamaan dengan kata, angka, logika (wilayah otak kiri) sehingga, belajar akan menjadi lebih menyenangkan. Salah satu kelebihan Mind mapping (peta pikiran) adalah dapat membantu murid dalam banyak hal, seperti memacu kreativitas, pemahaman dan daya ingat murid. Berikut pendapat para ahli tentang keutamaan dan kelebihan mind mapping (peta pikiran).

Keutamaan model pencatatan menggunakan mind mapping (peta pikiran), antara lain:

(1) tema utama terdefenisi secara sangat jelas karena dinyatakan di tengah.

(2) level keutamaan informasi teridentifikasi secara lebih baik. Informasi yang memiliki kadar kepentingan lebih diletakkan dengan tema utama.

(3) hubungan masing-masing informasi secara mudah dapat segera dikenali.

(4) lebih mudah dipahami dan diingat.

(5) informasi baru setelahnya dapat segera digabungkan tanpa merusak keseluruhan struktur mind mapping (peta pikiran), sehingga mempermudah proses pengingatan.

(6) masing-masing mind mapping (peta pikiran) sangat unik, sehingga mempermudah proses pengingatan.

(7) mempercepat proses pencatatan karena hanya menggunakan kata kunci.

Windura (2008) mengemukakan bahwa Kebaikan dan kelebihan mind mapping (peta pikiran) tidak hanya dinilai dari apa yang terlihat kasat mata, namun juga hal-hal yang melandasi prinsip pembuatannya yang sungguh-sungguh mengikuti apa yang diinginkan otak. Kehebatan mind mapping (peta pikiran) dalam mengikuti kerja alami otak manusia yaitu sebagai berikut:

(1) Gambaran Keseluruhan

Mind mapping (peta pikiran) tidak lain adalah peta di otak saat kita berpikir akan suatu hal. Untuk dapat menemukan ke mana tujuan pemikiran di butuhkan peta. Dan peta itu adalah mind mapping (peta pikiran). Mind mapping (peta pikiran) memungkinkan penggunanya melihat gambaran keseluruhan

sekaligus detail permasalahan pada saat yang bersamaan. Hal ini seperti membaca sebuah peta.

(2) Detail Informasi

Selain mendapatkan gambaran keseluruhan mengenai materi pelajaran tesebut, pada saat bersamaan murid bisa melihat detail informasi materi secara mudah. Bila murid ingin mengetahui tentang mata pencaharian penduduk pada zaman kerajaan Tarumanegara, maka murid tinggal menuju ke cabang mind mapping (peta pikiran) yang membahas mengenai hal tersebut. Sehingga murid bisa dengan mudah berpindah-pindah dari satu bagian materi pelajaran ke bagian lain tanpa kehilangan pemahamannya.

(3) Kata Kunci yang “Kuat”

Semua kata dalam mind mapping (peta pikiran) adalah sebuah kata tunggal, namun sebenarnya itu bukanlah sebuah kata tunggal biasa, melainkan sebuah kata kunci. Dan kata kunci adalah kata-kata yang paling kuat yang dapat mewakili sebuah kalimat atau frasa karena otak sebenarnya hanya dapat mengingat informasi berupa kata kunci dan gambar.

(4) Gambar Mengaktifkan Otak Kanan

Penggunaan gambar dan ilustrasi dalam belajar akan mengaktifkan otak kanan dan menyeimbangkan dengan otak kirinya. Begitu juga dengan mind mapping (peta pikiran) yang menggunakan banyak gambar sehingga belajar melibatkan kedua belah otak, yakni otak kiri dan kanan.

(5) Warna Menyenangkan Otak

Dunia diciptakan Tuhan dengan penuh warna-warni dengan maksud untuk menyenangkan otak kita. Begitupun dengan imajinasi dan pikiran, ketika kita memejamkan mata dan membayangkan sebuah pemandangan, maka kita akan membayangkan pemandangan dengan penuh warna-warni bukan hitam putih.

Tapi yang terjadi dalam proses belajar murid hanya menggunakan satu warna saja, sehingga akan membosankan otak.

Mind mapping (peta pikiran) mengharuskan murid untuk memakai berbagai warna dalam pembuatannya. Dan ini disukai oleh otak karena penggunaan warna juga mengaktifkan sisi otak kanan, sehingga kedua belah otak pun terlibat dan yang dirasakan murid adalah belajar yang menyenangkan karena lebih bersifat bermain sambil menggambar.

(6) Pengelompokan Informasi

Mind mapping (peta pikiran) mengelompokkan informasi dengan sangat jelas. Semakin baik murid mengelompokkan informasi, maka semakin mudah informasi itu dicerna oleh otak. Karena informasi yang disajikan dengan pengelompokkan yang sejenis akan lebih mudah untuk diingat.

(7) Hierarki Informasi

Mind mapping (peta pikiran) menggunakan hierarki antara informaasi, sehingga tingkat kepentingan informasi juga diperhatikan. Suatu materi pelajaran yang sudah tersusun hierarkinya akan jauh lebih mudah dipahami.

(8) Hubungan antara Informasi

Suatu informasi akan lebih mudah diingat jika terasosiasi dengan informasi lain yang sudah kita ingat sebelumnya. mind mapping (peta pikiran) menggunakan prinsip asosiasi tersebut, dan menyebabkan hubungan antar informasi menjadi jelas dan sistematis. Kata-kata dalam sebuah mind mapping (peta pikiran) juga saling berhubungan dan menerangkan satu sama lain.

(9) Tata Ruang

Tidak seperti tulisan pada buku catatan dan buku cetak yang berangkat dari kiri atas ke kanan bawah, mind mapping (peta pikiran) justru menyebar keluar dari tengah ke seluruh arah. Pusat mind mapping (peta pikiran) ada di tengah-tengah kertas agar menarik perhatian mata dan otak. Sesuatu yang menarik perhatian mata dan otak akan menyebabkan kita untuk fokus. Cara kerja mind mapping (peta pikiran) tidak lain adalah sama dengan apa yang terjadi pada sel otak, yaitu memancar dari satu titik ke titik lainnya.

(10) Unik

Sesuatu yang unik akan lebih mudah diingat. mind mapping (peta pikiran) sifatnya unik karena hasilnya berbeda untuk setiap murid walaupun untuk materi pelajaran yang sama karena setiap murid mempunyai pancaran pikiran yang berbeda-beda, hali ini menjadikan mind mapping (peta pikiran) sebagai suatu karya seni yang unik bagi murid.

Sedangkan kekurangan model mind mapping (peta pikiran) yaitu hanya murid yang aktif yang terlibat, tidak sepenuhnya murid yang belajar, jumlah detail informasi tidak dapat dimasukkan.

e. Kaidah Pembuatan Mind Mapping (Peta Pikiran)

Ada beberapa prinsip kerja otak yang menjadi dasar dalam pembuatan

Ada beberapa prinsip kerja otak yang menjadi dasar dalam pembuatan

Dalam dokumen BERLIAN INDRA PUTRI K (Halaman 22-0)

Dokumen terkait