BAB I PENDAHULUAN
1.5 Manfaat Penelitian
1. Sebagai pengetahuan dan wawasan bagi peneliti, serta sebagai pengaplikasian diri dari ilmu yang telah didapat selama kuliah.
2. Sebagai masukan dan informasi kepada pekerja dan bagi pemilik unit usaha tahu Pak Ponimin tentang hubungan tekanan panas terhadap gangguan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
kesehatan seperti denyut nadi. Dengan begitu, diharapkan pekerja dapat meningkatkan derajat kesehatannya.
3. Dapat dijadikan sebagai referensi untuk diadakan penelitian selanjutnya, dan dapat menambah pengalaman dalam melaksanakan penelitian bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terutama mengenai tekanan panas yang dapat berhubungan dengan denyut nadi pekerja.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
12 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tekanan Panas
2.1.1 Pengertian Tekanan Panas
Tekanan panas adalah kombinasi antara suhu udara, kelembaban udara, kecepatan gerakan dan suhu radiasi. Kombinasi keempat faktor itu dihubungkan dengan produksi panas oleh tubuh. Suhu tubuh manusia dipertahankan hampir menetap akibat keseimbangan antara panas yang dihasilkan di dalam tubuh sebagai akibat metabolisme dan pertukaran panas antara tubuh dengan lingkungan sekitar (Suma’mur, 2009).
Tekanan panas merupakan perpaduan dari suhu dan kelembaban udara, kecepatan aliran udara, suhu radiasi dengan panas yang dihasilkan oleh metabolisme tubuh (Siswanto, 2001), sedangkan menurut ACGIH (2005) Tekanan panas adalah batasan kemampuan penerimaan panas yang diterima pekerja dari kontribusi kombinasi metabolisme tubuh akibat melakukan pekerjaan dan faktor lingkungan (temperatur udara, kelembaban, pergerakan udara, dan radiasi perpindahan panas) dan pakaian yang digunakan. Pada saat tekanan panas mendekati batas toleransi tubuh, risiko terjadinya kelainan kesehatan menyangkut panas akan meningkat.
Menurut Santoso (2005), tekanan panas adalah beban iklim kerja yang diterima oleh tubuh manusia. Suhu udara dapat diukur dengan termometer biasa (termometer suhu kering). (Kelembaban udara diukur dengan menggunakan hygrometer. Adapun suhu dan kelembaban dapat diukur bersama sama dengan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
misalnya menggunakan alat pengukur sling psychrometer atau arsmanpsychrometer yang juga menunjukkan suhu basah sekaligus. Suhu basah adalah suhu yang ditunjukkan suatu termometer yang dibasahi dan ditiupkan udara kepadanya, dengan demikian suhu tersebut menunjukkan kelembaban relatif udara. Kecepatan aliran udara yang besar dapat diukur dengan anemometer, sedangkan kecepatan udara yang kecil dengan suatu katatermometer. Suhu radiasi diukur dengan suatu termometer bola (globethermometer). Panas radiasi adalah energi atau gelombang elektromagnetis yang panjang gelombangnya lebih dari sinar matahari dan mata tidak peka terhadapnya atau mata tidak dapat melihatnya (Suma’mur, 2009)
2.1.2 Lingkungan Kerja Panas
Pekerja di dalam lingkungan panas, seperti di sekitar furnaces, peleburan, boiler, oven, tungku, pemanas atau bekerja di luar ruangan di bawah terik matahari dapat mengalami gangguan kesehatan. Selama aktivitas pada lingkungan panas tersebut, tubuh secara otomatis akan memberikan reaksi untuk memelihara suatu kisaran panas lingkungan yang konstan dengan menyeimbangkan antara panas yang diterima dari luar tubuh dengan kehilangan panas dari dalam tubuh. Menurut Tarwaka dkk (2004) bahwa suhu tubuh manusia dipertahankan hampir menetap oleh suatu pengaturan suhu. Suhu menetap ini dapat dipertahankan akibat keseimbangan di antara panas yang dihasilkan dari metabolisme tubuh dan pertukaran panas di antara tubuh dan lingkungan sekitarnya.
Menurut Hunt (2011) saat terpapar tekanan panas, suhu tubuh akan meningkat dan untuk mencegah terjadinya peningkatan suhu tubuh yang lebih tinggi, tubuh akan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
14
melepaskan panas melalui peningkatan aliran darah dan penguapan keringat dari permukaan kulit. Jika pelepasan panas tidak seimbang dengan panas yang diproduksi oleh tubuh, maka suhu tubuh akan terus meningkat sampai pada tingkat yang tidak aman.
Suhu nikmat kerja adalah suhu yang diperlukan seseorang agar dapat bekerja secara nyaman. Suhu nikmat kerja berkisar antara 24-26°C bagi orang Indonesia.
Orang Indonesia pada umumnya beraklimatisasi dengan iklim tropis yang suhunya sekitar 29-30°C dengan kelembaban 85%-95%. Aklimatisasi terhadap panas berarti suatu proses penyesuaian yang terjadi pada seseorang selama satu minggu pertama berada di tempat kerja. Setelah satu minggu pertama berada di tempat panas, tenaga kerja mampu bekerja tanpa pengaruh tekanan panas, hal ini tergantung dari aklimatisasi setiap individu yang dilihat dari beban kerja sehingga diperlukan variasi kerja (Suma’mur, 2009).
2.1.3 Peraturan Lingkungan Kerja Panas
Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika Dan Faktor Kimia Di Tempat Kerja, tentang Nilai Ambang Batas (NAB) untuk iklim lingkungan kerja merupakan batas pajanan iklim lingkungan kerja atau pajanan panas (heat stress) yang tidak boleh dilampaui selama 8 jam kerja per hari sebagaimana tercantum pada Tabel 2.1. NAB iklim lingkungan kerja dinyatakan dalam derajat Celsius Indeks Suhu Basah dan Bola (ºC ISBB).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Tabel 2.1 Pengaturan Waktu Kerja dan Beban Kerja Pengaturan Waktu
Kerja Setiap Jam
ISBB (Indeks Suhu Bola Basah dan Bola Kering (°C) Beban Kerja
(-) Tidak diperbolehkan karena alasan dampak fisiologis (Depnakertrans, 2011) 2.1.4 Sumber Panas Lingkungan Kerja
Di dalam industri lingkungan kerja fisik khususnya panas lingkungan memegang peranan penting, oleh karena itu lingkungan kerja harus diciptakan lebih nyaman supaya didapatkan efisiensi kerja dan peningkatan produktifitas.
Menurut Suma’mur (2009) pada dasarnya ada 3 sumber panas yang penting yaitu :
1. Iklim kerja : keadaan suhu panas udara di tempat kerja yang ditentukan oleh faktor-faktor keadaan antara lain, suhu udara, kelembaban udara, kecepatan gerak udara, suhu radiasi.
2. Proses produksi dan mesin akan mengeluarkan panas secara nyata sehingga lingkungan kerja menjadi lebih panas.
3. Kerja otot tenaga kerja dalam melaksanakan pekerjaaannya memerlukan energi yang diperoleh dari bahan nutrisi yaitu karbohidrat, lemak, protein dan oksigen yang diperlukan dalam proses oksidasi untuk menghasilkan energi yang merupakan panas yang disebut metabolisme.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
16
2.1.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tekanan Panas 1. Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah suatu proses adaptasi fisiologis yang ditandai oleh pengeluaran keringat yang meningkat, denyut nadi menurun dan suhu tubuh menurun. Proses adaptasi ini biasanya memerlukan waktu 7-10 hari. Aklimatisasi dapat pula menghilang ketika orang yang bersangkutan tidak masuk kerja selama seminggu berturut-turut (Santoso, 2005).
Aklimatisasi terhadap suhu tinggi merupakan hasil penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungannya. Untuk aklimatisasi terhadap panas ditandai dengan penurunan frekuensi denyut nadi dan suhu tubuh sebagai akibat pembentukan keringat. Aklimatisasi ini ditujukan kepada suatu pekerjaan dan suhu tinggi untuk beberapa waktu misalnya 2 jam. Mengingat pembentukan keringat tergantung pada kenaikan suhu dalam tubuh. Aklimatisasi panas biasanya tercapai sesudah 2 minggu (WHO, 1969).
2. Umur
Daya tahan seseorang terhadap panas akan menurun pada umur yang lebih tua. Orang yang lebih tua akan lebih lambat keluar keringatnya dibandingkan dengan orang yang lebih muda. Orang yang lebih tua memerlukan waktu yang lama untuk mengembalikan suhu tubuh menjadi normal setelah terpapar panas. Studi menemukan bahwa 70% dari seluruh penderita tusukan panas (heat stroke), mereka yang berusia lebih dari 60 tahun. Denyut nadi maksimal dari kapasitas kerja yang maksimal berangsur-angsur menurun sesuai dengan bertambahnya umur (WHO, 1969).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3. Jenis Kelamin
Adanya perbedaan kecil aklimatisasi antara laki-laki dan wanita. Wanita tidak dapat beraklimatisasi dengan baik seperti laki-laki. Hal ini dikarenakan mereka mempunyai kapasitas kardiovaskuler yang lebih kecil (WHO, 1969).
4. Ukuran Tubuh
Adanya perbedaan ukuran tubuh akan mempengaruhi reaksi fisiologis tubuh terhadap panas. Laki-laki dengan ukuran tubuh yang lebih kecil dapat mengalami tingkatan tekanan panas yang relatif lebih besar, hal ini dikarenakan mereka mempunyai kapasitas kerja maksimal yang lebih kecil (Siswanto, 2005).
5. Suku Bangsa
Perbedaan yang ada dikelompok suku kecil, mungkin disini erat sekali hubungannya dengan perbedaan ukuran tubuh (Tarwaka, 2004).
2.1.6 Proses Pertukaran Panas Antara Tubuh dan Lingkungan
Pertukaran panas antara lingkungan terjadi melalui mekanisme konveksi, radiasi, evaporasi, dan konduksi. Apabila seseorang sedang bekerja, tubuh pekerja tersebut akan mengalami interaksi dengan keadaan lingkungan yang terdiri dari suhu udara, kelembaban dan gerakan atau aliran udara. Proses metabolisme tubuh yang berinteraksi dengan panas di lingkungan akan mengakibatkan pekerja mengalami tekanan panas. Tekanan panas ini dapat disebabkan karena adanya sumber panas.
2.1.7 Faktor-Faktor yang Menyebabkan Pertukaran Panas
Faktor-faktor yang menyebabkan pertukaran panas menurut Suma’mur (2009) sebagai berikut :
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
18
1. Konduksi
Konduksi adalah pertukaran panas antar tubuh dengan benda-benda sekitar melalui mekanisme sentuhan atau kontak langsung. Konduksi dapat menghilangkan panas dari tubuh, apabila benda-benda sekitar lebih rendah suhunya, dan dapat menambah panas kepada badan apabila suhunya lebih tinggi dari tubuh.
2. Konveksi
Konveksi adalah pertukaran panas dari tubuh dan lingkungan melalui kontak udara dengan tubuh. Udara adalah penghantar panas yang kurang begitu baik, tetapi melalui kontak dengan tubuh dapat terjadi pertukaran panas antara udara dengan tubuh. Tergantung dari suhu udara dan kecepatan angin, konveksi memainkan besarnya peran dalam pertukaran panas antar tubuh dengan lingkungan. Konveksi dapat mengurangi atau menambah panas kepada tubuh.
3. Radiasi
Setiap benda termasuk tubuh manusia selalu memncarkan gelobang panas.
Tergantung dari suhu benda-benda sekitar, tubuh menerima atau kehilangan panas lewat mekanisme radiasi.
4. Penguapan
Manusia dapat berkeringat dengan penguapan dipermukaan kulit atau melalui paru-paru tubuh kehilangan panas untuk penguapan. Untuk mempertahankan suhu tubuh maka, M ± Kond ± Konv ± R-E = 0
M = Panas dari metabolism
Kond = Pertukaran panas secara konduksi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Konv = Pertukaran panas secara konveksi R = Panas radiasi
E = Panas oleh evaporasi
2.1.8 Pengaruh Fisiologis Akibat Tekanan Panas
Tekanan panas memerlukan upaya tambahan pada anggota tubuh untuk memelihara keseimbangan panas. Menurut Tarwaka (2015) bahwa reaksi fisiologis tubuh (heat strain) oleh karena peningkatan temperatur udara di luar comfort zone adalah sebagai berikut :
a. Vasodilatasi
b. Denyut jantung meningkat c. Temperatur kulit meningkat
d. Suhu inti tubuh pada awalnya turun kemudian meningkat dan lain-lain
Selanjutnya apabila pemaparan terhadap tekanan panas terus berlanjut, maka risiko terjadi gangguan kesehatan juga akan meningkat. Menurut Graham (1992) dan Bernard (1996) dalam Tarwaka (2015) reaksi fisiologis akibat pemaparan panas yang berlebihan dapat dimulai dari gangguan fisiologis yang sangat sederhana sampai dengan terjadinya penyakit yang sangat serius. Pemaparan terhadap tekanan panas juga menyebabkan penurunan berat badan.
Secara lebih rinci gangguan kesehatan akibat pemaparan suhu lingkungan panas yang berlebihan dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Gangguan kesehatan dan performansi kerja, seperti terjadinya kelelahan, sering melakukan istirahat curian, dan lain-lain.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
20
b. Dehidrasi, yaitu kehilangan cairan tubuh yang berlebihan yang disebabkan baik oleh pergantian cairan yang tidak cukup maupun karena gangguan kesehatan. Pada kehilangan cairan tubuh < 1,5% gejalanya tidak nampak, kelelahan muncul lebih awal dan mulut mulai kering.
c. Heat Rash, keadaan seperti biang keringat atau keringat buntat, gatal kulit akibat kondisi kulit terus basah. Pada kondisi demikian pekerja perlu beristirahat pada tempat yang lebih sejuk dan menggunakan bedak penghilang keringat.
d. Heat Cramps, merupakan kejang-kejang otot tubuh (tangan dan kaki) akibat keluarnya keringat yang menyebabkan hilangnya garam natrium dari tubuh yang kemungkinan besar disebabkan karena minum terlalu banyak dengan sedikit garam natrium.
e. Head Syncope atau Fainting, keadaan ini disebabkan karena aliran darah ke otak tidak cukup karena sebagian besar aliran darah dibawa ke permukaan kulit atau perifer yang disebabkan karena minum terlalu banyak dengan sedikit garam natrium.
f. Heat Exhaustion, keadaan ini terjadi apabila tubuh kehilangan terlalu banyak cairan dan atau kehilangan garam. Gejalanya mulut kering, sangat haus, lemah, dan sangat lelah. Gangguan ini biasanya banyak dialami pekerja yang belum beraklimatisasi terhadap suhu udara panas.
g. Heat Stroke, terjadi bila sistem pengaturan tubuh gagal dan temperatur tubuh meningkat sampai tingkat kritis. Kondisi ini disebabkan oleh kombinasi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
berbagai faktor, dan keterjadiannya sulit diprediksi. Heat Stroke adalah keadaan darurat medis. Tanda dan gejalanya utama dari gangguan kesehatan ini adalah bingung, perilaku irrasional, hilang kesadaran, sawan, kurang berkeringat, kulit panas dan temperatur tubuh sangat tinggi. Meningkatnya temperatur metabolik akibat kombinasi beban kerja dan beban panas lingkungan, yang keduanya turut memberi pengaruh terhadap heat stroke, juga sangat bervariasi dan sulit memprediksinya.
2.1.9 Pengendalian Tekanan Panas
Menurut Tarwaka (2015) pengendalian terhadap tekanan panas meliputi sebagai berikut:
a. Isolasi terhadap sumber panas
Isolasi terhadap benda yang panas akan mencegah keluarnya panas ke lingkungan. Ini dapat dilakukan misalnya dengan membalut pipa yang panas, menutupi tangki yang berisi cairan panas sehingga mengurangi aliran panas yang timbul. Cara ini merupakan cara yang praktis dalam membatasi pemaparan seseorang terhadap panas dan merupakan cara pengendalian yang dianjurkan bila tempat kerja terdapat sumber panas yang sangat tinggi.
b. Tirai radiasi
Tirai radiasi terbuat dari lempengan alumunium, baja anti karat atau dari bahan metal yang permukannya mengkilap.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
22
c. Ventilasi setempat
Ventilasi ini bertujuan untuk mengendalikan panas konveksi yaitu dengan menghisap udara panas.
d. Pendinginan lokal
Pendinginan lokal dilakukan dengan cara mengalirkan udara sejuk ke sekitar pekerja dengan tujuan meggantikan udara yang panas dengan udara yang sejuk dan dialirkan dengan kecepatan tinggi.
e. Ventilasi umum
Cara ini paling sering digunakan untuk mengendalikan suhu dan kelembaban udara yang tinggi tetapi tidak dapat digunakan untuk mengurangi paparan panas karena radiasi yang tinggi.
f. Pengaturan lama kerja
Pengaturan lama bekerja digunakan untuk menghindari terjadinya gangguan kesehatan akibat terpapar suhu udara yang tinggi, lamanya kerja dan istirahat harus disesuaikan dengan tingkat tekanan panas yang dihadapi oleh pekerja.
Menurut Harrianto (2009) pengendalian tekanan panas sebagai berikut : 1. Pengendalian Administratif
a. Periode aklimatisasi yang cukup sebelum melaksanakan beban kerja yang penuh.
b. Untuk mempersingkat pajanan dibutuhkan jadwal istirahat yang pendek tetapi sering dan rotasi pekerja yang memadai.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
c. Ruangan dengan penyejuk rasa (AC) perlu disediakan untuk memberikan efek pendingin pada pekerja waktu istirahat.
d. Penyediaan air minum yang cukup.
2. Pengendalian Teknik
a. Mengurangi produksi panas metabolik tubuh.
b. Automatisasi dan mekanisasi beban tugas akan meminimalisasi kebutuhan kerja fisik pekerja.
c. Mengurangi penyebaran panas radiasi dari permukaan-permukaan benda yang panas, dengan cara isolasi/penyekat (melapisi permukaan benda-benda yang panas dengan bahan yang memiliki emisi yang rendah seperti aluminium atau cat), perisai (bahan yang dapat memantulkan panas) dan remote control.
d. Mengurangi bertambahnya panas konveksi, seperti penggunaan kipas angin untuk meningkatkan kecepatan gerak udara di ruang kerja panas.
e. Mengurangi kelembaban. AC, peralatan penarik kelembaban dan upaya lain untuk mengeleminasi uap panas sehingga dapat mengurangi kelembaban di lingkungan tempat kerja.
3. Alat Pelindung Diri
a. Untuk bekerja di tempat kerja yang panas dan lembab, perlu disediakan baju yang tipis dan berwarna terang hingga pengeluaran panas tubuh dengan proses evaporasi keringat menjadi lebih efisien.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
24
b. Kaca mata yang dapat menyerap panas radiasi bila bekerja dekat dengan benda-benda yang sangat panas, misalnya cairan logam atau oven yang panas.
2.2 Denyut Nadi
2.2.1 Pengertian Denyut Nadi
Denyut nadi adalah kecepatan irama denyut atau detak jantung yang dapat dipalpasi (diraba) dipermukaan kulit pada tempat-tempat tertentu. Denyut nadi merupakan getaran didalam pembuluh darah arteri akibat kontraksi ventrikel kiri jantung. Denyut nadi yang optimal untuk setiap orang berbeda-beda, tergantung pada saat kapan mengukur denyut nadi (Brahmapurkar, 2012).
Pemeriksaan denyut nadi sederhana biasanya dilakukan dengan cara palpasi.
Denyut nadi paling mudah dirasakan ketika arteri ditekan ringan pada tulang.
Beberapa tempat untuk meraba denyut nadi yaitu salah satunya arteri radialis di pergelangan tangan. Kecepatan denyut jantung normal berkisar antara 60 sampai 100 denyut per menit, dengan rata-rata denyutan 75 kali per menit. Frekuensi denyut melambat selama tidur dan dipercepat oleh emosi, olahraga, demam, dan rangsangan lain (Ganong, 2008).
2.2.2 Jenis Denyut Nadi
Menurut Brahmapurkar (2012) jenis denyut nadi dibagi menjadi : 1. Nadi istirahat, yaitu denyut nadi sebelum bekerja.
2. Nadi sedang bekerja, yaitu denyut nadi selama bekerja.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3. Nadi kerja, yaitu selisih denyut nadi selama kerja dengan denyut nadi sebelum bekerja.
4. Nadi pemulihan, yaitu total angka denyutan dari akhir kerja sampai masa pulih tercapai.
2.2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Denyut Nadi 1. Usia
Frekuensi nadi secara bertahap akan menetap memenuhi kebutuhan oksigen selama pertumbuhan. Pada masa remaja, denyut nadi menetap dan iramanya teratur.
Pada orang dewasa efek fisiologis usia dapat berpengaruh pada sistem kardiovaskuler. Denyut nadi paling cepat ada pada bayi kemudian frekuensi denyut nadi menurun seiring dengan pertambahan usia (Pearce, 1999).
Tabel 2.2 Frekuensi Nadi Menurut Berbagai Usia
No Usia Frekuensi Nadi (per menit)
1 < 1 bulan 90-170
Frekuensi nadi secara bertahap akan menetap memenuhi kebutuhan oksigen selama pertumbuhan. Pada masa remaja, denyut nadi menetap dan iramanya teratur.
Pada orang dewasa efek fisiologis usia dapat berpengaruh pada sistem kardiovaskuler. Pada usia yang lebih tua penentuan denyut nadi kurang dapat dipercaya (Pearce, 1999).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
26
2. Jenis Kelamin
Denyut nadi yang tepat dicapai pada kerja maksimum wanita lebih tinggi dari pada laki-laki. Pada laki-laki muda dengan kerja 50% maksimal rata-rata nadi kerja mencapai 128 denyut per menit, sedangkan pada wanita 138 denyut per menit. Pada kerja maksimal pria rata-rata nadi kerja mencapai 154 denyut per menit dan pada wanita 164 denyut per menit (Santoso, 2004).
3. Intensitas dan Lama Kerja
Berat atau ringannya intensitas kerja berpengaruh terhadap denyut nadi. Lama kerja, waktu istirahat, dan irama kerja yang sesuai dengan kapasitas optimal manusia akan ikut mempengaruhi frekuensi nadi sehingga tidak melampaui batas maksimal.
Batas kesanggupan kerja sudah tercapai bila bilangan nadi kerja (rata-rata nadi selama kerja) mencapai angka 30 denyut per menit dan diatas bilangan nadi istirahat.
Sedang nadi kerja tersebut tidak terus menerus menanjak dan sehabis kerja pulih kembali pada nadi istirahat sesudah ± 15 menit (Santoso, 2005).
4. Cuaca Kerja
Cuaca kerja baik cuaca kerja panas atau dingin juga akan mempengaruhi sistem sirkulasi dan denyut nadi. Cuaca kerja panas dapat menyebabkan bahan tambahan pada jantung dan sirkulasi darah. Pada waktu melakukan pekerjaan fisik yang berat di lingkungan panas, maka darah akan mendapat beban tambahan karena harus membawa oksigen kebagian otot yang sedang bekerja dan membawa panas dari dalam tubuh ke permukaan kulit sehingga menjadi beban tambahan bagi jantung yang
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
harus memompa darah lebih banyak lagi yang mengakibatkan frekuensi denyut nadipun lebih cepat (Santoso, 2005).
2.2.4 Nadi Kerja Menurut Tingkat Beban Kerja
Menurut Tarwaka dkk (2004) kategori beban kerja berdasarkan denyut nadi kerja dibagi atas beban kerja sangat ringan, ringan, sedang, berat, sangat berat dan sangat berat sekali.
Tabel 2.3 Nadi Kerja Menurut Beban Kerja No Kategori Beban
Pengukuran denyut nadi dapat dilakukan pada pergelangan tangan (arteri radialis). Dengan menggunakan 2 jari yaitu telunjuk dan jari tengah, atau 3 jari, telunjuk, jari tengah dan jari manis jika mengalami kesulitan menggunakan 2 jari.
Temukan titik nadi, yaitu nadi radialis dipergelangan tangan di sisi ibu jari. Setelah menemukan denyut nadi, tekan perlahan kemudian hitunglah denyutan selama minimum 30 detik, tetapi idealnya adalah 1 menit. Secara umum denyut nadi orang dewasa yaitu antara 60 sampai 100 denyut per menit (Ganong, 2008).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
28
Metode pengukuran denyut nadi menurut Nurmianto (2006) : 1. Metode Palpasi
Metode ini dilakukan terhadap subyek dalam keadaan diam atau istirahat.
Perabaan untuk menghitung denyut nadi dapat dilakukan dengan meletakkan ujung jari 3 jari (jari telunjuk, jari tengah dan jari manis) pada pergelangan tangan bagian luar arah ibu jari, atau juga didaerah leher kiri/kanan, dan dibawah sudut dagu. Arah ketiga jari membentuk garis lurus sesuai dengan panjang sumbu tubuh. Perhitungan menggunakan stopwatch.
2. Metode Auskultasi
Metode ini menggunakan stetoskop (alat dengar) untuk mendengarkan denyut jantung. Tinggal menghitung berapa denyut dalam waktu 5 detik, 10 detik, atau dalam 15 detik. Hasil dikalikan dengan 12, 6, dan 4 sesuai lama mendengarkan detikan tersebut. Metode ini baik digunakan bila subyek diam tak bergerak.
3. Electrocardiografi (ECG)
ECG merupakan alat rekam jantung sehingga grafik aktifitas listrik jantung dapat terekam. Dari gambar grafik tersebut dapat dihitung berapa denyut jantung per menit. Alat ini mahal dan tidak praktis dilapangan. ECG tidak bias dipakai untuk subyek yang bergerak dan biasanya dipakai di bangsal perawatan.
4. ECG Nirkabel
ECG nirkabel menggunakan alat sensor yang dipasang di dada, lalu secara telemetri rekaman dapat diterima penerima dan langsung digambar listrik jantungnya.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Alat ini dapat digunakan pada subyek yang bergerak aktif tanpa mengganggu aktivitas yang dilakukan.
5. Sport Tester
Merupakan alat rekam yang dipasang di dada yang kemudian merekam denyut jantung dan selanjutnya ditampilkan dalam monitor komputer.
6. Pulsemeter
Pulsemeter adalah alat untuk mengukur detak jantung. Pulsemeter akan
langsung menunjukkan pada satu angka.
2.3 Hubungan Tekanan Panas dengan Denyut Nadi
Siklus jantung terdiri dari periode relaksasi yang dinamakan diastole dan diikuti oleh periode kontraksi yang dinamakan systole. Kekuatan darah masuk ke dalam aorta selama sistolik tidak hanya menggerakkan darah dalam pembuluh ke depan tetapi juga menyusun suatu gelombang tekanan sepanjang arteri. Gelombang tekanan mendorong dinding arteri seperti berjalan dan pendorongnya teraba sebagai
Siklus jantung terdiri dari periode relaksasi yang dinamakan diastole dan diikuti oleh periode kontraksi yang dinamakan systole. Kekuatan darah masuk ke dalam aorta selama sistolik tidak hanya menggerakkan darah dalam pembuluh ke depan tetapi juga menyusun suatu gelombang tekanan sepanjang arteri. Gelombang tekanan mendorong dinding arteri seperti berjalan dan pendorongnya teraba sebagai