HUBUNGAN TEKANAN PANAS DENGAN DENYUT NADI PADA PEKERJA DI UNIT USAHA TAHU PAK PONIMIN
KOTA MEDAN TAHUN 2017
SKRIPSI
OLEH :
DESRINA ROZETA NASUTION NIM : 131000251
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
HUBUNGAN TEKANAN PANAS DENGAN DENYUT NADI PADA PEKERJA DI UNIT USAHA TAHU PAK PONIMIN
KOTA MEDAN TAHUN 2017
Skripsi ini diajukan sebagai
Salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat
OLEH :
DESRINA ROZETA NASUTION NIM : 131000251
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
i
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul
“HUBUNGAN TEKANAN PANAS DENGAN DENYUT NADI PADA PEKERJA DI UNIT USAHA TAHU PAK PONIMIN KOTA MEDAN TAHUN 2017” Ini beserta seluruh isinya adalah benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini saya siap menanggung risiko atau sanksi yang diajukan kepada saya apabila kemungkinan ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini atau klaim dari pihak lain terhadap karya saya ini.
Medan, Juli 2018 Yang Membuat Pernyataan
Desrina Rozeta Nasution
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ii
HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi dengan Judul
HUBUNGAN TEKANAN PANAS DENGAN DENYUT NADI PADA PEKERJA DI UNIT USAHA TAHU PAK PONIMIN
KOTA MEDAN TAHUN 2017
Yang disiapkan dan dipertahankan oleh
DESRINA ROZETA NASUTION NIM : 131000251
Disahkan Oleh:
Komisi Pembimbing
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
dr. Halinda Sari Lubis, MKKK Eka Lestari Mahyuni, SKM., M.Kes NIP. 196506151996012001 NIP.197911072005012003
Medan, Juli 2018
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
iii ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan tekanan panas dengan denyut nadi pada pekerja di unit usaha tahu Pak Ponimin Kota Medan Tahun 2017.
Jenis penelitian ini bersifat survey analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini sebanyak 28 pekerja.
Sampel pada penelitian ini sebanyak 28 orang pekerja unit usaha tahu Pak Ponimin dengan teknik pengambilan sampel total populasi. Pengukuran tekanan panas menggunakan alat ukur 4 in 1 Enviroment, sedangkan pengukuran denyut nadi pekerja dilakukan dengan metode palpasi yang menggunakan stopwatch.
Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat dengan uji Korelasi Product Moment.
Hasil penelitian ini menunjukkan suhu tertinggi pada pukul 12.45 WIB mencapai 38,3ºC dan suhu terendah pada pukul 08.30 WIB mencapai 37,9ºC, sedangkan suhu tertinggi pada pukul 12.45 WIB mencapai 37,7ºC, dan suhu terendah mencapai 37,4ºC. Denyut nadi di unit usaha tahu Pak Ponimin didapatkan pekerja yang mengalami peningkatan denyut nadi sebanyak 22 orang (78,6%), dan pekerja dengan denyut nadi normal sebanyak 6 orang (21,4%). Dari hasil uji statistik menunjukkan bahwa hubungan tekanan panas dengan denyut nadi pada pekerja di unit usaha tahu Pak Ponimin berdasarkan titik pengukuran menunjukkan hasil yang signifikan yaitu 0,042 (p< 0,05).
Disarankan agar pihak Unit Usaha Tahu menambahkan kipas angin uap air agar sirkulasi udara yang lebih baik pada lokasi kerja. Unit usaha tahu Pak Ponimin memfasilitasi air minum di dekat pekerja agar pekerja mudah menjangkaunya. Pekerja juga disarankan mengonsumsi air minum untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang selama bekerja.
Kata kunci : tekanan panas, denyut nadi, lingkungan panas
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
iv ABSTRACT
This research was conducted to see the relations of heat stress with the pulse rate on the workers in the tofu business unit of Pak Ponimin Medan City in 2017.
This is an analytic survey using cross section approach. The population in this research is 28 workers. The sample in this research is 28 employees of tofu business unit Pak Ponimin with total population sampling technique. Heat stress measurement using 4 in 1 Enviroment instrument, while the measurement of worker pulse is by palpation method using stopwatch. The data was analyze by pearson product moment correlation test.
The results of this research indicate that the highest temperature at 12:45 pm reached 38.3ºC and the lowest temperature at 08.30 am reached 37.9ºC, while the highest temperature at 12:45 pm reached 37.7ºC, and the lowest temperature reached 37.4ºC. The pulse rate in the tofu business unit of Pak Ponimin was found in pulse of 22 people (78.6%), and workers with normal pulse of 6 people (21.4%). The statistical test showed that the relationship of heat pressure with the pulse on the workers in tofu business unit Pak Ponimin based on the measurement point showed a significant result that is 0,042 (p <0,05).
It’s recommended that the Tofu Business Unit add a water vapor fan for better air circulation at the work site. The tofu business unit provide drinking water near the workers so that workers can easily reach it. Workers are also advised to consume drinking water to replace lost body fluids during work.
Keywords: heat stress, pulse rate, heat environment
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasih-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi dengan judul “Hubungan Tekanan Panas Dengan Denyut Nadi Pada Pekerja di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin Kota Medan Tahun 2017”. Skripsi ini merupakan salah satu syarat yang ditetapkan untuk dapat meraih gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyelesaian Skripsi ini penulis banyak menemui kesulitan dan hambatan, namun berkat doa, bantuan, dan bimbingan dari berbagai pihak akhirnya skripsi ini dapat selesai dengan baik. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan kepada:
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. Ir. Gerry Silaban, M.Kes selaku Ketua Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
4. dr. Halinda Sari Lubis, M.KKK selaku Dosen Pembimbing I yang telah meluangkan waktu dan pikirannya dalam memberikan petunjuk, saran, dan bimbingan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
vi
5. Eka Lestari Mahyuni, SKM., M.Kes selaku Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan waktu dan pikirannya dalam memberikan petunjuk, saran, dan bimbingan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
6. Dra. Lina Tarigan, Apt. MS selaku Dosen Penguji I yang telah memberikan saran dan masukan kepada penulis demi kesempurnaan skripsi ini.
7. Umi Salmah, SKM., M.Kes selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan saran dan masukan kepada penulis demi kesempurnaan skripsi ini.
8. dr. Rahayu Lubis, M.Kes., Ph.D selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing selama proses perkuliahan penulis.
9. Para Dosen-Dosen yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat, staf departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, staf administrasi dan seluruh pegawai FKM USU yang telah membantu penulis dalam penyelesaikan skripsi ini.
10. Bapak Ponimin selaku pemiliki Unit Usaha Tahu Pak Ponimin yang telah memberikan izin penelitian.
11. Teristimewa kepada ibunda Sri Nurul Wardani dan ayahanda Marajo Nasution yang telah penuh cinta membesarkan, mendidik, membimbing, mendoakan, memberikan dukungan moril maupun materil dan memberikan kasih sayang yang tidak terhingga sehingga penulisan skripsi ini bisa selesai dengan baik.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
vii
12. Kepada adik saya Manan Alfatah Nasution telah memberikan dukungan dan semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.
13. Kepada sahabat dan teman seperjuangan Dyah Eka Putri, Mimi Rustami, Qisthi Alifa, Nita Ardyanti, Eka Mariani, Friana Vanny, Diah Nurmala, yang selalu membantu dan mendukung dalam pengerjaan skripsi ini.
14. Serta semua pihak yang berjasa, yang tidak bisa disebutkan satu per satu, atas bantuannya dalam penyelesaian skripsi ini.
Penulis menyadari masih ada kekurangan dalam penulisan skripsi ini, sehingga dengan kerendahan hati penulis menerima kritikan dan saran demi kesempurnaan skripsi ini.
Medan, Mei 2018 Penulis
Desrina Rozeta Nasution
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
viii
DAFTAR ISI
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
ABSTRAK ... iii
ABSTRACT ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
RIWAYAT HIDUP ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Permasalahan Penelitian ... 9
1.3 Tujuan Penelitian ... 9
1.4 Hipotesis Penelitian ... 10
1.5 Manfaat Penelitian ... 10
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11
2.1 Tekanan Panas ... 11
2.1.1 Pengertian Tekanan Panas ... 11
2.1.2 Lingkungan Kerja Panas ... 12
2.1.3 Peraturan Lingkungan Kerja Panas ... 13
2.1.4 Sumber Panas Lingkungan Kerja ... 14
2.1.5 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tekanan Panas ... 15
2.1.6 Proses Pertukaran Panas Antara Tubuh dan Lingkungan ... 16
2.1.7 Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Pertukaran Panas ... 17
2.1.8 Pengaruh Fisiologis Akibat Tekanan Panas ... 18
2.1.9 Pengendalian Tekanan Panas ... 20
2.2 Denyut Nadi ... 23
2.2.1 Pengertian Denyut Nadi ... 23
2.2.2 Jenis Denyut Nadi ... 23
2.2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Denyut Nadi ... 24
2.2.4 Nadi Kerja Menurut Tingkat Beban Kerja ... 26
2.2.5 Pengukuran Denyut Nadi ... 26
2.3 Hubungan Tekanan Panas Dengan Denyut Nadi ... 28
2.4 Kerangka Konsep ... 29
BAB III METODE PENELITIAN ... 30
3.1 Jenis Penelitian ... 30
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 30
3.2.1 Lokasi Penelitian ... 30
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ix
3.2.2 Waktu Penelitian ... 30
3.3 Populasi dan Sampel ... 30
3.3.1 Populasi ... 30
3.3.2 Sampel ... 30
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 31
3.4.1 Data Primer ... 31
3.4.2 Data Sekunder ... 31
3.5 Variabel dan Definisi Operasional ... 31
3.5.1 Variabel Penelitian ... 31
3.6.2 Definisi Operasional ... 31
3.6 Metode Pengukuran ... 32
3.6.1 Tekanan Panas ... 32
3.6.2 Denyut Nadi ... 34
3.7 Metode Analisis Data ... 35
3.7.1 Analisis Univariat ... 36
3.7.2 Analisis Bivariat ... 36
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 38
4.1 Gambaran Umum Unit Usaha Tahu Pak Ponimin Kota Medan ... 38
4.2 Proses Pembuatan Tahu di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin ... 40
4.3 Gambaran Karakteristik Pekerja di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin Kota Medan ... 44
4.3.1 Karakteristik Pekerja di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin Kota Medan 44
4.3.2 Tekanan Panas di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin ... 45
4.3.3 Denyut Nadi Pekerja di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin ... 46
4.4 Uji Hubungan Tekanan Panas dengan Denyut Nadi Pada Pekerja di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin Kota Medan ... 48
BAB V PEMBAHASAN ... 50
5.1 Tekanan Panas di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin ... 50
5.2 Denyut Nadi Pekerja di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin ... 53
5.3 Uji Hubungan Tekanan Panas dengan Denyut Nadi Pada Pekerja di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin Kota Medan ... 54
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 57
6.1 Kesimpulan ... 57
6.2 Saran ... 57
DAFTAR PUSTAKA ... 59
DAFTAR LAMPIRAN ... 62
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
x
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Pengaturan Waktu Kerja dan Beban Kerja ... 14 Tabel 2.2 Frekuensi Nadi Menurut Berbagai Usia ... 24 Tabel 2.3 Nadi Kerja Menurut Beban Kerja... 26 Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Pekerja di Unit Usaha Tahu Pak
Ponimin Kota Medan Tahun 2017 ... 45 Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Pekerja Berdasarkan Unit Kerja ... 45 Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Tekanan Panas Berdasarkan Titik Pengukuran
di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin Kota Medan Tahun 2017... 46 Tabel 4.4 Hasil Pengukuran Denyut Nadi Pada Pekerja di Unit Usaha
Tahu Pak Ponimin Kota Medan Tahun 2017 ... 47 Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Perubahan Denyut Nadi Pada Pekerja di
Unit Usaha Tahu Pak Ponimin Kota Medan Tahun 2017... 48 Tabel 4.6 Hasil Uji Hubungan Tekanan Panas dengan Denyut Nadi
Berdasarkan Titik Pengukuran di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin Kota Medan Tahun 2017 ... 48
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1. Kerangka Konsep ... 29 Gambar 3.1. 4 in 1 Enviroment ... 34
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pembangunan ketenagakerjaan dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia seutuhnya berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, guna mewujudkan manusia dan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil, makmur dan merata baik material maupun spiritual. Pembangunan ketenagakerjaan ditujukan untuk peningkatan, pembentukan dan pengembangan tenaga kerja yang berkualitas dan produktif. Kebijakan yang mendorong tercapainya pembangunan ketenagakerjaan adalah perlindungan tenaga kerja (Budiono, 2003).
Setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional (UU No. 1 tahun 1970). Bahwa untuk melindungi keselamatan pekerja guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal diselenggarakan upaya keselamatan dan kesehatan kerja. Dengan penjelasannya yaitu upaya keselamatan dan kesehatan kerja dimaksudkan untuk memberikan jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat kesehatan para pekerja dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan, pengobatan, dan rehabilitasi (UU No. 13 tahun 2003).
Sekarang ini pembangunan nasional telah memasuki era industrialisasi dan globalisasi yang ditandai dengan semakin meningkatnya proses produksi yang menggunakan proses dan teknologi yang lebih maju. Berbagai alat dan teknologi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2
buatan manusia disamping bermanfaat juga dapat menimbulkan bencana atau kecelakaan. Penggunaan mesin, alat kerja, material dan proses produksi telah menjadi sumber bahaya yang dapat mencelakakan. Karena itu di abad modern ini, aspek keselamatan telah menjadi kebutuhan, namun dalam kenyataannya manusia masih mengabaikan keselamatan (Ramli, 2009).
Peningkatan denyut nadi merupakan indikasi yang dipercaya terhadap terjadinya tekanan panas. Denyut nadi seseorang menunjukkan kombinasi dari panas lingkungan, tingkat pekerjaan, peningkatan suhu tubuh dan kondisi kesehatan jantung (Hunt, 2011).
Siklus jantung terdiri dari periode relaksasi yang dinamakan diastole dan diikuti oleh periode kontraksi yang dinamakan systole. Jantung merupakan suatu pompa yang berdenyut, darah memasuki arteri secara terputus-putus sehingga menyebabkan tekanan dalam sistem arteri (Guyton, 1997). Kekuatan darah masuk ke dalam aorta selama sistolik tidak hanya menggerakkan darah dalam pembuluh ke depan tetapi juga menyusun suatu gelombang tekanan sepanjang arteri. Gelombang tekanan mendorong dinding arteri seperti berjalan dan pendorongnya teraba sebagai nadi (Ganong, 2008).
Denyut nadi merupakan salah satu variabel fisiologis tubuh yang menggambarkan tubuh dalam keadaan statis atau dinamis. Oleh karena itu denyut nadi dipakai sebagai indikator metabolisme tubuh. Cardiac output atau curah jantung adalah jumlah darah yang dipompakan keluar dari tiap-tiap vantrikel jantung per denyut dalam satu menit (Ganong, 2008). Dengan penurunan cardiac output maka
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
darah yang dipompakan (isi sekuncup) yang keluar sedikit. Akibatnya jantung harus bekerja lebih keras dan berdenyut lebih cepat. Peningkatan denyut jantung juga mengakibatkan peningkatan denyut nadi, karena sewaktu jantung memompa darah ke aorta daya elastisitas aorta menyebabkan dinding aorta mengembang dan darah diteruskan kebagian lain. Kembang kempisnya dinding aorta mengakibatkan timbulnya gelombang yang diteruskan melalui dinding pembuluh darah sampai ke pembuluh perifer nadi dan teraba sebagai denyut nadi (Azizah, 2005).
Denyut nadi adalah kecepatan irama denyut atau detak jantung yang dapat dipalpasi (diraba) dipermukaan kulit pada tempat-tempat tertentu. Denyut nadi juga dapat mewakili detak jantung permenit atau yang dikenal dengan detak jantung, yang merupakan getaran didalam pembuluh darah arteri akibat kontraksi ventrikel kiri jantung. Denyut nadi yang optimal untuk setiap orang berbeda-beda, tergantung pada saat kapan mengukur denyut nadi (Brahmapurkar, 2012).
Denyut nadi seseorang akan terus meningkat bila suhu tubuh meningkat kecuali bila pekerja yang bersangkutan telah beraklimatisasi terhadap suhu udara yang tinggi. Denyut nadi normal berkisar antara 60 sampai 100 denyut per menit, dengan rata-rata denyutan 75 kali per menit. Iklim kerja panas atau tekanan panas dapat menyebabkan beban tambahan pada sirkulasi darah. Pada waktu melakukan pekerjaan fisik yang berat dilingkungan panas, maka darah akan mendapat beban tambahan karena harus membawa oksigen kebagian otot yang sedang bekerja. Di samping itu harus membawa panas dari dalam tubuh ke permukaan kulit. Hal demikian juga merupakan beban tambahan bagi jantung yang harus memompa darah
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4
lebih banyak lagi. Akibat dari pekerjaan ini, maka kecepatan denyut nadipun akan lebih banyak lagi atau meningkat (Santoso, 2004).
Masalah lingkungan panas lebih sering ditemukan daripada lingkungan dingin. Terpapar oleh suhu lingkungan yang tinggi selama bekerja merupakan suatu keadaan yang sangat berpotensi menimbulkan bahaya bagi keselamatan dan kesehatan. Risiko tingkat cedera kerja dalam lingkungan panaspun juga dapat meningkat seiring ketidaknyamanan pekerja terhadap suhu lingkungan. Selain dapat mengganggu kenyamanan, bekerja di lingkungan yang bersuhu tinggi juga dapat meningkatkan tekanan terhadap mekanisme sistem pertahanan suhu tubuh sehingga mengakibatkan gangguan kesehatan (Livchak, 2005 ; Onder dan Sarac, 2005 ; OSHS, 1997).
Pekerja di dalam lingkungan kerja panas dapat mengalami tekanan panas.
Panas yang dihasilkan selama proses produksi akan menyebar ke seluruh lingkungan kerja, sehingga mengakibatkan suhu udara di lingkungan kerja juga meningkat. Iklim kerja yang panas mempunyai dampak negatif terhadap respon fisiologis pekerja sehingga diperlukan pekerja yang sehat, muda dan sudah beraklimatisasi untuk bekerja didalamnya (Siswantara, 2006).
Tekanan panas adalah kombinasi suhu udara, kelembaban udara, kecepatan gerakan dan suhu radiasi. Tekanan panas sendiri dapat berasal dari mesin atau alat produksi, iklim, dan kerja otot manusia. Tekanan panas dapat mempengaruhi salah satu fungsi tubuh manusia, seperti : tekanan darah, kecepatan denyut jantung atau nadi, ketahanan fisik, dan daya konsentrasi (Suma’mur, 2009).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Menurut ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah yang berkaitan dengan temperatur tempat kerja, yaitu Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia d Tempat Kerja, ditetapkan : Nilai Ambang Batas (NAB) untuk iklim kerja adalah situasi kerja yang masih dapat dihadapi oleh tenaga kerja dalam pekerjaan sehari-hari yang tidak mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan untuk waktu kerja terus-menerus tidak melebihi dari 8 (delapan) jam sehari atau 40 (empat puluh) jam seminggu. NAB terendah untuk ruang kerja adalah 27,5ºC dan NAB tertinggi adalah 32,2ºC, tergantung pada beban kerja dan pengaturan waktu kerja (Depnakertrans, 2011).
Suhu yang nyaman bagi pekerja sekitar 20ºC dan 27ºC. Apabila temperatur suhu tubuh lebih tinggi, orang akan merasa tidak nyaman, situasi ini tidak menimbulkan kerugian selama tubuh dapat beradaptasi dengan panas yang terjadi.
Lingkungan yang sangat panas dapat mengganggu mekanisme penyesuaian tubuh dan berlanjut kepada kondisi serius dan bahkan fatal (CCOHS, 2001).
Tekanan panas mengenai tubuh manusia dapat mengakibatkan berbagai permasalahan kesehatan hingga kematian. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Amerika menunjukkan terjadi 400 kematian setiap tahun yang diakibatkan oleh tekanan panas (Moreau dan Daater dalam Arief, 2012). Sedangkan di Jepang dari tahun 2001-2003 dilaporkan 483 orang tidak masuk kerja selama lebih dari 4 hari karena penyakit akibat panas dan 63 orang diantaranya meninggal (Kamijo dan Nose dalam Arief, 2012).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
6
Untuk mencegah dan mengendalikan kerugian yang lebih besar, maka diperlukan langkah-langkah tindakan mendasar dan prinsip yang dimulai dari perencanaan. Sedangkan tujuannya adalah agar tenaga kerja mampu mencegah dan mengendalikan berbagai dampak negatif yang timbul akibat proses produksi.
Sehingga akan tercapai lingkungan kerja yang sehat, nyaman, aman dan produktif.
(Tarwaka dkk, 2004).
Berdasarkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Kalpika Anis (2010) dengan judul “Perbedaan Denyut Nadi Sebelum dan Sesudah Bekerja Pada Iklim Kerja Panas di Unit Workshop PT. Indo Acidatama Tbk Kemiri, Kebakkramat Karanganyar”, diperoleh nilai Indeks Suhu Bola Basah (ISBB) 32,6 °C dan nilai rata- rata denyut nadi adalah 81,5 denyut/menit. Terdapat hubungan yang signifikan antara tekanan panas dengan perubahan denyut nadi sebelum dan sesudah terpapar panas.
Lingkungan kerja yang panas menyebabkan denyut jantung lebih cepat dibandingkan lingkungan kerja yang tidak panas.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Imanuddin (2012) mengenai ”Pengaruh iklim kerja terhadap denyut nadi dan suhu tubuh pada tenaga kerja di PT. Barata Indonesia (Persero) Gresik” Divisi pengecoran dengan ISBB 44,52 °C, menunjukkan terjadi peningkatan denyut nadi dan suhu tubuh sebelum dan sesudah terpapar panas.
Denyut nadi rata-rata sebelum terpapar panas 65,50 denyut/menit dan rata-rata sesudah terpapar panas 80.83 denyut/menit, sedangkan rata-rata suhu tubuh sebelum bekerja 36,9 °C dan suhu sesudah bekerja 37,45 °C.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Penelitian lain yang dilakukan oleh Frischa Puspitasari (2011) dengan judul
“Hubungan Antara Tekanan Panas Dengan Denyut Nadi Pada Pekerja Bagian Weaving PT Tyfountex Indonesia Sukoharjo”, diperoleh nilai Indeks Suhu Bola
Basah (ISBB) 32,79 °C dan rata-rata denyut nadi pekerja adalah 90 denyut/menit.
Terdapat hubungan yang signifikan antara tekanan panas dengan denyut nadi.
Semakin tinggi tekanan panas di lingkungan kerja, semakin cepat pula denyut nadi pekerja. Sebaliknya semakin rendah tekanan panas di tempat kerja, maka semakin lambat denyut nadi pekerja (tekanan panas dan besarnya denyut nadi pekerja berbanding lurus).
Berdasarkan survei awal yang dilakukan di Unit Usaha tahu Pak Ponimin merupakan sektor industri informal yang bergerak pada bidang usaha pembuatan tahu. Unit Usaha tahu ini menggunakan bahan baku utama yaitu kedelai. Proses awal pembuatan tahu dimulai dari pemilihan bahan baku, selanjutnya kedelai dicuci dalam bak berisikan air bersih yang kemudian ditiriskan, kedelai yang sudah ditiriskan kemudian direndam menggunakan air bersih dengan waktu perendaman selama kurang lebih 1 jam, setelah direndam kedelai yang sudah lembut digiling menggunakan mesin penggiling hingga halus, selanjutnya kedelai yang sudah halus direbus dalam kuali besar selama kurang lebih 30 menit hingga matang, lalu dilakukan penyaringan yang berfungsi untuk memisahkan antara sari kedelai dan ampasnya, setelah penyaringan selesai dilakukan pencampuran air cuka, cara ini digunakan agar sari kedelai menggumpal dan kental agar mudah dicetak. Sari kedelai yang sudah menggumpal kemudian dicetak menggunakan cetakan kayu berbentuk
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
8
persegi, hasil dari pencetakan tersebut berupa tahu mentah yang kemudian tahu digoreng hingga matang dan siap untuk dipasarkan. Dalam setiap proses tersebut pekerja melakukan pekerjaan di suhu lingkungan yang tinggi. Pekerja di unit usaha pembuatan tahu sebanyak 28 orang, terdiri dari 18 orang diproses pembuatan tahu, 6 orang dibagian penggorengan, 2 orang dibagian pemotongan tahu dan 1 orang mensortir tahu yang sudah masak, dan 1 orang dibagian kasir. Tungku dan kuali penggorengan di unit usaha tahu Pak Ponimin berjumlah 3 buah dan 1 ketel uap yang digunakan untuk merebus air. Jam kerja mulai dari pukul 08.00 WIB – 18.00 WIB di hari Senin – Sabtu dengan waktu istirahat selama 1 jam pada pukul 12.00 WIB – 13.00 WIB. Proses kerja dilakukan di lingkungan kerja tertutup dengan ukuran ruangan 11 x 4 meter yang beratapkan seng, berlantai semen dan berdinding beton.
Waktu kerja pekerja yang terlalu lama yaitu lebih dari 8 jam sehari dengan tekanan panas yang tinggi.
Sumber panas di unit usaha tahu berasal dari uap hasil perebusan kedelai, uap dari tiga tungku hasil penggorengan tahu dan dari panas matahari. Proses pembuatan tahu khususnya perebusan kedelai dan penggorengan tahu pada saat memasak menggunakan kayu bakar, ini menyebabkan suhu panas menjadi naik. Ketel uap untuk memasak air yang proses pembakarannya menggunakan kayu bakar juga menjadi sumber panas yang memberikan paparan panas terhadap pekerja. Proses kerja yang berlangsung selama lebih dari 8 jam kerja ini dilakukan di lingkungan kerja yang tertutup namun panas matahari terasa melalui atap yang beralaskan seng, berdinding beton dan tidak memiliki jendela. Pintu atau area untuk keluar masuknya
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
pekerja yang terbuat dari besi sekaligus berfungsi sebagai ventilasi alamiah yang dan merupakan bukaan permanen yang terdiri satu bidang dari tempat kerja ini. Sirkulasi untuk perputaran udara di bagian produksi berasal dari pintu atau area untuk keluar masuknya pekerja dan dari dinding beton yang hanya setengah dari ruangan tersebut.
Pekerja pada bagian produksi dan penggorengan yang terdiri dari pekerja laki-laki dalam proses kerjanya selalu berdiri pada saat bekerja, hanya pekerja yang melakukan pemotongan tahu saja yang duduk. Selain itu ada pekerja yang bertugas untuk mensortir tahu disekitar tungku penggorengan yang berada dalam satu ruangan tertutup. Selama proses produksi berlangsung pekerja hanya memakai sepatu boot sebagai alat pelindung diri dan dari seluruh proses produksi yang terus menerus terpapar oleh suhu panas ini menyebabkan para pekerja mengalami pusing, mata berkunang-kunang, cepat merasa haus, gejala dehidrasi, keringat yang berlebih, dan tidak nyaman saat bekerja.
Berdasarkan survei awal yang dilakukan oleh peneliti, maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Tekanan Panas dengan Denyut Nadi pada Pekerja di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin Kota Medan Tahun 2017”.
1.2 Permasalahan Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah adanya hubungan tekanan panas dengan denyut nadi pada pekerja di unit usaha tahu Pak Ponimin Kota Medan Tahun 2017.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
10
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan tekanan panas dengan denyut nadi pada pekerja di unit usaha tahu Pak Ponimin kota Medan Tahun 2017.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui besarnya tekanan panas di unit usaha tahu Pak Ponimin Kota Medan.
2. Untuk mengetahui besarnya denyut nadi pada pekerja di unit usaha tahu Pak Ponimin Kota Medan.
3. Untuk mengetahui hubungan tekanan panas dengan denyut nadi pada pekerja di unit usaha tahu Pak Ponimin kota Medan.
1.4 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka hipotesis penelitian ini adalah terdapat hubungan tekanan panas dengan denyut nadi pada pekerja di unit usaha tahu Pak Ponimin Kota Medan Tahun 2017.
1.5 Manfaat Penelitian
1. Sebagai pengetahuan dan wawasan bagi peneliti, serta sebagai pengaplikasian diri dari ilmu yang telah didapat selama kuliah.
2. Sebagai masukan dan informasi kepada pekerja dan bagi pemilik unit usaha tahu Pak Ponimin tentang hubungan tekanan panas terhadap gangguan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
kesehatan seperti denyut nadi. Dengan begitu, diharapkan pekerja dapat meningkatkan derajat kesehatannya.
3. Dapat dijadikan sebagai referensi untuk diadakan penelitian selanjutnya, dan dapat menambah pengalaman dalam melaksanakan penelitian bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terutama mengenai tekanan panas yang dapat berhubungan dengan denyut nadi pekerja.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
12 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tekanan Panas
2.1.1 Pengertian Tekanan Panas
Tekanan panas adalah kombinasi antara suhu udara, kelembaban udara, kecepatan gerakan dan suhu radiasi. Kombinasi keempat faktor itu dihubungkan dengan produksi panas oleh tubuh. Suhu tubuh manusia dipertahankan hampir menetap akibat keseimbangan antara panas yang dihasilkan di dalam tubuh sebagai akibat metabolisme dan pertukaran panas antara tubuh dengan lingkungan sekitar (Suma’mur, 2009).
Tekanan panas merupakan perpaduan dari suhu dan kelembaban udara, kecepatan aliran udara, suhu radiasi dengan panas yang dihasilkan oleh metabolisme tubuh (Siswanto, 2001), sedangkan menurut ACGIH (2005) Tekanan panas adalah batasan kemampuan penerimaan panas yang diterima pekerja dari kontribusi kombinasi metabolisme tubuh akibat melakukan pekerjaan dan faktor lingkungan (temperatur udara, kelembaban, pergerakan udara, dan radiasi perpindahan panas) dan pakaian yang digunakan. Pada saat tekanan panas mendekati batas toleransi tubuh, risiko terjadinya kelainan kesehatan menyangkut panas akan meningkat.
Menurut Santoso (2005), tekanan panas adalah beban iklim kerja yang diterima oleh tubuh manusia. Suhu udara dapat diukur dengan termometer biasa (termometer suhu kering). (Kelembaban udara diukur dengan menggunakan hygrometer. Adapun suhu dan kelembaban dapat diukur bersama sama dengan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
misalnya menggunakan alat pengukur sling psychrometer atau arsmanpsychrometer yang juga menunjukkan suhu basah sekaligus. Suhu basah adalah suhu yang ditunjukkan suatu termometer yang dibasahi dan ditiupkan udara kepadanya, dengan demikian suhu tersebut menunjukkan kelembaban relatif udara. Kecepatan aliran udara yang besar dapat diukur dengan anemometer, sedangkan kecepatan udara yang kecil dengan suatu katatermometer. Suhu radiasi diukur dengan suatu termometer bola (globethermometer). Panas radiasi adalah energi atau gelombang elektromagnetis yang panjang gelombangnya lebih dari sinar matahari dan mata tidak peka terhadapnya atau mata tidak dapat melihatnya (Suma’mur, 2009)
2.1.2 Lingkungan Kerja Panas
Pekerja di dalam lingkungan panas, seperti di sekitar furnaces, peleburan, boiler, oven, tungku, pemanas atau bekerja di luar ruangan di bawah terik matahari dapat mengalami gangguan kesehatan. Selama aktivitas pada lingkungan panas tersebut, tubuh secara otomatis akan memberikan reaksi untuk memelihara suatu kisaran panas lingkungan yang konstan dengan menyeimbangkan antara panas yang diterima dari luar tubuh dengan kehilangan panas dari dalam tubuh. Menurut Tarwaka dkk (2004) bahwa suhu tubuh manusia dipertahankan hampir menetap oleh suatu pengaturan suhu. Suhu menetap ini dapat dipertahankan akibat keseimbangan di antara panas yang dihasilkan dari metabolisme tubuh dan pertukaran panas di antara tubuh dan lingkungan sekitarnya.
Menurut Hunt (2011) saat terpapar tekanan panas, suhu tubuh akan meningkat dan untuk mencegah terjadinya peningkatan suhu tubuh yang lebih tinggi, tubuh akan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
14
melepaskan panas melalui peningkatan aliran darah dan penguapan keringat dari permukaan kulit. Jika pelepasan panas tidak seimbang dengan panas yang diproduksi oleh tubuh, maka suhu tubuh akan terus meningkat sampai pada tingkat yang tidak aman.
Suhu nikmat kerja adalah suhu yang diperlukan seseorang agar dapat bekerja secara nyaman. Suhu nikmat kerja berkisar antara 24-26°C bagi orang Indonesia.
Orang Indonesia pada umumnya beraklimatisasi dengan iklim tropis yang suhunya sekitar 29-30°C dengan kelembaban 85%-95%. Aklimatisasi terhadap panas berarti suatu proses penyesuaian yang terjadi pada seseorang selama satu minggu pertama berada di tempat kerja. Setelah satu minggu pertama berada di tempat panas, tenaga kerja mampu bekerja tanpa pengaruh tekanan panas, hal ini tergantung dari aklimatisasi setiap individu yang dilihat dari beban kerja sehingga diperlukan variasi kerja (Suma’mur, 2009).
2.1.3 Peraturan Lingkungan Kerja Panas
Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi Nomor PER.13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika Dan Faktor Kimia Di Tempat Kerja, tentang Nilai Ambang Batas (NAB) untuk iklim lingkungan kerja merupakan batas pajanan iklim lingkungan kerja atau pajanan panas (heat stress) yang tidak boleh dilampaui selama 8 jam kerja per hari sebagaimana tercantum pada Tabel 2.1. NAB iklim lingkungan kerja dinyatakan dalam derajat Celsius Indeks Suhu Basah dan Bola (ºC ISBB).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Tabel 2.1 Pengaturan Waktu Kerja dan Beban Kerja Pengaturan Waktu
Kerja Setiap Jam
ISBB (Indeks Suhu Bola Basah dan Bola Kering (°C) Beban Kerja
Ringan Sedang Berat
75% - 100% 31,0 28 -
50% - 75% 31,0 29,0 27,5
25 - 50% 32,0 30,0 29,0
0% - 25% 32,2 31,1 30,5
(-) Tidak diperbolehkan karena alasan dampak fisiologis (Depnakertrans, 2011) 2.1.4 Sumber Panas Lingkungan Kerja
Di dalam industri lingkungan kerja fisik khususnya panas lingkungan memegang peranan penting, oleh karena itu lingkungan kerja harus diciptakan lebih nyaman supaya didapatkan efisiensi kerja dan peningkatan produktifitas.
Menurut Suma’mur (2009) pada dasarnya ada 3 sumber panas yang penting yaitu :
1. Iklim kerja : keadaan suhu panas udara di tempat kerja yang ditentukan oleh faktor-faktor keadaan antara lain, suhu udara, kelembaban udara, kecepatan gerak udara, suhu radiasi.
2. Proses produksi dan mesin akan mengeluarkan panas secara nyata sehingga lingkungan kerja menjadi lebih panas.
3. Kerja otot tenaga kerja dalam melaksanakan pekerjaaannya memerlukan energi yang diperoleh dari bahan nutrisi yaitu karbohidrat, lemak, protein dan oksigen yang diperlukan dalam proses oksidasi untuk menghasilkan energi yang merupakan panas yang disebut metabolisme.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
16
2.1.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tekanan Panas 1. Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah suatu proses adaptasi fisiologis yang ditandai oleh pengeluaran keringat yang meningkat, denyut nadi menurun dan suhu tubuh menurun. Proses adaptasi ini biasanya memerlukan waktu 7-10 hari. Aklimatisasi dapat pula menghilang ketika orang yang bersangkutan tidak masuk kerja selama seminggu berturut-turut (Santoso, 2005).
Aklimatisasi terhadap suhu tinggi merupakan hasil penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungannya. Untuk aklimatisasi terhadap panas ditandai dengan penurunan frekuensi denyut nadi dan suhu tubuh sebagai akibat pembentukan keringat. Aklimatisasi ini ditujukan kepada suatu pekerjaan dan suhu tinggi untuk beberapa waktu misalnya 2 jam. Mengingat pembentukan keringat tergantung pada kenaikan suhu dalam tubuh. Aklimatisasi panas biasanya tercapai sesudah 2 minggu (WHO, 1969).
2. Umur
Daya tahan seseorang terhadap panas akan menurun pada umur yang lebih tua. Orang yang lebih tua akan lebih lambat keluar keringatnya dibandingkan dengan orang yang lebih muda. Orang yang lebih tua memerlukan waktu yang lama untuk mengembalikan suhu tubuh menjadi normal setelah terpapar panas. Studi menemukan bahwa 70% dari seluruh penderita tusukan panas (heat stroke), mereka yang berusia lebih dari 60 tahun. Denyut nadi maksimal dari kapasitas kerja yang maksimal berangsur-angsur menurun sesuai dengan bertambahnya umur (WHO, 1969).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3. Jenis Kelamin
Adanya perbedaan kecil aklimatisasi antara laki-laki dan wanita. Wanita tidak dapat beraklimatisasi dengan baik seperti laki-laki. Hal ini dikarenakan mereka mempunyai kapasitas kardiovaskuler yang lebih kecil (WHO, 1969).
4. Ukuran Tubuh
Adanya perbedaan ukuran tubuh akan mempengaruhi reaksi fisiologis tubuh terhadap panas. Laki-laki dengan ukuran tubuh yang lebih kecil dapat mengalami tingkatan tekanan panas yang relatif lebih besar, hal ini dikarenakan mereka mempunyai kapasitas kerja maksimal yang lebih kecil (Siswanto, 2005).
5. Suku Bangsa
Perbedaan yang ada dikelompok suku kecil, mungkin disini erat sekali hubungannya dengan perbedaan ukuran tubuh (Tarwaka, 2004).
2.1.6 Proses Pertukaran Panas Antara Tubuh dan Lingkungan
Pertukaran panas antara lingkungan terjadi melalui mekanisme konveksi, radiasi, evaporasi, dan konduksi. Apabila seseorang sedang bekerja, tubuh pekerja tersebut akan mengalami interaksi dengan keadaan lingkungan yang terdiri dari suhu udara, kelembaban dan gerakan atau aliran udara. Proses metabolisme tubuh yang berinteraksi dengan panas di lingkungan akan mengakibatkan pekerja mengalami tekanan panas. Tekanan panas ini dapat disebabkan karena adanya sumber panas.
2.1.7 Faktor-Faktor yang Menyebabkan Pertukaran Panas
Faktor-faktor yang menyebabkan pertukaran panas menurut Suma’mur (2009) sebagai berikut :
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
18
1. Konduksi
Konduksi adalah pertukaran panas antar tubuh dengan benda-benda sekitar melalui mekanisme sentuhan atau kontak langsung. Konduksi dapat menghilangkan panas dari tubuh, apabila benda-benda sekitar lebih rendah suhunya, dan dapat menambah panas kepada badan apabila suhunya lebih tinggi dari tubuh.
2. Konveksi
Konveksi adalah pertukaran panas dari tubuh dan lingkungan melalui kontak udara dengan tubuh. Udara adalah penghantar panas yang kurang begitu baik, tetapi melalui kontak dengan tubuh dapat terjadi pertukaran panas antara udara dengan tubuh. Tergantung dari suhu udara dan kecepatan angin, konveksi memainkan besarnya peran dalam pertukaran panas antar tubuh dengan lingkungan. Konveksi dapat mengurangi atau menambah panas kepada tubuh.
3. Radiasi
Setiap benda termasuk tubuh manusia selalu memncarkan gelobang panas.
Tergantung dari suhu benda-benda sekitar, tubuh menerima atau kehilangan panas lewat mekanisme radiasi.
4. Penguapan
Manusia dapat berkeringat dengan penguapan dipermukaan kulit atau melalui paru-paru tubuh kehilangan panas untuk penguapan. Untuk mempertahankan suhu tubuh maka, M ± Kond ± Konv ± R-E = 0
M = Panas dari metabolism
Kond = Pertukaran panas secara konduksi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Konv = Pertukaran panas secara konveksi R = Panas radiasi
E = Panas oleh evaporasi
2.1.8 Pengaruh Fisiologis Akibat Tekanan Panas
Tekanan panas memerlukan upaya tambahan pada anggota tubuh untuk memelihara keseimbangan panas. Menurut Tarwaka (2015) bahwa reaksi fisiologis tubuh (heat strain) oleh karena peningkatan temperatur udara di luar comfort zone adalah sebagai berikut :
a. Vasodilatasi
b. Denyut jantung meningkat c. Temperatur kulit meningkat
d. Suhu inti tubuh pada awalnya turun kemudian meningkat dan lain-lain
Selanjutnya apabila pemaparan terhadap tekanan panas terus berlanjut, maka risiko terjadi gangguan kesehatan juga akan meningkat. Menurut Graham (1992) dan Bernard (1996) dalam Tarwaka (2015) reaksi fisiologis akibat pemaparan panas yang berlebihan dapat dimulai dari gangguan fisiologis yang sangat sederhana sampai dengan terjadinya penyakit yang sangat serius. Pemaparan terhadap tekanan panas juga menyebabkan penurunan berat badan.
Secara lebih rinci gangguan kesehatan akibat pemaparan suhu lingkungan panas yang berlebihan dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Gangguan kesehatan dan performansi kerja, seperti terjadinya kelelahan, sering melakukan istirahat curian, dan lain-lain.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
20
b. Dehidrasi, yaitu kehilangan cairan tubuh yang berlebihan yang disebabkan baik oleh pergantian cairan yang tidak cukup maupun karena gangguan kesehatan. Pada kehilangan cairan tubuh < 1,5% gejalanya tidak nampak, kelelahan muncul lebih awal dan mulut mulai kering.
c. Heat Rash, keadaan seperti biang keringat atau keringat buntat, gatal kulit akibat kondisi kulit terus basah. Pada kondisi demikian pekerja perlu beristirahat pada tempat yang lebih sejuk dan menggunakan bedak penghilang keringat.
d. Heat Cramps, merupakan kejang-kejang otot tubuh (tangan dan kaki) akibat keluarnya keringat yang menyebabkan hilangnya garam natrium dari tubuh yang kemungkinan besar disebabkan karena minum terlalu banyak dengan sedikit garam natrium.
e. Head Syncope atau Fainting, keadaan ini disebabkan karena aliran darah ke otak tidak cukup karena sebagian besar aliran darah dibawa ke permukaan kulit atau perifer yang disebabkan karena minum terlalu banyak dengan sedikit garam natrium.
f. Heat Exhaustion, keadaan ini terjadi apabila tubuh kehilangan terlalu banyak cairan dan atau kehilangan garam. Gejalanya mulut kering, sangat haus, lemah, dan sangat lelah. Gangguan ini biasanya banyak dialami pekerja yang belum beraklimatisasi terhadap suhu udara panas.
g. Heat Stroke, terjadi bila sistem pengaturan tubuh gagal dan temperatur tubuh meningkat sampai tingkat kritis. Kondisi ini disebabkan oleh kombinasi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
berbagai faktor, dan keterjadiannya sulit diprediksi. Heat Stroke adalah keadaan darurat medis. Tanda dan gejalanya utama dari gangguan kesehatan ini adalah bingung, perilaku irrasional, hilang kesadaran, sawan, kurang berkeringat, kulit panas dan temperatur tubuh sangat tinggi. Meningkatnya temperatur metabolik akibat kombinasi beban kerja dan beban panas lingkungan, yang keduanya turut memberi pengaruh terhadap heat stroke, juga sangat bervariasi dan sulit memprediksinya.
2.1.9 Pengendalian Tekanan Panas
Menurut Tarwaka (2015) pengendalian terhadap tekanan panas meliputi sebagai berikut:
a. Isolasi terhadap sumber panas
Isolasi terhadap benda yang panas akan mencegah keluarnya panas ke lingkungan. Ini dapat dilakukan misalnya dengan membalut pipa yang panas, menutupi tangki yang berisi cairan panas sehingga mengurangi aliran panas yang timbul. Cara ini merupakan cara yang praktis dalam membatasi pemaparan seseorang terhadap panas dan merupakan cara pengendalian yang dianjurkan bila tempat kerja terdapat sumber panas yang sangat tinggi.
b. Tirai radiasi
Tirai radiasi terbuat dari lempengan alumunium, baja anti karat atau dari bahan metal yang permukannya mengkilap.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
22
c. Ventilasi setempat
Ventilasi ini bertujuan untuk mengendalikan panas konveksi yaitu dengan menghisap udara panas.
d. Pendinginan lokal
Pendinginan lokal dilakukan dengan cara mengalirkan udara sejuk ke sekitar pekerja dengan tujuan meggantikan udara yang panas dengan udara yang sejuk dan dialirkan dengan kecepatan tinggi.
e. Ventilasi umum
Cara ini paling sering digunakan untuk mengendalikan suhu dan kelembaban udara yang tinggi tetapi tidak dapat digunakan untuk mengurangi paparan panas karena radiasi yang tinggi.
f. Pengaturan lama kerja
Pengaturan lama bekerja digunakan untuk menghindari terjadinya gangguan kesehatan akibat terpapar suhu udara yang tinggi, lamanya kerja dan istirahat harus disesuaikan dengan tingkat tekanan panas yang dihadapi oleh pekerja.
Menurut Harrianto (2009) pengendalian tekanan panas sebagai berikut : 1. Pengendalian Administratif
a. Periode aklimatisasi yang cukup sebelum melaksanakan beban kerja yang penuh.
b. Untuk mempersingkat pajanan dibutuhkan jadwal istirahat yang pendek tetapi sering dan rotasi pekerja yang memadai.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
c. Ruangan dengan penyejuk rasa (AC) perlu disediakan untuk memberikan efek pendingin pada pekerja waktu istirahat.
d. Penyediaan air minum yang cukup.
2. Pengendalian Teknik
a. Mengurangi produksi panas metabolik tubuh.
b. Automatisasi dan mekanisasi beban tugas akan meminimalisasi kebutuhan kerja fisik pekerja.
c. Mengurangi penyebaran panas radiasi dari permukaan-permukaan benda yang panas, dengan cara isolasi/penyekat (melapisi permukaan benda- benda yang panas dengan bahan yang memiliki emisi yang rendah seperti aluminium atau cat), perisai (bahan yang dapat memantulkan panas) dan remote control.
d. Mengurangi bertambahnya panas konveksi, seperti penggunaan kipas angin untuk meningkatkan kecepatan gerak udara di ruang kerja panas.
e. Mengurangi kelembaban. AC, peralatan penarik kelembaban dan upaya lain untuk mengeleminasi uap panas sehingga dapat mengurangi kelembaban di lingkungan tempat kerja.
3. Alat Pelindung Diri
a. Untuk bekerja di tempat kerja yang panas dan lembab, perlu disediakan baju yang tipis dan berwarna terang hingga pengeluaran panas tubuh dengan proses evaporasi keringat menjadi lebih efisien.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
24
b. Kaca mata yang dapat menyerap panas radiasi bila bekerja dekat dengan benda-benda yang sangat panas, misalnya cairan logam atau oven yang panas.
2.2 Denyut Nadi
2.2.1 Pengertian Denyut Nadi
Denyut nadi adalah kecepatan irama denyut atau detak jantung yang dapat dipalpasi (diraba) dipermukaan kulit pada tempat-tempat tertentu. Denyut nadi merupakan getaran didalam pembuluh darah arteri akibat kontraksi ventrikel kiri jantung. Denyut nadi yang optimal untuk setiap orang berbeda-beda, tergantung pada saat kapan mengukur denyut nadi (Brahmapurkar, 2012).
Pemeriksaan denyut nadi sederhana biasanya dilakukan dengan cara palpasi.
Denyut nadi paling mudah dirasakan ketika arteri ditekan ringan pada tulang.
Beberapa tempat untuk meraba denyut nadi yaitu salah satunya arteri radialis di pergelangan tangan. Kecepatan denyut jantung normal berkisar antara 60 sampai 100 denyut per menit, dengan rata-rata denyutan 75 kali per menit. Frekuensi denyut melambat selama tidur dan dipercepat oleh emosi, olahraga, demam, dan rangsangan lain (Ganong, 2008).
2.2.2 Jenis Denyut Nadi
Menurut Brahmapurkar (2012) jenis denyut nadi dibagi menjadi : 1. Nadi istirahat, yaitu denyut nadi sebelum bekerja.
2. Nadi sedang bekerja, yaitu denyut nadi selama bekerja.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3. Nadi kerja, yaitu selisih denyut nadi selama kerja dengan denyut nadi sebelum bekerja.
4. Nadi pemulihan, yaitu total angka denyutan dari akhir kerja sampai masa pulih tercapai.
2.2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Denyut Nadi 1. Usia
Frekuensi nadi secara bertahap akan menetap memenuhi kebutuhan oksigen selama pertumbuhan. Pada masa remaja, denyut nadi menetap dan iramanya teratur.
Pada orang dewasa efek fisiologis usia dapat berpengaruh pada sistem kardiovaskuler. Denyut nadi paling cepat ada pada bayi kemudian frekuensi denyut nadi menurun seiring dengan pertambahan usia (Pearce, 1999).
Tabel 2.2 Frekuensi Nadi Menurut Berbagai Usia
No Usia Frekuensi Nadi (per menit)
1 < 1 bulan 90-170
2 < 1 tahun 80-160
3 2 tahun 80-120
4 6 tahun 75-115
5 10 tahun 70-110
6 14 tahun 65-100
7 >14 tahun 60-100
Sumber : Pearce (1999)
Frekuensi nadi secara bertahap akan menetap memenuhi kebutuhan oksigen selama pertumbuhan. Pada masa remaja, denyut nadi menetap dan iramanya teratur.
Pada orang dewasa efek fisiologis usia dapat berpengaruh pada sistem kardiovaskuler. Pada usia yang lebih tua penentuan denyut nadi kurang dapat dipercaya (Pearce, 1999).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
26
2. Jenis Kelamin
Denyut nadi yang tepat dicapai pada kerja maksimum wanita lebih tinggi dari pada laki-laki. Pada laki-laki muda dengan kerja 50% maksimal rata-rata nadi kerja mencapai 128 denyut per menit, sedangkan pada wanita 138 denyut per menit. Pada kerja maksimal pria rata-rata nadi kerja mencapai 154 denyut per menit dan pada wanita 164 denyut per menit (Santoso, 2004).
3. Intensitas dan Lama Kerja
Berat atau ringannya intensitas kerja berpengaruh terhadap denyut nadi. Lama kerja, waktu istirahat, dan irama kerja yang sesuai dengan kapasitas optimal manusia akan ikut mempengaruhi frekuensi nadi sehingga tidak melampaui batas maksimal.
Batas kesanggupan kerja sudah tercapai bila bilangan nadi kerja (rata-rata nadi selama kerja) mencapai angka 30 denyut per menit dan diatas bilangan nadi istirahat.
Sedang nadi kerja tersebut tidak terus menerus menanjak dan sehabis kerja pulih kembali pada nadi istirahat sesudah ± 15 menit (Santoso, 2005).
4. Cuaca Kerja
Cuaca kerja baik cuaca kerja panas atau dingin juga akan mempengaruhi sistem sirkulasi dan denyut nadi. Cuaca kerja panas dapat menyebabkan bahan tambahan pada jantung dan sirkulasi darah. Pada waktu melakukan pekerjaan fisik yang berat di lingkungan panas, maka darah akan mendapat beban tambahan karena harus membawa oksigen kebagian otot yang sedang bekerja dan membawa panas dari dalam tubuh ke permukaan kulit sehingga menjadi beban tambahan bagi jantung yang
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
harus memompa darah lebih banyak lagi yang mengakibatkan frekuensi denyut nadipun lebih cepat (Santoso, 2005).
2.2.4 Nadi Kerja Menurut Tingkat Beban Kerja
Menurut Tarwaka dkk (2004) kategori beban kerja berdasarkan denyut nadi kerja dibagi atas beban kerja sangat ringan, ringan, sedang, berat, sangat berat dan sangat berat sekali.
Tabel 2.3 Nadi Kerja Menurut Beban Kerja No Kategori Beban
Kerja
Nadi Kerja (per menit)
1 Sangat ringan < 75
2 Ringan 75-100
3 Sedang 100-125
4 Berat 125-150
5 Sangat berat 150-175
6 Sangat berat sekali > 175
Sumber : Tarwaka dkk (2004) 2.2.5 Pengukuran Denyut Nadi
Pengukuran denyut nadi dapat dilakukan pada pergelangan tangan (arteri radialis). Dengan menggunakan 2 jari yaitu telunjuk dan jari tengah, atau 3 jari, telunjuk, jari tengah dan jari manis jika mengalami kesulitan menggunakan 2 jari.
Temukan titik nadi, yaitu nadi radialis dipergelangan tangan di sisi ibu jari. Setelah menemukan denyut nadi, tekan perlahan kemudian hitunglah denyutan selama minimum 30 detik, tetapi idealnya adalah 1 menit. Secara umum denyut nadi orang dewasa yaitu antara 60 sampai 100 denyut per menit (Ganong, 2008).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
28
Metode pengukuran denyut nadi menurut Nurmianto (2006) : 1. Metode Palpasi
Metode ini dilakukan terhadap subyek dalam keadaan diam atau istirahat.
Perabaan untuk menghitung denyut nadi dapat dilakukan dengan meletakkan ujung jari 3 jari (jari telunjuk, jari tengah dan jari manis) pada pergelangan tangan bagian luar arah ibu jari, atau juga didaerah leher kiri/kanan, dan dibawah sudut dagu. Arah ketiga jari membentuk garis lurus sesuai dengan panjang sumbu tubuh. Perhitungan menggunakan stopwatch.
2. Metode Auskultasi
Metode ini menggunakan stetoskop (alat dengar) untuk mendengarkan denyut jantung. Tinggal menghitung berapa denyut dalam waktu 5 detik, 10 detik, atau dalam 15 detik. Hasil dikalikan dengan 12, 6, dan 4 sesuai lama mendengarkan detikan tersebut. Metode ini baik digunakan bila subyek diam tak bergerak.
3. Electrocardiografi (ECG)
ECG merupakan alat rekam jantung sehingga grafik aktifitas listrik jantung dapat terekam. Dari gambar grafik tersebut dapat dihitung berapa denyut jantung per menit. Alat ini mahal dan tidak praktis dilapangan. ECG tidak bias dipakai untuk subyek yang bergerak dan biasanya dipakai di bangsal perawatan.
4. ECG Nirkabel
ECG nirkabel menggunakan alat sensor yang dipasang di dada, lalu secara telemetri rekaman dapat diterima penerima dan langsung digambar listrik jantungnya.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Alat ini dapat digunakan pada subyek yang bergerak aktif tanpa mengganggu aktivitas yang dilakukan.
5. Sport Tester
Merupakan alat rekam yang dipasang di dada yang kemudian merekam denyut jantung dan selanjutnya ditampilkan dalam monitor komputer.
6. Pulsemeter
Pulsemeter adalah alat untuk mengukur detak jantung. Pulsemeter akan
langsung menunjukkan pada satu angka.
2.3 Hubungan Tekanan Panas dengan Denyut Nadi
Siklus jantung terdiri dari periode relaksasi yang dinamakan diastole dan diikuti oleh periode kontraksi yang dinamakan systole. Kekuatan darah masuk ke dalam aorta selama sistolik tidak hanya menggerakkan darah dalam pembuluh ke depan tetapi juga menyusun suatu gelombang tekanan sepanjang arteri. Gelombang tekanan mendorong dinding arteri seperti berjalan dan pendorongnya teraba sebagai nadi (Ganong, 1999).
Denyut nadi seseorang akan terus meningkat bila suhu tubuh meningkat kecuali bila pekerja yang bersangkutan telah beraklimatisasi terhadap suhu udara yang tinggi. Denyut nadi maksimum untuk orang dewasa adalah 180-200 denyut per menit dan keadaan ini biasanya hanya dapat berlangsung dalam waktu beberapa menit saja (Santoso, 2005).
Pemaparan panas dapat menyebabkan beban tambahan pada sirkulasi darah, karena harus membawa oksigen ke bagian otot yang sedang bekerja. Pada waktu
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
30
melakukan pekerjaan fisik yang berat di lingkungan panas, maka darah akan mendapat beban tambahan karena harus membawa oksigen kebagian otot yang sedang bekerja dan membawa panas dari dalam tubuh ke permukaan kulit sehingga menjadi beban tambahan bagi jantung yang harus memompa darah lebih banyak lagi yang mengakibatkan denyut nadi lebih cepat (Santoso, 2005).
Kecepatan denyut nadi yang ideal memberikan waktu yang cukup pada jantung untuk menampung darah, sehingga darah yang di pompa dalam jumlah yang cukup. Apabila jantung terlalu cepat berkontraksi, maka darah yang di pompa lebih sedikit, kondisi ini dapat mengurangi pasokan oksigen yang dibawa darah untuk organ tubuh. Hal ini dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti pusing, sesak nafas, nyeri dada, resiko penggumpalan/penyumbatan darah dalam jantung, mengakibatkan jantung lemah, meningkatkan resiko stroke, gagal jantung, bahkan kematian mendadak.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2.4 Kerangka Konsep
Adapun kerangka konsep pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
Gambar 2.1 Kerangka Konsep
Dalam penelitian ini kerangka konsep terdiri dari variabel independen yaitu tekanan panas dengan suhu dibawah 28ºC dikatakan normal dan melebihi 28ºC dikatakan tidak normal dan variabel dependen yaitu denyut nadi dengan denyut nadi normal yang tidak melebihi 90 denyut/menit dan denyut nadi meningkat yang melebihi 90 denyut/menit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya hubungan tekanan panas dengan denyut nadi pada pekerja di unit usaha tahu Pak Ponimin Kota Medan Tahun 2017.
Variabel Independen : Tekanan Panas (Permenakertrans, 2011)
≤ 28ºC
> 28ºC
Variabel Dependen : Denyut Nadi 1. Meningkat 2. Normal
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
32 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survei analitik dengan rancangan cross sectional, yaitu suatu penelitian dimana cara pengukuran variabel bebas dan variabel terikat dalam waktu yang bersamaan (Notoatmodjo, 2010).
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Unit Usaha Tahu Pak Ponimin Jalan Langgar LK.3 No. 29A Kelurahan Sarirejo Kecamatan Medan Polonia Kota Medan, dikarenakan belum pernah ada penelitian mengenai hubungan tekanan panas dengan denyut nadi pada pekerja di unit usaha tahu Pak Ponimin Kota Medan Tahun 2017.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai April 2018.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah 28 orang yang bekerja di unit usaha tahu Pak Ponimin.
3.3.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah total populasi yaitu seluruh pekerja yang berjumlah 28 orang pekerja yang ada di unit usaha tahu Pak Ponimin Kota Medan.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Alasan diambil keseluruhan sampel adalah karena seluruh pekerja di unit usaha tahu terkena tekanan panas.
3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer
Data primer adalah data yang diambil secara langsung oleh peneliti terhadap sasaran. Data primer diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung ke lapangan atau tempat kerja yaitu dengan mengukur tekanan panas dengan menggunakan alat ukur 4 in 1 Environment untuk area kerja dan pengukuran denyut nadi dilakukan dengan metode palpasi yang menggunakan Stopwatch.
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder diperoleh dari pemilik unit usaha tahu yang meliputi profil perusahaan dan gambaran umum berdirinya unit usaha tahu hingga sekarang.
3.5 Variabel dan Definisi Operasional 3.5.1 Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini diklasifikasikan menjadi :
1. Variabel independen dalam penelitian ini adalah tekanan panas di unit usaha tahu Pak Ponimin.
2. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah denyut nadi pada pekerja di unit usaha tahu Pak Ponimin.
3.5.2 Definisi Operasional
Berikut defenisi operasional yang digunakan pada saat penelitian di unit usaha tahu Pak Ponimin Kota Medan :
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
34
1. Tekanan panas adalah kombinasi suhu udara, kelembaban udara, kecepatan gerakan dan suhu radiasi. Tekanan panas sendiri dapat berasal dari mesin atau alat produksi, iklim, dan kerja otot manusia. Tekanan panas dapat mempengaruhi salah satu fungsi tubuh manusia, seperti : tekanan darah, kecepatan denyut jantung atau nadi, ketahanan fisik, dan daya konsentrasi (Suma’mur, 2009). Tekanan panas diukur dengan alat ukur 4 in 1 Environment (KW06-291).
2. Denyut nadi adalah kecepatan irama denyut atau detak jantung yang dapat dipalpasi (diraba) dipermukaan kulit pada tempat-tempat tertentu. Denyut nadi merupakan getaran didalam pembuluh darah arteri akibat kontraksi ventrikel kiri jantung. Denyut nadi yang optimal untuk setiap orang berbeda-beda, tergantung pada saat kapan mengukur denyut nadi (Brahmapurkar, 2012).
Denyut nadi diukur selama satu menit dengan metode palpasi yang menggunakan Stopwatch (Khasan dkk, 2012).
3.6 Metode Pengukuran 3.6.1 Tekanan Panas
Pengukuran tekanan panas dilakukan dengan menggunakan 4 in 1 Environment (KW06-291). Dimana alat ini dioperasikan secara digital dibantu oleh tenaga laboratorium Teknik Industri Universitas Sumatera Utara yang sudah pernah mengoperasikan alat tersebut sebelumnya. Alat ukur ini langsung menunjukkan suhu lingkungan kerja yang sedang diukur.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Untuk pekerja di unit usaha tahu, pekerja berada di lingkungan kerja tertutup namun tidak terkena cahaya matahari langsung. Menurut analisa, pekerja di unit usaha tahu termasuk kedalam kategori jam kerja 75% - 100% dan dalam beban kerja sedang (Tarwaka, 2004). Jadi suhu yang diperkenankan oleh Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER. 13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja adalah tidak lebih dari 28ºC.
Merk alat : 4 in 1 Environment (KW06-291)
Satuan : °Celcius
Skala pengkuran : Ratio Prosedur pengukuran : a. Menekan tombol power
b. Mengarahkan tombol indikator kearah pengukuran suhu c. Mendekatkan alat ke sumber panas
d. Melihat dan menentukan nilai yang stabil pada display e. Menekan tombol hold untuk membaca nilai pada display f. Mencatat hasil yang yang dibaca pada display
g. Menekan tombol power untuk mematikan alat
Pengukuran dilakukan di titik dimana pekerja melakukan pekerjaannya.
Pengukuran dilakukan di 2 titik pada area produksi yaitu di sekitar tempat perebusan kedelai dan disekitar tempat penggorengan tahu. Pengukuran dilakukan pada pukul 08.00 WIB – 18.00 WIB dengan tiga kali pengukuran yaitu pada awal jam kerja yaitu pukul 08.00 WIB, pertengahan jam kerja yaitu pukul 12.00 WIB dan akhir jam kerja
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
36
yaitu pukul 18.00 WIB, kemudian data tersebut diambil rata-ratanya sehingga didapatkan data suhu pada lingkungan kerja tersebut.
Gambar 3.1. 4 in 1 Enviroment (KW06-291) 3.6.2 Denyut Nadi
Pengukuran denyut nadi dilakukan dengan metode palpasi yang menggunakan stopwatch yang diukur oleh tenaga medis. Pengukuran dilakukan pada saat pekerja
dalam keadaan diam atau istirahat. Pengukuran denyut nadi dilakukan pada dua jam kerja yaitu 3 kali di pagi hari pada pukul 08.00 WIB sebelum pekerja melakukan pekerjaannya dan 3 kali di sore hari pada pukul 16.00 WIB sesudah pekerja melakukan pekerjaannya dengan jarak ±5 menit setiap pegukuran. Dari pengukuran tersebut dihitung denyut nadi selama 1 menit. Hasil ukur denyut nadi berupa denyut nadi normal dan denyut nadi meningkat.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Rumus denyut nadi rata – rata/menit :
PDN1 + PDN2 + PDN3 3
Keterangan :
PDN1 : Pengukuran denyut nadi 1 PDN2 :Pengukuran denyut nadi 2 PDN3 : Pengukuran denyut nadi 3
3 : 3 kali pengukuran (jarak ±5 menit) Alat ukur : Stopwatch
Satuan : Denyut/menit Skala pengukuran : Ordinal Prosedur pengukuran :
1. Pegang pergelangan tangan kanan tenaga kerja.
2. Letakkan tiga jari (jari telunjuk, jari tengah dan jari manis) pada pergelangan tangan kanan tenaga kerja dan cari denyut nadinya.
3. Stopwatch dihidupkan bersamaan dengan dimulainya perhitungan denyut nadi selama 1 menit.
4. Hentikan stopwatch jika sudah selesai.
5. Catat hasil pengukuran denyut nadi tersebut.
Adapun kategori untuk denyut nadi menurut Tarwaka (2004) adalah :
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
38
1. Denyut nadi normal yaitu denyut nadi sesudah pekerja melakukan pekerjannya yang tidak melebihi 90 denyut/menit.
2. Denyut nadi meningkat yaitu denyut nadi sesudah pekerja melakukan pekerjaannya yang melebihi 90 denyut/menit.
3.7 Metode Analisis Data
Dalam suatu penelitian, analisis data merupakan salah satu langkah yang penting. Hal ini disebabkan karena data yang diperoleh langsung dari penelitian masih mentah dan belum memberikan informasi. Data-data tersebut dianalisis menggunakan program Statistic Package For The Social Science (SPSS) versi 15.
3.7.1 Analisis Univariat
Analisis ini bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Pada umumnya menghasilkan distribusi dan presentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2010). Hal ini sangat dibutuhkan guna mendapatkan gambaran awal mengenai keadaan umum responden sehingga tidak akan menimbulkan kerancuan ketika analisis data penelitian dilakukan.
3.7.2 Analisis Bivariat
Analisis lanjutan untuk melihat hubungan variabel independen (tekanan panas) dan variabel dependen (denyut nadi) dengan menggunakan uji statistik Korelasi Product Moment dengan taraf kepercayaan 95%. Jika p value < 0,05 artinya
ada hubungan antara variabel independen (tekanan panas) dengan variabel dependen (denyut nadi). Jika p value > 0,05 artinya tidak ada hubungan antara variabel independen (tekanan panas) dengan variabel dependen (denyut nadi).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA