BAB I PENDAHULUAN
D. Manfaat Penelitian
a. Memberikan sumbangan bagi pengembang pengetahuan khususnya tentang hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial dengan penerapan pendekatan reciprocal teaching.
b. Memberikan konstribusi bahwa hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada murid kelas V dapat ditingkatkan melalui penerapan pendekatan
reciprocal teaching.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru
Sebagai masukan dalam upaya peningkatan hasil belajar murid serta efektifitas dalam penyajian pembelajaran IPS.
b. Bagi Murid
Mengembangkan dan meningkatkan kemampuan murid dalam proses pembelajaran, sehingga hasil belajar murid dapat meningkat.
c. Bagi Sekolah
Bagi sekolah hasil penelitian ini akan memberikan perbaikan mutu hasil belajar IPS di kelas V SDN 3 Lemba Kabupaten Soppeng.
d. Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi awal bagi peneliti lain yang mengangkat tema sejenis.
8 A. Kajian Pustaka
1. Hasil Penelitian Yang Relevan
Asiah; 2011, peningkatan hasil belajar IPS melalui penerapan pendekatan reciprocal teaching murid kelas V SDN 249 Mattiro bulu kab. Soppeng. ”Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa hasil belajar meningkat melalui penerapan pendekatan reciprocal teahing. Hal ini dapat dilihat dari rata - rata hasil belajar murid pada siklus I yaitu 64,17 meningkat pada siklus II menjadi 87,5.
Sedangkan Sugian; 2010, Dengan judul penelitian “Peningkatan hasil belajar PKn melalui penerapan pendekatan reciprocal teaching murid kelas IV SDN 23 Tanete kab. Soppeng. ”Menunjukkan peningkatan terhadap motivasi murid pada siklus I dan siklus II. Selain meningkatkan motivasi belajar metode juga dapat meningkatkan prestasi belajar murid.
2. Pembelajaran IPS a. Pengertian IPS
Secara umum Ilmu Pengetahuan Sosial adalah ilmu yang mempelajari mengenai hal - hal yang berkaitan dengan kehidupan sosial yang mengkaji berbagai disiplin ilmu sosial dan humaniora serta kegiatan dasar manusia yang dikemas secara ilmiah dalam rangka memberi wawasan dan pemahaman yang mendalam kepada peserta didik, khususnya ditingkat dasar dan menengah.
Luasnya kajian IPS ini mencakup berbagai kehidupan yang beraspek majemuk baik hubungan sosial, ekonomi, psikologi, budaya, sejarah, maupun politik, semuanya dipelajari dalam ilmu sosial ini. Aspek ekonomi yang meliputi perkembangan, faktor, dan pemasalahannya dipelajari dalam ilmu ekonomi.
Aspek budaya dengan segala perkembangan dan permasalahannya dipelajari dalam antropologi. Aspek sejarah yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan manusia dipelajari dalam ilmu sejarah. Begitu juga aspek geografi yang memberikan karakter ruang terhadap kehidupan masyarakat dipelajari dalam ilmu geografi.
Menurut Zuraik dalam Susanto (2013: 138) hakikat IPS adalah harapan untuk mampu membina suatu masyarakat yang baik di mana para anggotanya benar - benar berkembang sebagai insan sosial yang rasional dan penuh tangung jawab, sehingga oleh karenanya diciptakan nilai - nilai. Hakikat IPS di sekolah dasar memberikan pengetahuan dasar dan keterampilan sebagai media pelatihan bagi murid sebagai warga negara sedini mungkin. Karena pendidikan IPS tidak hanya memberikan pengetahuan semata, tetapi harus berorientasi pada pengembangan keterampilan berfikir kritis, sikap, dan kecakapan - kecakapan dasar murid yang berpijak pada kenyataan kehidupan sosial kemasyarakatan sehari - hari dan memenuhi kebutuhan bagi kehidupan sosial murid di masyarakat.
Jadi hakikat IPS adalah untuk mengembangkan konsep pemikiran yang berdasarkan realita kondisi sosial yang ada di lingkungan murid, sehingga dengan memberikan pendidikan IPS diharapkan dapat melahirkan warga negara yang baik dan bertangung jawab terhadap bangsa dan negaranya. Pendidikan IPS saat ini
dihadapkan pada upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, sehingga eksistensi pendidikan IPS benar - benar dapat mengembangkan pemahaman konsep dan keterampilan kritis. Sayangnya, kenyataan di lapangan bahwa masih banyak yang beranggapan bahwa pendidikan IPS kurang memiliki kegunaan yang besar bagi murid dibandingkan pendidikan IPA dan Matematika yang mengkaji bidang pengembangan dalam sains dan teknologi. Tentu anggapan tersebut kurang tepat, karena disadari bahwa pendidikan IPS dikembangkan dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang nilai dan sikap, pengetahuan, serta kecakapan dasar murid yang berpijak pada kehidupan nyata, khususnya kehidupan masyarakat pada umumnya. Pembelajaran IPS di harapkan dapat menyiapkan anggota masyarakat di masa yang akan datang, mampu bertindak secara efektif. Nilai - nilai yang wajib di kembangkan dalam pendidikan IPS, yaitu: nilai - nilai edukatif, praktis, teoritis, filsafat, dan kebutuhan. Jadi.
hakikat pendidikan IPS itu hendaknya dikembangkan berdasarkan realita kondisi soaial budaya yang ada di lingkungan murid, sehingga dengan ini akan membina warga negara yang baik yang mampu memahami dan menelaah secara kritis kehidupan sosialnya di sekitarnya, serta mampu secara aktif berpartisipasi dalam lingkungan kehidupan, baik di masyarakatnya, negara, dan dunia.
b. Pendapat Para Ahli Tentang Pembelajaran IPS
Nasution. D, Prof, Dr M. A (1975) merumuskan bahwa IPS adalah suatu program pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan, yang pada pokoknya mempersoalkan manusia dalam lingkungan alam fisik, maupun dalam lingkungan sosialnya yang bahannya diambil dari berbagai ilmu - ilmu sosial seperti:
geografi, sejarah, ekonomi, antropologi, sosiologi, politik dan psikologi sosial. Dapat juga dikatakan bahwa IPS pelajaran yang merupakan fusi atau paduan dari sejumlah mata pelajaran ilmu - ilmu sosial. Atau IPS merupakan mata pelajaran yang menggunakan bagian - bagian tertentu dari ilmu - ilmu sosial.
A. Kosasi Djahiri (1983) merumuskan bahwa IPS adalah merupakan ilmu pengetahuan yang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabang ilmu sosial dan ilmu lainnya serta kemudian diolah berdasarkan prinsip - prinsip pendidikan dan didaktik untuk dijadikan program pengajaran pada tingkat persekolahan.
Moeljono Cokrodikardjo mengemukakan bahwa IPS adalah perwujudan dari suatu pendekatan interdisipliner dari ilmu sosial. Ia merupakan integrasi dari berbagai cabang ilmu sosial yakni sosiologi, antropologi budaya, psikologi, sejarah, geografi, ekonomi, ilmu politik dan ekologi manusia, yang diformulasikan untuk tujuan instruksional dengan materi dan tujuan yang disederhanakan agar mudah dipelajari.
S. Nasution mendefinisikan IPS sebagai pelajaran yang merupakan fusi atau paduan sejumlah mata pelajaran sosial. Dinyatakan bahwa IPS merupakan bagian kurikulum sekolah yang berhubungan dengan peran manusia dalam masyarakat yang terdiri atas berbagai subjek sejarah, ekonomi, geografi, sosiologi, antropologi, dan psikologi sosial.
Nu’man Soemantri menyatakan bahwa IPS merupakan pelajaran ilmu - ilmu sosial yang disederhanakan untuk pendidikan tingkat SD, SLTP, dan SLTA.
Penyederhanaan mengandung arti: a) menurunkan tingkat kesukaran ilmu - ilmu
sosial yang biasanya dipelajari di universitas menjadi pelajaran yang sesuai dengan kematangan berfikir siswa siswi sekolah dasar dan lanjutan,
b) mempertautkan dan memadukan bahan aneka cabang ilmu - ilmu sosial dan kehidupan masyarakat sehingga menjadi pelajaran yang mudah dicerna.
http://pgmionemode.blogspot.com/2012/04/pengertian-fungsi-dan-tujuan.html
c. Ruang Lingkup IPS
Secara mendasar, pembelajaran IPS berkenaan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. IPS berkenaan dengan cara manusia memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan untuk memenuhi materi, budaya, dan kejiwaannya; memanfaatkan sumber daya yang ada di permukaan bumi, mengatur kesejahteraan dan pemerintahannya maupun kebutuhan lainnya dalam rangka mempertahankan kehidupan masyarakat manusia. Singkatnya, IPS mempelajari, menelaah, dan mengkaji sistem kehidupan manusia di permukaan bumi ini dalam konteks sosialnya atau manusia sebagai anggota masyarakat.
Pada jenjang pendidikan dasar, ruang lingkup pengajaran IPS dibatasi sampai pada gejala dan masalah sosial yang dapat dijangkau pada geografi dan sejarah. Terutama gejala dan masalah sosial kehidupan sehari - hari yang ada di lingkungan sekitar peserta didik MI/SD.
Sebagaimana telah dikemukakan di depan, bahwa yang dipelajari IPS adalah manusia sebagai anggota masyarakat dalam konteks sosialnya, ruang lingkup kajian IPS meliputi (1) substansi materi ilmu - ilmu sosial yang bersentuhan dengan masyarakat dan (2) gejala, masalah, dan peristiwa sosial tentang kehidupan masyarakat. Kedua lingkup pengajaran IPS ini harus diajarkan secara
terpadu karena pengajaran IPS tidak hanya menyajikan materi - materi yang akan memenuhi ingatan peserta didik tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan sendiri sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.
http://faridanovita.blogspot.com/2013/04/ips-pengertian-tujuan-dan-ruang lingkup.html
d. Hakikat Pembelajaran IPS
Hakekat dari IPS terutama jika disorot dari anak didik adalah sebagai pengetahuan yang akan membina para generasi muda belajar ke arah positif yakni mengadakan perubahan - perubahan sesuai kondisi yang diinginkan oleh dunia modern atau sesuai daya kreasi pembangunan serta prinsip - prinsip dasar dan sistem nilai yang dianut masyarakat, serta membina kehidupan masa depan masyarakat secara lebih cemerlang dan lebih baik untuk kelak diwariskan kepada turunannya secara lebih baik. IPS sebagai paduan dari sejumlah subjek ilmu yang isinya menekankan pembentukan warga negara yang baik dari pada menekankan isi dan disiplin subjek tersebut. Dalam Kurikulum IPS 1975, dikatakan sebagai berikut: IPS adalah bidang studi yang merupakan paduan dari sejumlah mata pelajaran sosial.
Bidang pengajaran IPS terutama akan berperan dalam pembinaan kecerdasan keterampilan, pengetahuan, rasa tanggung jawab, dan demokrasi.
Pokok - pokok persoalan yang dijadikan bahan pembahasan difokuskan pada masalah kemasyarakatan indonesia yang aktual. IPS mengembang dua fungsi utama yaitu, membina pengetahuan, kecerdasan dan keterampilan yang
bermanfaat bagi pengembangan dan kelanjutan pendidikan siswa dan membina sikap yang selaras dengan nilai - nilai Pancasila dan UUD 45.
Proses pembelajaran pendidikan IPS dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan sesuai dengan kebutuhan dan tingkat usia peserta didik masing - masing. Ragam pembelajarannya pun harus disesuaikan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan. Secara formal, proses pembelajaran dan membelajarkan itu terjadi di sekolah, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
http://akhmadlabib.blogspot.com/2010/11/pengertian-fungsi-ruang-lingkup-dan.html
e. Tujuan Mata Pelajaran IPS
Mengenai tujuan ilmu pendidikan sosial (pendidikan IPS), para ahli sering mengkaitkannya dengan berbagai sudut kepentingan dan penekanan dari program pendidikan tersebut. (Depdikbud, 2003) menyebutkan bahwa “tujuan pendidikan IPS adalah untuk mempersiapkan murid menjadi warga negara yang baik dalam kehidupannya di masyarakat.” Ilmu pengetahuan sosial juga membahas hubungan antara manusia dan lingkungannya. Lingkungannya masyarakat dimana anak didik tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat, dihadapkan pada berbagai permasalahan yang ada dan terjadi di lingkungan sekitarnya. Pendidikan IPS yang berusaha membantu murid dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sehingga akan menjadikannya semakin mengerti dan memahami lingkungan sosial masyarakatnya.
Pada dasarnya tujuan dari pendidikan IPS adalah untuk mendidik dan memberi bekal kemampuan dasar kepada murid untuk mengembangkan diri
sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan lingkungannya, serta berbagai bekal bagi murid untuk melanjutkan pendidikan pada tingkatan yang lebih tinggi.
Berdasarkan pengertian dan tujuan dari pendidikan IPS tampaknya dibutuhkan suatu pola pembelajaran yang mampu menjebatani tercapainya tujuan tersebut. Kemampuan dan keterampilan guru dalam memilih dan menggunakan berbagai model, metode, strategi pembelajaran senantiasa terus ditingkatkan, agar pembelajaran pendidikan IPS benar - benar mampu mengkondisikan upaya pembelajaran kemampuan dan keterampilan dasar bagi murid, untuk menjadi manusia dan warga negara yang baik. Pola pembelajaran pendidikan IPS menekankan pada unsur pendidikan dan pembekalan pada murid. Penekanan pembelajarannya bukan sebatas pada upaya mencekoki atau menjajaki murid dengan sejumlah konsep yang bersifat hafalan belaka, melainkan terletak pada upaya agar mereka mampu menjadikan apa yang telah dipelajarinya sebagai bekal dalam memahami dan ikut serta dalam melalui kehidupan masyarakat lingkungannya serta sebagai bekal bagi dirinya untuk melanjutkan penekanan misi dari pendidikan IPS. Oleh karena itu, rancangan pembelajaran guru hendaknya diarahkan dan difokuskan sesuai dengan kondisi dan perkembangan potensi murid agar pembelajaran yang dilakukan benar - benar berguna dan bermanfaat bagi murid.
f. Fungsi Pembelajaran IPS
Pendidikan IPS pada hakekatnya berfungsi untuk membantu perkembangan peserta didik memiliki konsep diri yang baik, membantu pengenalan dan apresiasi tentang masyarakat global dan komposisi budaya, sosialisasi proses sosial,
ekonomi, politik, membantu siswa untuk mengetahui waktu lampau dan sekarang sebagai dasar untuk mengambil keputusan, mengembangkan kemampuan untuk memecahkan masalah dan keterampilan menilai, membantu perkembangan peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan masyarakat (Skeel, 1995: 11). Banks dan Clegg (1985) mengemukakan bahwa pendidikan IPS berupaya membentuk peserta didik menjadi warga negara yang baik, mampu berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang ada dalam masyarakatnya.
Pembelajaran IPS di sekolah dasar berfungsi mengembangkan pengetahuan dalam kehidupan sehari - hari yang terus berkembang sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih guna menciptakan generasi yang mandiri dan sejahtera.
http://alfinuraini.blogspot.com/2011/01/fungsi-pendidikan-ips-bagi-peserta.html
g. Manfaat Pendidikan IPS
Manfaat yang didapat setelah mempelajari IPS, antara lain sebagai berikut:
1) Pengalaman langsung apabila guru IPS memanfaatkan lingkungan alam sekitar sebagai sumber belajar.
2) Kemampuan mengidentifikasi, menganalisis, dan menyusun alternatif pemecahan masalah sosial yang terjadi di masyarakat.
3) Kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga masyarakat.
4) Kemampuan mengembangkan pengetahuan sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi serta mempersiapkan diri untuk terjun sebagai anggota masyarakat (dalam Pustaka.ut.ac.id.2009: 263).
Manfaat pendidikan IPS di atas sangat dibutuhkan untuk membekali siswa dengan berbagai kemampuan. Melihat kemampuan siswa khususnya di tingkat SD masih sangat terbatas. Untuk itu, perlunya pengoptimalan dan pemaksimalan pembelajaran IPS SD agar dapat berpengaruh signifikan terhadap perkembangan siswa
3. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan terminologi dengan cakupan yang cukup luas, yang pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat belajar yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hal tersebut sebagaimana dikemukakan Winkel (1996: 244) bahwa “berdasarkan taksonomi bloom, aspek belajar yang harus di ukur keberhasilannya adalah aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sehingga dapat menggambarkan tingkah laku menyeluruh sebagai hasil belajar murid”. Ketiga aspek tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Dalam interaksi edukatif ada harapan yang bersifat timbal balik antara murid dengan guru, guru mengharapkan agar muridnya berhasil dalam bentuk pencapaian prestasi belajar yang ideal, sedangkan murid mengharapkan hasil dari dirinya sendiri sebagai efek profesionalisme gurunya dalam memberikan interaksi edukatif. Harapan yang dikemukakan kedua pihak dalam konteks belajar -mengajar sering dikenal dengan istilah prestasi belajar.
Hasil belajar dan prestasi belajar ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, berbicara hasil belajar maka orientasinya adalah berbicara prestasi belajar yang diukur dengan nilai tertentu. Hal ini dibuktikan
pula dengan sejumlah pengertian yang dikemukakan para ahli, diantaranya menurut Al Barry (1994: 534), prestasi didefinisikan sebagai “Hasil yang telah dicapai”, sedangkan dalam kamus umum bahasa indonesia yang disusun oleh Poerwadarminta (1986: 624), prestasi belajar diartikan sebagai “Hasil yang telah dicapai seseorang setelah melakukan kegiatan tertentu atau dengan kata lain prestasi adalah hasil yang telah dicapai berdasarkan tinggi atau rendahnya nilai hasil belajar”.
Pencapaian hasil belajar dapat diukur dengan melihat prestasi belajar yang diperoleh maupun pada proses pembelajaran. Prestasi belajar sebagai tolak ukur kemampuan kognitif (intelektual) murid tidak terlepas dari proses pembelajaran di kelas dan berbagai bentuk interaksi belajar lainnya. Menurut Mappasoro (2006: 1-2) bahwa hasil belajar adalah “sejumlah perubahan yang terjadi pada diri seseorang yang disebabkan oleh faktor lain di luar belajar seperti perubahan karena kematangan, perubahan karena kelelahan fisik, dan sebagainya”. Adapun Sudjana (1995: 22) menyatakan bahwa “hasil belajar adalah kemampuan -kemampuan yang dimiliki murid setelah ia menerima pengalaman belajarnya”.
Berdasarkan beberapa pengertian yang telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang telah dicapai setiap individu setelah melaksanakan usaha untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan perilaku melalui pengalaman dan interaksi edukatif.
Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh berupa kesan - kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil aktivitas belajar.”
Charisman (Haling, 2004: 12) mengemukakan bahwa : Hasil yang dicapai murid sebagai bukti dalam belajar berupa nilai - nilai pengetahuan, keterampilan, dan sikap murid sehingga menimbulkan tingkah laku yang berkembang ke arah kemajuan dan kemudahan dalam menyusuaikan diri dengan lingkungannya.
Abdullah (1998: 18) menjelaskan bahwa : “Hasil belajar merupakan indikator kualitas pengetahuan yang dikuasai oleh anak. Tinggi rendahnya hasil belajar dapat menjadi indikator sedikit banyaknya pengetahuan yang dikuasai anak dalam bidang studi atau kurikulum tertentu.”
Alwi, dkk. (2005: 1110) mengemukakan :“Hasil belajar adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh murid dalam mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan yang ditetapkan yang melipui kawasan kognitif, afektif, dan kemampuan / kecakapan belajar seorang pelajar.”
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPS adalah hasil yang dicapai murid setelah melakukan aktivitas belajar ilmu pengetahuan sosial yang diwujudkan dalam bentuk nilai.
4. Kategori Hasil Belajar
Horward Kingsley (Sudjana, 1995: 22) menyatakan bahwa “hasil belajar dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori, yakni: 1) keterampilan dan kebiasaan, 2) pengetahuan dan pengertian, dan 3) sikap dan cita - cita”. Masing - masing jenis hasil belajar tersebut dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Selanjutnya Gagne (Sudjana, 1995: 22) membagi “lima kategori hasil belajar, yakni: 1) informasi verbal, 2) keterampilan intelektual, 3) strategi kognitif, 4) sikap, dan 5) keterampilan motoris”.
Namun dalam sistem pendidikan nasional, rumusan tujuan pendidikan baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang dikenal dengan istilah Taksonomi Bloom.
Menurut Sudjana (1995: 22) bahwa “secara garis besar taksonomi bloom terdiri atas tiga ranah dan mencakup beberapa jenjang, yaitu:
1) Ranah kognitif adalah kemampuan intelektual yang mencakup jenjang : pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis dan evaluasi.
2) Ranah afektif adalah perasaan emosi atau nilai. Afektif memiliki jenjang, yakni: penerimaan, tanggapan, penilaian, pengorganisasian, dan pemeran.
3) Ranah psikomotorik adalah kemampuan yang mengutamakan gerak perilaku yang melibatkan pemahaman yang dimiliki. Aspek psikomotorik memiliki jenjang, yakni: persepsi, kesiapan, respon, mekanisme, respon kompleks, penyesuaian dan kreativitas.
Berdasarkan hal tersebut, maka hasil belajar yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah prestasi belajar yang diperoleh dari kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, jika standar kompetensi dan kompetensi dasar dipandang sebagai suatu harapan yang akan diperoleh murid setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar, maka prestasi belajar dalam penelitian ini adalah seberapa besar standar kompetensi dan kompetensi dasar tersebut tercapai. Hal ini sebagaimana dikemukakan Muslich (2007: 22) bahwa “hasil belajar murid dirumuskan sebagai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dinyatakan
dalam bentuk yang lebih spesifik dan merupakan komponen dari tujuan umum bidang studi”.
Dalam penelitian ini hasil belajar IPS, hanya dibatasi pada penguasaan bahan ajar kelas V yang diberikan dengan mengacu pada indikator pembelajaran yang telah disusun pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), yaitu skor hasil tes belajar murid setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar yang menggunakan pendekatan reciprocal teaching.
5. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar juga sering disebut prestasi belajar yang diperoleh dari proses belajar yang terungkap melalui evaluasi belajar. Dalam proses pembelajaran di sekolah, guru selalu mengharapkan agar murid dapat mencapai hasil yang maksimal. Namun dalam kenyataannya tidak semua murid dapat seperti yang diharapkan, sebab ada beberapa faktor yang mempengaruhinya.
Hadinoto (dalam Darmadji, 2007: 28) menyebutkan bahwa faktor - faktor yang mempengaruhi hasil belajar ada dua macam, yaitu :
Faktor biologis, misalnya anak yang lemah atau sering sakit, tentu tidak dapat belajar dengan baik. Murid yang bersangkutan tidak dapat berkonsentrasi dalam proses belajar mengajar sehingga hasil atau prestasi belajarnya akan berkurang.
Faktor psikologi yang turut mempengaruhi hasil belajar atau prestasi belajar murid, antara lain : intelegensi, bakat, minat, perhatian, dan konstelasi psikis yang lain.
Tabrani (dalam Darmadji, 2007: 31) bahwa faktor - faktor yang mempengaruhi suksesnya belajar adalah:
1) Faktor internal, yang terdiri atas: a) faktor jasmani, b) faktor psikologis (intelektual dan non-intelektual, c) faktor kematangan psikis dan fisik.
2) Faktor eksternal, yang meliputi: a) faktor sosial (keluarga, sekolah dan masyarakat), b) faktor budaya (seni, ilmu dan teknologi), c) faktor lingkungan spiritual atau keagamaan.
Ahmadi (dalam Darmadji, 2007: 32) mengemukakan bahwa faktor - faktor yang mempengaruhi hasil belajar, antara lain:
Faktor endogen, yakni faktor yang datang dari diri sendiri. Faktor ini meliputi : faktor biologis (faktor yang bersifat jasmaniah) di antaranya kesehatan dan cacat badan
Faktor eksogen, yakni faktor yang datang dari luar diri. Faktor ini meliputi: lingkungan keluarga (orang tua, suasana rumah dan ekonomi keluarga). Di samping itu ada juga faktor lingkungan masyarakat (media dan teman bergaul, corak kehidupan tetangga, kegiatan / kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat).
Menurut Sudjana (dalam Darmadji, 2007: 33) bahwa “hasil belajar dalam suatu bidang studi tergantung pada kesempatan untuk belajar dan relatif terhadap bakat. Di samping itu dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu: minat, sikap, perhatian dan motivasi”.
6. Hasil Belajar IPS
Ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan salah satu bidang yang mempelajari seluk beluk kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan.
Konsep inilah yang harus ditanamkan pada anak didik untuk dipahami dan dipetik nilai dan manfaatnya dalam hubungannya dengan kehidupan masyarakat. Dengan demikian, hasil dan prestasi belajarnya dapat meningkat.
Dengan dimikian, hasil belajar yang istilah populernya adalah apa yang dikuasai dan seberapa jauh penguasaan yang dicapai oleh murid setelah melakukan proses belajar mengajar tertentu. Hasil belajar yang dimaksaud ialah
Dengan dimikian, hasil belajar yang istilah populernya adalah apa yang dikuasai dan seberapa jauh penguasaan yang dicapai oleh murid setelah melakukan proses belajar mengajar tertentu. Hasil belajar yang dimaksaud ialah