BAB I PENDAHULUAN
1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.5.2 Manfaat Penelitian
1. Memudahkan pengelola layanan dalam memilih layanan server yang tepat karena telah mengetahui kekurangan dan kelebihan masing-masing server.
2. Mampu menganalisa dan mengimplementasikan kebutuhan web server yang sesuai dengan kebutuhan dan stabil dalam penggunaan.
7
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka
Untuk menyusun proposal penelitian ini penulis juga melakukan studi kepustakaan yang merujuk kepada penelitian-penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan penelitian yang penulis buat. Studi kepustakaan ini dilakukan sebagai bahan perbandingan dan referensi bagi penulis.
Andhica & Irwan, (2017) melakukan penelitian yang berjudul “Performa Kinerja web server Berbasis Ubuntu Linux Dan Turnkey Linux”. Pada penelitian tersebut menguji kinerja web server berdasarkan kemampuannya dari request route, reply time, dan throughput dengan menggunakan aplikasi Httperf untuk melihat reply time dan throughput masing-masing web server.
Irza et al., (2017) melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Perbandingan Kinerja web server Apache Dan Nginx Menggunakan Httperf Pada Portal Berita (Studi Kasus beritalinux.com)”. Pada penelitian tersebut menguji kinerja web server berdasarkan kemampuannya dari connection section (time), request, reply section, dan error dengan menggunakan aplikasi Httperf dan Siege. Hasil pengujian dari web server Apache dan Nginx dengan beban yang diberikan 100, 500 dan 1000 user dilakukan untuk melihat perbandingan kinerja dari kedua perangkat lunak yang nantinya dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk pengimplementasian pada portal berita oleh admin dari portal berita beritalinux.com.
Chandra, (2019) melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Performasi Antara Apache dan Nginx Web Server Dalam Menangani Client Request”. Pada
penelitian tersebut menguji kinerja web server berdasarkan kemampuannya dalam menangani client request dengan menggunakan aplikasi Apache Bench dengan beban mulai dari 100 user hingga 1.000.000 user. Hasil pengujian dari web server Apache dan Nginx ini diharapkan dapat memberikan masukan sebagai pilihan web server mana yang akan digunakan nantinya dalam membangun sebuah website yang akan digunakan jika website tersebut akan menangani banyaknya client request.
Busran & Ridwan, (2020) melakukan penelitian yang berjudul “Analisis Perbandingan Performa Apache Web Server Dan Nginx Menggunakan Apache JMeter”. Pada penelitan tersebut menguji kinerja web server berdasarkan respon time dan throughput dalam menangani request yang diminta oleh client dengan menggunakan aplikasi Apache JMeter dengan beban permintaan 100, 1000 dan 10000 user. Hasil pengujian dari web server Apache dan Nginx dapat disimpulkan bahwa Nginx lebih efisien waktu atau lebih cepat dalam melakukan respon terhadap client dari Apache.
Satwika & Semadi, (2020) melakukan penelitian yang berjudul
“Perbandingan Performasi Web Server Apache dan Nginx Dengan Menggunakan Ipv6”. Pada penelitian tersebut menguji kinerja web server berdasarkan time taken for tests, request per second, transfer rate (Kb/s), time per request (ms), memory usage, dan load maximum dengan menggunakan aplikasi Apache Benchmarking.
Hasil pengujian dari web server Apache dan Nginx didapatkan hasil bahwa Nginx memiliki performasi lebih baik dibandingkan dengan Apache berdasarkan dari parameter yang diukur pada masing-masing web server tersebut.
Riswandi et al., (2020) melakukan penelitian yang berjudul “Evaluasi Kinerja Web Server Apache Menggunakan Protokol HTTP2”. Pada penelitian tersebut menguji kinerja web server berdasarkan respons time dalam menangani protokol HTTP/1 dan HTTP/2 dengan menggunakan aplikasi Apache JMeter. Hasil pengujian dari web server Apache dan Nginx didapatkan respons time dari HTTP/2 lebih cepat jika diterapkan didalam web server Nginx daripada menggunakan web server Apache.
2.2 Dasar Teori
Berikut ini adalah beberapa dasar teori yang berkatian dalam penelitian skripsi tugas akhir ini :
2.2.1 Perancangan Jaringan
Dibawah ini adalah gambar topologi jaringan web server yang sering digunakan oleh client.
Gambar 2.1 Perancangan Jaringan
Pada gambar 2.1 diatas adalah contoh rancangan jaringan web server yang biasa digunakan untuk interaksi antara client dan server melalui internet. Hal pertama yang dilakukan client jika ingin mengakses sebuah web server baik itu
apache, nginx, ataupun litespeed yaitu melalui sebuah router yang akan terhubung dengan internet. Dari router inilah client dapat meminta atau yang disebut dengan request kepada web server untuk mengakses sebuah website. Kemudian server akan membalas atau me-reply permintaan client untuk dapat mengakses sebuah website yang sudah diminta oleh client.
2.2.2 Web Server
Web server adalah software yang memberikan layanan data yang mempunyai fungsi untuk menerima permintaan HTTP (HyperText Transfer Protocol) atau HTTPS yang dikirim oleh klien melalui web browser dan mengirimkan kembali hasilnya dalam bentuk halaman web yang umumnya berbentuk dokumen HTML (HyperText Markup Language). Web server berguna sebagai tempat aplikasi web dan sebagai penerima request dari client Indra Warman & Zahni, (2013).
Saat mengambil halaman website, browser mengirimkan permintaan ke server yang kemudian diproses oleh web server. HTTP request dikirimkan ke web server. Sebelum memproses HTTP request, web server juga melakukan pengecekan terhadap keamanan. Pada web server, HTTP request diproses dengan bantuan HTTP server. HTTP server merupakan perangkat lunak yang bertugas menerjemahkan URL (alamat situs website) serta HTTP (protokol yang digunakan browser untuk menampilkan halaman website). Kemudian web server mengirimkan HTTP response ke browser dan memprosesnya menjadi halaman situs website.
2.2.3 Apache
Apache adalah Open source yang dibangun dan dikelola oleh Apache.org.
Apache terdiri dari dua blok bangunan utama dengan bangunan akhir yang terdiri
dari banyak blok bangunan kecil lainnya. Blok Bangunan adalah Apache Core dan kemudian Modul Apache yang dalam arti memperluas inti Apache Irza et al., (2017).
Apache HTTP dikembangkan oleh Apache Software Foundation sebagai usaha untuk membangun server HTTP open source yang dapat digunakan untuk sistem operasi modern seperti UNIX dan Windows. Tujuannya adalah memberikan sebuah keamanan, efisien, dan ekstensibilitas bagi pengembang aplikasi, dan kompatibel dengan standar baku HTTP. Saat ini. Proyek ini pertama kali diluncurkan pada tahun 1995, dan menjadi yang terpopuler sejak April 1996.
Apache HTTP fleksibel terhadap berbagai sistem operasi seperti Windows 9x/NT/2000/XP/Vista ataupun Unix dan Linux. Apache merupakan turunan dari web server yang dikeluarkan oleh NCSA yaitu NCSA HTTPd.
2.2.4 Nginx
Nginx atau biasa disebut “Engine-x”, adalah open source web server. Nginx dibuat oleh Igor Sysoev dan dirilis ke publik pada bulan Oktober 2004. Nginx menawarkan penggunaan memori yang lebih rendah dibandingkan web server lainnya dan juga beberapa fitur seperti: reverse proxy, IPv6, load balancing, FastCGI support, web sockets, handling static files, TLS/SSL. Nginx selain digunakan sebagai web server juga memiliki fitur untuk digunakan sebagai reverse proxy, HTTP cache, dan load balancer.
Nginx didirikan atas dasar event-base architecture (EBA). Komponen berinteraksi secara khusus dengan menggunakan event notification, bukan metode panggilan langsung. Event Notification ini terjadi dari tugas yang berbeda.
Kemudian diantrikan untuk diproses oleh event handler (pengendali event). Event Handler berjalan secara berulang, ketika event tersebut diproses, kemudian dikeluarkan dari antrian dan kemudian dilanjutkan ke proses selanjutnya.
2.2.5 Litespeed
Litespeed merupakan teknologi web server yang dapat mempercepat akses server 50 kali lebih cepat dibandingkan dengan server biasanya. Teknologi Litespeed ini dibuat oleh LiteSpeed Technologies menawarkan performa tinggi, cepat, ringan, stabil, dan handal dalam menangani pekerjaan yang berskala besar.
Technologies, n.d. (2021).
Litespeed mempunyai beberapa fitur seperti kompatible dengan apache, lebih cepat, server lebih stabil dalam 15 menit, satu-satunya kontrol solusi panel terintegrasi, dukungan HTTP/2, dan anti dDOS advances. Dengan beberapa fiturnya Litespeed sudah jauh lebih unggul dari pada Apache. Berikut adalah beberapa detail kelebihan dari Litespeed :
1. Performa PHP mampu meningkat 50%.
2. Mampu melebihi performa apache hingga 6 kali lebih cepat.
3. Pembatasan validasi HTTP request.
4. Anti DDOS.
5. Pencegahan sistem overloading.
6. Recover dari kegagalan secara langsung otomatis.
7. Kompatible dengan Cpanel, plesk, dan direct admin.
8. Dukungan kompabilitas dengan mod_security request filtering.
9. Kompatible dengan apache .htaccess.
2.2.6 Perbandingan Web Server Apache, Nginx dan Litespeed
Berikut perbandingan antara web server Apache, Nginx dan Litespeed dapat dilihat pada tabel 2.1 dibawah ini :
Tabel 2.1 Perbandingan Web Server
Kelebihan Kekurangan
Apache Kompatibel dengan
menggunakan WordPress.
Lintas platform.
Adanya komunitas besar serta dokumentasinya lengkap.
Menggunakan lisensi yang
gratis dengan sifatnya open source.
Memiliki perangkat lunak yang andal serta stabil.
Konfigurasinya mudah dan tidak ribet.
Patch berkaitan dengan keamaan selalu diperbaharui.
Keamanannya rentan sebab beberapa konfigurasi tidak ikut dikembangkan secara bagus dan baik.
Kalau menerima berbagai trafik
yang tinggi, akan muncul gangguan atau masalah berkaitan dengan performa di website tersebut.
Nginx Mempunyai ketangguhan dalam menangani sebuah trafik yang tinggi.
Update yang cukup lama di banding web server lainnya.
Fast CGI yang tidak berfungsi sempurna.
Mempunyai skalabilitas tergantung dari konfigurasi web masternya sentiri.
Pemakai tidak sebanyak Apache / IIS.
Meminimalisir Overload Server yang di karenakan
Beberapa mod dan aplikasi tidak semuanya dapat ditransisi dari web server lainnya.
Litespeed Web Server mampu menahan Serangan DDOS attack.
2.2.7 Netcraft
Netcraft adalah perusahaan jasa internet yang berbasis di Bath, Inggris.
Netcraft Menyediakan data penelitian dan analisis terhadap berbagai aspek internet.
Netcraft telah menjelajahi internet sejak tahun 1994 dan memiliki kewenangan pada market share dari web server, sistem operasi, hosting providers, ISP, transaksi terenkripsi, bisnis secara elektronik, bahasa-bahasa scripting dan teknologi konten di Internet. Netcraft.com, n.d. (2021).
2.2.8 Stress Testing
Testing atau ujicoba, adalah proses menjalankan sebuah aplikasi dengan tujuan menemukan sebuah permasalahan. Performance testing dilakukan dengan cara melakukan permintaan dalam jumlah besar, seperti mengakses sistem dengan banyak user dalam waktu bersamaan. Performace testing sentiri memiliki tujuan untuk mengevaluasi kemampuan dari suatu sistem dalam menangani sebuah permintaan atau request.
Stress testing adalah bagian dari Performance testing yang fokus untuk mengetes kekuatan, ketersediaan dan keandalan dari suatu aplikasi dalam kondisi yang ekstrim. Kondisi ekstrim tersebut di antaranya heavy loads, high concurrency, atau limited computational resources. Stress testing yang baik juga membantu dalam menemukan bug terkait sinkronisasi, interlock problems, priority problems,
dan resource loss bugs. Stress Testing dilakukan untuk memastikan bahwa sistem tidak akan crash di bawah situasi krisis. Penggunaan stress testing yang paling menonjol adalah untuk menentukan batas, di mana sistem atau perangkat lunak atau perangkat keras rusak. Ini juga memeriksa apakah sistem menunjukkan manajemen kesalahan yang efektif dalam kondisi ekstrim. Adapun tujuan dari stress testing dan performance testing pada umumnya adalah mengetahui response time atau latency, troughput, utilisasi sumberdaya, dan workload. Sharmila & Ramadevi, (2014).
Secara umum ada 7 (Tujuh) langkah-langkah untuk menentukan stress testing yaitu bisa dilihat pada gambar 2.2 dibawah ini :
Gambar 2.2 Langkah-langkah stress testing Langkah 1 — Identifikasi test objectives.
Identifikasi tujuan dari Stress Testing kita dalam hal apa yang akan menjadi hasil dari test kita. Identifikasi ini bisa dibuat dengan membuat daftar pertanyaan pertanyaan yang membantu kita untuk membuat outcome yg diinginkan dari stress testing yang dilakukan. Contoh pertanyaan yang bisa diajukan diantaranya :
1. Bagaimana menguji web server apache, nginx, dan litespeed terhadap beban permintaan yang banyak ?
Langkah 2 — Identifikasi key scenario(s).
Identifikasi application scenario atau case yang akan dilakukan stress testing untuk diidentifikasi problem potensial. Untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari stress test, test harus fokus pada skenario yang mencakup keseluruhan kesuksesan dari aplikasi. Untuk mendapatkan skenario yang baik, ada beberapa guideline yang bisa membantu kita, yaitu sebagai berikut :
1. Coba untuk melakukan skenario yang mempengaruhi performa aplikasi.
Biasanya skenario seperti intensive locking and synchronization, long transactions, and disk-intensive input/output (I/O) operations.
Langkah 3 — Identifikasi workload.
Identifikasi workload adalah kita menganalisa seberapa jauh dan handal web server dalam menangani permintaan yang melebihi batas, sehingga kita dapat mencari dan menemukan solusi dalam pengujian yang akan dilakukan nanti.
Langkah 4 — Identifikasi metrik.
Identifikasi ukuran/metrik yang akan dikumpulkan terkait performa dari aplikasi. Sebagai contoh kita mengumpulkan informasi dari ketiga web server tersebut seberapa besar pemakaian RAM (Random Access Memory) dan CPU (Cetral Processing Unit) dalam melayani permintaan yang melebihi batas bisa dilihat pada tabel 2.2 dibawah ini.
Tabel 2.2 Ukuran metriks
Performance Metrics Category
Base Set of Metrics -
Processor Processor utilization
Process Memory comsumtion
Processor utilization
Process recycles
Memory Memory available
Memory utilization
Disk Disk utilization
Network Network utilization
Transaction/Business Metrics Transactions/sec
Transactions successed
Transactions failed
Order successed
Order failed
Threading Contentions per second
Deadlocks
Thread allocation Response Time Transactions times
Langkah 5 — Membuat test cases.
Buat test cases yang di-define untuk melakukan single test sertakan juga hasil yang kita ekspektasikan. Workload dan scenario key umumnya tidak dapat menyediakan semua informasi yang dibutuhkan untuk implementasi dan eksekusi test cases. Dibutuhkan juga test design untuk stress test yaitu performance objectives, workload characteristics, test data, test environments, dan identified metrics. Test design akan memberikan hasil terkait expected results.
Langkah 6 — Simulasikan load.
Gunakan test tools untuk simulasi required load untuk tiap test case dan catat hasil dari metric data. Test execution mengikuti langkah langkah berikut : - Validasi bahwa test environment sesuai dengan konfigurasi yang diekspektasi/didesain.
- Pastikan bahwa test dan test environment terkonfigurasi untuk metrics collection.
- Lakukan “smoke test” sebelum menjalankan stress test untuk memastikan test script bekerja dengan baik.
- Reset system dan mulai lakukan test.
Langkah 7 — Analisa hasil.
Analisa hasil dari metric dari yang kita catat lalu bandingkan dengan metric’s accepted level. Jika hasil mengindikasikan bahwa performance level yang diminta belum tercapai, lakukan analisa dan perbaiki issue. Melakukan design review dan code review dapat mempermudah dalam perbaikan issue tersebut.
2.2.9 Pengujian Kinerja
Web Performance Test adalah serangkaian proses pengujian untuk mengukur kinerja perangkat lunak aplikasi web server Guntoro et al., (2015).
Dalam rekayasa perangkat lunak web performance testing adalah suatu pengujian yang dilakukan untuk menentukan bagaimana sistem melakukan respon dan stabilitas dibawah beban kerja tertentu (degradasi kerja), sehingga dengan melakukan pengujian akan dihasilkan data yang dapat dipakai untuk menyelidiki, mengukur, memvalidasi atau memverifikasi dari atribut kualitas sistem tersebut.
Dengan web performance testing dapat dengan mudah membangun sebuah kerangka kerja test untuk dilakukan secara berulang yang dapat membantu dalam menganalisis kerja aplikasi website dan mengidentifikasi hambatan potensial. Ada beberapa parameter yang diukur dalam sebuah pengujian kinerja web server yaitu : 1. Throughput, adalah jumlah bit atau data yang diterima dengan sukses perdetik melalui sebuah sistem atau media komunikasi dalam selang waktu pengamatan tertentu. Aspek utama throughput yaitu berkisar pada ketersediaan bandwidth yang cukup untuk menjalankan aplikasi. Hal ini menentukan besarnya trafik yang dapat diperoleh suatu aplikasi saat melewati jaringan, oleh sebab itu semakin besar throughput yg dihasilkan akan semakin baik. Adnan, (2017).
2. CPU Usage, adalah grafik yang menunjukkan angka sumber daya yang dibutuhkan sebuah Prosessor dalam Central Processing Unit (CPU) dalam bekerja menangani proses. Semakin kecil CPU usage semakin kecil juga kemungkinan sebuah server untuk overload task, server yang tidak
mengalami overload berarti dalam kondisi yang optimal dan baik. Satuan CPU usage ditampilkan dalam persen. Adnan, (2017).
3. RAM Usage, adalah grafik yang menunjukkan angka sumber daya yang dibutuhkan sebuah Random Access Memory (RAM) dalam bekerja menangani proses. Semakin kecil RAM usage semakin kecil juga kemungkinan sebuah server untuk overload task, server yang tidak mengalami overload berarti dalam kondisi yang optimal dan baik Satuan RAM usage ditampilkan dalam persen. Adnan, (2017).
4. Connection, adalah hubungan antara server ke client dan client ke server.
Jika semakin kecil connection yang ditujukan maka sebakin bagus kinerja dari suatu server.
5. Sent, adalah jumlah data yang dikirim dari server menuju client selama pengujian kinerja.
6. Received, adalah jumlah data yang diterima dari client ke server selama pengujian kinerja berlangsung.
7. Error, adalah kesalahan saat client mengakses halaman web ataupun saat server mengirimkan reply ke client.
8. Log, adalah suatu file yang berisi data atau pun informasi mengenai daftar tindakan, kejadian, dan aktifitas yang telah terjadi di dalam suatu sistem.
9. Web Security, adalah keamanan untuk sebuah web atau tata cara mengamankan aplikasi web yang dikelola, biasanya yang bertanggung jawab adalah pengelola aplikasi web tersebut.
22
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Metodologi penelitian adalah tata cara atau perancangan perencanaan dengan bantuan teknik, alat (tools), dan beberapa metode serta didokumentasikan dengan maksud dan tujuan untuk membantu peneliti dalam meminimalisir resiko kegagalan dalam penelitian tersebut untuk menekankan pada proses saat penelitian tersebut berlangsung.
3.1 Definisi Masalah dan Analisis
Pada penelitian ini terdapat beberapa masalah mengenai layanan web server yaitu :
1. Kurangnya infomasi web server yang tahan dengan beban permintaan yang besar meliputi banyaknya jumlah users yang mengakses web server tersebut.
2. Adanya kekurangan kinerja pada setiap web server sehingga dilakukan perbandingan kinerja web server Apache, Nginx, dan Openlitespeed dengan metode stress test dengan menggunakan aplikasi Apache JMeter.
3. Adanya kelemahan pada setiap web server maka dilakukan pengujian keamanan enkripsi data yang terjadi antara client dan server dari web server Apache, Nginx, dan Litespeed dengan menggunakan aplikasi Wireshark.
Dari beberapa permasalahan diatas akan dilakukan pengujian pada tiap-tiap web server. Untuk parameter yang akan diuji ada beberapa parameter, yaitu response time, throughtput, RAM Usage, CPU Usage, Sent, Received, Error, Log, dan Web Security.
3.2 Alat dan Bahan Penelitian
Adapun spesifikasi perangkat keras (hardware) yang digunakan untuk melakukan pengujian dan spesifikasi perangkat lunak (software) yang dibutuhkan untuk sistem yang akan dibangun adalah sebagai berikut :
3.2.1 Perangkat Keras (Hardware)
Spesifikasi perangkat keras (hardware) yang dibutuhkan sebagai server atau pc yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. PC Server / Client
a. Processor Intel Pentium Inside
b. RAM (Random Access Memory) 3 GB (GigaByte) c. Harddisk dengan kapasitas 500 GB (GigaByte) d. Type Operating System 64-Bit
2. Perangkat Jaringan (Network)
a. Kabel UTP (Unshielded Twisted Pair) 4 buah untuk menghubungkan antar PC (Personal Computer) client dan PC (Personal Computer) server.
b. 1 buah switch untuk menghubungan antara client dengan server.
3.2.2 Perangkat Lunak (Software)
Perangkat lunak (Software) yang digunakan dalam pembuatan pengujian kinerja ini sebagai berikut :
1. Ubuntu Server versi 16.04 2. Windows 8.1 x64 bit 3. Apache Jmeter
4. Wireshark
5. Web Server Apache 6. Web Server Nginx 7. Web Server Litespeed 3.3 Prosedur Penelitian
Pada gambar 3.1 digambarkan Dalam proses pengumpulan data untuk mendapatkan data yang benar dan meyakinkan agar hasil dari penelitian tidak menyimpang dari tujuan yang sudah diterapkan sebelumnya, penulis melakukan langkah-langkah sebagai berikut :
Gambar 3.1 Skema Prosedur Penelitian 1. Analisis
Didalam tahapan ini akan dirancang sebuah proses pengiriman data atau halaman website dari server menuju client, sehingga dapat diketahui parameter-parameter antara lain : response time, throughput, RAM usage,
Analisis Parameter
Perancangan
Pengujian
Dokumentasi
CPU usage, Sent, Received, Error, Log, dan Web Security sehingga kesimpulan akan diambil dari hasil perbandingan yang sudah diperoleh.
2. Perancangan
Dalam tahap ini akan dirancang analisa spesifikasi kebutuhan yang telah di dapat kedalam bentuk arsitektural perangkat lunak, untuk diimplementasikan kepada aplikasi yang akan dibuat.
3. Pengujian
Dalam tahap ini dilakukan pengujian kinerja web server Apache, Nginx dan Litespeed dengan menggunakan aplikasi Apache JMeter serta dengan menambahkan metode stress testing untuk mendapatkan hasil dari pengujian yang sedang berjalan. Dan untuk melakukan pengujian keamanan web penulis menggunakan tools Wireshark Network Monitoring untuk melihat dan membandingkan tingkat keamanan dari ketiga web server tersebut.
4. Dokumentasi
Pada proses dokumentasi, penulis juga melakukan studi pustaka, membaca dan mempelajari dokumen-dokumen, buku-buku acuan, serta sumber lainnya yang berkaitan dengan penelitian untuk dijadikan referensi.
3.4 Pengembangan dan Perancangan Sistem
Proses pengujian kinerja ini akan menggunakan jaringan LAN (Local Area Network) sederhana dengan memakai 1 switch berjumlah 5 port untuk mensimulasikan komunikasi antara server dengan client dimana server dan client terhubung pada satu jaringan yang sama. Pada gambar 3.2 adalah topologi yang akan digunakan pada saat pengujian.
Gambar 3.2 Topologi Jaringan 3.5 Skenario Pengujian
Analisa perbandingan kinerja web server Apache, Nginx, dan Litespeed menggunakan software Apache JMeter dengan menggunakan metode stress test.
Pengujian kinerja ini melalui beberapa tahapan-tahapan yang akan dijadikan sebagai prosedur penelitian penulis. Adapun tahapan-tahapan prosedur penelitian yang akan digambarkan dapat dilihat dibawah ini :
1. Skema Rancangan Tahapan Pengujian
Pada gambar 3.3 Pengukuran dilakukan dengan mengambil nilai rata-rata dari masing-masing pengujian yang dilakukan pada halaman web statis, gambar, dan wordpress beserta dengan beban yang diberikan yaitu 700, 900, dan 1100 request berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Chandra, (2019).
Gambar 3.3 Skema Tahap Penelitian 2. Skema Rancangan Alur Pengujian Web Server
Gambar 3.4 dibawah ini telah dijelaskan alur skema pengujian web server.
Setelah booting dari sistem operasi, tahapan selanjutnya adalah instalasi web
Setelah booting dari sistem operasi, tahapan selanjutnya adalah instalasi web