BAB IV HASIL PENELITIAN
4.4 Uji Hubungan Tekanan Panas dengan Denyut Nadi Pada Pekerja di Unit
Uji Hubungan Tekanan Panas dengan Denyut Nadi pada Pekerja di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin Kota Medan ini dilakukan dengan uji statistic korelasi Pearson Product Moment dengan hasil sebagai berikut :
Tabel 4.6 Hasil Uji Hubungan Tekanan Panas Dengan Denyut Nadi Berdasarkan Titik Pengukuran di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin Kota Medan Tahun 2017
No. Variabel Significant (p)
Korelasi (r) Keterangan
1 Tekanan Panas 0,042 0.386** Ada Hubungan
2 Denyut Nadi 0,042 0,386**
Berdasarkan tabel 4.6 diperoleh hasil signifikan (p) antara tekanan panas dengan denyut nadi adalah 0,042 atau p < 0,05. Nilai tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tekanan panas dengan denyut nadi pada pekerja di unit usaha tahu Pak Ponimin Kota Medan Tahun 2017.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
52 BAB V PEMBAHASAN
5.1 Tekanan Panas di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin
Tekanan panas adalah kombinasi antara suhu udara, kelembaban udara, kecepatan gerakan dan suhu radiasi. Kombinasi keempat faktor itu dihubungkan dengan produksi panas oleh tubuh. Suhu tubuh manusia dipertahankan hampir menetap akibat keseimbangan antara panas yang dihasilkan di dalam tubuh sebagai akibat metabolisme dan pertukaran panas antara tubuh dengan lingkungan sekitar.
Seseorang dapat bekerja dengan baik maka perlu kenyamanan lingkungan tempat kerja, karena lingkungan fisik yang tidak nyaman terutama bekerja pada lingkungan panas dapat mempengaruhi lingkungan pekerja. Ketidaknyamanan iklim kerja fisik mengakibatkan perubahan fungsional pada organ tubuh manusia. Kondisi panas yang berlebihan mengakibatkan rasa letih, kantuk, mengurangi kestabilan dan meningkatkan angka kesalahan kerja. Suhu panas mengurangi kelincahan, memperpanjang waktu reaksi dan waktu pengambilan keputusan, mengganggu kecermatan otak, mengganggu koordinasi saraf perasa dan saraf motoris (Suma’mur, 2009).
Tekanan panas dalam penelitian ini adalah suhu di lingkungan kerja yang diambil dari 2 titik pengukuran yang telah ditentukan dan 3 waktu pengukuran di unit usaha tahu menggunakan alat 4 in 1 Enviroment diketahui bahwa rata-rata panas di lokasi perebusan kedelai pada penelitian ini adalah 38,67ºC, rata-rata panas di lokasi penggorengan adalah 37,50ºC. Dapat dilihat dari hasil pengukuran ini, suhu tertinggi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
terjadi di lokasi perebusan kedelai yaitu 38,67ºC. Hal ini terjadi karena di lokasi perebusan kedelai panas yang dihasilkan berasal dari uap panas hasil perebusan kedelai yang menguap memenuhi lokasi kerja dan juga dari uap panas yang dialirkan melalui pipa-pipa yang berasal dari ketel uap yang digunakan untuk perebusan kedelai sehingga suhu yang dicapai maksimal, ditambah lagi paparan panas dari matahari yang memapari lokasi kerja.
Dari hasil pengukuran tersebut diketahui suhu pada lingkungan kerja telah melebihi nilai ambang batas yang telah ditentukan oleh Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja. Untuk menetapkan NAB di tempat tersebut, terlebih dahulu harus mengetahui beban kerja pekerja di tempat kerja tersebut. Beban kerja bisa diketahui dari banyaknya denyut nadi pekerja per menit, didapatkan rata-rata denyut nadi pekerja di unit usaha tahu Pak Ponimin sebanyak 102 denyut/menit. Dengan denyut nadi tersebut maka termasuk kategori beban kerja sedang. Selanjutnya ketegori beban kerja tersebut dibandingkan dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011 dengan pengaturan waktu kerja 75% kerja 25% istirahat untuk 8 jam kerja dengan beban kerja sedang. Dapat diketahui NAB suhu panas sebesar 28ºC, maka dapat dikatakan bahwa tempat tersebut melebihi NAB yang ditetapkan.
Pekerja yang termasuk dalam kelompok beban kerja sedang sebagian besar adalah pekerja di bagian proses pembuatan tahu. Pekerja pada bagian pembuatan tahu bekerja dalam posisi berdiri sambil melakukan pekerjaan seperti memasukkan kedelai
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
54
ke dalam tempat penggilingan, memindahkan kedelai yang sudah digiling ke tempat perebusan, memasukkan kedelai halus yang telah selesai direbus ke tempat penyaringan, mencampurkan larutan obat/cuka ke dalam kedelai yang telah disaring, mencetak tahu, memotong tahu dan menggoreng tahu. Sehingga beban kerja bagian proses pembuatan tahu lebih berat di bandingkan pekerja pada bagian lain.
Faktor panas lingkungan kerja menjadi faktor yang sangat mempengaruhi terhadap tekanan panas. Panas lingkungan kerja pada unit usaha tahu Pak Ponimin bersumber dari tungku perebusan dan api yang dibutuhkan dalam proses penggorengan.
Pada tahap penggorengan, selain harus masak tahu mentah pekerja juga harus menyuplai kayu untuk dibakar agar api yang dihasilkan tidak terhenti, sehingga pekerja selalu berada dekat pada sumber panas. Selain itu, cuaca panas dari matahari juga sangat mempengaruhi terpaparnya pekerja dengan panas. Hal ini dikarenakan, kondisi bangunan yang tertutup dan beratapkan seng, kurangnya perputaran sirkulasi udara serta adanya keluhan pekerja selama proses kerja yaitu pusing, mata berkunang-kunang, mudah haus, keringat berlebih, dan tidak nyaman saat bekerja, sehingga mempegaruhi produktivitas kerja. Sehingga, selain pekerja selalu berada dekat pada sumber panas, beban kerja yang dilakukan juga cukup besar.
Untuk mengatasi tekanan panas pihak unit usaha tahu juga telah melakukan pemberian kipas angin dan beberapa ventilasi. Walaupun hal tersebut sudah dilakukan tetapi terlihat dan dapat dirasakan bahwa kondisi lingkungan di unit usaha tahu Pak Ponimin masih terasa panas.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
5.2 Denyut Nadi Pekerja di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin
Denyut nadi adalah kecepatan irama denyut atau detak jantung yang dapat dipalpasi (diraba) dipermukaan kulit pada tempat-tempat tertentu. Denyut nadi merupakan getaran didalam pembuluh darah arteri akibat kontraksi ventrikel kiri jantung. Denyut nadi yang optimal untuk setiap orang berbeda-beda, tergantung pada saat kapan mengukur denyut nadi (Brahmapurkar, 2012).
Pengukuran denyut nadi dalam penelitian ini menggunakan metode palpasi yang menggunakan stopwatch yang diukur oleh tenaga medis. Berdasarkan hasil pengukuran diketahui bahwa sebelum bekerja rata-rata denyut nadi pada pekerja adalah 86 denyut/menit dengan denyut nadi terendah adalah 80 denyut/menit dan denyut nadi tertinggi adalah 90 denyut/menit. Rata-rata denyut nadi pada pekerja sesudah bekerja adalah 102 denyut/menit dengan denyut nadi terendah adalah 84 denyut/menit dan denyut nadi tertinggi adalah 114 denyut/menit.
Hasil penelitian denyut nadi pada pekerja di unit usaha tahu Pak Ponimin menunjukkan bahwa dari 28 pekerja yang diteliti seluruhnya dengan denyut nadi normal sebanyak 6 orang atau 21,4% dan denyut nadi meningkat sebanyak 22 orang atau 78,6%.
Peningkatan denyut nadi pada pekerja di unit usaha tahu disebabkan karena tekanan panas saat pekerja bekerja melebihi suhu yang diperkenankan. Ditambah lagi pekerja tidak menggunakan alat pelindung diri satupun dikarenakan kurang nyaman saat bekerja. Sehingga pekerja langsung terpapar panas dari proses pembuatan tahu dan penggorengan tahu.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
56
Beberapa di antara pekerja mengaku sering mengalami pusing, mata berkunang-kunang, merasa haus, keringat berlebih, dan tidak nyaman saat bekerja.
Gejala ini sering dirasakan setelah tiga sampai lima jam bekerja. Pihak perusahaan telah menyediakan air minum galon yang diletakkan di sudut ruangan uit usaha tahu ini, namun pekerja kurang memanfaatkan dan kurang peduli dengan kesehatan mereka. Jarang sekali didapati pekerja yang mau meminum air mineral tersebut sebelum dan sesudah bekerja.
Pemberian cairan seperti air minum akan memperkecil perubahan denyut nadi sehingga akan menunda kelelahan dan memperpendek lama periode pemulihan denyut nadi. Kehilangan cairan sebesar 5-6% dari berat badan akan meningkatkan denyut nadi (Williams, 2007).
5.3 Hubungan Tekanan Panas Dengan Denyut Nadi Pada Pekerja di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin Kota Medan Tahun 2017
Tekanan panas yang berlebihan merupakan beban tambahan yang harus diperhatikan dan diperhitungkan. Beban tambahan berupa panas lingkungan dapat menyebabkan beban fisiologis, misalnya kerja jantung menjadi bertambah (Santoso, 2004).
Denyut nadi seseorang akan terus meningkat bila suhu tubuh meningkat kecuali bila pekerja yang bersangkutan telah beraklimatisasi terhadap suhu udara yang tinggi. Denyut nadi maksimum untuk orang dewasa adalah 180-200 denyut/menit dan keadaan ini biasanya hanya dapat berlangsung dalam waktu beberapa menit saja (Santoso, 2005).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Pemaparan panas dapat menyebabkan beban tambahan pada sirkulasi darah, karena harus membawa oksigen ke bagian otot yang sedang bekerja. Pada waktu melakukan pekerjaan fisik yang berat di lingkungan panas, maka darah akan mendapat beban tambahan karena harus membawa oksigen kebagian otot yang sedang bekerja dan membawa panas dari dalam tubuh ke permukaan kulit sehingga menjadi beban tambahan bagi jantung yang harus memompa darah lebih banyak lagi yang mengakibatkan denyut nadi lebih cepat (Santoso, 2005).
Berdasarkan hasil uji statistik dengan uji Korelasi Pearson Product Moment didapatkan hasil signifikan (p) antara tekanan panas dengan denyut nadi dengan nilai yaitu 0,042 atau p < 0,05. Nilai tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tekanan panas dengan denyut nadi pada pekerja di unit usaha tahu Pak Ponimin.
Hasil penelitian di unit usaha tahu dengan tekanan panas yaitu mencapai 38,3ºC yang berasal dari proses perebusan kedelai. Dengan tempat kerja 11 x 4 meter, terdapat 3 tungku pemanas dan 1 ketel uap. Pintu atau area untuk keluar masuknya pekerja yang terbuat dari besi sekaligus berfungsi sebagai ventilasi alamiah, yang merupakan bukaan permanen yang terdiri satu bidang dari tempat kerja ini. Sirkulasi untuk perputaran udara di bagian produksi berasal dari area tersebut. Dari seluruh proses produksi yang terus menerus terpapar oleh suhu panas ini menyebabkan para pekerja mengalami pusing, mata berkunang-kunang, cepat merasa haus, gejala dehidrasi dan keringat yang berlebih, akibatnya pekerja merasa kurang berkonsentrasi dan tidak nyaman saat bekerja.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
58
Hal tersebut telah membuktikan bahwa tekanan panas yang berlebih dapat mempengaruhi denyut nadi. Sesuai dengan teori Grandjean (1993) yang menyatakan jika suhu lingkungan meningkat, maka efek fisiologis yang terjadi adalah peningkatan denyut nadi, peningkatan tekanan darah, peningkatan kelelahan, mengurangi akitifitas organ pencernaan, peningkatan aliran darah melalui kulit, dan peningkatan produksi keringat menjadi berlebih.
Hasil signifikan penelitian ini sesuai dengan penelitian Kalpika Anis (2010) tentang Perbedaan Denyut Nadi Sebelum dan Sesudah Bekerja Pada Iklim Kerja Panas di Unit Workshop PT. Indo Acidatama Tbk Kemiri, Kebakkramat Karanganyar, dengan hasil analisis yang dilakukan mengenai perbedaan denyut nadi sebelum dan sesudah bekerja pada iklim panas bahwa nilai p<0,05 yang artinya ada hubungan antara tekanan panas dengan denyut nadi.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
59
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan
1. Tekanan panas pada unit usaha tahu Pak Ponimin melebihi NAB (>28ºC), didapatkan suhu rata-rata di area pembuatan tahu mencapai 38,67ºC, suhu tertinggi pada pukul 12.45 WIB mencapai 38,3ºC dan suhu terendah pada pukul 08.30 WIB mencapai 37,9ºC, sedangkan suhu rata-rata di area penggorengan mencapai 37,50ºC, suhu tertinggi pada pukul 12.45 WIB mencapai 37,7ºC, dan suhu terendah mencapai 37,4ºC.
2. Denyut nadi di unit usaha tahu Pak Ponimin didapatkan pekerja yang mengalami peningkatan denyut nadi sebanyak 22 orang (78,6%), dan pekerja dengan denyut nadi normal sebanyak 6 orang (21,4%).
3. Hasil uji statistik dengan uji Korelasi Product Moment didapatkan hasil yang signifikan antara tekanan panas dengan denyut nadi yaitu 0,042 atau p<0,05. Nilai tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tekanan panas dengan denyut nadi pada pekerja di unit usaha tahu Pak Ponimin.
6.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut:
1. Diharapkan untuk pihak unit usaha tahu dapat menambahkan kipas angin uap air agar sirkulasi udara yang lebih baik pada lokasi kerja.
2. Pihak unit usaha tahu Pak Ponimin memfasilitasi air minum di dekat pekerja agar pekerja mudah menjangkaunya.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
60
3. Diharapkan pekerja mengonsumsi air minum untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang selama bekerja.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
60 pada Pekerja Pemeliharaan Jalan Rel Kereta Distrik 46 Kedungjati PT. Kereta Api Indonesia (Persero) DAOP IV. Universitas Diponegoro, Semarang.
Arief, L. M., 2012. Monitoring Lingkungan Kerja Tekanan Panas. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Esa Unggul.
Budiono, A.S.M., 2003. Bunga Rampai Hiperkes dan Kesehatan Kerja.
Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Brahmapurkar, K.P., 2012. Heat Stress and its Effect in Glass Factory Workers of Central India. International Journal of Engineering Research & Technology Vol 1 Issue 8. http://www.iosrjournals.org/iosr-jdms/papers/Vol1-issue8/G0762933.pdf. Diakses 5 Oktober 2017.
CCOHS (Canadian Centre for Occupational Health and Safety)., Hot Enviromental-Health Effect, Ontario, September, 2001.
http://ww.ccohs.ca/hot-environmental-health-effect/. Diakses 10 Oktober 2017.
Ganong, W.F, 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Alih bahasa: Brahm U.
Pendit. Edisi 22. Jakarta: EGC.
Grandjean, E., 1993. Fitting the Task to the Man. 4th Ed. Taylor Francis.
Guyton A.C., Hall J.E. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta : EGC. P. 208 – 212, 219 – 223, 277 – 282, 285 – 287.
Harrianto, R., 2009. Buku Ajar Kesehatan Kerja. Jakarta: EGC.
Hunt, A.P., 2011. Heat Strain, Hydration Status, and Symptoms of Heat Illnes in Surface Mine Worker. The School of Human Movement Studies and the Institute of Health and Biomedical Innovation. Queensland
University of Technology.
http://eprints.qut.edu.au/44039/1/Andrew_Hunt_Thesis.pdf. Diakses 10 Oktober 2017.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
61
Livchak A., Schrock D., and Sun Z. 2005. The Effect of Supply Air System On Kitchen Thermal Environment. ASHRAE (American Society of Heating, Refrigerating and Air Conditioning Engineer). Transaction 111(1), 748-754.
Moeljosoedarma, S. 2008. Higiene Industri. Jakarta: FK Universitas Indonesia.
Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: CV Rineka Cipta.
Nurmianto, E. 2006. Ergonomi: Konsep Dasar dan Aplikasinya. Surabaya:
Guna Widya.
OSHS (Occupational Safety and Health Service)., 1997. Guidelines For The Management Of Work In Extreme Of Temperature. Occupational Safety and Health Service Department of Labour. Wellington.
Pearce, C.E. 1999. Anatomi dan Fisiologis Untuk Para Medis. Jakarta:
Gramedia.
Permenakertrans No Per-13/Men/X/2011 tentang NAB faktor fisika dan faktor kimia ditempat kerja. OHSAS 18001. Jakarta : PT. Dian Rakyat.
Santoso, G., 2004. Ergonomi, Manusia, Peralatan dan Lingkungan. Prestasi Pustaka. Jakarta.
Santoso, G., 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta : Prestasi Pustaka Publiser.
Siswantiningsih, Kalpika A., 2010. Perbedaan Denyut Nadi Sebelum dan Sesudah Bekerja Pada Iklim Kerja Panas di Unit Workshop PT Indo Acidatama Tbk. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret.
Surakarta. http://eprints.uns.ac.id/115/1/167200309201011291.pdf.
Diakses 22 November 2017.
Siswanto, B. 2005. Manajemen Tenaga Kerja Indonesia Pendekatan Administratif dan Operasional. Jakarta : Bumi Aksara.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Siswantara, P. 2006. Perbedaan Efek Fisiologis Pada Pekerja Sebelum dan Sesudah Bekerja di Lingkungan Kerja Panas.
http://journal.unair.ac.id/filerPDF/ KESLING- 2-2.pdf. Diakses 20 November 2017.
Suma’mur, PK. 2009. Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (HIPERKES). Jakarta : Sagung Seto.
Tarwaka. B.S, Sudiajen, L. 2004. Ergonomi Untuk Keselamatan Kesehatan Kerja dan Produktifitas. Uniba Press, Surakarta.
Tarwaka. 2015. Ergonomi Untuk Keselamatan Kesehatan Kerja dan Produktivitas. Uniba Press. Cetakan Pertama. Surakarta. Hal. 35; 97-101.
WHO (World Heath Organization),. 1969. Health Factor Involved In Working Under Condition of Heat Stress. Technical Report Series No. 412.
Geneva : World Health Organization.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
62 Lampiran 1 : Peta Produksi
Keterangan :
1. Gudang penyimpanan kedelai 2. Tempat pencucian kedelai 3. Tempat perendaman kedelai
1 2 3
4
5 5
5
Tungku Air
6
7
8
8
8
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
63 4. Tempat penggilingan kedelai
5. Tempat perebusan, penyaringan dan pemberian larutan obat kedelai.
6. Tempat pencetakan tahu 7. Tempat pemotongan tahu 8. Tempat penggorengan tahu
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
64 Lampiran 2 : Peta Lokasi Pengukuran
Keterangan :
: Lokasi pengukuran dengan alat ukur 4 in 1 Environment 1
2
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
65 Lampiran 3 : Master Data
Hubungan Tekanan Panas Dengan Denyut Nadi Pada Pekerja di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin Kota Medan Tahun 2017
No Nama
66
20 L 24 1 1 90 90 2 37,9 38,3 38 38,67
21 B 28 1 1 84 108 1 37,9 38,3 38 38,67
22 R 25 1 1 90 110 1 37,9 38,3 38 38,67
23 A 19 1 1 88 108 1 37,9 38,3 38 38,67
24 R 28 1 1 84 84 1 37,9 38,3 38 38,67
25 M 25 1 1 90 108 1 37,9 38,3 38 38,67
26 P 27 1 1 84 108 1 37,9 38,3 38 38,67
27 H 23 2 1 86 106 1 37,9 38,3 38 38,67
28 A 24 1 1 84 114 1 37,9 38,3 38 38,67
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
67 Lampiran 3 : Hasil Pengolahan Data SPSS Karakteristik Subjek Penelitian
68
4. Hasil Pengukuran Tekanan Panas di Tempat Kerja Statistics
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
69
5. Hasil Pengukuran Denyut Nadi di Tempat Kerja Frequencies
Statistics
denyut nadi sebelum bekerja
N Valid 28
Missing 0
Mean 86.00
denyut nadi sebelum bekerja
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 80 1 3.6 3.6 3.6
84 12 42.9 42.9 46.4
86 5 17.9 17.9 64.3
88 5 17.9 17.9 82.1
90 5 17.9 17.9 100.0
Total 28 100.0 100.0
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
70
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
71
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid meningkat 22 78.6 78.6 78.6
tetap 6 21.4 21.4 100.0
Total 28 100.0 100.0
6. Uji Hubungan Tekanan Panas dengan Denyut Nadi Correlations
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
72
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
Correlations
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Lampiran 5 : Dokumentasi
Gambar 1. Pemilihan bahan baku
Gambar 2. Pencucian dan perendaman kedelai oleh pekerja
Gambar 3. Pekerja memasukkan kedelai ke dalam mesin penggiling
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar 4. Pekerja menuangkan hasil penggilingan
Gambar 5. Kedelai halus yang direbus
Gambar 6. Pekerja menyaring air hasil rebusan kedelai
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar 7. Pencampuran larutan obat/asam cuka ke dalam pati hasil penyaringan air tahu
Gambar 8. Pekerja menuangkan air tahu ke pencetakan
Gambar 9. Tahu yang akan dipotong dilakukan oleh pekerja
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar 10. Tahu yang sedang di goreng
Gambar 11. Tahu yang telah selesai di goreng
Gambar 12. Pekerja wanita sedang mensortir tahu
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar 13. Ketel uap dan kayu untuk bahan bakar
Gambar 14. Wajan penggorengan
Gambar 15. Tenaga laboratorium Teknik Industri USU sedang mengukur tekanan panas
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar 16. Tenaga medis sedang mengukur denyut nadi pekerja pria
Gambar 17. Tenaga medis sedang mengukur denyut nadi pekerja wanita
Gambar 18. Alat ukur 4 in 1 Environment (KW06-291)
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Lampiran 7 : Surat Selesai Penelitian
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA