BAB III METODE PENELITIAN
G. Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, yaitu menjawab dan memecahkan masalah dengan melakukan pemahaman dan pendalaman secara menyeluruh dan utuh dari obyek yang diteliti guna mendapatkan kesimpulan yang bersifat deskriptif sesuai dengan kondisi dan waktu. Adapun data yang diperoleh melaui wawancara, observasi dan dokumentasi dianalisis secara kualitatif. Sedangkan
hasil belajar yang diperoleh murid akan dianaliis secara kuantitaif kemudian dideskriptifkan secara sistematis sehingga dapat diperoleh suatu kesimpulan.
H. Indikator Keberasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini dapat dilihat pada proses pembelajaran dan hasil yang dicapai dalam belajar IPS, dimana secara individu hasil belajar IPS kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa mencapai 80% dari nilai KKM yaitu 65, jika semua murid memperoleh nilai tersebut maka siklus berikutnya tidak dilanjutkan lagi karena indikator keberhasilan telah tercapai.
Setiap jenis objek yang dinilai diklasifikasikan dan ditentukan kecenderungan kategori seperti pada kriteria standar yang diungkapkan Nurkancana (1986: 39) yaitu:
Untuk tingkat 90% - 100% dikategorikan sangat tinggi
Untuk tingkat 80% - 89% dikategorikan tinggi
Untuk tingkat 65% - 79% dikategorikan sedang
Untuk tingkat 55% - 64% dikategorikan rendah
Untuk tingkat 0 - 54% dikategorikan sangat rendah
I. Jadwal Penelitian
Adapun jadwal pelaksanaan penelitian digambarkan pada tabel berikut:
Tabel 3.1 Jadwal Pelaksanaan Penelitian
No Kegiatan
Waktu Pelaksanaan
Bulan I Bulan II Bulan III Bulan IV 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Penyusunan usulan
penelitian
2 Seminar dan pengurusan izin penelitian
3 Pelaksanaan penelitian
4 Analisis data dan penyusunan skripsi 5 Pengurusan ujian Keterangan :
: pelaksanaan kegiatan
54
Pada bab ini hasil-hasil penelitian yang memperhatikan aktivitas dan hasil belajar murid kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa dalam bentuk penelitian tindakan kelas (PTK). Data hasil penelitian adalah data yang diperoleh dari tes hasil belajar murid setelah pelaksanaan tindakan siklus I dan siklus II dan hasil observasi selama pelaksanaan tindakan setiap akhir siklus.
Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Pada pelaksanaan tindakan ini dilakukan dalam siklus, yaitu kegiatan siklus I dan siklus II. Adapun hasil yang diperoleh dari dua siklus yaitu, siklus I dan siklus II.
A. HASIL PENELITIAN 1. Siklus I
Pelaksanaan siklus I dilakukan selama 4 kali pertemuan. Tindakan yang dilakukan selama siklus I meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.
a. Perencanaan
Perencanaan kegiatan pembelajaran pada siklus I pada pertemuan pertama melalui penerapan model pembelajaran mind mapping (peta pikiran) pada pembelajaran kenampakan alam di wilayah daratan (gunung dan pegunungan), setelah itu kegiatan selanjutnya adalah menyiapkan hal-hal yang diperlukan pada saat pelaksanaan tindakan siklus I.
Hal-hal yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah:
1) Mempersiapkan perangkat pembelajaran (silabus dan RPP) serta alat peraga untuk kegiatan pembelajaran pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga.
2) Mempersiapkan lembar observasi untuk mencatat aktivitas dan perubahan tingkah laku murid selama proses pembelajaran berlangsung pada pelaksanaan tindakan siklus I.
3) Mempersiapkan angket respon murid untuk mengetahui pendapat murid terhadap tindakan yang dilakukan yang akan diberikan pada akhir siklus I.
4) Mempersiapkan lembar kerja siswa (LKS) yang dikerjakan secara kelompok pada setiap pertemuan.
5) Mempersiapkan alat evaluasi berupa soal tes siklus I.
6) Mempersiapkan lembar jawaban yang akan digunakan murid untuk menjawab soal tes siklus I.
b. Pelaksanaan Tindakan PERTEMUAN I
Siklus I dilaksanakan selama 4 kali pertemuan, 3 kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan 1 kali pertemuan untuk pemberian ulangan harian atau tes siklus. Pada hari jumat 1 November 2013 peneliti memulai proses pembelajaran dengan materi “Kenampakan alam di wilayah daratan (gunung dan pegunungan)” dengan model pembelajaran mind mapping (peta pikiran) dan dibagi menjadi tiga kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.
Pada kegiatan awal guru terlebih dahulu melakukan doa bersama sebelum belajar kemudian guru mengecek kehadiran murid, setelah itu guru menanyakan perlengkapan alat dan bahan yang dibawa murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran). Setelah memberikan arahan guru melakukan apersepsi. Setelah itu, guru lalu menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran.
Pada kegiatan inti guru menjelaskan kepada murid tentang kenampakan alam di wilayah daratan (gunung dan pegunungan). Setelah itu guru membagi murid menjadi lima kelompok secara acak. Setelah murid terbagi menjadi lima kelompok, guru membagikan Lembar Kerja Murid pada setiap kelompok.
Selanjutnya guru memberikan kesempatan kepada tiap kelompok berdiskusi dan bekerja sama untuk mengidentifikasi kenampakan alam (gunung dan pegunungan), tiap kelompok diberikan batas waktu 15 menit untuk menyelesaikan lembar kerja yang telah dibagikan.
Setelah tiap kelompok mengidentifikasi tentang kenampakan alam (gunung dan pegunungan), guru memperlihatkan media gambar contoh mind mapping (peta pikiran) kepada murid secara klasikal. Melalui media gambar tersebut, guru menjelaskan kepada murid bahwa inilah yang dinamakan mind mapping (peta pikiran). Guru menjelaskan bagaimana langkah-langkah membuat mind mapping (peta pikiran) dan menjelaskan bahwa nanti murid akan membuat mind mapping (peta pikiran) kenampakan alam (gunung dan pegunungan) secara individu. Selanjutnya guru memberikan motivasi kepada murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran).
Setelah menjelaskan langkah-langkah pembuatan mind mapping (peta pikiran) Guru mengarahkan dan membimbing murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran)nya sendiri berdasarkan hasil identifikasi awal yang telah
dilakukan oleh murid pada lembar kerja yang telah dikerjakan sebelumnya bersama kelompok. Murid diberikan batas waktu 20 menit untuk mengerjakan mind mapping (peta pikiran)nya. Selanjutnya guru membuka sesi tanya jawab
dengan murid secara klasikal.
Murid diminta untuk memperhatikan mind mapping (peta pikiran) yang telah dibuat, kemudian guru bersama dengan murid menyimpulkan materi menggunakan mind mapping (peta pikiran) tersebut. Guru menutup pembelajaran dengan pemberian pesan-pesan moral dan motivasi kepada murid untuk lebih giat belajar membuat mind mapping (peta pikiran) di rumah.
PERTEMUAN II
Siklus I dilaksanakan selama 4 kali pertemuan, 3 kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan 1 kali pertemuan untuk pemberian ulangan harian atau tes siklus. Pada hari jumat 8 November 2013 peneliti melanjutkan siklus I untuk pertemuan II dengan materi “kenampakan alam (dataran tinggi, dataran rendah dan pantai)”. Langkah-langkah pembelajarannya tidak jauh berbeda dengan pertemuan sebelumnya yaitu dengan menerapkan model pembelajaran mind mapping (peta pikiran).
Pada kegiatan awal guru terlebih dahulu melakukan doa bersama sebelum belajar kemudian guru mengecek kehadiran murid, setelah itu guru menanyakan
perlengkapan alat dan bahan yang dibawa murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran). Setelah memberikan arahan guru melakukan apersepsi. Setelah itu, guru lalu menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran.
Pada kegiatan inti guru menjelaskan kepada murid bagaimana langkah-langkah membuat mind mapping (peta pikiran) melalui media gambar mind mapping. Selain itu, proses pembelajaran tersebut terdapat perbedaan pada indikator dan tujuan pembelajaran, serta ada penambahan kegiatan pada murid yaitu setelah murid membuat mind mapping (peta pikiran) secara individu, setiap kelompok mengutus salah satu anggotanya untuk mewakili kelompok maju ke depan kelas dan menceritakan/mempresentasikan mind mapping (peta pikiran) terbaik yang telah dibuat dari kelompoknya.
Murid diminta untuk memperhatikan mind mapping (peta pikiran) yang telah dibuat, kemudian guru bersama dengan murid menyimpulkan materi menggunakan mind mapping (peta pikiran) tersebut. Guru menutup pembelajaran dengan pemberian pesan-pesan moral dan motivasi kepada murid untuk lebih giat belajar membuat mind mapping (peta pikiran) di rumah.
Dari kegiatan pembelajaran kelompok tersebut, aktivitas guru dan murid terlihat masih belum seperti yang diharapkan. Hal ini dikarenakan, baik guru dan murid terlihat belum terbiasa dengan pembelajaran mind mapping (peta pikiran).
PERTEMUAN III
Siklus I dilaksanakan selama 4 kali pertemuan, 3 kali pertemuan untuk pelaksanaan tindakan dan 1 kali pertemuan untuk pemberian ulangan harian atau tes siklus. Pada hari jumat 15 November 2013 peneliti melanjutkan siklus I untuk pertemuan III dengan materi “kenampakan alam (sungai, danau dan selat)”.
Langkah-langkah pembelajarannya tidak jauh berbeda dengan pertemuan sebelumnya yaitu dengan menerapkan model pembelajaran mind mapping (peta pikiran). Proses pembelajaran tersebut terdapat perbedaan pada indikator dan tujuan pembelajaran, serta guru menjelaskan dengan baik lagi mengenai langkah-langkah pembuatan mind mapping (peta pikiran) melalui media gambar mind mapping.
Pada kegiatan awal guru terlebih dahulu melakukan doa bersama sebelum belajar kemudian guru mengecek kehadiran murid, setelah itu guru menanyakan perlengkapan alat dan bahan yang dibawa murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran). Setelah memberikan arahan guru melakukan apersepsi. Setelah itu, guru lalu menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran.
Pada kegiatan inti guru mengarahkan dan membimbing murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran) sendiri berdasarkan hasil identifikasi awal yang telah dilakukan oleh murid pada lembar kerja yang telah dikerjakan sebelumnya bersama kelompok. Selanjutnya guru membuka sesi tanya jawab dengan murid secara klasikal. Dari kegiatan pembelajaran kelompok tersebut, aktivitas guru dan murid terlihat masih belum seperti yang diharapkan. Hal ini
dikarenakan, baik guru dan murid terlihat belum terbiasa dengan pembelajaran mind mapping (peta pikiran). Untuk memastikan hasil yang diperoleh dari kegiatan belajar mind mapping (peta pikiran).
Setelah murid selesai belajar kelompok guru membagikan tes siklus I masing-masing murid mengerjakan secara individu tidak boleh kerjasama. Materi tes ekuivalen dengan materi waktu belajar kelompok. Soal tes siklus I ini dapat dilihat pada lampiran B.
PERTEMUAN IV
Tindakan Siklus I pada pertemuan keempat dilaksanakan pada hari Jumat 22 Nopember 2013. Proses pembelajaran mengenai Kenampakan alam di wilayah daratan di kelas IV dibagi menjadi tiga kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.
Pada kegiatan awal guru mengawali tindakan dengan mengucapkan salam dan memimpin doa sebelum memulai pelajaran, mengabsen, Mengingatkan kembali tentang kenampakan alam di wilayah daratan, Menyampaikan tujuan pembelajaran, memotivasi murid agar melaksanakan kegiatan penuh semangat, serta menyuruh murid menyiapkan perlengkapan dalam menghadapi ulangan sebagai tes akhir siklus I untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan dari penerapan Model Pembelajaran Mind Mapping dalam pembelajaran IPS di kelas IV.
Setelah semua murid menyiapkan kertas ulangannya, maka guru melanjutkan dengan kegiatan pemberian tes formatif. Kegiatan tes formatif ini bertujuan untuk mengecek apakah murid sudah memahami tentang konsep
Kenampakan Alam di Wilayah Daratan. Tes formatif siklus 1 terdiri dari 5 butir soal, seperti tertera pada lampiran B. Peneliti membagikan lembar tes kepada seluruh murid sebagai akhir siklus. Guru mempersilahkan murid mengerjakan soal secara individu dan tidak diperkenankan bekerjasama dengan siapapun.
Setelah 60 menit, kemudian guru menyatakan bahwa waktu untuk mengerjakan soal telah selesai. Sebelum dikumpulkan, guru mengingatkan kembali kepada seluruh murid untuk mengecek kembali jawaban yang telah dikerjakannya. Kemudian murid diminta mengumpulkan lembar jawabannya.
Kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan soal-soal formatif secara bersama-sama.
Pada kegiatan akhir pelaksanaan pembelajaran, guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran, mengenai materi tentang Kenampakan Alam di Wilayah Daratan. Kemudian guru menutup pembelajaran dengan pemberian pesan-pesan moral dan motivasi kepada murid untuk lebih giat belajar membuat Mind Mapping (Peta Pikiran ) di rumah.
c. Observasi dan Evaluasi
Pada akhir Siklus I diadakan ulangan harian dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman dan keberhasilan siswa. Berdasarkan analisis deskriptif terhadap nilai tes akhir siklus I setelah menggunakan model pembelajaran Mind Mapping (peta pikiran) pada siswa kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut:
Tabel 4.1 Statistik Skor Hasil Belajar IPS Murid Kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu pada Siklus I
Satistik Nilai statistik
Sumber: Hasil belajar murid siklus I
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar murid kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu melalui Model Pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikiran) pada siklus I sebesar 69,67. Nilai yang dicapai oleh responden untuk skor maksimun 100 dan skor minimum 30. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar murid dengan skor rata-rata tersebut masih berada di bawah skor rata-rata Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 65 dan secara klasikal 80% murid belum memperoleh nilai tersebut.
Nilai tes hasil belajar murid tersebut dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase nilai hasil belajar pada siklus I sebagai berikut:
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Hasil Belajar IPS Murid Kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu
Sumber: Persentase hasil belajar murid
Tabel 4.2 menunjukkan bahwa dari 30 murid kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu, persentase nilai hasil belajar murid setelah dilaksanakan pembelajaran melalui Model Pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikiran), terdapat 8 murid (26,67%) berada pada kategori sangat rendah; 2 murid (6,67%) berada pada kategori rendah; 10 murid (33,33%) berada pada kategori sedang; 7 murid (23,33%) berada pada kategori tinggi; dan 3 murid (10%) berada pada kategori sangat tinggi.
Apabila hasil belajar pada siklus I dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3 Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid Kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu pada Siklus I
Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
Sumber: Ketuntasan belajar murid siklus I
Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa hasil analisis siklus I terdapat 10 murid (33,33%) yang tidak tuntas, dan 20 murid (66,67%) yang tuntas, jadi dilihat dari hasil tersebut belum mencapai 80% yang tuntas. Sehingga penelitian ini dilanjutkan ke siklus II.
d. Refleksi
Setelah diberikan tindakan melalui model pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikiran) pada proses pembelajaran IPS konsep kenampakan alam di wilayah daratan, ada beberapa yang harus diperhatikan sebagai berikut:
1) Umumnya murid menunjukkan antusias belajar yang positif, seperti menanggapi pertanyaan, keberanian mengajukan pertanyaan atau tanggapan
pada guru, dan keinginan untuk menyelesaikan LKS. Namun karena siswa belum terbiasa dengan tindakan yang diberikan maka kelas menjadi agak gaduh sehingga pengelolaan kelas lebih ditekankan pada siklus II.
2) Masih ada beberapa murid yang sulit dalam menyelesaikan LKS berkomunikasi dengan teman kelompoknya. Untuk itu guru harus membimbing siswa tersebut.
3) Dari hasil tes siklus I, masih terdapat beberapa murid yang mendapatkan nilai dibawah KKM. Hal ini disebabkan karena dalam kegiatan pembelajaran selama 3 kali pertemuan sebelumnya, beberapa murid tersebut kurang aktif dalam pembelajaran, tidak memperhatikan penjelasan, dan tidak hadir dalam beberapa pertemuan.
Berdasarkan nilai hasil belajar yang diperoleh selama siklus I menunjukkan perlu upaya perbaikan agar hasil belajar dapat ditingkatkan dengan melanjutkan ke siklus berikutnya atau siklus II.
2. Siklus II
Kegiatan yang dilakukan pada siklus II pada dasarnya adalah mengulang tahapan-tahapan pada siklus I, akan tetapi dilakukan pula sejumlah rencana baru untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terdapat pada siklus sebelumnya. Seperti halnya siklus I, siklus II pun dilaksanakan melalui empat kali tahap yaitu: Perencanaan, Pelaksanaan, Observasi, dan refleksi.
a. Perencanaan
Berdasarkan hasil observasi dan refleksi pada pelaksanaan siklus I, peneliti merencanakan tindakan siklus II dengan harapan kekurangan-kekurangan pada
siklus I dapat diperbaiki. Oleh karena itu, pada siklus II ini guru berusaha memberi bimbingan merata pada semua kelompok sehingga tidak ada kelompok yang merasa tidak diperhatikan dan semua murid terlibat secara aktif dalam pembelajaran.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah:
1) Mempersiapkan perangkat pembelajaran (silabus dan RPP) serta alat peraga untuk kegiatan pembelajaran pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga.
2) Mempersiapkan lembar observasi untuk mencatat aktivitas dan perubahan tingkah laku murid selama proses pembelajaran berlangsung pada pelaksanaan tindakan siklus II.
3) Mempersiapkan lembar kerja siswa (LKS) yang dikerjakan secara kelompok pada setiap pertemuan.
4) Mempersiapkan alat evaluasi berupa soal tes siklus II.
5) Mempersiapkan lembar jawaban yang akan digunakan murid untuk menjawab soal tes siklus II.
b. Pelaksanaan Tindakan PERTEMUAN I
Pelaksanaan tindakan siklus II pada dasarnya adalah mengulang langkah-langkah pada siklus I sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan memperhatikan hasil refleksi pada siklus I. Siklus II dilaksanakan selama 4 kali pertemuan, 3 kali pembahasan materi yaitu Gejala Alam dan kenampakan Alam di Wilayah Perairan dan 1 kali pertemuan untuk pemberian tes akhir siklus. Pada hari jumat 29 November 2013 peneliti memulai proses pembelajaran dengan
materi “Gejala Alam dan Kenampakan Alam di Wilayah Perairan (Gempa bumi dan gunung meletus)” dengan model pembelajaran mind mapping (peta pikiran) dan dibagi menjadi tiga kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.
Pada kegiatan awal guru terlebih dahulu melakukan doa bersama sebelum belajar kemudian guru mengecek kehadiran murid, setelah itu guru menanyakan perlengkapan alat dan bahan yang dibawa murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran). Setelah memberikan arahan guru melakukan apersepsi. Setelah itu, guru lalu menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran.
Pada kegiatan inti guru menjelaskan kepada murid tentang gejala alam (Gempa bumi dan gunung meletus) Setelah itu guru membagi murid menjadi lima kelompok secara acak. Setelah murid terbagi menjadi lima kelompok, guru membagikan Lembar Kerja Murid pada setiap kelompok. Selanjutnya guru memberikan kesempatan kepada tiap kelompok berdiskusi dan bekerja sama untuk mengidentifikasi kenampakan alam (gunung dan pegunungan), tiap kelompok diberikan batas waktu 15 menit untuk menyelesaikan lembar kerja yang telah dibagikan.
Setelah tiap kelompok mengidentifikasi tentang gejala alam (Gempa bumi dan gunung meletus), guru memperlihatkan media gambar contoh mind mapping (peta pikiran) kepada murid secara klasikal. Melalui media gambar tersebut, guru menjelaskan kepada murid bahwa inilah yang dinamakan mind mapping (peta pikiran). Guru menjelaskan bagaimana langkah-langkah membuat mind mapping
(peta pikiran) dan menjelaskan bahwa nanti murid akan membuat mind mapping (peta pikiran) gejala alam (Gempa bumi dan gunung meletus) secara individu.
Selanjutnya guru memberikan motivasi kepada murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran).
Setelah menjelaskan langkah-langkah pembuatan mind mapping (peta pikiran) Guru mengarahkan dan membimbing murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran)nya sendiri berdasarkan hasil identifikasi awal yang telah
dilakukan oleh murid pada lembar kerja yang telah dikerjakan sebelumnya bersama kelompok. Murid diberikan batas waktu 20 menit untuk mengerjakan mind mapping (peta pikiran)nya. Selanjutnya guru membuka sesi tanya jawab
dengan murid secara klasikal.
Murid diminta untuk memperhatikan mind mapping (peta pikiran) yang telah dibuat, kemudian guru bersama dengan murid menyimpulkan materi menggunakan mind mapping (peta pikiran) tersebut. Guru menutup pembelajaran dengan pemberian pesan-pesan moral dan motivasi kepada murid untuk lebih giat belajar membuat mind mapping (peta pikiran) di rumah.
PERTEMUAN II
Pelaksanaan tindakan siklus II pada dasarnya adalah mengulang langkah-langkah pada siklus I sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan memperhatikan hasil refleksi pada siklus I. Siklus II dilaksanakan selama 4 kali pertemuan, 3 kali pembahasan materi yaitu Gejala Alam dan kenampakan Alam di Wilayah Perairan dan 1 kali pertemuan untuk pemberian tes akhir siklus. Pada hari jumat 6 Desember 2013 peneliti melanjutkan siklus II untuk pertemuan II
dengan materi “Gejala alam yang terjadi di sekitar kita (Banjir dan kekurangan air bersih)”. Langkah-langkah pembelajarannya tidak jauh berbeda dengan pertemuan sebelumnya yaitu dengan menerapkan model pembelajaran mind mapping (peta pikiran).
Pada kegiatan awal guru terlebih dahulu melakukan doa bersama sebelum belajar kemudian guru mengecek kehadiran murid, setelah itu guru menanyakan perlengkapan alat dan bahan yang dibawa murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran). Setelah memberikan arahan guru melakukan apersepsi. Setelah itu, guru lalu menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran.
Pada kegiatan inti guru menjelaskan kepada murid bagaimana langkah-langkah membuat mind mapping (peta pikiran) melalui media gambar mind mapping. Selain itu, proses pembelajaran tersebut terdapat perbedaan pada indikator dan tujuan pembelajaran, serta ada penambahan kegiatan pada murid yaitu setelah murid membuat mind mapping (peta pikiran) secara individu, setiap kelompok mengutus salah satu anggotanya untuk mewakili kelompok maju ke depan kelas dan menceritakan/mempresentasikan mind mapping (peta pikiran) terbaik yang telah dibuat dari kelompoknya.
Murid diminta untuk memperhatikan mind mapping (peta pikiran) yang telah dibuat, kemudian guru bersama dengan murid menyimpulkan materi menggunakan mind mapping (peta pikiran) tersebut. Guru menutup pembelajaran dengan pemberian pesan-pesan moral dan motivasi kepada murid untuk lebih giat belajar membuat mind mapping (peta pikiran) di rumah.
Dari kegiatan pembelajaran kelompok tersebut, aktivitas guru dan murid terlihat masih belum seperti yang diharapkan. Hal ini dikarenakan, baik guru dan murid terlihat belum terbiasa dengan pembelajaran mind mapping (peta pikiran).
PERTEMUAN III
Pelaksanaan tindakan siklus II pada dasarnya adalah mengulang langkah-langkah pada siklus I sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan memperhatikan hasil refleksi pada siklus I. Siklus II dilaksanakan selama 4 kali pertemuan, 3 kali pembahasan materi yaitu Gejala Alam dan kenampakan Alam di Wilayah Perairan dan 1 kali pertemuan untuk pemberian tes akhir siklus. Pada hari jumat 13 Desember 2013 peneliti melanjutkan siklus II untuk pertemuan III dengan materi “Kenampakan alam di wilyah perairan (sungai, danau dan selat)”.
Langkah-langkah pembelajarannya tidak jauh berbeda dengan pertemuan sebelumnya yaitu dengan menerapkan model pembelajaran mind mapping (peta pikiran). Proses pembelajaran tersebut terdapat perbedaan pada indikator dan tujuan pembelajaran, serta guru menjelaskan dengan baik lagi mengenai langkah-langkah pembuatan mind mapping (peta pikiran) melalui media gambar mind mapping.
Pada kegiatan awal guru terlebih dahulu melakukan doa bersama sebelum belajar kemudian guru mengecek kehadiran murid, setelah itu guru menanyakan perlengkapan alat dan bahan yang dibawa murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran). Setelah memberikan arahan guru melakukan apersepsi. Setelah itu,
guru lalu menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran.
Pada kegiatan inti guru mengarahkan dan membimbing murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran) sendiri berdasarkan hasil identifikasi awal yang telah dilakukan oleh murid pada lembar kerja yang telah dikerjakan sebelumnya bersama kelompok. Selanjutnya guru membuka sesi tanya jawab
Pada kegiatan inti guru mengarahkan dan membimbing murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran) sendiri berdasarkan hasil identifikasi awal yang telah dilakukan oleh murid pada lembar kerja yang telah dikerjakan sebelumnya bersama kelompok. Selanjutnya guru membuka sesi tanya jawab