• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab 1. Pendahuluan

1.4 Manfaat penelitian

1.4.1 Institusi Pendidikan Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dijadikan sebagai masukan untuk menambah bahan pustaka serta meningkatkan pengetahuan bagi mahasiswa dan pembaca pada umumnya tentang kesiapan menghadapi menarche.

1.4.2 Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan wacana serta informasi bagi masyarakat khususnya SMP Swasta Nurul „Ilmi Padangsidimpuan tentang kesiapan menghadapi menarche.

1.4.3 Peneliti Keperawatan

Menambah referensi dan memberikan sumbangan teoritis tentang hubungan dukungan keluarga tentang menstruasi dengan kesiapan remaja putri menghadapi menarche pada siswi SMP Swasta Nurul „Ilmi Padangsidimpuan.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Remaja

2.1.1 Defenisi Remaja

Menurut WHO, remaja adalah bila anak telah mencapai umur 10 – 19 tahun, sedangkan masa remaja menurut Mappiare (1982) dalam Mohammad Ali (2004), berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Rentang usia remaja ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12/13 tahun sampai 21/22 tahun adalah remaja akhir. Menurut hukum di Amerika Serikat saat ini, individu dianggap telah dewasa apabila telah mencapai usia 18 tahun, dan bukan 21 tahun seperti ketentuan sebelumnya (Hurlock, 1991 dalam Mohammad Ali 2004). Usia ini umumnya anak sedang duduk di bangku sekolah menengah.

Remaja sudah tidak termasuk golongan anak – anak, tetapi belum juga dapat diterima secara penuh untuk masuk ke golongan orang dewasa. Remaja ada diantara anak – anak dan orang dewasa. Oleh karena itu, remaja seringkali dikenal dengan fase “mencari jati diri” atau fase “topan dan badai”. Remaja masih belum mampu menguasai dan memfungsikan secara maksimal fungsi fisik maupun psikisnya (Monks dkk, 1998 dalam Mohammad Ali 2004). Namun yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa fase remaja merupakan fase perkembangan yang tengah berada pada masa amat potensial, baik di lihat dari aspek kognitif, emosi, maupun fisik (Mohammad Ali, 2004).

Perkembangan intelektual yang terus – menerus menyebabkan remaja mencapai tahap berfikir operasional formal. Tahap ini memungkinkan remaja mampu berfikir secara lebih abstrak, menguji hipotesis, dan mempertimbangkan apa saja peluang yang ada padanya daripada sekadar melihat apa adanya.

Kemampuan intelektual seperti ini yang membedakan fase remaja dari fase – fase sebelumnya (Shaw dan Costanzo, 1985 dalam Mohammad Ali 2004).

2.1.2 Defenisi Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja

Pertumbuhan yang terjadi sebagai perubahan individu lebih mengacu dan menekankan pada aspek perubahan fisik ke arah lebih maju. Dengan kata lain, istilah pertumbuhan dapat didefenisikan sebagai proses perubahan fisiologis yang bersifat progresif dan kontinu serta berlangsung dalam periode tertentu. Oleh karena itu, sebagai hasil dari pertumbuhan adalah bertambahnya berat, panjang atau tinggi badan, tulang dan otot menjadi lebih sempurna. Akhirnya pertumbuhan ini mencapai titik akhir, yang berarti bahwa pertumbuhan telah selesai. Bahkan pada usia tertentu, misalnya usia lanjut justru ada bagian – bagian fisik tertentu yang mengalami penurunan dan pengurangan (Berk, 1989 dalam Mohammad Ali 2004).

Perkembangan berkaitan erat dengan pertumbuhan. Berkat adanya pertumbuhan maka pada saatnya anak akan mencapai kematangan yang menunjukkan perubahan biologis (Mohammad Ali, 2004).

Peristiwa paling penting pada masa pubertas anak gadis adalah gejala menstruasi atau haid, yang menjadi pertanda biologis dari kematangan seksual.

(Kartini, 1995 dalam Suryani dan Widyasih 2010).

Tanda pubertas pertama remaja perempuan pada umumnya adalah pertumbuhan payudara stadium 2 atau disebut breast bud yaitu terdiri dari penonjolan puting disertai pembesaran daerah areola sekitar umur 8 -10 tahun.

Haid pertama (menarche) terjadi pada stadium lanjut dari pubertas dan sangat bervariasi pada umur berapa masing – masing individu mengalaminya, rata – rata pada umur 10,5 – 15,5 tahun (Soetjiningsih, 2010).

2.1.3 Menarche

2.1.3.1 Defenisi Menarche

Menarche adalah haid yang pertama terjadi yang merupakan ciri khas

kedewasaan seorang wanita yang sehat dan tidak hamil (Mitayani dan Sartika, 2010). Wanita biasanya pertama kali mengalami menstruasi (menarche) pada umur 12-16 tahun (Kusmiran, 2011). Menurut Suryani dan Widyasih (2010), menarche berlangsung kurang lebih pada usia 11 – 16 tahun. Cepat atau

lambatnya kematangan seksual (menstruasi, kematangan fisik) ini kecuali ditentukan oleh kondisi fisik individual, juga dipengaruhi oleh faktor ras, atau suku bangsa, faktor iklim, cara hidup yang melingkungi anak. Badan yang lemah atau penyakit yang mendera seorang anak gadis, umpamanya bisa memperlambat tibanya menstruasi.

Bagi banyak perempuan, menarche terjadi tepat waktu tetapi bagi yang lain menarche terjadi lebih cepat atau lambat (Santrock, 2003). Remaja perempuan rata - rata mengalami menarche pada usia 12 tahun namun ada kecenderungan bahwa menarche kini mulai lebih awal dari pada 30 atau 40 tahun lalu. Usia menarche dan mungkin masa pubertas telah mengikuti tren sekuler,

yaitu terjadi lebih awal rata – rata 2 – 3 bulan per dekade (Collins, 2011). Banyak remaja perempuan yang perkembangannya juga mengalami keterlambatan, seperti yang belum mengalami menstruasi sampai berusia 15 tahun, yang biasanya akan datang meminta pertolongan dokter (Santrock, 2003). Collins 2011 juga menjelaskan dalam bukunya bahwa remaja perempuan juga dapat mengalami menarche terlambat yang perlu diwaspadai dalam jangka waktu 5 tahun setelah

payudara tumbuh.

2.1.3.2 Fisiologi Menarche

Siklus haid endometrium dipersiapkan secara teratur untuk menerima ovum setelah terjadi ovulasi, dibawah pengaruh secara ritmik hormon-hormon ovarium : estrogen dan progesteron. Proses ovulasi harus ada suatu kerja sama yang harmonis antara korteks serebri, hipotalamus, hipofesis, dan ovarium selain itu juga dipengaruhi oleh glandula tireodea, korteks adrenal, dan kelenjer endokrin lain.

Tiap siklus haid FSH (follicle stimulating hormone) dikeluarkan oleh lobus hipofise yang menimbulkan beberapa folikel primer yang dapat berkembang dalam ovarium. Folikel ini akan berkembang menjadi folikel de Graaf yang membuat estrogen. Estrogen ini menekan produksi FSH, sehingga lobus anterior hipofise dapat mengeluarkan hormon gonadotropin yang kedua, yakni LH (luteinising hormone).

Produksi kedua hormon gonadotropin (FSH dan LH) adalah dibawah pengaruh releasing hormon (RH) yang disalurkan dari hipotalamus ke hipofise.

Penyaluran RH ini sangat dipengaruhi oleh mekanisme umpan balik estrogen

terhadap hipotalamus. Selain itu juga mendapat dari luar, seperti cahaya, bau-bauan melalui bulbus olfaktorius, dan hal-hal psikologik.

Bila penyaluran releasing hormon berjalan baik maka produksi gonadotropin akan baik pula, sehingga folikel de Graaf selanjutnya makin lama makin menjadi matang dan makin banyak berisi likuor follikuli yang mengandung estrogen. Estrogen mempunyai pengaruh terhadap endometrium yang menyebabkan endometrium tumbuh dan berproliferasi disebut masa proliferasi di bawah pengaruh LH, folikel de Graaf menjadi lebih matang, mendekati permukaan ovarium, dan kemudian terjadilah ovulasi. Setelah ovulasi terjadi, dibentuklah korpus rubrum, yang akan menjadi korpus luteum di bawah pengaruh hormon LH dan LTH (luteotrophic hormone).

Korpus luteum menghasilkan hormon progesteron. Progesteron ini mempunyai pengaruh terhadap endometrium yang telah berprofilerasi dan menyebabkan kelenjer-kelenjer berkeluk-keluk dan bersekresi (masa sekresi). Bila tidak ada pembuahan, korpus luteum berdegenerasi dan mengakibatkan kadar estrogen dan progesteron menurun. Menurunnya kadar estrogen dan progesteron menimbulkan efek pada arteri yang berkeluk-keluk di endometrium. Tampak diletasi dan statis dengan hiperemia yang diikuti oleh spasme dan iskemia. Setelah itu terjadi degenerasi serta perdarahan dan pelepasan endometrium yang nekrotik.

Proses ini disebut haid atau mensis (Wiknjosastro,2006).

2.1.3.3 Macam – macam Menarche

Menurut Sarwono (2008) macam – macam menarche ada dua yaitu : a. Menarche prekoks yaitu sudah ada haid sebelum umur 10 tahun.

b. Menarche tarda yaitu menarche yang baru datang umur 14 – 16 tahun.

2.1.3.4 Faktor – faktor yang Mempengaruhi Menarche

Menurut Sarwono (2008) faktor – faktor yang mempengaruhi menarche ada 3 tahap yaitu :

a. Faktor Keturunan

Saat timbulnya juga kebanyakan ditentukan oleh pola dalam keluarga.

Hubungan antara usia sesama saudara kandung lebih erat dari pada antara ibu dan anak perempuannya.

b. Keadaan Gizi

Makin baiknya nutrisi mempercepat usia menarche. Beberapa ahli mengatakan anak perempuan dengan jaringan lemak yang lebih banyak, lebih cepat mengalami menarche, demikian pula obat-obatan.

c. Kesehatan Umum

Badan yang lemah atau penyakit yang menderita seorang anak gadis seperti penyakit kronis, terutama yang mempengaruhi masukan makanan dan oksigenasi jaringan dapat memperlambat menarche, demikian pula obat-obatan.

2.1.3.5 Siklus Menstruasi

Menstruasi merupakan proses pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan perdarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi yang berulang setiap bulan tersebut pada akhirnya akan membentuk siklus menstruasi. Menstruasi pertama (menarche) pada remaja putri sering terjadi pada usia 11 tahun. Namun tidak tertutup

kemungkinan terjadi pada rentang usia 8-16 tahun. Menstruasi merupakan pertanda masa reproduktif pada kehidupan seorang perempuan, yang dimulai dari menarche sampai terjadinya menopause.

Interval pengulangan menstruasi diperkirakan sekitar 28 hari, tetapi terdapat variasi yang cukup besar diantara wanita secara umum, juga pada lama siklus dari wanita tersebut (Cunningham, 2012).

Hari ke 1 sampai hari ke 14 terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel primer yang dirangsang oleh hormon FSH. Saat tersebut sel oosit primer akan membelah dan menghasilkan ovum yang haploid. Saat folikel berkembang menjadi folikel de Graaf yang masak, folikel ini juga menghasilkan hormon estrogen yang merangsang keluarnya LH dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfungsi merangsang perbaikan dinding uterus yaitui endometrium yang habis terkelupas waktu menstruasi, selain itu estrogen menghambat pembentukan FSH dan memerintahkan hipofisis menghasilkan LH yang berfungsi merangsang folikel de Graaf yang masak untuk mengadakan ovulasi yang terjadi pada hari ke 14,

waktu di sekitar terjadinya ovulasi disebut fase estrus.

Selain itu, LH merangsang folikel yang telah kosong untuk berubah menjadi badan kuning (corpus luteum). Badan kuning menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi mempertebal lapisan endometrium yang kaya dengan pembuluh darah untuk mempersiapkan datangnya embrio. Periode ini disebut fase luteal, selain itu progesteron juga berfungsi menghambat pembentukan FSH dan

LH, akibatnya korpus luteum mengecil dan menghilang, pembentukan progesteron berhenti sehingga pemberian nutrisi pada endometrium terhenti.

Endometrium menjadi mengering dan selanjutnya akan terkelupas dan terjadilah perdarahan (menstruasi) pada hari ke 28. Fase ini disebut fase perdarahan atau fase menstruasi. Oleh karena tidak ada progesteron, maka FSH mulai terbentuk

lagi dan terjadilah proses oogenesis kembali (Kusmiran, 2011).

2.1.3.6 Durasi Perdarahan Menstruasi

Menurut Kusmiran (2011) wanita biasanya pertama kali mengalami menstruasi (menarche) pada umur 12 – 16 tahun. Siklus menstruasi normal terjadi setiap 22 – 35 hari, dengan durasi lamanya menstruasi 2- 7 hari. Menurut Saryono dan Waluyo (2009) periode pengeluaran darah dikenal sebagai periode menstruasi yaitu berlangsung selama 3 – 7 hari.

2.1.3.7 Perubahan Fisik Yang Terjadi Pada Waktu Menarche

Menurut Sarwono (1997) perubahan fisik yang terjadi pada waktu menarche adalah :

a. Pertumbuhan tulang-tulang (badan menjadi tinggi, anggota-anggota badan menjadi panjang).

b. Pertumbuhan payudara.

c. Tumbuh bulu yang halus dan lurus berwarna gelap di kemaluan.

d. Mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimal setiap tahunnya.

e. Bulu kemaluan menjadi keriting.

f. Haid.

g. Tumbuh bulu-bulu ketiak.

2.1.4 Karakteristik Umum Perkembangan Remaja

Masa remaja seringkali dikenal dengan masa mencari jati diri, oleh Erickson disebut dengan identitas ego (ego identity) (Bischof, 1983 dalam Mohammad Ali 2004). Ini terjadi karena masa remaja merupakan peralihan antara masa kehidupan anak – anak dan masa kehidupan orang dewasa. Menurut Mohammad Ali (2004) ada sejumlah sikap yang sering ditunjukkan oleh remaja, yaitu sebagai berikut :

a. Kegelisahan

Sesuai dengan fase perkembangannya, remaja mempunyai banyak idealisme, angan – angan, atau keinginan yang hendak diwujudkan di masa depan. Namun, sesungguhnya remaja belum memiliki banyak kemampuan yang memadai untuk mewujudkan semua itu. Seringkali angan – angan dan keinginannya jauh lebih besar dibandingkan dengan kemampuannya.

Tarik – menarik antara angan – angan yang tinggi dengan kemampuannya yang masih belum memadai mengakibatkan mereka diliputi oleh perasaan gelisah.

b. Pertentangan

Sebagai individu yang sedang mencari jati diri, remaja berada pada situasi psikologis antara ingin melepaskan diri dari orang tua dan masih belum mampu untuk mandiri. Oleh karena itu, pada umumnya remaja sering mengalami kebingungan karena sering terjadi pertentangan pendapat antara mereka dengan orang tua.

c. Menghayal

Keinginan untuk menjelajah dan bertualang tidak semuanya tersalurkan.

Biasanya hambatannya dari segi keuangan atau biaya. Sebab, menjelajah lingkungan sekitar yang luas akan membutuhkan biaya yang banyak, padahal kebanyakan remaja hanya memperoleh uang dari pemberian orang tuanya. Akibatnya, mereka lalu menghayal mencari kepuasan, bahkan menyalurkan khayalannya melalui dunia fantasi.

d. Aktivitas Berkelompok

Berbagai macam keinginan para remaja seringkali tidak dapat terpenuhi karena bermacam – macam kendala, dan yang sering terjadi adalah tidak tersedianya biaya. Adanya macam – macam larangan orang tua seringkali melemahkan semangat para remaja. Kebanyakan remaja menemukan jalan keluar dari kesulitannya setelah mereka berkumpul dengan rekan sebaya untuk melakukan kegiatan bersama.

e. Keinginan Mencoba Segala Sesuatu

Umumnya remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, karena didorong rasa ingin tahu yang tinggi, remaja cenderung ingin bertualang, menjelajah segala sesuatu dan mencoba segala sesuatu yang belum pernah dialaminya.

2.2 Konsep Dukungan Keluarga 2.2.1 Defenisi Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga adalah suatu keadaan yang bermanfaat bagi individu yang diperoleh dari orang lain yang dapat dipercaya, sehingga seseorang akan

tahu bahwa ada orang lain yang memperhatikan, menghargai dan mencintainya (Cohen & Syme, 1996 dalam Setiadi 2008).

Studi-studi tentang dukungan keluarga telah mengkonseptualisasi dukungan sosial sebagai koping keluarga, baik dukungan-dukungan yang bersifat eksternal maupun internal terbukti sangat bermanfaat. Dukungan sosial keluarga ekstenal antara lain sahabat, pekerjaan, tetangga, sekolah, keluarga besar, kelompok sosial, kelompok rekreasi, tempat ibadah, praktisi kesehatan. Dukungan sosial keluarga internal antara lain dukungan dari suami atau istri, dari saudara kandung, atau dukungan dari anak (Friedman, 1998).

2.2.2 Tipe Keluarga

Dukungan keluarga terhadap seseorang dapat dipengaruhi oleh tipe keluarga. Menurut Setiadi (2008) pembagian tipe keluarga tergantung pada konteks keilmuan dan orang yang mengelompokkan. Secara tradisional tipe keluarga dapat dibagi menjadi dua yaitu:

a. Keluarga inti (nuclear family) adalah keluarga yang terdiri dari ayah,ibu dan anak yang diperoleh dari keturunannya atau adopsi atau keduanya.

b. Keluarga besar (extended family) adalah keluarga inti ditambah anggota keluarga lain yang masih memiliki hubungan darah seperti kakek, nenek, paman dan bibi.

Tipe keluarga yang dianut oleh masyarakat di Indonesia adalah tipe keluarga tradisional. Menurut Allender & Spradley (2001) dalam Achjar (2010), yaitu :

a. Keluarga inti (nuclear family) yaitu keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak (anak kandung atau anak angkat).

b. Keluarga besar (extended family), yaitu keluarga inti ditambah dengan keluarga yang masih mempunyai hubungan darah, misalnya kakek, nenek, paman dan bibi.

c. Keluarga dyad yaitu keluarga yang terdiri dari suami istri tanpa anak.

d. Single parent yaitu keluarga yang terdiri dari satu orang tua dengan anak kandung atau anak angkat.

e. Single adult yaitu rumah tangga yang hanya terdiri dari seorang dewasa.

f. Keluarga usia lanjut yaitu keluarga yang terdiri dari suami istri yang berusia lanjut.

Menurut Friedman (1998), individu yang yang tinggal dalam keluarga besar (extended family) akan mendapatkan dukungan keluarga yang lebih besar dibandingkan dengan individu yang tinggal dalam keluarga inti (nuclear family).

2.2.3 Jenis – Jenis Dukungan Keluarga

Menurut Friedman (1998) dalam Setiadi (2008), terdapat empat tipe dukungan keluarga yaitu :

1. Dukungan Emosional

Keluarga sebagai tempat yang aman dan damai untuk beristirahat dan juga menenangkan pikiran. Setiap orang pasti membutuhkan bantuan dari keluarga. Individu yang menghadapi persoalan atau masalah akan merasa terbantu kalau ada keluarga yang mau mendengarkan dan memperhatikan masalah yang sedang dihadapi.

2. Dukungan Penilaian

Keluarga bertindak sebagai penengah dalam pemecahan masalah dan juga sebagai fasilitator dalam pemecahan masalah yang sedang dihadapi.

Dukungan dan perhatian dari keluarga merupakan bentuk penghargaan positif yang diberikan kepada individu.

3. Dukungan Instrumental

Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan dalam hal pengawasan, kebutuhan individu. Keluarga mencarikan solusi yang dapat membantu individu dalam melakukan kegiatan.

4. Dukungan Informasional

Keluarga berfungsi sebagai penyebar dan pemberi informasi. Disini diharapkan bantuan informasi yang disediakan keluarga dapat digunakan oleh individu dalam mengatasi persoalan – persoalan yang sedang dihadapi.

2.3 Kesiapan Diri 2.3.1 Defenisi Kesiapan

Kesiapan berasal dari kata “siap” mendapat awalan ke- dan akhiran –an.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (2003) kesiapan adalah suatu keadaan bersiap – siap untuk mempersiapkan sesuatu. Menurut kamus psikologi, kesiapan (readines) adalah suatu titik kematangan untuk menerima dan mempraktekkan

tingkah laku tertentu. Readiness adalah Preparedness to respond or react.

Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respon atau bereaksi (Jamies Drever

dalam Slameto 2003). Menurut Slameto 2003, kesiapan adalah keseluruhan kondisi seseorang yang membuatnya siap untuk memberikan respon dalam cara tertentu terhadap suatu situasi.

Beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa kesiapan menghadapi menarche adalah keadaan yang menunjukkan bahwa seseorang siap untuk

mencapai kematangan fisik yaitu datangnya menstruasi pertama (menarche) pada saat menginjak usia sepuluh sampai enam belas tahun yang terjadi secara periodik (pada waktu tertentu) dan siklik (berulang – ulang). Hal ini ditandai dengan adanya pemahaman yang mendalam tentang proses menstruasi sehingga siap menerima dan mengalami menstruasi pertama (menarche) sebagai proses yang normal (Ayu dan Khairani, 2011).

2.3.2 Macam – macam Kesiapan

Kesiapan diri menghadapi menarche diantaranya perlu adanya : 1. Kesiapan Fisik

Kejadian yang penting dalam pubertas adalah pertumbuhan badan yang cepat, timbulnya ciri – ciri kelamin sekunder, menarche dan perubahan psikis.

Menarche merupakan perubahan yang mendasar antara pubertas pria dan wanita.

Menurut Suryani dan Widyasih (2010), gejala yang sering terjadi dan sangat mencolok pada peristiwa haid pertama ialah : kecemasan atau ketakutan diperkuat oleh keinginan untuk menolak proses fisiologis tadi.

Apabila tidak mempunyai pengetahuan dan kesiapan tentang menarche pada remaja cenderung menolak perubahan fisik tersebut, sehingga dapat

berpengaruh pada psikologis remaja itu sendiri. Maka kesiapan psikologis sangat diperlukan dalam menghadapi menarche.

2. Kesiapan Psikologi

Kesiapan psikologi remaja berupa sikap remaja tersebut dalam menghadapi menarche. Sikap ini dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif. Dalam sikap positif, kecendrungan tindakan adalah memahami, menghargai dan menerima adanya menstruasi pertama sebagai tanda kedewasaan seorang wanita, sedangkan dalam sikap negatif terdapat kecenderungan kondisi psikologis yang tak stabil (bingung, sedih, stres, cemas, mudah tersinggung, marah, emosional) (Dariyo, 2004).

Menstruasi pertama sering dihayati oleh remaja putri sebagai suatu pengalaman traumatis, terkadang anak yang belum siap menghadapi menarche akan timbul keinginan untuk menolak proses psikologi tersebut. Mereka akan merasa haid sebagai sesuatu yang kejam dan mengancam.

Keadaan ini dapat berlanjut ke arah lebih negatif, dimana anak tersebut memiliki gambaran fantasi yang sangat aneh bersamaan dengan kecemasan dan ketakutan yang tidak masuk akal. Hal tersebut mereka kaitkan dengan masalah pendarahan pada organ kelamin. Berbeda dengan remaja putri yang telah siap dalam menghadapi menarche, mereka akan merasa senang dan bangga, karena mereka menganggap dirinya sudah dewasa secara biologis (Suryani dan Widyasih, 2010).

3. Kesiapan Keluarga

Orang tua secara lebih dini harus memberikan penjelasan tentang menarche pada anak perempuannya, agar anak lebih mengerti dan siap dalam

menghadapi menarche.

Jika peristiwa menarche tersebut tidak disertai dengan informasi – informasi yang benar maka akan timbul beberapa gangguan diantaranya : pusing, mual, haid tidak teratur (Suryani dan Widyasih, 2010).

Anak pertama kali melakukan interaksi komunikasi dalam lingkungan keluarga terutama dengan orang yang paling dekat dengannya yaitu ibu.

Hubungan kedekatan anak dengan ibunya akan berlangsung sampai anak mencapai usia remaja. Peran ibu untuk membentuk kedekatan merupakan awal pembentukan rasa percaya diri anak.

KERANGKA PENELITIAN

3.1 Kerangka Penelitian

Kerangka penelitian ini menggambarkan hubungan dukungan keluarga tentang menstruasi dengan kesiapan remaja putri menghadapi menarche. Secara sistematis kerangka penelitian ini adalah :

Dukungan Keluarga

a. Sebagai sumber emosional untuk mendengarkan dan memperhatikan masalah yang sedang dihadapi

b. Sebagai sumber penilaian untuk memberikan dukungan dan perhatian dalam bentuk penghargaan positif c. Sebagai sumber instrumental dalam hal

pengawasan kebutuhan individu d. Sebagai sumber informasional untuk

menghadapi persoalan yang dihadapi

Kesiapan remaja putri menghadapi menarche (haid pertama) meliputi kesiapan fisik dan psikologis.

- Siap - Tidak siap

Skema 3.1 Kerangka Penelitian Keterangan :

: Variabel yang diteliti

: Hubungan dari variabel

3.2 Defenisi Operasional

3.2.1 Variabel Penelitian

Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu :

1. Variabel bebas (independen) adalah variabel yang nilainya menentukan variabel lain. Suatu kegiatan stimulus yang dimanipulasi oleh peneliti menciptakan suatu dampak pada variabel dependen (Nursalam, 2016).

Dalam penelitian ini variabel independen adalah dukungan keluarga tentang menstruasi.

2. Variabel terikat (dependen) adalah vaiabel yang nilainya ditentukan oleh variabel lain. Variabel respon akan muncul sebagai akibat dari manipulasi variabel – variabel lain (Nursalam, 2016). Dalam penelitian ini variabel dependen adalah kesiapan remaja putri menghadapi menarche.

3.2.2 Defenisi Operasional

Tabel 3.2.2 Defenisi Operasional

No Variabel Defenisi

Operasional

masalah yang

kuesioner - Tidak siap jika (skor

3.3 Hipotesa Penelitian

Hipotesa penelitian ini adalah ada hubungan dukungan keluarga tentang menstruasi dengan kesiapan remaja putri menghadapi menarche di SMP Swasta Nurul „Ilmi Padangsidimpuan.

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Penelitian ini bersifat analitik dengan desain cross sectional studi yaitu pendekatan epidemologis yang bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga tentang menstruasi dengan kesiapan remaja putri menghadapi menarche di SMP Swasta Nurul „Ilmi Padangsidimpuan

4.2 Populasi, Sampel dan Tehnik Sampling 4.2.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang diteliti (Notoatmodjo, 2012). Populasi dalam penelitian ini adalah siswi di SMP Swasta Nurul „Ilmi Padangsidimpuan yang telah mengalami menstruasi kurang dari 1 tahun, yaitu berjumlah 64 orang.

4.2.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang dianggap dapat mewakili populasi, dimana hanya sebagian populasi saja yang diambil dan dipergunakan untuk menentukan sifat serta ciri yang dikehendaki populasi. Jika populasi kurang

Sampel adalah bagian dari populasi yang dianggap dapat mewakili populasi, dimana hanya sebagian populasi saja yang diambil dan dipergunakan untuk menentukan sifat serta ciri yang dikehendaki populasi. Jika populasi kurang

Dokumen terkait