• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penulisan

Dalam dokumen SRI ASRIANI NIM.P.12052 (Halaman 17-0)

BAB I PENDAHULUAN

C. Manfaat Penulisan

Memberikan informasi pada Ny.T cara untuk melakukan ROM pasif dalam mengatasi konstipasi pada pasien Stroke Hemoragik.

2. Rumah sakit

Hasil pengaplikasian ini dapat dijadikan sumber referensi metode dalam melakukan ROM pasif dalam mengatasi konstipasi pada pasien Stroke Hemoragik.

3. Bagi Institusi

Hasil pengaplikasian ini dapat dijadikan sumber referensi baru bagi mahasiswa tentang melakukan ROM pasif dalam mengatasi konstipasi pada pasien Stroke Hemoragik.

4. Bagi Peneliti

Hasil pengaplikasian ini memberikan pengalaman serta pengetahuan baru bagi peneliti dalam bidang keperawatan khususnya dalam melakukan ROM pasif dalam mengatasi konstipasi pada pasien Stroke Hemoragik.

5. Bagi Perawat

Hasil pengaplikasian ini dapat dijadikan sumber referensi bagi perawat lain dalam melakukan ROM pasif dalam mengatasi konstipasi pada pasien Stroke Hemoragik.

7

BAB II

LANDASAN TEORI

A. TINJAUAN TEORI 1. Stroke Hemoragik

a. Definisi

Stroke adalah suatu keadaan hilangnya sebagian atau seluruh fungsi neurologis (defisit neurologik lokal atau global) yang terjadi secara mendadak, berlangsung lebih 24 jam atau menyebabkan kematian, yang semata – mata disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak karena berkurangnya suplai darah (Stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah secara spontan (Stroke pendarahan) (Budiman, 2013).

Stroke adalah gangguan fungsi saraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak dalam beberapa detik atau secara cepat dalam beberapa jam dengan gejala atau tanda – tanda sesuai dengan daerah yang terganggu (Irfan, Muhamad, 2012).

Stroke hemoragik adalah pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan keluarnya darah ke jaringan parenkim otak, ruang cairan cerebrospinalis disekitar otak atau kombinasi keduanya.

Perdarahan tersebut menyebabkan gangguan serabut otak melalui penekanan struktur otak dan juga oleh hematom yang

menyebabkan iskemia pada jaringan sekitarnya. Peningkatan tekanan intrakranial pada gilirannya akan menimbulkan herniasi jaringan otak dan menekan pada batang otak (Budiman, 2013)

Stroke hemoragik adalah disfungsi neurologi fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan bukan oleh karena trauma kapitis, disebabkan oleh pecahnya pembuluh arteri, vena, dan kapiler (Widjaja, 2011).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa stroke adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak, progresi cepat, berupa defisit neurologis fokal dan/ atau global, yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian, dan semata–mata disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non traumatik. Stroke adalah setiap gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalu sistem suplai arteri otak.

b. Etiologi stroke hemoragik

Menurut Pudiastuti, 2013 Penyebab stroke hemoragik dapat dibagi dua faktor yaitu :

1) Faktor resiko medis antara lain : a) Migrain

b) Hipertensi c) Diabetes

d) Kolesterol

e) Gangguan jantung

2) Faktor resiko perilaku antara lain : a) Kurang Olahraga

b) Merokok

c) Makanan tidak sehat d) Kontrasepsi oral e) Mendengkur f) Narkoba g) Obesitas h) Stres i) Cara hidup

c. Faktor resiko dan pencegahan stroke hemoragik

Faktor resiko penyebab stroke hemoragik digolongkan menjadi 2 yaitu faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan dan faktor resiko yang dapat dikendalikan (Suiroka, 2012) :

1) Faktor resiko stroke hemoragik yang tidak dapat dikendalikan antara lain :

a) Umur

b) Jenis kelamin c) Garis keturunan d) Ras atau etnik e) Diabetes

f) Artesklerosis g) Penyakit jantung

2) Faktor Resiko Stroke hemoragik yang dapat dikendalikan antara lain:

a) Obesitas

b) Kurang aktivitas fisik dan olahraga c) Merokok

d) Mengkonsumsi alkohol dan penggunaan obat – obatan e) Tekanan darah tinggi (Hipertensi)

f) Tingkat kolesterol darah yang berbahaya

g) Sleep apnea (Mendengkur disertai berhenti bernafas selama 10 detik)

d. Klasifikasi stroke hemoragik

Stroke hemoragik dapat diklasifikasikan menurut patologi dan gejala kliniknya (Junaidi, 2011). Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subarachnoid. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah otak tertentu. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktifitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Keadaan pasien umumnya menurun.

Perdarahan otak dibagi menjadi 2 yaitu :

1) Perdarahan intraserebral yaitu pecahnya pembuluh darah (mikroaneurisma) terutama karena hipertensi mengakibatkan darah masuk kedalam jaringan otak. Peningkatan tekanan

intrakranial yang terjadi cepat, dapat mengakibatkan kematian mendadak karena herniasi otak. Perdarahan intraserebral yang disebabkan karena hipertensi sering dijumpai didaerah putamen, talamus, pons dan serebelum (Rohani, 2012).

2) Perdarahan subaracnoid yaitu perdarahan yang berasal dari pecahnya aneurisma berry atau AVM. Anaurisma yang pecah ini berasal dari pembuluh darah sirkulasi Willisi dan cabang-cabang yang terdapat diluar parenkim otak (Juwono, 2010).

Pecahnya arteri dan keluarnya ke ruang subaracnoid menyebabkan tekanan intrakranial meningkat mendadak, meregangnya struktur peka nyeri dan vasospasme pembuluh darah serebral yang berakibat disfungsi otak global (nyeri kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal (hemiparase, gangguan hemi sensorik, afasia, dll) (Rohani, 2012).

e. Komplikasi stroke hemoragik

Menurut Pudiastuti, 2013 komplikasi stroke hemoragik yaitu : 1) Berhubungan dengan imobilisasi :

a) Infeksi pernafasan

b) Nyeri yang berhubungan dengan daerah yang tertekan c) Konstipasi

2) Berhubungan dengan mobilisasi : a) Nyeri pada daerah punggung b) Dislokasi nyeri

3) Berhubungan dengan kerusakan otak : a) Epilepsi

b) Sakit kepala c) Kraniotomi

f. Manifestasi klinis stroke hemoragik

Menurut Suzanne, Bare (2010) tanda dan gejala pada penderita stroke hemoragik antara lain :

1) Kehilangan fungsi motorik

Mobilitas, fungsi respirasi, berbicara dan menelan, reflek gangguan, kemampuan aktivitas sehari-hari.

2) Kehilangan fungsi komunikasi a) Disatria (kesulitan berbicara)

b) Disfasia (kesulita terkait penggunaan bahasa)

c) Afasia (kehilangan total kemampuan menggunakan bahasa) d) Apraksia (ketidakmampuan melakukan tindakan yang telah

dipelajari sebelumnya) 3) Kerusakan afek

Kesulitan dalam mengontrol emosinya 4) Eliminasi

Pasien mengalami urgensi dan inkontinensia 5) Gangguan persepsi dan sensori

Kemampuan untuk menginterpretasikan sensasi

g. Patofisiologi stroke hemoragik

Otak sangat tergantung pada oksigen dan tidak mempunyai cadangan oksigen. Jika aliran darah ke setiap bagian otak terhambat karena trombus dan embolus, maka mulai terjadi kekurangan oksigen ke jaringan otak. Kekurangan selama 1 menit dapat mengarah pada gejala yang dapat pulih seperti kehilangan kesadaran. Selanjutnya kekurangan oksigen dalam waktu yang lebih lama dapat menyebabkan nekrosis mikroskopik neuron-neuron. Area nekrotik kemudian disebut infark. Kekurangan oksigen pada awalnya mungkin iskemia atau hipoksia karena akibat proses anemia dan kesukaran untuk bernafas. Stroke karena embolus dapat merupakan akibat dari bekuan darah, udara, dan lemak. Abnormalitas vaskuler, aneurisma serabut dapat terjadi ruptur dapat menyebabkan hemorhagi.

Pada stroke trombosis atau metabolik maka otak mengalami iskemia dan infark sulit ditentukan. Ada peluang dominan stroke akan meluas setelah serangan pertama sehingga dapat terjadi edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial (TIK) dan kematian pada area yang luas.

Gangguan pasokan aliran darah otak dapat terjadi dimana saja didalam arteri-arteri yang membentuk sirkulasi. Secara umum, apabila aliran darah ke jaringan otak terputus selama 15-20 menit, akan terjadi infark atau kematian jaringan. Perlu diingat bahwa

oklusi disuatu arteri tidak selalu menyebabkan infark didaerah otak yang diperdarahi oleh arteri tersebut.

h. Penatalaksanaan pada stroke hemoragik

Menurut Muhibbi, 2006 berikut pengelolaan umum 5B pada penderita stroke hemoragik adalah:

a) Breathing :

(1) Jalan nafas harus bebas, ventilasi dan oksigenasi harus tetap baik

(2) Intubasi bila GCS < 8

(3) Alih baring miring kiri-kanan tiap 2 jam b) Blood :

(1) Tekanan darah tidak boleh segera diturunkan, kecuali : (a) Iskemik : > 220/120

(b) Hemoragik : > 180/100

(c) Obat : diltiazem, nitroprusid, nitrogliserin, labetolol & kaptopril

(2) Jaga komposisi darah yang baik, perhatikan Hb, Albumin, Kalium, Natrium & Gula darah

(3) Gula darah diturunkan bila > 200 mg/dl c) Brain:

(1) Jaga supaya tidak timbul kejang (2) TIK meningkat beri manitol

(3) Cegah hipertermi, kalau mungkin sedikit hipotermi

d) Bladder :

(1) Perhatikan baik-baik kemungkinan adanya retensio maupun inkontinensia urin

(2) Bila perlu pasang kateter e) Bowel :

(1) Jaga jumlah kalori dan berikan cairan yang cukup (2) Hindari obstipasi

i. Pemeriksaan Diagnostik

Menurut Doengoes dkk, 2000 pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada pasien stroke hemoragik adalah :

1) CT-scan : mengetahui adanya edema, hematoma, iskemia, dan adanya infark.

2) MRI (Magnetic resonance imaging) : untuk menunjukkan daerah yang mengalami infark, hemoragik, dan malformasi arteriovena.

3) Sinar X : menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari masa yang meluas.

4) Angiografi serebral : membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan, obstruksi arteri, oklusi / ruptur.

5) Elektro encefalography : mengidentifikas masalah didasarkan pada gelombang otak atau mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.

6) Foto thorak : memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada penderita stroke, menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah berlawanan dari massa yang meluas.

7) Pemeriksaan laboratorium a) Fungsi lumbal

b) Pemeriksaan darah rutin c) Pemeriksaan kimia darah j. Asuhan Keperawatan

Menurut Rendy dan Margareth, 2012 asuhan keperawatan pada pasien stroke hemoragik dilakukan dengan tahap yaitu :

1) Pengkajian a) Biodata

Nama, umur, jenis kelamin, agama, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, alamat, tanggal masuk rumah sakit, no. Cm dan suku bangsa.

b) Keluhan utama

Biasanya klien datang kerumah sakit dengan keadaan tidak sadar disertai kelumpuhan dan keluhan sakit kepala hebat bila masih sadar.

c) Riwayat kesehatan sekarang

Setelah melakukan aktivitas tiba-tiba terjadi keluhan

neurologis misalnya : sakit kepala dan penurunan kesadaran.

d) Riwayat kesahatan dahulu

Perlu dilakukan adanya pengkajian DM, Hipertensi, dan Kelainan jantung, karena hal ini berhubungan dengan penurunan kualitas pembuluh darah otak menjadi menurun.

e) Riwayat penyakit keluarga

Adakah riwayat penyakit yang sama diderita oleh anggota keluarga yang lain atau riwayat penyakit lain baik bersifat genetik maupun tidak.

f) Pemeriksaan fisik (1) Keadaan Umum (2) Pola fungsi kesehatan

(a) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan

Pada klien hipertensi terdapat juga kebiasaan untuk merokok, minum alkohol, dan penggunaan obat-obatan.

(b) Pola aktivitas dan latihan

Pada klien hipertensi terkadang mengalami atau merasa lemas, pusing, kelelahan, kelemahan otot dan kesadaran menurun.

(c) Pola nutrisi dan metabolisme

Pada pasien hipertensi terkadang mengalami mual dan muntah.

(d) Pola eliminasi

Pada pasien hipertensi terkadang mengalami oliguri

(e) Pola tidur dan istirahat.

(f) Pola kognitif dan perseptual (g) Pola konsep diri

(h) Pola toleransi dan koping stress

Pada pasien hipertensi biasanya mengalami stress psikologi.

(i) Pola seksual dan reproduksi (j) Pola hubungan dan peran (k) Pola nilai dan keyakinan.

2) Diagnosa keperawatan

a) Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral b.d peningkatan tekanan intrakranial (TIK)

b) Hambatan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot c) Konstipasi b.d kelemahan otot abdomen

d) Gangguan citra tubuh b.d penyakit

e) Kurang perawatan diri : mandi, berpakaian, makan, toileting, b.d tidak berfungsinya anggota gerak

f) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d faktor biologis (mual, muntah)

g) Nyeri akut b.d gangguan syaraf neuron 3) Intervensi keperawatan

a) Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral b.d peningkatan tekanan intrakranial (TIK)

(1) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 X 24 jam diharapkan ketidakefektifan perfusi jaringan serebral tidak terjadi

(2) Kriteria hasil :

(a) Kesadaran composmentis (b) TTV dalam batas normal (c) GCS dalam batas normal (d) Pasien tidak merasa nyeri (3) Intervensi :

(a) Observasi kesadaran dan GCS pasien

Rasional : untuk mengetahui kesadaran umum pasien

(b) Beri terapi O2

Rasional : untuk menambah suplai oksigen

(c) Anjurkan keluarga untuk memposisikan kepala hand up 300

Rasional : memberikan posisi yang nyaman untuk pasien

(d) Kolaborasi dengan dokter pemberian obat

Rasional : untuk mengurangi peningkatan tekanan intrakranial (TIK)

b) Hambatan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot (1) Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan

selama 3 X 24 jam diharapkan hambatan mobilitas fisik optimal

(2) Kriteria hasil :

(a) Pasien dapat menggerakkan ekstermitasnya

(b) Pasien mampu melakukan mobilitas secara mandiri

(3) Intervensi :

(a) Observasi Tanda-tanda vital

Rasional : mengetahui tanda-tanda vital (b) Ajarkan ROM pasif

Rasional : untuk melatih kekuatan otot (c) Anjurkan keluarga untuk alih baring

Rasional : untuk mencegah resiko dekubitus (d) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi

Rasional : untuk memberikan program khusus melatih kekuatan otot

c) Konstipasi b.d kelemahan otot abdomen

(1) Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 X 24 jam diharapkan konstipasi tidak terjadi (2) Kriteria hasil :

(a) Bising usus dalam batas norma 5-35x/menit (b) Pasien bisa buang air besar (BAB)

(3) Intervensi :

(a) Kaji keadaan umum pasien

Rasional : mengetahui keadaan umum pasien (b) Auskultasi bising usus

Rasional : untuk mengetahui bising usus pasien (c) Anjurkan keluarga untuk memberikan makanan

tinggi serat

Rasional : memperlancar proses pencernaan (d) Kolaborasi dengan ahli gizi

Rasional : untuk meningkatkan serat dan cairan dalam diet pasien

d) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d faktor biologis (mual, muntah)

(1) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 X 24 jam diharapkan ketidakseimbangan nutrisi dapat terpenuhi

(2) Kriteria hasil :

(a) Pasien tidak mual muntah (b) Nafsu makan pasien meningkat (3) Intervensi :

(a) Kaji penyebab mual muntah

Rasional : untuk mengetahui penyebab mual muntah

(b) Bantu perawatan diri : makan

Rasional : membantu pasien untuk makan

(c) Ajarkan keluarga memberikan makanan dalam porsi kecil tapi sering

(d) Rasional : untuk meningkatkan nafsu makan dan asupan nutrien pasien

(e) Beri obat nafsu makan

Rasional : untuk mengurangi peningkatan asam lambung

e) Kurang perawatan diri : mandi, berpakaian, makan, toileting b.d tidak berfungsinya anggota gerak

(1) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 X 24 jam diharapkan kurang perawatan diri teratasi

(2) Kriteria hasil :

(a) Pasien dapat merawat diri berpakaian

(b) Pasien dapat merawat diri mandi (c) Pasien dapat merawat diri makan (d) Pasien dapat merawat diri toileing (3) Intervensi :

(a) Kaji kemampuan klien untuk perawatan diri

Rasional : untuk mengetahui kemampuan klien dalam perawatan diri

(b) Pantau kebutuhan klien untuk alat bantu dalam mandi, berpakaian, makan dan toileing

Rasional : untuk membantu klien dalam kebutuhannya

(c) Berikan bantuan hingga klien sepenuhnya dapat mandiri

Rasional : agar membantu agar bisa cepat melakukan secara mandiri

(d) Dukung klien menunjukkan aktivitas normal sesuai kemampuan

Rasional : untuk mengetahui kemampuan klien secara normal

(e) Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan perawatan diri klien

Rasional : agar keluarga dapat membantu aktivitas klien

f) Nyeri akut b.d gangguan syaraf neuron

(1) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 X 24 jam diharapkan nyeri akut berkurang / hilang

(2) Kriteria hasil :

(a) Pasien mampu mempertahankan tingkat nyeri (b) Pasien tampak rileks

(c) Nyeri berkurang dari 5 menjadi 3 (d) Pasien tidak meringis kesakitan (3) Intervensi :

(a) Kaji karakteristik nyeri

Rasional : untuk meningkatkan dan memudahkan intervensi yang akan dilakukan

(b) Berikan posisi yang nyaman

Rasional : posisi yang nyaman membantu proses relaksasi

(c) Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam Rasional : untuk mengurangi rasa nyeri

(d) Kolaborasi dengan dokter pemberian analgetik Rasional : untuk mengurangi rasa nyeri

2. KONSTIPASI a. Definisi

Konstipasi adalah penurunan frekuensi defekasi, yang diikuti oleh pengeluaran proses yang lama atau keras dan kering (Potter & Perry, 2006). Konstipasi merupakan suatu keluhan, bukan penyakit. Konstipasi sering diartikan sebagai kurangnya frekuensi buang air besar (BAB), biasanya kurang dari 3 kali per minggu dengan feses kecil-kecil dan keras, serta kadang kala disertai kesulitan sampai rasa sakit saat buang air besar (BAB).

b. Penyebab

Menurut Potter & Perry, 2006 berikut penyebab konstipasi antara lain :

1) Konsumsi air dan serat yang kurang 2) Kelemahan otot

3) Perubahan pola diet misalnya pada saat travelling 4) Kurang olahraga atau kurang melakukan gerak badan 5) Usaha menahan buang air besar (BAB) karena rasa nyeri

misalnya karena ambeyen

6) Salah guna obat-obatan seperti pencahar atau antasida.

7) Penyakit lain seperti hiportiroid, hingga kanker usus besar.

c. Penatalaksanaan konstipasi

Menurut Potter & Perry, 2006 dibawah ini adalah beberapa penatalaksanaan dari konstipasi yaitu :

1) Monitor tanda-tanda dan gejala konstipasi

2) Monitor pergerakan usus, meliputi frekuensi, konsistensi, bentuk, volume, dan warna dengan tepat

3) Monitor bising usus

4) Anjurkan keluarga untuk memberi diet tinggi serat dengan tepat

5) Ajarkan untuk melakukan pergerakan sendi (ROM) agar meningkatkan kontraksi otot-otot abdomen

d. Cara mencegah konstipasi

Dibawah ini adalah beberapa cara untuk mencegah konstipasi menurut Potter & Perry, 2006 antara lain :

1) Makan makanan tinggi serat (yang sudah pasti kita ketahui).

Sumber serat antara lain adalah buah-buahan, roti gandum utuh, atau sereal. Serat dalam makanan akan membentuk massa kotoran (feces) sehingga mengembang dan mudah dikeluarkan.

2) Minum minimal 8 gelas air sehari, kecuali anda memiliki kondisi medis yang mengharuskan anda membatasi asupan cairan. Minuman seperti kopi dan teh memiliki efek dehidarsi sehingga harus dihindari hingga pola defekasi anda sudah normal.

3) Olahraga teratur

4) Jangan terlalu sering menahan bunag air besar (BAB)

e. Klasifikasi

Klasifikasi konstipasi menurut Potter & Perry, 2006 dibedakan menjadi 2 yaitu :

1) Konstipasi

Konstipasi adalah defekasi yang tidak teratur yang abnormal, dan juga pengerasan feses tak normal yang membuat sulit dan kadang menimbulkan nyeri.

2) Obstipasi

Obstipasi adalah bentuk konstipasi parah biasanya disebabkan oleh terhalangnya pergerakan feses dalam usus (adanya obstruksi usus). Gejala obstipasi berupa pengeluaran feses yang keras dalam jangka waktu tiap 3-5 hari, kadang disertai adanya perasaan perut penuh akibat adanya feses atau gas dalam perut.

f. Patofisiologi

Buang air besar yang normal frekuensinya adalah 3 kali sehari sampai 3 hari sekali. Dalam konstipasi dikatakan konstipasi bila buang air besar kurang dari 3 kali perminggu atau lebih dari 3 hari tidak buang air besar harus mengejan secara berlebihan.

Kolon mempunyai fungsi menerima bahan buangan dari ileum, kemudian mencampur, melakuakan fermentasi, dan memilah karbohidrat yang tidak diserap, serta memadatkannya menjadi tinja. Fungsi ini dilaksanakan dengan berbagai mekanisme yang

sangat kompleks. Pada penderita gangguan mobilitas fisik, seperti fraktur, stroke maupun penyakit lain yang mengharuskan pasien bedrest dalam jangka waktu yang lama, hal ini juga dapat mempengaruhi kontraksi otot abdomen, sehingga kontraktilitas usus berkurang, bahkan tidak ada. Konstipasi dapat timbul dari adanya defek pengisian atau pengosongan rektum. Pengisian rektum yang tidak sempurna terjadi bila peristaltik kolon tidak efektif (misalnya pada kasus imobilisasi) (mira, 2011).

3. ROM (Range of motion) a. Pengertian

Range of motion adalah gerakan dalam keadaan normal dapat dilakukan oleh sendi yang bersangkutan (Suratun, dkk, 2008). Range of motion (ROM) adalah suatu teknik dasar yang digunakan untuk menilai gerakan dan untuk gerakan awal kedalam suatu program intervensi. Gerakan dapat dilihat sebagai tulang yang digerakkan oleh otot ataupun gaya eksternal lain dalam ruang geraknya melalui persendian. Bila terjadi gerakan, maka seluruh struktur yang terdapat pada persendian tersebut akan terpengaruh, yaitu: otot, permukaan sendi, kapsul sendi, fasia, pembuluh darah dan saraf.

Range of Motion (ROM) adalah jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan

tubuh, yaitu sagital, transversal, dan frontal. Pengertian ROM lainnya adalah latihan gerakan sendi yang memungkinkan terjadinya kontraksi dan pergerakan otot, dimana klien menggerakan masing-masing persendiannya sesuai gerakan normal baik secara aktif ataupun pasif. Latihan Range Of Motion (ROM) adalah latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakan persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkan massa otot dan tonus otot (Potter & Perry, 2005).

Sebelum dilakukan intervensi, pasien stroke dilakukan pre test, untuk mengetahui apakan meraka merasakan adanya masalah konstipasi. Setelah itu, dilakukan perlakuan (ROM Pasif) setiap hari, secara rutin dan tepat. Perawat menggerak-gerakkan tubuh klien sesuai kemampuan. Setelah 5 hari berturut-turut, untuk tiap pasien maka peneliti melakukan post test (wawancara) kepada responden. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana efektifitas ROM pasif dalam mengatasi permasalahan pasien, yakni konstipasi. Seperti yang tercantum dalam buku Brunner, 2002 yakni salah satu tindakan yang dapat dilakuka untuk mengatasi konstipasi adalah dengan melakukan pergerakan.

Perawat mendorong ambulasi sering dan mengajarkan latihan pengerutan otot abdomen untuk meningkatkan defekasi.

Penggerutan otot abdomen terdiri dari mengkontraksikan otot

abdomen. Latihan ini meningkatkan tonus otot abdomen yang membantu mendorong isi kolon.

b. Jenis – jenis Range of Motion (ROM)

Berikut adalah beberapa jenis – jenis Range of Motion (ROM) menurut Potter & Perry, 2006 adalah sebagai berikut:

1) ROM Aktif

ROM aktif adalah gerakan yang dilakukan oleh seseorang (pasien) dengan menggunakan energi sendiri (lukman, Nurma Ningsih, 2013). Perawat memberikan motivasi, dan membimbing klien dalam melaksanakan pergerakan sendi secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi normal (klien aktif). Kekuatan otot 75%. Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif.

2) ROM pasif

ROM pasif adalah pergerakan yang dilakukan dengan bantuan orang lain, perawat aau alat bantu (Lukman, Nurma Ningsih;

2013). Perawat melakukan gerakan persendian klien sesuai dengan rentang gerak yang normal (klien pasif) kekuatan otot 50%. Indikasi latihan pasif adalah tidak sadar, pasien dengan keterbatasan mobilisasi tidak mampu melakukan beberapa atau semua latihan rentang gerak dengan mandiri, pasien tirah baring total. Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga

kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien (Suratun, 2008).

c. Tujuan Range of Motion (ROM)

Menurut Potter & Perry, 2006 berikut tujuan dari Range Of Motion (ROM) yaitu :

1) Mempertahankan atau memelihara fleksibilitas dan kekuatan otot

2) Memelihara mobilitas persendian 3) Merangsang sirkulasi darah

4) Mencegah kelainan bentuk, kekakuan dan kontraktur d. Manfaat Range of Motion (ROM)

Manfaat ROM menurut Potter & Perry, 2006 yaitu : 1) Memperbaiki tonus otot

2) Meningkatkan mobilisasi sendi

3) Memperbaiki toleransi otot untuk latihan 4) Meningkatkan massa otot

e. Indikasi dari Range of Motion (ROM)

Beberapa indikasi ROM menurut Suratun, 2008 yaitu : 1) Stroke atau penurunan tingkat kesadaran

2) Kelemahan otot 3) Fase rehabilitasi fisik

4) Klien dengan tirah baring lama

f. Gerakan- gerakan Range of Motion (ROM)

Berikut ini gerakan ROM menurut Rendi dan Margareth, 2012 yaitu :

1) Fleksi dan ekstensi pergelangan tangan Cara :

a) Atur posisi lengan pasien dengan menjauhi sisi tubuh dan siku menekuk dengan lengan.

b) Pegang tangan pasien dengan satu tangan dan tangan yang lain memegang pergelangan tangan pasien.

c) Tekuk tangan pasien ke depan sejauh mungkin d) Catat perubahan yang terjadi

2) Fleksi dan ekstensi siku Cara :

a) Atur posisi lengan pasien dengan menjauhi sisi tubuh dengan telapak mengarah ke tubuhnya.

b) Letakkan tangan di atas siku pasien dan pegang tangannya mendekat bahu.

c) Lakukan dan kembalikan ke posisi sebelumnya.

3) Pronasi dan supinasi lengan bawah

3) Pronasi dan supinasi lengan bawah

Dalam dokumen SRI ASRIANI NIM.P.12052 (Halaman 17-0)

Dokumen terkait