BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
2. Siklus II
Kegiatan yang dilakukan pada siklus II pada dasarnya adalah mengulang tahapan-tahapan pada siklus I, akan tetapi dilakukan pula sejumlah rencana baru untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terdapat pada siklus sebelumnya. Seperti halnya siklus I, siklus II pun dilaksanakan melalui empat kali tahap yaitu: Perencanaan, Pelaksanaan, Observasi, dan refleksi.
a. Perencanaan
Berdasarkan hasil observasi dan refleksi pada pelaksanaan siklus I, peneliti merencanakan tindakan siklus II dengan harapan kekurangan-kekurangan pada
siklus I dapat diperbaiki. Oleh karena itu, pada siklus II ini guru berusaha memberi bimbingan merata pada semua kelompok sehingga tidak ada kelompok yang merasa tidak diperhatikan dan semua murid terlibat secara aktif dalam pembelajaran.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan ini adalah:
1) Mempersiapkan perangkat pembelajaran (silabus dan RPP) serta alat peraga untuk kegiatan pembelajaran pertemuan pertama sampai pertemuan ketiga.
2) Mempersiapkan lembar observasi untuk mencatat aktivitas dan perubahan tingkah laku murid selama proses pembelajaran berlangsung pada pelaksanaan tindakan siklus II.
3) Mempersiapkan lembar kerja siswa (LKS) yang dikerjakan secara kelompok pada setiap pertemuan.
4) Mempersiapkan alat evaluasi berupa soal tes siklus II.
5) Mempersiapkan lembar jawaban yang akan digunakan murid untuk menjawab soal tes siklus II.
b. Pelaksanaan Tindakan PERTEMUAN I
Pelaksanaan tindakan siklus II pada dasarnya adalah mengulang langkah-langkah pada siklus I sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan memperhatikan hasil refleksi pada siklus I. Siklus II dilaksanakan selama 4 kali pertemuan, 3 kali pembahasan materi yaitu Gejala Alam dan kenampakan Alam di Wilayah Perairan dan 1 kali pertemuan untuk pemberian tes akhir siklus. Pada hari jumat 29 November 2013 peneliti memulai proses pembelajaran dengan
materi “Gejala Alam dan Kenampakan Alam di Wilayah Perairan (Gempa bumi dan gunung meletus)” dengan model pembelajaran mind mapping (peta pikiran) dan dibagi menjadi tiga kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.
Pada kegiatan awal guru terlebih dahulu melakukan doa bersama sebelum belajar kemudian guru mengecek kehadiran murid, setelah itu guru menanyakan perlengkapan alat dan bahan yang dibawa murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran). Setelah memberikan arahan guru melakukan apersepsi. Setelah itu, guru lalu menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran.
Pada kegiatan inti guru menjelaskan kepada murid tentang gejala alam (Gempa bumi dan gunung meletus) Setelah itu guru membagi murid menjadi lima kelompok secara acak. Setelah murid terbagi menjadi lima kelompok, guru membagikan Lembar Kerja Murid pada setiap kelompok. Selanjutnya guru memberikan kesempatan kepada tiap kelompok berdiskusi dan bekerja sama untuk mengidentifikasi kenampakan alam (gunung dan pegunungan), tiap kelompok diberikan batas waktu 15 menit untuk menyelesaikan lembar kerja yang telah dibagikan.
Setelah tiap kelompok mengidentifikasi tentang gejala alam (Gempa bumi dan gunung meletus), guru memperlihatkan media gambar contoh mind mapping (peta pikiran) kepada murid secara klasikal. Melalui media gambar tersebut, guru menjelaskan kepada murid bahwa inilah yang dinamakan mind mapping (peta pikiran). Guru menjelaskan bagaimana langkah-langkah membuat mind mapping
(peta pikiran) dan menjelaskan bahwa nanti murid akan membuat mind mapping (peta pikiran) gejala alam (Gempa bumi dan gunung meletus) secara individu.
Selanjutnya guru memberikan motivasi kepada murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran).
Setelah menjelaskan langkah-langkah pembuatan mind mapping (peta pikiran) Guru mengarahkan dan membimbing murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran)nya sendiri berdasarkan hasil identifikasi awal yang telah
dilakukan oleh murid pada lembar kerja yang telah dikerjakan sebelumnya bersama kelompok. Murid diberikan batas waktu 20 menit untuk mengerjakan mind mapping (peta pikiran)nya. Selanjutnya guru membuka sesi tanya jawab
dengan murid secara klasikal.
Murid diminta untuk memperhatikan mind mapping (peta pikiran) yang telah dibuat, kemudian guru bersama dengan murid menyimpulkan materi menggunakan mind mapping (peta pikiran) tersebut. Guru menutup pembelajaran dengan pemberian pesan-pesan moral dan motivasi kepada murid untuk lebih giat belajar membuat mind mapping (peta pikiran) di rumah.
PERTEMUAN II
Pelaksanaan tindakan siklus II pada dasarnya adalah mengulang langkah-langkah pada siklus I sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan memperhatikan hasil refleksi pada siklus I. Siklus II dilaksanakan selama 4 kali pertemuan, 3 kali pembahasan materi yaitu Gejala Alam dan kenampakan Alam di Wilayah Perairan dan 1 kali pertemuan untuk pemberian tes akhir siklus. Pada hari jumat 6 Desember 2013 peneliti melanjutkan siklus II untuk pertemuan II
dengan materi “Gejala alam yang terjadi di sekitar kita (Banjir dan kekurangan air bersih)”. Langkah-langkah pembelajarannya tidak jauh berbeda dengan pertemuan sebelumnya yaitu dengan menerapkan model pembelajaran mind mapping (peta pikiran).
Pada kegiatan awal guru terlebih dahulu melakukan doa bersama sebelum belajar kemudian guru mengecek kehadiran murid, setelah itu guru menanyakan perlengkapan alat dan bahan yang dibawa murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran). Setelah memberikan arahan guru melakukan apersepsi. Setelah itu, guru lalu menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran.
Pada kegiatan inti guru menjelaskan kepada murid bagaimana langkah-langkah membuat mind mapping (peta pikiran) melalui media gambar mind mapping. Selain itu, proses pembelajaran tersebut terdapat perbedaan pada indikator dan tujuan pembelajaran, serta ada penambahan kegiatan pada murid yaitu setelah murid membuat mind mapping (peta pikiran) secara individu, setiap kelompok mengutus salah satu anggotanya untuk mewakili kelompok maju ke depan kelas dan menceritakan/mempresentasikan mind mapping (peta pikiran) terbaik yang telah dibuat dari kelompoknya.
Murid diminta untuk memperhatikan mind mapping (peta pikiran) yang telah dibuat, kemudian guru bersama dengan murid menyimpulkan materi menggunakan mind mapping (peta pikiran) tersebut. Guru menutup pembelajaran dengan pemberian pesan-pesan moral dan motivasi kepada murid untuk lebih giat belajar membuat mind mapping (peta pikiran) di rumah.
Dari kegiatan pembelajaran kelompok tersebut, aktivitas guru dan murid terlihat masih belum seperti yang diharapkan. Hal ini dikarenakan, baik guru dan murid terlihat belum terbiasa dengan pembelajaran mind mapping (peta pikiran).
PERTEMUAN III
Pelaksanaan tindakan siklus II pada dasarnya adalah mengulang langkah-langkah pada siklus I sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan memperhatikan hasil refleksi pada siklus I. Siklus II dilaksanakan selama 4 kali pertemuan, 3 kali pembahasan materi yaitu Gejala Alam dan kenampakan Alam di Wilayah Perairan dan 1 kali pertemuan untuk pemberian tes akhir siklus. Pada hari jumat 13 Desember 2013 peneliti melanjutkan siklus II untuk pertemuan III dengan materi “Kenampakan alam di wilyah perairan (sungai, danau dan selat)”.
Langkah-langkah pembelajarannya tidak jauh berbeda dengan pertemuan sebelumnya yaitu dengan menerapkan model pembelajaran mind mapping (peta pikiran). Proses pembelajaran tersebut terdapat perbedaan pada indikator dan tujuan pembelajaran, serta guru menjelaskan dengan baik lagi mengenai langkah-langkah pembuatan mind mapping (peta pikiran) melalui media gambar mind mapping.
Pada kegiatan awal guru terlebih dahulu melakukan doa bersama sebelum belajar kemudian guru mengecek kehadiran murid, setelah itu guru menanyakan perlengkapan alat dan bahan yang dibawa murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran). Setelah memberikan arahan guru melakukan apersepsi. Setelah itu,
guru lalu menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pembelajaran.
Pada kegiatan inti guru mengarahkan dan membimbing murid untuk membuat mind mapping (peta pikiran) sendiri berdasarkan hasil identifikasi awal yang telah dilakukan oleh murid pada lembar kerja yang telah dikerjakan sebelumnya bersama kelompok. Selanjutnya guru membuka sesi tanya jawab dengan murid secara klasikal. Dari kegiatan pembelajaran kelompok tersebut, aktivitas guru dan murid terlihat masih belum seperti yang diharapkan. Hal ini dikarenakan, baik guru dan murid terlihat belum terbiasa dengan pembelajaran mind mapping (peta pikiran). Untuk memastikan hasil yang diperoleh dari kegiatan belajar mind mapping (peta pikiran).
Setelah murid selesai belajar kelompok guru membagikan tes siklus II masing-masing murid mengerjakan secara individu tidak boleh kerjasama. Materi tes ekuivalen dengan materi waktu belajar kelompok. Soal tes siklus II ini dapat dilihat pada lampiran B.
PERTEMUAN IV
Tindakan Siklus II pada pertemuan keempat dilaksanakan pada hari Jumat 20 Desember 2013. Proses pembelajaran mengenai Gejala Alam dan Kenampakan Alam di Wilayah Perairan di kelas IV dibagi menjadi tiga kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.
Pada kegiatan awal Guru mengawali tindakan dengan mengucapkan salam dan memimpin doa sebelum memulai pelajaran, mengabsen, Mengingatkan kembali tentang kenampakan alam di wilayah daratan, Menyampaikan tujuan
pembelajaran, memotivasi murid agar melaksanakan kegiatan penuh semangat, serta menyuruh murid menyiapkan perlengkapan dalam menghadapi ulangan sebagai tes akhir siklus II untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan dari penerapan Model Pembelajaran Mind Mapping dalam pembelajaran IPS di kelas IV.
Setelah semua murid menyiapkan kertas ulangannya, maka guru melanjutkan dengan kegiatan pemberian tes formatif. Kegiatan tes formatif ini bertujuan untuk mengecek apakah murid sudah memahami tentang konsep Kenampakan Alam di Wilayah Daratan. Tes formatif siklus II terdiri dari 5 butir soal, seperti tertera pada lampiran B. Peneliti membagikan lembar tes kepada seluruh murid sebagai akhir siklus. Guru mempersilahkan murid mengerjakan soal secara individu dan tidak diperkenankan bekerjasama dengan siapapun.
Setelah 60 menit, kemudian guru menyatakan bahwa waktu untuk mengerjakan soal telah selesai. Sebelum dikumpulkan, guru mengingatkan kembali kepada seluruh murid untuk mengecek kembali jawaban yang telah dikerjakannya. Kemudian murid diminta mengumpulkan lembar jawabannya.
Kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan soal-soal formatif secara bersama-sama.
Pada kegiatan akhir pelaksanaan pembelajaran, guru bersama siswa menyimpulkan materi pembelajaran, mengenai materi tentang Kenampakan Alam di Wilayah Daratan. Kemudian guru menutup pembelajaran dengan pemberian pesan-pesan moral dan motivasi kepada murid untuk lebih giat belajar membuat Mind Mapping (Peta Pikiran ) di rumah.
c. Observasi dan Evaluasi
Pada akhir Siklus II diadakan ulangan harian dengan tujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman dan keberhasilan siswa. Adapun data skor hasil belajar IPS akhir siklus II setelah menggunakan model pembelajaran Mind Mapping (peta pikiran) pada siswa kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut:
Tabel 4.4 Statistik Skor Hasil Belajar IPS Murid Kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu pada Siklus II
Satistik Nilai statistik
Sumber: Hasil belajar murid siklus II
Tabel 4.4 menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar murid kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu melalui Model Pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikiran) pada siklus II sebesar 81,87. Nilai yang dicapai responden untuk skor maksimun 100 dan skor minimum 52. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar murid dengan nilai rata-rata tersebut dianggap telah tuntas karena telah berada di atas KKM IPS yaitu 65. Nilai hasil belajar murid tersebut dikelompokkan ke dalam 5 (lima) kategori, maka hasil belajar murid kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu setelah diterapkan Model Pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikiran) diperoleh distribusi frekuensi dan persentase sebagai berikut:
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi dan Persentase Hasil Belajar IPS Murid Kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu pada Siklus II
Sumber: Persentase hasil belajar murid siklus II
Tabel 4.5 menunjukkan bahwa dari 30 murid kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu, persentase nilai hasil belajar murid setelah dilaksanakan pembelajaran melalui Model Pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikiran), terdapat 1 murid (3,33%) berada pada kategori sangat rendah, 4 murid (13,33%) berada pada kategori rendah, 5 murid (16,67%) berada pada kategori sedang, 11 murid (36,67%) berada pada kategori tinggi, 9 murid (30,00%) berada pada ketegori sangat tinggi.
Hasil analisis data tabel 4.5 diperoleh skor rata-rata hasil belajar murid pada siklus II sebesar 81,87. Dengan demikian, pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dengan tujuan meningkatkan hasil belajar IPS melalui Model Pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikiran) pada murid kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa, dianggap telah berhasil pada pelaksanaan siklus II yaitu di atas nilai rata-rata minimal 65 dan secara klasikal 80% murid memperoleh nilai tersebut.
Apabila hasil belajar pada siklus II dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar murid pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut:
Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
Tabel 4.6 Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid Kelas IV SD Inpres Cambaya Kecamatan Somba Opu pada Siklus II
Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)
Sumber: Ketuntasan belajar murid siklus II
Tabel 4.6 di atas menunjukkan bahwa hasil analisis siklus II terdapat 5 murid (16,67%) yang tidak tuntas, dan 25 murid (83,33%) yang tuntas, jadi dilihat dari hasil tersebut sudah mencapai 80% yang tuntas. Sehingga penelitian ini berhasil.
d. Refleksi
Setelah diberikan tindakan melalui model pembelajaran Mind Mapping (Peta Pikiran) pada proses pembelajaran IPS konsep Gejala Alam dan Kenampakan Alam di Wilayah Perairan, ada beberapa yang harus diperhatikan sebagai berikut:
1) Murid sudah mampu menyelesaikan LKS meskipun masih ada beberapa siswa yang memerlukan bimbingan guru.
2) Murid sudah mampu membuat mind mapping dengan baik, sekalipun masih ada beberapa orang yang masih kurang paham.
3) Dari hasil tes siklus II, murid yang mendapatkan nilai dibawah KKM berkurang.