PEMBERIAN TINDAKAN ROM PASIF DALAM MENGATASI KONSTIPASI PADA ASUHAN KEPERAWATAN NY.T
DENGAN STROKE HEMORAGIK DI HIGH CARE UNIT (HCU) ANGGREK II
RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA
DISUSUN OLEH :
SRI ASRIANI NIM.P.12052
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2015
i
PEMBERIAN TINDAKAN ROM PASIF DALAM MENGATASI KONSTIPASI PADA ASUHAN KEPERAWATAN NY.T
DENGAN STROKE HEMORAGIK DI HIGH CARE UNIT (HCU) ANGGREK II
RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA
Karya Tulis Ilmiah
untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
dalam Menyelesaikan Program Diploma III Keperawatan
DISUSUN OLEH :
SRI ASRIANI NIM.P.12052
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2015
ii
Nama : Sri Asriani
NIM : P.12052
Program Studi : DIII Keperawatan
Judul Karya Tulis Ilmiah : PEMBERIAN TINDAKAN ROM PASIF DALAM MENGATASI KONSTIPASI PADA ASUHAN KEPERAWATAN NY. T DENGAN STROKE HEMORAGIK DI HIGH CARE UNIT (HCU)
ANGGREK II RSUD Dr. MOEWARDI
SURAKARTA
Mengatakan dengan sebenarnya bahwa Tugas akhir yang saya tulis ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambilan alihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai tulisan atau pikiran saya sendiri.
Apabila di kemudian hari dapat dibuktikan bahwa Tugas akhir ini adalah hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut sesuai dengan ketentuan akademik yang berlaku.
Surakarta, Mei 2015 Yang Membuat Pernyataan
SRI ASRIANI
NIM.P.12052
iii
Nama : Sri Asriani
NIM : P.12052
Program Studi : DIII Keperawatan
Judul Karya Tulis Ilmiah : PEMBERIAN TINDAKAN ROM PASIF DALAM MENGATASI KONSTIPASI PADA ASUHAN
KEPERAWATAN NY.T DENGAN STROKE
HEMORAGIK DI HIGH CARE UNIT (HCU)
ANGGREK II RSUD Dr. MOEWARDI
SURAKARTA
Telah disetujui untuk diujikan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah Prodi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta
Ditetapkan di : Surakarta
Hari / Tanggal : Kamis, 21 Mei 2015
Pembimbing : Ns. Alfyana Nadya Rachmawati, S.Kep., M.Kep ( ) NIK. 201086057
iv Nama : Sri Asriani
NIM : P.12052
Program Studi : DIII KEPERAWATAN
Judul : PEMBERIAN TINDAKAN ROM PASIF DALAM
MENGATASI KONSTIPASI PADA ASUHAN
KEPERAWATAN NY.T DENGAN STROKE HEMORAGIK DI HIGH CARE UNIT (HCU) ANGGREK II RSUD Dr.
MOEWARDI SURAKARTA.
Telah diujikan dan dipertahankan dihadapan Dewan Penguji Karya Tulis Ilmiah Prodi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta
Ditetapkan : Surakarta
Hari/Tanggal : Selasa, 16 Juni 2015
DEWAN PENGUJI
Pembimbing : Ns. Alfyana Nadya Rachmawati, S.Kep., M.Kep ( ……… ) NIK. 201086057
Penguji I : Ns. Anissa Cindy Nurul Afni, S.Kep., M.Kep ( ……… ) NIK. 201188087
Penguji II : Ns. Intan Maharani S. Batubara, S.Kep ( ……… ) NIK. 201491128
Mengetahui,
Ketua Program Studi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta
Atiek Murharyati, S.Kep., Ns., M.Kep NIK. 200680021
v
berkat, rahmat dan Karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah dengan judul “ Pemberian Tindakan Rom Pasif dalam Mengatasi Konstipasi Pada Asuhan Keperawatan Pada Ny.T dengan Stroke Hemoragik di High Care Unit (HCU) Anggrek II Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta”.
Adapun penulisan Karya Tulis Ilmiah ini dimaksudkan sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Ahli Madya (Amd) pada program Studi Diploma III Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta.
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat :
1. Atiek Murharyati, S.Kep., Ns., M.Kep selaku Ketua Program Studi DIII Keperawatan yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu di STIKes Kusuma Husada Surakarta.
2. Meri Oktariani,S.Kep., Ns., M.Kep, selaku Sekretaris Ketua Program Studi DIII Keperawatan yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu di STIKes Kusuma Husada Surakarta.
3. Ns. Alfyana Nadya Rahmawati, M.Kep selaku dosen pembimbing sekaligus sebagai peguji yang telah membimbing dengan cermat, memberikan masukan- masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini.
4. Ns. Anissa Cindy Nurul Afni, S.Kep., M.Kep, selaku dosen penguji yang telah membimbing dengan cermat, memberi masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan demi sempurnanya stadi kasus ini.
5. Ns. Intan Maharani S. Batubara, S.Kep selaku dosen penguji yang telah membimbing dengan cermat, memberi masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan demi sempurnanya stadi kasus ini.
vi
telah memberikan ijin pada penulis dan membantu melakukan studi kasus untuk penyusunan karya tulis ini.
8. Kedua orang tuaku, Adik kandungku, serta pacarku, yang selalu menjadi inspirasi dan memberikan semangat untuk menyelesaikan pendidikan.
9. Teman-teman Mahasiswa Program studi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta dan berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu- persatu,yang telah memberikan dukungan moril dan spiritual.
Surakarta, 16 Juni 2015
Penulis
vii
HALAMAN JUDUL ... i
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... ii
LEMBAR PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN PENGESAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR LAMPIRAN ... x
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan Penulisan ... 5
C. Manfaat Penulisan ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori ... 7
1. Stroke ... 7
2. Konstipasi ... 25
3. ROM (Range Of Motion) ... 28
B. Kerangka Teori ... 37
C. Kerangka Konsep ... 38
BAB III METODE PENYUSUNAN KTI APLIKASI RISET A. Subyek aplikasi riset ... 39
B. Tempat dan Waktu ... 39
C. Media dan alat yang digunakan ... 39
D. Alat ukur evaluasi dari aplikasi tindakanberdasarkan riset .... 39
BAB IV LAPORAN KASUS A. Identitas pasien ... 40
B. Pengkajian ... 40
C. Daftar Rumusan Masalah ... 48
viii
A. Pengkajian ... 60
B. Diagnosa Keperawatan ... 67
C. Intervensi Keperawatan ... 72
D. Implementasi Keperawatan ... 75
E. Evaluasi Keperawatan ... 78
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 80
B. Saran ... 84 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
ix
Gambar 2.2 Kerangka Konsep ... 31
x
Lampiran 2 Lembar Konsultasi Karya Tulis Ilmiah Lampiran 3 Surat Pernyataan
Lampiran 4 Daftar Riwayat Hidup Lampiran 5 Jurnal Utama
Lampiran 6 Asuhan Keperawatan Lampiran 7 Lembar Log Book Lampiran 8 Lembar Pendelegasian Lampiran 9 Lembat Observasi
1 A. Latar Belakang Masalah
Stroke adalah suatu keadaan hilangnya sebagian atau seluruh fungsi neurologis (defisit neurologik lokal atau global) yang terjadi secara mendadak, berlangsung lebih 24 jam atau menyebabkan kematian, yang semata – mata disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak karena berkurangnya suplai darah (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah secara spontan (stroke pendarahan) (Budiman, 2013). Stroke adalah terjadinya gangguan fungsional otak fokal maupun global secara mendadak dan akut yang berlangsung lebih dari 24 jam akibat gangguan aliran darah otak (WHO, 2012).
Stroke hemoragik adalah pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan keluarnya darah ke jaringan parenkim otak, ruang cairan cerebrospinalis disekitar otak atau kombinasi keduanya. Perdarahan tersebut menyebabkan gangguan serabut otak melalui penekanan struktur otak dan juga oleh hematum yang menyebabkan iskemia pada jaringan sekitarnya. Peningkatan tekanan intrakranial pada gilirannya akan menimbulkan herniasi jaringan otak dan menekan pada batang otak (Budiman, 2013).
Angka kematian karena stroke sampai saat ini masih tinggi. Menurut World Health Organisation (WHO) (2003) dalam Maliya (2008) stroke merupakan penyakit serebro vaskuler. Tercatat dari 4,6 juta meninggal diseluruh dunia, dua dari tiga kematian terjadi di negara sedang berkembang.
Di Amerika Serikat, stroke merupakan penyebab kematian terbesar ketiga dan menyebabkan kematian 90.000 wanita dan 60.000 laki-laki setiap tahun. Selain menyebabkan kematian, stroke juga merupakan penyebab utama kecacatan (Irfan, 2010).
Data yang lebih rinci oleh American Heart Association (AHA) dalam Heart Disease and Stroke Statistics - 2012 Update, menyebutkan bahwa setiap 4 menit seorang meninggal karena stroke dan stroke berkontribusi dalam setiap 18 kematian di Amerika Serikat pada tahun 2008 (Roger, dkk. 2011). Di Amerika Serikat, stroke merupakan penyebab kematian nomor 4 setelah penyakit jantung, kanker dan penyakit kronik saluran pernafasan bawah (Minino, dkk. 2011), sementara di Australia stroke merupakan penyebab kematian nomor 2 setelah penyakit jantung koroner dengan 8.300 kematian pada tahun 2009 (Refshauge, 2012). Pada kelompok kasus stroke hemoragik, diperkirakan sebanyak 75% adalah perdarahan intraserebral dan didapatkan insiden stroke hemoragik karena perdarahan subarakhoid 25 % sisanya perdarahan subarakhoid. Dalam beberapa penelitian didapatkan insiden perdarahan serebral adalah 12-15 kasus tiap 100.000 populasi per tahun.
Sedangkan menurut data lain dari Amerika, didapatkan insiden stroke hemoragik karena perdarahan subarakhoid sekitar 10 kasus per 100.000 populasi (Wahjoepramono, 2005). Demikian juga halnya di Indonesia, stroke merupakan penyebab kematian tertinggi pada usia > 45 tahun (15,4% dari seluruh kematian) baik di desa maupun di perkotaan (DEPKES, 2008). Hasil yang sama juga dilaporkan oleh (Rao, dkk. 2010) bahwa stroke merupakan
penyebab kematian tertinggi di tahun 2006-2007 di Surakarta (27,0%) dan di Pekalongan (19,9%).
Stroke merupakan masalah kesehatan dan perlu mendapat perhatian khusus. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), stroke merupakan penyebab kematian dan kecacatan utama di hampir seluruh rumah sakit di Indonesia. Angka kejadian stroke meningkat dari tahun ke tahun. Setiap 7 orang yang meninggal di Indonesia, 1 diantaranya karena stroke. Pada tahun 2020 diperkirakan sekitar 7,6 juta orang akan meninggal karena stroke.
Peningkatan tertinggi akan teriadi di negara berkembang terutama dinegara kawasan Asia. Dari hasil survei yang didapatkan penderita stroke hemoragik di RSUD Dr. Moewardi Surakarta didapatkan penderita stroke pada tahun 2013 mencapai 352 orang, kemudian pada tahun 2014 sampai 2015 terdapat 293 orang. Pencegahan dan pengobatan yang tepat pada penderita stroke merupakan hal yang sangat penting. Stroke yang tidak mendapatkan penanganan yang baik akan menimbulkan berbagai tingkat gangguan, seperti penurunan tonus otot, hilangnya sensibilitas pada sebagian anggota tubuh, menurunnya kemampuan untuk menggerakkan anggota tubuh yang sakit dan ketidakmampuan dalam hal melakukan aktivitas tertentu. Pasien stroke yang mengalami kelemahan pada satu sisi anggota tubuh disebabkan oleh karena penurunan tonus otot, sehingga tidak mampu menggerakkan tubuhnya (imobilisasi) (Garrison, 2003). Berbagai komplikasi lanjut stroke akibat imobilisasi, salah satunya inkontinensia alvi atau konstipasi. Umumnya penyebabnya adalah imobilisasi, kekurangan cairan dan intake makanan
(Bathesda, 2008). Konstipasi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami kesulitan buang air besar. Konstipasi sering disebabkan oleh berubahnya makanan atau berkurangnya aktivitas fisik. Lewis (2007) mengemukakan bahwa atropi otot karena kurangnya aktivitas dapat terjadi hanya dalam waktu kurang dari satu bulan .
Salah satu tindakan keperawatan untuk pasien stroke dalam hal ini terapi setelah masa kritis, yaitu pasien dibantu untuk bergerak atau tubuh klien digerak-gerakkan secara sistematis, yang biasa disebut rentan gerak atau Range of Motion (ROM). Range Of Motion (ROM) adalah tindakan/latihan otot atau persendian yang diberikan kepada pasien yang mobilitas sendinya terbatas karena penyakit, diabilitas, atau trauma. Range Of Motion (ROM) gerakan sendi yang memungkinkan terjadinya kontraksi dan pergerakan otot, dimana klien menggerakkan masing-masing persendiannya sesuai gerakan normal baik secara aktif maupun pasif. ROM pasif yaitu latihan ROM yang dilakukan pasien dengan bantuan perawat setiap melakukan gerakan latihan ROM merupakan salah satu altenatif latihan yang dapat dilakukan oleh lansia.
Latihan ROM merupakan bagian dari tindakan keperawatan. Tujuan utama penelitian keperawatan adalah mengembangkan dasar pengetahuan ilmiah untuk praktik keperawatan yang efektif dan efisien (Danim, 2003).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mira (2011) pada pasien stroke menyatakan bahwa ROM pasif efektif dalam mengatasi konstipasi pada pasien stroke. Berdasarkan kasus yang ditemukan penulis selama berada di High Care
Unit (HCU) didapatkan data pasien hemiparase anggota gerak bagian kiri tidak dapat digerakkan sehingga mengalami konstipasi.
Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk menyusun Karya Tulis Ilmiah dengan judul “Pemberian Tindakan Rom Pasif dalam Mengatasi Konstipasi pada Asuhan Keperawatan Ny.T dengan Stroke Hemoragik di High Care Unit (HCU) Anggrek II RSUD Dr. Moewardi Surakarta”.
B. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui efektifitas ROM pasif dalam mengatasii konstipasi pada Asuhan Keperawatan Ny.T dengan Stroke Hemoragik di High Care Unit (HCU) Anggrek II RSUD Dr. Moewardi Surakarta.
2. Tujuan Khusus
a. Penulis mampu melakukan pengkajian pada pasien Ny.T dengan Stroke Hemoragik.
b. Penulis mampu merumuskan diagnosa Keperawatan pada pasien Ny.T dengan Stroke Hemoragik.
c. Penulis mampu menyusun rencana Asuhan Keperawatan pada pasien Ny.T dengan Stroke Hemoragik.
d. Penulis mampu melakukan implementasi pada pasien Ny.T dengan Stroke Hemoragik.
e. Penulis mampu melakukan evaluasi pada pasien Ny.T dengan Stroke Hemoragik.
f. Penulis mampu menganalisa hasil pemberian tindakan ROM pasif dalam mengatasi konstipasi yang terjadi pada Asuhan Keperawatan Ny.T dengan stroke hemoragik.
C. Manfaat Penulisan 1. Bagi Pasien
Memberikan informasi pada Ny.T cara untuk melakukan ROM pasif dalam mengatasi konstipasi pada pasien Stroke Hemoragik.
2. Rumah sakit
Hasil pengaplikasian ini dapat dijadikan sumber referensi metode dalam melakukan ROM pasif dalam mengatasi konstipasi pada pasien Stroke Hemoragik.
3. Bagi Institusi
Hasil pengaplikasian ini dapat dijadikan sumber referensi baru bagi mahasiswa tentang melakukan ROM pasif dalam mengatasi konstipasi pada pasien Stroke Hemoragik.
4. Bagi Peneliti
Hasil pengaplikasian ini memberikan pengalaman serta pengetahuan baru bagi peneliti dalam bidang keperawatan khususnya dalam melakukan ROM pasif dalam mengatasi konstipasi pada pasien Stroke Hemoragik.
5. Bagi Perawat
Hasil pengaplikasian ini dapat dijadikan sumber referensi bagi perawat lain dalam melakukan ROM pasif dalam mengatasi konstipasi pada pasien Stroke Hemoragik.
7
BAB II
LANDASAN TEORI
A. TINJAUAN TEORI 1. Stroke Hemoragik
a. Definisi
Stroke adalah suatu keadaan hilangnya sebagian atau seluruh fungsi neurologis (defisit neurologik lokal atau global) yang terjadi secara mendadak, berlangsung lebih 24 jam atau menyebabkan kematian, yang semata – mata disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak karena berkurangnya suplai darah (Stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah secara spontan (Stroke pendarahan) (Budiman, 2013).
Stroke adalah gangguan fungsi saraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak dalam beberapa detik atau secara cepat dalam beberapa jam dengan gejala atau tanda – tanda sesuai dengan daerah yang terganggu (Irfan, Muhamad, 2012).
Stroke hemoragik adalah pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan keluarnya darah ke jaringan parenkim otak, ruang cairan cerebrospinalis disekitar otak atau kombinasi keduanya.
Perdarahan tersebut menyebabkan gangguan serabut otak melalui penekanan struktur otak dan juga oleh hematom yang
menyebabkan iskemia pada jaringan sekitarnya. Peningkatan tekanan intrakranial pada gilirannya akan menimbulkan herniasi jaringan otak dan menekan pada batang otak (Budiman, 2013)
Stroke hemoragik adalah disfungsi neurologi fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan bukan oleh karena trauma kapitis, disebabkan oleh pecahnya pembuluh arteri, vena, dan kapiler (Widjaja, 2011).
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa stroke adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak, progresi cepat, berupa defisit neurologis fokal dan/ atau global, yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian, dan semata–mata disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non traumatik. Stroke adalah setiap gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalu sistem suplai arteri otak.
b. Etiologi stroke hemoragik
Menurut Pudiastuti, 2013 Penyebab stroke hemoragik dapat dibagi dua faktor yaitu :
1) Faktor resiko medis antara lain : a) Migrain
b) Hipertensi c) Diabetes
d) Kolesterol
e) Gangguan jantung
2) Faktor resiko perilaku antara lain : a) Kurang Olahraga
b) Merokok
c) Makanan tidak sehat d) Kontrasepsi oral e) Mendengkur f) Narkoba g) Obesitas h) Stres i) Cara hidup
c. Faktor resiko dan pencegahan stroke hemoragik
Faktor resiko penyebab stroke hemoragik digolongkan menjadi 2 yaitu faktor resiko yang tidak dapat dikendalikan dan faktor resiko yang dapat dikendalikan (Suiroka, 2012) :
1) Faktor resiko stroke hemoragik yang tidak dapat dikendalikan antara lain :
a) Umur
b) Jenis kelamin c) Garis keturunan d) Ras atau etnik e) Diabetes
f) Artesklerosis g) Penyakit jantung
2) Faktor Resiko Stroke hemoragik yang dapat dikendalikan antara lain:
a) Obesitas
b) Kurang aktivitas fisik dan olahraga c) Merokok
d) Mengkonsumsi alkohol dan penggunaan obat – obatan e) Tekanan darah tinggi (Hipertensi)
f) Tingkat kolesterol darah yang berbahaya
g) Sleep apnea (Mendengkur disertai berhenti bernafas selama 10 detik)
d. Klasifikasi stroke hemoragik
Stroke hemoragik dapat diklasifikasikan menurut patologi dan gejala kliniknya (Junaidi, 2011). Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subarachnoid. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah otak tertentu. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktifitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Keadaan pasien umumnya menurun.
Perdarahan otak dibagi menjadi 2 yaitu :
1) Perdarahan intraserebral yaitu pecahnya pembuluh darah (mikroaneurisma) terutama karena hipertensi mengakibatkan darah masuk kedalam jaringan otak. Peningkatan tekanan
intrakranial yang terjadi cepat, dapat mengakibatkan kematian mendadak karena herniasi otak. Perdarahan intraserebral yang disebabkan karena hipertensi sering dijumpai didaerah putamen, talamus, pons dan serebelum (Rohani, 2012).
2) Perdarahan subaracnoid yaitu perdarahan yang berasal dari pecahnya aneurisma berry atau AVM. Anaurisma yang pecah ini berasal dari pembuluh darah sirkulasi Willisi dan cabang- cabang yang terdapat diluar parenkim otak (Juwono, 2010).
Pecahnya arteri dan keluarnya ke ruang subaracnoid menyebabkan tekanan intrakranial meningkat mendadak, meregangnya struktur peka nyeri dan vasospasme pembuluh darah serebral yang berakibat disfungsi otak global (nyeri kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal (hemiparase, gangguan hemi sensorik, afasia, dll) (Rohani, 2012).
e. Komplikasi stroke hemoragik
Menurut Pudiastuti, 2013 komplikasi stroke hemoragik yaitu : 1) Berhubungan dengan imobilisasi :
a) Infeksi pernafasan
b) Nyeri yang berhubungan dengan daerah yang tertekan c) Konstipasi
2) Berhubungan dengan mobilisasi : a) Nyeri pada daerah punggung b) Dislokasi nyeri
3) Berhubungan dengan kerusakan otak : a) Epilepsi
b) Sakit kepala c) Kraniotomi
f. Manifestasi klinis stroke hemoragik
Menurut Suzanne, Bare (2010) tanda dan gejala pada penderita stroke hemoragik antara lain :
1) Kehilangan fungsi motorik
Mobilitas, fungsi respirasi, berbicara dan menelan, reflek gangguan, kemampuan aktivitas sehari-hari.
2) Kehilangan fungsi komunikasi a) Disatria (kesulitan berbicara)
b) Disfasia (kesulita terkait penggunaan bahasa)
c) Afasia (kehilangan total kemampuan menggunakan bahasa) d) Apraksia (ketidakmampuan melakukan tindakan yang telah
dipelajari sebelumnya) 3) Kerusakan afek
Kesulitan dalam mengontrol emosinya 4) Eliminasi
Pasien mengalami urgensi dan inkontinensia 5) Gangguan persepsi dan sensori
Kemampuan untuk menginterpretasikan sensasi
g. Patofisiologi stroke hemoragik
Otak sangat tergantung pada oksigen dan tidak mempunyai cadangan oksigen. Jika aliran darah ke setiap bagian otak terhambat karena trombus dan embolus, maka mulai terjadi kekurangan oksigen ke jaringan otak. Kekurangan selama 1 menit dapat mengarah pada gejala yang dapat pulih seperti kehilangan kesadaran. Selanjutnya kekurangan oksigen dalam waktu yang lebih lama dapat menyebabkan nekrosis mikroskopik neuron- neuron. Area nekrotik kemudian disebut infark. Kekurangan oksigen pada awalnya mungkin iskemia atau hipoksia karena akibat proses anemia dan kesukaran untuk bernafas. Stroke karena embolus dapat merupakan akibat dari bekuan darah, udara, dan lemak. Abnormalitas vaskuler, aneurisma serabut dapat terjadi ruptur dapat menyebabkan hemorhagi.
Pada stroke trombosis atau metabolik maka otak mengalami iskemia dan infark sulit ditentukan. Ada peluang dominan stroke akan meluas setelah serangan pertama sehingga dapat terjadi edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial (TIK) dan kematian pada area yang luas.
Gangguan pasokan aliran darah otak dapat terjadi dimana saja didalam arteri-arteri yang membentuk sirkulasi. Secara umum, apabila aliran darah ke jaringan otak terputus selama 15-20 menit, akan terjadi infark atau kematian jaringan. Perlu diingat bahwa
oklusi disuatu arteri tidak selalu menyebabkan infark didaerah otak yang diperdarahi oleh arteri tersebut.
h. Penatalaksanaan pada stroke hemoragik
Menurut Muhibbi, 2006 berikut pengelolaan umum 5B pada penderita stroke hemoragik adalah:
a) Breathing :
(1) Jalan nafas harus bebas, ventilasi dan oksigenasi harus tetap baik
(2) Intubasi bila GCS < 8
(3) Alih baring miring kiri-kanan tiap 2 jam b) Blood :
(1) Tekanan darah tidak boleh segera diturunkan, kecuali : (a) Iskemik : > 220/120
(b) Hemoragik : > 180/100
(c) Obat : diltiazem, nitroprusid, nitrogliserin, labetolol & kaptopril
(2) Jaga komposisi darah yang baik, perhatikan Hb, Albumin, Kalium, Natrium & Gula darah
(3) Gula darah diturunkan bila > 200 mg/dl c) Brain:
(1) Jaga supaya tidak timbul kejang (2) TIK meningkat beri manitol
(3) Cegah hipertermi, kalau mungkin sedikit hipotermi
d) Bladder :
(1) Perhatikan baik-baik kemungkinan adanya retensio maupun inkontinensia urin
(2) Bila perlu pasang kateter e) Bowel :
(1) Jaga jumlah kalori dan berikan cairan yang cukup (2) Hindari obstipasi
i. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Doengoes dkk, 2000 pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada pasien stroke hemoragik adalah :
1) CT-scan : mengetahui adanya edema, hematoma, iskemia, dan adanya infark.
2) MRI (Magnetic resonance imaging) : untuk menunjukkan daerah yang mengalami infark, hemoragik, dan malformasi arteriovena.
3) Sinar X : menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari masa yang meluas.
4) Angiografi serebral : membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan, obstruksi arteri, oklusi / ruptur.
5) Elektro encefalography : mengidentifikas masalah didasarkan pada gelombang otak atau mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.
6) Foto thorak : memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada penderita stroke, menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah berlawanan dari massa yang meluas.
7) Pemeriksaan laboratorium a) Fungsi lumbal
b) Pemeriksaan darah rutin c) Pemeriksaan kimia darah j. Asuhan Keperawatan
Menurut Rendy dan Margareth, 2012 asuhan keperawatan pada pasien stroke hemoragik dilakukan dengan tahap yaitu :
1) Pengkajian a) Biodata
Nama, umur, jenis kelamin, agama, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, alamat, tanggal masuk rumah sakit, no. Cm dan suku bangsa.
b) Keluhan utama
Biasanya klien datang kerumah sakit dengan keadaan tidak sadar disertai kelumpuhan dan keluhan sakit kepala hebat bila masih sadar.
c) Riwayat kesehatan sekarang
Setelah melakukan aktivitas tiba-tiba terjadi keluhan
neurologis misalnya : sakit kepala dan penurunan kesadaran.
d) Riwayat kesahatan dahulu
Perlu dilakukan adanya pengkajian DM, Hipertensi, dan Kelainan jantung, karena hal ini berhubungan dengan penurunan kualitas pembuluh darah otak menjadi menurun.
e) Riwayat penyakit keluarga
Adakah riwayat penyakit yang sama diderita oleh anggota keluarga yang lain atau riwayat penyakit lain baik bersifat genetik maupun tidak.
f) Pemeriksaan fisik (1) Keadaan Umum (2) Pola fungsi kesehatan
(a) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Pada klien hipertensi terdapat juga kebiasaan untuk merokok, minum alkohol, dan penggunaan obat-obatan.
(b) Pola aktivitas dan latihan
Pada klien hipertensi terkadang mengalami atau merasa lemas, pusing, kelelahan, kelemahan otot dan kesadaran menurun.
(c) Pola nutrisi dan metabolisme
Pada pasien hipertensi terkadang mengalami mual dan muntah.
(d) Pola eliminasi
Pada pasien hipertensi terkadang mengalami oliguri
(e) Pola tidur dan istirahat.
(f) Pola kognitif dan perseptual (g) Pola konsep diri
(h) Pola toleransi dan koping stress
Pada pasien hipertensi biasanya mengalami stress psikologi.
(i) Pola seksual dan reproduksi (j) Pola hubungan dan peran (k) Pola nilai dan keyakinan.
2) Diagnosa keperawatan
a) Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral b.d peningkatan tekanan intrakranial (TIK)
b) Hambatan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot c) Konstipasi b.d kelemahan otot abdomen
d) Gangguan citra tubuh b.d penyakit
e) Kurang perawatan diri : mandi, berpakaian, makan, toileting, b.d tidak berfungsinya anggota gerak
f) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d faktor biologis (mual, muntah)
g) Nyeri akut b.d gangguan syaraf neuron 3) Intervensi keperawatan
a) Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral b.d peningkatan tekanan intrakranial (TIK)
(1) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 X 24 jam diharapkan ketidakefektifan perfusi jaringan serebral tidak terjadi
(2) Kriteria hasil :
(a) Kesadaran composmentis (b) TTV dalam batas normal (c) GCS dalam batas normal (d) Pasien tidak merasa nyeri (3) Intervensi :
(a) Observasi kesadaran dan GCS pasien
Rasional : untuk mengetahui kesadaran umum pasien
(b) Beri terapi O2
Rasional : untuk menambah suplai oksigen
(c) Anjurkan keluarga untuk memposisikan kepala hand up 300
Rasional : memberikan posisi yang nyaman untuk pasien
(d) Kolaborasi dengan dokter pemberian obat
Rasional : untuk mengurangi peningkatan tekanan intrakranial (TIK)
b) Hambatan mobilitas fisik b.d penurunan kekuatan otot (1) Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 3 X 24 jam diharapkan hambatan mobilitas fisik optimal
(2) Kriteria hasil :
(a) Pasien dapat menggerakkan ekstermitasnya
(b) Pasien mampu melakukan mobilitas secara mandiri
(3) Intervensi :
(a) Observasi Tanda-tanda vital
Rasional : mengetahui tanda-tanda vital (b) Ajarkan ROM pasif
Rasional : untuk melatih kekuatan otot (c) Anjurkan keluarga untuk alih baring
Rasional : untuk mencegah resiko dekubitus (d) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi
Rasional : untuk memberikan program khusus melatih kekuatan otot
c) Konstipasi b.d kelemahan otot abdomen
(1) Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 X 24 jam diharapkan konstipasi tidak terjadi (2) Kriteria hasil :
(a) Bising usus dalam batas norma 5-35x/menit (b) Pasien bisa buang air besar (BAB)
(3) Intervensi :
(a) Kaji keadaan umum pasien
Rasional : mengetahui keadaan umum pasien (b) Auskultasi bising usus
Rasional : untuk mengetahui bising usus pasien (c) Anjurkan keluarga untuk memberikan makanan
tinggi serat
Rasional : memperlancar proses pencernaan (d) Kolaborasi dengan ahli gizi
Rasional : untuk meningkatkan serat dan cairan dalam diet pasien
d) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d faktor biologis (mual, muntah)
(1) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 X 24 jam diharapkan ketidakseimbangan nutrisi dapat terpenuhi
(2) Kriteria hasil :
(a) Pasien tidak mual muntah (b) Nafsu makan pasien meningkat (3) Intervensi :
(a) Kaji penyebab mual muntah
Rasional : untuk mengetahui penyebab mual muntah
(b) Bantu perawatan diri : makan
Rasional : membantu pasien untuk makan
(c) Ajarkan keluarga memberikan makanan dalam porsi kecil tapi sering
(d) Rasional : untuk meningkatkan nafsu makan dan asupan nutrien pasien
(e) Beri obat nafsu makan
Rasional : untuk mengurangi peningkatan asam lambung
e) Kurang perawatan diri : mandi, berpakaian, makan, toileting b.d tidak berfungsinya anggota gerak
(1) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 X 24 jam diharapkan kurang perawatan diri teratasi
(2) Kriteria hasil :
(a) Pasien dapat merawat diri berpakaian
(b) Pasien dapat merawat diri mandi (c) Pasien dapat merawat diri makan (d) Pasien dapat merawat diri toileing (3) Intervensi :
(a) Kaji kemampuan klien untuk perawatan diri
Rasional : untuk mengetahui kemampuan klien dalam perawatan diri
(b) Pantau kebutuhan klien untuk alat bantu dalam mandi, berpakaian, makan dan toileing
Rasional : untuk membantu klien dalam kebutuhannya
(c) Berikan bantuan hingga klien sepenuhnya dapat mandiri
Rasional : agar membantu agar bisa cepat melakukan secara mandiri
(d) Dukung klien menunjukkan aktivitas normal sesuai kemampuan
Rasional : untuk mengetahui kemampuan klien secara normal
(e) Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan perawatan diri klien
Rasional : agar keluarga dapat membantu aktivitas klien
f) Nyeri akut b.d gangguan syaraf neuron
(1) Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 X 24 jam diharapkan nyeri akut berkurang / hilang
(2) Kriteria hasil :
(a) Pasien mampu mempertahankan tingkat nyeri (b) Pasien tampak rileks
(c) Nyeri berkurang dari 5 menjadi 3 (d) Pasien tidak meringis kesakitan (3) Intervensi :
(a) Kaji karakteristik nyeri
Rasional : untuk meningkatkan dan memudahkan intervensi yang akan dilakukan
(b) Berikan posisi yang nyaman
Rasional : posisi yang nyaman membantu proses relaksasi
(c) Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam Rasional : untuk mengurangi rasa nyeri
(d) Kolaborasi dengan dokter pemberian analgetik Rasional : untuk mengurangi rasa nyeri
2. KONSTIPASI a. Definisi
Konstipasi adalah penurunan frekuensi defekasi, yang diikuti oleh pengeluaran proses yang lama atau keras dan kering (Potter & Perry, 2006). Konstipasi merupakan suatu keluhan, bukan penyakit. Konstipasi sering diartikan sebagai kurangnya frekuensi buang air besar (BAB), biasanya kurang dari 3 kali per minggu dengan feses kecil-kecil dan keras, serta kadang kala disertai kesulitan sampai rasa sakit saat buang air besar (BAB).
b. Penyebab
Menurut Potter & Perry, 2006 berikut penyebab konstipasi antara lain :
1) Konsumsi air dan serat yang kurang 2) Kelemahan otot
3) Perubahan pola diet misalnya pada saat travelling 4) Kurang olahraga atau kurang melakukan gerak badan 5) Usaha menahan buang air besar (BAB) karena rasa nyeri
misalnya karena ambeyen
6) Salah guna obat-obatan seperti pencahar atau antasida.
7) Penyakit lain seperti hiportiroid, hingga kanker usus besar.
c. Penatalaksanaan konstipasi
Menurut Potter & Perry, 2006 dibawah ini adalah beberapa penatalaksanaan dari konstipasi yaitu :
1) Monitor tanda-tanda dan gejala konstipasi
2) Monitor pergerakan usus, meliputi frekuensi, konsistensi, bentuk, volume, dan warna dengan tepat
3) Monitor bising usus
4) Anjurkan keluarga untuk memberi diet tinggi serat dengan tepat
5) Ajarkan untuk melakukan pergerakan sendi (ROM) agar meningkatkan kontraksi otot-otot abdomen
d. Cara mencegah konstipasi
Dibawah ini adalah beberapa cara untuk mencegah konstipasi menurut Potter & Perry, 2006 antara lain :
1) Makan makanan tinggi serat (yang sudah pasti kita ketahui).
Sumber serat antara lain adalah buah-buahan, roti gandum utuh, atau sereal. Serat dalam makanan akan membentuk massa kotoran (feces) sehingga mengembang dan mudah dikeluarkan.
2) Minum minimal 8 gelas air sehari, kecuali anda memiliki kondisi medis yang mengharuskan anda membatasi asupan cairan. Minuman seperti kopi dan teh memiliki efek dehidarsi sehingga harus dihindari hingga pola defekasi anda sudah normal.
3) Olahraga teratur
4) Jangan terlalu sering menahan bunag air besar (BAB)
e. Klasifikasi
Klasifikasi konstipasi menurut Potter & Perry, 2006 dibedakan menjadi 2 yaitu :
1) Konstipasi
Konstipasi adalah defekasi yang tidak teratur yang abnormal, dan juga pengerasan feses tak normal yang membuat sulit dan kadang menimbulkan nyeri.
2) Obstipasi
Obstipasi adalah bentuk konstipasi parah biasanya disebabkan oleh terhalangnya pergerakan feses dalam usus (adanya obstruksi usus). Gejala obstipasi berupa pengeluaran feses yang keras dalam jangka waktu tiap 3-5 hari, kadang disertai adanya perasaan perut penuh akibat adanya feses atau gas dalam perut.
f. Patofisiologi
Buang air besar yang normal frekuensinya adalah 3 kali sehari sampai 3 hari sekali. Dalam konstipasi dikatakan konstipasi bila buang air besar kurang dari 3 kali perminggu atau lebih dari 3 hari tidak buang air besar harus mengejan secara berlebihan.
Kolon mempunyai fungsi menerima bahan buangan dari ileum, kemudian mencampur, melakuakan fermentasi, dan memilah karbohidrat yang tidak diserap, serta memadatkannya menjadi tinja. Fungsi ini dilaksanakan dengan berbagai mekanisme yang
sangat kompleks. Pada penderita gangguan mobilitas fisik, seperti fraktur, stroke maupun penyakit lain yang mengharuskan pasien bedrest dalam jangka waktu yang lama, hal ini juga dapat mempengaruhi kontraksi otot abdomen, sehingga kontraktilitas usus berkurang, bahkan tidak ada. Konstipasi dapat timbul dari adanya defek pengisian atau pengosongan rektum. Pengisian rektum yang tidak sempurna terjadi bila peristaltik kolon tidak efektif (misalnya pada kasus imobilisasi) (mira, 2011).
3. ROM (Range of motion) a. Pengertian
Range of motion adalah gerakan dalam keadaan normal dapat dilakukan oleh sendi yang bersangkutan (Suratun, dkk, 2008). Range of motion (ROM) adalah suatu teknik dasar yang digunakan untuk menilai gerakan dan untuk gerakan awal kedalam suatu program intervensi. Gerakan dapat dilihat sebagai tulang yang digerakkan oleh otot ataupun gaya eksternal lain dalam ruang geraknya melalui persendian. Bila terjadi gerakan, maka seluruh struktur yang terdapat pada persendian tersebut akan terpengaruh, yaitu: otot, permukaan sendi, kapsul sendi, fasia, pembuluh darah dan saraf.
Range of Motion (ROM) adalah jumlah maksimum gerakan yang mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan
tubuh, yaitu sagital, transversal, dan frontal. Pengertian ROM lainnya adalah latihan gerakan sendi yang memungkinkan terjadinya kontraksi dan pergerakan otot, dimana klien menggerakan masing-masing persendiannya sesuai gerakan normal baik secara aktif ataupun pasif. Latihan Range Of Motion (ROM) adalah latihan yang dilakukan untuk mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnaan kemampuan menggerakan persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkan massa otot dan tonus otot (Potter & Perry, 2005).
Sebelum dilakukan intervensi, pasien stroke dilakukan pre test, untuk mengetahui apakan meraka merasakan adanya masalah konstipasi. Setelah itu, dilakukan perlakuan (ROM Pasif) setiap hari, secara rutin dan tepat. Perawat menggerak-gerakkan tubuh klien sesuai kemampuan. Setelah 5 hari berturut-turut, untuk tiap pasien maka peneliti melakukan post test (wawancara) kepada responden. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana efektifitas ROM pasif dalam mengatasi permasalahan pasien, yakni konstipasi. Seperti yang tercantum dalam buku Brunner, 2002 yakni salah satu tindakan yang dapat dilakuka untuk mengatasi konstipasi adalah dengan melakukan pergerakan.
Perawat mendorong ambulasi sering dan mengajarkan latihan pengerutan otot abdomen untuk meningkatkan defekasi.
Penggerutan otot abdomen terdiri dari mengkontraksikan otot
abdomen. Latihan ini meningkatkan tonus otot abdomen yang membantu mendorong isi kolon.
b. Jenis – jenis Range of Motion (ROM)
Berikut adalah beberapa jenis – jenis Range of Motion (ROM) menurut Potter & Perry, 2006 adalah sebagai berikut:
1) ROM Aktif
ROM aktif adalah gerakan yang dilakukan oleh seseorang (pasien) dengan menggunakan energi sendiri (lukman, Nurma Ningsih, 2013). Perawat memberikan motivasi, dan membimbing klien dalam melaksanakan pergerakan sendi secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi normal (klien aktif). Kekuatan otot 75%. Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif.
2) ROM pasif
ROM pasif adalah pergerakan yang dilakukan dengan bantuan orang lain, perawat aau alat bantu (Lukman, Nurma Ningsih;
2013). Perawat melakukan gerakan persendian klien sesuai dengan rentang gerak yang normal (klien pasif) kekuatan otot 50%. Indikasi latihan pasif adalah tidak sadar, pasien dengan keterbatasan mobilisasi tidak mampu melakukan beberapa atau semua latihan rentang gerak dengan mandiri, pasien tirah baring total. Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga
kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien (Suratun, 2008).
c. Tujuan Range of Motion (ROM)
Menurut Potter & Perry, 2006 berikut tujuan dari Range Of Motion (ROM) yaitu :
1) Mempertahankan atau memelihara fleksibilitas dan kekuatan otot
2) Memelihara mobilitas persendian 3) Merangsang sirkulasi darah
4) Mencegah kelainan bentuk, kekakuan dan kontraktur d. Manfaat Range of Motion (ROM)
Manfaat ROM menurut Potter & Perry, 2006 yaitu : 1) Memperbaiki tonus otot
2) Meningkatkan mobilisasi sendi
3) Memperbaiki toleransi otot untuk latihan 4) Meningkatkan massa otot
e. Indikasi dari Range of Motion (ROM)
Beberapa indikasi ROM menurut Suratun, 2008 yaitu : 1) Stroke atau penurunan tingkat kesadaran
2) Kelemahan otot 3) Fase rehabilitasi fisik
4) Klien dengan tirah baring lama
f. Gerakan- gerakan Range of Motion (ROM)
Berikut ini gerakan ROM menurut Rendi dan Margareth, 2012 yaitu :
1) Fleksi dan ekstensi pergelangan tangan Cara :
a) Atur posisi lengan pasien dengan menjauhi sisi tubuh dan siku menekuk dengan lengan.
b) Pegang tangan pasien dengan satu tangan dan tangan yang lain memegang pergelangan tangan pasien.
c) Tekuk tangan pasien ke depan sejauh mungkin d) Catat perubahan yang terjadi
2) Fleksi dan ekstensi siku Cara :
a) Atur posisi lengan pasien dengan menjauhi sisi tubuh dengan telapak mengarah ke tubuhnya.
b) Letakkan tangan di atas siku pasien dan pegang tangannya mendekat bahu.
c) Lakukan dan kembalikan ke posisi sebelumnya.
3) Pronasi dan supinasi lengan bawah Cara :
a) Atur posisi lengan bawah menjauhi tubuh pasien dengan siku menekuk.
b) Letakkan satu tangan perawat pada pergelangan pasien dan pegang tangan pasien dengan tangan lainnya.
c) Putar lengan bawah pasien sehingga telapaknya menjauhinya.
d) Kembalikan ke posisi semula.
e) Putar lengan bawah pasien sehingga telapak tangannya menghadap ke arahnya.
f) Kembalikan ke posisi semula.
4) Pronasi fleksi bahu Cara :
a) Atur posisi tangan pasien disisi tubuhnya.
b) Letakkan satu tangan perawat di atas siku pasien dan pegang tangan pasien dengan tangan lainnya.
c) Angkat lengan pasien pada posisi semula.
5) Abduksi dan adduksi bahu Cara :
a) Atur posisi lengan pasien di samping badannya.
b) Letakkan satu tangan perawat di atas siku pasien dan pegang tangan pasien dengan tangan lainnya.
c) Gerakkan lengan pasien menjauh dari tubuhnya kearah perawat (Abduksi).
d) Gerakkan lengan pasien mendekati tubuhnya (Adduksi) e) Kembalikan ke posisi semula.
6) Rotasi bahu Cara :
a) Atur posisi lengan pasien menjauhi tubuh dengan siku menekuk.
b) Letakkan satu tangan perawat di lengan atas pasien dekat siku dan pegang tangan pasien dengan tangan yang lain.
c) Gerakkan lengan bawah ke bawah sampai menyentuh tempat tidur, telapak tangan menghadap ke bawah.
d) Kembalikan posisi lengan ke posisi semula.
d) Gerakkan lengan bawah ke belakang sampai menyentuh e) Tempat tidur, telapak tangan menghadap ke atas.
f) Kembalikan lengan ke posisi semula.
7) Fleksi dan ekstensi jari-jari Cara :
a) Pegang jari-jari kaki pasien dengan satu tangan, sementara tangan lain memegang kaki.
b) Bengkokkan (tekuk) jari-jari kaki ke bawah c) Luruskan jari-jari kemudian dorong ke belakang.
d) Kembalikan ke posisi semula.
8) Infersi dan efersi kaki Cara :
a) Pegang separuh bagian atas kaki pasien dengan satu jari dan pegang pergelangan kaki dengan tangan satunya.
b) Putar kaki ke dalam sehingga telapak kaki menghadap ke kaki lainnya.
c) Kembalikan ke posisi semula.
d) Putar kaki keluar sehingga bagian telapak kaki menjauhi kaki yang lain.
e) Kembalikan ke posisi semula.
9) Fleksi dan ekstensi pergelangan kaki Cara :
a) Letakkan satu tangan perawat pada telapak kaki pasien dan satu tangan yang lain di atas pergelangan kaki. Jaga kaki lurus dan rilek.
b) Tekuk pergelangan kaki, arahkan jari-jari kaki ke arah dada pasien.
c) Kembalikan ke posisi semula.
d) Tekuk pergelangan kaki menjauhi dada pasien.
10) Fleksi dan ekstensi lutut.
Cara :
a) Letakkan satu tangan di bawah lutut pasien dan pegang tumit pasien dengan tangan yang lain.
b) Angkat kaki, tekuk pada lutut dan pangkal paha.
c) Lanjutkan menekuk lutut ke arah dada sejauh mungkin
d) Ke bawahkan kaki dan luruskan lutut dengan mengangat kaki ke atas.
e) Kembali ke posisi semula.
11) Rotasi pangkal paha Cara :
a) Letakkan satu tangan perawat pada pergelangan kaki dan satu tangan yang lain di atas lutut.
b) Putar kaki menjauhi perawat.
c) Putar kaki ke arah perawat.
d) Kembalikan ke posisi semula.
12) Abduksi dan adduksi pangkal paha.
Cara :
a) Letakkan satu tangan perawat di bawah lutut pasien dan satu tangan pada tumit.
b) Jaga posisi kaki pasien lurus, angkat kaki kurang lebih 8 cm dari tempat tidur, gerakkan kaki menjauhi badan pasien.
c) Gerakkan kaki mendekati badan pasien.
d) Kembalikan ke posisi semula.
KERANGKA TEORI
Stroke Hemoragik
Perdarahan Intra Serebral Perdarahan Subaracnoid
1. Kehilangan fungsi motorik 2. Kehilangan fungsi komunikasi 3. Kerusakan afek
4. Eliminasi
5. Gangguan persepsi dan sensori
Imobilisasi (Hemiparase)
Kelemahan Otot dikolon desenden
Konstipasi
ROM Pasif
(Peningkatan tonus otot abdomen mendorong isi kolon)
Rendi dan Margareth, 2012 Gambar 2.1 Kerangka Teori
B. KERANGKA KONSEP
Gambar 2.2 Kerangka Konsep
ROM Pasif Mencegah Konstipasi
39
BAB III
METODE PENYUSUNAN KTI APLIKASI RISET
A. Subyek Aplikasi Riset
Pengambilan kasus ini dengan pasien stroke hemoragik yang dirawat di High Care Unit (HCU) Anggrek II yang ekstermitas nya terganggu dan mengalami konstipasi.
B. Tempat dan Waktu
Pengambilan kasus ini dilakukan di High Care Unit (HCU) Anggrek II RSUD Dr. Moewardi Surakarta dari tanggal 11 – 16 Maret 2015.
C. Media dan Alat yang Digunakan
Penelitian ini menggunakan stetoskop untuk menghitung bising usus selam 5 - 10 menit sebelum dan sesudah melakukan ROM pasif dan tindakan Rom pasif dilakukan selama 30 menit/ 4 jam.
D. Alat Ukur Evaluasi
Alat ukur pada penelitian ini menggunakan lembar observasi tentang bising usus pada pasien.
40
BAB IV
LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS KLIEN
Pengkajian dimulai pada tanggal 11 Maret 2015, jam 09.00 WIB. Data pengkajian pada kasus ini diperoleh dengan cara autoanamnase, pengamatan dan observasi langsung, menelaah catatan medis, catatan perawat dan pengkajian fisik pasien. Hasil pengkajian pada Ny.T, alamat rumah di Jagalan, Jebres, umur 56 tahun, berjenis kelamin perempuan, tingkat pendidikan SD, bekerja sebagai buruh, status menikah dan beragama Islam, pasien masuk Rumah Sakit tanggal 8 Maret 2015, diagnosis medis stroke hemoragik, dirawat di ruang IGD RSUD Dr. Moewardi Surakarta.
Penanggung jawab pasien bernama Ny.T umur 38 tahun yang hubungan dengan pasien adalah sebagai anak.
B. PENGKAJIAN
Keluhan utama pasien adalah penurunan kesadaran. Riwayat kesehatan pasien keluarga mengatakan pasien tiba – tiba terjatuh. Anggota gerak mengalami kelemahan. Pasien tampak memegangi kepala karena kesakitan, tetapi tidak ada benturan. Kemudian pasien dibawa ke IGD RSUD Dr.
Moewardi Surakarta sekitar pukul 16.30 WIB. Di IGD pasien terlihat mengantuk selama 2 jam masuk rumah sakit. Di IGD pasien dipriksa dan didapatkan data tekanan darah: 210/ 120 mmHg, nadi: 90 x/ menit,
pernafasan: 24x/ menit. Kesadaran pasien somnolent, GCS E3M5V3. Terapi yang didapatkan pasien di ruang IGD adalah infus NaCl 0,9 % 20 tpm, O2 3 Lpm. Kemudian pasien dipindah di High Care Unit (HCU) Anggrek II tanggal 9 Maret 2015 jam 7.00 wib. Didapatkan tekanan darah 190/110 mmHg, nadi 88x/menit, respirasi 22x/menit, suhu 380C.
Hasil pengkajian di ruang IGD didapatkan riwayat kesehatan dahulu keluarga mengatakan sebelumnya pasien sering pusing tetapi cuma diperiksa di puskesmas. Di puskesmas pasien diberi obat tetapi keluarga tidak tahu obat yang diberikan ke pasien. Pasien tidak pernah dirawat dirumah sakit sebelumnya. Pasien tidak mempunyai alergi baik makaan dan obat-obatan.
Pasien tidak pernah dioperasi.
Pada riwayat kesehatan keluarga mengatakan dikeluarganya memiliki penyakit keturunan atau penyakit menular seperti hipertensi dan hepatitis.
Genogram
Keterangan
: Perempuan : Laki - Laki : Pasien Ny. T : Tinggal satu rumah : Meninggal Dunia X
Pasien merupakan anak ketiga dari 3 bersaudara, ayah dan ibunya sudah meninggal, pasien mempunyai 3 anak, pasien tinggal serumah dengan suami dan anak keduanya, karena anaknya yang pertama dan ketiga sudah menikah.
Pada riwayat kesehatan lingkungan keluarga pasien mengatakan lingkungan sekitar rumah bersih dan sampah dibuang ditempat sampah yang tersedia.
Pola pengkajian primer pada pasien didapatkan data airway: jalan nafas paten, tidak adanya lidah jatuh, tidak ada benda asing pada jalan nafas (sputum / bekas muntah), breathing: respirasi: 22 x/ menit, tidak ada nafas cuping hidung, tidak ada retraksi dada, bernafas menggunakan O2 3 liter/
menit, circulation: nadi: 88 x/ menit, nadi kuat, tekanan darah: 190/ 110 mmHg, kulit lembab, capilary refile < 2 detik, disability: pupil isokor, kesadaran somnolent nilai GCS eye 3, motorik 5 dan verbal 3 , Exposure:
pasien sudah memakai kaos kaki dan selimut, Suhu 380 C, akral teraba hangat.
Pengkajian pola fungsional menurut Gordon, pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan keluarga pasien mengatakan bahwa pasien bilang sehat itu penting. Untuk menjaga kesehatan tiap pagi untuk berolahraga teratur. Jika ada keluarga yang sakit harus segara dibawa kerumah sakit, jika belum parah bisa diberi obat.
Pola nutrisi dan metabolik sebelum sakit pasien makan 3x sehari nasi, lauk, sayur-sayuran, satu porsi habis dan tidak ada keluhan. Pasien minum 8x sehari jenis air teh, kurang lebih 8 gelas/hari @ 240 ml dan tidak ada keluhan.
Pengkajian A (antropometri) BB sebelum sakit 47 kg, selama sakit 45 kg, TB 160 cm, IMT 47 kg :1,62 = 18,25 (normal), B (biochemical) tidak ada, C (clinical) pasien tampak segar dan konjungtiva tidak anemis, D (diet) nasi, lauk, sayur-sayuran satu porsi habis. Selama sakit makan 3x sehari, bubur cair (kacang hijau), porsi 100cc/3 jam melalui sonde, dengan keluhan muntah.
Minum 3x sehari, susu 100cc/3 jam melalui sonde, dengan keluhan muntah.
Pengkajian A (antropometri) BB sebelum sakit 47 kg, BB selam sakit 45 kg, IMT 45 : 1,62 = 17,57 (kurang), B (biochemical) HB 13.0, ureum 47 mg/dl, kreatinin 0,6 mg/dl, C (clinical) pasien tampak lemas, konjungtiva anemis, D (diet) bubur kacang hijau dan susu 100cc/3jam 1700 kkal.
Pola eliminasi didapatkan hasil sebelum sakit pasien BAB 1x sehari, konstipasi lunak, warna coklat kekuningan. BAK kuning dan tidak ada nyeri saat BAK. Selama sakit keluarga mengatakan pasien belum buang air besar sebelum masuk rumah sakit 5 hari dan selama dirumah sakit 2 hari. Pasien terpasang kateter sejak tanggal 8 Maret 2015, produksi urin dalam 24 jam ± 1500 cc. Pengkajian balance cairan pada Ny. T per 24 jam yaitu input: air (makan dan minum) = 300cc, cairan infus 950cc, terapi injeksi ketorolac 30mg/12 jam = 6cc, manitol 100cc/6 jam= 400cc, vit B12 100mg/12 jam=
20cc, air metabolisme 5 x BB = 5 X 45= 225, total input 1901. Output : urine 1500cc, IWL 10 X BB – 10 X 45 = 450. Jadi balance cairan pada Ny. T dalam 24 jam input cairan – output cairan = 1901-1950 = -49. Kesimpulan Ny. T kekurangan volume cairan sebanyak -49cc/hari.
Pola aktivitas dan latihan, sebelum sakit pasien makan/minum, toileting, berpakaian, mobilitas ditempat tidur, berpindah dan ambilasi/ ROM dapat dilakukan secara madiri oleh pasien. Selama sakit makan/minum (terpasang NGT), toileting (terpasang kateter), berpindah dibantu orang lain dan alat, berpakaian dan mobilitas ditempat tidur dibantu oleh orag lain, sedangkan ambulasi / ROM pasien tergantung total.
Pola istirahat tidur, sebelum sakit keluarga pasien mengatakan tidur malam ± 8 jam dan tidur siang ± 2 jam perhari. Selama sakit pasien tidur malam ± 6 jam dan tidur siang ± 2 jam.
Pola kognitif perseptual, sebelum sakit pasien tidak membutuhkan alat bantu untuk melihat dan membaca, mampu berbicara lancar, mampu menjawab pertanyaan dengan baik, mengidentifikasi bau minyak kayu putih, dan merasakan sentuhan. Selama sakit keluarga mengatakan pasien tidak bisa membuka mata, tidak mampu berbicara, tidak mampu menjawab pertayaan, tidak bisa mengidentifikasi bau minyak kayu putih dan tidak bisa merasakan sentuhan.
Pola persepsi konsep diri, sebelum sakit pada gambaran diri, ideal diri dan harga diri Ny. T tidak terkaji. Peran diri keluarga pasien mengatakan Ny.
T adalah seorang ibu rumah tangga. Identitas diri keluarga pasien mengatakan Ny. T adalah seorang perempuan yang merupakan ibu rumah tangga. Selama sakit gambaran diri, ideal diri, harga diri Ny. T tidak terkaji. Peran diri keluarga pasien mengatakan Ny. T tidak bisa bekerja karena harus dirawat di rumah sakit. Identitas diri keluarga pasien mengatakan Ny. T seorang
perempuan yang merupakan ibu rumah tangga saat ini Ny. T dirawat di rumah sakit karena penyakit stroke.
Pola hubungan peran, sebelum sakit keluarga pasien mengatakan bahwa hubungan pasien dengan anggota cukup harmonis dan hubungan dengan masyarakat cukup baik. Selama sakit keluarga pasien mengatakan bahwa selama pasien sakit dirawat sakit hubungan keluarga dan masyarakat sekitar baik ditandai dengan banyak tetangga yang menjenguk.
Pola seksual reproduksi, keluarga pasien mengatakan bahwa pasien sudah menikah dan memiliki 3 orang anak perempuan dan 1 orang suami.
Pola mekanisme koping, sebelum sakit keluarga pasien mengatakan bahwa ketika ada masalah dalam keluarga pasien selalu bercerita kepada seluruh keluarganya dan pengambilan keputusan dilakukan secara musyawarah. Selama sakit keluarga pasien mengatakan bahwa selama sakit jika ada masalah di pasien keluarga selalu bercerita dengan anggota keluarganya.
Pola nilai dan keyakinan, sebelum sakit keluarga pasien mengatakan pasien beragama islam dan selalu menjalankan sholat 5 waktu. Selama sakit keluarga pasien mengatakan bahwa selama sakit pasien tidak dapat menjalankan Sholat 5 waktu.
Pengkajian pemeriksaan fisik didapatkan hasil kesadaran somnolent, nilai GCS eye 3, motorik 5 dan verbal 3. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital, tekanan darah 190/ 120 mmHg, nadi 88 x/ menit, teratur dan kuat, respirasi 22 x/ menit, dengan irama, teratur, suhu 380 C, bentuk kepala mesocepal,
kulit kepala tidak ada ketombe, rambut bersih, berombak, beruban. Palpebra tidak ada oedem, konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor, diameter kanan kiri simetris, reflek terhadap cahaya baik (positif), tidak menggunakan alat bantu penglihatan. Hidung bersih, tidak ada sekret, tidak ada nafas cuping hidung, terpasang NGT, terpasang O2 nasal kanul, warna bibir pucat, simetris, mukosa bibir kering, mulut bersih, tidak ada perdarahan, gigi sedikit caries, tidak ada gigi palsu, telinga bersih, simetris, sedikit ada serumen, tidak menggunakan alat bantu pendengaran. Leher tidak ada pembesaran kelenjar tiroid. Pemeriksaan dada, inspeksi : tidak ada jejas, dada simetris, palpasi: tidak terkaji, perkusi: bunyi paru sonor, auskultasi: suara nafas vesikuler. Pemeriksaan jantung, inspeksi: bentuk dada datar, tidak ada jejas, ictus cordis tidak tampak, palpasi: ictus cordis pada ICS 5, perkusi:
pekak, auskultasi: reguler. Pemeriksaan abdomen, inspeksi:tidak ada jejas, bentuk simetris, auskultasi: bising usus 3 x/ menit, perkusi: suara lambung tympani kuadran II, III, IV dan redup kuadran I, palpasi:tidak ada masa, perut teraba keras dikuadran III. Genetalia : bersih, terpasang kateter. Rektum:
bersih, tidak ada luka, tidak ada hemoroid.
Hasil pemeriksaan ekstremitas bagian atas tangan kiri terpasang infus Nacl 20 tpm, kekuatan otot tangan kanan 5, kiri 1, ROM kanan aktif, kiri pasif, capilary refilIe < 2 detik, normal, tidak ada perubahan bentuk tulang, perabaan akral hangat. Bagian bawah kekuatan otot kanan 5, kiri 1, Rom kanan aktif, kiri pasif, capilary refille < 2 detik, normal, tidak ada perubahan bentuk tulang, perubahan akral hangat. Hasil pemeriksaan yang dilakukan
antara lain kekuatan otot sebelah kiri hanya dapat kontraksi otot 10 sangat buruk (kelemahan berat).
Pemeriksaan penunjang darah rutin pada pasien selama perawatan di High Care Unit (HCU) dilakukan pada tanggal 8 Maret 2015, jenis pemeriksaan yang didapatkan berupa hemoglobin 13.0 g/dl hasil normal.
Hematokrit 39 % hasil normal. Leukosit 7.1 ribu/ul hasil normal. Trombosit 266 ribu/ul hasil normal. Eritrosit 4.23 juta/ul hasil normal. Golongan darah B. PT 12.9 dtk hasil normal. APTT 46.1 dtk hasil tinggi. Glukosa darah 104 mg/dl hasil normal. SGOT 21 hasil normal. SGPT 15 hasil normal. kreatine 0.6 mg/dl hasil normal. Ureum 47 mg/dl hasil normal. Natrium darah 140 mmol/l hasil normal. Kalium darah 3.3 mmol/l hasil normal. Clorida darah 108mmol/l hasil tinggi. Hbsag reactive. Pada tanggal 8 Maret 2015 didapatkan hasil pemeriksaan EKG reguler sinus ritme dan CT-Scan didapatkan hasil ICH dicorona radiata dan lobus temporoparientalis kanan.
Selama perawatan di High Care Unit (HCU), pasien mendapatkan terapi O2 3 liter per menit. Terapi infus Nacl 20 tpm untuk pengobatan kekurangan cairan. Terapi injeksi Ketorolac (30 mg/12 jam) untuk penatalaksanaan jangka pendek terhadap nyeri akut, terapi injeksi manitol (100cc/6jam) untuk memperlancar diuresis dan ekspansi material toksik dalam urin, mengurangi TIK, masa pada otak, TIO yang tinggi. Parasetamol (3x500mg) mengurangi rasa sakit kepala. Vitamin B12 (100mg/12jam) untuk memenuhi kebutuhan vitamin B
C. DAFTAR RUMUSAN MASALAH
Dari data pengkajian tanggal 11 Maret 2010, jam 09.05 WIB didapatkan data subyektif keluarga pasien mengatakan klien tidak sadar.
Secara objektif perubahan tingkat kesadaran somnolent GCS E3M5V3, pasien tampak memegangi kepala karena kesakitan, tanda-tanda vital didapatkan tekanan darah 190/ 110 mmHg, nadi 88 x/ menit, respirasi 22 x/
menit dan suhu 380 C. Sehingga dapat diambil diagnosa keperawatan yang pertama adalah ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial (TIK).
Dari data pengkajian tanggal 11 Maret 2015, jam 09.10 WIB didapatkan data subjektif bahwa keluarga pasien mengatakan pasien tidak bisa melakukan aktifitasnya karena kaki sebelah kiri dan tangan kiri tidak bisa bergerak. Secara objektif pasien susah bergerak, kekuatan otot atas kanan 5 dan kiri 1 serta kekuatan otot bawah kanan 5 dan kiri 1, pasien tampak lemas.
Sehingga dapat diambil diagnosa keperawatan yang kedua adalah hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot.
Dari data pengkajian tanggal 11 Maret 2015, jam 09.10 WIB didapatkan data subjektif bahwa keluarga pasien mengatakan sebelum masuk rumah sakit belum buang air besar selama 5 hari dan selama dirumah sakit sudah 2 hari pasien belum buang air besar. Secara objektif bising usus 3x/menit, perut teraba keras dikuadran III. Sehingga dapat diambil diagnosa keperawatan yang ketiga adalah konstipasi berhubungan dengan kelemahan otot abdomen.
Dari data pengkajian tanggal 11 Maret 2015, jam 09.10 WIB didapatkan data subjektif bahwa keluarga pasien mengatakan pasien muntah bila makan. Secara objektif terpasang NGT, diet 100cc/3jam, A (antropometri) BB sebelum sakit 47 kg dan selama sakit 45 kg IMT 45 :1.6 = 15.7 (kurang), B (biochemical) HB 13.0 g/dl, ureum 47 mg/dl, kreatinin 0.6 mg/dl, C (clinical) pasien tampak lemas, konjungtiva anemis, D (diet) bubur kacang hijau dan susu 100cc/3 jam. Sehingga dapat diambil diagnosa keperawatan yang empat adalah ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis (mual, muntah).
Berdasarkan diagnosa keperawatan yang penulis temukan, maka dapat dirumuskan prioritas masalah keperawatan yaitu ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial (TIK), hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot, konstipasi berhubungan dengan kelemahan otot abdomen dan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis (mual muntah).
D. PERENCANAAN
Rencana keperawatan yang akan dilakukan pada Ny. T untuk diagnosa keperawatan ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial (TIK) dengan tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 X 24 jam, diharapkan ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berkurang dengan kriteria hasil : kesadaran composmentis,
GCS dalam batas normal E4M5V3, Tanda-tanda vital dalam batas normal dengan tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 60-100x/menit, pernapasan 16- 24x/menit, suhu 36-370C. Intervensi / rencana yang akan dilakukan yaitu kaji kesadaran dan GCS pasien dengan rasional unuk mengetahui kesadaran umum pasien, beri O2 3 lpm dengan rasional untuk menambah suplai oksigen, anjurkan keluarga untuk memposisikan kepala hand up 300 dengan rasional untuk memberikan posisi yang nyaman, kolaborasi dengan dokter pemberian obat (inj. ketorolac 30mg/12jam, inj. Manitol 100cc/6jam, parasetamol 3x500mg, Vit B 12 100mg/12jam) dengan rasional untuk mengurangi peningkatan intrakranial (TIK).
Rencana keperawatan yang akan dilakukan pada Ny. T dengan diagnosa keperawatan hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot dengan tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam, diharapkan hambatan mobilitas fisik optimal dengan kriteria hasil:
kekuatan otot dari 1 menjadi 2, pasien dapat menggerakkan ekstermitasnya yang sebelah kiri, pasien mampu melakukan mobilitas secara bertahap.
Intervensi / rencana yang akan dilakukan yaitu observasi tanda-tanda vital dengan rasional untuk mengetahui tanda-tanda vital, ajarkan ROM pasif dengan rasional untuk melatih kekuatan otot, ajarkan keluarga untuk alih baring dengan rasional untuk mencegah resiko dekubitus, kolaborasi dengan ahli fisioterapi dengan rasional program khusus melatih kekuatan otot.
Rencana keperawatan yang akan dilakukan pada Ny. T dengan diagnosa keperawatan konstipasi berhubungan dengan kelemahan otot abdomen
dengan tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan masalah konstipasi tidak terjadi dengan kriteria hasil : pasien bisa buang air besar, perut tidak teraba keras dikuadran III, bising usus dalam batas normal 5 - 35 x/menit. Intervensi / rencana yang akan dilakukan yaitu kaji keadaan umum pasien dengan rasional mengetahui keadaan umum pasien, auskultasi bising usus dengan rasional untuk mengetahui bising usus pasien, ajarkan ROM pasif dengan rasional untuk mencegah konstipasi, anjurkan keluarga untuk memberikan makanan tinggi serat dengan rasional untuk memperlancar pencernaan, kolaborasi dengan ahli gizi dengan rasional untuk meningkakan serat dan cairan dalam diet pasien.
Rencana keperawatan yang akan dilakukan pada Ny. T dengan diagnosa keperawatan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis (mual, muntah) dengan tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan ketidakseimbangan nutrisi dapat terpenuhui dengan kriteria hasil : pasien tidak mual muntah, nafsu makan meningkat. Intervensi / rencana yang akan dilakukan yaitu kaji penyebab mual muntah dengan rasional untuk mengetahui penyebab mual muntah, bantu perawatan diri: makan dengan rasional membantu pasien untuk makan, ajarkan keluarga memberikan makanan dalam porsi kecil tapi sering dengan rasional untuk meningkatkan nafsu makan dan asupan nutrisi pasien, beri obat nafsu makan dengan rasional untuk mengurangi peningkatan asam lambung.