B. Rumusan Masalah
2. Maqasid Syariah Index (MSI)
Menurut Muhammad Abu Zahrah, menyebutkan ada tiga sasaran atau tujuan khusus syariah yang harus dituju, yaitu:
a. Untuk Penyucian jiwa, yaitu melalui pelaksanaan ibadah mahdah yang dirumuskan dalam arkanul-Islam dan bersifat vertikal sekaligus horizontal, maupun melalui pelaksanaan ibadah umum yang bersifat horizontal yang tidak dilepaskan pula dengan ibadah mahdah yang bersifat vertikal.
b. Untuk menegakkan keadilan dalam masyarakat, baik sesama muslim maupun dengan non-muslim.
c. untuk menciptakan maslahat yang hakiki di dunia dan akhirat. Kemaslahatan umum yang berasal dari pendapat Imam Malik itu kemudian dirincikan oleh Imam Al-Gazali dalam al-
maqasid asy-syar‟iyyah yang kemudian dikembangkan oleh para pakar usul fiqih dan fuqaha, antara lain Abu Ishaq Asy- Syatibi dan Muhammad Abu Zahrah (Djubaedah, 2009: 95-96) Menurut pendapat Thuba Jazil dan Syahruddin pendapat Abu Zahrah dalam bukunya Ushul Fiqh hadir dengan bentuk yang lebih halus dari tujuan spesifik al-syari'ah. Thuba Jazil dan Syahruddin mengklasifikasikan ke dalam tiga bidang, yaitu
a. Tahdhib al-fard (mendidik individu) b. Iqamah al-'Adl (menegakkan keadilan)
c. Jalb al-maslahah (mempromosikan kesejahteraan) Ketiga bidang tersebut yang digagas oleh Zahrah tersebut merupakan embrio maqasid syariah index di perbankan syariah. Dari klasifikasi tersebut, maka penelitian ini harus menggunakan yang paling dekat pendekatan untuk melakukan pengukuran dengan menggunakan konsep maqasid syariah index, untuk menggukur kinerja perbankan syariah (Jazil dan Syahruddin, 2013: 284-285).
3. Pengukuran Kinerja Bank Syariah
Kinerja (performance) adalah hasil kerja atau prestasi kerja seseorang dalam suatu organisasi, baik organisasi pemerintah maupun swasta. Yuchtman dan Seashore (1967) mendefinisikan kinerja sebagai kemampuan suatu organisasi yang memanfaatkan lingkungannya untuk
mengakses sumber-sumber daya yang terbatas. Lebih lanjut Yuchtman dan Seashore menjelaskan kinerja adalah sebuah pengukuran yang mencangkup persepsi dari berbagai stakeholder dalam organisasi. Pengukuran tersebut mencangkup keberhasilan pekerjaan dan mencapai tujuan organisasi. Gruneberg (1979) menyatakan bahwa, kinerja merupakan perilaku yang diperagakan secara aktual oleh individu sebagai respos pada pekerjaan yang diberikan kepadanya yang dilihat atas dasar hasil kerja, derajat kerja dan kualitas kerja (Bahua, 2016: 51)
Pengukuran kerja adalah pengukuran yang dilakukan terhadap sebagai aktivitas dalam rantai nilai yang ada pada perusahaan. Hasil pengukuran tersebut kemudian digunakan digunakan sebagai umpan balik yang akan memberikan informasi tentang prestasi pelaksanaan suatu rencana dan titik di mana perusahaan merupakan penyesuaian- penyesuaian atas aktivitas perencanaan dan pengendalian (Yuwono dkk,2016: 23).
Belows (1961) mendefinisikan penilain kinerja adalah suatu pengukuran periodik atas hasil kerja seorang karyawan pada suatu organisasi, dilakukan oleh atasnnya atau seseorang yang ditunjuk untuk mengamati atau menilai prestasi karyawan. Beach (1970) mendefinisikan penilaian kinerja adalah sebuah penilaian sistematis atas prestasi seorang karyawan dan potensinya untuk pengembangan organisasi (Bahua, 2016: 54).
Mengukur kinerja bank syariah memang perlu untuk bisa dideteksi masalah dan mengatasi kekhawatiran tentang keamanan dan kesehatan investasi deposan, manajer, dan regulator sama. Hal ini sangat penting bagi para manajer menentukan posisi keuangan lembaga mereka dibandingkan dengan kompetisi mereka atau tolok ukur industri, serta mengevaluasi seberapa efektif keputusan yang diambil sebelumnya mempengaruhi bank. Pengukuran kinerja bank syariah juga membantu syariah Dewan Pengawas dan regulator lainnya untuk mengetahui kinerja bank dan pastikan hanya informasi yang transparan dan jelas yang tersedia dan digunakan. Sehingga dapat membantu para investor untuk mengidentifikasi peluang dan peluang investasi dan memastikan yang terbaik keputusan tentang penggunaan dana diambil (Badreldin, 2009: 2).
Zahrah dalam bukunya Ushul Fiqh hadir dengan bentuk yang lebih halus dari tujuan spesifik al-syari'ah. Thuba Jazil dan Syahruddin mengklasifikasikan ke dalam tiga bidang, yaitu
a. Tahdhib al-fard (mendidik individu) b. Iqamah al-'Adl (menegakkan keadilan)
c. Jalb al-maslahah (mempromosikan kesejahteraan)
Ketiga bidang tersebut yang digagas oleh Zahrah tersebut merupakan embrio maqasid syariah index di perbankan syariah (Jazil dan Syahruddin, 2013: 284-285). Menurut Mohammed dkk, (2008)
Education the individual pada tujuan pertama maksudnya adalah bank syariah sudah seharusnya melakukan pengembangan pengetahuan dan keahlian pada individu sehingga nilai-nilai spiritual meningkat. Dalam hal ini, agar setiap muslim bisa menjadi sumber kebaikan bukan sumber keburukan bagi masyarakat di lingkungannya. Untuk itu pendidikan ini terbagi menjadi dua, yaitu pendidikan bagi pihak internal dan eksternal bank syariah. Dalam hal ini, dimana Pendidikan atau Beasiswa, Research (Penelitian), dan Training (Pelatihan) merupakan bagian pendidikan yang dilakukan bank syariah bagi karyawan (Internal) dan Publicity (Iklan) merupakan edukasi atau pendidikan bagi masyarakat (Eksternal).
Tujuan yang kedua adalah keadilan (justice). Perbankan syariah seharusnya harus memastikan kejujuran dan keadilan dalam setiap transaksi dan aktivitas bisnis yang tercakup dalam produk, pricing, dan ketentuan-ketentuan kontrak. Di samping itu, seluruh akad-akad harus bebas dari unsur-unsur ketidakadilan seperti maysir, gharar, dan riba. Oleh sebab itu maka, variabel yang kedua ini terbagi menjadi tiga rasio, yaitu Fair Return, Funcional Distribution, dan Interest free Product
Tujuan yang ketiga adalah Maslahah (Kesejahteraan). Bank syariah seharusnya dapat mengembangkan proyek-proyek investasi dan jasa sosial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena Maslahah (kesejahteraan) merupakan aspek penting bagi kehidupan
manusia, sehingga aspek ini turut menjadi perhatian yang utama khususnya dalam industri perbankan syariah. Maslahah (Kesejahteraan) ini juga selain memberikan manfaat bagi masyarakat, juga memberikan manfaatnya pada bank syariah itu sendiri. Selanjutnya maka, variabel yang ketiga ini terbagi menjadi tiga rasio, yaitu Profit Return, Personal Income Transfer (Zakat), dan Investment In Real Sector (Al Ghifari dkk, 2015: 53-54). Ketiga tujuan perbankan tersebut kemudian secara operasional didefinisikan menjadi unsur-unsur yang dapat diamati, terukur melalui metode Sekaran (Jazil dan Syahruddin, 2013: 289). Metode Sekaran digunakan untuk mendefinisikan secara operasional ketiga tujuan perbankan syariah ke dalam item-item yang terukur sehingga membentuk sebuah index pengukuran yang disebut maqasid syariah index.
Agar dapat mengoperasionalkan atau secara operasional mendefinisikan sebuah konsep untuk membuatnya bisa diukur, maka dilakukan dengan melihat pada dimensi perilaku, aspek atau sifatnya yang ditunjukkan oleh sebuah konsep. Kemudian diterjemahkan ke dalam elemen yang dapat diamati dan diukur sehingga dapat menghasilkan suatu indexs pengukuran konsep tersebut (Sekaran, 2006: 4). Menurut Mustafa dkk, terjemahkan ketiganya menjadi tiga langkah. Dimana masing-masing tujuan atau konsep (C) mereka diterjemahkan ke dalam karakteristik atau dimensi yang luas (D) dan akhirnya menjadi
perilaku atau elemen terukur (E). Akibatnya, berdasarkan literatur, tiga (3) tujuan yang luas diterjemahkan ke dalam 9 dimensi dan 10 elemen, yang diukur secara individual oleh Rasio sepuluh yang sesuai berasal dari laporan tahunan masing-masing bank (Jazil dan Syahruddin, 2013: 289).
Gambar 2.1 Konsep Operasionalisasi Sekaran
Dalam menggunakan metode oprasionalisasi Sekaran tersebut, maka konsep maqasid syariah dari Zahrah dan diterjemahkan oleh Mohammed & Taib (2010) adalah sebagai berikut :
Konsep
D D D D D E E E ETabel 2.2
Konsep Operasionalisasi Metode Sekaran yang Dirumuskan di dalam Peneliti Mohammed dan Taib (2010)
Tujuan Syariah
Dimensions (D) Elements (E)
Rasio Kinerja Source of Data 1. Tahzib Al- Fard (Educating Individual) D1. Advancement Knowledge E1. Education Grant R1. Education Grant/ Total Expense Annual report E2. Research R2. Research
Expense/ Total Expense
Annual report D2. Instilling
New Skill and Improvement
E3. Training R3. Training Expense/ Total Expense Annual report D3. Creating Awareness of Islamic Banking
E4. Publicity R4. Publicity Expense/ Total Expense Annual report 2. Iqamah Al- „Adl (Establishing Justice) D4. Fair Returns E5. Fair Returns R5. Profit Equalization Reserver (PER)/ Net or Investment Income Annual report D5. Cheap Products and Services E6. Functional Distribution R6. Mudharabah and Musyarakah Modes/ Total Investment Mode Annual report D6. Elimination of Injustices E7. Interest free Product R7. Interest Free Income/ Total Income
Annual report 3. Jalb al Muslahah (Public Interest) D7. Profitability of Bank E8. Profit Ratios R8. Net Income/ Total Asset Annual report D8. Redistribution of Income and Wealth E9. Personal Income
R9. Zakah Paid/ Net Income Annual report D9. Investment in Real Sector E10. Investment Ratios in Real Sector R10. Investment in Real Economic Sectors/ Total Investment Annual report
Menurut Jazil dan Syahruddin (2013:293) langkah selanjutnya agar mendapatkan rasio tertimbang untuk tiga tujuan di atas, Mustafa, dkk, menggunakan dua cara yang keduanya berbentuk kuesioner dan wawancara dimana dikirim ke ahli syari'ah dari tengah timur dan Malaysia yang berpengalaman baik dalam bidang Islam maupun konvensional bank. Bobot rata-rata yang diberikan oleh para ahli ditawarkan dalam tabel 2.3 di bawah:
Tabel 2.3
Konsep Operasionalisasi Metode Sekaran yang Dirumuskan oleh Mohammed dan Taib (2010) Tujuan Syariah Bobot (Weighting) Rata-rata (100%) Elemen (E) Bobot (Weighting) Rata-rata (100%) 1. Tahzib Al- Fard (Educating Individual) 30
E1. Education Grant 24
E2. Research 27 E3. Training 26 E4. Publicity 23 Total 100 2. Iqamah Al- „Adl (Establishing Justice) 41
E5. Fair Returns 30
E6. Functional Distribution 32 E7. Interest free Product 38
Total 100
3. Jalb al Muslahah
(Public Interest) 29
E8. Profit Ratios 33
E9. Personal Income 30 E10. Investment Ratios in Real
Sector
37
Total 100
Total 100
4. Perbankan Syariah
Islam adalah suatu dien ( way of life) yang praktis, mengajarkan segala yang baik dan bermanfaat bagi manusia, dengan mengabaikan waktu, tempat atau tahap-tahap perkembangannya. Selain itu, Islam adalah agama fitrah, yang sesuai dengan dasar manusia (human nature).
keungan dan perbankan dapat dipandang sebagai wahana bagi masyarakat moderen untuk membawa mereka kepada, paling tidak, pelaksanaan dua ajaran Al-Quran yaitu:
a) Prinsip at-Ta‟awun, yaitu saling membantu dan saling bekerja sama di antara anggota masyarakat untuk kebaikan, sebagaimana dinyatakan dalam A-Quran:
“… Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran …” (QS Al- Ma‟idah: 2).
b) Prinsip menghindari Al-Iktinaz, yaitu menahan uang (dana ) dan memberikannya menganggur (idle) dan tidak berputar dalam transaksi yang bermanfaat bagi masyarakat umum, sebagaimana dinyatakan di dalam Al-Quran:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesama dengan jalan batil, kecuali dengan jalan
perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu …” ( QS An-Nisa: 29) (Arfin, 2009: 14-15).
Dalam beberapa hal, bank konvensional dan bank syariah memiliki persamaan, terutama dalam sisi teknis penerimaan uang, mekanisme transfer, teknologi computer yang digunakan, syarat-syarat umum memperoleh pembiayaan seperti KTP, NPWP, proposal, laporan keuangan, dan sebagaaianya. Akan tetapi, terdapat banyak perbedaan mendasar di antara keduanya. Perbedaan itu menyangkut aspek legal, struktur organisasi, usaha yang dibiyayai, dan lingkungan kerja sebagai berikut:
a. Akad dan Aspek Legalitas
Dalam bank syariah, akad yang dilakukan memiiki konsekuensi duniawi dan ukhrawi karena akad yang dilakukan berdasarkan hukum islam. Seringkali nasabah berani melanggar kesepakatan/ perjanjian yang telah dilakukan bila hukum itu hanya berdasarkan hukum positif belaka, tetapi tidak demikian bila perjajnian tersebut memiliki pertanggung jawaban hingga yaumil qiyamah nanti. Setiap akad dalam perbankan syariah, baik dalam hal barang, pelaku transaksi, maupun ketentuan lainnya, harus memenuhi ketentuan akad, seperti :
1. Rukun: adanya penjual, pembeli, barang, harga, akad/ijab- qabul.
2. Syarat: barang dan jasa harus halal segingga transakasi atas barang dan jasa yang haram menjadi batal demi hukum syariat, harga barang dan jasa harus jelas, tempat penyerahan (delivery) harus jelas karena akan berdampak pada biaya transportasi, barang yang ditransaksikan harus sepenuhnya dalam kepemilikan dan tidak boleh menjual sesuatu yang belum dimiliki atau dikuasai seperti yang terjadi pada transaksi short sale dalam pasar modal.
b. Lembaga Penyelesaian Sengketa
Berbeda dengan perbankan konvensional, jika pada perbankan syariah terdapat perbedaan atau perselisihan antara bank dan nasabahnya, kedua belah pihak tidak menyelesaikannya di pengadilan negeri, tetapi menyelesaikanya sesuai tata cara dan hukum materi syariah . Lembaga yang mengatatur hukum materi dan atau berdasrkan prinsip syariah di Indonesia dikenal dengan nama Badan Abitrase Muamalah Indonesia atau BAUMI yang didirikan secara bersama oleh kejaksaan Agung Republik Indonesia dan Majelis Ulama Indonesia.
c. Stuktur Organisasi
Bank syariah dapat memiliki struktur yang sama dengan bank konvensional, misalnya dalam hal komisaris dan direksi, tetapi unsur amat membedakan antara bank syariah dan bank
konvensional adalah keharusan adanya. Dewan Pengawas Syariah yang bertugas mengawasi operasional bank dan produk-produknya agar sesuai denngan garis-garis syariah.Dewan pengawas syariah biasanya diletakkan pada posisi setingkat Dewan Komisaris pada setiap bank. Hal ini untuk menjamin efektivitas dari setiap opini yang diberikan oleh Dewan Pengawas Syariah. Karena itu, biasanya setiap opini yang diberikan oleh Dewan Pengawas Syariah dilakukan oleh Rapat Umum Pemegang Saham, setelah itu mendapat rekomendasi dari Dewan Syariah Nasional.
1. Dewan Pengawas Syariah
Peran utama para ulama dalam Dewan Pengawas Syariah adalah mengawasi jalanya operasional bank sehari-hari agar selalu sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariah. Hal ini karena transaksi-transaksi yang berlaku dalam bank syariah sangat khusus jika dibandingkan bank konvesional, oleh karena itu diperlukan garis panduan (guidelines) yang mengaturnya sesuai garis panduan yang telah ditentuakan oleh Dewan Syariah Nasional. Dewan Pengawas Syariah harus membuat pernyataan secara berkala ( biasanya tiap bulan) bahwa bank yang diawasinya telah berjalan sesuai dengan ketentuan syariah. Peryataan tersebut dimuat dalam laporan tahunan (annual report) bank bersangkutan.
Tugas lain Dewan Pengawas Syariah adalah meneliti dan membuat rekomendasi produk baru dari bank yang diawasinya. Dengan demikian, Dewan Pengawas Syariah bertindak sebagai penyaring pertama sebelum suatu produk diteliti kembali dan difatwakan oleh Dewan Syariah Nasional. 2. Dewan Syariah Nasional (DSN)
Dewan Syariah Nasional dibentuk pada tahun 1997 dan merupakan hasil rekomendasi Lokakarya Reksadana Syariah pada bulan juli tahun 1997. Lembaga ini merupakan lembaga otonomi di bawah Majelis Ulama Indonesia dipimpin oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (ex-officio). Kegiatan sehari-hari Dewan Syariah Nasional dijalankan oleh Badan Pelaksana Harian dengan seorang ketua dan sekertaris serta beberapa anggota.
Fungsi utama Dewan Syariah Nasional adalah mengawasi produk-produk lembaga keuangan syariah agar sesuai dengan syariah Islam. Fungsi Dewan Syariah Nasional yang lainnya meneliti dan memberi fatwa bagi produk-produk yang dikembangkan oleh lembaga keungan syariah, memberikan rekomendasi para ulama yang akan ditugaskan sebagai Dewan Syariah Nasional pada suatu lembaga keuangan bank syariah.
Dewan Syariah Nasional dapat memberikan teguran kepada lembaga keuagan syariah jika lembaga yang bersangkutan menyimpang dari garis panduan yang yang telah ditetapkan.
3. Bisnis dan Usaha yang Dibiayai
Dalam bank syariah, bisnis dan usaha dilakukan tidak lepas dari saringan syariah. Karena itu, bank syariah tidak akan mengikuti membiayai usaha yang terkandung di dalamnya hal- hal yang diharamkan. Dalam perbankan syariah suatu pembiayaan tidak akan disetujui sebelum dipastikan beberapa hal pokok, di antaranya sebagai berikut:
1. Apakah objek pembiayaan halal atau haram?
2. Apakah proyek menimbulkan kemudharatan untuk masyarakat?
3. Apakah proyek berkaitan dengan perbuatan mesum/asusila?
4. Apakah proyek berkaitan dengan perjudian?
5. Apakah usaha itu berkaitan dengan senjata yang illegal atau beroperasi pada pengembangan senjata pembunuh missal?
6. Apakah proyek dapat merugikan syiar Islam, baik secara langsung maupun tidak langsung?
4. Lingkungan Kerja dan Corporate Culture
Sebuah bank syariah selayaknya memiliki lingkungan kerja yang sealan dengan syariah. Dalam hal etika, misalnya sifat amanah dan shiddiq, harus melandasi setiap karyawan sehingga tercermin integritas eksekutif muslim yang baik. Disamping itu, karyawan bank syariah harus skillful dan professional (fathanah), dan mampu melakukan tugas (tabligh). Demikian pula dalam hal reward dan (hukuman) punishment, diperlukan prinsip keadilan yang sesuai dengn syariah.
Selain itu, cara berpakian dan tingkah laku dari para karyawan merupakan cerminan bahwa mereka bekerja dalam sebuah lembaga keuangan yang membawa nama besar Islam, sehingga tidak ada aurat yang terbuka, senantiasa bersikap sopan dan tidak bertingah laku kasar. Demikian pula dalam menghadapi nasabah, akhlaknya harus senantiasa terjaga, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa senyuman adalah sedekah.
5. Antara Bank Syariah dan Konvesional
Perbandingan antara bank syariah dan bank konvensional di sajikan dalam table berikut menurut Antonio (2001: 29-34 ) :
Tabel 2.4
Perbedaan Bank Syariah dengan Bank Konvensional
BANK ISLAM BANK KONVESIONAL
1) Melakukan investasi-investasi yang halal saja.
2) berdasrkan prinsip bagi hasil, jual- beli, atau sewa.
3) Profit dan falah oriented.
4) Hubungan dengan nasabah dalam
bentuk hubungan kemitraan.
5) Penghimpun dan penyaluran dana
harus sesuai dengan fatwa Dewan Pengawas Syariah.
1) Investasi yang halal dan haram.
2) Memakai perangkat bunga.
3) Profit oriented.
4) Hubungan dengan nasabah
dalam bentuk hubungan kreditur- debitur.
5) Tidak terdapat dewan sejenis.
Sumber: Antonio (2001)
5. Perbankan Syariah Di Indonesia
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki beragam suku bangsa, bahasa, dan agama dengan jumlah penduduk 240 juta. Meskipun bukan negara Islam, Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dengan jumlah penduduk beragama Islam sebanyak 88%, Kristen 5%, Katolik 3%, Hindu 2%, Budha 1%, dan lainnya 1%. Semakin majunya sistem keuangan dan perbankan serta semakin meningkatnya kesejahteraan, kebutuhan masyarakat, khususnya Muslim, menyebabkan semakin besarnya kebutuhan terhadap layanan jasa perbankan yang sesuai dengan prinsip Syariah (Ascarya, 2007: 201).
Berkembangnya bank-bank syariah di negara-negara Islam berpengaruh ke Indonesia. Pada awal periode 1980-an, diskusi
mengenai bank syariah sebagi pilar ekonomi Islam mulai dilakukan. Para tokoh yang terlibat dalam kajian tersebut adalah Karnaen A. Perwataatmadja, M. Dawam Rahardjo, A. M, Saefuddin, M. Amien Azis dan lain-lain. Beberapa uji coba pada skala yang relative terbatas telah diwujudkan. Diantaranya adalah Baitut Tamwil-Salman, Bandung. Di Jakarta juga dibentuk lembaga serupa dalam betuk koprasi, yakni Koprasi Ridho Gusti. Akan tetapi, prakarsa lebih khusus untuk mendirikan bank Islam di Indonesia baru dilakukan pada tahun 1990. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 18-20 Agustus pada tahun 1990 menyelenggarakan lokakarya Bunga Bank dan Perbankan di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Hasil lokakarya tersebut dibahas lebih mendalam pada Musyawarah Nasional IV MUI yang berlangsung di Hotel Sahid Jaya Jakarta, 22-25 Agustus 1990. Berdasarkan amanat Munas IV MUI, dibentuk kelompok kerja untuk mendirikan bank Islam (Antonio, 2001: 25).
Setelah adanya rekomendasi dari lokakarya Ulama tentang Bunga Bnak dan Perbankan di Cisarua, kemudian diikuti dengan diundangkannya UU No.7 tahun 1992 tentang Perbankan di mana perbankan bagi-hasil mulai diakomodasi, maka berdirilah Bnak Muamalat Indonesia (BMI), yang merupakan bank umum Islam yang pertama yang beroperasi di Indonesia. Pembentukan BMI ini diikuti oleh pendirian bank-bank perkreditan rakyat syariah (BPRS). Namun
karena lembaga ini masih dirasakan kurang mencukupi dan belum sanggung menjangkau masyarakat Islam lapisan bawah, maka dibangunlah lembaga-lembaga simpin pinjam yang disebut Bait al Maal wat Tamwil ( BMT) atau Bait al Qiradh menurut masyarakat Aceh (Arifin,2009 : 8).
Dilihat dari sejarah pendiriannya di Indonesia, bank syariah didirikan dengan tiga cara. Cara pertama adalah dengan mendirikan bank syariah dari awal. Kedua, bank syariah didirikan dengan cara mengubah bank konvensional menjadi bank syariah, dan cara yang ketiga adalah dengan membuka cabang khusus bank syariah dari bank konvensional yang ada.
Bank syariah yang berdiri sejak awal sebagai bank syariah adalah bank Muamalat Indonesia. Sementara itu, bank syariah yang berasal dari konversi bank konvensional adalah Bnak Syariah Mnadiri dan Bank Syariah Mega Indonesia. Bank syariah yang merupakan cabang dari konvensional atau sering disebut juga Unit Usaha Syariah jumlahnya adalah lebih banyak, di antaranya Bank BNI Syariah, Bank BRI Syariah, Bank Bungkopin Syariah, Bank BII Syariah, Bank Niaga Syariah, dan lainnya (Gozali , 2005: 10 ).
Perbankan syariah di Indonesia memiliki karakteristik yang unik (Ascarya, 2007: 202-206), beberapa diantaranya adalah:
a. Sistem Keuangan dan Perbankan
Indonesia merupakan negara yang menganut sistem ekonomi kapitalis. Mulai tahun 1992, dengan dikeluarkannya undang-undang perbankan No. 7 Tahun 1992, Indonesia mulai memperkenalkan sistem keuangan dan perbankan ganda karena bank boleh beroperasi dengan prinsip bagi hasil. Bank syariah pertama berdiri pada tahun itu juga. Di samping itu, asuransi syariah atau Takaful mulai muncul pada tahun 1994. Penerapan sistem keuangan dan perbankan ganda mulai lebih terarah semenjak dikeluarkannya undang-undang perbankan yang baru No. 10 Tahun 1998. Semenjak itu, bermunculan lembaga-lembaga keuangan syariah yang beroperasi berdampingan dengan lembaga keuangan konvensional. Seperti halnya di Malaysia, lembaga keuangan syariah di Indonesia tumbuh menjadi lembaga keuangan alternatif bagi masyarakat yang menginginkan pelayanan jasa keuangan yang sesuai dengan prinsip Syariah, sekaligus menjadi pesaing langsung lembaga keuangan konvensional dalam produk dan jasa yang ditawarkan.
b. Aliran Pemikiran
Mayoritas penduduk muslim di Indonesia menganut madzhab (school of thought) Syafi‟i, seperti yang dianut oleh
muslim dan pemerintah Malaysia. Namun demikian, ulama Indonesia mengaplikasikan prinsip syariah dalam dunia perbankan dengan hati-hati dan cenderung memiliki pendapat yang sama dengan ulama Timur Tengah. Oleh karena itu, akad-akad yang digunakan dalam transaksi perbankan syariah merupakan akad- akad yang sudah mendapat kesepakatan dari sebagian besar ulama (jumhur ulama). Dengan prinsip kehatian-hatian ini, akad-akad yang masih menimbulkan kontroversi tidak digunakan dalam praktek.
Dalam hal ini ulama Indonesia berpendapat sama dengan pendapat ulama Timur Tengah bahwa hutang sama dengan uang (debt = money), bukan harta benda (debt ≠ property). Dengan demikian, hutang tidak dapat diperjualbelikan dengan harga berapa pun, kecuali dengan harga yang sama. Dalam hal hutang ini ulama Indonesia sependapat dengan ulama Sudan bahwa akad Bai‟