Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi pendidikan khususnya dalam pembelajaran mata pelajaran bahasa Jawa kelas 1 SD serta dapat menjadi acuan penelitian selanjutnya.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Siswa
Siswa menjadi semangat dalam mengikuti pembelajaran. Siswa mampu menumbuhkan rasa minat dan bangga terhadap pembelajaran bahasa Jawa sebagai budaya luhur.
b. Bagi Guru
Memotivasi guru untuk mampu dan harus mau berinovasi dalam mengelola kelas dan melakukan pembelajaran. Sehingga guru memiliki kemampuan untuk membangun semangat dan suasana kelas lebih hidup, menumbuhkan minat belajar siswa, dan tidak membosankan saat mengajar. c. Bagi Sekolah
9
Sekolah dapat mengembangkan beberapa inovasi dalam pembelajaran sehingga sekolah memiliki strategi untuk meningkatkan mutu dalam hal proses pembelajaran.
10 BAB II KAJIAN TEORI A. Minat Belajar Bahasa Jawa
1. Pembelajaran Bahasa Jawa di SD
Kurikulum yang berlaku saat penelitian adalah kurikulum 2013. Kurikulum 2013 ialah penyempurnaan dari KTSP. Bahasa Jawa termasuk dalam muatan lokal. Muatan lokal ialah kegiatan yang kurikuler yang mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah. Keberadaan mata pelajaran lokal merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan di masing-masing daerah lebih relevan dengan keadaan dan kebutuhan daerah yang bersangkutan.
Penentuan mata pelajaran bahasa daerah sebagai mata pelajaran muatan lokal tergantung pada kebijakan pemerintah dan sekolah yang bersangkutan. Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan sekitarnya. Bahasa Jawa digunakan di beberapa daerah di Jawa Tengah, seluruh kabupaten di Yogyakarta, dan Jawa Timur. Bahasa Jawa sendiri merupakan bahasa yang kerap digunakan dalam kehidupan sehari-sehari. Bahasa Jawa juga masuk ke dalam mata pelajaran yang wajib diajarkan di Sekolah Dasar dan masuk ke muatan lokal.
Menurut Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 64 Tahun 2013, pembelajaran bahasa Jawa adalah pelajaran muatan lokal wajib di SD/MI/SDLB. Muatan lokal wajib adalah mata pelajaran yang berisikan pelajaran lokal yang wajib diselenggarakan. Mata pelajara bahasa Jawa
11
dilaksanakan 2(dua) jam pembelajaran dalam satu minggu dengan alokasi waktu kurang lebih 70 menit.
Perubahan jaman membuat bahasa Jawa semakin jarang digunakan oleh siswa jaman sekarang. Dilihat dari kondisi riil, terlihat bahwa siswa jaman sekarang lebih menggunakan bahasa yang mereka anggap bahasa gaul. Siswa jaman sekarang juga terlihat sulit menggunakan tatanan bahasa Jawa. Kadang dalam penulisan pun mereka sulit membedakan. Misal, yang mereka maksud itu sakit, tapi dalam penulisan masih loro. Padahal yang benar adalah lara. Hal-hal kecil seperti ini harusnya dapat diminalisir dengan membuat siswa minat dahulu kepada pembelajarannya.
Pembelajaran bahasa Jawa yang dilaksanakan di kelas 1 SD masih mencakup materi yang sederhana dan menyangkut kehidupan siswa. Contoh dari materinya ialah: kesehatan, punakawan, olahraga, dan lain-lain.
a. Fungsi dan Tujuan Pembelajaran Bahasa Jawa di SD
Setiap mata pelajaran pasti ada fungsinya, begitu pula dengan pelajaran bahasa Jawa. Menurut Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 64 Tahun 2013, pembelajaran bahasa Jawa berfungsi sebagai wahana untuk menyampaikan nilai-nilai pendidikan etika, estetika, moral, spiritual, dan karakter.
Menurut politik bahasa nasional (Mulyana, 2008: 36), pelajaran bahasa daerah setidaknya harus diarahkan pada tiga fungsi pokok sebagai berikut. 1) Alat komunikasi
12
Pembelajaran bahasa Jawa diarahkan agar siswa dapat menggunakan bahasa Jawa sebagai alat komunikasi. Menggunakan bahasa Jawa sebagai alat komunikasi tentu harus dengan baik dan benar. Pada bahasa Jawa terdapat tingkatan tutur yang harus diperhatikan. Tutur itu memiliki nilai hormat antara pembicara dan orang yang diajak bicara.
2) Edukatif
Fungsi edukatif ini diarahkan agar membentuk kepribadian dan identitas bangsa dalam diri siswa melalui unggah-ungguh.
3) Kultural
Fungsi kultural ialah mengarah pembelajaran bahasa Jawa untuk menanamkan nilai-nilai budaya Jawa sebagai upaya membangun identitas bangsa. Juga mampu menyaring budaya asing yang masuk.
Tujuan pembelajaran bahasa Jawa menurut Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 64 Tahun 2013 ialah:
1) Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika dan tata bahasa yang baik dan benar
2) Menghargai dan menggunakan bahasa Jawa sebagai sarana berkomunikasi, lambang kebanggan dan daerah
3) Menggunakan bahasa Jawa untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional dan sosial
4) Memanfaatkan dan menikmati karya sastra dan budaya Jawa untuk memperhalus budi pekerti dan meningkatkan pengetahuan
13
5) Menghargai bahasa dan sastra Jawa sebagai khasanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
b. Ruang Lingkup Bahasa Jawa di SD
Menurut Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dalam kurikulum 2013, ruang lingkup mata pelajaran bahasa Jawa di Sekolah Dasar mencakup ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ketiga ranah tersebut dalam pembelajaran bahasa Jawa kelas I diuraikan sebagai berikut.
1) Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya
2) Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, pribadi, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru.
3) Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengar, melihat, membaca) dan menanya berdasarkan rasa ingin tahu tentang dirinya makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya, dan benda-benda yang dijumpainya di rumah dan di sekolah
4) Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan siswa sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku siswa beriman dan berakhlak mulia.
2. Minat Belajar
Pada semua usia minat sangatlah penting. Minat memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan seseorang dan pastinya memiliki dampak yang besar atas perilaku dan sikap seseorang. Hal ini terjadi khususnya pada masa anak-anak.
14
Lamanya masa anak-anak, minat menjadi sumber yang penting dan kuat bagi belajar. Jika siswa berminat pada sesuatu untuk dipelajari, maka akan antusias. Siswa akan berusaha lebih kuat dan giat untuk belajar sesuatu yang diminatinya. Perlu adanya sikap di mana kita memancing siswa agar minat dengan apa yang kita berikan agar siswa mau belajar sesuai dengan keinginannya bukan dari paksaan kita.
Minat adalah kesadaran seseorang bahwa suatu objek, seseorang suatu soal atau suatu situasi mengandung sangkut-paut dengan dirinya. Minat suatu kesadaran tentang hubungan dirinya dengan lingkungan yang berpengaruh padanya.
Minat mengarahkan pada perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan kuat bagi perbuatan tersebut. Dalam diri manusia memiliki dorongan-dorongan atau motif-motif. Motif dikenal pula dengan motivasi. Menurut Sarlito (2012: 137) motivasi merupakan istilah yang lebih umum, yang merujuk kepada seluruh proses gerakan itu, termasuk situasi yang mendorong, dorongan yang timbul dalam diri individu, perilaku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut dan tujuan atau akhir daripada tindakan atau perbuatan.
Minat bukanlah merupakan sesuatu yang dimiliki oleh seseorang begitu saja, melainkan merupakan sesuatu yang dapat dikembangkan (Singer, 1991: 93). Minat yang telah ada dalam diri seseorang bukanlah ada dengan sendirinya. Namun, ada karena adanya pengalaman dan usaha untuk mengembangkannya. Jadi minat bukan langsung ada dalam diri siswa dan
15
secara alamiah hadir. Tapi minat ada karena adanya usaha dan pengalaman, serta adanya sesuatu yang menarik bagi siswa.
Menurut Slameto (Sofan, 2011: 39) minat adalah perasaan menyukai dan keterikatan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Besar kecilnya minat sangat tergantung pada penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu yang ada di luar dirinya. Bila seseorang nampak minat pada sesuatu hal, tentu dengan sangat mudah untuk melakukan atau menjalani sesuatu dengan baik. Siswa yang minat pada suatu pelajaran tentu akan nampak senang, antusias, lepas, tanpa tekanan saat mengikuti pelajaran itu. Siswa yang minat juga akan dengan senang hati melakukan suatu aktivitas yang diminta tanpa harus ada paksaan. Menurut Slameto (Sofan, 2011:39) siswa yang memiliki minat terhadap suatu obyek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian terhadap obyek tersebut. Disini akan nampak jelas perbedaan sikap siswa yang minat terhadap suatu obyek atau siswa yang sama sekali tidak minat terhadap obyek tersebut. Siswa yang minat tentu akan dengan sendirinya mengikutsertakan dirinya untuk ambil bagian dalam kegiatan tersebut, sedangkan yang tidak minat tentu tidak akan. Minat bisa menjadi sebab yang kuat siswa mau mengikuti suatu kegiatan sebagai suatu hasil keikutsertaanya dalam kegiatan itu.
Dalam kegiatan di sekolah, belajar merupakan kegiatan pokok yang dilakukan. Dapat dikatakan bahwa berhasil atau tidaknya pembelajaran itu dilihat pada dapat atau tidak tercapainya tujuan pendidikan yang banyak bergantung pada proses belajar.
16
Menurut Slameto (2003: 2) pengertian belajar secara psikologis ialah suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan itu akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku. Belajar juga didefinisikan sebagai proses usaha yang dilakukan untuk memperoleh pengalaman baru sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Pengalaman baru ini bisa merubah tingkah siswa menuju baik.
Perubahan tingkah laku siswa dengan adanya belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Perubahan terjadi secara sadar
Berarti bahwa segala perubahan yang terjadi dalam dirinya akibat belajar dirasakan dan disadari secara sadar betul. Siswa akan sadar bahwa keterampilannya bertambah, pengetahuannya bertambah, dan lain-lain.
b. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional
Perubahan yang terjadi akan berkesinambungan secara terus menerus dan tidak statis. Misalnya, seorang siswa yang sedang belajar menulis dari yang tidak menulis menjadi bisa menulis. Tidak berhenti di situ saja, dari yang bisa menulis tapi belum rapi menjadi rapi, kemudian dapat menulis dengan pulpen, dapat menulis indah dan lain-lain. Selain itu perubahannya itu fungsional atau berfungsi. Misal dari ia dapat menulis, maka siswa dapat menulis cerita, menulis surat, mengerjakan soal yang diberikan guru, dan lain-lain.
17
Perubahan itu akan menuju kearah yang lebih baik. Siswa akan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jika siswa tidak menjadi baik, maka siswa tidak mengalami proses belajar di sana. Perubahan itu tidak datang dengan sendirinya, tapi perubahan hadir karena peran aktif dari yang bersangkutan. Inilah yang disebut dengan perubahan dalam belajar aktif.
d. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
Perubahan dalam belajar bersifat permanen. Ini berkaitan dengan perubahan belajar yang berkesinambungan dan kontinu tadi. Seorang siswa yang sudah belajar menulis, kemampuannya menulis tidak akan lenyap atau hilang begitu saja.
e. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
Siswa berubah pasti memiliki tujuan yang jelas saat ia belajar. Tujuan yang jelas ini menuntun siswa untuk berubah secara disadari. Jadi belajar ialah keinginannya sendiri untuk dapat berubah.
f. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Perubahan yang diperoleh seorang siswa saat ia belajar meliputi perubahan yang menyeluruh terhadap tingkah lakunya. Seorang siswa akan mengalami perubahan dalam keterampilan, sikap, pengetahuan, dan sebagainya.
Saat belajar tentu siswa harus memiliki minat terhadap sesuatu yang akan dipelajarinya agar apa yang dipelajari dapat mempengaruhi hidupnya. Menurut Farida Rahim, minat ialah keinginan yang kuat disertai usaha-usaha seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Minat adalah suatu aspek dalam psikis yang dominan mendorong seseorang untuk mau mencapai suatu tujuan yang ingin
18
dicapai. Orang yang minat terhadap suatu objek cenderung akan memiliki rasa tertarik dan perhatian terhadap objek tersebut. Objek harus menimbulkan rasa senang, sehingga siswa tertarik untuk memperhatikan. Jika objek tidak menimbulkan rasa senang maka tidak akan ada minat yang ditimbulkan. Minat seseorang pada suatu objek sangat berpengaruh terhadap daya serap terhadap objek tersebut.
Minat belajar adalah kecenderungan hati untuk belajar untuk mendapatkan informasi, pengetahuan, kecakapan melalui usaha, pengajaran atau pengalaman (Sofan, 2011: 39). Jelas dikatakan bahwa jika minat itu adanya kesepenuhan hati untuk mendapatkan sesuatu, baik itu pengalaman, kecakapan, pengalaman melalui sebuah usaha. Jika siswa memiliki minat pasti siswa akan ada usaha untuk mencapai semuanya.
Minat menambah kegembiraan pada setiap kegiatan yang ditekuni siswa. Bila siswa ini berminat pada suatu kegiatan atau pelajaran, pengalaman mereka akan jauh lebih menyenangkan daripada mereka tidak merasa minat yang justru cenderung bosan terhadap kegiatan atau pelajaran itu.
The Liang Gie menyatakan bahwa ketika siswa minat maka akan ada indikator sibuk, tertarik atau terlihat sepenuhnya terhadap suatu kegiatan karena menyadari pentingnya kegiatan itu. Dengan menganggap suatu pelajaran atau kegiatan itu penting dan adanya minat dalam diri siswa, maka siswa akan terlihat sibuk, tertarik dan tidak gampang teralihkan perhatiannya. Sibuk di sini dimaksudkan sibuk memperhatikan dengan perhatian terpusat, sibuk mengamati, sibuk melakukan apa yang diperintahkan, sibuk
19
mengerjakan, dan lain-lain. Siswa akan tampak lebih fokus pada apa yang ia minati. Jadi untuk mengahadapi suatu kegiatan dan pembelajaran memang sangat diperlukan minat dari dalam diri siswa tersebut.
Menurut The Ling Gie (Sofan, 2011: 39), arti penting minat dalam kaitannya dengan pelaksanaan studi adalah.
a. Minat melahirkan perhatian secara spontan b. Minat memudahkan konsentrasi
c. Minat mencegah gangguan dari luar
d. Minat memperkuat melekatnya materi pelajaran dalam ingatan e. Minat memperkecil kebosanan belajar
Minat yang melahirkan perhatian spontan dimaksudkan bahwa jika seorang siswa minat pada suatu kegiatan atau pelajaran, siswa akan langsung memperhatikan secara langsung tanpa guru meminta. Perhatian siswa ini akan sulit dialihkan karena minat yang telah tumbuh secara alamiah dalam diri siswa.
Minat juga memudahkan konsentrasi siswa pada suatu pelajaran atau kegiatan. Dengan minat yang ada, kebanyakan siswa akan konsentrasi dan terfokus pada pelajaran itu. Dari sini juga akan terlihat bahwa minat itu mencegah gangguan dari luar. Telah diuraikan di atas bahwa siswa jika sudah minat pada suatu kegiatan atau pelajaran, akan sulit teralihkan perhatiannya. Ia akan fokus pada yang diminati itu.
20
Pelajaran yang menumbuhkan minat dari dalam diri siswa biasanya pelajaran yang diberikan secara menyenangkan, sehingga siswa teralihkan dan berminat. Dengan pembelajaran yang menarik minat siswa tentu pelajaran itu akan lebih mudah diingat siswa, karena pelajaran itu ada sesuatu kekuatan yang di kemudian hari dapat merangsang memori siswa yang telah mengalami pelajaran itu.
Minat yang tumbuh dari dalam siswa juga akan memperkecil kebosanan. Dengan adanya minat belajar siswa, siswa akan sangat antusias dan jarang sekali mengalami kebosanan terhadap suatu pelajaran atau kegiatan itu.
Minat dapat timbul karena daya tarik dari luar. Minat merupakan modal besar untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam usaha untuk memperoleh sesuatu, diperlukan adanya minat. Besar kecilnya minat sangat berpengaruh terhadap hasil yang akan didapat.
Minat merupakan gejala psikologis yang menunjukkan bahwa minat adanya pengertian subjek terhadap objek. Jadi, saat kita minat terhadap objek, maka kita akan mengerti maksud dari subjek tersebut. Adanya ketertarikan terhadap sesuatu karena sesuatu tersebut mampu menimbulkan perasaan seseorang.
Indikator minat menurut Safari (Slameto, 2003) ialah: a. Perasaan senang
Adanya perasaan suka atau senang terhadap suatu objek. Perasaan senang ini tentunya harus muncul dari dalam diri siswa tersebut. Tidak ada paksaan
21
untuk menyenangi dari orang lain. Siswa akan merasa senang jika ada sesuatu yang membuatnya senang. Minat timbul dari perasaan senang tersebut.
b. Ketertarikan siswa
Adanya hubungan dengan daya gerak yang mendorong untuk cenderung merasa tertarik pada orang, benda, kegiatan atau yang lain yang dirangsang oleh diri sendiri. Ketertarikan siswa berperan dalam timbulnya minat. Siswa yang tertarik berarti menunjukkan adanya indikator minat dalam diri siswa tersebut. Ketertarikan tersebut muncul karena orang, benda, pelajaran, atau metode yang digunakan mempunyai daya tarik yang mampu menarik segenap diri siswa untuk dengan seutuhnya tertarik dengan apa yang menariknya. c. Perhatian siswa
Perhatian merupakan aktivitas terhadap pengamatan dan pengertian dengan mengesampingkan yang lain daripada itu. Jika perhatian siswa sudah seutuhnya terpusat pada sesuatu, maka dengan sungguh-sungguh siswa akan ikut dalam pelajaran atau pembelajaran. Perhatian siswa yang terpusat tidak akan mudah digoyahkan. Siswa akan sungguh-sungguh dan tidak akan setengah-setengah jika perhatiannya sudah tertarik. Indikasi minat muncul jika perhatian siswa sudah sungguh-sungguh.
d. Keterlibatan siswa
Ketertarikan terhadap suatu objek yang mengakibatkan orang tersebut senang dan tertarik untuk melakukan atau mengerjakan kegiatan dari objek tersebut.
22
a. Siswa lebih menyukai suatu hal tertentu daripada lainnya
Siswa akan tampak lebih menyukai hal yang menurutnya menarik. Perasaan lebih menyukai ini dapat dikatakan sebagai indikator adanya minat dari dalam diri siswa tanpa adanya paksaan.
b. Siswa berpartisipasi penuh dalam aktivitas
Siswa yang berpartisipasi penuh dalam suatu kegiatan berarti sudah menimbulkan tanda-tanda bahwa dirinya sangat minat dengan aktivitas tersebut.
c. Siswa memberi perhatian lebih
Siswa yang memberi perhatian lebih dengan mau bertanya, mau beraktivitas penuh, bahkan mengajak teman-temannya untuk terlibat, sudah menunjukkan bahwa siswa tersebut minat terhadap yang ia perhatikan. Selain itu, perhatian siswa tidak mudah terpecahkan, tidak mudah terganti oleh kegiatan lain.
Jika Farida Rahim mengartikan minat membaca ialah keinginan yang kuat disertai usaha-usaha seseorang untuk membaca, maka dapat dikatakan bahwa minat belajar ialah keinginan yang kuat disertai usaha-usaha seseorang untuk belajar. Jika memliki minat belajar yang tinggi dapar dikatakan bahwa siswa akan membangun usaha untuk dapat belajar juga menampakkan keminatan dalam dirinya terhadap suatu objek.
Faktor yang mempengaruhi minat ada beberapa. Menurut Frymer (Rahim, 2008:28) mengidentifikasi tujuh faktor yang mempengaruhi minat siswa. Faktor tersebut adalah.
23
a. Pengalaman sebelumnya; siswa tidak akan mengembangkan minatnya terhadap sesuatu jika mereka belum pernah mengalaminya.
b. Konsepsinya tentang diri; siswa akan menolak informasi yang dirasa mengancamnya, sebaliknya siswa akan menerima jika informasi tersebut dipandang berguna dan membantu meningkatkan dirinya
c. Nilai-nilai; minat siswa timbul jika sebuah mata pelajaran disajikan oleh orang yang berwibawa
d. Mata pelajaran yang bermakna; informasi yang mudah dipahami oleh siswa akan menarik minat mereka
e. Tingkat keterlibatan tekanan; jika siswa merasa di dirinya mempunyai beberapa tingkat pilihan dan kurang tekanan, minat mereka mungkin akan lebih besar
f. Kekompleksitasan materi pelajaran; siswa yang lebih mampu secara intelektual dan fleksibel secara psikologis lebih tertarik kepada hal yang lebih kompleks.
Dapat disimpulkan bahwa minat belajar ialah adanya ketertarikan dan keinginan hati diri sendiri untuk mau berproses dan berusaha untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang menyeluruh sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan sekitarnya. 3. Minat Belajar Bahasa Jawa
Jika minat belajar ialah adanya ketertarikan dan keinginan hati diri sediri untuk mau berproses dan berusaha untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang menyeluruh sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam
24
interaksinya dengan lingkungan sekitarnya, dan bahasa Jawa adalah pembelajaran bahasa di daerah Jawa yang berisi budaya, unggah-ungguh, dan lain-lain. Maka, minat belajar bahasa Jawa ialah adanya ketertarikan dalam diri siswa yang muncul dari dalam diri siswa untuk memperoleh perubahan dalam dirinya melalui pembelajaran bahasa Jawa lewat pelajaran maupun lewat kehidupan sehari-harinya.
Minat belajar bahasa Jawa berarti bahwa siswa memiliki ketertarikan tersendiri dalam mempelajari bahasa Jawa untuk perubahan dirinya. Minat di sini terjadi dari dalam diri siswa. Mulai dari ketertarikan siswa terhadap pelajaran bahasa Jawa yang bisa didapatnya melalui pelajaran yang menyenangkan mereka.
4. Faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar Bahasa Jawa Siswa a. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor dari dalam diri seperti membangun perasaan senang, membangun minat dalam diri untuk belajar bahasa Jawa.
b. Faktor Eksternal 1) Guru
Dalam lingkungan sekolah, membangkitkan minat belajar siswa merupakan tugas guru (Sofan, 2011: 40). Guru harus benar-benar menguasai semua keterampilan yang dibutuhkan dalam pengajaran. Guru juga harus mengetahui bagaimana kondisi siswa dan bagaimana cara menarik perhatian siswa.
25
Guru juga sebaiknya berusaha membentuk minat-minat baru dalam diri siswa. Dapat dilalui dengan memberikan informasi pada siswa tentang hubungan satu pelajaran terhadap pelajaran lain.
Menurut Rooijakkers (Slameto, 2003: 181) meningkatkan minat akan dapat dicapai juga dengan cara guru menyelipkan berita sensasional agar siswa tertarik. Misalnya, bila guru ingin menyampaikan tentang konsep berat, maka guru bisa menceritakan peristiwa manusia pertama ke bulan.
2) Media
Secara umum media merupakan kata jamak dari “medium” yang berarti perantara atau pengantar (Sanjaya, 2012: 163). Media merupakan alat yang digunakan untuk membantu guru dalam menjelaskan suatu materi pelajaran. Media sendiri bisa berupa alat, bahan, orang atau kondisi yang memungkinkan siswa dapat belajar dan mendapatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Media pembelajaran sendiri dapat digolongkan dalam perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Hardware adalah alat pengantar pesannya, sedangkan software adalah isi programnya.