BAB I PENDAHULUAN
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1. Tujuan Penelitian
1.3.2.1. Manfaat Teoritis
Keberhasilan mengungkap dan mendapatkan informasi tentang politik pembangunan Al Jam’iyatul Washliyah sekaligus aktor-aktor yang terlibat dalam politik pembangunan Al Jam’iyatul Washliyah tersebut tentunya akan menambah dan memperkaya khazanah pengetahuan politik pembangunan dan politik pembangunan Islam. Ini artinya pengembangan atas teori-teori yang menjelaskan tentang politik pembangunan Islam disebabkan studi ini secara langsung menguraikan tentang ideologi strategi, model, dan aktor dalam politik pembangunan Al Jam’iyatul Washliyah sebagai organisasi Islam.
1.3.2.2. Manfaat Praktis
Sementara itu, manfaat praktis yang bisa didapat melalui studi ini adalah mendapatkan informasi tentang mekanisme pembentukan, penyusunan, dan tokoh atau aktor yang terlibat dalam proses politik pembangunan Al Jam’iyatul Washliyah.
Ragam temuan tentang cara pembentukan, dasar yang digunakan, dan tokoh yang terlibat didalamnya akan bisa menjadi referensi bagi pengurus organisasi lainnya untuk menjadi bahan evaluasi bagi kajian keilmuan tentang politik pembangunan Islam khususnya politik pembangunan organisasi keislaman Indonesia di masa mendatang.
Secara internal, temuan-temuan dalam studi ini akan bisa menjadi bahan evaluasi dan masukan sekaligus pertimbangan bagi organisasi keagamaan Islam khususnya Al Jam’iyatul Washliyah untuk menjawab politik pembangunan dalam menghadapi situasi dan kondisi masa depan yang dinamis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Politik Dalam Pandangan Islam
Kata politik sinonim dengan kata siyasah – berasal dari bahasa Arab “sasa”,
“yasusu” dan “siyasatan”. Siyasah berarti seni memerintah (Thaib, 2006). Siyasah berarti pemerintahan dan politik, atau membuat kebijaksanaan. Siyasah adalah ilmu pemerintahan untuk mengendalikan tugas dalam negeri dan luar negeri serta kemasyarakatan dan mengatur kehidupan umum atas dasar keadilan dan istiqamah.
Suyuti Pulungan (1994:25) menegaskan bahwa Siyasah adalah pengurusan kepentingan-kepentingan umat manusia sesuai dengan syara’ demi tercapainya kemaslahatan.
Konsep kemaslahatan dalam konteks siyasah adalah dampak positif dan konkrit dari adanya pemerintahan, negara dan kepemimpinan bagi semua kepentingan masyarakat. Politik dalam Islam penting sebagai perwujudan keadilan dan kedamaian. Politik dalam Islam diartikan sebagai bentuk perjuangan bagi kekuasaan untuk beriman kepada Allah SWT dengan menekankan pada Tauhid dan menolak Thogut, menghapus penindasan dan ketidakadilan di muka bumi.
Kekuasaan dalam Islam bukanlah untuk kekuasaan itu sendiri, bukan kekuasaan pribadi atau kelompok. Islam menempatkan kekuasaan dalam kerangka moral.
Kekuasaan bukan tujuan, tetapi sarana untuk mengabdi kepada Allah SWT.18
Perhatian utama politik dalam Islam adalah usaha mengontrol struktur negara, meraih kekuasaan untuk kebaikan, menyapu bersih keburukan dan menciptakan kehidupan yang lebih baik, semuanya dianjurkan dan relevan dengan
18Warjio (ed.). Politik Pembangunan Islam : pemikiran dan implementasi. Medan : Perdana Publishing, 2013.
Islam. Politik dalam Islam adalah bagian dari agama Islam dan satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan (Thaib, 2006:3).19
Diana (2016) Agama dan politik adalah dua hal yang integral. Semua agama pasti membutuhkan kekuasaan yang mampu menciptakan kesejahteraan bagi umatnya serta memberikan perlindungan kepada pengikut setia yang menyebarkan ajarannya. Islam tidak bisa dilepaskan dari aturan yang mengatur urusan masyarakat dan negara, sebab Islam bukanlah agama yang mengatur ibadah secara individu saja. Islam juga mengajarkan bagaimana bentuk kepedulian kaum muslimin dengan segala urusan umat yang menyangkut kepentingan dan kemaslahatan mereka, mengetahui apa yang diberlakukan penguasa terhadap rakyat, serta menjadi pencegah adanya kezaliman oleh penguasa. Berpolitik adalah hal yang sangat penting bagi kaum muslimin, pada hal ini kalau kita memahami betapa pentingnya mengurusi urusan umat agar tetap berjalan sesuai dengan syari’at Islam. Terlebih lagi memikirkan/memperhatikan urusan umat Islam hukumnya fardlu (wajib) sebagaimana Rasulullah bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim dalam kitab Al Mustadrak No. 7889:
"Barang siapa di pagi hari perhatiannya kepada selain Allah, maka Allah akan berlepas dari orang itu. Dan barang siapa di pagi hari tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin)". HR. Al Hakim.
Setiap saat kaum muslimin harus senantiasa memikirkan urusan umat, termasuk menjaga agar seluruh urusan ini terlaksana sesuai dengan hukum syari’at Islam. Sebab umat Islam telah diperintahkan untuk berhukum (dalam urusan apapun) kepada apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.
19 Thaib, 2006:3
Eksistensi politik sebenarnya sudah terlihat sejak dulu, dimana dalam sejarah perjuangan para sahabat terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwasanya agama Islam memang memiliki otoritas terhadap politik. Bukti-bukti itu dapat dilihat pada saat mereka mengangkat khalifah (kepala negara pengganti Rasulullah). Dalam mengangkat seorang khalifah, para sahabat memberikan syarat kepada khalifah agar memegang teguh Al-Quran dan as-Sunnah. Jika tidak karena mereka tahu bahwa politik tidak mungkin dipisah-pisahkan dari agama, sehingga mereka akan mengangkat khalifah berdasarkan pertimbangan yang terbaik. Dalam hal ini, bukan berarti politik itu baru lahir pada masa Rasulullah. Karena sejak manusia mengenal kata memimpin dan dipimpin, maka politik ada saat itu.
Namun banyak masyarakat yang berpandangan bahwa aplikasi politik dianggap sebagai segala sesuatu yang berbau kelicikan, kebusukan, serta pandangan negatif lainnya. Memang harus diakui, ada sebagian penguasa muslim yang tidak konsisten menjalankan kebijakan politiknya diatas ketentuan hukum dan etika syariat. Akibatnya, mereka menetapkan peraturan yang menyimpang dari ajaran Islam. Maka banyak orang yang beragama Islam tidak sepakat dengan adanya politik dalam Islam. Padahal, sebagai umat muslim yang cerdas harusnya kita paham akan pentingnya politik yang dapat dijadikan sebagai landasan munculnya aktivitas gerakan Islam melalui dua arah, yaitu secara kultural dan struktural.
Aktivitas gerakan Islam secara kultural akan terfokus pada proses dakwah di suatu negara agar tetap sesuai dengan ajaran Allah SWT, sedangkan secara struktural dapat mempengaruhi dibatalkannya atau di revisinya kebijakan-kebijakan pemerintah yang akan membawa kerugian terhadap masyarakat.
Maka dari itu berpolitik itu dihalalkan dan memiliki pengaruh besar dalam mempertahankan ajaran Islam di suatu negara. Akan tetapi, politik harus memegang teguh beberapa prinsip seperti: mewujudkan persatuan dan kesatuan
bermusyawarah, menjalankan amanah dan menetapkan hukum secara adil atau dapat dikatakan bertanggung jawab, menaati Allah, Rasulullah, dan menepati janji.
Politik harus kokoh dengan prinsip yang benar dan tidak hanyut dengan gaya perpolitikan yang menghalalkan segala cara, sebab korelasi pengertian politik Islam dengan politik menghalalkan segala cara merupakan dua hal yang sangat bertentangan.
2.2. Pembangunan Dalam Pandangan Islam
Pembangunan sebagai suatu kebijakan publik dapat dilihat sebagai sebuah proses politik. Kaitannya dengan pembangunan, akan dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan seperti; siapa yang mendapatkan keuntungan dalam proses pembangunan, apa yang mereka dapatkan dari proses pembangunan, bagaimana mereka mendapatkannya, dan kapan?20 .
Di Indonesia kata pembangunan menjadi diskursus yang dominan dan erat kaitannya dengan pemerintahan orde baru. Kata pembangunan dalam konteks orde baru sangat erat kaitannya dengan discourse development yang dikembangkan oleh negara barat.21
Teori pembangunan dalam Islam, menurut Syukri Saleh merupakan kata kerja atau aktivitas. Pembangunan adalah salah satu cara mengabdikan atau beribadah kepada Allah SWT. Pembangunan bergabung antara dua bentuk yaitu pembangunan material dengan pembangunan spiritual dan dilaksanakan menurut garis panduan yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam. Pembangunan material ialah pembangunan yang dapat menegakkan program berkaitan dengan aspek kehidupan
20 Budi Winarno. Gagalnya Organisasi Desa Dalam Pembangunan di Indonesia. Tiara Kencana, Yogyakarta, 2008.p. ix
21Mansour Fakih. Runtuhnya teori pembangunan dan globalisasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2001, p. 12
manusia atau yang dinamakan dengan habl min al-Nas, seperti pengeluaran dan penggunaan. Sedangkan pembangunan spiritual ialah pembangunan yang dapat mengeratkan hubungan manusia dengan Allah SWT, melaksanakan syariat sebaik mungkin dan berakhlak dengan Allah SWT setinggi mungkin atau sebagai Habl min Allah, seperti keimanan, ketakwaan dan sebagainya.22
2.3. Politik Pembangunan Islam
Politik pembangunan Islam ditinjau dari falsafah mengandung nilai-nilai Islam. Penekannya berdasarkan pada nilai-nilai ketauhidan. Pertanggung jawabannya adalah dunia dan akhirat (horizontal dan vertikal). Horizontal adalah pertanggung jawaban kepada manusia dan makhluk hidup lainnya dengan memperhatikan kelestarian lingkungan (suistainable development). Pertanggung jawaban vertikal adalah pertanggung jawaban kepada sang Pencipta dan pemilik jagad raya, Allah SWT.
Kerangka politik pembangunan Islam
Sumber: Warjio,
Bagan di atas menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam dalam pembangunan, politik pembangunan Islam dibuat dan dijalankan berdasarkan
22Muhammad Syukri Saleh. 7 prinsip pembangunan berteraskan Islam. Kuala Lumpur: Zebra Edition, 2003 p. 15
Pembangunan dalam perspektif Islam
Politik pembangunan Islam Mempromosikan budaya Islam dan membangun instansi Islam, struktur dan
administrasi
kerangka Islam. Institusi politik, menjadi bagian penting dari politik pembangunan Islam. Politik pembangunan Islam perlu mempromosikan nilai-nilai Islam, budaya Islam maka dengan sendirinya akan terbentuk identitas politik pembangunan Islam.
Islam dan pembangunan adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Artinya pembangunan dalam konteks Islam sangat berkaitan baik secara fisik maupun non-fisik.
Menurut (Mudrajat Kuncoro, 2011, Syukri Saleh, 1999, 2002, 2009, Zaenath, 2000, Khursid Ahmad, 2000, Syed Serajul Islam, 2000), politik pembangunan Islam memiliki lima kebijakan filosofis. Pertama, Tauhid, yaitu percaya kepada keesaan Allah dan semua yang ada di alam semesta merupakan kepunyaan-Nya. Dalam konteks upaya pembangunan, manusia harus sadar bahwa sumber daya yang tersedia adalah kepunyaan-Nya sehingga tidak boleh hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Manusia hanya penerima amanat atas segala sumber daya yang disediakan dan harus mengupayakan agar manfaat yang dihasilkan dapat dibagi kepada manusia lainnya. Kedua, Rububiyah, yaitu percaya kepada Allah SWT yang menentukan keberlanjutan dan hidup dari ciptaannya serta menuntut siapa saja yang percaya kepada-Nya kepada kesuksesan. Dalam konteks upaya pembangunan, manusia harus sadar bahwa pencapaian tujuan pembangunan tidak hanya bergantung pada upaya sendiri, tetapi juga pada pertolongan Allah SWT, baik material maupun spiritual.
Ketiga, Khilafah, yaitu peranan manusia sebagai wakil Tuhan di bumi.
Disamping sebagai wakil atas segala sumber daya yang diamanahkan kepadanya, manusia yang beriman juga harus menjalankan tanggung jawabnya sebagai pemberi teladan atau contoh bagi manusia lainnya. Keempat, Tazkiyah, yaitu merujuk pada pertumbuhan dan penyucian manusia sebagai prasyarat yang diperlukan sebelum
manusia menjalankan tanggung jawab yang ditugaskan padanya. Manusia adalah agen perubahan dan pembangunan. Oleh karena itu perubahan dan pembangunan apa pun yang terjadi sebagai akibat upaya manusia ditujukan bagi kebaikan orang lain dan tidak bagi pemenuhan pribadi. Kelima, Al-Falah, yaitu konsep keberhasilan dalam Islam bahwa keberhasilan apapun yang dicapai dikehidupan dunia akan mempengaruhi keberhasilan di akhirat sepanjang keberhasilan yang dicapai di dunia tidak menyalahi petunjuk bimbingan yang ditetapkan Tuhan.
Kelima filosofis ini menjadi asas bagi pembangunan Islam. Pembangunan dalam kerangka Islam ditemukan pada pola nilai dalam Al-Qur’an dan Sunah.
Kedua sumber ini menjadi rujukan dasar dalam upaya pembangunan.23
Titik berat pembangunan spiritual, moral dan etika mengindikasikan derajat perhatian yang tinggi melekat dalam proses pembangunan Islam.24
Gambar 2.3 Lima Dasar Politik Pembangunan Islam
23Warjio. Dilema politik pembangunan PKS: Islam dan konvensional. Medan: Perdana Publishing, 2013, p.71-73
24Mudrajat Kuncoro. Ekonomi pembangunan: masalah, kebijakan, dan politik. Jakarta: Erlangga.
2012. p. 25
2.3.1. Tahapan Politik Pembangunan Islam
Ada lima tahapan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan akhir dari proses pembangunan. Kelima tahapan tersebut adalah: Pertama Tahapan persiapan Kualitatif. Aspek ini bersumber dari manusia. Manusia dalam Al-Qur’an diumpamakan pohon (Qs. 14:25-26). Akar, batang dan buah merupakan bahasa amtsal untuk akidah, syariat dan muamalat. Dengan akidah yang baik manusia mampu melaksanakan syariat dengan baik dan akhirnya akan tercermin pada muamalat. Dalam sebuah sistem, muamalat yang buruk tercermin pada hasil pembangunan yang buruk, seperti kemiskinan, pengangguran, kerusakan lingkungan yang sangat berbahaya bagi keberlangsungan proses pembangunan berikutnya.25
Tahapan kedua adalah peran dan kedudukan manusia dalam sebuah sistem.
Manusia tidak hanya dipandang sebagai individu, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat sebagai suatu sistem dalam kehidupan. Jika masyarakat terdiri atas individu-individu yang baik, sistem tersebut akan mampu menciptakan berbagai manfaat dan keuntungan yang berpengaruh kepada tahapan berikutnya. Tahapan ketiga adalah terciptanya keuntungan kualitatif dan keuntungan kuantitatif. Bentuk keuntungan tersebut antara lain kekayaan alam, teknologi, sosial ekonomi, kepuasan spiritual dan moral serta keuntungan lainnya. Tahapan keempat adalah utilisasi hasil pembangunan bagi proses pembangunan berikutnya. Islam menjelaskan bahwa sumber permasalahan ekonomi terletak pada cara pengalokasian atau distribusi faktor produksi yang ada. Allah SWT menyediakan semua hal yang dibutuhkan demi kelangsungan hidup manusia di alam semesta (Qs.
25Mudrajat Kuncoro. Ekonomi pembangunan: masalah..2010
31:20). Tahapan kelima adalah tercapainya kesuksesan di akhirat. Untuk mencapai kelima tahapan tersebut, Al-Ghazali menyatakan pemerintahan harus dilakukan secara adil. Konsep pemerintahan yang adil dalam politik pembangunan Islam adalah:
• Senantiasa antusias dengan nasihat ulama
• Dedikasi dan loyalitas tinggi
• Hidup sederhana
• Senantiasa beribadah
• Senantiasa bersikap lemah lembut
• Senantiasa berusaha mencapai ridha Allah
• Berusaha mendapatkan kerelaan manusia sesuai syariah
• Berlaku baik pada bawahan
• Rendah hati dan penyantun
• Tulus dan ikhlas
• Mengetahui sisi manfaat bahaya kekuasaan
• Membiasakan memberi maaf dan menahan amarah26
2.4. Politik Pembangunan
Sebagai sebuah paradigma, politik pembangunan memerlukan penjelasan untuk pendefinisiannya. Dari segi bahasa, politik pembangunan adalah gabungan dari politik dan pembangunan. Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan politik pembangunan? Politik pembangunan adalah sebuah paradigma yang memiliki arti dan implementasi tersendiri. Politik pembangunan sebagai sebuah paradigma didalamnya karena memiliki basis kepercayaan utama atau metafisika dari sebuah
26Sahri. Konsep negara dan pemerintahan dalam perspektif Fikih Siyasah Al-Gazzali. Jurnal Ilmu Syariah dan hukum. Vol.47.no.2 Des. 2013
sistem berfikir, basis ontologi, epistemologi dan metodologi. Politik pembangunan adalah satu terminologi yang merupakan gabungan antara konsep politik pembangunan. Konsep politik selama ini banyak diartikan sebagai perebutan kekuasaan. Sama dengan konsep politik pembangunan harus berorientasi pada kebutuhan, sanggup mempertemukan keperluan materi dan non materi manusia, berasal dari hati masyarakat, percaya kepada diri sendiri, yang secara tidak langsung menyatakan bahwa setiap masyarakat intinya mengandalkan kekuatan dan sumber dayanya sendiri, mempunyai pertimbangan ekologis, pemanfaatan secara rasional sumber daya biosphere, dan didasarkan pada transformasi struktural serta keseluruhan yang terpadu.
Konsep politik dan pembangunan kita mendapatkan satu kesimpulan bahwa dua konsep tersebut memiliki hubungan dan makna yang saling bertautan dan dibentuk dalam apa yang disebut dengan proses politik, jika kedua kata tersebut digabungkan menjadi politik pembangunan, maka bukan saja ia saling terkait maknanya tetapi juga memiliki satu paradigma baru, namun demikian sebagai sebuah konsep politik pembangunan tidak bisa secara mudah dikatakan seperti itu.
Secara filosofis konsep politik pembangunan adalah sebuah konsep yang lebih mendalam dalam memahami realitas politik dalam pembangunan. Jadi, ia tidak dapat dimaknai secara terpisah-pisah tetapi harus dimaknai dalam satu kesatuan.
proses alurnya dapat dilihat dibawah ini:
Gambar 2.4 Alur konsep politik pembangunan
Politik Politik
Pembangunan Pembangunan
Teori-teori pembangunan pada umumnya berhubungan dengan pengalaman negara-negara maju. Karena itulah perspektif-perspektif pembangunan tradisional di Negara-Negara yang kurang berkembang biasanya mengasumsikan kemungkinan pembangunan disetiap tempat, modal dan teknologi mungkin dapat disaring dari pengalaman negara maju untuk negara berkembang. dengan asas pemikiran tersebut akan membawa konsekuensi praktis bagi pelaku, cara berpikir, interpretasi, dan kebijakan dalam pemilihan masalah pembangunan27. Inti dari teori pembangunan adalah mengenai persoalan perubahan sosial selain itu pembangunan juga dimaknai sebagai sebuah proses dalam demokrasi yang menekankan peran institusi dan partai politik. Lucian Pye (1965) dalam Warjio( 2013:72) menyatakan pembangunan sebagai penguatan nilai-nilai dan praktik-praktik demokrasi kapitalis barat. Ia berpendapat adanya partisipasi, pluralis, sistem-sistem multipartai, dan politik persaingan maupun stabilitas politik dan penghindaran ketegangan yang berlebihan.
Muhammad Syukri Saleh (2003:15) aktivitas pembangunan adalah satu cara mengabadikan atau beribadah kepada Allah S.W.T. pembangunan berteraskan Islam yang dimaksudkan bahwa pembangunan yang bergabung antara dua bentuk pembangunan: pembangunan material dan pembangunan kerohanian dan dilaksanakan menurut garis panduan yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam.
Lahirnya politik pembangunan sebagai sebuah paradigma, diawali dari penilaian yang dilakukan oleh para ahli dan praktisi pembangunan terhadap teori-teori dan praktek pembangunan yang terkait dengan pemahaman bahwa pembangunan dirumuskan oleh para aktor melalui proses dan kepentingan-kepentingan politik.
27 Warjio 2016. Politik pembangunan: paradoks, teori , aktor dan ideologi. Penerbit: kencana jl.
Tembra raya no 23 rawamangun-jakarta 13220 hal.111
Politik pembangunan telah lama dijalankan dan menjadi bagian dalam proses peradaban manusia khususnya terkait dengan kekuasaan. Namun demikian menurut Philip Quarles Van Uffod dan Ananta Kunar Giri (2003) mengatakan bahwa pembangunan sebagai sebuah upaya politik secara sistematis dan memengaruhi kebijakan internasional terkait dengan kepentingan ideologi, mulai dikembangkan sejak 1949, merupakan tahapan II setelah pembangunan di pandang sebagai satu pengharapan.
Dalam politik pembangunan didalamnya terkandung ide-ide, pemikiran ataupun gagasan baik dari individu atau lembaga yang ingin mendapatkan keuntungan dari pembangunan (Death, 2010). Politik pembangunan bukan saja menganalisis latar belakang pembangunan tetapi juga proses-proses yang terjadi dari sebuah pembangunan berupa siapa aktor atau kelompok kepentingan dibalik itu.
Moeljarto (1987:XXI) mengatakan bahwa politik pembangunan dapat diartikan sebagai cara, arah, untuk mencapai tujuan dasar pembangunan. Sementara Zulfi Syarif (2011:19 dalam Warjio (2013)) mengatakan politik pembangunan suatu cara atau strategi atau dasar dan model yang dipilih pemerintah dalam melakukan perubahan sosial kearah yang lebih baik berasaskan nilai-nilai yang dianut suatu negara dan pada waktu tertentu (time specifik). Menurut beliau ada tujuh model yang bisa digunakan untuk menganalisa politik pembangunan, model pertumbuhan ekonomi, model pemerataan, dan pertumbuhan, model keperluan asas, model pembangunan berpusat pada manusia, model pembangunan dari atas ke bawah, limit to growth dan model of doom dependency dan diffuinisme model.
Dari pemahaman tersebut, setidaknya ada lima arti penting politik pembangunan:
1. Mengetahui aktor-aktor yang memainkan peranan penting dalam pembangunan yang dijalankan. Pendekatan aktor dalam politik pembangunan secara spesifik bisa individu ataupun lembaga.
2. Mengetahui sistem yang menjalankan politik pembangunan itu sendiri.
3. Ideologi yang dikembangkan atau dijadikan dasar dalam pembangunan itu.
4. Mengetahui adanya intervensi dari luar terhadap pembangunan itu.
5. Mengetahui bagaimana proses yang terjadi dalam pembangunan tersebut.
6. Mengetahui strategi politik pembangunan yang dijalankan oleh aktor-aktor pembangunan.
2.4.1. Perspektif Politik Pembangunan
Perspektif politik pembangunan dapat didekati dengan tiga perspektif utama, sebagai berikut:
1. Perspektif Institusi
Menurut pandangan institusional sebagaimana disampaikan oleh Andrew Macintyre, kekuasaan sesungguhnya merupakan bentuk hegemoni yang didesain.
Oleh karena itu, berdasarkan pada kenyataan ini, pembangunan juga merupakan bagian dari yang didesain oleh kekuasaan yang terinstitusi. Institusionalisme merupakan salah satu metodologi dalam ilmu-ilmu politik, yang awal berkembangnya di Amerika Serikat pada akhir 1980-an. Institusionalisme mengombinasikan dan mempelajari aturan-aturan dan struktur, norma dan kebudayaan institusi menghambat pilihan-pilihan politik.(Miller,2013:35).
2. Perspektif Civil Society
Perspektif civil society dalam politik pembangunan harus diakui bahwa kemunculan masyarakat sipil sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari konteks interaksi antara perkembangan mutakhir di dunia internasional dan berbagai peristiwa di dalam negri. Masyarakat sipil pada umunya dimaknai sebuah ruang atau wadah bagi partisipasi masyarakat. Ruang ini mencakup kelompok-kelompok sosial seperti Ornop (Organisasi Nonpolitik), mahasiswa, organisasi keagamaan, petani dan bukan bisnis( Adi Suryadi Cula, 2006;15). Oleh karenanya masyarakat sipil menjadi penting dalam proses penguatan demokrasi yang berujung pada penguatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Gambar 2.4.1 Dua Perspektif Politik Pembangunan
Awal munculnya perhatian terhadap masyarakat sipil dalam pembangunan dilatar belakangi oleh pelbagai perubahan politik yang terjadi didunia eropa, khususnya negeri-negeri Eropa Timur pada akhir tahun 1980an. Ketika itu mereka tengah menjalani proses transformasi dari era politik otoritarian rezim komunis menuju era demokrasi. Dampaknya menyebar luar ke kawasan lain terutama negara berkembang di Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Semenjak itu masyarakat sipil umumnya dikaitkan dengan pertumbuhan kelompok-kelompok masyarakat bersifat
Perspektif
mandiri dan menarik jarak di luar struktur formal negara, mulai mewarnai dinamika politik. Sehubungan dengan itu dapat dikatakan masyarakat sipil tidak lain merupakan arena dimana ketegangan diantara keduanya dimainkan (Assiddique;2015;1447-148).
2.1. Masyarakat Sipil
Istilah masyarakat sipil sering kali dipersepsikan kurang tepat. Pengertian masyarakat sipil terkadang dipertentangkan dengan komunitas militer. Di zaman Orde Baru pandangan seperti itulah yang mendominasi. Masyarakat sipil selalu dikotomikan dengan kelompok militer. Pendikotomian itu telah mereduksi makna sesungguhnya dari istilah Civil Society yang menjadi padanan kata masyarakat sipil28.
Menurut Diamond (2003:278) merupakan bahagian daripada kehidupan sosial yang didalamnya tumbuh suatu pertumbuhan yang terbuka, sukarela, berdikari, setidaknya lahir secara berdikari, bebas dari campur tangan negara dan
Menurut Diamond (2003:278) merupakan bahagian daripada kehidupan sosial yang didalamnya tumbuh suatu pertumbuhan yang terbuka, sukarela, berdikari, setidaknya lahir secara berdikari, bebas dari campur tangan negara dan