BAB I PENDAHULUAN
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi pembaca, baik secara teoretis maupun praktis.
1. Manfaat Teoretis
1. Untuk lebih memperkenalkan atau menyebarluaskan dan mengembangkan ilmu pragmatik.
2. Untuk menambah khasanah ilmu bahasa terutama pada kajian ilmu pragmatik khususnya pada kajian tindak tutur direktif dalam dialog antartokoh sebuah novel.
2. Manfaat Praktis
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman/wawasan tentang tinjauan tindak tutur, pengembangan ilmu pragmatik, dan memberikan sumbangan pikiran terhadap khalayak pengguna bahasa, terutama kepada tenaga-tenaga edukatif yang membidangi ilmu kebahasaan dan sastra dan memberikan sumbangsi maupun rujukan referensi bagi para peneliti sastra.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Kajian Pustaka
Kajian pustaka yang dipaparkan dalam penelitian ini pada dasarnya dijadikan acuan untuk mendukung dan menjelaskan penelitian ini. Selain itu, teori merupakan landasan suatu penelitian untuk mencapai target yang diinginkan. Sehubungan dengan masalah yang diteliti, kerangka teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini diuraikan sebagai berikut :
1. Penelitian yang Relevan
Beberapa peneliti sebelumnya telah melakukan penelitian yang relevan dengan penelitian yang dilakukan penulis terhadap sebuah novel khususnya analisis tindak tutur direktif dalam novel “Rumah Kaca” Karya Pramoedya Ananta Toer (Suatu Tinjauan Pragmatik). Beberapa penelitian sebelumnya yang menggunakan jenis penelitian deskriptif yang relevan dengan penelitian ini yaitu, 1) Tinjauan Pragmatik Tindak Tutur Direktif dalam Scrip Ada Apa Dengan Cinta? Karya Rudi Soedjarwo oleh Meila Purwantia (31160184) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Muhammadiyah Surakarta 2010. 2) Tindak Tutur Direktif dan Kesantunan Negatif dalam Reality Show Minta Tolong Di Rajawali Citra Televisi Indonesia oleh Ririn Linda Tunggal Sari (c0206046) Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta 2011. 3) Tindak Tutur Direktif dalam Dialog Antartokoh Film “Sepotong Jatih yang Rapuh” Karya
6
Abd. Rahman Rahim oleh Surianto (10533574609) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Univeristas Muhammadiyah Makassar.
Ketiga penelitian di atas memiliki persamaan yang menggunakan ilmu bahasa pragmatik yang sama-sama meneliti tindak tutur direktif baik novel maupun dialog antartokoh film. Kemudian yang membedakannya yaitu Pemilihan Film Ada Apa Dengan Cinta? Sebagai objek penelitian dengan melihat tindak tutur direktif yang terdapat dalam scrip. Bentuk tindak tutur selain dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, sering dilakukan dalam dialog drama, teater, wayang dan ketoprak. Tuturan (1) suatu tindak tutur menasehati, yang ditandai dengan kalimat mending ini gak usah dibahas. Tuturan (2) suatu tindak tutur menyuruh ditandai dengan kalimat lihat aja dulu. Tuturan tersebut termasuk dalam bentuk tindak tutur direktif. Penelitian relevan yang kedua terfokus pada masalah bahasa dalam dialog pada acara RSMT yang terbatas pada masalah realisasi tindak tutur direktif dan strategi kesantunan negatif yang digunakan oleh peminta tolong dalam RSMT.
Dalam penulisan ini tidak semua tuturan diteliti, melainkan hanya tuturan yang mencerminkan tindak tutur direktif dan kesantunan negatif saja. Penelitian relevan yang ketiga yaitu dalam Film “Sepotong Jati yang Rapuh” karya Abd.
Rahman Rahim di dalamnya terdapat tindak tutur yang menarik seperti kekhasan berbicara dalam mengungkapkan perasaan dan menyampaikan pesan. Menganggap bahwa karya sastra film merangkum peristiwa tutur maupun tindak tutur dan semua kegiatan bersama.
2. Pengertian Pragmatik
Lingustik sebagai ilmu kajian bahasa memiliki berbagai cabang. Cabang-cabang itu diantaranya adalah fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, pragmatik, dan sebagainya. Salah satu disiplin ilmu yang mengkaji mengenai tindak tutur adalah pragmatik. Pragmatik merupakan kajian atau makna yang muncul dalam penggunaan bahasa. Pragmatik didefiniskan berbeda-beda berdasrkan pandangan para pakar.
Pragmatik adalah kajian tentang arti yang disampaikan atau dikomunikasikan oleh pembicara dan diinterpretasikan oleh pendengar. Dengan kata lain, pragmatik mencakupi kajian makna yang dikomunikasikan oleh pengguna bahasa. Arti atau makna yang dikomunikasikan oleh pengguna bahasa melebihi dari makna yang terucap dalam tulisan ini.
Wijana (1996: 2) berpendapat bahwa pragmatik sama halnya dengan semantik yang sama-sama mengkaji tentang makna-makna satuan lingual, hanya saja semantik mempelajari makna secara internal, sedangkan pragmatik mempelajari makna secara eksternal, karena telaah semantik adalah makna yang bebeas konteks, sedangkan makna yang dikaji oleh pragmatik adalah makna yang terikat oleh konteks.
Firth (dalam Wijana, 1996: 5) mengemukakan bahwa kajian bahasa tidak dapat dilakukan tanpa mempertimbangkan konteks situasi yang meliputi partisipan, tindakan partisipasi (baik tindak verbal maupun tindak non-verbal), ciri-ciri situasi lain yang relevan dengan hal yang sedang berlangsung, dan dampak-dampak tindakan tutur yang diwujudkan dengan bentuk perubahan-perubahan yang timbul akibat tindakan partisipan.
Wijana (1996:6) mengungkapkan bahwa pragmatik dan sosiolinguistik adalah dua cabang ilmu bahasa yang muncul akibat ketidakpuasan terhadap penanganan bahasa yang terlalu bersifat formal yang dilakukan oleh kaum strukturalis. Hubungan pragmatik dan sosilinguistik masing-masing memiliki titik sorot yang berbeda di dalam melihat kelemahan pandangan kaum strukturalis.
Pragmatik sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana bahasa digunakan dan bagaimana bahasa tersebut diintegrasikan ke dalam konteks (Kasher, 1998). Levinson (dalam Surono, 2014) memberikan setidaknya dua pengertian pragmatik yang dikaitkan dengan konteks, yaitu: (a) pragmatik adalah kajian ihwal hubungan antara bahasa dan konteks yang digramatikalisasikan dan dikodekan dalam struktur bahasa, dan (b) pragmatik adalah kajian ihwal kemampuan pengguna bahasa untuk menyesuaikan kalimat dengan konteks sehingga kalimat itu patut atau tepat diujarkan.
Pragmatik adalah studi tentang makna yang disampaikan oleh penutur (penulis) dan ditafsirkan oleh pendengar (pembaca). Sebagai akibatnya studi ini lebih banyak berhubungan dengan analisis tentang apa yang dimaksudkan orang dengan tuturan-tuturannya daripada dengan makna terpisah dari kata atau frasa yang digunakan dalam tuturan itu sendiri. Pragmatik adalah studi tentang maksud penutur (Yule, 2006:3).
Tipe studi ini perlu melibatkan penafsiran tentang apa yang dimaksudkan orang di dalam suatu konteks khusus dan bagaimana konteks itu berpengaruh terhadap apa yang dikatakan. Diperlukan suatu pertimbangan tentang bagaimana cara penutur mengatur apa yang mereka katakan yang disesuaikan dengan orang yang mereka ajak bicara, di mana, kapan dan dalam keadaan apa. Pragmatik adalah studi
tentang makna kontekstual (Yule,2006:3-4). Pragmatik berkenan dengan syarat-syarat yang mengakibatkan serasi tidaknya pemakaian bahasa dalam komunikasi (KBBI, 2003:891).
Pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dan pemakai bentuk-bentuk itu. Manfaat belajar bahasa melalui Pragmatik ialah bahwa seorang dapat bertutur kata tentang makna ynag dimaksudkan orang, asumsi mereka, maksud atau tujuan mereka, dan jenis-jenis tindakan (sebagai contoh : permohonan) yang mereka perlihatkan ketika mereka sedang berbicara. Pragmatik itu menarik karena melibatkan bagaimana orang saling memahami satu sama lain. Secara Linguistik, Pragmatik dapat juga merupakan ruang lingkup studi yang mematahkan semangat karena studi ini mengharuskan kita untuk memahami orang lain dan apa yang ada dalam pikiran mereka (Yule, 2006:5-6). Pragmatik menurut George (dalam Tarigan, 1990:32) adalah menelaah keseluruhan perilaku insan, terutama sekali dalam hubungannya dengan tanda-tanda dan lambang-lambang. Pragmatik memusatkan perhatian pada cara insan berperilaku dan keseluruhan situasi pemberian tanda dan penerimaan tanda. Menurut Heatherngton (dalam Tarigan, 1990:32), pragmatik menelaah ucapan-ucapan khusus dalam situasi. Situasi khusus dan terutama sekali memusatkan perhatian pada aneka ragam cara yang merupakan wadah aneka konteks sosial performansi bahasa dapat mempengaruhi tafsiran atau interpretasi.
Dari berbagai pengertian Pragmatik di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Pragmatik adalah telaah mengenai makna yang disesuaikan dengan ujaran.
3. Ruang Lingkup Pragmatik
Pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang semakin maju saat ini. Sekitar dua dasawarsa silam cabang ilmu bahasa ini tidak pernah disambut oleh para pakar bahasa. Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis bahwa upaya menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatik, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi. Kehadiran pragmatik hanyalah tahap terakhir dari perkembangan linguistik yang berangsur-angsur, mulai dari disiplin ilmu yang menangani data fisik tuturan, menjadi disiplin ilmu yang sangat luas bersangkutan dengan bentuk, makna dan konteks.
Pragmatik merupakan telaah penggunaan bahasa untuk menuangkan maksud dalam tindak komunikasi sesuai dengan konteks dan keadaan pembicaraan. Dengan kata lain pragmatik menelaah bentuk bahasa dengan mempertimbangkan satuan-satuan yang ‘menyertai’ sebuah ujaran: konteks lingual (co-text) maupun konteks ekstralingual : tujuan, situasi, partisipan, dan lain sebagainya. Pragmatik mempunyai ruang lingkup tersendiri yang menjadi bidang kajiannya salah satunya yaitu tindak tutur. Firth (dalam Rahman Rahim 2008 : 1) mengemukakan bahwa kajian bahasa tidak dapat dilakukan tanpa mempertimbangkan konteks situasi yang meliputi partisipasi tindakan (baik tindak verbal maupun non verbal), ciri-ciri situasi lain yang relevan dengan hal yang sedang berlangsung, dan dampak tindak tutur dengan bentuk-bentuk perubahan yang timbul akibat tindakan partisipan. Sementara itu, Halliday (dalam Rahman Rahim 2008 : 1) memandang studi bahasa sebagai kajian tentang sistem atanda. Sebagai salah satu sistem tanda, menurutnya bahasa adalah sistem makna yang membentuk budaya manusia. Sistem makna ini berkaitan dengan
struktur sosial masyarakat. Kata-kata atau secara lebih bahasa yang digunakan oleh manusia memperoleh maknanya dari aktivitas-aktivitas yang merupakan kegiatan sosial dengan perantara-perantara dan tujuan-tujuan yang bersifat sosial pula.
Pragmatik dan sosiolinguistik adalah cabang ilmu bahasa yang muncul akibat adanya ketidakpuasan terhadap penanganan bahasa yang terlalu bersifat formal yang dilakukan oleh kaum strukturalis. Dalam hubungan ini pragmatik dan linguistik masing-masing memiliki ttik sorot yang berbeda di dalam melihat kelemahan pandangan kaum strukturalis. Hal yang menjadi keberatan kaum pragmatis adalah analisis-analisis kaum struktural yang semata-mata berorientasi pada bentuk tanpa mempertimbangkan bahwa satuan-satuan itu sebenarnya hadir dalam konteks, baik konteks yang bersifat lingual (co-tex) maupun konteks ekstralingual yang berupa seting spatial dan temporal. Diabaikannya konteks tuturan menyebabkan aliran struktural gagal menjelaskan berbagai masalah kebahasaan. Secara umum, objek kajian pragmatik dapat dibedakan atas deiksis, pranggapan, tindak ujar, dan implikatur percakapan.
Pertama, deiksis sebagai objek kajian pragmatik merupakan bentuk bahasa yang tidak memiliki acuan yang tetap sehingga maknanya sangat bergantung pada konteks kalimatnya. Deiksis adalah gejala semantik yang terdapat pada kata atau konstruksi yang hanya dapat ditafsirkan acuannya dengan mempertimbangkan konteks pembicaraan. Dengan kata lain adalah bahwa kata saya,sini,sekarang, misalnya, tidak memiliki acuan yang tetap melainkan bervariasi tergantung pada berbagai hal. Acuan dari kata saya menjadi jelas setelah diketahui di mana kata itu diucapkan. Demikian pula, kata sekarang ketika diketahui pula kapan kata itu
diujarkan. Dengan demikian, kata-kata di atas termasuk kata-kata yang deiksis.
Berbeda halnya dengan kata-kata sperti meja, kursi, mobil, dan komputer. Siapapun yang mengatakan, di manapun, dan kapanpun, kata-kata tersebut memiliki acuan yang jelas dan tetap. Berdasarkan konteksnya deiksis dapat dibedakan atas deiksis pesona, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis wacana, dan deiksis sosial.
Kedua, praanggapan merupakan pengetahuan latar belakang yang dapat memuat suatu tindakan atau ungkapan yang mempunyai makna masuk akal dan dapat diterima partisipan yang terlibat dalam peristiwa komunikasi. Dengan kata lain praanggapan merupakan asumsi pembicaraan yang membuat pendengar menerima pesan tanpa kesulitan.
Objek kajian pragmatik yang ketiga adalah tindak ujar atau tindak tutur, pada dasarnya terdapat beberapa tindakan dalam lingkup tindak ujar, antara lain:
permintaan, penawaran, ajakan, teguran, ataupun perintah. Menurut Austin (dalam Rahim 2008:6) tindak ujar memiliki tataran yang lebih tinggi dibandingkan sebagai sebuah konsep tentang kalimat. Mengucapkan sesuatu berarti melakukan sesuatu sehingga kalimat tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan informasi tetapi dalam hal tertentu berfungsi sebagai pelaksanaan tindakan itu sendiri.
Objek kajian pragmatik yang keempat adalah implikatur dari sebuah tuturan, implikatur merupakan makna tuturan yang tidak terungkap secara literal pada sebuah tuturan. Implikatur percakapan pada dasarnya merupakan suatu teori yang sifatnya inferensial, suatu teori tentang bagaimana orang menggunakan bahasa, keterkaitan makna suatu tuturan yang tidak terungkapkan secara literal pada tuturan itu.
Implikatur percakapan berarti apa yang diimplikasikan, disarankan, dan dimaksudkan
oleh penutur tidak terungkapkan secara literal dalam tuturannya. Beberapa para ahli kemudian menjelaskan defenisi dari implikatur tersebut sebagai berikut:
Untuk memahami makna tuturan maka implikatur haruslah didasarkan pada seperangkat asumsi seperti yang di kemukakan oleh Grice (dalam Rahman Rahim 2008 : 7). Untuk memahami suatu makna implikasi dapat dilakukan berdasarkan aturan percakapan, yang terdiri dari (1) maksim kualitas, (2) maksim kuantitas, (3) maksism hubungan, (4) maksim cara, Lavinson (dalam Rahman Rahim 2008:7).
Pragmatik didefiniskan sebagai studi mengenai tujuan dalam situasi-situasi tertentu. Pragmatik bersifat komplemen, yang berarti bahwa studi tentang bahasa dilakukan baik secara terpisah dari sistem formal bahasa maupun dari sebagian yang melengkapi (Leech 1993:9). Semantik dan pragmatik mempunyai perbedaan tetapi saling melengkapi. Selanjutnya pakar bahasa ini juga menunjukkan bahwa sesungguhnya ilmu pragmatik berintegrasi dengan tata bahasa melalui semantik atau ilmu makna. Dalam banyak hal penggambaran relasi-relasi dalam linguistik memang dapat dibenarkan. Namun dalam praktik pemakaian bahasa yang sesungguhnya sering didapatkan bahwa bagian dari tata bahasa dapat berinteraksi dengan ilmu pragmatik atau ilmu makna terlebih dahulu.
Rustono (1999:16) menambahkan bahwa perbedaan pragmatik dan semantik dapat dilakukan atas dasar satuan analisisnya. Satuan analisis pragmatik berupa hasil tindak tutur. Makna merupakan satuan analisis dari semantik. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pragmatik mengabaikan kaidah-kaidah yang terdapat dalam semantik. Pragmatik lebih fleksibel dalam menangkap maksud dan tujuan penutur.
Definisi pragmatik ini juga dikemukakan Parker sebagai berikut:
“Pragmatics is distint from grammar, wich is the study of the internal structure of language. Pragmatic is the study of language is use to communicate Parker (dalam Rahardi 2003: 15). Pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang menelaah satuan lingual, hanya saja semantik mempelajari makna secara internal, sedangkan pragmatik mempelajari makna eksternal, yaitu mempelajari penggunaan bahasa dalam berkomunikasi Parker (dalam Rahardi 2003: 15)
Dari definisi yang dikemukakan di atas bahwa Parker dengan tegas membedakan antara studi ilmu bahasa pragmatik dengan studi tata bahasa atau gramatik bahasa. Hal ini disebutkan bahwa dalam studi gramatik bahasa tidak perlu dikaitkan dengan konteks situasi tuturnya, sedangkan studi tentang pragmatik mutlak harus berkaitan erat dengan konteks situasi tutur.
Mey menyatakan tentang pragmatik sebagai berikut. Pragmatic is the study of the conditions of human language uses as these are determined by the context of society Mey (dalam Rahardi 2003:15). Dari pengertian yang disampaikan di atas mempunyai arti ilmu bahasa yang mempelajari pemakaian atau penggunaan bahasa, pada dasarnya selalu harus ditentukan oleh konteks situasi tutur di dalam masyarakat dan wahana kebudayaan yang mewadahi dan melatarbelakanginya.
Konteks situasi tutur yang dimaksudkan oleh Mey sebagaimana dikutip oleh Rahardi (2003) yakni konteks sosial. Konteks sosial adalah konteks kebahasaan yang timbul sebagai akibat dari munculnya dan interaksi antar anggota masyarakat dengan latar belakang sosial budaya yang sangat tertentu sifatnya. Makna yang terkaji dalam pragmatik bersifat terikat konteks sedangkan makna yang dikaji di dalam semantik berciri bebas konteks. Pragmatik mengkaji bahasa untuk memahami maksud
penuturnya, semantik mempelajarinya untuk memahami makna sebuah satuan lingual yang notabene tidak perlu disangkut pautkan dengan konteks situasi tutur.
Levinso (dalam Agustinus, 2012:25) memberikan dua defenisi pragmatik yaitu : a. Pragmatik adalah kajian dari hubungan bahasa dan konteks yang mendasari
pengertian penjelasan bahasa. Di sini pengertian atau pemahaman bahasa menunjuk kepada fakta bahwa untuk mengerti sesuatu ungkapan atau ujaran bahasa diperlukan juga pengetahuan di luar makna kata dan hubungan tata bahasanya, yakni hubungan dengan konteks pemakaiannya.
b. Pragmatik adalah kajian tentang kemampuan pemakai bahasa mengaitkan kalimat-kalimat dengan konteks-konteks yang sesuai dengan kalimat itu.
Tarigan, (dalam Agustinus, 2012:26) mengemukakan bahwa pragmatik (semantic behavioral) menelaah keseluruhan perilaku insan, terutama sekali dengan tanda-tanda atau lambang-lambang. Pragmatik memusatkan perhatian pada cara insan berperilaku dalam keseluruhan situasi pemberi tanda dan penerima tanda.
Sudiati dan Widyamartaya, (1996:21) mengatakan tujuan pragmatik adalah mengoptimalkan komunikasi dengan bahasa. Agar bahasa yang digunakan dalam komunikasi benar-benar komunikatif, bentuk-bentuk bahasa sebaiknya disesuaikan dengan situasi bahasa. Dalam berkomunikasi, tidak hanya dituntut kesamaan gagasan anatara pembicara/pendengar, tetapi juga dituntut keenakan diantara kedua belah pihak menyelaraskan diri dengan bahasanya dengan situasi.
Secara praktis, pragmatik didefenisikan sebagai studi mengenai ujaran-ujaran dalam situasi tertentu. Pragmatik memperhatikan prinsip-prinsip bahasa dan aspek proses komunikatif. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa pada hakikatnya, pragmatik merupakan keterampilan atau kemampuan menggunakan bahasa sesuai dengan faktor penentu tidak komunikator.
Telaah umum mengenai cara konteks mempengaruhi cara kita menafsirkan kalimat disebut pragmatik. Teori tindak ujar adalah bagian dari pragmatik merupakan bagian dari performasi linguistik. Pengetahuan mengenai dunia adalah bagian dari konteks dan pragmatik mencakup cara pemakai bahasa menerapkan pengetahuan dunia untuk menginterpretasikan ucapan-ucapan. Para pembicara kerap kali membuat asumsi-asumsi secara eksplisit mengenai dunia nyata dan rasa suatu ucapan dapat bergantung pada asumsi ini, yang para linguis disebut dengan presuposisi (perkiraan).
Pertimbangan-pertimbangan pragmatik juga menunjang membuat ucapan-ucapan yang secara sistematis ganjil ini menjadi bermakna (Tarigan,1984:31).
Yule (1996:3) menyebutkan empat defenisi pragmatik yaitu:
(1). Bidang yang mengkaji makna pembicaraan, (2) bidang yang mengkaji makna menurut konteksnya, (3) bidang yang melebihi tentang kajian makna yang diujarkan oleh pembicara, (4) bidang mengakaji bentuk ekspresi menurut jarak sosial yang membatasi partisipan yang terlibat dalam percakapan tertentu.
Thomas (dalam Agustinus 2012:27) dua kecenderungan dalam pragmatik terbagi menjadi dua bagian, pertama dengan menggunakan sudut pandang sosial menghubungkan pragmatik dengan makna pembicara (speaker meaning); dan kedua dengan menggunakan sudut pandang kognitif, menghubungkan pragmatik dengan interpretasi ujaran. Pemaknaan merupakan proses dinamis yang melibatkan negosiasi antara pembicara dengan pendengar serta antara konteks ujaran.
Leech (1993:6) melihat pragmatik dalam kajian linguistik yang mempunyai kaitan dengan semantik; pragmatisme yaitu melihat semantik sebagai bagian dari pragmatik; komplementarisme, atau melihat pragmatik dan semantik sebagai dua
bidang yang saling melengkapi. (http: bahasa. Kompasiana.com/2012/04/10 mengenal perbedaan-semantik- dan- pragmatik), diakses 2 Februari 2016.
Ada dua hal penting yang perlu dicermati dari pengertian pragmatik di atas, yaitu penggunaaan bahasa dan konteks tuturan. Penggunaan bahasa di sini menyangkut fungsi bahasa (language function). Untuk apa orang mengunakan bahasa? Beberapa ahli bahasa menjelaskan fungsi bahasa tersebut. Di antaranya adalah Van Ek Trim (dalam Agustinus 2012:30), yang mengkategorikan fungsi bahasa menjadi enam macam yaitu: 1) Menyampaikan dan mencari informasi faktual, 2) Mengekspresikan dan mengubah sikap, 3) Meminta orang lain berbuat sesuatu, 4) sosialisasi, 5) Membangun wacana dan 6) Meningkatkan keefektifan komunikasi.
Masing-masing dari kategori di atas, dijabarkan ke dalam beberapa subkategori yang lebih rinci dari praktis. Fungsi pertama mislanya, dijabarkan menjadi 5 subkategori, yaitu: Mengidentifikasi, Melaporkan, mendeskripsikan atau menceritakan, Mengoreksi, Bertanya dan Menjawab pertanyaan.
Adapun masalah konteks menurut Dell Hymes (dalam Agustinus, 2012:31) meliputi 6 dimensi yaitu: 1) Tempat dan waktu (setting), 2) Pengguna bahasa (participant), 3) topik pembicaraan (cotent). 4) tujuan (purpose), 5) nada (key), dan 6) media/ saluran (channel).
Dimasukkannya konteks dalam memahami dan atau menghasilkan ujaran dimaksudkan untuk membangun prinsip-prinsip kerjasama dan sopan santun dalam proses komunikasi dapat dicapai secara efektif. Konteks itu sangat terkait dengan budaya, yang berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain. Oleh karena itu, pengertian pragmatik yang diberikan oleh Levinson di atas menurut hemat penulis,
pada prinsipnya memberikan kerangka umum tentang bagaimana berkomunikasi secara tepat dan efektif dengan menngunakan bahasa sebagai medianya. Kenyataan bahwa konteks itu bisa berbeda-beda dari masyarakat satu ke masyarakat lain, dan hal ini tidak menjadi fokus bahasa Levinson.
Itulah sebabnya, Leech (1983:34) lebih suka menggunakan istilah pragmatik umum (general pragmatics) untuk mengacu pada kajian tentang kondisi umum penggunaan bahasa untuk berkomunikasi. Ia mendasarkan gagasannya pada kenyataan bahwa prinsip kerjasama dan sopan santun dalam berkomunikasi berlaku secara berbeda-beda dalam setiap masyarakat.
Dalam pragmatik, pengkajian bahasa didasarkan pada penggunaan bahasa bukan pada struktural semata. Konteks-konteks yang melingkupi suatu bahasa akan mendapat perhatian yang besar dalam kaitannya dengan makna yang muncul dari suatu tuturan bahasa. Kondisi praktis tindak komunikasi menjadi pijakan utama dalam pengkajian pragmatik.
Adapun Nababan (dalam Agustinus 2012:34) mengemukakan faktor penentu dalam berkomunikasi:
Siapa yang berbahasa dengan siapa; untuk tujuan apa; dalam situasi apa (tempat dan waktu); dalam konteks apa (peserta lain, kebudayan dan suasana);
dengan jalur apa (lisan atau tulisan); media apa (tatap muka, telefon, surat, dan sebagainya); dalam peristiwa apa (bercakap, berceramah, upacara, laporan, dan sebagainya).
Dalam keterangan di atas dapat kita ketahui apa yang sebenarnya dimaksud dengan pragmatik yaitu penganalisisan studi bahasa dengan pertimbangan-pertimbangan konteks, di samping memperhatikan sintaksis dan semantiknya,
pragmatiknya lebih dipertimbangkan lagi. Jadi, analisis tindak tutur direktif dalam novel Rumah Kaca dengan menggunakan pendekatan pragmatik lebih tepat. Secara umum cakupan ruang lingkup pragmatik berhubungan dengan pemakaian bahasa yang seutuh-utuhnya.
4. Pengertian Tindak Tutur
4. Pengertian Tindak Tutur