SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Matematika
BERLIAN INDRA PUTRI K 10540 6865 11
JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR S1 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2014
Kupersembahkan Karya Sederhana Ini Kepada Ibunda dan Ayahanda Tercinta yang Senantiasa Mendoakan dan Merelakan Segalanya Demi Kesuksesan Anaknya
vi
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
(Al Baqarah 153)
Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia celaka. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia merugi. Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia beruntung.
(Muhammad, SAW)
Setiap cobaan, ujian, dan kegagalan sejatinya adalah rangkaian kemuliaan yang sedang dipersiapkan untuk manusia. Siapa dikehendaki mendapat kebaikan, maka Dia memberinya musibah. (HR. Bukhari)
PERSETUJUAN PEMBIMBING Mahasiswa yang bersangkutan:
Nama : BERLIAN INDRA PUTRI
NIM : K.10540 6865 11
Program Studi : Strata Satu
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Judul Skripsi : Peningkatan Hasil Belajar IPS melalui Model Pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikiran) pada Murid Kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa
Telah diperiksa dan diteliti ulang, maka skripsi ini telah memenuhi persyaratan untuk diujikan.
Makassar, 2014 Disetujui Oleh:
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. H. Nursalam, M.Si Dra. Rahmiah. B, M.Si
Mengetahui,
Dekan FKIP Ketua Jurusan
Universitas Muhammadiyah Makassar Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Dr. A. Sukri Syamsuri, M. Hum Sulfasyah, S.Pd, MA, Ph.D
NBM: 858 625 NBM: 970 635
iii
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Skripsi : Peningkatan Hasil Belajar IPS melalui Model Pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikiran) pada Murid Kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa
Nama : BERLIAN INDRA PUTRI
NIM : K.10540 6865 11
Program Studi : Strata Satu
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Makassar, 2014 Disetujui Oleh:
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. H. Nursalam, M.Si Dra. Rahmiah. B, M.Si
Mengetahui,
Dekan FKIP Ketua Jurusan
Universitas Muhammadiyah Makassar Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Dr. A. Sukri Syamsuri, M. Hum Sulfasyah, S.Pd, MA, Ph.D
NBM: 858 625 NBM: 970 635
ii
SURAT PERJANJIAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : BERLIAN INDRA PUTRI
NIM : K.10540 6865 11
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini, saya yang menyusunnya sendiri (tidak dibuatkan oleh siapa pun).
2. Dalam penyusunan skripsi ini, saya selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.
3. Saya tidak melakukan penjiplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi ini.
4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3 maka saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.
Demikian surat perjanjian ini saya buat dengan sebenarnya dan penuh kesadaran.
Makassar, 2014 Yang membuat pernyataan
Berlian Indra Putri Diketahui Oleh:
Ketua Jurusan
Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Sulfasyah, S.Pd, MA, Ph.D NBM: 970 635
v
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : BERLIAN INDRA PUTRI
NIM : K.10540 6865 11
Jurusan : Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Judul Skripsi : Peningkatan Hasil Belajar IPS melalui Model Pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikiran) pada Murid Kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa
Dengan ini menyatakan bahwa:
Skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya sendiri, bukan hasil jiplakan atau dibuatkan oleh siapapun.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, 2014 Yang membuat pernyataan
Berlian Indra Putri Diketahui Oleh:
Pembimbing I Pembimbing II
Dr. H. Nursalam, M.Si Dra. Rahmiah. B. M.Si
iv
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah, puji dan syukur atas izin dan petunjuk Allah Swt, sehingga skripsi dengan judul: “Peningkatan Hasil Belajar IPS melalui Model Pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikiran) pada Murid kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa, dapat diselesaikan. Tak lupa juga penulis panjatkan shalawat dan salam atas junjungan Nabi Muhammad SAW yang telah menyinari dunia ini dengan cahaya Islam.
Teristimewa dan terutama sekali penulis sampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada Ayahanda H. Dirham dan Ibunda Hj. Zainab, Suami tercinta Annur Sidang Maulana, SE, anakku Sultan Agung Maulana dan Muh. Arrafi serta saudara- saudaraku tercinta atas segala pengorbanan dan doa yang telah diberikan demi keberhasilan penulis dalam menuntut ilmu sejak kecil sampai sekarang ini.
Semoga apa yang telah mereka berikan kepada penulis menjadi kebaikan dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan di akhirat.
Tak lupa pula penulis menghaturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1. Dr. H. Irwan Akib ,M.Pd, Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
2. Dr. A. Sukri Syamsuri,M.Hum, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
3. Sulfasyah, S.Pd, MA, Ph.D, Ketua Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Sitti Fithriani Saleh, S.Pd, M.Pd, Sekretaris Jurusan Pendidikan Guru
viii
penyelesaian studi.
5. Dr. H. Nursalam, pembimbing I yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam upaya penyusunan skripsi ini sampai tahap penyelesaian.
6. Dra. Rahmiah. B, M.Si, pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk membimbing dan mengarahkan penulis dalam upaya penyusunan skripsi ini sampai tahap penyelesaian.
7. Dosen Jurusan Pendidikan Guru Sekolah dasar yang telah ikhlas menyalurkan ilmunya kepada penulis.
8. Muh. Arfah, S.Pd, Kepala SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa dan ibu Anita, S.Pd, Guru kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa beserta Guru-gurunya yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian di SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.
9. Sahabat- sahabatku tercinta ( Itha, Uki) yang senantiasa bersama-sama dalam suka dan duka berjuang untuk mendapatkan ilmu demi masa depan serta mendukung, memberikan semangat dan senantiasa mendoakan penulis.
10. Rekan- rekan mahasiswa kelas B Konversi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Angkatan 2011 atas segala dorongan, kerjasamanya dan kebersamaannya selama menjalani perkuliahan.
ix
keterbatasan tempat namun tidak mengurangi rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya atas segala jasa-jasa dan sumbangsi pemikiran yang telah diberikan selama ini
Apa yang tertuang dalam skripsi ini memiliki banyak kekurangan, oleh karena itu penulis terbuka menerima saran dan kritikan yang sifatnya membangun.
Akhirnya penulis berharap semoga bantuan, dorongan dan motivasi yang diberikan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Demikian skripsi yang telah saya susun ini, semoga dapat bermanfaat.
Makassar, Februari 2014
Penulis
x
Model Pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikiran) pada Murid Kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran mind mapping (peta pikiran) pada murid kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu. Subjek penelitian ini terdiri 30 murid. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pemberian tes pada setiap akhir siklus sesuai dengan materi yang diajarkan serta observasi pada saat pembelajaran berlangsung. Dari data yang terkumpul kemudian dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian yang dicapai setelah dianalisis yaitu: 1) Nilai rata-rata hasil belajar IPS pada murid kelas IV pada siklus I sebesar 69,67, nilai terendah 30 dan nilai tertinggi 100 dari skor ideal 100 dan ketuntasan 66,67 %. 2) Nilai rata- rata hasilbelajar IPS murid kelas IV pada siklus II sebesar 81,87, nilai terendah 52 dan nilai tertinggi 100 dari skor ideal 100 dan ketuntasan 83,33 %. Hal ini berarti terjadi peningkatan hasil belajar matematika siswa dari siklus I ke siklus II sebesar 16,66 %. 3) Berdasarkan observasi, maka diperoleh nilai rata- rata persentase aktivitas murid pada siklus I sebesar 66,63 % dan pada siklus II sebesar 79 %, terjadi peningkatan sebesar 12,37 %. Ini menandakan bahwa terjadi perubahan positif pada siswa. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPS murid kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu mengalami peningkatan setelah dilaksanakan proses pembelajaran dengan model pembelajaran mind mapping (peta pikiran).
vii
xi
LEMBAR PENGESAHAN ……… ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ……….. iii
SURAT PERNYATAAN ………... iv
SURAT PERJANJIAN ………..……. v
MUTIARA HIKMAH ………. vi
ABSTRAK……… vii
KATA PENGANTAR ………. viii
DAFTAR ISI……… xi
DAFTAR TABEL………..…….. xii
DAFTAR GAMBAR……… xiii
DAFTAR LAMPIRAN………. xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ……… 1
B. Rumusan Masalah ………. 6
C. Tujuan Penelitian ………... 6
D. Manfaat Penelitian ………. 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS TINDAKAN A. Kajian Pustaka ……… 9
1. Hasil Belajar ………. 9
a. Pengertian Belajar ………... 9
b. Pengertian Hasil Belajar ………. 11
c. Ciri-Ciri Belajar ………. 12
d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar………. 13
2. Penerapan Model Mind Mapping ………. 16
a. Pengertian Model Pembelajaran ……… 16
b. Pengertian Mind Mapping (Peta Pikiran) ………... 17
xii
3. Ilmu Pegetahuan Sosial ……….. 31
a. Pengertian Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial…………. 31
b. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial Menurut Ahli ………….. 33
c. Ruang Lingkup IPS ……… 34
d. Hakikat Pembelajaran IPS……….. 37
e. Tujuan Pengajaran IPS di Sekolah Dasar……… 38
f. Fungsi Pembelajaran IPS ……….. 40
B. Kerangka Pikir ……… 41
C. Hipotesis Tindakan ……… 43
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ………. 44
B. Lokasi dan Subjek Penelitian ……….. 44
C. Faktor yang Diselidiki ………. 45
D. Rencana Tindakan ……….. 45
E. Prosedur Penelitian ………. 46
F. Teknik Pengumpulan Data ………...……….. 50
G. Teknik Analisis Data ……….. 51
H. Indikator Keberhasilan ……… 52
I. Jadwal Pelaksanaan Penelitian ……… 53
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HasilPenelitian ………... 54
1. Siklus I ……… 54
2. Siklus II ……… 64
B. Pembahasan Hasil Penelitian ………. 75
1. Hasil Belajar IPS Murid... .……….. 75
2. Peningkatan Aktivitas Belajar Murid... 76
xiii BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ……… 84 B. Saran……… 85
DAFTAR PUSTAKA ……… 86 LAMPIRAN
xiv
Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian... 53 Tabel 4.1 Statistik Skor Hasil Belajar IPS Murid Kelas IV SD Inpres
Cambaya Kecamatan Somba Opu pada Siklus I... 60 Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Hasil Belajar IPS Murid Kelas
IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu pada Siklus I... 61 Tabel 4.3 Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid Kelas IV SD Inpres Cambaya
pada Siklus I……….………..…….... 61 Tabel 4.4 Statistik Skor Hasil Belajar IPS MuridKelas IV SD Inpres Cambaya
Kecamatan Somba Opu pada Siklus II……… 66 Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi dan Persentase Hasil Belajar IPS Murid Kelas
IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu pada Siklus II …...67 Tabel 4.6 Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid Kelas IV SD Inpres
Cambaya Kecamatan Somba Opu pada Siklus II ………..68
xv
Gambar.2.1. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar ... 14
Gambar.2.2. Contoh mind mapping (peta pikiran) Mesir ... 28
Gambar.2.3 Contoh mind mapping (peta pikiran) Gempa Bumi ... 30
Gambar.2.4 Skema Kerangka Pikir ... 42
Gambar.3.1. Skema Penelitian Tindakan Kelas oleh Arikunto (2008:16) ... 46
1 A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah suatu hal yang sangat penting bagi manusia sebagai makhluk yang berpikir dan berkembang. Apalagi pada era globalisasi seperti saat ini, pendidikan menjadi suatu kebutuhan dan menjadi suatu tuntutan zaman bagi kita untuk mengembangkan potensi yang ada dalam diri kita. Sesuai dengan Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa :
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memilki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara”
Demi mewujudkan pendidikan yang ideal maka lembaga formal menjadi sebuah tempat untuk melakukan proses menumbuh kembangkan sistem nilai dan budaya menuju ke arah yang lebih baik, antara lain dalam pembentukan kepribadian, keterampilan dan perkembangan intelektual murid. Salah satu cara dalam proses menumbuhkan serta mengembangkan sistem nilai dan budaya yaitu dengan dilakukan mediasi proses belajar mengajar sejumlah mata pelajaran di kelas. Salah satu mata pelajaran yang turut berperan penting dalam pengembangan wawasan, keterampilan dan sikap sejak dini bagi murid adalah mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
Pembelajaran IPS secara khusus sebagaimana termaktub dalam taksonomi Bloom diharapkan dapat memberikan pengetahuan (kognitif), yang merupakan
tujuan utama dari pembelajaran. Selain hal itu, pembelajaran IPS diharapkan pula memberikan keterampilan (psikomotorik), kemampuan sikap (afektif), pemahaman, kebiasaan, dan apresiasi di dalam mencari jawaban terhadap suatu permasalahan.
Pembelajaran IPS di SD berfungsi untuk mengembangkan pengetahuan, nilai, sikap, dan keterampilan murid tentang masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia. Selain itu pembelajaran IPS berkenaan dengan pengenalan dan pemahaman murid terhadap berbagai kenyataan sosial melalui pengenalan fakta, konsep dan penyusunan generalisasi, baik keluasan maupun kedalamannya yang dimulai dari lingkungan terdekat seperti keluarga hingga lingkungan terjauh seperti masyarakat. Dalam pembelajaran IPS murid diberi kesempatan dan kebebasan mengembangkan keterampilan intelektual, keterampilan personal dan keterampilan sosialnya sehingga murid diberi kesempatan berperan lebih aktif dalam mengelolah informasi, berpikir kritis dan bertanggung jawab.
Realitas yang terjadi pada proses pembelajaran IPS di sekolah selama ini adalah penguasaan how to learn (bagaimana cara belajar) masih kurang didapatkan oleh murid, biasanya murid hanya mendapatkan what to learn (apa yang harus dipelajari) dari pendidikan formalnya, hal ini membuat potensi yang ada di dalam diri murid tidak dapat tersalurkan secara optimal dan implikasinya murid menganggap mata pelajaran IPS sebagai materi yang berupa hafalan saja.
Hasil pengamatan awal yang telah dilakukan oleh penulis pada 26 Desember 2012 di SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu menunjukkan bahwa dalam pembelajaran IPS di kelas, guru memberikan materi pada murid
hanya dengan menyuruh murid menyalin materi dari buku cetak ke buku catatan murid. Selain itu, dalam menyampaikan materi guru hanya memberikan sedikit penjelasan, sehingga pembelajaran berjalan monoton dan cenderung membosankan bagi murid.
Hasil wawancara yang dilakukan pada tanggal 26 Desember 2012 dengan guru kelas IV yang beinisial ‘A’ di SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Didapatkan informasi bahwa tingkat pemahaman murid sangat kurang terhadap materi pada mata pelajaran IPS. Hal ini dapat dilihat dari data Daftar Nilai Rapor semester I tahun pelajaran 2012/2013 dimana nilai rata-rata kelas pada mata pelajaran IPS tergolong rendah dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain. Nilai rata-rata Rapor murid pada mata pelajaran IPS yaitu hanya 6.13 sedangkan yang tertinggi adalah nilai hasil belajar mata pelajaran Agama Islam yaitu dengan nilai rata-rata 7.32, Bahasa Indonesia 7.17, IPA 6.71, dan Matematika 6.60 (sumber: Daftar Nilai Rapor Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012-2013)
Menurut wali kelas IV hal itu terjadi karena kurangnya motivasi murid dalam belajar karena murid menganggap mata pelajaran IPS adalah mata pelajaran yang hanya berupa hafalan saja. Murid beranggapan bahwa mata pelajaran IPS adalah mata pelajaran yang membosankan karena harus mengahafal secara tepat rentetan suatu peristiwa, waktu dan tempat. Hal ini mengakibatkan belajar bukanlah aktivitas yang menyenangkan bagi murid dan hasilnya murid tidak dapat menunjukkan kemampuan terbaik otaknya dalam prestasi akademiknya karena murid mudah melupakan materi yang telah dipelajarinya.
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, maka untuk lebih mengakuratkan data, peneliti mengadakan tes awal pada murid kelas IV pada tahun ajaran 2012- 2013 di SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa pada tanggal 28 Desember 2012 . Dari hasil tes awal tersebut, maka didapatkan nilai rata-rata 50.34 untuk mata pelajaran IPS. Hal ini berarti, hasil belajar murid masih membutuhkan peningkatan karena masih tergolong rendah dan belum memenuhi standar nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah ditetapkan oleh guru. Adapun nilai Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang ditetapkan oleh guru pada mata pelajaran IPS adalah 65.
Peran seorang guru sebagai ujung tombak dunia pendidikan harus mampu berperan dan bertanggung jawab untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan murid secara optimal, guru hendaknya memberikan kebebasan kepada murid untuk mengembangkan dirinya sendiri sesuai dengan potensi yang dimiliki karena setiap murid mempunyai kemampuan yang berbeda dan memiliki tingkat kecerdasan yang bervariasi. Seperti yang dinyatakan oleh Windura Sutanto (2008) bahwa kegiatan sehari-hari murid yang didominasi oleh kegiatan menulis, mencatat, dan mendengarkan guru menerangkan adalah aktivitas yang hanya melibatkan otak kiri saja. Dan apabila dalam proses belajar murid hanya melibatkan salah satu belahan otaknya saja, maka anak bisa stress dalam belajar karena tidak seimbangnya kinerja antara kedua belah otak kiri dan kanan.
Berdasarkan analisis masalah di atas, maka dapat diketahui bahwa penggunaan model pembelajaran yang digunakan oleh guru menjadi salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan belajar pada murid. Dengan model
pembelajaran yang sesuai, murid dapat mencapai hasil belajar yang tinggi dan dapat pula mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya. Oleh karena itu, agar murid termotivasi untuk lebih aktif dan imajinatif dalam pembelajaran, maka salah satu alternatif yang digunakan adalah dengan penerapan model mind mapping (peta pikran) pada pembelajaran IPS di sekolah.
Model mind mapping (peta pikran) adalah model yang sangat efektif dalam meningkatkan potensi yang ada dalam diri murid karena model mind mapping (peta pikran) adalah salah satu upaya yang dapat digunakan untuk memberikan kesan mendalam pada proses belajar murid. Mind mapping (peta pikiran) yang dibuat oleh murid dapat membangkitkan ide-ide orisinil dan memicu ingatan yang mudah. Selain itu, model mind mapping (peta pikiran) sangat cocok digunakan pada mata pelajaran IPS karena dengan penggunaan model mind mapping (peta pikiran) dapat membantu murid untuk mengelompokkan dan mengasosiasikan materi IPS yang bersifat kompleks. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran dapat diterapkan metode pencatatan mind mapping (peta pikiran) sebagai salah satu cara belajar yang dapat dilatihkan kepada murid untuk mengembangkan kreativitas dan tingkat pemahaman murid pada materi.
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan, maka untuk mengatasi permasalahan tersebut penulis akan mengadakan penelitian tindakan kelas (PTK) sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikiran) pada murid kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : "Apakah penerapan model pembelajaran mind mapping (peta pikiran) dapat meningkatkan hasil belajar IPS pada murid kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa?"
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar IPS melalui model pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikiran) pada murid kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis
a. Bagi akademis/lembaga pendidikan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan informasi bagi akademis/lembaga pendidikan tentang pentingnya penerapan model mind mapping (peta pikiran) dalam mendukung proses pembelajaran khususnya pelaksanaan pembelajaran IPS.
b. Bagi peneliti selanjutnya
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya, yaitu penelitian yang berhubungan dengan model Mind mapping (peta pikran) sebagai bahan kajian untuk meningkatkan hasil belajar murid khususnya pada mata pelajaran IPS.
2. Manfaat Praktis a. Bagi penulis
Menambah pengetahuan penulis tentang model mind mapping (peta pikiran) sebagai salah satu model yang inovatif dalam pembelajaran.
b. Bagi Murid
1) Murid dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengingat, berkonsentrasi, dan membuat catatan yang efektif.
2) Murid dapat mengembangkan kreativitas dan imajinasinya dalam pembelajaran IPS.
3) Murid dapat termotivasi agar aktif dalam proses pembelajaran.
4) Murid dapat meningkatkan hasil belajar pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
c. Bagi Guru
1) Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan untuk meningkatkan proses pembelajaran dengan menambah variasi model.
2) Menjadi bahan acuan dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang sesuai.
d. Bagi Sekolah
1) Memberikan sumbangan yang positif terhadap kemajuan sekolah serta kondusifnya iklim pendidikan di sekolah, khususnya
pembelajaran IPS dan umumnya seluruh mata pelajaran yang ada di sekolah.
2) Memberikan masukan dalam mengefektifkan pembinaan dan pengelolaan proses belajar mengajar dalam pelaksanaan pendidikan.
9 BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Kajian Pustaka 1. Hasil Belajar a. Pengertian Belajar
Untuk mengerti apa yang dimaksud dengan hasil belajar, maka terlebih dahulu dikemukakan apa yang dimaksud belajar, sehingga pengertian hasil belajar lebih mudah dipahami. Belajar adalah istilah kunci yang paling penting dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan usaha pendidikan.
Karena demikian pentingnya arti belajar, maka berbagai usaha pun diarahkan pada tercapainya pemahaman yang lebih luas dan mendalam mengenai proses perubahan manusia itu.
Belajar merujuk pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek yang menerima pelajaran (murid). Belajar bukan hanya kegiatan megumpulkan dan menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi atau materi pelajaran. Belajar merupakan proses perubahan, dimana perubahan tersebut merupakan hasil dari pengalaman. Seperti yang dikemukakan oleh Purwanto (2002: 85) mengemukakan belajar adalah “ Suatu perubahan dalam tingkah laku, di mana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang buruk”.
Belajar merupakan salah satu masalah yang selalu dibicarakan oleh para ahli pendidik dan ahli psikologi, dan apabila ditelusuri lebih jauh tentang belajar terdapat berbagai konsekuensi yang terkandung di dalamnya. Agar dapat memudahkan dalam menganalisa secara tepat dan mengkaji pemahaman tentang ruang lingkup yang dimaksud belajar, maka terlebih dahulu dikemukakan pendapat dari para ahli sebagai berikut.
Winkel, WS (1991: 15) mengemukakan bahwa:
“Belajar pada manusia merupakan suatu proses psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif subyek dengan lingkungan dan perubahan-perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan, nilai sifat yang bersifat konstan/menetap. Perubahan- perubahan itu dapat berupa sesuatu yang baru, yang segera nampak dalam perilaku nyata atau yang masih tinggal tersembunyi”
Sejalan dengan itu Gagne, dalam Purwanto (2004: 84) mengemukakan bahwa “belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi murid sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”
Morgan dalam Purwanto (2004: 84) berpandangan “belajar adalah perubahan yang relatif menetap dalam tigkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman”. Oleh karena itu, belajar bukan hanya sebatas mengingat tetapi belajar adalah sebuah proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang.
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru sebagai pengalaman individu itu
sendiri. Perubahan yang terjadi setelah seseorang melakukan kegiatan belajar dapat berupa keterampilan, sikap, pengertian ataupun pengetahuan. Belajar merupakan peristiwa yang terjadi secara sadar dan disengaja, artinya seseorang yang terlibat dalam peristiwa belajar pada akhirnya menyadari bahwa ia mempelajari sesuatu, sehingga terjadi perubahan pada dirinya sebagai akibat dari kegiatan yang disadari dan sengaja dilakukannya tersebut.
b. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran, penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan murid dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Depdikbud (2001: 789) dirumuskan bahwa “hasil belajar adalah hasil pelajaran yang diperoleh dari kegiatan belajar di sekolah atau di perguruan tinggi yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian”. Sejalan dengan itu, Syah Muhibbin (2003:
150) mengemukakan bahwa “hasil belajar adalah hasil pengungkapan belajar yang meliputi ranah cipta (kognitif), ranah rasa (afektif), dan rana karya (psikomotorik)”.
Djamarah (2002: 19) mengemukakan bahwa “Hasil belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki murid setelah ia menerima pengalaman belajarnya, dimana hasil belajar ditentukan melalui pengukuran dan penilaian.
Dengan demikian hasil belajar dapat dilihat dari hasil yang dicapai murid, baik hasil belajar (nilai), peningkatan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah perubahan tingkah laku atau kedewasaannya. Jadi proses belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh murid dalam mencapai tujuan pembelajaran, sedangkan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimilki murid setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
c. Ciri-Ciri Belajar
Menurut Hilgard dan Gordon (Hamalik, 2008: 20) Pada hakikatnya belajar merupakan “perubahan tingkah laku si subjek dalam situasi tertentu berkat pengalamanya yang berulang-ulang, dan perubahan tingkah laku tersebut tak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan-kecenderungan respon bawaan, kematangan, misalnya keletihan dan sebagainya”. Dengan pengertian tersebut, Hamalik (2008:20) menyebutkan bahwa belajar memiliki ciri-ciri atau karakteristik, antara lain:
1) Belajar berbeda dengan kematangan
Pertumbuhan adalah saingan utama sebagai pengubah tingkah laku. Bila serangkaian tingkah laku matang melalui secara wajar tanpa adanya pengaruh dari latihan, maka dikatakan bahwa perkembangan itu adalah berkat kematangan dan bukan karena belajar.
2) Belajar dibedakan dari perubahan pisik dan mental
Perubahan tingkah laku juga dapat terjadi, disebabkan oleh terjadinya perubahan pada fisik dan mental karena melakukan suatu perubahan berulangkali yang mengakibatkan badan menjadi letih/lelah.
3) Ciri belajar yang hasilnya relatif menetap
Hasil belajar dalam bentuk perubahan tingkah laku. Belajar berlangsung dalam bentuk latihan dan pengalaman. Tingkah laku yang dihasilkan bersifat menetap dan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.
Dengan ini belajar dapat dikatakan apabila adanya perubahan pada diri individu berkat adanya latihan dan pengalaman. Tetapi belajar juga harus dibedakan dengan kematangan, perubahan pisik dan mental. Hasil belajar berupa tingkah laku sifatnya relatif tetap sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
d. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar yang dicapai murid merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam diri (faktor internal) maupun yang berasal dari luar diri siswa (faktor eksternal). Pengenalan terhadap faktor-faktor tersebut penting sekali artinya dalam membantu murid mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya.
Sudjana Nana (1989: 111) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu:
1) Faktor Internal (dari dalam individu yang belajar). Faktor yang mempengaruhi kegiatan belajar ini lebih ditekankan pada faktor dari dalam individu yang belajar. Adapun faktor yang mempengaruhi kegiatan tersebut adalah faktor psikologis, antara lain yaitu : motivasi, perhatian, pengamatan, tanggapan dan lain sebagainya.
2) Faktor Eksternal (dari luar individu yang belajar). Pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan belajar yang kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan faktor dari luar murid.
Adapun faktor yang mempengaruhi adalah mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan, dan pembentukan sikap.
Sedangkan Syah Muhibbin (2005: 144) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar murid dapat dibedakan menjadi tiga macam, yakni:
1) Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani murid;
2) faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar murid;
3) faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar murid yang meliputi strategi dan metode yang digunakan murid untuk melakukan kegiatan mempelajari materi- materi pelajaran.
Di samping itu, Purwanto (2004: 107) merincikan faktor lain yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar sebagai berikut:
Gambar.2.1. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Faktor
Dalam
Alam Lingkungan
Lingkungan r
Sosial
Luar Kurikulum
Guru/Pengajar Sarana dan Fasilitas Manejemen Instrumental
Bakat Minat Kecerdasan Motivasi Kognitif Psikologi
Kondisi Fisik Kodisi Panca Indra Fisiologi
Berdasarkan pendapat tersebut, maka pada garis besarnya terdapat dua faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar murid yaitu:
1) Faktor dari diri murid
Berbagai faktor yang bersumber dari diri murid yang mempengaruhi hasil belajarnya yaitu:
a) Faktor fisiologi
Kondisi kesehatan tubuh merupakan faktor yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar itu sendiri, seperti mengalami gangguan kesehatan tubuh. Oleh karena itu, kondisi fisiologi perlu mendapat perhatian demi kesuksesan belajar murid.
b) Faktor psikologis
Faktor psikologis adalah segala faktor yang merupakan aspek psikologis yang berperan dalam melakukan kegiatan belajar. Faktor-faktor tersebut seperti, intelegensi, bakat, dan motivasi.
2) Faktor dari luar diri murid
Faktor dari luar diri murid yang dapat mempengaruhi prestasi belajarnya, seperti faktor yang berasal dari keluarga, faktor sekolah dan faktor dari lingkungan masyarakat. Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi hasil belajar murid.
2. Penerapan Model Mind Mapping (Peta Pikiran) a. Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dapat juga diartikan suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Jadi, sebenarnya model pembelajaran memiliki arti yang sama dengan pendekatan, strategi atau metode pembelajaran. Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai macam model pembelajaran, dari yang sederhana sampai model yang agak kompleks dan rumit karena memerlukan banyak alat bantu dalam penerapannya.
Menurut Joyce dalam Trianto (2009: 22) model pembelajaran adalah
“suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum, dan lain-lain”.
Menurut Soekamto dalam Trianto (2007: 5) model pembelajaran adalah
“kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar”.
Ada beberapa ciri-ciri model pembelajaran secara khusus diantaranya adalah :
1). Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya.
2). Landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana murid belajar.
3). Tingkah laku mengajar yang diperlukanagar model tersebut dapat dilaksanakandengan berhasil.
4). Lingkungan belajar yang duperlukanagar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Pemilihan model dalam pembelajaran erat hubunganya dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan sebelumnya. Model yang dipilih harus membantu murid untuk mencapai hasil belajar yang efektif dan efisien. Dalam praktiknya guru tidak hanya menggunakan satu model mengajar saja, karena sebetulnya tidak ada model mengajar yang paling baik atau paling tepat digunakan sendiri.
Model pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial tidak terbatas jumlahnya.
Pada prinsipnya penggunaan model pangajaran berkaitan erat dengan penguasaan guru terhadap metode yang digunakan dan materi yang disampaikan. Di dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, seorang guru harus mampu menerapkan model pengajaran yang dapat membangkitkan daya tarik dan minat peserta didik untuk mengikuti pelajaran dengan baik. Sedangkan diantara beberapa model yang ada, penulis memilih salah satu dari beberapa model yaitu model Mind mapping, dengan pertimbangan agar murid tidak merasa bosan, jenuh tertekan dan bersifat negatif terhadap materi yang sedang dipelajari.
b. Pengertian Mind Mapping (Peta Pikiran)
Mind mapping (peta pikiran) adalah sebuah model yang dikembangkan oleh Tony Buzan pada tahun 1970-an. Model ini dikenal juga dengan radiant thinking (pancaran pinkiran). Model Mind mapping (peta pikiran) mengarahkan
agar kita dapat menuangkan, mencatat pikiran kita secara kreatif, efektif, kemudian dipetakan secara menarik, mudah, dan berdaya guna, sehingga dengan demikian kita dapat memberi pandangan menyeluruh pada pokok masalah atau area yang luas. Mind mapping (peta pikiran) memungkinkan kita merencanakan rute atau membuat pilihan-pilihan hingga kita dapat mengetahui kemana kita akan pergi dan di mana kita berada, mengumpulkan sejumlah besar data di satu tempat, mendorong pemecahan masalah dengan membiarkan kita melihat jalan-jalan terobosan kreatif baru menyenangkan untuk dilihat, dibaca, dicerna dan diingat.
Mind mapping (peta pikiran) merupakan teknik memetakan konsep atau teknik mencatat informasi yang disesuaikan dengan cara otak memproses informasi yang memfungsikan otak kanan dan otak kiri secara sinergis (bersamaan dan saling melengkapi) sehingga informasi lebih banyak dan lebih mudah diingat. Otak tidak menyimpan informasi dengan pola dan asosiasi seperti pohon dengan cabang dan rantingnya. Untuk mengingat kembali dengan cepat apa yang telah kita pelajari sebaiknya meniru cara kerja otak dalam bentuk peta pikiran. Dengan demikian, “proses menyajikan dan menangkap isi pelajaran dalam peta-peta konsep mendekati operasi alamiah dalam berpikir” (Sugiyanto, 2007: 41).
Menurut Wycoff (2003: 64) Mind Mapping (peta pikiran) merupakan
“salah satu keterampilan paling efektif dalam proses berpikir kreatif. Pemetaan pikiran mirip dengan outlining tetapi lebih menarik secara visual dan melibatkan kedua belahan otak”.
Windura (2008: 16) mengungkapkan bahwa “Mind mapping (peta pikiran) adalah suatu teknis grafis yang memungkinkan kita untuk mengeksplorasi seluruh kemampuan otak kita untuk keperluan berpikir dan belajar”.
Uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Mind mapping (peta pikiran) adalah sebuah metode mencatat tinggi yang tidak monoton karena mind mapping (peta pikran) memadukan fungsi kerja otak secara bersamaan dan saling berkaian satu sama lain, sehingga akan terjadi keseimbangan kerja kedua belahan otak. Selain itu, mind mapping (peta pikiran) mendorong kreativitas murid untuk dapat memunculkan ide-ide yang cemerlang, menemukan solusi yang inspiratif untuk menyelesaikan masalah atau menemukan cara baru untuk memotivasi diri dan orang lain, karena mind mapping merupakan pancaran pikiran langsung dari murid.
c. Tujuan dan Manfaat Mind Mapping (Peta Pikiran) 1) Tujuan mind mapping (peta pikiran)
Mind mapping (peta pikiran) bertujuan membuat materi pelajaran terpola secara visual dan grafis yang akhirnya dapat membantu merekam, memperkuat, dan mengingat kembali informasi yang telah dipelajari.
2) Manfaat mind mapping (peta pikiran)
Mind mapping (peta pikiran) merupakan teknik visualisasi verbal ke dalam gambar. Mind mapping (peta pikiran) sangat bermanfaat untuk memahami materi, terutama materi yang diberikan secara verbal
Ada banyak sekali manfaat yang didapatkan dengan mencatat menggunakan mind mapping (peta pikiran). (1) mind mapping (peta pikiran)
mampu meningkatkan kapasitas pemahaman karena telah ditata dan dikelompokkan sedemikan rupa dan secara mental hal ini juga membuat seseorang lebih terorganisir dan runtut dalam memahami sebuah persoalan. (2) mind mapping (peta pikiran) juga meningkatkan kemampuan seseorang dalam berimajinasi, mengingat, berkonsentrasi, membuat catatan, meningkatkan minat sekaligus mampu menyelesaikan persoalan. (3) mind mapping (peta pikiran) merangsang sisi kreatif seseorang lewat penggunaan garis lengkung, warna dan gambar. Ini membuat sebuah catatan menjadi karya seni yang indah. Secara mental akan memudahkan kita untuk mengingatnya. (4) mind mapping (peta pikiran) dapat membantu seseorang membuat catatan yang menarik dalam waktu singkat. Selain itu, catatan ini mampu membuka pemahaman dan sisi kreatif dengan merangsang munculnya ide-ide dan insight baru, bahkan pada saat membuat catatan itu sendiri. Mind mapping (peta pikiran) dapat pula menjelaskan sebuah tujuan, rencana, ide, maupun pemikiran secara jelas dan terstruktur.
d. Kelebihan dan Kekurangan Mind Mapping (Peta Pikiran)
Terdapat banyak kelebihan dan kelemehan dari model mind mapping (peta pikiran) karena model mind mapping (peta pikiran) melibatkan kedua sisi otak yaitu menggunakan gambar, warna, dan imajinasi (wilayah otak kanan) bersamaan dengan kata, angka, logika (wilayah otak kiri) sehingga, belajar akan menjadi lebih menyenangkan. Salah satu kelebihan Mind mapping (peta pikiran) adalah dapat membantu murid dalam banyak hal, seperti memacu kreativitas, pemahaman dan daya ingat murid. Berikut pendapat para ahli tentang keutamaan dan kelebihan mind mapping (peta pikiran).
Keutamaan model pencatatan menggunakan mind mapping (peta pikiran), antara lain:
(1) tema utama terdefenisi secara sangat jelas karena dinyatakan di tengah.
(2) level keutamaan informasi teridentifikasi secara lebih baik. Informasi yang memiliki kadar kepentingan lebih diletakkan dengan tema utama.
(3) hubungan masing-masing informasi secara mudah dapat segera dikenali.
(4) lebih mudah dipahami dan diingat.
(5) informasi baru setelahnya dapat segera digabungkan tanpa merusak keseluruhan struktur mind mapping (peta pikiran), sehingga mempermudah proses pengingatan.
(6) masing-masing mind mapping (peta pikiran) sangat unik, sehingga mempermudah proses pengingatan.
(7) mempercepat proses pencatatan karena hanya menggunakan kata kunci.
Windura (2008) mengemukakan bahwa Kebaikan dan kelebihan mind mapping (peta pikiran) tidak hanya dinilai dari apa yang terlihat kasat mata, namun juga hal-hal yang melandasi prinsip pembuatannya yang sungguh-sungguh mengikuti apa yang diinginkan otak. Kehebatan mind mapping (peta pikiran) dalam mengikuti kerja alami otak manusia yaitu sebagai berikut:
(1) Gambaran Keseluruhan
Mind mapping (peta pikiran) tidak lain adalah peta di otak saat kita berpikir akan suatu hal. Untuk dapat menemukan ke mana tujuan pemikiran di butuhkan peta. Dan peta itu adalah mind mapping (peta pikiran). Mind mapping (peta pikiran) memungkinkan penggunanya melihat gambaran keseluruhan
sekaligus detail permasalahan pada saat yang bersamaan. Hal ini seperti membaca sebuah peta.
(2) Detail Informasi
Selain mendapatkan gambaran keseluruhan mengenai materi pelajaran tesebut, pada saat bersamaan murid bisa melihat detail informasi materi secara mudah. Bila murid ingin mengetahui tentang mata pencaharian penduduk pada zaman kerajaan Tarumanegara, maka murid tinggal menuju ke cabang mind mapping (peta pikiran) yang membahas mengenai hal tersebut. Sehingga murid bisa dengan mudah berpindah-pindah dari satu bagian materi pelajaran ke bagian lain tanpa kehilangan pemahamannya.
(3) Kata Kunci yang “Kuat”
Semua kata dalam mind mapping (peta pikiran) adalah sebuah kata tunggal, namun sebenarnya itu bukanlah sebuah kata tunggal biasa, melainkan sebuah kata kunci. Dan kata kunci adalah kata-kata yang paling kuat yang dapat mewakili sebuah kalimat atau frasa karena otak sebenarnya hanya dapat mengingat informasi berupa kata kunci dan gambar.
(4) Gambar Mengaktifkan Otak Kanan
Penggunaan gambar dan ilustrasi dalam belajar akan mengaktifkan otak kanan dan menyeimbangkan dengan otak kirinya. Begitu juga dengan mind mapping (peta pikiran) yang menggunakan banyak gambar sehingga belajar melibatkan kedua belah otak, yakni otak kiri dan kanan.
(5) Warna Menyenangkan Otak
Dunia diciptakan Tuhan dengan penuh warna-warni dengan maksud untuk menyenangkan otak kita. Begitupun dengan imajinasi dan pikiran, ketika kita memejamkan mata dan membayangkan sebuah pemandangan, maka kita akan membayangkan pemandangan dengan penuh warna-warni bukan hitam putih.
Tapi yang terjadi dalam proses belajar murid hanya menggunakan satu warna saja, sehingga akan membosankan otak.
Mind mapping (peta pikiran) mengharuskan murid untuk memakai berbagai warna dalam pembuatannya. Dan ini disukai oleh otak karena penggunaan warna juga mengaktifkan sisi otak kanan, sehingga kedua belah otak pun terlibat dan yang dirasakan murid adalah belajar yang menyenangkan karena lebih bersifat bermain sambil menggambar.
(6) Pengelompokan Informasi
Mind mapping (peta pikiran) mengelompokkan informasi dengan sangat jelas. Semakin baik murid mengelompokkan informasi, maka semakin mudah informasi itu dicerna oleh otak. Karena informasi yang disajikan dengan pengelompokkan yang sejenis akan lebih mudah untuk diingat.
(7) Hierarki Informasi
Mind mapping (peta pikiran) menggunakan hierarki antara informaasi, sehingga tingkat kepentingan informasi juga diperhatikan. Suatu materi pelajaran yang sudah tersusun hierarkinya akan jauh lebih mudah dipahami.
(8) Hubungan antara Informasi
Suatu informasi akan lebih mudah diingat jika terasosiasi dengan informasi lain yang sudah kita ingat sebelumnya. mind mapping (peta pikiran) menggunakan prinsip asosiasi tersebut, dan menyebabkan hubungan antar informasi menjadi jelas dan sistematis. Kata-kata dalam sebuah mind mapping (peta pikiran) juga saling berhubungan dan menerangkan satu sama lain.
(9) Tata Ruang
Tidak seperti tulisan pada buku catatan dan buku cetak yang berangkat dari kiri atas ke kanan bawah, mind mapping (peta pikiran) justru menyebar keluar dari tengah ke seluruh arah. Pusat mind mapping (peta pikiran) ada di tengah- tengah kertas agar menarik perhatian mata dan otak. Sesuatu yang menarik perhatian mata dan otak akan menyebabkan kita untuk fokus. Cara kerja mind mapping (peta pikiran) tidak lain adalah sama dengan apa yang terjadi pada sel otak, yaitu memancar dari satu titik ke titik lainnya.
(10) Unik
Sesuatu yang unik akan lebih mudah diingat. mind mapping (peta pikiran) sifatnya unik karena hasilnya berbeda untuk setiap murid walaupun untuk materi pelajaran yang sama karena setiap murid mempunyai pancaran pikiran yang berbeda-beda, hali ini menjadikan mind mapping (peta pikiran) sebagai suatu karya seni yang unik bagi murid.
Sedangkan kekurangan model mind mapping (peta pikiran) yaitu hanya murid yang aktif yang terlibat, tidak sepenuhnya murid yang belajar, jumlah detail informasi tidak dapat dimasukkan.
e. Kaidah Pembuatan Mind Mapping (Peta Pikiran)
Ada beberapa prinsip kerja otak yang menjadi dasar dalam pembuatan mind mapping (peta pikiran), yang pertama adalah gambar. What you see, you will remember! Otak kita memiliki kapasitas untuk mengingat gambar dan foto. Otak terus menerus mengambil foto selama hidup kita dan menyimpannya di dalam album foto di kepala kita. Dan kita dapat mengaksesnya kapanpun kita mau. ini adalah hal yang penting dari Mind mapping (peta pikiran) karena otak kita lebih mudah mengingat gambar dari pada mengingat kata-kata yang panjang dari sebuah teks. Kedua adalah headlines atau point penting, otak kita jauh lebih mudah mengingat sebuah kata penting atau kalimat pendek dibandingkan mengingat sebuah teks yang panjang.
Menurut Djohan (2008), proses pembuatan sebuah mind mapping (peta pikiran) secara step by step dapat dibagi menjadi empat langkah yang harus dilakukan secara berurutan yaitu :
(1) Menentukan Central Topic (topik utama). Central Topic biasanya adalah Judul buku atau Judul bab yang akan dipelajari dan harus diletakkan ditengah kertas serta usahakan berbentuk image (gambar).
(2) Membuat Basic Ordering Ideas untuk Central Topic yang telah dipilih, BOIs biasanya adalah judul Bab atau Sub-Bab dari buku yang akan dipelajari atau bisa juga dengan menggunakan 5WH (What, Why, Where, When, Who dan How).
(3) Melengkapi setiap BOIs dengan cabang-cabang yang berisi data-data pendukung yang terkait. Langkah ini merupakan langkah yang sangat penting
karena pada saat inilah seluruh data-data harus ditempatkan dalam setiap cabang BOIs secara asosiatif dan menggunakan struktur radian yang menjadi ciri yang paling khas dari suatu mind mapping (peta pikiran).
(4) Melengkapi setiap cabang dengan Image baik berupa gambar, simbol, kode, daftar, grafik dan garis penghubung bila ada BOIs yang saling terkait satu dengan lainnya.
Berikut adalah proses pembuatan mind mapping (peta pikiran):
(1) Kertas: polos dengan ukuran minimal A4 dan paling baik adalah ukuran A3 dengan orientasi horizontal (Landscape). Central Topic diletakkan ditengah- tengah kertas dan sedapat mungkin berupa Image dengan minimal 3 warna.
(2) Garis: lebih tebal untuk BOIs dan selanjutnya semakin jauh dari pusat garis akan semakin tipis. Garis harus melengkung (tidak boleh garis lurus) dengan panjang yang sama dengan panjang kata atau image yang ada di atasnya.
Seluruh garis harus tersambung ke pusat.
(3)Kata: menggunakan kata kunci saja dan hanya satu kata untuk satu garis. Harus selalu menggunakan huruf cetak supaya lebih jelas dengan besar huruf yang semakin mengecil untuk cabang yang semakin jauh dari pusat.
(4) Gambar: gunakan sebanyak mungkin gambar, kode, simbol, grafik, table dan ritme karena lebih menarik serta mudah untuk diingat dan dipahami. Kalau memungkinkan gunakan Image yang tiga dimensi agar lebih menarik lagi.
(5) Warna: gunakan minimal 3 warna dan lebih baik 5 – 6 warna. Warna berbeda untuk setiap BOIs dan warna cabang harus mengikuti warna BOIs.
(6) Struktur: menggunakan struktur radiant dengan central topic terletak di tengah-tengah kertas dan selanjutnya cabang-cabangnya menyebar ke segala arah.
Buzan (2009) mengemukakan bahwa apa yang kita perlukan dalam membuat mind mapping (peta pikiran) begitu mudah karena mind mapping (peta pikiran) bersifat alami sesuai kinerja otak. Hal-hal yang dibutuhkan yaitu: (1) kertas kosong tak bergaris, (2) pena dan pinsil warna, (3) otak, dan (4) imajinasi.
Adapun langkah-langkah pembuatan mind mapping (peta pikiran) Buzan (2009- 15) mengungkapkan, ada tujuh langkah dalam membuat mind mapping (peta pikiran) yaitu:
(1) Mulailah dari bagian TENGAH kertas kosong yang sisi panjangnya diletakkan mendatar. Mengapa? Karena memulai dari tengah memberi kebebasan kepada otak untuk menyebar ke segala arah dan untuk mengungkapkan dirinya dengan lebih bebas dan alami.
(2)Gunakan GAMBAR atau FOTO untuk ide sentral anda. Mengapa?
Karena sebuah gambar bermakna seribu kata dan membantu kita menggunakan imajinasi. Sebuah gambar sentral akan lebih menarik, membuat kita tetap terfokus, membantu kita berkonsentrasi, dan mengaktifkan otak kita.
(3)Gunakan WARNA. Mengapa? Karena bagi otak, warna sama menariknya dengan gambar. Warna membuat mind mapping (peta pikiran) lebih hidup, menambah energy kepada pemikiran kreatif, dan menyenangkan!
(4)Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat dan hubungkan cabang-cabang tingkat dua dan tiga ke tingkat satu dan dua, dan seterusnya. Mengapa? Karena otak bekerja menurut asosiasi. Otak senang mangaitkan dua (atau tiga atau emapat) hal sekaligus. Bila kita menghubungkan cabang-cabang, kita akan lebih mudah mengerti dan mengingat. Perhubungan cabang-cabang utama akan menciptakan dan menetapkan struktur pikiran kita. Ini serupa dengan cara pohon mengaitkan cabang-cabangnya yang menyebar dari batang utama.
(5)Buatlah garis hubungan yang MELENGKUNG, bukan garis lurus.
Mengapa? Karena garis lurus akan membosankan otak. Cabang-cabang yan melengkung dan organis, seperti pohon, jauh lebih menarik bagi mata.
(6)Gunakan SATU KATA KUNCI UNTUK SETIAP GARIS. Mengapa?
Karena kata kunci tunggal member lebih banyak daya dan fleksibilitas kepada mind mapping (peta pikiran). Setiap kata tunggal atau gambar adalah seperti pengganda, menghasilkan sederet asosiasi dan hubungannya sendiri. Bila kita menggunakan kata tunggal, setiap kata akan lebih bebas dan karenanya lebih bisa memicu ide dan pemikiran baru.
(7)Gunakan GAMBAR. Mengapa? Karena seperti gambar sentral setiap gambar bermakna seribu kata. Jadi bila kita hanya mempunyai 10 gambar di dalam mind mapping (peta pikiran) kita, mind mapping (peta pikiran) kita sudah setara dengan 10.000 kata catatan!
Berikut adalah contoh mind mapping (peta pikiran) buatan Buzan (2009: 163):
Gambar: 2.2. Contoh mind mapping (peta pikiran) Mesir
Lebih lanjut, Windura (2008) mengemukakan bahwa pembuatan mind mapping (peta pikiran) itu sangatlah mudah, namun ada hukum-hukum pembuatan mind mapping (peta pikiran) yang harus diketahui dan dipatuhi.
Hukum-hukum mind mapping (peta pikiran) itu tidak lain adalah hukum-hukum otak kita. Jika mau sukses belajar hukum otak harus dipatuhi. Berikut adalah ringkasan dari Law of mind mapping (hukum mind mapping):
(6)Gunakan SATU KATA KUNCI UNTUK SETIAP GARIS. Mengapa?
Karena kata kunci tunggal member lebih banyak daya dan fleksibilitas kepada mind mapping (peta pikiran). Setiap kata tunggal atau gambar adalah seperti pengganda, menghasilkan sederet asosiasi dan hubungannya sendiri. Bila kita menggunakan kata tunggal, setiap kata akan lebih bebas dan karenanya lebih bisa memicu ide dan pemikiran baru.
(7)Gunakan GAMBAR. Mengapa? Karena seperti gambar sentral setiap gambar bermakna seribu kata. Jadi bila kita hanya mempunyai 10 gambar di dalam mind mapping (peta pikiran) kita, mind mapping (peta pikiran) kita sudah setara dengan 10.000 kata catatan!
Berikut adalah contoh mind mapping (peta pikiran) buatan Buzan (2009: 163):
Gambar: 2.2. Contoh mind mapping (peta pikiran) Mesir
Lebih lanjut, Windura (2008) mengemukakan bahwa pembuatan mind mapping (peta pikiran) itu sangatlah mudah, namun ada hukum-hukum pembuatan mind mapping (peta pikiran) yang harus diketahui dan dipatuhi.
Hukum-hukum mind mapping (peta pikiran) itu tidak lain adalah hukum-hukum otak kita. Jika mau sukses belajar hukum otak harus dipatuhi. Berikut adalah ringkasan dari Law of mind mapping (hukum mind mapping):
(6)Gunakan SATU KATA KUNCI UNTUK SETIAP GARIS. Mengapa?
Karena kata kunci tunggal member lebih banyak daya dan fleksibilitas kepada mind mapping (peta pikiran). Setiap kata tunggal atau gambar adalah seperti pengganda, menghasilkan sederet asosiasi dan hubungannya sendiri. Bila kita menggunakan kata tunggal, setiap kata akan lebih bebas dan karenanya lebih bisa memicu ide dan pemikiran baru.
(7)Gunakan GAMBAR. Mengapa? Karena seperti gambar sentral setiap gambar bermakna seribu kata. Jadi bila kita hanya mempunyai 10 gambar di dalam mind mapping (peta pikiran) kita, mind mapping (peta pikiran) kita sudah setara dengan 10.000 kata catatan!
Berikut adalah contoh mind mapping (peta pikiran) buatan Buzan (2009: 163):
Gambar: 2.2. Contoh mind mapping (peta pikiran) Mesir
Lebih lanjut, Windura (2008) mengemukakan bahwa pembuatan mind mapping (peta pikiran) itu sangatlah mudah, namun ada hukum-hukum pembuatan mind mapping (peta pikiran) yang harus diketahui dan dipatuhi.
Hukum-hukum mind mapping (peta pikiran) itu tidak lain adalah hukum-hukum otak kita. Jika mau sukses belajar hukum otak harus dipatuhi. Berikut adalah ringkasan dari Law of mind mapping (hukum mind mapping):
(1) Hal-Hal yang diperlukan
Ada beberapa hal yang perlu disiapakan sebelum membuat mind mapping (peta pikiran) yaitu:
(a) Kertas kosong berwarna putih tak bergaris
(b) Pena dan pensil warna atau spidol minimal tiga warna (c) Imaginasi
(d) Otak kita sendiri
(2) Cara membuat mind mapping (peta pikiran) (a) Letakkan kertas secara mendatar.
(b) Pusat mind mapping (peta pikiran): pilihlah topik yang akan di petakan dalam mind mapping (peta pikiran) kemudian gambarlah tema tersebut di tengah-tengah kertas yang disertai tulisan judul dari topik atau gagasan utama.
(c) Buatlah cabang utama atau sering disebut dengan Basic Ordering Ideas, merupakan cabang tingkat pertama yang langsung memancar dari pusat peta pikiran. carilah material dan informasi tambahan mengenai topik, kemudian tentukanlah kata kunci untuk cabang utama.
(d) Gunakan dimensi, ekspresi, paling sedikit tiga warna, di gambar utama untuk menarik perhatian dan membantu mengingat.
(e) Buatlah cabang yang lebih dekat ke tengah lebih tebal, cabang diusahakan meliuk, pangkal tebal lalu menipis, semakin jauh dari pusat semakin tipis, panjang cabang sesuai dengan panjang kata kunci/gambar di atasnya.
(f) Gunakan kata berupa satu kata kunci, kata ditulis di atas cabang.
(g) Gunakanlah gambar dan warna sebisa mungkin.
(h) Letakkanlah semua ide kemudian edit, di organisir kembali, dan buat menjadi lebih indah.
Berikut adalah contoh mind mapping (peta pikiran) buatan Windura (2008) dengan topik gempa bumi
Gambar 2.3. Contoh mind mapping (peta pikiran) Materi Gempa Bumi
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat mind mapping (peta pikiran) yaitu:
(1) Tuliskan konsep, topik atau gagasan utama di tengah-tengah selembar kertas putih atau papan whiteboard kemudian gambar sebuah lingkaran, kotak atau bentuk lain mengelilinginya.
(2) Mulailah mengembangkan konsep utama itu dengan pertanyaan-pertanyaan seperti: Apa yang berkontribusi terhadap ini? Mengapa? Bagaimana terjadi?
Apa yang mempengaruhinya? Gambarkan cabang dari pusat ke setiap kata kunci atau gagasan yang muncul. Jumlah cabang yang ada akan berbeda
tergantung pada jumlah gagasannya. Gunakan warna yang berbeda untuk setiap cabang.
(3) Tuliskan kata kunci atau kalimat kunci pada tiap cabang dan tambahkan detail tentang kata/kalimat tersebut. Kata kunci adalah kata yang mengungkapkan inti dari sebuah gagasan dan memancing ingatan kita.
(4) Terus tambahkan cabang-cabang yang lain, mulailah dari kumpulan kata kunci yang pertama dan seterusnya, sambil terus mengeksplorasi topik tersebut dengan lebih dalam lagi.
(5) Sambungkan gagasan-gagasan yang berkaitan erat satu sama lainnya, dengan menggunakan tanda panah, garis, atau cabang.
3. Ilmu Pengetahuan Sosial a. Pengertian IPS
Pada hakikatnya Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menjadi suatu mata pelajaran yang dapat mengantarkan murid untuk dapat menjawab masalah- masalah mendasar tentang individu, masyarakat, pranata sosial, problem sosial, perubahan sosial, dan kehidupan masyarakat berbangsa, dari waktu ke waktu.
Murid diharapkan akan dapat menjawab pertanyaan tersebut di atas melalui substansi Ilmu Pengetahuan Sosial yang telah dirancang secara sistematis dan komprehensif. Dengan demikian, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) diperlukan bagi murid dalam proses menuju kedewasaan dan mencapai keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat di kelak kemudian hari. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial.
Ilmu Pengetahuan Sosial (Social Studies), merupakan bidang ajaran di sekolah dengan tujuan mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan sosial dalam bentuk konsep dan pengalaman belajar yang dipilih atau terorganisir dalam rangka kajian ilmu sosial.
Ilmu pengetahuan sosial juga merupakan studi terintegrasi dari ilmu-ilmu sosial untuk mengembangkan potensi kewarganegaraan yang dikoordinasikan dalam program sekolah sebagai pembahasan sistematis yang dibangun di atas disiplin ilmu seperti antropologi, arkeologi, ekonomi, geografi, sejarah, hukum, filsafat, ilmu-ilmu politik, psikologi, agama, sosiologi, dan juga memuat isi dari humaniora, matematika, dan ilmu-ilmu alam.
Departemen Pendidikan Nasional (Ihdawiyah, 2011: 34) mendefinisikan IPS sebagai berikut:
“Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu- ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan interdisipliner dari aspek dan cabang- cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya)”.
Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa IPS adalah pengetahuan yang terintegrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti antropologi, arkeologi, ekonomi, geografi, sejarah, hukum, filsafat, ilmu-ilmu politik, psikologi, agama, sosiologi, dan juga memuat isi dari humaniora, matematika, dan ilmu-ilmu alam serta mempelajari manusia dan hubungannya dengan lingkungan sekitar.
Ilmu Pengetahuan Sosial (Social Studies), merupakan bidang ajaran di sekolah dengan tujuan mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan
sosial dalam bentuk konsep dan pengalaman belajar yang dipilih atau terorganisir dalam rangka kajian ilmu sosial.
IPS bukan ilmu sosial dan pembelajaran IPS yang dilaksanakan baik pada pendidikan dasar maupun pada pendidikan tinggi tidak menekankan pada aspek teoritis keilmuannya, tetapi aspek praktis dalam mempelajari, menelaah, mengkaji gejala, dan masalah sosial masyarakat, yang bobot dan keluasannya disesuaikan dengan jenjang pendidikan masingmasing.
Kajian tentang masyarakat dalam IPS dapat dilakukan dalam lingkungan yang terbatas, yaitu lingkungan sekitar sekolah atau siswa dan siswi atau dalam lingkungan yang luas, yaitu lingkungan negara lain, baik yang ada di masa sekarang maupun di masa lampau. Dengan demikian siswa dan siswi yang mempelajari IPS dapat menghayati masa sekarang dengan dibekali pengetahuan tentang masa lampau umat manusia.
Bertolak dari uraian di depan, kegiatan belajar mengajar IPS membahas manusia dengan lingkungannya dari berbagai sudut ilmu sosial pada masa lampau, sekarang, dan masa mendatang, baik pada lingkungan yang dekat maupun lingkungan yang jauh dari siswa dan siswi. Oleh karena itu, guru IPS harus sungguh-sungguh memahami apa dan bagaimana bidang studi IPS itu.
b. Pengertian IPS Menurut Ahli
Berikut pengertian IPS menurut para ahli:
“Moeljono Cokrodikardjo mengemukakan bahwa “IPS adalah perwujudan dari berbagai cabang ilmu sosial yakni sosiologi, antropologi, budaya, psikologi, sejarah, geokrafi, ekonomi, ilmu politik dan ekologi manusia, yang diformulasikan untuk tujuan instruksional dengan materi dan tujuan yang disederhanakan agar mudah dipelajari”.
Tim IKIP Surabaya mengemukakan bahwa: “IPS merupakan bidang studi yang menghormati, mempelajari, mengolah, dan membahas hal-hal yang berhubungan dengan masalah-masalah human relationship hingga benarbenar dapat dipahami dan diperoleh pemecahannya”.
Nu’man Soemantri menyatakan bahwa:
S. Nasution mendefinisikan IPS sebagai pelajaran yang merupakan fusi atau paduan sejumlah mata pelajaran sosial. Dinyatakan bahwa IPS merupakan bagian kurikulum sekolah yang berhubungan dengan peran manusia dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai subjek sejarah, ekonomi, geografi, sosiologi, antropologi, dan psikologi sosial.
Dengan demikian, IPS bukan ilmu sosial dan pembelajaran IPS yang dilaksanakan baik pada pendidikan dasar maupun pada pendidikan tinggi tidak menekankan pada aspek teoritis keilmuannya, tetapi aspek praktis dalam mempelajari, menelaah, mengkaji gejala, dan masalah sosial masyarakat, yang bobot dan keluasannya disesuaikan dengan jenjang pendidikan masing- masing.
c. Ruang Lingkup IPS
Secara mendasar, pembelajaran IPS berkenaan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. IPS berkenaan dengan
IPS merupakan pelajaran ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk pendidikan tingkat SD, SLTP, dan SLTA. Penyederhanaan mengandung arti: a) menurunkan tingkat kesukaran ilmu-ilmu sosial yang biasanya dipelajari di universitas menjadi pelajaran yang sesuai dengan kematangan berfikir siswa siswi sekolah dasar dan lanjutan, b) mempertautkan dan memadukan bahan aneka cabang ilmu-ilmu sosial dan kehidupan masyarakat sehingga menjadi pelajaran yang mudah dicerna.
cara manusia memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan untuk memenuhi materi, budaya, dan kejiwaannya; memamfaatkan sumber-daya yang ada dipermukaan bumi; mengatur kesejahteraan dan pemerintahannya maupun kebutuhan lainnya dalam rangka mempertahankan kehidupan masyarakat manusia. Singkatnya, IPS mempelajari, menelaah, dan mengkaji sistem kehidupan manusia di permukaan bumi ini dalam konteks sosialnya atau manusia sebagai anggota masyarakat.
Pertimbangn bahwa manusia dalam konteks sosial demikian luas, pengajaran IPS pada jenjang pendidikan harus dibatasi sesuai dengan kemampuan peserta didik tiap jenjang, sehingga ruang lingkup pengajaran IPS pada jenjang pendidikan dasar berbeda dengan jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pada jenjang pendidikan dasar, ruang lingkup pengajaran IPS dibatasi sampai pada gejala dan masalah sosial yang dapat dijangkau pada geografi dan sejarah.Terutama gejala dan masalah sosial kehidupan sehari-hari yang ada di lingkungan sekitar peserta didik MI/SD.
Pada jenjang pendidikan menengah, ruang lingkup kajian diperluas. Begitu juga pada jenjang pendidikan tinggi: bobot dan keluasan materi dan kajian semakin dipertajam dengan berbagai pendekatan. Pendekatan interdisipliner atau multidisipliner dan pendekatan sistem menjadi pilihan yang tepat untuk diterapkan karena IPS pada jenjang pendidikan tinggi menjadi sarana melatih daya pikir dan daya nalar mahasiswa secara berkesinambungan.
Sebagaimana telah dikemukakan di depan, bahwa yang dipelajari IPS adalah manusia sebagai anggota masyarakat dalam konteks sosialnya, ruang lingkup kajian IPS meliputi (a) substansi materi ilmu-ilmu sosial yang bersentuhan dengan