Bab I Pendahuluan
1.4 Manfaat Penelitian
Diharapakan dari penelitian ini memberikan manfaaat bagi semua orang dan memberikan informasi dan pengetahuan bagi pembaca dan semua pihak yang memebutuhkan. Adapun manfaaat lain yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
a. Bagi petani
Untuk memberikan informasi mengenai penentuan harga pokok produksi yang tepat dan benar dengan menggunakan metode full costing dan memberikan saran dan masukan bagi usaha tani padi
b. Bagi penulis
Menambah pengetahuan di bidang akuntansi khususnya pada akuntansi biaya tentang harga pokok produksi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Telaah Teori
2.1.1 Pengertian Akuntansi Biaya
Menurut Mulyadi (2012) akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya. Sedangkan Bustami dan Nurlela (2006) menyatakan bahwa akuntansi biaya adalah suatu bidang akuntansi yang mempelajari bagaimana cara mencatat, mengukur, dan melaporkan tentang informasi biaya yang digunakan. Di samping itu, akuntansi biaya juga membahas tentang penentuan harga produk dari suatu produk yang diproduksi dan dijual dipasar, baik guna memenuhi kegiatan pemesanan maupun menjadi persediaan barang dagangan yang akan dijual.
2.1.2 Peranan Akuntansi Biaya
Daljono (2011) peranan akuntansi biaya dalam aktifitas perusahaan adalah :
1. Menetapkan metode perhitungan harga pokok yang menjamin adanya pengendalian biaya, efisiensi biaya, dan perbaikan mutu.
2. Mengendalikan jumlah persediaan dan menentukan harga pokok tiap jenis produk yang diproduksi untuk tujuan
penentuan harga dan untuk mengevaluasi prestasi suatu produk, departemen setiap devisi.
3. Menghitung laba rugi perusahaan untuk setiap periode akuntansi, termasuk menentukan harga pokok persediaan dan harga pokok penjualan.
4. Mengambil keputusan jangka pendek, misalnya perusahaan perlu memutuskan apakah sebaiknya produk tertentu dihentikan saja karea selama ini untuk produk jenis tersebut mengalami kerugian, ataukah tetap harus memproduksi meskipun rugi.
2.1.3 Pengelompokan Biaya
Mulyadi (2012) menyatakan bahwa dalam akuntansi biaya, biaya digolongkan dengan berbagai macam cara. Umumnya penggolongan biaya ini ditentukan atas dasar tujuan yang hendak dicapai dengan penggolongan tersebut, karena dalam akuntansi biaya dikenal konsep
“different costs for different purpose”. Biaya dapat digolongkan menurut:
1. Penggolongan biaya menurut objek pengeluaran.
Dalam cara penggolongan ini, nama objek pengeluaran merupakan dasar penggolongan biaya. Misalnya nama objek pengeluaran adalah bahan bakar, maka semua pengeluaran yang berhubungan dengan bahan bakar disebut “biaya bahan bakar”.
Contoh penggolongan biaya atas dasar objek pengeluaran dalam perusahaan kertas adalah sebagai berikut: biaya merang, biaya
jerami, biaya gaji dan upah, biaya soda, biaya depresiasi mesin, biaya asuransi, biaya bunga, biaya zat warna.
2. Penggolongan biaya menurut fungsi pokok dalam perusahaan.
Dalam perusahaan manufaktur, ada tiga fungsi pokok, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran, fungsi administrasi dan umum. Oleh karena itu dalam perusahaan manufaktur, biaya dapat dikelompokan menjadi tiga kelompok:
a. Biaya produksi
Biaya produksi merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap dijual.
b. Biaya pemasaran
Biaya pemasarn merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk.
c. Biaya administrasi dan umum
Biaya administrasi dan umum merupakan biaya-biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasran produk.
3. Penggolongan biaya menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai.
Sesuatu yang dibiayai dapat berupa produk atau departemen.
Dalam hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokkan menjadi dua golongan:
a. Biaya langsung (direct cost)
Biaya langsung adalah biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai.
Jika sesuatu yang dibiayai tersebut tidak ada, maka biaya langsung ini tidak akan terjadi. Dengan demikian biaya langsung akan mudah diidentifikasikan dengan sesuatu yang dibiayai. Biaya produksi langsung terdiri dari biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung.
b. Biaya tidak langsung
Biaya tidak langung adalah biaya ynag terjadi tidak hanya disebabkan oleh suatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk tersebut dengan istilah biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik.
Biaya ini tidak mudah diidentifikasikan dengan produk tertentu.
4. Penggolongan biaya menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume aktivitas.
Dalam hubungannya dengan perubahan volume aktivitas, biaya dapat digolongkan menjadi:
a. Biaya variabel
Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
b. Biaya semi variabel
Biaya semi variabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan.
c. Biaya tetap
Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume kegiatan tertentu.
5. Penggolongan biaya atas dasar angka waktu manfaat.
Atas dasar jangka waktu manfaatnya, biaya dapat dibagi menjadi dua:
a. Pengeluaran modal (capital expenditures)
Pengeluaran modal adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi (biasanya periode akuntansi adalah satu tahun kalender) .
b. Pengeluaran pendapatan (revenue expenditures)
Pengeluaran pendapatan adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut.
2.1.4 Manfaat Harga Pokok Produksi
Menurut Mulyadi (2012) dalam perusahaan yang berproduksi massa, informasi harga pokok produksi yang dihitung untuk jangka waktu tertentu bermanfaat bagi manajemen untuk :
a. Menentukan harga pokok jual produk
Perusahaan yang berproduksi masa memproses produknya untuk memenuhi persendiri dipersatuan produk. Dalam penetapan harga jual produk, biaya produksi per unit merupakan salah satu
informasi yang dipertimbangkan di samping informasi biaya lain serta informasi non biaya.
b. Memantau realisasi biaya produksi
Manajemen memerlukan informasi biaya produksi yang sesungguhnya dikeluarkan dibandingkan dengan rencana produksi yang telah ditetapkan, oleh sebab itu akuntansi biaya digunakan dalam jangka waktu tertentu untuk memantau apakah produksi mengkkonsumsi total biaya produksi sesuai dengan yang diperhitungkan sebelumnya.
c. Menghitung laba atau rugi periodik
Guna mengetahui apakah kegiatan produksi dan pemasaran perusahaan dalam periode tertentu mampu menghasilkan laba bruto. Manajemen meemrlukan ketepatan penentuan laba periodik, sedangkan laba periodik yang tepat harus berdasarkan informasi biaya dan penentuan biaya yang tepat pula.
d. Menentukan harga pokok persediaan produk jadi dan produk dalam proses yang disajikan dalam neraca.
Saat manajemen dituntut untuk membuat pertanggungjawaban periode, manajemen harus menyajikan laporan keuangan berupa neraca dan laporan laba rugi yang menyajikan harga pokok persediaan produk jadi dan harga pokok yang pada tanggal neraca masih dalam proses. Berdasarkan catatan biaya produksi yang masih melekat pada produk yang belum dijual pada tanggal neraca serta dapat diketahui biaya produksinya. Biaya yang
melekat pada produk jadi pada tanggal neraca disajikan dalam harga pokok persediaan produk jadi. Biaya produksi yang melekat pada produk yang pada tanggal neraca masih dalam proses pengerjaan disajikan dalam neraca sebagai harga pokok persediaan produk dalam proses.
2.1.5 Unsur –unsur Harga Pokok Produksi
Dalam proses memproduksi suatu produk diperlukan biaya untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual.
Menurut objek pengeluarannya, secara garis besar biaya produksi dapat digolongkan kedalam biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik.
1. Biaya Bahan Baku
Menurut Mulyadi (2012), bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian menyeluruh produk jadi. Bahan baku dibedakan menjadi bahan baku langsung dan bahan baku tidak langsung. Bahan baku langsung disebut juga dengan biaya bahan baku, sedangkan bahan baku tidak langsung disebut juga dengan biaya overhead pabrik.
2. Biaya Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan usaha fisik atau mental yang dikeluarkan karyawan untuk mengolah produk. Biaya tenaga kerja adalah harga yang dibebankan untuk penggunaan tenaga kerja manusia tersebut (Mulyadi, 2012). Biaya tenaga kerja dibagi menjadi 2 (dua), yaitu biaya tenaga kerja yang terlibat
langsung dalam proses produksi dan biaya tenaga kerja tidak langsung adalah biaya tenaga kerja yang tidak terlibat secara langsung dalam proses produksi.
3. Biaya Overhead Pabrik
Overhead pabrik juga disebut dengan overhead manufaktur, beban manufaktur, atau beban pabrik terdiri atas semua biaya manufaktur yang tidak ditelusuri secara langsung ke output tertentu. Overhead pabrik biasanya memasukkan semua biaya manufaktur kecuali bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung (Carter,2009). Menurut Hasen dan Mowen (2009), biaya overhead pabrik adalah semua biaya produksi selain dari bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung dikelompokkan menjadi satu kategori yang disebut ongkos overhead.
2.1.6 Metode penentuan harga pokok produksi
Daljono (2011) menyatakan bahwa metode penentuan harga pokok produksi adalah cara untuk meperhitungkan unsur-unsur biaya ke dalam harga pokok produksi. perbedaan unsur biaya dalam pendekatan full costing dan variabel costing. Sistem dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Metode full costing
Metode full costing adalah metode penentuan yang melibatkan semua unsur biaya produksi biaya variabel maupun biaya tetap dalam menghitung harga pokok produksi. Dalam perhitungan
harga pokok produksi yang dengan menggunakan pendekatan full costing terdiri dari unsur harga pokok produksi (biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik variabel, dan biaya overhead pabrik tetap) dengan menambahkan biaya non produksi (biaya pemasaran, biaya administrasi,dan umum).
b. Metode variabel costing
Metode variabel costing hanya memasukkan biaya produksi variabel dalam menetukan harga pokok produksi. Biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, biaya overhead pabrik variabel merupakan bagian dari biaya produksi.
Harga pokok produk yang dihitung dengan pendekatan variabel costing yang terdiri dari unsur harga pokok produksi variabel (biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel) ditambah dengan biaya nonproduksi variabel (biaya pemasaran variabel, biaya administrasi dan umum variabel) dan biaya tetap (biaya overhead pabrik tetap, biaya pemasaran tetap, biaya administrasi dan umum tetap).
Berikut ini adalah harga pokok produksi menurut metode full costing dan variabel costing yang terdiri dari unsur biaya produksi:
Unsur Biaya Produksi dan Periode (Non Produksi) Menurut Metode Full costing dan Variabel Costing
FULL COSTING VARIABEL COSTING
Biaya Produksi
Beberapa penelitian tentang harga pokok telah dilakukan oleh banyak peneliti terdahulu, di antaranya adalah sebagai berikut:
No Peneliti Judul Hasil
+
+
+ +
1. Mnadei, Julian R
Untuk mengetahui harga pokok penjualan beras dan harga beras yang ditetapkan pemerintah sudah sesuai dengan biaya produksi beras.
Setelah diperhitungankan dengan menggunakan metode full costing dapat disimpulkan rata-rata harga pokok beras di kelurahan Moyag lebih tinggi dibandingkan dengan kelurahan Kobo Kecil. Rata-rata harga pokok beras di Kecamatan Kotamobagu lebih rendanh dari harga yang telah ditetapkan pemerintah.
Untuk menganalisis struktur biaya dan harga pokok produksi serta pendapatan pada usahatani jagung.
Kesimpulan dari penelitian yaitu usahatani jagung memberikan pendapatan yang layak dan harga
Untuk menganalisis harga pokok produk dan penentuan harga jual.
Harga pokok produksi yang dihitung oleh perusahaan lebih tinggi dibandingkan dengan hasil evaluasi.
4. Permatasari, perhitungan harga pokok produksi Pak Dariyo dengan perhitungan menggunakan metode full costing.
Harga pokok produksi Pak Dariyo lebih rendah dibandingkan harga pokok produksi dengan perhitungan metode full costing.
Perusahaan dalam menentukan harga pokok produksi memasukkan semua biaya ke dalam biaya produksi. Perolehan harga pokok produksi dengan menggunakan full costing lebih rendah karena pembebanan biaya overhead pabrik pada perusahaan lebih tinggi dari pembebanan biaya overhead pada metode full cosing.
2.3.Kerangka Konseptual
Berikut ini adalah gambaran kerang pikir untuk menjelaskan alur pemikiran penelitian agar penelitian mudah dipahami :
BAB II
Pengumpulan biaya-biaya uasahatani padi di Desa Wates dan Desa Undaan Kidul
Perhitungan HPP beras di Desa Wates dan Desa Undaan Kidul
Menggunakan metode Full Costing
Hasil perhitungan menurut metode Full Costing
Perbedaan perhitungan, dampak pada penghasilan petani
Rekomendasi
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Menggunakan metode yang
dipakai petani
Hasil perhitungan menurut petani
saran
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah usaha tani padi yang berada di Desa Wates dan Desa Undaan kidul yang terletak di Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus.
3.2 Sumber Data
Data merupakan keterangan atau sumber informasi mengenai objek yang akan diteliti dan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Jenis data berdasarkan sumbernya dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Data Primer
Data primer merupakan data yang didapat langsung dari sumber datanya.
Pada penelitian ini data primer yang digunakan adalah data observasi dan wawancara langsung dengan petani di Desa Wates dan Desa Undaan Kidul 2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh tidak secara langsung pada sumber datanya melainkan didapat dari sumber yang telah ada. Pada penelitian ini data sekunder diperoleh dari berbagai literatur-literatur yang ada, seperti buku, yang berkaitan dengan penelitian ini, data dari instansi yang terkait, dan jurnal-jurnal.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Penggumpulan data dalam peneilitian ini menggunakan metode seperti berikut ini :
20
1. Wawancara
Metode pengumpulan data ini, data diperoleh melalui wawancara langsung dengan petani di Desa Wates dan Desa Undaan Kidul mengenai tahap-tahap dalam memproduksi beras. Metode pengumpulan data ini memfokuskan pada wawancara mengenai semua biaya yang terlibat dalam perhitungan proses produksi beras di desa tersabut dan kegitan apa saja yang ada dalam proses produksi sampai dihasilkanya beras.
2. Dokumentasi
Metode dalam pengumpulan data dengan melakukan pencatatn mengenai biaya yang terlibat dalam penelitian, seperti biaya produksi, hasil produksi,langkah-langkah dalam memproduksi beras tersebut, dan data-data lainnya.
3. Studi Pustaka
Metode studi pustaka yaitu dengan mempelajari data-data tertulis lainnya yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian ini.
3.4 Konsep Pengukuran Variabel
Penelitian ini akan mengukur variabel-variabel seperti berikut ini:
1. Luas lahan padi sawah (ha)
2. Biaya yang akan dikeluarkan mulai dari persemaian, pengolahan sawah, perawatan, panen, dan setelah panen (Rp). Biaya–biaya yang terlibat antara lain:
a. Biaya produksi, seperti pembelian benih, pupuk, obat-obatan untuk mengatasi hama dan penyakit yang menyerang padi tersebut, dan biaya untuk pembelian pupuk pelengkap.
b. Biaya tenaga kerja
Biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja dalam persemaian, pengolahan tanah, pemeliharaan, yaitu pemupukkan dan pengendalian hama dan penyakit, panen, dan setelah panen yang terdiri dari perontokan padi, penjemuran padi, dan penggilingan padi sampai menjadi beras.
c. Pajak
d. Biaya penyusutan untuk peralatan e. Bunga Modal
3.5 Metode Analisis
Penelitian ini menggunakan analisis metode deskriptif kuantitatif.
Deskriptif kuantitatif yaitu menganalisis suatu keadaan kemudian dipaparkan dalam bentuk angka. Hal ini untuk menegtahui biaya dalam produksi beras, baik biaya langsung maupun biaya tidak langsung. Kemudian data tersebut dianalisis untuk membandingkan harga pokok produksi antara petani dan harga pokok produksi yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Penulisan skripsi ini metode deskriptif kuantatif yang diperlukan adalah menggunakan metode full costing. Metode full costing menggunakan unsur biaya produksi sebagai berikut:
Biaya bahan baku XXX
Biaya tenaga kerja XXX
Biaya overhead tetap XXX
Biaya overhead pabrik variabel XXX
Harga pokok produksi XXX
BAB IV ANALISIS DATA
4. Gambaran Umum Objek Penelitian 4.1 Letak Geografis
4.1.1 Kabupaten Kudus
Kabupaten Kudus merupakan wilayah terkecil di jawa tengah, dengan luas wilayah 42.515,64Ha yang terdiri dari 9 kecamatan dan 123 kelurahan.
Gambar 4.1.
Peta Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten kudus terletak diantara 4 (empat) kabupaten, yaitu sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Pati dan Kabupaten Jepara, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Pati, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Pati dan Kabupaten Grobogan, sedangkan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupten Demak dan Kabupaten Jepara.
23
Luas wilayah menurut kecamatan yaitu Kecamatan Kaliwungu (3.271,28 Ha), Kecamatan Kota (1.047,32 Ha), Kecamatan Jati(2.629 Ha), Kecamatan Undaan (7.177,03 Ha), Kecamatan Mejobo (3.676,57 Ha), Kecamatan Jekulo (8.291,67 Ha), Kecamatan Bae(2.332,27 Ha), Kecamatan Gebog(5.505,97 Ha) dan Kecamatan Dawe(8.583,73 Ha).(sumber:BPS Kabupaten Kudus 2015)
Gambar 4.2.
Peta Kabupaten Kudus
Luas Kabupaten Kudus sebesar 42.516 Ha, Penggunaan lahan terbagi menjadi lahan kering, lahan persawahan, dan peruntukan lahan lainnya. Lahan persawahan di Kabupaten Kudus seluas 21.704 ha, yaitu terbagi sawah pengairan teknis, sawah pengairan setengah teknis, sawah
pengairan sederhana, sawah tadah hujan, dan lainnya yang berupa rawa dan sungai. Lahan kering di Kabupaten Kudus seluas 18.552 Ha
4.1.2 Kecamatan Undaan
Kecamatan Undaan merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Kabupaten Kudus. Wilayah Kecamatan Undaaan sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Jati dan Kecamatan Mejobo, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Pati, sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Grobogan, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Demak.
Kecamatan undaan terletak di Kabupaten Kudus bagian selatan. Jarak ibukota kecamatan dengan ibukota kabupaten adalah 13 Km, sedangakn jarak ibukota kecamatan ke ibukota propinsi yaitu 60Km. Kecamatan Undaan merupakan wilayah yang beriklim tropis dan temperatur sedang.
Gambar 4.3.
Peta Kecamatan Undaan
Kecamatan Undaan merupakan kecamatan terbesar ketiga setelah Kecematan Jekulo, yaitu dengan luas 7.177,03 Ha dengan perincian 5.805,02 Ha untuk tanah sawah dan 1.372,01 Ha tanah kering (sumber:Undaan dalam Angka 2014).
Luas wilayah kecamatan Undaan menurut rincian desa yaitu Desa Wonosoco (542,42 Ha), Desa Lambangan (282,06 Ha), Desa Kalirejo (343,13 Ha), Desa Medini (342,00 Ha), Desa Sambung (234,20 Ha), Desa Glagahwaru (263,70 Ha), Desa Kutuk (624,61 Ha), Desa Undaan Kidul (655,75 Ha), Desa Undaan Tengah (622,00 Ha), Desa Karangrowo (1.100,26 Ha), Desa Larikrejo (222,26 Ha), Desa Undaan lor (578,90 Ha), Desa Wates (476,06 Ha), Desa Ngemplak (507,94 Ha), Desa Terangmas (155,00 Ha), dan Desa Berugenjang (226,75 Ha) (sumber:Undaan Dalam Angka,2015)
4.1.3 Desa Wates
Desa yang terdapat di Kecamatan Undaan kabupaten Kudus ini, sebelah utara berbatasan dengan Desa Ngemplak, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Undaan Lor, sebelah timur berbatsan dengan Desa Larek Rejo, sedangankan sebelah barat berbatasan dengan Desa Ketanjung Kecamatan Karanganyar Kabupaten Demak.
4.1.4 Desa Undaan Kidul
Desa yang memiliki luah lahan terbesar di Kecamatan Undaan sebelah utara berbatasan dengan Desa Undaan Kidul, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Pati, sebelah selatan berbatasan dengan Desa Kutuk, Desa Glagahwaru dan Desa Sambung, sebelah barat Desa Undaan Kidul berbatasan dengan Kabupaten Demak.
4.2 Luas Penggunaan Lahan 4.2.1 Kabupaten Kudus
Secara administratif Kabupaten Kudus terbagi menjadi 9 kecamatan dan 123 Desa serta 9 Kelurahan. Luas wilayah kabupaten Kuds tercatat sebesar 42.515,64 Ha atau sekitar 1,31 persen dari luas propinsi Jawa Tengah, luas wilayah tersebut terdiri dari 20.620 Ha (48,50 persen) merupakan lahan pertanian sawah dan 7.549 Ha (17,76 persen) adalah lahan pertanian bukan swah. Sedangkan sisanya adalah lahan bukan pertanian sebesar 14.347 Ha (33,74 persen). Untuk lahan pertanian bukan sawah, sebagian besar digunakan untuk tegal/kebun sebesar 75,80 persen, untuk ladang/huma sebesar 3,55 persen dan sisanya untuk perkebunan, hutan rakyat, tambak, kolam dan lainnya. (sumber: Kudus Dalam Angka 2015)
4.2.2 Kecamatan Undaan
Luas wilayah Kecamatan Undaan pada tahun 2014 tercatat 7.177,03 hektar atau sekitar 16,88 persen dari luas Kabupaten Kudus.
Luas wilayah menurut jenis tanah dan desa/kelurahan di Kecamatan Undaan 5.805,02 Ha sebagai lahan sawah dan 1.372,01 Ha sebagai lahan bukan sawah. Luas lahan sawah menurut jenis pengairan dan desa di Kecamatan Undaan, sawah irigrasi teknis (4.840,13 Ha), dan sawah irigrasi setengah teknis (964,89 Ha)
4.2.3 Daerah Sample
Desa wates merupakan desa yang mempunyai luas wilayah 476,055 Ha. Luas yang digunakan untuk persawahan yaitu 385,05 dan
lahan bukan sawah 91,01. Luas lahan sawah menurut jenis pengairan, sawah irigrasi teknis di Desa Wates 385,05 Ha.
Desa Undaan Kidul yang mempunyai luas wilayah 655,751 Ha.
Luas wilayah menurut jenis tanah, Desa Undaan Kidul luas sawah 530,39 Ha, sedangkan lahan bukan sawah 125,36 Ha. Berbeda dengan daerah sample pertama, Desa Undaan Kidul mempunyai dua jenis sawah irigrasi, yaitu sawah irigrasi teknis dan sawah irigrasi setengah teknis yang masing-masing mempunyai luas 516,41 Ha dan 13,98 Ha.
4.3 Aktivitas Dalam Proses Produksi Beras
Proses produksi beras dimulai dengan aktivitas persemaian sampai proses gabah kering giling dan menjadi beras pada lahan sawah irigrasi teknis. Lahan sawah irigrasi teknis yaitu lahan yang perairannya tersedia secara terus menerus dan hanya terhenti ketika ada perbaikan saluran yang dilakukan oleh Pemerintah. Aktivitas lainnya dalam proses produksi beras yaitu persiapan benih, persiapan tanam, penanaman, pemeliharaan, panen dan pasca panen.
Aktivitas persiapan tanam meliputi persemaian dan pengolahan tanah. Out put yang dihasilkan dari proses persiapan tanam yaitu berupa benih siap tanam dan lahan yang siap untuk ditanami. Dalam menghasilkan benih yang siap untuk ditanam diperlukan sumber daya yang berupa tenaga kerja, air irigrasi, benih, tanah, dan pupuk. Pupuk yang digunkan dalam proses pembuatan benih yaitu pupuk urea dan SP36. Sedangkan yang diperlukan dalam pengolahan lahan siap tanam yaitu tenaga kerja, tanah, traktor, cangkul,dan air irigrasi. Pengolahan lahan berfungsi untuk
mengembalikan dan meratakan tanah. Setelah pengolahan tanah menggunkan traktor, aktivitas selanjutnya dengan penataaan pematang dan perataan pinggirian sawah yang tidak terjangkau oleh traktor yang dilakukan tenaga kerja manusia menggunakan cangkul.
Proses kedua yaitu penanaman yaitu meliputi pencabutan bibit dari pesemaian dan menaman bibit. Aktivitas ini membutuhkan sumber tenaga kerja dan alat penolong berupa tali dan bambu untuk mengatur jarak tanam.
Proses selanjutnya yaitu pemeliharaan. Proses pemeliharaan dibagi menjadi tiga tahap, yaitu pemupukan, penyiangan, dan penyemprotan.
Masing-masing tahapan memerlukan sumber daya yang berbeda-beda kecuali tenaga kerja. Tahapan penyemprotan memerlukan sprayer dan bahan pembantu seperti peptisida.
Proses terakhir yaitu panen dan pascapanen. Pada proses panen aktivitas yang dilakukan yaitu pengambilan padi dan perontokan padi.
Proses terakhir yaitu panen dan pascapanen. Pada proses panen aktivitas yang dilakukan yaitu pengambilan padi dan perontokan padi.